Paper Pelaksanaan Ipe-ipc Kelompok 3.docx

  • Uploaded by: yuliana
  • 0
  • 0
  • October 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Paper Pelaksanaan Ipe-ipc Kelompok 3.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 918
  • Pages: 7
PAPER PELAKSANAAN IPE & IPC DI DUNIA DAN DI INDONESIA

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

Oleh Kelompok 03

PROGRAM SARJANA ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2018

PAPER PELAKSANAAN IPE & IPC DI DUNIA DAN DI INDONESIA

KONSEP DASAR KEPERAWATAN Diajukan guna untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Falsafah dan Teori Keperawatan dengan dosen pengampu mata kuliah Ns. Alfid Tri Afandi, M.Kep.

Oleh Widya Maulina Cantika Putri

182310101106

Dina Eka Fatimathul Zahroh

182310101116

Fonda Ayu Erlinawati

182310101128

Sinta Qur’aini

182310101138

Yuliana Eka Galuh Seniwati

182310101148

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2018

A. PELAKSANAAN IPE-IPC DI INDONESIA Perubahan paradigma menjadi sebuah pelayanan kesehatan yang berorientasikan pasien sudah lama digaungkan dalam peningkatan mutu. Pasien seharusnya menjadi subjek pemberian pelayanan bukan sebuah objek, sehingga membutuhkan solusi dan terobosan yang menjadikan sebuah mutu pelayanan yang lebih baik. Melalui Collaboration)

IPE-IPC di

(Interprofessional

harapkan berbagai

Education-Interprofessional

profesi

kesehatan

yang dapat

menumbuhkan kemampuan dalam antarprofesi, yang dapat merancang hasil dalam

pembelajaran

yang

memberikan

kemampuan

berkolaborasi,

meningkatkan praktik pada masing-masing profesi dengan mengaktifkan setiap profesi untuk meningkatkan praktik agar dapat saling melengkapi, membentuk suatu aksi secara bersama untuk meningkatkan sebuah pelayanan dan memicu perubahan, menerapkan analisis kritis untuk berlatih kolaboratif, meningkatkan hasil untuk individu, keluarga, dan masyarakat. Menganggapi bahwa sepenuhnya untuk kebutuhan mereka. Semua orang jadi bisa berbagi pengalaman dan berkontribusi untuk kemajuan dan juga saling pengertian di dalam belajar antarprofesi dalam menanggapi pertanyaan, di konferensi dan melalui literatur profesional dan antarprofesi. IPE-IPC di Indonesia memasuki tahap awal yakni yang membutuhkan kerjasama yang dari berbagai pihak dan berbagai sektor di dalam dunia pendidikan kesehatan. Sosialisasi IPE-IPC belum mencakup atau mencapai semua instansi-instansi pendidikan kesehatan yang ada. Selain itu di lain sisi, SDM pendidikan dalam IPE-IPC masih belum juga mumpuni, ditambah juga dengan isu ego profesi yang sebagiannya masih saja juga bertahan. Pengembangan IPE-IPC di institusi pendidikan kesehatan tidak terlepas dari konsep berubah. Perubahan merupakan suatu proses di mana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis. Perubahan dapat mencakup keseimbangan personal, sosial maupun

organisasi untuk dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu. Kurt Lewin (1951) dalam Hidayat (2008) mengungkapkan bahwa seseorang yang akan berubah harus memiliki konsep tentang perubahan yang tercantum dalam tahap proses perubahan agar perubahan tersebut menjadi terarah dan mencapai tujuan yang ada. Tahapan tersebut meliputi unfreezing, moving dan refreezing. Walgito (2004) mengungkapkan bahwa persepsi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. RS Universitas Airlangga sebagai rumah sakit di bawah naungan Kementerian Riset Dikti saat pertama dan satu-satunya dari 24 RS PTN terstandarisasi sebagai RS Pendidikan. Dalam menjalankan fungsi utamanya dalam pendidikan kesehatan maka interprofesional education sejak dalam pendidikan klinik menjadi titik tekan utama yang diharapkan dapat menopang kualitas inter-professional

collaboration

(IPC) dalam

dunia

pelayanan

khususya di rumah sakit.

B. PELAKSANAAN IPE-IPC DI DUNIA Di dalam kondisi yang dunia kesehatannya yang saat ini semakin maju dengan peralatan-peralatan modern rasanya berbagai penyakit mampu atau dapat ditangani dengan sangat baik, mungkin minimal memberikan sebuah diagnosis dengan tepat. Tetapi hal ini hanya sebatas harapan saja, masih banyak juga berita-berita dan cerita-cerita tentang masyarakat yang pada akhirnya juga tidak dapat di tolong hingga jatuh korban jiwa yang nyatanya masih bisa diberikan pertolongan atau ada pula kasus salah diagnosis sehingga akan menyebabkan kematian. Jadi masyarakat memojokan para tenaga kesehatan dengan dahlia tindakan medis tidak maksimal, terjadi pula malpraktek dan lain sebagainya. Dan maka dari itu mencetuskan konsep Interprofessional Education ( IPE ) oleh WHO untuk meningkatkan kinerja tenaga medis dan juga memperkecil kemungkinan terjadi kesalahan medis atau juga malpraktik. Kolaborasi antar profesi kesehatan adalah satu usaha untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan. WHO telah membuat sebuah grand design tentang

pembetukan karakter kolaborasi dalam sebuah bentuk pendidikan formal yaitu berupa interprofessional education. Interprofessional education (IPE) adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau lebih profesi yang berbeda untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan dan pelaksanaanya dapat dilakukan dalam semua pembelajaran, baik itu tahap sarjana maupun tahap pendidikan klinik untuk menciptakan tenaga kesehatan yang professional. Beberapa ahli mengungkapkan IPE dapat menjadi dasar dalam pembentukan kolaborasi. Seperti halnya pendapat Mendez et. al.,(2008) IPE merupakan hal yang potensial sebagai media kolaborasi antar profesional kesehatan dengan menanamkan pengetahuan dan skill dasar antar profesional dalam masa pendidikan. IPE merupakan hal yang penting dalam membantu pengembangan konsep kerja sama antar profesional yang ada dengan mempromosikan sikap dan perilaku yang positif antar profesi yang terlibat di dalamnya. Bridges et al (2011) mengemukakan tentang praktik interprofessional collaboration (IPC) berbasis pelayanan klinis dan komunitas di tiga universitas di Amerika Serikat. Terdapat beragam metode aplikasi IPC pada berbagai profesi kesehatan, seperti perawat, okupasi, dokter, pekerja sosial, farmasi, dan kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan adalah diawali dengan pembentukan tim, perencanaan, implementasi, evaluasi dan monitoring, serta refleksi kegiatan.kompetensi dapat dilihat dari ketiga instansi pendidikan tersebut yaitu kolaborasi, komunikasi antar profesi dan pendekatan pasien termasuk tentang etik Didapat dari data WHO tahun 2010 penerapan IPE di dunia dalam perguruan tinggi telah banyak diterapkan bahkan dari mereka telah menerapkan pusat ataupun badan IPE contohnya : 1. UK Centre for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE) 2. National Health Sciences Students’ Association in Canada (NaHSSA)

3. Australian Inter Professional Practice and Educatioanal Network (AIPPEN) 4. Canadian Interprofessional Health Collaboration (CIHC) 5. Nordic Interprofessional Network (NIPNet) 6. European Interprofessional Education Network (EIPEN)

DAFTAR PUSTAKA Zulfatul. 2006. Interprofessional Education (IPE)

dan Peningkatan Mutu

Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Becker, K.L, Hanyok, L.A, Walton-Moss, B. (2014). The turf and baggage of nursing and medicine: Moving forward to achieve success in interprofessional education. The Journalfor Nurse Practitioners, 10:4, 240244. (Diakses tanggal 5 Desember 2018, pukul 18.26)

Related Documents


More Documents from "Wike Nurani"