Bab Ii Proposal Skripsi

  • Uploaded by: Korik Febryan
  • 0
  • 0
  • October 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Bab Ii Proposal Skripsi as PDF for free.

More details

  • Words: 3,938
  • Pages: 19
JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Judul Tugas Akhir Analisis Perbandingan Kualitas dan Kuantitas Mesin Pembulat Adonan Kosmetik Sistem Putaran Eksentrik dengan Tenaga Manusia.

1.2 Latar Belakang Perkembangan produk kosmetik akhir – akhir ini sangatlah pesat, hampir bagi para pengguna kosmetik ini merupakan kebutuhan wajib sehari - hari. Melihat adanya peluang usaha kosmetik mendorong sebagian orang untuk mendirikan UKM (Usaha Kecil Menengah) dengan memproduksi produk kecantikan. Dari hasil survey yang kami lakukan di suatu UKM yang terdapat disalah satu daerah di Kota Surabaya, proses pembulatan adonan kosmetik masker wajah pada UKM ini, telah kami survey masih menggunakan proses pembulatan adonan kosmetik secara manual menggunakan tenaga manusia sehingga memiliki beberapa kelemahan yaitu: proses produksi memakan waktu yang sangat lama dan juga hasil dari pembulatannya pun tidak sepenuhnya bulat. Untuk meningkatkan tingkat keefisienan dan keefektifan dalam melakukan proses pembulatan adonan kosmetik masker wajah maka penulis membuat mesin alat pembulat adonan kosmetik dengan menggunakan sistem getaran putar. Peningkatan efisiensi kerja pada berbagai tingkat aktivitas produksi merupakan tuntutan bagi suatu UKM untuk mengendalikan berbagai biaya yang dikeluarkan agar tujuan UKM tersebut tercapai, hal ini dapat ditentukan dengan cara mengurangi salah satu biaya yaitu biaya kualitas tanpa harus mengurangi kualitas produk yang dihasilkannya. Kualitas yang dimaksud dalam hal ini menekankan pada kemampuan UKM untuk memenuhi jumlah atau kuantitas produk yang baik dan sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan oleh pemakai atau konsumen produk tersebut dan nantinya Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

1

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

diharapkan dapat menarik minat banyak konsumen lain dari produk sejenis untuk beralih ke produk UKM yang bersangkutan. Konsumen akan selalu memilih produk yang memiliki mutu terbaik dan sesuai dengan harapan konsumen serta dapat diperoleh kapan saja dengan harga yang terjangkau, untuk dapat mengembangkan usaha dalam persaingan tersebut, maka pertimbangan konsumen terhadap produk yang akan dibeli harus diperhatikan, konsumen akan merasa puas bila produk yang dibeli sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Pada analisa ini akan dilakukan perbandingan kualitas dan kuantitas mesin pembulat adonan kosmetik sistem putaran eksentrik dengan tenaga manusia.

1.3 Perumusan Masalah Dalam proposal tugas akhir ini ada beberapa masalah yang dirumuskan, antara lain : 1. Bagaimana upaya agar pengusaha memaksimalkan alat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk ? 2. Bagaimana meningkatkan efisiensi dan efektivitas alat dengan menggunakan tenaga kerja manusia ? 3. Bagaimana perbandingan kualitas dan kuantitas mesin dengan tenaga manusia ?

1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari analisa ini adalah : 1. Guna mampu membandingkan kinerja alat dan tenaga manusia. 2. Agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas alat untuk mempermudah proses produksi. 3. Mengetahui perbedaan kualitas dan kuantitas antara alat dan tenaga manusia.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

2

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari analisa ini : 1. Mendapatkan data analisa kinerja alat dan tenaga manusia. 2. Mendapatkan data perbedaan kualitas dan kuantitas produksi antara alat dan tenaga kerja manusia. 3. Mempermudah proses pembulatan adonan kosmetik dibandingkan menggunakan pembulatan dengan tenaga manusia.

1.6 Batasan Masalah Agar pembahasan dalam analisa ini tidak meluas ke pembahasan yang lain, perlu adanya batasan masalah dalam analisa ini. Batasan masalah dalam analisa ini meliputi : 1. Analisa yang dilakukan dengan membandingkan hasil output mesin dan tenaga manusia. 2. Waktu pengujian yang digunakan 10 menit antara mesin dan tenaga manusia. 3. Ukuran spesimen diameter 1cm. 4. Bahan spesimen uji hanya menggunakan 2kg adonan kosmetik.

1.7 Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penyajian laporan ini, maka penyusunan laporan ini disusun sebagai berikut : BAB I. PENDAHULUAN Membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, sistematika penulisan. BAB II. LANDASAN TEORI Berisi tentang teori – teori dasar yang nantinya membantu dalam menganalisa kualitas dan kuantitas kinerja alat dan tenaga manusia

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

3

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini berisi tentang, cara pengambilan data dan proses analisa. BAB IV. PEMBAHASAN Pada bab ini berisikan tentang perhitungan dari pengambilan data yang telah dilakukan dan kemudian dilakukan analisa terhadap alat pembulat adonan kosmetik. BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN Berisikan tentang kesimpulan dari penulisan tugas akhir dan saran - saran yang perlu diperhatikan untuk pembaca dan penulis.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

4

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

BAB II DASAR TEORI

2.1 Kualitas dan Kuantitas Kualitas adalah suatu penilaian customer yang sifatnya objektif yang ditentukan oleh persepsi terhadap suatu produk atau jasa tertentu.(Soewarso Hardjosudarmo) Kuantitas adalah kualitas sesuatu hal yang terbentuk dari proses pengukuran.(Thompson :1990) Contohnya ukuran jumlah. Adapun penngertian kualitas dan kuatitas menurut para ahli sebagai berikut : 



Pengertian kualitas dan kuantitas kerja adalah (menurut Wungu dan Brotoharsojo : 2003):  Pengertian kualitas kerja adalah segala macam bentuk suatu ukuran yang berhubungan dengan kualitas atau MUTU hasil kerja yang dapat dinyatakan dalam ukuran angka atau padanan angka lainnya.  Pengertian kuantitas kerja adalah segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan JUMLAH hasil kerja yang bisa dinyatakan dalam ukuran angka atau padanan angka lainnya. Pengertian kualitas dan kuantitas kerja adalah (menurut Mangkunegara :2009);  Pengertian kualitas kerja adalah ukuran seberapa baik seorang karyawan dalam mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan.  Pengertian kuantitas kerja adalah ukuran seberapa lama seorang karyawan dalam bekerja dalam satu harinya.

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering mendengar istilah “Kualitas” maupun “Kuantitas”. Apa sebenarnya arti dari kualitas dan kuantitas? Secara umum pengertian kualitas adalah istilah yang digunakan sebagai tingkat ukuran / level / mutu baik atau buruknya sesuatu, baik itu sesuatu hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Sedangkan pengertian kuantitas istilah yang digunakan untuk menyatakan jumlah.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

5

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

2.2 Konsep Pengukuran Kinerja 2.2.1 Definisi Kinerja Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pada dasarnya pengertian kinerja dapat dimaknai secara beragam. Beberapa pakar memandangnya sebagai hasil dari suatu proses penyelesaian pekerjaan, sementara sebagian yang lain memahaminya sebagai perilaku yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kinerja juga dapat digambarkan sebagai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, visi perusahaan yang tertuang dalam perumusan strategi planning suatu perusahaan. Penilaian tersebut tidak terlepas dari proses yang merupakan kegiatan mengolah masukan menjadi keluaran atau penilaian dalam proses penyusunan kebijakan / program / kegiatan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan. Menurut Ilgen and Schneider (Williams, 2002: 94): “Performance is what the person or system does”. Hal senada dikemukakan oleh Mohrman et al (Williams, 2002: 94) sebagai berikut: “A performance consists of a performer engaging in behavior in a situation to achieve results”. Dari kedua pendapat ini, terlihat bahwa kinerja dilihat sebagai suatu proses bagaimana sesuatu dilakukan. Jadi, pengukuran kinerja dilihat dari baik-tidaknya aktivitas tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Menurut Mangkunegara Anwar Prabu, kinerja diartikan sebagai : ”Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.” Sedangkan menurut Nawawi H. Hadari, yang dimaksud dengan kinerja adalah: ”Hasil dari pelaksanaan suatu pekerjaan, baik yang bersifat fisik/mental maupun non fisik/non mental.” Dari beberapa pendapat tersebut, kinerja dapat dipandang dari perspektif hasil, proses, atau perilaku yang mengarah pada pencapaian tujuan. Oleh karena itu, tugas dalam konteks penilaian kinerja, tugas pertama pimpinan organisasi adalah menentukan perspektif kinerja yang mana yang akan digunakan dalam memaknai kinerja dalam organisasi yang dipimpinnya.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

6

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

2.2.2 Definisi Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien, karena didukung dengan adanya kebijakan atau program yang lebih baik lagi atas sumber daya yang digunakan dalam organisasi. Berikut merupakan pengertian pengukuran kinerja melalui pandangan beberapa ahli : 







Menurut Bambang Wahyudi (2002, p101) " Pengukuran kinerja adalah sebuah gambaran atau deskripsi yang sistematis tentang kekuatan dan kelemahan yang terkait dari seseorang atau suatu kelompok." Menurut Henry Simamora (2004, p2004) " Pengukuran kinerja adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu karyawan." Menurut Whittaker dan Simons (2000, p5) " Pengukuran kinerja merupakan suatu metode untuk menilai kemajuan yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan." Menurut Yuwono (2004, p23) " Pengukuran kinerja adalah tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada perusahaan." Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik dimana perusahaan memerlukan penyesuaian atas aktivitas perencanaan dan pengendalian. Berdasarkan uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pengukuran kinerja adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mengukur hasil yang telah dicapai seseorang atau kelompok sesuai dengan tugas dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. 2.2.3 Tujuan Pengukuran Kinerja Batasan tentang pengukuran kinerja adalah sebagai usaha formal yang dilakukan oleh organisasi untuk mengevaluasi hasil kegiatan yang telah dilaksanakan secara periodik berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan pokok dari pengukuran kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar menghasilkan tindakan yang diinginkan (Mulyadi dan Setyawan 1999: 227). Secara umum tujuan dilakukan pengukuran kinerja adalah untuk (Gordon, 1993 : 36) :

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

7

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

1. Meningkatkan motivasi karyawan dalam memberikan kontribusi kepada organisasi. 2. Memberikan dasar untuk mengevaluasi kualitas kinerja masing-masing karyawan. 3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan sebagai dasar untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan dan pengembangan karyawan. 4. Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan karyawan, seperti produksi, transfer dan pemberhentian. 2.2.4 Manfaat Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pengukuran. Tahap persiapan atas penentuan bagian yang akan diukur, penetapan kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja, dan pengukuran kinerja yang sesungguhnya. Sedangkan tahap pengukuran terdiri atas pembanding kinerja sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dan kinerja yang diinginkan (Mulyadi, 2001: 251). Pengukuran kinerja memerlukan alat ukur yang tepat. Dasar filosofi yang dapat dipakai dalam merencanakan sistem pengukuran prestasi harus disesuaikan dengan strategi perusahaan, tujuan dan struktur organisasi perusahaan. Sistem pengukuran kinerja yang efektif adalah sistem pengukuran yang dapat memudahkan manajemen untuk melaksanakan proses pengendalian dan memberikan motivasi kepada manajemen untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya. Manfaat sistem pengukuran kinerja adalah (Mulyadi dan Setyawan, 1999: 212-225): 1. Menelusuri kinerja terhadap harapan pelanggannya dan membuat seluruh personil terlibat dalam upaya pemberi kepuasan kepada pelanggan. 2. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan sebagai bagian dari mata-rantai pelanggan dan pemasok internal. 3. Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya pengurangan terhadap pemborosan tersebut. 4. Membuat suatu tujuan strategi yang masanya masih kabur menjadi lebih kongkrit sehingga mempercepat proses pembelajaran perusahaan.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

8

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

2.2.5 Prinsip Pengukuran Kinerja Dalam pengukuran kinerja terdapat beberapa prinsip-prinsip yaitu: 1. Seluruh aktivitas kerja yang signifikan harus diukur. 2. Pekerjaan yang tidak diukur atau dinilai tidak dapat dikelola karena darinya tidak ada informasi yang bersifat obyektif untuk menentukan nilainya. 3. Kerja yang tak diukur selayaknya diminimalisir atau bahkan ditiadakan. 4. Keluaran kinerja yang diharapkan harus ditetapkan untuk seluruh kerja yang diukur. 5. Hasil keluaran menyediakan dasar untuk menetapkan akuntabilitas hasil alih-alih sekedar mengetahui tingkat usaha. 6. Mendefinisikan kinerja dalam artian hasil kerja semacam apa yang diinginkan adalah cara manajer dan pengawas untuk membuat penugasan kerja dari mereka menjadi operasional. 7. Pelaporan kinerja dan analisis variansi harus dilakukan secara kerap. 8. Pelaporan yang kerap memungkinkan adanya tindakan korektif yang segera dan tepat waktu. 9. Tindakan korektif yang tepat waktu begitu dibutuhkan untuk manajemen kendali yang efektif. 2.2.6 Ukuran Pengukuran Kinerja Terdapat tiga macam ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja secara kuantitatif yaitu : 1. Ukuran Kriteria Tunggal (Single Criterium). Yaitu ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk menilai kinerja manajernya. Jika kriteria tunggal digunakan untuk mengukur kinerjanya, orang akan cenderung memusatkan usahanya kepada kriteria tersebut sebagai akibat diabaikannya kriteria yang lain yang kemungkinan sama pentingnya dalam menentukan sukses atau tidaknya perusahaan atau bagiannya. Sebagai contoh manajer produksi diukur kinerjanya dari tercapainya target kuantitas produk yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu kemungkinan akan mengabaikan pertimbangan penting lainnya mengenai mutu, biaya, pemeliharaan equipment dan sumber daya manusia.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

9

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

2. Ukuran Kriteria Beragam (Multiple Criterium) Yaitu ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran dalam menilai kinerja manajernya. Kriteria ini merupakan cara untuk mengatasi kelemahan kriteria tunggal dalam pengukuran kinerja. Berbagai aspek kinerja manajer dicari ukuran kriterianya sehingga seorang manajer diukur kinerjanya dengan berbagai kriteria. Tujuan penggunaan kriteria ini adalah agar manajer yang diukur kinerjanya mengerahkan usahanya kepada berbagai kinerja. Contohnya manajer divisi suatu perusahaan diukur kinerjanya dengan berbagai kriteria antara lain profitabilitas, pangsa pasar, produktifitas, pengembangan karyawan, tanggung jawab masyarakat, keseimbangan antara sasaran jangka pendek dan sasaran jangka panjang. Karena dalam ukuran kriteria beragan tidak ditentukan bobot tiap-tiap kinerja untuk menentukan kinerja keseluruhan manajer yang diukur kinerjanya, maka manajer akan cenderung mengarahkan usahanya, perhatian, dan sumber daya perusahaannya kepada kegiatan yang menurut persepsinya menjanjikan perbaikan yang terbesar kinerjanya secara keseluruhan. Tanpa ada penentuan bobot resmi tiap aspek kinerja yang dinilai didalam menilai kinerja menyeluruh manajer, akan mendorong manajer yang diukur kinerjanya menggunakan pertimbangan dan persepsinya masing-masing didalam memberikan bobot terhadap beragan kriteria yang digunakan untuk menilai kinerjanya. 3. Ukuran Kriteria Gabungan (Composite Criterium) Yaitu ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran memperhitungkan bobot masing-masing ukuran dan menghitung rata-ratanya sebagai ukuran menyeluruh kinerja manajernya. Karena disadari bahwa beberapa tujuan lebih panting bagi perusahaan secara keseluruhan dibandingkan dengan tujuan yang lain, beberapa perusahaan memberikan bobot angka tertentu kepada beragan kriteria kinerja untuk mendapatkan ukuran tunggal kinerja manajer, setelah memperhitungkan bobot beragam kriteria kinerja masingmasing.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

10

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

2.3 TPM (Total Productive Maintenance) Definisi TPM secara sederhana adalah suatu konsep program pemeliharaan yang melibatkan semua level pekerja yang ada di perusahaan dalam aktifitas pemeliharaan. Berikut gambaran pengertian TPM. Menurut Kurniawan (2013) menyatakan Total Productive Maintenance (TPM) merupakan suatu aktivitas perawatan yang mengikut sertakan semua elemen dari perusahaan yang bertujuan untuk menciptakan suasana kritis (critical mass) dalam lingkungan industri guna mencapai zero breakdown, zero defect, dan zero accident. TPM adalah sistem manajerial unik yang pertama kali dikembangkan di Jepang pada tahun 1971 dengan berdasarkan kepada konsep perawatan (Preventive Maintenance) atau perawatan produktif yang dipergunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1950. Pada era tahun 1950 Jepang mempelajari perawatan produktif (Productive Maintenance), perawatan korektif (Corrective Maintenance), Reliability Engineering, dan Maintanability Engineering dari Amerika Serikat. Jepang mengembangkan konsep tersebut Total Productive Maintenance (TPM). TPM adalah suatu metode yang bertujuan untuk memaksimalkan effisiensi penggunaan peralatan, dan memantapkan sistem perawatan preventif yang dirancang untuk keseluruhan peralatan dengan mengimplementasikan suatu aturan dan memberikan motivasi kepada seluruh bagian yang berada dalam suatu perusahaan tersebut, melalui peningkatan komponenisipasi dari seluruh anggota yang terlibat mulai dari manajemen puncak sampai kepada level terendah. Selain itu juga TPM bertujuan untuk menghindari perbaikan secara tiba – tiba dan meminimalisasi perawatan yang tidak terjadwal. Sedangkan menurut Nakajima (1988) dalam Ansori dan Mustajib (2013) TPM adalah suatu konsep program tentang pemeliharaan yang melibatkan seluruh pekerja melalui aktivitas grup kecil. Lebih lanjut Roberts (1997) dalam Ansori dan Mustajib (2013) mengatakan bahwa TPM adalah suatu program pemeliharaan yang melibatkan suatu gambaran konsep untuk pemeliharaan peralatan dan pabrik dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan kerja dan moril karyawan.

2.4 Metode OEE (Overall Equipment Effectivenes) OEE (Overall Equipment Effectivenes) adalah salah satu toll dalam TPM (Total Productive Maintenance) yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi kinerja suatu mesin/peralatan. Nakajima (1988) dalam Hardiyansyah dkk (2012) mengatakan bahwa saat ini telah banyak digunakan konsep Overall Equipment Effectiveness (OEE) untuk mengukur produktivitas pada tingkat peralatan atau mesin. Konsep ini berkembang pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Konsep Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

11

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

OEE dijadikan acuan produktivitas dan performansi peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan produksi. Ada 3 kunci utama dalam konsep OEE ini yaitu availability, performance, dan quality. OEE = Availability x Performance x Quality ........................................... (1) Availability Rate =



................................ (2)

Performance Efficieny = Rate of Quality Product =

....... (3) –

....... (4)

Dimana : Loading time

= Waktu tersedia - Waktu down time yang direncanakan. Down time = Lama mesin mengalami kerusakan (berhenti). Processed Amount = Jumlah yang diproses. Ideal Cycle Time = Waktu siklus ideal Operating Time = Loading time – Down time. Defect Amount = Jumlah cacat yang dihasilkan. Sumber : Nakajima (1988) 2.5 Metode OTE (Overall Throughput Effectivenes) OTE (Overall Throughput Effectivenes) adalah salah satu alat dalam TPM yang merupakan pengembangan dari konsep OEE yang digunakan untuk evaluasi efisiensi kinerja mesin secara sub-sistem. Muthiah (2006) dalam Hardiyansyah (2012) menyatakan bahwa OTE dikembangkan berdasarkan ide untuk membandingkan antara produktivitas aktual dengan produktivitas maksimum yang dapat dicapai menurut perusahaan. Perhitungan OTE didasarkan pada jenis Sub-sistem atau jaringan yang digunakan pada mesin produksi. Karena mesin pembulat adonan kosmetik pada UD. Halimaa memakai Sub - sistem seri, maka rumus yang dipakai juga menggunakan rumus perhitungan seri. Mustofa (1998) dalam Sodikin (2012) menjelaskan bahwa jaringan seri merupakan salah satu hubungan keandalan pada suatu komponen/ mesin. Hubungan ini banyak sekali digunakan karena sangat mudah untuk dilakukan analisis. Misalkan suatu Sub-sistem seri terdiri dari komponen atau mesin 1, 2, dan 3, maka nilai keandalan Sub-sistem adalah hasil kali dari ketiga mesin tersebut. Seperti digambarkan dalam persamaan berikut : Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

12

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

Keandalan (R) = (R1) x (R2) x (R3) Sumber : Mustofa (1998) R = (R1) x (R2) x (R3) x .... x (Rn) OTE = (OEE1) x (OEE2) x (OEE3) x .... x (OEEn) ................................. (5)

2.6 Metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) Kurniawan (2013) menjelaskan bahwa FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) merupakan analisa mode kegagalan yang lebih menekankan pada analisa kualitatif dan mengidentifikasi dampak mode kegagalan dari suatu komponen terhadap sistem, sub-sistem, komponen itu sendiri, dan juga bagaimana cara mendeteksi mode kegagalan tersebut.Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam menerapkan metode FMEA. Mangala (2005) dalam Sianturi (2014) menjelaskan mengenai tahap-tahap penerapan metode FMEA, diantaranya yaitu : 1. 2. 3. 4. 5.

Menentukan komponen dari sistem/alat yang akan dianalisis. Mengidentifikasi mode kegagalan dari proses yang diamati. Mengidentifikasikan penyebab yang ditimbulkan dari mode kegagalan. Mengidentifikasikan deteksi kegagalan dari mode kegagalan. Menetapkan nilai-nilai : a. Kegagalan (severity) b. Kejadian penyebab (occurrence) c. Deteksi penyebab (detection) 6. Menghitung Risk Priority Number (RPN) Menghitung RPN dapat dihitung menggunakan rumus : RPN = S x O xD .................................................................................. (6) Sumber : Mangala (2005) Nilai RPN menunjukkan keseriusan dari mode kegagalan, semakin tinggi nilai RPN maka menunjukkan semakin bermasalah.

2.7 Metode Observasi Observasi adalah metode pengumpulan data yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor dalam pelaksanaannya. Metode pengumpulan data observasi tidak hanya mengukur sikap dari responden, namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi. Teknik pengumpulan data observasi cocok digunakan untuk penelitian yang bertujuan untuk Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

13

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

mempelajari perilaku manusia, proses kerja, dan gejala-gejala alam. Metode ini juga tepat dilakukan pada responden yang kuantitasnya tidak terlalu besar. Metode pengumpulan data observasi terbagi menjadi dua kategori, yakni: 

Participant observation Dalam participant observation, peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.



Non participant observation Berlawanan dengan participant observation, non participant observation merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.

2.8 Metode Angket (Kuesioner) Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang lebih efisien bila peneliti telah mengetahui dengan pasti variabel yag akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Selain itu kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Berdasarkan bentuk pertanyaannya, kuesioner dapat dikategorikan dalam dua jenis, yakni kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup. Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang memberikan kebebasan kepada objek penelitian untuk menjawab. Sementara itu, kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah menyediakan pilihan jawaban untuk dipilih oleh objek penelitian. Seiring dengan perkembangan, beberapa penelitian saat ini juga menerapkan metode kuesioner yang memiliki bentuk semi terbuka. Dalam bentuk ini, pilihan jawaban telah diberikan oleh peneliti, namun objek penelitian tetap diberi kesempatan untuk menjawab sesuai dengan kemauan mereka.

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

14

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Mulai

Identifikasi Masalah

Studi Lapangan

Studi Pustaka

Persiapan Bahan

Pembuatan Alat

Pengumpulan Data

Analisa Perbandingan mesin dan tenaga manusia

Validasi Hasil Perbandingan

Tidak

Ya Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Flow chart alur penelitian

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

15

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

3.2 Desain Dan Spesifikasi Mesin Pembulat Adonan Kosmetik

8 2

3 4 9

5 6 7

10

Gambar 3.2 Desain mesin pembulat adonan kosmetik Adapun komponen - komponen yang digunakan dalam pembuatan mesin pembulat adonan kosmetik dengan sistem getaran putar sebagai berikut: 1. Motor listrik

9. Tempat komponen kelistrikan

2. Hooper / tempat adonan

10. Rangka meja conveyor

3. Pisau rotary 4. Guide Dough 5. Plat pembulat adonan 6. rotary driver 7. Belt conveyor 8. Screw mixer Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

16

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

Spesifikasi komponen – komponen alat : No.

Nama Komponen

Spesifikasi

1

Motor Listrik

1/2 HP, 1 Phase, 2800 Rpm

2

Hopper

3

Screw

SUS316

4

Pisau Rotary

SUS316

5

Guide Dough

Teflon

6

Belt Conveyor

3160mm

7

Poros Conveyor

8

Plat Stainless Steel

9

Rotary Driver

BAJA AISI 1020, Ø50 x 83mm

10

Ball Bearing

ID Ø25mm

SUS316, Ø500 x 550mm

80mm SUS316, 600 x 400mm

Tabel 3.1 Spesifikasi Komponen – komponen alat

3.3 Cara Kerja Alat Prinsip kerja Alat Pembulat Adonan Kosmetik dengan Sistem Putaran Eksentrik : 1. Siapkan adonan kosmetik (Maksimal 2Kg). 2. Masukkan adonan kosmetik yang sudah siap kedalam Hopper (Pastikan alat masih dalam kondisi mati, saat penuangan adonan kedalam Hopper). 3. Nyalakan mesin untuk running. Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

17

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

4. Adonan yang masuk hopper akan keluar dari lubang nozzle sebesar 10mm, yang nantinya terpotong oleh Pisau Rotary. 5. Pisau Rotary akan langsung mengarahkan potongan adonan ke Guide Dough. 6. Guide Dough memisahkan adonan agar tidak bertabrakan dan melalui Belt Conveyor dengan baik. 7. Belt Conveyor menghantarkan adonan ke bawah Plat Stainless Steel yang nantinya digerakan oleh Rotary Driver dengan gerak eksentrik sehingga adonan yang tadinya terpotong oleh pisau dibentuk menjadi bulat setelah melewati Plat Stainless Steel. 8. Adonan Siap untuk proses selanjutnya.

3.4 Metode Pengumpulan Data Untuk dapat melakukan analisis yang baik, harus diperlukan data atau informasi, serta teori konsep dasar, sehingga kebutuhan data sangat mutlak diperlukan. Adapun metode pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1. Metode Literatur Bertujuan untuk mendapatkan data dengan cara mengumpulkan, mengidentifikasi, dan mengolah data tertulis berdasarkan sumber referensi yang disesuaikan dengan rancangan untuk menghitung dan merencanakan suatu alat yang baik. 2. Metode Wawancara Merupakan proses Tanya jawab untuk mendapatkan informasi atau keterangan - keterangan yang dibutuhkan dalam perencanaan suatu alat dan juga konsultasi dengan dosen pembimbing. 3. Metode Observasi Merupakan metode yang tujuannya adalah menganalisa data dengan melalui survey atau observasi lapangan. Hal ini perlu juga dilakukan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, agar memperoleh hasil data yang dibutuhkan dalam pembuatan alat ini. Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

18

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA

3.5 Jadwal Kegiatan

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan

Korrie Febryan ( 02.2015.1.09114 )

19

Related Documents

Bab Ii Proposal Skripsi
October 2019 36
Bab Ii Skripsi
December 2019 19
Skripsi-bab Ii
May 2020 20
Skripsi Bab Ii
May 2020 18
Skripsi Dedi Bab Ii
June 2020 26
Bab Ii Proposal Napza.docx
November 2019 34

More Documents from "Priska Fitriani"