Case Report Study
HIFEMA TRAUMATIK Presentan
: Suci Rahayu Fatahillah Adellia Tiara Suci Zulhar Riyadi Jacqline Charles Labo
Preseptor
: dr. Weni Helvinda, Sp. M (K)
1740312072 1840312226 1840312467 1840312470
2
PENDAHULUAN Hifema adalah suatu keadaan terdapatnya akumulasi darah di bilik mata depan Di Amerika Serikat, kejadian hifema terutama hifema traumatik, diperkirakan sebanyak 12 kasus per 100.000 orang populasi. ⋄ Gejala klinik pada pasien dapat berupa nyeri pada mata, disertai dengan epifora dan blefarospasme. Tajam pengelihatan pasien akan sangat menurun. ⋄ Komplikasi yang paling sering ditemukan pada hifema traumatika adalah perdarahan sekunder, glaukoma dan hemosiderosis ⋄ ⋄
3
Tujuan Penulisan » Untuk menambah pengetahuan tentang dari definisi, epidemiologi, faktor risiko, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan tatalaksana dari Hifema traumatik.
4
Batasan Masalah » Case Report ini terbatas dalam membahas dari definisi, epidemiologi, faktor risiko, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan tatalaksana dari hifema traumatik.
5
Metode Masalah » Penulisan case ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan merujuk pada berbagai literatur.
6
2. TINJAUAN PUSTAKA
7
Vaskularisasi Segmen Anterior
8
DEFINISI » Hifema merupakan kondisi dimana terdapat darah
di bilik mata depan (COA)
9
EPIDEMIOLOGI » Amerika Serikat : hifema traumatik (12 kasus/100.000 org ) » Individu <20 tahun dan pertengahan 30 tahun » Pria:wanita = 3:1
10
KLASIFIKASI
GRADE I
GRADE II
<1/3 Anterior Chamber
Antara 1/3 – 1/2 Anterior Chamber
GRADE III
GRADE IV
>1/2 Anterior Chamber
Total Anterior Chamber
11
Want big impact? USE BIG IMAGE.
12
ETIOLOGI » Trauma tumpul (2/3 kasus) » Trauma penetrasi (1/3 kasus)
» Setelah operasi intraokuler » Penggunaan obat (aspirin, warfarin)
13
PATOFISIOLOGI »
Trauma tumpul atau terjadinya kompresi pada bola mata cedera pada iris, korpus siliaris, trabecular meshwork dan pembuluh darah (arteri-arteri utama dan cabang-cabang dari badan siliar, arteri koroidalis, dan vena-vena badan siliar) robekan pembuluh darah akumulasi sel-sel darah di bilik mata depan
14
KLASIFIKASI Keluhan Subjektif: -Nyeri pada mata -Penglihatan menurun -Penglihatan Ganda
Keluhan Objektif: -Ada darah pada COA -Kadang gangguan visus. -Iritasi konjungtiva, penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan sukar melihat dekat -midriasis -(blood staining) pada kornea -anisokor pupil.
15
DIAGNOSIS 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
Anamnesis Pemeriksaan fisik Visus Slit lamp funduskopi Gerakan bola mata Lapangan pandang
16
TATALAKSANA Tujuan : » Menurunkan angka rebleeding » Perbaiki jaringan yang rusak » Menurunkan atau meminimalkan sekuele jangka panjang
17
TERAPI KONSERVATIF »
» » »
»
Batasi aktivitas pasien dengan bedrest Penutupan bola mata dengan eye patch/eye cover Elevasi 30-45 derajat Analgetik, jika ringan diberi asetaminofen dan jika berat diberi kodein (Hindari penggunaan aspirin dan OAINS/NSAID untuk mencegah perdarahan sekunder) Pemantauan berkala tiap hari (tajam penglihatan,TIO, dan regresi hifema)
18
OBAT-OBATAN Kortikosteroid »
Grade I
: topikal (Predsnisolon asetat 1% 4x1 hari)
»
Grade II-III
: topikal + sistemik (metyl prednisolon tab 4mg 4x1)
Siklopegia ( untuk mencegah sinekia) , diberikan sulfas atropin 1% 4x1 selama 5 hari Antifibriolitik (koagulansia)
»
Asam amino kaproat tab 1000mg dosis 50ng/kgBB/4jam selama 1 hari
Antikoagulan ( Bila peningkatan TIO selama 7 hari) »
Asetozolamid tab 4x250mg
»
Timolol 0,5% 2x1 hari
»
Pilokarpin 2%
»
KCL 3x1 hari
19
INDIKASI RAWAT INAP »
Derajat II atau lebih, disertai kondisi berpotensi perdarahan sekunder
»
Sickle cell
»
Trauma tembus okuli, tidak patuh pengobatan, riwayat glaukoma
20
INDIKASI BEDAH »
Corneal blood staining
»
Riwayat sickle cell dengan TIO >24mmHg dalam waktu >24 jam
»
Hifema >50% selama >= 9 hari sehingga perlu bedah agar tidak terjadi sinekia anterior walaupun sudah tatalaksana maksimal
»
Hifema total, TIO >50mmHg selama >=4 hari meskipun sudah ditatalaksana maksimal
»
Hifema total, TIO >=25mmHg selama 6 hari
21
KOMPLIKASI »
» » »
»
Perdarahan sekunder/rebleeding Glaukoma sekunder Sinekia Anterior perifer Pewarnaan kornea Atrofi saraf optik
22
PROGNOSIS »
Mikrohifema Grade I Grade II Grade III Grade IV
: 90% mencapai visus 20/50 atau lebih : 90% : 70% : 50% : 50%
23
3. LAPORAN KASUS
24
IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Pekerjaan Agama Alamat
: Tn. S : Laki-laki : 15 tahun : Pelajar : Islam : Lubuk Basung
25
Anamnesis » Seorang pasien laki-laki berusia 15 tahun rujukan dari RS Lubuk Basung, datang ke IGD RSUP Dr M. Djamil Padang pada tanggal 29 Agustus 2018 Penglihatan mata kiri kabur sejak 1 hari yang lalu.
Keluhan Utama » Penglihatan mata kiri kabur sejak 1 hari yang lalu.
26
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG »
Penglihatan mata kiri kabur sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya 7 hari yll pasien tergelincir dan mata kiri terbentur tepi dari kayu balok. Beberapa jam setelah terbentur mata terasa kabur dan nyeri, mata kabur dirasakan berangsur-angsur dan nyeri bertambah hebat. Pasien dibawa ke RSUD Lubuk Basung untuk mendapatkan pengobatan berupa polidex, Sulfas Atropin dan obat makan berupa: metilprednisolon 1x16 mg dan dirawat selama 5 hari, setelah diberi obat mata kabur berkurang tetapi 1 hari yll mata kiri pasien semakin kabur. Pasien di rujuk ke Dr. RSUP Djamil Padang.
»
Trauma tempat lain tidak ada
»
Riwayat memakai kaca mata sebelumnya tidak ada
»
Tidak ada memakai obat-obat pengencer darah.
»
Demam tidak ada.
»
Riwayat trauma pada mata sebelumnya tidak ada.
27
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU »
Tidak pernah menderita kelainan yang sama dengan keluhan yang dialaminya sekarang dan tidak pernah menderita penyakit kelainan pembekuan darah sebelumnya.
28
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA »
Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.
29
STATUS GENERALIS » » » » » » » » »
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran Umum : Komposmentis Kooperatif Tekanan Darah
: 120/70 mmHg
Nadi
: 90 kali/menit
Nafas
: 20 kali/menit
Suhu
: Afebril
Status Gizi
: Normal
Sianosis
: tidak ada
Edema
: tidak ada
30
PEMERIKSAAN SISTEMIK » Kepala » Mata
: Normosefal
Konjungtiva
: Tidak anemis
Sklera
: Tidak ikterik
» Leher » Toraks
: Tidak ada pembesaran KGB : Jantung : dalam batas normal Paru
» Abdomen » Extremitas
: dalam batas normal
: Dalam batas normal : Dalam batas normal
STATUS LOKALIS OPTALMIKUS Status Ophtalmikus
OD
OS
Visus tanpa koreksi
20/20
1/300
Visus dengan koreksi
-
-
Refleks Fundus
(+)
(-)
Silia/supersilia
Trikiasis (-) Distrikiasis (-) Madarosis(-)
Trikiasis (-) Distrikiasis (-) Madarosis(-)
Palpebra Superior
Hiperemis(-) Edema (-) Ptosis (-)
Hiperemis(-) Edema (-) Ptosis (-)
Palpebra Inferior
Hiperemis(-) Edema (-)
Hiperemis(-) Edema (-)
Margo Palpebra
Aparat Lakrimalis
Konjungtiva Tarsalis
Entropion(-) Ektropion(-) Sikatrik(-) Dalam Batas Normal
Folikel (-) papil (-) Hiperemis (-)
Entropion(-) Ektropion(-) Sikatrik(-) Dalam Batas Normal
injeksi konjungtiva (+) Folikel (-) papil (-)
Konjungtiva Fornik
Folikel (-) papil (-) Hiperemis (-)
Folikel (-) papil (-) Hiperemis (-)
Konjungtiva Bulbi
Hiperemis (-) Injeksi Konjungtiva(-) Injeksi Siliar(-)
Injeksi Konjungtiva(+) Injeksi Siliar(+)
Sklera
Putih
Putih
Kornea
Bening
Bening
Kamera Okuli Anterior
Cukup dalam
Hifema total (+) koagulum (+)
Iris
Coklat, rugae (+)
Sulit dinilai
Pupil
Bulat, 3 mm, refleks +/+
Sulit dinilai
Sklera
Putih
Putih
Bening
Keruh
Fundus : Media Papil Optik
Aa/vv Retina
Bulat batas tegas, c/d 0,3-0,4 2:3
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Retina
Perdarahan (-), eksudat (-)
Tidak bisa dinilai
Makula
Refleks Fovea (+)
Tidak bisa dinilai
Tekanan Bulbus Okuli
N(p)
N+1 (palpasi ) 36 mmhg
Posisi Bola Mata
Ortoforia
Ortoforia
Gerak Bulbus Okuli
Bebas Kesegala Arah
Bebas Kesegala Arah
37
PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.
Laboratorium
» Hb » Leukosit » Trombosit » HT
» PT » APTT
: 14, 2 gr/dl : 11.680 /mm3 : 305. 000/ mm3 : 44% : 12.3 S : 39.0 S
2. USG
38
39
DIAGNOSIS Hifema Traumatik Grade IV Ocularis Sinistra dengan Rebleeding
40
TATALAKSANA » » »
» » » »
Bed rest : kepala ditinggikan 300 Methyl prednisolon 1x 28 mg Lfx ed 6x1 OS Posop ed 6x1 OS Asam Traneksamat 3 x 500 mg SA ed 2x1 OS Timol Ed 2 x1 OS
41
PROGNOSIS » » »
Sanasionam Functionam Vitam
: dubia ad bonam : dubia ad malam : bonam
42
Follow Up : 5 September 2018, 0800 WIB S/ - mata kiri kabur (-) - nyeri pada mata kiri (-) - demam (-) » O/ »
KU
KES
TD
ND
NF
Suhu
Sakit sedang
CMC
106/70
78
18
36.7
STATUS LOKALIS OPTALMIKUS Status Ophtalmikus
OD
OS
Visus tanpa koreksi
20/20
20/100
-
-
Visus dengan koreksi Refleks Fundus
(+)
Silia/supersilia
Trikiasis (-) Distrikiasis (-) Madarosis(-)
(-)
Trikiasis (-) Distrikiasis (-) Madarosis(-)
Palpebra Superior
Hiperemis(-) Edema (-) Ptosis (-)
Hiperemis(-) Edema (-) Ptosis (-)
Palpebra Inferior
Hiperemis(-) Edema (-)
Hiperemis(-) Edema (-)
Margo Palpebra
Aparat Lakrimalis
Konjungtiva Tarsalis
Entropion(-) Ektropion(-) Sikatrik(-)
Dalam Batas Normal
Folikel (-) papil (-) Hiperemis (-)
Entropion(-) Ektropion(-) Sikatrik(-)
Dalam Batas Normal
injeksi konjungtiva (+) Folikel (-) papil (-)
Konjungtiva Fornik
Folikel (-) papil (-) Hiperemis (-)
Folikel (-) papil (-) Hiperemis (-)
Konjungtiva Bulbi
Konjungtiva Bulbi
Hiperemis (-) Injeksi Konjungtiva(-) Injeksi Siliar(-)
Injeksi Konjungtiva(-) Injeksi Siliar(-)
Sklera
Sklera
Putih
Putih
Kornea
Kornea
Bening
Bening
Kamera Okuli Anterior
Kamera Okuli Anterior
Cukup dalam
Konjungtiva Fornik
Hifema (+) melayang
Iris
Coklat, rugae (+)
coklat
Pupil
Bulat, 3 mm, refleks +/+
Semimidriasis (SA)
Sklera
Putih
Putih
Bening
Keruh
Fundus :
Media Papil Optik
Aa/vv Retina
Bulat batas tegas, c/d 0,3-0,4 2:3
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Retina
Perdarahan (-), eksudat (-)
Tidak bisa dinilai
Makula
Refleks Fovea (+)
Tidak bisa dinilai
Tekanan Bulbus Okuli
N(p)
N+1 (palpasi ) 36 mmhg
Posisi Bola Mata
Ortoforia
Ortoforia
Gerak Bulbus Okuli
Bebas Kesegala Arah
Bebas Kesegala Arah
48
4. DISKUSI KASUS
49
»
Telah dilaporkan kasus seorang pasien laki-laki berumur 15 tahun datang ke IGD unit surgikal RS. Dr. M. Djamil Padang tanggal 29 Agustus 2018 dengan diagnosis kerja Hifema Traumatika Grade IV.
»
Kelompok usia muda dan pria memiliki prevalensi lebih tinggi mengalami insiden trauma. Hal ini mungkin dikarenakan usia muda merupakan usia produktif untuk melakukan aktifitas fisik. Sementara itu, kelompok pria lebih banyak melakukan aktifitas fisik dan kegiatan/ pekerjaan yang lebih beresiko daripada kelompok wanita.
50
»
Dasar diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik mata dan pemeriksaan penunjang.
»
Dari anamnesis didapatkan bahwa mata pasien mengalami daya deselerasi yaitu kepala membentur benda yang diam, setelah itu pasien merasakan matanya menjadi kabur dan terasa nyeri serta merah. Mata kiri kabur dirasakan berangsur-angsur.
»
Penegakkan diagnosis pada pasien ini berdasarkan gejala yang dialami pasien yaitu adanya mata yang kabur terjadi secara berangsur-angsur serta mata merah, kemudian diperkuat dengan adanya riwayat terbentur balok pada mata kiri.
»
Dari pemeriksaan fisik mata kiri didapatkan visus 1/300 dan mata kanan dengan visus 20/20, reflek fundus pada mata kiri tidak ada,sedangkan pada mata kanan positif, injeksi konjungtiva (+ ) mata kiri, injeksi siliaris (+) mata kiri, sklera putih, kornea bening, kamera okuli anterior tampak adanya hifema total dan koagulum pada mata kiri.
51
»
Penilaian untuk iris dan pupil pada mata kiri sulit dinilai, sedangkan pada mata kanan dalam batas normal. Untuk pemeriksaan funduskopi tampak media keruh, sedangkan untuk papil optik, pembuluh darah, retina serta makula pada mata kiri sulit dinilai.
»
Funduskopi untuk mata kanan dalam batas normal. Tekanan bulbus Okuli meningkat, gerak dan posisi bola mata dalam batas normal untuk mata kiri.
52
»
Terdapatnya penurunan visus pada mata kiri pasien bisa diakibatkan adanya kekeruhan atau koagulan pada kamera okuli anterior yang merupakan bagian dari media refraksi, dimana ketika terdapat kekeruhan menyebabkan terjadinya turunnya visus.
»
Terjadi penurunan visus bersaaam dengan perdarahan yang terkumpul pada COA mata kiri. Semakin banyak darah yang terkumpul maka semakin rendah visus mata pasien akibat media refraksi yang terhalang oleh darah.
»
Pada hifema tarumatik biasanya pendarahan berasal dari pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.
»
Terdapatnya injeksi pada mata kiri pasien menunjukan adanya inflamasi pada mata tersebut.
»
Pasien sempat mengalami perbaikan visus sampai 20/60 sehari sebelumnya. Mengindikasikan bahwa darah yang ada di COA telah berkurang. Namun, pada hari berikutnya terjadi penurun visus lagi. Ini bisa di akibatkan karena hifema yang mengalami floating menutup media refraksi.
53
»
Pada pasien ini diberikan pengobatan berupa Bed rest dengan kepala ditinggikan 300 Methyl prednisolon x28 mg, Lfx ed 6x1 OS, Posop ed 6x1 OS, Asam Traneksamat 3 x 500 mg, SA ed 2x1 OS dan Timol Ed 2 x1 OS.
»
Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala diangkat (diberi alas bantal) dengan elevasi kepala 30º - 45º. Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya.
»
Ada banyak pendapat dari banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema.
»
Bahkan Darr dan Rakusin menunjukkan bahwa dengan tirah baring sempurna absorbsi dari hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan sekunder
54
»
Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat kemungkinan perdarahan sekunder.
»
Hal ini sering sukar dilakukan, terlebih-lebih pada anak-anak, sehingga kalau perlu harus diikat tangan dan kakinya ke tempat tidur dan pengawasan dilakukan dengan sabar. Selain itu, bed rest dengan posisi 30 derajat untuk meminimalkan terjadinya rebleeding atau hifema sekunder.
»
Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun parenteral, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan, Misalnya: Anaroxil, Adona AC, Coagulent, Transamin, vit K dan vit C.
55
»
Pada hifema yang baru dan terisi darah segar diberi obat anti fibrinolitik (Dipasaran obat ini dikenal sebagai transamine/ transamic acid) sehingga bekuan darah tidak terlalu cepat diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dahulu sampai sembuh.
»
Dengan demikian diharapkan terjadinya perdarahan sekunder dapat dihindarkan.
»
Pemberian kortikosteroid berguna untuk mencegah pendarahan sekunder.
»
Pemberian SA berguna untuk mengistirahatkan mata serta mempercepat absorsi.
56
THANKS!