Buku Strategi Pengorganisasian Buruh

  • May 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Buku Strategi Pengorganisasian Buruh as PDF for free.

More details

  • Words: 19,331
  • Pages: 65
STRATEGI PENGORGANISASIAN BURUH (Panduan Bagi Organiser Buruh Perkebunan dan Buruh Industri)

Based on true experiences Organizers from: Kelompok Pelita Sejahtera & Lentera Rakyat

By: Tua Hasiholan Hutabarat, M.Si Medan North Sumatera 2007

1

 Pengantar

Semua orang bicara tentang kemiskinan, penindasan dan penyakit-penyakit sosial lainnya. Semua juga mengklaim berusaha merubah kondisi sosial yang semakin menghimpit kaum terpinggir. Berbagai strategipun kemudian dijalankan dengan harapan dapat mengubah situasi menjadi lebih baik. Tentu saja tiap orang berhak mengatasnamakan penderitaan yang dialami oleh orang-orang miskin yang ada di seluruh dunia. Atas nama kemanusiaan, keberpihakan, bahkan cinta kasih banyak orang yang terketuk dan kemudian bergerak memerangi kemiskinan, kelaparan, penindasan dan ketidakadilan. Banyak cara yang kemudian dilakukan orang, mulai dari yang berlandaskan ideologis, cinta kasih atau keperdulian sesama, ataupun sekedar motivasi filantropis. Namun dari begitu banyaknya orang yang berbuat untuk merubah kemiskinan dan ketidakadilan menuju keadaan yang lebih baik, tidaklah sebanyak orang yang memahami bahwasannya situasi yang terjadi saat ini adalah situasi yang dikondisikan secara struktural. Masih banyak dari kita yang beranggapan, kemiskinan, kemelaratan, dan penyakit sosial lainnya disebabkan oleh kemalasan, budaya dan sistem ekonomi subsisten, rendahnya need of achievement (kebutuhan akan pembaharuan), sistem sosial yang tidak mendukung pembangunan dan sebagainya. Wajar saja jika kemudian sebahagian dari kita, seperti ORNOP, pemerintah, para pekerja sosial, dan relawan-relawan yang berjuang mengatasi kemiskinan lebih banyak menggunakan cara-cara yang tidak menyentuh akar dari kemiskinan, seperti; upaya menumbuhkembangkan kewirausahaan, membangun budaya membangun, upaya-upaya kuratif, dan sebagainya. Intinya, strategi yang dikerjakan adalah seputaran membangkitkan fungsi-fungsi sub sistem sosial ekonomi, politik, budaya, teknologi dan sebagainya. Fungsi-fungsi dari sub sistem yang sedang terganggu dan tidak berperan sebagaimana mestinya tersebutlah yang diperbaiki. Untuk itulah kita sering mendengar beberapa kebijakan dan tindakan, baik itu dari pemerintah dan pekerja sosial yang menyentuh institusi-institusi tertentu, dengan harapan menjadi lebih berdaya, berfungsi dan mampu bekerjasama dengan institusi atau pranata sosial lainnya. Saat ini malah kebijakan tersebut lebih menyentuh kepentingan-kepentingan sesaat (emergency), seperti Sumbangan Tunai Langsung atau Bantuan Tunai Langsung (BLT) kepada masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.

2

Kemudian ada juga kebijakan subsidi untuk petani, jaring pengaman sosial untuk warga miskin, dan sebagainya. Hal itu sangat berbeda dengan pandangan yang menyatakan kemiskinan timbul diakibatkan oleh terjadinya penghisapan dan penindasan yang dilakukan oleh modal dan kekuasaan. Untuk melanggengkan penghisapan dan penindasan tersebut, kemudian modal dan kekuasan membangun sebuah sistem yang mampu meninabobokkan masyarakat, melegitimasi seluruh kebijakan dan aturan yang disusun, dan bisa menutupi segala kekurangan yang muncul akibat dijalankannya sebuah sistem. Dengan demikian, upaya perubahan yang dilakukan adalah yang bisa membongkar dan membuka kedok disebalik sistem yang dibangun oleh kekuasan dan modal. Pembongkaran tersebut terutama ditargetkan pada bangunan sistem nilai yang secara permanen telah ditanamkan kekuasaan kepada masyarakat. Mau tidak mau perubahan yang dibangun haruslah ditujukan pada sistem nilai palsu yang dianut oleh masyarakat. Sistem nilai tersebut ada di mana-mana. Di dalam lingkungan keluarga, komunitas, institusi pemerintah, industri, sekolah, bahkan institusi agama. Semakin dalamnya kualitas kemiskinan tentu harus dihadapi dengan kualitas strategi perubahan yang akan dilakukan. Perubahan harus menyentuh sendi-sendi masyarakat yang paling dasar, untuk itu strategi yang digunakan haruslah berkenaan pada nilai-nilai yang paling diyakini benar oleh masyarakat. Pendekatan tambal sulam, karitatif, sekedar dilandasi motif humanistik hanya mampu menyelesaikan masalah secara parsial dan tidak berdampak jangka panjang. Untuk itu, strategi yang dibangun dan digunakan tidaklah kompromistis, karena cara-cara kompromistis mensyaratkan perubahan terjadi di dalam sistem, sedangkan sistem yang ada dibangun bagi kepentingan kekuasaan dan modal. Hampir sama dengan negara-negara miskin lainnya, demokratisasi politik dan ekonomi di Indonesia berjalan secara cepat. Perubahan kebijakan politik, demokratisasi akses ekonomi menjadi jargon utama pemerintah. Mulai dari pemerintahan pusat sampai daerah beramai-ramai mengeluarkan undangundang dan peraturan dengan harapan akan menciptakan situasi yang lebih demokratis. Namun tetap saja realita di masyarakat adalah kebalikannya. Jika dahulu pemerintah melakukan corporatisme lembaga-lembaga sosial, ekonomi dan politik, maka kini pemerintah sendiri yang berinisiatif membangun institusi demokratis tersebut, seperti Dewan Pengupahan, Komisi Pemilihan Umum, lembaga arbitrase, dan sebagainya. Seluruh

3

institusi tersebut dibangun dengan satu tujuan, yakni memapankan perbudakan dan penghisapan. Beratnya situasi penindasan inilah yang kemudian dianggap Herbert Mercuse merupakan hasil kerja kapitalisme. Secara cerdik kapitalisme mengkondisikan secara sistematis kebutuhan, konsumsi, pemikiran dan sebagainya dengan tujuan membangun keterasingan. Keterasingan tersebut diupayakan agar tidak disadari oleh masyarakat. Namun dalamnya penindasan tersebut ternyata tidak dijawab dengan strategi yang revolusioner. Malah penggerak perubahan terjebak pada perubahan kuantitatif semata, seperti peningkatan upah, tunjang, perbaikan jaminan sosial dan sebagainya. Strategi seperti itu tidak akan ada artinya, karena malah sebenarnya semakin memperkuat sistem kapitalis, karena kapitalisme sendiri cenderung mampu memenuhi tuntutan-tuntutan kuantitatif. Apalagi kapitalisme sendiri memiliki kemampuan menutupi keretakan-keretakan yang ada di tubuh kapitalisme sehingga tidak menjadi tidak terlihat. Dengan kata lain, perubahan adalah bersifat kualitatif, yakni perubahan pada watak dan sifat dasar dari kapitalisme. Merubah kondisi yang menindas bukanlah menaikkan angka-angka, namun membongkar keterasingan yang telah diciptakan oleh kekuasaan dan diyakini oleh masyarakat. Inilah yang menjadi dasar seorang organiser dalam mendorong kekuatan masyarakat melakukan perubahan.

4



Apa yang Dimaksud Dengan Pengorganisasian? ”...Jangan Kerjakan Apa yang Sebenarnya Mampu Dilakukan Oleh Rakyat...” Pengorganisasian dilakukan pada situasi dimana orang tidak mengerti akan situasi yang sedang dihadapi, dikarenakan dalam realitas sosial banyak orang yang tidak bisa keluar dari kondisi yang mengikat dan menindas. Namun pengorganisasian tidaklah semata-mata membuat orang-orang bisa dan mampu keluar dari kondisi tersebut. Tugas pengorganisasian tidaklah semerta-merta mendorong masyarakat untuk berubah dan meninggalkan kondisi penindasan, namun yang paling utama adalah memberi penjelasan dan alasan-alasan mengapa rakyat harus keluar dan lepas dari situasi yang dirasakan merugikan kepentingan masyarakat. Untuk itu, tugas pengorganisasian yang pertama adalah bagaimana bisa membuka atau mengungkap kondisi sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Kemudian setelah terungkap, seharusnya muncul keinginan untuk menyatu, bergerak dan berjuang untuk terjadinya perubahan. Namun gerakan yang dibangun bukanlah inisiatif dari orang luar atau organiser melainkan dari komunitas atau masyarakat sendiri. Perubahan yang di impor dari luar tidak banyak berguna bagi masyarakat karena seharusnya kepentingan akan perubahan harus dibangun dan dibesarkan di dalam sebuah komunitas. Se jernih apapun ide dan pemikiran dari luar, tetap saja bukan kepentingan masyarakat, sehingga pengorganisasian mensyaratkan kemunculan kepentingan, landasan dan dasar perubahan dari masyarakat itu sendiri. Pengorganisasian tidaklah juga sama dengan kerja-kerja kepeloporan, karena tugas organiser adalah membuka kondisi yang ada dan bukan secara langsung melakukan perubahan atas kondisi tersebut. Organiser bukanlah pemimpin, tokoh, atau elit rakyat yang mempelopori perubahan, karena peran itu mutlak menjadi milik rakyat dan harus dilakukan oleh rakyat itu sendiri. Oleh sebab itu, tugas pengorganisasian adalah membangun pemimpin, kader, orang-orang yang berfikiran maju dan mau bertindak untuk terjadinya perubahan. Orang-orang itulah yang kemudian akan terus menerus bekerja di masyarakat, memimpin, memotivasi, merencanakan dan menggerakkan massa.

5

Dengan demikian, tugas organiser adalah membangun kesadaran dan membangkitkan orang-orang sehingga merasa terganggu dengan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Tugas seperti itu sangat berat karena dari semua sisi masyarakat sudah terlalu dikuasai (hegemoni) oleh kekuatan negara dan modal. Masyarakat sudah sangat percaya dan yakin dengan sistem yang ada sehingga cenderung menghindari perubahan-perubahan yang menyentuh sisi-sisi mendasar masyarakat. Ketakutan-ketakutan seperti itu awam terjadi di masyarakat sehingga mempengaruhi sendi-sendi yang harus dirubah oleh masyarakat. Dapat dikatakan, masyarakat hidup dari nilai-nilai sosial dan budaya yang diyakininya. Nilai-nilai tersebut dilahirkan dan dibangun dari dan oleh masyarakat, bahkan secara terus menerus direproduksi oleh masyarakat. Lama-kelamaan nilai tersebut mendarahdaging dan menjadi pedoman hidup masyarakat. Dengan pengertian seperti itu, organiser memiliki penilaian, bahwasannya nilai dan keyakinan tersebut lah yang harus dirubah, sebab nilai dan keyakinan tersebut bukan milik masyarakat, namun milik kekuasaan yang di masyarakat selama ini telah menikmati keadaan tersebut sehingga tidak menyadari bahwasannya lingkungan dimana dia hidup merupakan sistem yang korup dan menindas mereka. Intinya, pengorganisasian adalah tugas-tugas perubahan dengan cara membuka permasalahan atau persoalan yang tidak dianggap masalah oleh masyarakat. Untuk itulah seorang organiser pertama kali harus melakukan pengenalan yang pertama kali harus dilakukan seorang organiser adalah melakukan pengenalan terlebih dahulu terhadap kondisi sosial tertentu untuk kemudian beranjak lebih dalam untuk melakukan perubahan terhadap situasi yang ada. Singkatnya, pengorganisasian adalah mempermasalahkan yang sebelumnya dirasakan bukan masalah. Sering sekali pengorganisasian dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari luar komunitas yang sedang membangun gerakan perubahan. Pengalaman menunjukkan kegiatan pengorganisasian acap kali dijalankan oleh agen atau individu dari luar sebuah komunitas. Namun sebenarnya tidak harus demikian. Individu atau pihak yang berasal dari dalam juga dapat melakukan tugas-tugas pengorganisiran, namun dengan catatan harus didasari dengan pemahaman yang cukup tentang makna dari gerakan dan perjuangan perubahan. Dengan kata lain, darimanapun agen atau orang yang berusaha membangkitkan perjuangan, maka nilai-nilai keadilan, kemerdekaan, lepas dari penghisapan dan penindasan dan visi tentang dunia yang lebih baik menjadi keutamaan.

6

Untuk bisa merubah keadaan sebuah masyarakat maka pengenalan terhadap situasi setempat adalah keharusan. Pengenalan tersebut harus didasari keinginan untuk merubah keadaan. Agen yang berasal dari dalam komunitas tidak akan bisa merubah keadaan jika pemikiran atau pemahamannya tentang perubahan tidak ada. Demikian juga dengan agen yang berasal dari luar. Ia hanya akan dapat mengorganisir sepanjang memiliki prinsip untuk membongkar permasalahan dan mendorong terjadinya perubahan. Kondisi masyarakat, khususnya di Indonesia pada umumnya adalah sudah tertindas, dan penindasan tersebut sudah mengakar. Community Organiser, apakah itu yang berlatarbelakang dari dalam maupun dari dalam sebuah komunitas bertugas merubah keadaan yang menindas tersebut. Pengorganisasian juga merupakan kerja-kerja yang sarat dengan ideologi dan nilai-nilai. Mengapa demikian? Membangun kelompok yang akan menjadi sebuah kekuatan perjuangan bukanlah sekedar sebuah tugas ataupun kerja-kerja teknis semata, namun merupakan peran yang harus dijalankan dengan latar ideologi yang kental. Dengan kata lain, kerja pengorganisasian adalah kerja-kerja ideologis, bukan sekedar menjalankan fungsi-fungsi pelaksanaan program. Untuk itu seorang organiser harus memiliki gambaran perubahan yang diharapkan. Tidaklah mungkin pengorganisasian tidak memiliki nilai, karena di dalam nilai tersebutlah tersusun sebuah tatanan masyarakat yang akan dicapai. Namun ideologi yang dipahami oleh seorang organiser tidak dapat secara langsung dipaksakan untuk dipahami masyarakat, dengan kata lain, organiser tidak dapat secara membabi buta menggunakan ideologi pada pendekatan awal pada komunitas. Pada tahap awal, pengorganisasian tidak bisa menggunakan nilai-nilai prinsipil seorang organiser, namun harus menggunakan cara-cara yang lebih bisa diterima dan tidak menimbulkan konflik kepentingan dan nilai dengan komunitas. Membangun kekuatan rakyat berarti membongkar hegemoni dan penindasan yang dilakukan kekuasaan dan modal. Namun membongkar dan mengganti ideologi yang menindas tersebut juga harus dibarengi atau ditindaklanjuti dengan menawarkan ideologi yang membebaskan. Namun penawaran ideologi baru tersebut tidaklah dengan cara memaksakan ataupun menerapkan strategi hegemoni. Pengorganisasian adalah membuat masyarakat bisa menerima ideologi atau nilai tersebut tanpa harus membuat provokasi kepada masyarakat. Jadi tugas pengorganisasian adalah membuat masyarakat sadar dan menerima ideologi perubahan yang ditawarkan.

7

Memaksakan ideologi atau nilai berarti anti dialog, sedangkan pengorganisasian sendiri sebenarnya adalah membangun dialog untuk perubahan. Pengorganisasian juga bukanlah kerja-kerja megalomania dengan menggunakan cara-cara seremonial dan kolosal. Pengorganisasian berarti bekerja dalam kelompok-kelompok kecil sehingga mampu berjuang melawan pihak-pihak yang menindas dan keluar dari kondisi yang mengisolasi dan menghisap. Dengan demikian, pengorganisasian tidak bekerja dengan semua orang, namun kepada beberapa orang yang berfikiran maju dan

8



Bagaimana Seorang Organiser Memandang Realitas? Seorang organiser harus bisa melihat keadaan yang dialaminya dengan cara keluar terlebih dahulu dari kondisi yang ada. Maksudnya, seorang organiser harus keluar dari cara pandang masyarakat atau komunitas dalam melihat persoalan. Sepanjang ia tidak berusaha keluar dari situasi yang ada dan memandang permasalahan dari sisi yang berbeda, maka ia tidak akan bisa menemukan permasalahan yang sebenarnya ataupun melihat persoalan yang ada dalam masyarakat dari perspektif lain. Ada kasus yang pernah terjadi, dimana seseorang tidak bisa dan tidak mau diajak ngobrol. Untuk mengatasi keadaan tersebut, seorang Oganiser harus keluar dari cara pandang yang selama ini terfikirkan oleh orang atau komunitas tersebut. Organiser dapat bergerak dari sisi lain yang tidak terfikirkan dalam melihat kondisi ketidakmampuan bicara tersebut. Salah satunya adalah mengungkapkan pengaruh tingkat ketergantungan kepada pabrik dan waktu yang dihabiskan oleh buruh tersebut bekerja di pabrik. Besarnya ketergantungan dan waktu yang dihabiskan untuk bekerja telah membuat buruh takut untuk bicara dan ngobrol dengan orang lain. Organiser harus yakin dengan pandangan tersebut sehingga buruh mau terbuka dan bicara dengan organiser. Seorang organiser hanya dapat melihat sebuah keadaan jika ika bisa keluar dari masalah yang ada. Dengan keluar dari keadaan yang ada, maka organiser dapat lebih jelas melihat persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, dan terlebih lagi akan mampu memberi penilaian tentang persoalan mendasar yang menjadikan kondisi masyarakat tertindas. Ada kasus, dimana orang batak tidak bisa ngobrol. Tidak bisa ngobrol sebenarnya merupakan sebuah masalah. Untuk itu perlu dilihat lebih ke dalam lagi sehingga diperoleh informasi yang yang sebenarnya membuat seseorang menjadi diam dan sulit mengungkapkan permasalahan yang dihadapi. Agar bisa keluar dari masalah, atau kondisi yang mengungkung, tugas seorang organiser untuk turun ke masyarakat dan mengalami kondisi yang dialami oleh masyarakat. Menjadi seorang organiser bukanlah sebagai sebuah bakat, ada proses yang dapat membentuk menjadi seseorang organiser untuk dapat bekerja di komunitas dan membuka persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.

9

Bagaimana masa lalu seseorang berpengaruh dalam membentuk sikap sebagai seorang organiser, dan bagaimana sikap seseorang dimasa lalu dapat mempengaruhi sikap seseorang untuk bisa menyelesaikan persoalanpersoalan hidupnya? Masalah tidak selalu dihubungkan dengan masalahmasalah normatif. Intinya bagaimana merubah keadaan menjadi lebih baik. Yang lebih baik itu bisa dalam bentuk aturan-aturan yang lebih adil dan berpihak kepada masyarakat kecil, nilai-nilai atau ideologi yang membebaskan dan sebagainya. Yang harus dikembangkan adalah bagaimana bisa memunculkan obat pemecahan masalah dari mereka sendiri. Setiap orang punya cara dan kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sebab merekalah yang terlibat dan berhadapan secara langsung dengan persoalan-persoalan hidup. Untuk itu tugas seorang organiser bukan mengajari masyarakat tentang apa yang harus dikerjakan, namun mengeksplorasi apa yang dimiliki oleh sebuah komunitas untuk kemudian diperkuat dan dijadikan alat untuk memecahkan persoalan mereka. Persoalan selalu muncul dari lingkungan, ataupun dari individu berdasarkan cara pandang dan penilaiannya terhadap lingkungan sosial. Persoalan hidup akan memaksa individu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Seseorang bisa bereaksi ketika realitas hidup memaksanya untuk bertindak, namun yang lebih sering adalah, realitas yang memaksa seseorang untuk diam dan tidak berbuat apa-apa. Seseorang yang berada dalam lingkungan sosial tertentu akan dikondisikan oleh lingkungan tersebut, bahkan larut dalam rumitnya permasalahan. Begitu njelimet nya persoalan, sehingga seseorang menjadi bingung bagaimana caranya ia bisa menyelesaikan persoalan. Jangankan menyelesaikan persoalan, untuk bisa melihat persoalan secara jernih saja pun seseorang tidak mampu. Untuk itu, pertama yang harus dilakukan oleh organiser adalah keluar dari lingkaran permasalahan yang membingungkan tersebut. tindakan ini dilakukan agar ia bisa melihat secara jernih tentang apa yang sebenarnya dialami atau dihadapinya. Selain itu, tindakan untuk keluar dari lingkaran persoalan tersebut dilakukan agar seseorang tidak dipengaruhi oleh besarnya tekanan yang terjadi di dalam lingkingan sekitarnya. Setelah keluar dari lingkaran persoalan dan pengaruh tersebut, tindakan selanjutnya adalah memberi keyakinan bahwasannya setiap orang punya pemecahan atas masalahannya. Satu hal yang juga penting dilakukan oleh Organiser adalah, ia harus memberi keyakinan kepada orang lain bahwa perubahan harus dilakukan. Namun keyakinan ini juga sering sudah dipahami oleh masyarakat. Kebanyakan masyarakat sudah memahami tentang kemiskinan, kemelaratan dan ketidakadilan yang dialaminya.

10

Bahkan, ia sudah punya cara-cara tersendiri yang telah difikirkannya. Masyarakat malah sering Membongak dengan mengatakan ia sudah tau pemecahan masalahnya, bahkan menganggap persoalan tersebut adalah gampang. Ketika hal itu terjadi, maka organiser harus lebih dalam lagi saat menjelaskan atau memberi keyakinan terhadap perubahan yang harus dilakukan. Apalagi jika organiser melihat adanya ketidaksesuaian antara ungkapan dengan tindakan seseorang atau masyarakat. Pada posisi ini organiser bukan hanya memberi keyakinan, namun juga melakukan agitasi tentang pentingnya perubahan. Organiser harus membongkar dan mengikis pemahaman yang salah antara tindakan dan pemikiran. Pemikiran dan tindakan harus selaras sehingga masyarakat menjadi yakin bahwasannya ia harus bertindak atas apa yang terjadi. Namun yang harus dijaga oleh organiser adalah, jangan sampai ia menjadi sumber obat atas permasalahanpermasalahan masyarakat. Organiser harus menjaga jangan sampai pemikirannya kemudian langsung pada solusi atas persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Upaya ini tentunya sulit, terutama bagi organiser yang sudah memiliki pengalaman. Pengalaman tersebut sering sekali langsung ingin di cangkokkan ke komunitas lain untuk digunakan dalam mengatasu atau menyelesaikan persoalan. Organiser sering sekali tidak sabar atas lambatnya pola fikir komunitas yang tidak langsung mengarah pada solusi persoalan. Untuk itu diperlukan kesabaran dan ketenangan organiser untuk menunggu proses sampai orang-orang menemukan solusinya sendiri. Seorang organiser juga sering memanipulasi proses dengan membuat seakan-akan solusi muncul dari komuntas ataupun kelompok. Walaupun bukanlah tindakan yang haram, namun pola seperti ini harus menjadi prioritas terakhir yang harus dilakukan. Pengalaman dan kepintaran seorang organiser kerap dilakukan pada kondisi ini. Organiser merasa sudah memahami atau mengetahui apa yang difikirkan oleh kelompok sehingga memandu atau mengarahkan diskusi pada solusi yang telah difikirkannya. Tindakan ini sangat mudah dilakukan oleh organiser. Namun pola seperti ini jelas membodohi dan membutakan diri terhadap realitas yang dihadapi kelompok ataupun masyarakat. Logikanya, realitas adalah materi yang dihadapi oleh masyarakat. Realitas juga memuat solusi, walaupun belum ditemukan ataupun terumuskan. Ketika organiser mengadopsi solusai dari tempat lain untuk diterapkan, maka solusi atau pemecahan yang dijalankan bukanlah jawaban dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

11

Organiser bukan harus orang yang dikagumi, namun jangan sampai ia menjadi orang yang dibenci. Untuk mengukur keberhasilan kerja organiser bukan dari kemampuannya menyelesaikan masalah ataupun ketika ia menjadi orang yang dihormati. Ada beberapa akibat jika ia menjadi sosok yang dihormati. Pertama, orang yang dihormati cenderung akan mendapatkan perlakuan khusus. Di komunitas buruh hal ini sering sekali terjadi. Ketika organiser menempati posisi sebagai orang yang lebih dibandingkan orang lain di komunitas tersebut, maka ia dianggap telah merusak tatanan kepemimpinan lokal ataupun kelompok. Suatu masyarakat, atau sebuah komunitas selalu memiliki sistem kepemimpinan yang khas dan memang bersumber dari budaya dan struktur sosial setempat. Baik atau buruk, dipercaya atau tidak, negatif atau positif kepemimpinannya tidak menjadi persoalan. Yang pasti, organiser harus melihat bahwasannya kepemimpinan lokal di sebuah komunitas memang harus dijaga. Pola dan sistem kepemimpinan komunitas tersebut biasanya tercermin dalam pola kepemimpinan organisasi atau kelompok yang dibangun organiser. Menggantikan posisi pemimpin atau orang yang dihormati di dalam komunitas bukanlah langkah tepat bagi organiser. Yang harus dilakukan olehnya adalah memberi pemahaman kepada komunitas tentang nilai-nilai dan prinsip kepemimpinan yang benar. Organiser juga sering menjadi tandingan pemimpin lokal. Kepercayaan dan penghormatan masyarakat atau kelompok terhadap organiser bisa mengalahkan kepemimpinan dan penghorgamatan kelompok. Jika dilihat dari sisi tujuan pengorganisasian, maka gejala seperti ini tidak akan bisa memperkuat organisasi rakyat. Nantinya, kelompok akan selalu tergantung dengan organiser, karena pemimpin atau orang-orang maju di kelompok tidak didengar atau dianggap penting oleh kelompok. Walaupun bukan harus sosok yang dihormati, organiser harus dipandang sebagai orang baik di masyarakat. Pandangan ini akan membantu kerja-kerja organiser, karena dalam pengorganisasian komunikasi dan kerja-kerja sangat tergantung pada pandangan atau penilaian kelompok atau masyarakat terhadap organiser. Ketika pandangan kelompok sangat negatif terhadap organiser, maka ucapan-ucapan atau masukan dari organiser akan ditolak, tidak dilaksanakan, didiamkan, atau dianggap angin lalu oleh kelompok masyarakat. Organiser memiliki kerja utama untuk membuka permasalahan/kondisi dalam sebuah komunias. Kemudian orang akan berkumpul, dan bersama-

12

sama memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Pemecahan tersebut tentunya membutuhkan orang lain yang memiliki pemikiran pada perubahan, karena lingkungan yang dibentuk adalah lingkungan dimana masyarakat sulit memecahkan persoalannya sendiri. Namun perubahan tersebut hanya bisa dilakukan dengan catatan, yakni orang tersebut harus memiliki kesadaran yang lebih dibandingkan dengan orang lain yang ada di lingkungannya. Satu sisi, ideologi yang dipegang oleh organiser berusaha disampaikan kepada masyarakat. Ideologi atau nilai tersebut mau-tidak mau akan mempengaruhi organiser dalam bertindak dan memandang sebuah realitas. Padahal realitas yang ada saat ini dianggap sebagai realitas semu bentukan hegemoni (kekuasaan secara halus) kekuasaan. Organiser yang memandang realitas secara struktural konflik cenderung akan memandang masyarakat penuh dengan persoalan-persoalan, bahkan cenderung menganggap tidak ada yang benar dari sebuah masyarakat. Namun organiser tidaklah langsung memandang realitas secara negatif. Sebagai langkah awal pengenalan dan membangun kepercayaan, seorang organiser harus memandang secara positif nilai-nilai atau kebiasaan yang berlangsung dalam masyarakat. Namun pandangan tersebut harus segera dirubah ketika kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap organiser sudah tumbuh. Yang menjadi catatan penting dari sikap tersebut adalah, tetap saja organiser harus memegang prinsip-prinsip atau nilai yang ada dalam ideologi yang diyakininya. Memandang realitas secara positif hanya sebuah taktik agar dapat memahami perilaku dan nilai lokal dan membangun kepercayaan dengan komunitas. Realitas yang diungkapkan oleh individuindividu dalam komunitas harus dipandang sebagai taktik untuk masuk ke alam fikiran orang lain. Mengikuti alur pemikiran individu tersebut hanya sekedar teknik membuka dialog sehingga diperoleh pemahaman tentang alam pemikiran orang lain. Nilai atau ideologi yang dipegang oleh organiser tentunya berpengaruh terhadap cara cara pandangnya terhadap realitas. Bagi organiser yang memandang masyarakat dari perspektif struktural konflik, masyarakat adalah sebuah tatanan yang dikondisikan oleh kekuasaan, sehingga nilai, norma, perilaku, tindakan, aturan-aturan dan sikap-sikapnya adalah demi kepentingan kekuasaan. Dengan demikian, realitas dipandang sebagai sesuatu yang semu dan tidak bebas nilai karena dibentuk dan dipaksakan oleh kekuasaan kepada masyarakat.

13

Dengan pandangan menganggap masyarakat bukanlah sebuah tatanan yang bebas nilai, maka sikap organiser adalah bersikap kritis terhadap nilai yang berlaku di masyarakat. Hal ini tentunya berbeda dengan pandangan dari masyarakat perdesaan yang masih sangat yakin dengan nilai dan norma yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi struktur sosial di komunitas buruh, dapat dikatakan tidak ada satupun sistem sosial yang bebas nilai. Nilai, norma, budaya maupun sistem sosial lainnya adalah yang dibentuk oleh dan untuk kepentingan penguasa, yang kemudian direproduksi oleh masyarakat sendiri. Bahkan, masyarakat sering sekali meyakini bahwasannya tindakan dan nilai yang dijalankannya adalah hasil dari bentukan dari mereka sendiri. Sejarah, kebutuhan dan realitas lah yang memunculkan sistem sosial. Masyarakat adalah bagian dari realitas sosial, sehingga apa diyakini dan dipercaya oleh masyarakat adalah produk keseharian mereka sendiri. Padahal, tidaklah seluruh realitas merupakan produk dari masyarakat, walaupun dibentuk oleh masyarakat, masyarakat sendiri merupakan buatan dari kekuasaan. Tugas organiser adalah membuka dan menguak bagaimana kekuasaan berperan dalam membentuk masyarakat. Untuk itu ia harus memandang masyarakat dari sisi terbalik. Artinya, sudut pandang organiser tidaklah sekedar sudut pandangan masyarakat. Ia harus memandang dari sisi lain yang berbeda dengan yang selama ini diyakini oleh masyarakat. Realitas kehidupan buruh maupun komunitas buruh tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan di atas. Kondisi tersebut paling parah terjadi di komunitas buruh perkebunan yang hidup dalam sebuah kawasan terisolasi. Dengan bebas tanpa hambatan pengusaha membentuk aturan, nilai dan kepercayaan yang ditanamkan ke buruh selama puluhan tahun. Jika itu yang terjadi, ruang gerak buruh, baik itu tindakan maupun pikirannya selalu akan dapat dikontrol dan ditekan oleh pengusaha. Tidaklah mungkin buruh akan melakukan perlawanan jika nilai yang dianut oleh buruh sama persis dengan yang ditawarkan pengusaha. Agar dapat memahami realitas yang sebenarnya maka organiser harus selalu memandang dari sisi terbalik. Hal ini tentunya berbeda dengan sudut pandang normatif yang memandang realitas dari sisi menguntungkan atau tidak, baik atau buruk, damai atau kacau, dan sebagainya. Jika cara pandang terbalik digunakan, maka konsekuensinya, organiser selalu akan tidak percaya dengan realitas yang dilihatnya. Semua yang dilihat dan didengar tidak serta-merta diterima kebenarannya. Misalnya

14

ketika memandang kondisi buruh perkebunan. Tenang dan stabilnya kondisi perkebunan, puasnya buruh dengan pemenuhan hak, tidak adanya perlawanan di perkebunan tersebut harus dipandang secara kritis dan terbalik. Bahkan kondisi seperti itu lah sebenarnya kecurigaan organiser harus dipupuk. Kekritisan dan kecurigaan itulah yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh organiser. Namun yang harus dipahami oleh organiser adalah tidak sekedari mencari tahu sesuatu yang diungkapkan oleh individu atau komunitas. Seorang organiser sering sekali mendapatkan atau mendengar beberapa isu yang tersebar di masyarakat. Isu, fenomena, kejadian atau gejala yang muncul di masyarakat tidak hanya ditanggapi dengan cara mencari tahu ataupun menyelelidikinya, namun juga harus memperdalamnya. Maksud dari memperdalam gejala ataupun isu tersebut bukan berusaha membuktikan, namun mendapatkan informasi disebalik itu, yakni yang punya kaitan dengan penindasan. Seorang buruh pernah menceritakan kepada organiser, bahwasannya di suatu tempat yang berdekatan dengan lingkungan tempat tinggal mereka terdapat seorang anak yang dikutuk menjadi putri duyung oleh ibunya. Saat mendengar cerita ini seorang organiser tidak menanggapinya dengan pemikiran apakah isu tersebut benar atau tidak, namun yang ada dalam fikiran organiser adalah apa maksud dari berkembangnya isu tersebut. dengan kata lain, benar atau tidaknya mitos atau cerita tersebut bukan menjadi urusan organiser. Tugasnya adalah mencaritau apa sebenarnya makna dan dampak isu atau cerita tersebut terhadap buruh. Bisa saja, penyebaran cerita tersebut dapat dikaitkan dengan upaya membentuk sikap hormat, patuh dan taat seorang buruh kepada pengusaha. Cerita tentang anak yang dikutuk oleh ibunya menjadi putri duyung tersebut dapat disamakan dengan arti seorang buruh yang akan dikutuk oleh pengusaha jika melakukan perlawanan. Tentunya pemikiran seperti inilah yang harus digali untuk kemudian disampaikan kepada buruh. Organiser bukan larut dan berusaha menelusuri cerita tersebut, namun mencari makna disebalik cerita tersebut. Mitos, cerita-cerita, isu ataupun rumor selalu muncul dalam sebuah masyarakat dan mampu mempengaruhi realitas. Setiap hari organiser akan menemukan cerita-cerita seperti itu. Tugas seorang organiser memperdalam dan mencari makna dari cerita tersebut dan kemudian mengkaitkannya dengan nasib dan kehidupan buruh. Itulah kekritisan yang harus dimiliki oleh organiser.

15

Realitas kehidupan buruh (sama dengan realitas masyarakat secara umum) adalah realitas semu yang harus diperdalam dan dipertanyakan oleh seorang organiser. Tidak ada yang sungguh-sungguh benar tentang realitas, yang ada adalah realitas dari dan untuk kepentingan kekuasaan. Memandang sebuah realitas haruslah secara kritis dan menganalisis secara dialektis, menyangkut materi dan kesejarahan dari sebuah gejala. Berfikir secara dialektis dalam memandang realitas adalah keharusan dari seorang organiser sehingga ia akan mendapatkan keterkaitannya dengan penindasan dan perlawanan buruh. Sikap Seorang Organiser Apakah ada bakat menjadi seorang organiser..? Apakah menjadi organiser merupakan bakat atau bentukan dari proses belajar, melakukan dan pengembangan? Ada orang yang lari ketika bermasalah dan kecewa, namun ada juga orang yang melupakan namun ada juga yang memelihara kekecewaan itu sehingga berkembang menjadi bakat seorang organiser. Akarnya adalah masalah, kemudian ia termotivasi dengan permasalahan tersebut dan ia pelihara menjadi semangat menjadi seorang organiser. Seorang organiser harus bisa membangkitkan rasa marah pada masyarakat yang terkungkung dengan kondisinya. Organiser harus bisa mengganggu keadaan psikologis dan keadaan sosial orang. Mengarahkan orang lain untuk mengetahui apa yang menjadi masalah yang sesungguhnya. Bagi seorang organiser, harus ada transfer pengetahuan yang ia dapat. Organiser harus punya pemahaman dasar, ataupun ideologi yang jelas. Sehingga pada saat trasfer pengetahuan harus ada basic pemikiran yang ia sampaikan. Untuk itu seorang organiser harus terus belajar dan membaca. Seorang organiser yang tidak memiliki dasar berfikir maka menjadi orang yang peragu. Ia harus total, karena ia harus bisa membuat orang lain tau tentang masalahnya dan marah dengan keadaan yang ia hadapi. Apa yang dikatakan harus yakin ada dampaknya. Kalau mampu membangkitkan suatu hal menjadi sebuah masalah, maka akan ada perubahannya. Harus ada keyakinan dan kepastian akan ada perubahan sehingga ia yakin menyampaikannya ke orang lain. Percaya diri bukan disebabkan oleh persoalan psikologis namun karena seseorang tidak yakin dengan apa yang dia katakan atau dengan kata lain ia tidak memahami apa yang ia pikirkan dan ingin sampaikan. Jika ingin percaya diri, maka seorang harus menguasai apa yang akan dia katakan. Jika ia sudah kuasai dan yakin,

16

maka ia akan dengan mudah dan meyakinkan mengatakannya ke orang lain, dengan kata lain ia percaya diri. Bagaimana membuat orang yakin dengan apa yang dimilikinya dalam menyelesaikan permasalahannya? Seorang organiser tidak terlalu perduli dengan nilai lokal yang dianggap menindas, ia harus berani membongkar kondisi yang ada, walaupun nilai tersebut sudah sangat lama berlangsung. Ia harus yakin bahwasannya tidak ada yang bebas nilai di dalam masyarakat. Namun harus dipilah-pilah juga. Unsur-unsur nilai yang harus dikembangkan oleh seorang organiser adalah nilai kerja, kolektivitas agar dapat dikembangkan. Nilai-nilai lain yang bertentangan harus ditolak. Seorang organiser sering sekali harus kasar, namun itu perlu dilakukan untuk dapat mengganggu dan membongkar pikiran orang lain. Organiser tidak harus seperti aktivis yang kesana-kemari untuk menangani masalah. Pelan-pelan dengan keyakinan seorang organiser harus bekerja tanpa melihat hasilnya terlebih dahulu. Ia harus benar-benar yakin akan ada perobahan. Namun perobahan terebut harus lebih baik, dan tidak harus melihat seperti apa proses perobahan dan hasilnya. Ia harus memasukkan unsur doktrinasi dari seorang organiser. Tidak harus partisipatif terus menerus. Seorang organiser juga adalah orang yang terus menerus belajar dan tidak pernah berhenti menambah pengetahuan, keahlian dan pengalamannya. Atas semua yang ia kerjakan dan dimiliki, seorang organiser juga adalah orang yang bertanggungjawab. Tanggung jawab disini bukanlah sekedar akan tanggung jawab atas kerja ataupun sebuah kegiatan, namun juga yang lebih penting adalah bertanggungjawab atas perubahan yang sedang terjadi. Implementasi dari tanggungjawab tersebut salah satunya diwujudkan dengan cara memberi keyakinan kepada masyarakat bahwasannya perubahan adalah sesuatu yang pasti dan harus didorong dapat terwujud. Seorang organiser juga adalah orang yang memiliki keyakinan yang kuat akan terjadinya perubahan. Untuk itu ia juga harus mewujudkannya dalam memotivasi orang lain dalam rangka perubahan tersebut. Seorang organiser yang kurang atau tidak yakin dengan perubahan yang ditawarkan, maka ia akan menjadi seorang yang peragu dalam segala hal. Keyakinan tersebut tidak dapat diabaikan, namun secara terus-menerus dipelihara agar selalu konsisten. Konsistensi tersebut salah satunya dapat dibentuk dengan cara terus belajar dan menimba ilmu pengetahuan, baik dalam melalui teori maupun pengalaman langsung di masyarakat.

17

Seorang organiser juga bukanlah orang yang kikir dan penakut. Sepanjang segala sumberdaya dapat digunakan untuk perubahan harus didayagunakan. Namun bukan berarti ia adalah individu yang royal dalam banyak hal. Demikian juga dengan rasa takut. Sebagai sebuah hal yang normal dan bersifat manusiawi, rasa takut tentunya tidak dapat dihilangkan sama sekali, namun bagaimana rasa takut tersebut tidak berkepanjangan. Bagaimana mengatasi ketakutan? Ketakutan sebenarnya hal yang sangat wajar, namun bagaimana supaya tidak berkepanjangan. Harus ada juga cara mengatasi rasa takut tersebut dengan cara menghukum diri dan memotivasi diri. Terkadang perlu juga melakukan hal yang terbalik dari yang ia takuti ataupun ditakuti oleh orang lain. Perlu juga melihat ke sumber ketakutan secara langsung, karena dengan demikian akan terbuka sebenarnya apakah memang benar hal yang menakutkan tersebut harus ditakuti. Dengan demikian rasa takut tersebut akan pelan-pelan hilang.

18



Perencanaan Bagi Organiser Bicara strategi maka bicara keadaan. Jadi seorang organiser harus bisa bermain di keadaan itu, sehingga sangat sulit jika seorang organiser ingin membakukan keadaan. Jika seorang organiser ingin melakukan improvisasi ataupun fleksibel menerapkan strategi, maka tidak boleh keluar dari keadaan ataupun permasalahan di wilayah pengorganisasian. Misalnya, pernah KPS melakukan pengorganisasian kepada buruh, kemudian muncul strategi ingin membangun kelompok buruh yang beragama kristen. Strategi ini jelas tidak nyambung dengan tujuan awalnya. Fleksibelitas bisa dilakukan namun tetap dalam koridor yang ada. Jika tidak bertujuan merubah keadaan, maka strategi yang dijalankan tidak dapat dijalankan. Jika strategi tersebut dipaksakan untuk dijalankan, walaupun tetap masih sesuai dengan keadaan maka akan membuyarkan tujuan perubahan yang sebenarnya. Dengan kata lain, fleksibilitas hanya dapat dilakukan sepanjang dalam rangka membuka keadaan yang mendukung terjadinya perubahan. Jika malah strategi yang dijalankan membawa kemunduran, maka strategi tersebut jangan dijalankan. Tentunya fleksibilitas juga tidak boleh melanggar nilai-nilai yang berbeda dengan tujuan perubahan. Untuk itulah, organiser harus menghindari strategi yang bertolak belakang dengan nilai-nilai gerakan, seperti mengembangkan tema-tema yang berbau rasialisme, sekteranisme dan sebagainya. Nilai-nilai yang ditegakkan adalah yang berakar dari nilai-nilai gerakan buruh dan tidak memunculkan atau mengembangkan nilai atau isu yang bertentangan dengan kelas pekerja. Bicara buruh maka bicara tentang kelas buruh. Beberapa orang menyatakan bahwasannya fleksibilitas juga terkait dengan taktik sehingga beberapa cara bisa dilakukan walaupun terkesan tidak berhubungan dengan tujuan awal. Namun sering sekali taktik yang dijalankan dijadikan sebagai pembenaran atas ketidakmampuannya melakukan strategi pengorganisasian. Mau tidak mau seorang organiser harus tetap berkonstrasi pada strategi yang akan dijalankan. Dengan menjalankan strategi tersebut maka proses perubahan tetap dalam koridor yang ada, dan tidak keluar dari esensi perubahan kondisi yang menindas buruh. Walaupun seorang organiser harus fleksibel dalam menjalankan strategi di lapangan, tetap saja harus berada di dalam koridor perubahan, dan itu harus benarbenar disepakati.

19

Kaitannya dengannya dengan perencanaan, maka ada kecenderungan fleksibilitas memaksa organiser sehingga tidak memiliki perencanaan yang matang dalam melakukan pengorganisasian. Namun sebenarnya tidak harus seperti itu. Fleksibilitas tidak selalu bertolakbelakang dengan perencanaan. Contohnya, jika akan mengorganisir perkebunan lama dan perkebunan yang masih baru. Ada beberapa karakteristik yang membedakan antar dua perkebunan tersebut. Karakteristik yang berbeda tersebut tentunya berdampak pada penggunaan strategi di lapangan. Perbedaan karakteristik tersebutlah yang kemudian dianalisis sehingga melahirkan perbedaan strategi. Namun pengembangan dan penerapan strategi tersebut dapat berbeda dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Selama di lapangan, perbedaan karakteristik tersebut memaksa organiser untuk membuat variasi strategi sehingga mendukung tujuan pengorganisasian. Seperti yang terjadi di perkebunan. Di lapangan, terdapat berbedaan yang cukup kontras antara perkebunan lama dengan perkebunan yang masih baru. Di perkebunan lama, nilai dan budaya yang terbentuk merupakan proses sejarah yang panjang. Nilai-nilai tersebut sudah terinternalisasi di kalangan buruh, bahkan sudah menjadi keyakinan yang mengental. Namun berbeda dengan kondisi perkebunan yang masih baru. Di perkebunan lama, nilai dan budaya yang dibentuk memang sudah turun temurun dan mengakar kepada buruh. Untuk menyerang kondisi tersebut maka harus dilakukan cara-cara yang lebih halus lagi dan tidak menyentuh secara langsung persoalan-persoalan yang sensitif dalam komunitas buruh. Namun jika di perkebunan baru strategi yang bersifat langsung dapat segera diterapkan. Di perkebunan baru, nilai-nilai yang sudah melekat dan mengental di belumlah sekuat yang terjadi di perkebunan lama, sehingga strategi atau taktik yang dijalankan sudah bisa menyentuh persoalan-persoalan pokok dan yang dihadapi secara langsung oleh komunitas buruh. Perencanaan bagi seorang organiser bukanlah seperti dalam gambaran kita seperti rencana atau panduan baku. Yang harus dimiliki oleh seorang organiser adalah kepercayaan dan keyakinan bahwasannya yang ia lakukan akan berdampak pada perubahan. Untuk itu seorang organiser harus juga mengenal wilayah kerjanya. Perpaduan antara keyakinan, kepercayaan dan pengenalan tersebutlah yang kemudian sebenarnya dijadikan panduan seorang organiser dalam melakukan pengorganisasian. Dalam perencanaan, organiser harus benar-benar mengetahui atau mengenal sebuah komunitas. Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui proses need assasment. Namun

20

dari hasil need assasement tersebut tetap saja ada proses pertimbangan lebih lanjut untuk memilih wilayah atau komunitas yang pertama kali akan diorganisir. Dapat saja pilihan jatuh pada komunitas atau wilayah yang dianggap paling sulit ataupun paling dalam terjadi penindasannya. Dengan memasuki wilayah yang paling sulit tersebutlah sebenarnya dapat mempermudah proses pengorganisiran. Begitu pentingnya proses perencanaan sehingga tidaklah mungkin dilakukan sebelum mengenali wilayah atau komunitas terlebih dahulu. Memasuki wilayah yang paling sulit merupakan pilihan yang lebih tepat bagi seorang organiser. Dengan demikian ia sudah mengetahui tantangan dan kendala yang paling besar, sehingga jika menemukan kendala lainnya akan lebih mudah untuk diatasi. Dengan memilih wilayah yang lebih mudah tentunya akan tidak lebih membantu seorang organiser, karena kemungkinan munculnya persoalan yang lebih sulit dan besar terbuka lebar sehingga organiser tidak akan punya pengalaman untuk mengatasinya. Dalam perencanaan, tentunya ada beberapa sub kegiatan yang harus disusun oleh seorang organiser. Pada saat mengenali lapangan/komunitas tertentu harus ada proses analisis terlebih dahulu tentang keadaan basis. Analisis berisi hal-hal utama yang terlebih dahulu harus dimasuki dan dirubah untuk kemudian beranjak ke hal-hal lainnya. Persoalan-persoalan besar dan paling sulit yang dihadapi oleh komunitas tersebutlah yang kemudian harus dirubah pertama kali. Setelah persoalan pokok tersebut dapat dirubah, maka nantinya akan muncul keinginan dari komunitas tersebut untuk membentuk kelompok ataupun menggunakan cara-cara lain yang bisa merubah keadaan. Intinya, bagaimana memunculkan keinginan untuk berubah. Persoalan kelompok harus dibuat menjadi kebutuhan mereka dan tidak harus didorong-dorong oleh seorang organiser.

21



Mulailah dari Pengenalan Lapangan Tahapan pertama yang harus dilakukan seorang organiser adalah mengenali kondisi lapangan atau komunitas yang dimasuki. Namun tentunya organiser harus memilih permasalahan yang paling sulit dan terberat yang dihadapi oleh komunitas. Tugas organiser adalah memilih permasalahan yang paling sulit dan dianggap paling berat untuk dilakukan perubahan pada masyarakat. Tahapan selanjutnya, seorang organiser akan menganalisis kondisi yang dia temui di lapangan, dan kemudian mendistribusikan permasalahan tersebut ke masyarakat. Setelah didistribusikan, nantinya masyarakat akan merasa kecarian, dan kemudian pasti akan merasa membutuhkan untuk membentuk kelompok. Pada saat pengenalan lapangan, seorang organiser belum melakukan agitasi ataupun membangun sebuah isu. Yang dilakukan hanyalah pengenalan tentang masyarakat maupun kontak yang ditemui oleh organiser. Upaya mendapatkan informasi ataupun lebih mengenali keadaan lapangan ataupun sebuah komunitas tidak dapat berlangsung secara cepat. Seorang organiser harus dengan sabar terlebih dahulu mengenali kondisi lapangan sehingga benar-benar diketahui cara memasuki ataupun memberi pengaruh yang paling tepat kepada masyarakat. Pendekatan seperti inilah yang sering kali dianggap paling sulit, karena seorang organiser dibebani dengan datadata dan informasi yang menyeluruh tentang kondisi wilayah maupun komunitas tertentu. Padahal tidaklah harus demikian, karena dengan mengenali sebahagian kecil saja dari masyarakat, maka akan dapat diperoleh data dan informasi yang dibutuhkan untuk dijadikan panduan tindakan organiser yang selanjutnya. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan ”menempel” atau mendekati secara terus menerus seorang kontak nantinya bukan hanya bermanfaat untuk mendapatkan data dan informasi, namun juga dapat membangun saling kepercayaan. Saat seorang organiser sudah menemukan kontak yang berfikiran maju, dikenal secara baik di komunitas dan memiliki pandangan yang cukup luas, maka kegiatan menempel akan lebih efektif. Berdasarkan pengalaman yang dilakukan, ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan kegiatan menempel ini, yakni; 1. terbangun tingkat kepercayaan yang tinggi antara organiser dengan kontak yang ditempel, karena dari kegiatan tersebut terjalin

22

komunikasi yang terus-menerus dan menyangkut hal-hal yang sangat pribadi 2. organiser dapat mengenali wilayah-wilayah baru di sekitar komunitas yang sulit untuk dimasuki oleh organiser. Pengenalan kontak terhadap wilayah-wilayah baru ataupun kontak-kontak baru dari kontak yang ditempel tersebut dapat memperluas pengenalan organiser terhadap wilayah pengorganisiran 3. organiser dapat memperbesar dan memperdalam informasi yang diperoleh dari kunjungan-kunjungan organiser bersama dengan kontak. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk menempel kontak, diantaranya adalah dengan mengikuti aktivitas seorang kontak. Kegiatan menempel juga dapat dilakukan organiser pada pengurus serikat, baik itu pengurus pusat maupun yang ada di basis. Tentunya strategi ini memiliki kelemahan, karena biasanya pengurus akan menggunakan pendekatan yang formal di basis-basis buruh. Pendekatan formal dalam kerja pengorganisasian cenderung kurang efektif dikarenakan terlalu birokratis, sehingga membuat komunikasi menjadi lambat. Kegiatan menempel juga harus dilihat sebagai salah satu media penguatan kader. Dalam kerja-kerja pengorganisasian, kegiatan menempel merupakan salah satu tugas paling penting yang harus dilakukan oleh organiser. Hal ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain; organiser memiliki keterbatasan untuk melakukan kunjungan ke seluruh wilayah pengorganisasian dan menemui kader dan anggota kelompok. Lagipula, prinsip pengorganisasian tidak bekerja untuk kelompok besar. Kerja penguatan organiser difokuskan pada kelompok-kelompok kecil yang maju dan militan dalam berjuang untuk perubahan. Tidaklah mungkin organiser dapat melakukan pengorganisasian tanpa ada peran dari kader ataupun anggota-anggota komunitas yang berfikiran maju dan mau bekerja. Telah terbukti bahwasannya kerja-kerja pengorganisasian yang dilakukan oleh kader cukup efektif membangun basis. Yang menjadi persoalan hanyalah kapasitas dari kader. Di buruh perkebunan, persoalan kapasitas sangat penting mengingat selama ini buruh memang dikondisikan untuk tidak memahami aturan perburuhan dan hak-hak normatif. Selama puluhan tahun perkebunan dijadikan wilayah floating mass atau massa mengambang bagi kekuasaan. Kepentingan politik disatukan dalam satu jalur oleh sebuah partai milik pemerintah. Efek dari strategi tersebut

23

sangatlah besar terhadap buruh perkebunan. Buruh kebun menjadi anti politik dan pergerakan sosial. Tugas organiser pada saat menempel kader adalah membongkar ketakutan tersebut, menambah kepercayaan diri, mendorong kemampuan analisis, membangun militansi, keberanian dan menawarkan cita-cita perjuangan. Setiap perjumpaan, pembicaraan, jalan bersama bahkan pada saat kerja bersama dan tinggal bersama dengan buruh, peran penguatan harus terus dijalankan oleh organiser. Satu hal yang sering kali ditemui adalah tentang kepercayaan diri kader atau buruh. Rata-rata rasa percaya diri buruh perkebunan sudah habis terkikis oleh hegemoni sistem sosial perkebunan. Bentuk-bentuk ketidakpercayaan diri tersebut terlihat dalam bentuk, sulit mengemukakan pendapat, diam, pasif dalam diskusi, enggan berbeda pendapat, merasa tidak paham, merasa terus-menerus tidak layak, dan lainlain. Apalagi jika buruh atau kader tersebut bekerja di bagian yang paling rendah, seperti buruh boyan (kebersihan lahan dan pemupukan), annemeer (buruh kontrak), buruh deres atau eggrek/dodos, dan lainnya. Mereka sering merasa tidak layak untuk bicara dan bergabung dengan buruh lainnya. Kondisi seperti ini sering kali dimanfaatkan oleh buruh lain yang merasa sudah berpengalaman dan memiliki pengetahuan lebih. Pada saat diskusi, orang-orang seperti ini akan lebih menonjol dibandingkan buruh lainnya, sehingga kata-kata yang diungkapkan akan membuat buruh lainnya lebih tidak percaya diri. Tugas organiser adalah menguatkan orang-orang yang masih kurang percaya diri tersebut. Tentu saja proses penguatan tersebut tidak akan secara cepat dapat terlihat. Dengan sabar seorang organiser harus memberi pemahaman kepada buruh tentang banyak hal, mulai dari yang paling sederhana, seperti kebiasan-kebiasaan hidup, pandangannya terhadap sesuatu, sikap dan tindakan yang ia pilih, sampai yang paling besar, yakni tentang nilai hidup, kepercayaan dan pandangannya terhadap perjuangan buruh. Memberi pemahaman kader tidak dapat dilakukan hanya dengan diskusidiskusi informal saja. Pada saat-saat tertentu organiser juga harus bisa melakukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan pribadi kader. Jika hanya diskusi, maka pandangan dan kepercayaan kader tidak akan bisa penuh. Sekecil apapun persoalan yang dihadapi oleh kader, upayakan organiser punya peran dalam penyelesaiannya. Misalnya, persoalan keluarga, pacar, kesehatan, sampai hal-hal terkecil sekalipun. Ini jelas penting bagi organiser.

24

Proses menempel atau pendampingan tersebut tentu hanya dapat efektif jika sudah ada kepercayaan antara organiser dengan buruh. Namun kepercayaan antara buruh dan organiser tersebut juga dapat dibangun bersamaan pada proses menempel. Tetap saja, mengganggu kemapanan orang menjadi teknik yang dapat digunakan. Kemudian, setelah kemapanan tercerabut, barulah nilai kepercayaan, militansi, keberanian, dan segala nilai-nilai perjuangan dapat internalisasi oleh buruh. Harus juga diingat oleh organiser, kedekatan dengan buruh akan berdampak pada hal-hal lainnya. Semakin dekat hubungan organiser dengan kader, maka akan semakin besar tingkat imitasi atau mencontoh. Segala tindak-tanduk organiser akan mendapat penilaian dari buruh. Untuk itu, organiser harus hati-hati melakukan tindakan, dan jikapun suatu saat terjadi hal-hal yang berbeda dengan yang pernah diungkapkan organiser, secara cepat organiser menjelaskan alasan tindakan, pemikiran tersebut kepada buruh. Orang yang ditempel seorang organiser satu saat memang pelan-pelan harus dikurangi ketika organiser merasa seorang kader sudah mampu. Untuk itu, tingkat ketergantungan buruh haruslah ketergantungan pada pemikiranpemikiran, bukan pada personal organiser. Cara paling efektif melepaskan ketergantungan tersebut adalah dengan memberi latihan-latihan untuk melakukan kerja-kerja pengorganisasian tanpa melibatkan peran organiser. Misalnya dalam memimpin diskusi. Organiser harus membuat kondisi dimana buru bisa memfasilitasi diskusi. Dapat saja pengkondisian tersebut bersifat memaksa dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Misalnya, seorang organiser sudah berjanji dengan kader untuk memfasilitasi diskusi. Pada waktu yang sudah ditentukan, organiser dengan sengaja tidak datang dan menugaskan kader untuk memimpin atau memfasilitasi diskusi tersebut. Kondisi-kondisi yang memaksa tersebut sangat positif memecahkan ketakutan dan rasa percaya diri buruh atau kader. Sebagai langkah awal, menempel pengurus turun ke lapangan dapat digunakan untuk mengenali lapangan terlebih dahulu. Tentunya taktik ini punya efek negatif juga, salah satunya adalah terlalu formalnya pertemuan dengan basis. Formalitas sering sekali tidak dapat diandalkan untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya. Pengurus atau enggota serikat buruh di tingkat basis sering menutup-nutupi kondisi yang sebenarnya. Apa yang diungkapkan pengurus basis maupun anggota lebih banyak positif dibandingkan dengan realitas yang sebenarnya. Apalagi jika pengurus sebuah serikat sebelumnya sangat jarang turun ke lapangan. Banyak serikat buruh saat ini beranggapan salah satu tugas

25

penting pengurus adalah menjadi pelayan anggota dalam menyelesaikan kasus-kasus yang dihadapi oleh anggota. Pengurus serikat malah sangat jarang turun ke basis untuk melakukan pengorganisasian, dan jikapun turun, pengurus hanya mengutip iuran ataupun mensosialisasikan kebijakan baru dan memberikan undangan untuk pertemuan-pertemuan resmi. Kedatangan organiser bersama pengurus serikat tersebut tentunya dianggap oleh basis memiliki tujuan yang sama dengan pengurus serikat tersebut. Citra seorang pengurus serikat akan digambarkan sama dengan organiser oleh anggota di basis-basis serikat. Jika citra yang selama ini jelek, maka organiser pasti akan dianggap jelek juga untuk sementara bagi kalangan anggota di basis. Beruntung jika selama ini pengurus serikat dipandang positif oleh basis, sehingga organiser juga dinilai positif oleh basis. Salah satu hal yang sangat sulit diantisipasi organiser saat turun ke basisbasis serikat adalah adanya pandangan bahwasannya pengurus serikat adalah agen penyelesaian kasus. Ketika organiser turun bersama pengurus, maka akan banyak menerima laporan-laporan kasus yang dihadapi oleh anggota. Ungkapan-ungkapan ataupun laporan tentang kasus ini biasanya akan berlanjut dengan keinginan anggota agar pengurus dapat menyelesaikannya. Harapan tersebut tentunya wajar saja, mengingat pengurus serikat yang ada saat ini sangat jarang memberi pemahaman tentang fungsi-fungsi serikat yang sebenarnya, sehingga banyak muncul pandangan bahwasannya pengurus serikat adalah pelayan bagi perselisihan buruh dengan perusahaan. Organiser tentunya dapat mengambil sisi positif dari realitas yang ditangkapnya saat melakukan Menempel seorang pedagang kunjungan bersama pengurus serikat. jagung bakar dan jagung rebus Biasanya pengurus serikat adalah orang menjadi strategi efektif bagi yang sangat sibuk, sehingga tidak seorang organiser untuk mengenali memiliki waktu untuk menyelesaikan wilayah pengorganisasian. Kontak seluruh persoalan yang dihadapi oleh tersebut setelah bekerja berkeliling buruh di basis. Untuk itu, seorang di sekitar wilayah komunitas, organiser (jika merasa mampu) juga bahkan juga ke luar wilayah. dapat menggunakan kesempatan itu Organiser membantu kontak untuk membangun kepercayaan dan berjualan sehingga menghindari keyakinan buruh terhadap organiser. kecurigaan dan dianggap asing Namun tindakan ini harus secara oleh orang lain. matang diperhitungkan, karena jika nantinya harapan buruh tersebut tidak

26

tercapai maka akan berdampak munculnya ketidakpercayaan dan kebencian buruh terhadap organiser. Tahapan perencanaan bagi seorang organiser, membentuk kelompok dalam level aksi tidak harus menjadi target penting. Membentuk kelompok bolehboleh saja dicantumkan dalam perencanaan program atau kegiatan, namun di level aksi tidaklah wajib untuk dimasukkan. Itulah yang sering kali membuat kelompok tidak aktif atau kemudian mati setelah dibentuk. Hal itu dikarenakan masyarakat sebenarnya belum mengerti tentang kebutuhan sebuah kelompok. Bahkan bisa saja orang-orang di komunitas menghadiri diskusi kelompok tanpa tahu apa manfaat ataupun tujuan melakukan diskusi. Mereka hanya sekedar ikut dengan teman-temannya yang juga mengikuti diskusi. Artinya, organiser harus benar-benar membentuk kesadaran terlebih dahulu di dalam masyarakat sehingga kelompok yang terbentuk benar-benar memahami fungsi dan manfaat pentingnya membentuk kelompok. Jika seseorang sudah memahami tantangan yang dihadapi sehingga membutuhkan perubahan, maka ia sendiri akan mengusulkan pentingnya sebuah kelompok. Dalam pengorganisasian hal ini sering muncul. Ketika seseorang mengerti bahwasannya perjuangan perubahan tidak dapat dilakukan secara sendiri, maka sudah pasti ia akan berkeinginan membentuk ataupun ikut dalam sebuah kelompok yang dirasakan bisa melakukan perubahan. Teknik Mengidentifikasi Kader Mengorganisir buruh, baik itu industri maupun perkebunan berarti memasuki sebuah sistem sosial yang tertutup dan alergi dengan perubahan. Kondisi paling parah adalah di komunitas perkebunan. Walaupun sudah tidak terlalu parah dibandingkan perkebunan di masa kolonial, namun kondisi saat ini tidaklah lebih baik dari sebelumnya. Kondisi sosial yang tertutup dan dalam sebuah teritorial tersebut bahkan layaknya sebuah negara di dalam negara. Segala hal yang terjadi di dalam perkebunan dengan cepat tersebar. Sepertinya, dinding pun punya telinga sehingga sehingga apapun yang dibicarakan oleh buruh dapat diketahui oleh buruh maupun petinggipetinggi perkebunan.

27

Masuknya organiser dalam sebuah komunitas buruh ataupun masyarakat di sekitar industri tentu dengan cepat dapat tercium oleh pimpinan perusahaan, maupun elit-elit desa. Di perkebunan, organiser akan dengan cepat dikenali, apalagi jika organiser berpenampilan berbeda dengan penduduk atau buruh setempat. Walaupun organiser berusaha berpenampilan sederhana dan mirip dengan buruh, tetap saja dengan mudah dikenali, karena mobilitas warga cukup rendah. Adanya wajah baru akan mudah teridentifikasi sehingga langsung akan memunculkan penilaian dari penduduk lokal. Tingkat migrasi masuk dan keluar di perkebunan sangat rendah, sehingga orang dengan cepat dapat mengenali kehadiran orang lain. Walaupun tekanan dan ancaman terhadap organiser tidak langsung terjadi, namun punya dampak terhadap buruh yang menjadi kontak ataupun yang mengikuti diskusidiskusi bersama organiser. Bagaimanapun juga, organiser punya keterbatasan untuk dapat memasuki kawasan perkebunan. Di malam hari, jalur masuk ke perkebunanperkebunan di tutup dengan portal. Wajah-wajah baru yang memasuki perkebunan selalu akan dipandang asing. Tatapan-tatapan curiga selalu akan dirasakan oleh organiser. Untuk itu, jalan satu-satunya yang dapat dilakukan oleh organiser adalah dengan membangun kader-kader yang dapat melakukan peran pengorganisasian di komunias buruh. Namun yang menjadi persoalan, cukup sulit untuk menemukan sekaligus membangun kader. Dikatakan sulit, karena dibutuhkan kriteria-kriteria tertentu bagi seorang kader. Seorang kader bukan hanya orang yang berfikiran maju, memahami banyak hal, dan punya pengalaman kasus-kasus perburuhan. Seorang kader adalah yang memiliki pandangan kritis terhadap struktur sosial, ia adalah sosok yang mampu melihat bahwasannya penindasan bukanlah persoalan tidak ditegakkannya aturan-aturan atau tidak dipenuhinya hak-hak normatif buruh. Ia juga bukanlah orang yang sekedar dipandang populis oleh masyarakat dan sekedar menonjol di komunitas. Berdasarkan pengalaman, tugas utama dari seorang organiser adalah menemukan dan membangun kader-kader di komunitas. Para kader tersebutlah kemudian sebenarnya yang paling banyak berperan membangun basis perjuangan. Tanpa mereka, kader akan mengalami kesulitan dikarenakan kondisi sosial komunitas yang tertutup tersebut.

28

Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan oleh organiser dalam menemukan kader. Pertama, gunakan diskusi sebagai salah satu media identifikasi kader. Seorang calon kader bukanlah orang yang dipandang populis ataupun berusaha untuk menjadi populis. Artinya, jika terdapat orang yang cukup menonjol berbicara, memberi pandangan, ataupun memberi komentar pada setiap hal, maka ia bukanlah orang yang dicari oleh organiser. Biasanya, apa yang diuangkapkan orang seperti itu terus saja berulang-ulang tentang setiap topik pembicaraan. Walaupun gaya bahasanya lebut dan cukup meyakinkan, namun pengalaman menunjukkan, ia bukan orang yang dicari oleh organiser. Dengan kata lain, orang-orang populis cenderung asal bunyi waktu bicara, karena ia punya motif untuk menonjol dibandingkan orang lain. Apalagi dalam sebuah forum diskusi yang dihadiri oleh banyak orang. Keinginannya untuk menonjol akan semakin besar, sehingga bicaranya pun akan semakin tidak menentu dan cenderung asal bicara. Orang seperti itu juga sulit mendengarkan orang lain. Ia cenderung ingin didengarkan, kurang menghargai pendapat orang lain, selalu membetulkan pandangan orang lain dan terkesan suka berdebat. Dalam proses diskusi, calon kader biasanya bukan orang yang terlalu banyak bicara, dan selalu berapi-api dalam berkomunikasi. Ini penting bagi seorang organiser untuk mengidentifikasi seorang calon kader. Organiser sering kali terkesima melihat buruh yang pintar dan aktif bicara. Buruh tersebut sering menggunakan istilah-istilah yang ilmiah pada saat berdiskusi. Terkesan buruh seperti itu sudah punya banyak pengalaman, karena menceritakan hal-hal baru yang membuat kawan-kawannya sesama buruh tidak mengerti. Organiser yang bertemu dengan kontak seperti ini sering kali terjebak dengan kepintaran berbicara buruh. Kata-kata yang diungkapkannya pun malah sering tidak dapat dimengerti oleh organiser. Buruh seperti itu sangat menonjol dan aktif dalam berbicara dan mengemukakan pendapat. Ia selalu memiliki jawaban dan komentar atas semua pembicaraan. Namun ia jarang sekali mengungkapkan sesuatu yang ia lakukan sendiri. Yang diceritakannya selalu tentang pengalaman dan apa yang dilakukan oleh orang lain, bukan tentang pengalaman dan tindakannya sendiri. Jika orang seperti itu dijadikan kader, maka ada kemungkinan kerja-kerja pengorganisasian akan tidak berjalan. Kader seperti itu hanya pandai di

29

komunikasi, karena manis berbicara dan bisa terkesan banyak tau tentang segala hal. Namun seorang kader bukanlah yang sekedar pintar bicara dan enak didengar. Ia juga harus mau melakukan kerja-kerja, rajin mengunjungi buruh, mampu mempengaruhi orang lain dan selalu ingin belajar. Orang yang pandai bicara biasanya selalu ingin menang sendiri dan sudah tau segala hal, sedangkan calon kader yang tepat adalah orang yang selalu tidak puas dengan apa yang diketahuinya. Ia malah banyak mendengar dari orang lain dan selalu ingin memperbaiki kesalahan yang ia lakukan. Seorang calon kader juga adalah orang yang bisa menahan diri dan tidak asal bicara. Setiap apa yang akan dikatakannya selalu terkait dengan apa yang pernah dilakukannya, dan bukan dilakukan oleh orang lain. Pengalaman yang ia ceritakan selalu pengalaman tentang kelompok dan organisasinya, dan bukan pengalaman maupun apa yang dimiliki oleh organisasi atau kelompok lain. Ketika bercerita tentang orang ataupun organisasi lain, ia sering sekali bangga, padahal ia sendiri tidak pernah melakukan hal yang serupa. Calon kader bukanlah orang yang mudah kecewa atau sentimentil. Walaupun calon kader tersebut punya pengalaman segudang tentang perjuangan atau pergerakan, hal itu tidaklah menentukan ia dapat bertahan. Banyak buruh yang punya pengalaman panjang bergabung dalam organisasi. Malah beberapa buruh pernah menjadi perintis terbentuknya serikat buruh. Namun pengalaman tersebut tidak menjamin apakah ia bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Ada beberapa hal yang kerap menjadi dasar seorang buruh cepat kecewa, antara lain, penghianatan oleh kawan-kawannya, kekecewaan tidak mendapatkan keuntungan, kecewa karena organisasi tidak konsisten ataupun di kecewakan oleh pengurus atau pimpinan organisasi. Berkomunikasi atau berdiskusi dengan orang seperti itu sangatlah sulit. Ia akan selalu menceritakan kekecewaan dan rasa frustasinya terhadap organisasi sehingga ia tidak mau lagi terjun dalam dunia perjuangan. Calon kader seperti ini sangat sulit untuk dibangkitkan kembali. Ia selalu akan punya jawaban untuk menolak ajakan ataupun dorongan agar bangkit kembali. Seorang calon kader juga adalah bukan yang terlalu mudah untuk menyatakan dirinya rela berkorban dan rela mati untuk perjuangan. Banyak ditemukan calon kader yang pada awalnya sudah berani mengambil resiko. Ia tidak takut di PHK dan mau mengorbankan apapun untuk organisasi dan

30

perjuangan. Namun di perjalanan, ia segera berubah menjadi orang yang penakut. Namun ketakutannya tersebut ditutup-tutupi dengan berbagai alasan, misalnya disebabkan kendala keluarga, kesehatan, sulitnya kondisi, tidak adanya teman, tidak becus nya pemimpin dan sebagainya. Padahal, semua itu hanya alasan agar ia tidak lagi ikut dalam organisasi perjuangan. Seorang organiser juga kerap melupakan atau tidak memperdulikan buruh yang sebelumnya kurang akfit. Organiser terlalu terfokus pada orang-orang yang sering hadir dalam diskusi. Padahal, diantara yang tidak atau jarang hadir terdapat buruh yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi seorang kader. Mereka enggan hadir atau mengikuti diskusi disebabkan tidak suka dengan buruh lain yang dirasakannya hanya pintar cakap saja. Ia lebih suka melakukan kerja-kerja secara langsung dibandingkan ngobrol dan berdiskusi. Orang seperti ini harus dengan cepat dirangkul oleh organiser sehingga dapat didorong menjadi orang-orang berfikir maju di dalam organisasi.

31



Ubah Kualitas, Bukan Kuantitas Kerja pengorganisasian selalu diidentikkan dengan pembentukan kelompok. Tujuan seperti itu wajar saja, mengingat kelompok adalah media perjuangan yang paling penting. Namun membangun kelompok hanyalah sebuah media perjuangan dan tidak dijadikan sebagai sebuah target pengorganisasian. Jika kelompok menjadi target utama dan didorong-dorong oleh organiser maka ada kemungkinan kelompok tersebut tidak akan kuat karena tidak menyentuh kebutuhan kelompok. Menjadikan kelompok sebagai target utama ukuran kerja pengorganisasian tidaklah begitu tepat. Hal itulah yang sering sekali menyebabkan kelompok menjadi tidak kuat, karena kelompok belum menjadi kebutuhan komunitas tertentu. Jikapun kelompok telah terbentuk, tidak ada jaminan kelompok tersebut akan bertahan, namun cenderung akan cepat hancur karena terkesan dipaksakan oleh organiser. Wajar saja agar pengorganisasian menjadi terarah, seorang organiser mentargetkan pembentukan kelompok dalam sebuah komunitas. Namun yang harus jelas adalah kualitas kelompok tersebut. Tidak ada artinya membentuk kelompok jika kelompok yang dibentuk sebenarnya sangat rapuh. Ukuran yang paling tepat untuk menilai kerja pengorganisasian adalah aksi yang dilakukan orang-orang di dalam sebuah komunitas. Dengan demikian, tidaklah menjadi masalah jika seorang organiser hanya bisa membentuk sedikit kelompok dalam jangka waktu lama. Ukuran kedua menilai pengorganisasian adalah proses. Proses tersebutlah yang berisi dinamika berlangsungnya pengorganisasian. Tugas seorang organiser dalam proses ini adalah melihat terus menerus perkembangan kualitas kelompok dan bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan. Berdasarkan dua pertimbangan tersebut maka pembentukan kelompok hanya dalam rangka dua hal, yakni sebagai panduan target di perencanaan dan mengukur kuantitas kerja-kerja pengorganisasian. Itulah sebabnya, sebuah lembaga memang menetapkan salah satu tujuan utamanya dalam membangun kelompok, dan target-target kelompok tersebut dijadikan panduan umum dan bukan dasar pengorganisasian secara teknis di lapangan.

32

Seorang organiser harus benar-benar bisa mengukur kualitas kelompok yang telah terbentuk. Pengalaman KPS, kelompok tidak pernah menjadi ukuran. Yang dibentuk pada saat itu adalah kumpulan orang-orang yang sadar tanpa menamakan diri sebagai sebuah kelompok yang kaku. Pada saat itu organiser KPS terus-menerus melakukan pengukuran tentang perjalanan proses dan aksi-aksi organiser ang dilakukan oleh kumpulan orang-orang tersebut. Bisa saja seorang organiser turun ke basis, seperti ke salah satu afdeling di sebuah perkebunan. Dalam jangka waktu cepat dapat terbentuk satu kelompok. Namun proses yang cepat tersebut sudah pasti akan melewati banyak proses pengorganisasian yang seharusnya dijalankan oleh seorang organiser. Secara terus-menerus organiser melakukan pendekatanpendekatan walaupun dalam jangka waktu yang sangat panjang sampai munculnya kesadaran dari komunitas tersebut berdasarkan kebutuhannya membentuk sebuah kelompok. Dikarenakan tidak dijadikannya kelompok sebagai ukuran tunggal atas kerja-kerja pengorganisasian, dan menempatkan proses dan kualitas aksi sebagai tujuan utama, maka seorang organiser harus mampu membuat ukuran kemajuan atas kerja-kerjannya. Ada satu teknik yang bisa disusun dan dijalankan oleh organiser. Salah satunya adalah dengan mencatat namanama kontak di komunitas yang ditemuinya dalam melakukan pengorganisasian. Dalam teknik ini, seorang organiser terus menerus melakukan pencatatan atas proses perkembangan dari waktu ke waktu tentang perkembangan kontak-kontak tersebut. Pencatatan dilakukan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh kontak, perubahan kegiatannya, apa yang dibicarakan kontak dengan orang lain, maupun peningkatan pemikiran, kesadaran dan keinginan untuk melakukan perubahan. Agar seorang organiser bisa membentuk kesadaran untuk melakukan perubahan dan menjadikan proses pengorganisasian sebagai tujuan utama, maka frekuensi kunjungan lapangannya harus tinggi. Karena dalam proses tersebut seorang organiser harus membangun hubungan emosional dan kepercayaan dan harus yakin dengan tujuan-tujuan maupun strategi yang dijalankannya. Keyakinan dan kemampuan inilah yang kemudian akan terus menerus ditransfer oleh organiser dalam membentuk kader. Kerja-kerja membentuk kader ini dilakukan secara konsisten, karena jika tidak nantinya akan membawa kekecewaan kepada calon kader. Agar tidak abstrak dalam melihat perubahan tersebut, maka seorang organiser tetap berpedoman pada ideologi atau nilai perubahan yang dimilikinya. Menggunakan nilai atau ideologi yang diyakini oleh seorang

33

organiser tersebut harus dijadikan dasar. Sebagai contoh, suatu saat seorang organiser bertemu dengan seorang kontak. Pertemuan tersebut harus dicatat oleh seorang organiser. Kemudian pada saat pertemuan selanjutnya, harus diketahui oleh seorang organiser, dengan siapa kontak tersebut bertemu dan apa yang dibicarakannya. Penilaian juga dapat dilihat dari penyebaran fikiran seorang kontak ke orang lain yang ada di lingkungannya. Kemudian dapat dilihat juga proses meluasnya interaksi atau komunikasi kontak dengan orang lain yang ada di lingkungannya. Apakah seorang kontak semakin dikenal atau tidak di komunitasnya, ataupun kemampuan kontak tersebut menyebarkan pemikiran-pemikiran kritis bagi perubahan ke orang lain. Kemudian dilihat juga pengenalan orang lain terhadap kontak tersebut. Apakah pengenalan orang lain terhadap kontak tersebut memiliki hubungan terhadap tujuan pengorganisasian atau malah dikenal dalam bentuk lain. Dari perbincangan dan aktivitas yang dilakukan kontak tersebut dapat tergambar perkembangan dari hari-hari ataupun dari pertemuan ke pertemuan. Untuk itu seorang organiser harus rajin membuat catatan. Apa yang dicatatkan oleh seorang organiser tersebutlah yang kemudian menjadi dasar penilaian perkembangan seorang kontak. Selain tidak sekedar dapat diukur dari target-target pembentukan kelompok, kerja seorang organiser juga tidak hanya terkait dengan penerimaan komunitas ataupun kemudahannya mendapatkan akses informasi di dalam masyarakat. Hal itulah yang sering sekali menjebak seorang pada romantisme belaka, namun ternyata sama sekali tidak membawa perubahan pada komunitas yang dimasukinya. Bisa saja seorang organiser telah dipercayai dalam sebuah komunitas, bahkan sudah menjadi bagian dari masyarakat itu. Namun jika dinilai dari sisi perubahan, seorang organiser telah gagal jika penerimaan komuntas tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan ataupun peningkatan kesadaran dan bentuk-bentuk aksi menuju perubahan. Pembauran seorang organiser di komunitas tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada kemajuan pemikiran dan aksi di komunitas tersebut. Salah satu indikasi perubahan yang terjadi pada seorang kontak tidaklah harus menggunakan ukuran yang besar-besar. Perubahan tersebut dapat dilihat secara sederhana. Misalnya tentang apa yang dibicarakan seorang buruh kebon kepada mandornya. Perlawanan-perlawanan kecil tersebut menjadi catatan penting yang harus dijadikan pertimbangan oleh seorang organiser untuk melihat perkembangan pengorganisasian. Demikian juga dengan aksi-aksi yang besar. Walaupun sering sekali aksi tersebut tidak berhubungan langsung dengan permasalahan utama buruh, namun tetap

34

kemajuan bisa terlihat, antara lain merebut ketua SPSI, merebut pimpinan lokal, tuntutan ketersediaan air dan sebagainya. Namun aksi-aksi yang sudah dilakukan oleh kelompok dapat dijadikan indikator kemajuan sebuah kelompok yang diorganisir. Begitu pentingnya apa yang dikerjakan oleh seorang organiser untuk melihat kemajuan kontak, sehingga tingkat kemajuan tersebutlahyang kemudian menjadi ukuran perkembangan maupun perubahan. Selama ini organiser sering sekali melupakan pencatatan dan pengukuran kemajuan kontak ataupun perubahan yang terjadi di lapangan. Mekanisme Pengembangan Kelompok

I

I D

C A E F

B

G C

H I

Gambar di atas menunjukkan bagaimana kerja pengorganisasian dalam membangun kontak yang nantinya akan bermuara pada pembentukan kelompok. Seorang organiser pertama kali harus melakukan kunjungan kepada beberapa orang yang dianggap berpotensi melakukan perubahan. Jumlah orang yang dikunjungi secara terus-menerus dengan frekuensi yang tinggi tidaklah harus banyak. Kepada tiga orang (A, B dan C) seorang organiser harus melakukan pengorganisasian dengan tingkat kunjungan dan pertemuan yang tinggi. Untuk ketiga orang inilah organiser menetapkan ukuran tentang perubahan kualitas pemikiran dalam setiap pertemuan. Perubahan pertama yang sebaiknya dinilai organiser adalah perkembangan pemikiran dan kekritisan tiga orang tersebut. Mulai dari aktivitas,

35

pembicaraan yang dilakukan dengan orang lain di komunitasnya, sikapsikapnya di keluarga, ataupun aksi-aksi individualnya, baik itu saat bekerja maupun di luar pekerjaan. Ketika kontak person A sudah menunjukkan perubahan pemikiran, kritis dan melakukan aksi-aksi yang merubah keadaan, maka hal itu juga akan terlihat dari hubungannya dengan orang lain, yakni D dan E. Penyebaran pemikiran, kekritisan dan aksi yang merubah keadaan tersebut kemudian juga nantinya akan dimiliki oleh D dan E, sehingga aksi yang ditunjukkan akan semakin meluas dalam komunitas tersebut. Untuk mengukur hasil kerja seorang organiser, tidak hanya dapat dilihat dari kontak person yang sering ia kunjungi. Seorang kader yang telah mengalami perubahan akibat proses pengorganisasian tidak boleh menjadi orang yang eksklusif. Artinya, kekritisan dan terbukanya pemikiran seorang kader akan dianggap sebagai kegagalan jika kader tersebut tidak mampu menyebarkan ”virus” perubahan yang telah diperolehnya. Ia harus menyebarkannya ke orang lain. Itulah inti dari pengorganisasian, yakni bagaimana dari seseorang yang berada dalam komunitas tersebut mampu memperluas ataupun memperlebar pemahaman dan aksi yang dimilikinya ke orang lain, sehingga aksi perubahan akan semakin membesar. Seorang organiser juga harus bisa membedakan antara kualitas yang ditunjukkan seorang kader dalam konteks individual maupun kolektif. Di beberapa serikat buruh, baik itu industri perkotaan maupun perkebunan, selalu ditemui beberapa buruh yang militan dan memiliki keberanian lebih dibandingkan dengan buruh lainnya. Sering sekali ia dijadikan rujukan ataupun pelaksana penyelesaian kasus-kasus yang dihadapi oleh buruh. Mereka adalah orang-orang yang pernah melawan perusahaan ataupun punya pengalaman penyelesaikan masalah ataupun pernah bersentuhan dengan orang-orang luar, seperti parti, LSM, tentara dan polisi ataupun wartawan. Pengalaman dan pengetahuan tersebutlah yang selalu menjadi acuan buruh lainnya, sehingga orang tersebut sering diminta nasehat dan pertolongan menyelesaikan persoalan. Dalam kerja pengorganisasian, baik itu dalam diskusi kelompok, diskusi lepas maupun aksi, orang-orang ini selalu menonjol dalam pembicaraan. Namun jika dilihat dari aksi-aksi yang mereka lakukan, selalu menggunakan pendekatan-pendekatan elit, seperti negosiasi dengan pimpinan perusahaan, mendatangi kantor polisi dan tentara, memanggil wartawan ataupun orang-orang partai. Akibat

36

hubungannya dengan lembaga-lembaga ataupun orang-orang dari luar perusahaan, ia disegani sebagai tokoh dan orang penting. Kualitas seorang buruh atau kader seperti inilah yang sebenarnya harus ditanggapi secara hati-hati oleh organiser. Jika keberanian, militansi dan kekritisan yang dimilikinya diwujudkan dengan aksi yang bersifat elit maka tidak akan ada gunanya dalam membangun gerakan buruh. Orang seperti inilah malah yang kemudian akan berubah menjadi lawan ketika kepentingan komponen luar sudah terlalu mempengaruhinya. Kader yang terlalu cepat naik dan menonjol tersebut nantinya akan berubah. Pertama ia akan menjadi orang yang arogan dan merasa mengerti segala hal. Ia akan sulit untuk dikritik dan menganggap pengetahuan dan pengalamannya lah yang paling benar. Kemudian, ia ketika buruh lain Namun persoalannya, sebahagian buruh malah bangga dengan keberadaan orang-orang seperti itu, karena dianggap memiliki keberanian dan pengetahuan yang lebih dibandingkan buruh lainnya. Dapat saja seorang organiser terjebak atau salah menilai orang-orang yang dianggap menonjol di komunitas buruh tersebut. Apalagi saat di lapangan, hanya orang seperti itu yang paling mudah untuk menerima pandangan dan tujuan organiser di komunitas. Menggunakan orang seperti itu untuk melakukan investigasi dan integrasi adalah boleh-boleh saja. Namun pada saat tertentu orang seperti ini harus lekas-lekas untuk tidak dilibatkan dalam perjuangan, sebab akan melakukan cara-cara yang ia pahami, dan bukan melakukan aksi-aksi yang bersifat kolektif. Seorang buruh yang telah mendapatkan pendidikan dan dampingan dari organiser dapat saja berubah menjadi orang yang menonjol di komunitas buruh. Dari yang sebelumnya lebih banyak mendengar kemudian banyak cakap. Dari yang sebelumnya hanya bersentuhan dengan orang-orang di komunitas kemudian menjadi luas ke orang-orang lain di komunitas. Dari yang sebelumnya menjadi bahan lecehan berubah menjadi orang yang disegani karena punya pengetahuan lebih. Untuk buruh seperti itu, organiser harus dengan cepat menilai dan melakukan sesuatu. Caranya, organiser harus men-cek atau menguji keberanian dan radikalnya buruh tersebut. Organiser harus memeriksa tahapan pengkaderan yang telah dilakukan, dan melihat pada tahapan atau sisi mana yang salah. Hal itu pernah juga terjadi di industri. Pendidikan pengakaderan dengan materi ideologi, filsafat dan teori gerakan malah membuat seorang buruh atau kader sekedar menjadikan pemahaman tersebut sebagai pengetahuan.

37

Pengetahuan dan pemahaman tersebut tidak diikuti dengan kesadaran yang sebenarnya paling penting untuk dimiliki seorang buruh. Materi-materi ideologi ternyata menjadikan kader besar kepala dan menjadikan pengetahuannya sebagai retorika tanpa aksi. Inilah yang harus diantisipasi oleh sekedar organiser, dan jika ditemui orang seperti ini, maka organiser harus cepat memperbaikinya. Sama juga hal nya dengan buruh yang sebelumnya memang sudah memiliki keberanian melawan perusahaan. Sejarah membuktikan, orangorang yang pernah melakukan perlawanan secara pribadi cukup besar di perkebunan. Ada yang pernah menggorok leher asisten, mandor dan centeng. Ada yang berani cuti tanpa permisi, ada yang duduk-duduk saja saat jam kerja, ada yang mencampur susu karet dengan air, bahkan ada yang berani memukul aparat keamanan. Buruh yang melihat keberanian seperti itu pasti akan segan terhadap orang tersebut. Namun bagi organiser, keberanian seperti itu harus dinilai dari sisi manfaatnya terhadap perjuangan kolektif. Jika seseorang berani karena sekedar perutnya terancam, atau rejekinya diganggu oleh orang lain, maka kemungkinan ia melawan sangat besar. Gerakan yang dibangun organiser terhadap buruh adalah gerakan kolektif, untuk kepentingan kolektif dengan cara-cara perjuangan massa untuk membongkar dan merubah penindasan yang dibangun oleh struktur kekuasaan. Untuk itu, perlawanan, keberanian, militansi individual tidak akan bermanfaat besar bagi perjuangan karena tidak didasari oleh kepentingan kolektif. Satu sisi, keberanian seperti itu dinilai berhasil, mengingat sebahagian besar buruh memang takut Strategi tersebut akan berbeda jika pengorganisasian dilakukan pada basis buruh yang telah memiliki serikat buruh. Ada beberapa persoalan yang muncul jika pengorganisasian berhubungan dengan organisasi buruh. Apalagi jika sebuah serikat tersebut telah ditemui banyak persoalan. Salah satunya jalan yang bisa ditempuh tentunya adalah dengan melakukan pemecahan organisasi sehingga diperoleh kader, pemimpin maupun organisasi yang lebih murni. Namun strategi seperti ini tentunya akan menimbulkan konfrontasi yang semakin tajam antara organiser dengan pemimpin serikat. Seorang organiser saat berbicara dengan orang lain juga harus menggunakan teknik yang kritis. Sering sekali buruh bertanya kepada

38

organiser tentang beberapa hal yang ingin dan tidak ingin dilakukannya. Buruh juga sering bertanya tentang suatu hal yang tidak diketahuinya. Namun organiser dapat mengkritisi pertanyaan tersebut dan mencari tahu akar pertanyaan tersebut. Misalnya ketika seorang buruh bertanya tentang rencana mengikuti aksi dalam rangka ”May Day”. Seorang organiser dapat mengkritisi pertanyaan tersebut dengan cara menggali pemahaman buruh tersebut tentang May Day. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pengetahuan buruh terhadap apa yang ingin diketahuinya. Yang dapat diambil pelajaran dari hal ini adalah, buruh harus mengerti secara mendalam apa yang sedang dan akan dilakukannya. Hal itu akan membangun pemahaman kepada buruh bahwasannya untuk melakukan sesuatu ia harus mengerti makna yang sebenarnya. Dapat saja seorang organiser menilai sudah ada kemajuan dalam melakukan pengorganisasian ketika seorang buruh ataupun kader mulai mempertanyakan sesuatu. Namun jika dinilai lebih dalam, buruh tersebut sebenarnya kurang mengerti makna dan arti mendalam dari sesuatu. Untuk itu, seorang organiser dapat menggali hal-hal yang dilakukan oleh buruh sehingga buruh tersebut sadar dan paham apa yang dilakukan ataupun tidak dilakukannya. Salah satu tujuan integrasi adalah bagaimana seorang organiser dapat diterima dengan baik di dalam sebuah komunitas. Tujuan integrasi seorang organiser tidak harus muluk-muluk, misalnya sambil melakukan investigasi, dan segala macamnya. Jika seorang organiser bisa diterima saja dengan baik dalam komunitas, maka ia sudah terintegrasi. Pelan-pelan seorang organiser secara pribadi bisa diterima terlebih dahulu sebelum melakukan kerja-kerja pengorganisasian lainnya. Hal inilah yang menjadi titik lemah dari riset-riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang terlalu menekankan pengumpulan data tanpa terlebih dahulu diterima oleh komunitas tertentu. Namun untuk bisa diterima dalam komunitas tertentu, seorang organiser tidaklah harus meng ”iya” kan apapun yang diinginkan, diminta ataupun yang menjadi kebutuhan dampingan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membicarakan persoalan-persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari buruh. Namun perbincangan tidak boleh terpaku dengan topik awal pembicaraan, namun kemudian harus dikaitkan dengan topik-topik lain yang lebih mendasar lagi. Dalam memilih seorang kontak juga seorang organiser harus punya beberapa pertimbangan. Dalam masyarakat, kita temui banyak tipe individu,

39

mulai dari yang sangat pasif, paling dibenci, yang dikenal ataupun yang sama sekali tidak dikenal. Ada yang selalu curiga dengan orang lain, dan ada juga yang terbuka. Pemilihan kontak oleh seorang organiser tentu harus menggunakan kriteria. Kriteria tersebut antara lain menyangkut pengenalan seorang kontak terhadap orang lain yang ada di lingkungannya, ataupun bagaimana kontak tersebut dikenal di lingkungannya. Memberi penyadaran kepada dampingan tentunya memiliki dampak terjadinya perubahan. Perubahan tersebut pertama kali dapat dilihat dari ketergangguan yang dialami oleh seseorang. Ketergangguan tersebut tersebut dapat berbentuk; tersinggung, sakit hati, menolak, gelisah, benci, diam, dan sebagainya. Seorang organiser harus menilai reaksi tersebut sebagai sebuah keberhasilan. Bahkan jika yang muncul adalah sekedar harmony, sebenarnya niat merubah watak mengalami kegagalan. Persoalannya, apakah kemudian seorang organiser melanjutkan reaksi tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberi penjelasan lebih lanjut tentang apa yang menjadi kegelisahan, penolakan, atau sakit hatinya orang-orang di komunitas. Sebagai contoh, pendidikan atau diskusi tentang Gender merupakan tema yang cukup sensitif di kalangan buruh. Budaya yang terbentuk di masyarakat, pekerjaan-pekerjaan domestik adalah dominasi perempuan, sedangkan laki-laki mendominasi aktivitas di ruang publik. Memberi pemahaman tentang apa yang menjadi kodrat perempuan dan yang dikonstruksikan secara sosial telah memporakporandakan sistem sosial, khususnya relasi antara perempuan dan laki-laki. Banyak kasus memperlihatkan, masyarakat, baik itu laki-laki ataupun perempuan sendiri merasa terganggu dengan pemahaman baru tersebut. Khususnya laki-laki adalah yang paling tidak siap dengan penjungkirbalikan nilai dasar relasi perempuan dan laki-laki, sehingga penolakan menjadi konsekuensinya. Cara membangun kegelisahan tersebut tentunya tidak harus dengan katakata semata. Seorang organiser dapat secara langsung melakukan tindakantindakan yang dianggap berbeda dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat. Dalam hal membangun kesadaran gender, salah satunya seorang organiser laki-laki dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini menjadi dominasi perempuan, seperti mengangkat air, memasak, membuat teh, kopi atau hidangan lainnya. Tindakan seperti ini tentunya pertama kali akan diprotes oleh masyarakat ataupun seorang kontak. Ketika masyarakat atau seorang kontak melihat tindakan yang berbeda dilakukan oleh seorang organiser, maka ia bisa saja akan tersinggung atau mengkritik. Namun setidaknya masyarakat atau seorang kontak akan mulai berfikir

40

mengenai tindakan yang berbeda tersebut. Apa yang dilakukan oleh organiser tersebut secara sederhana merupakan tindakan memberi contoh tentang sesuatu yang dianggap tabu, tidak lazim ataupun bukan menjadi kebiasaan masyarakat. Setelah masyarakat, kelompok ataupun kontak merasa terganggu dengan tindakan organiser, maka jangan sampai ketergangguan tersebut terlewatkan. Jadikan apa yang dianggap kontak sebagai persoalan tersebut dibicarakan. Kondisi tersebut menjadi momentum penting yang dapat digunakan organiser untuk membongkar nilai-nilai ataupun struktur sosial budaya yang menindas masyarakat. Kegelisahan dan penolakan tersebut hanya dapat berkembang menjadi lebih konstruktif jika organiser mampu memberi penjelasan lebih lanjut di komunitas yang terganggu tersebut. organiser tidak boleh membiarkan kegelisahan dan penolakan tersebut, apalagi kemudian lari dari polemik yang sudah dimunculkannya. Ataupun, seorang organiser tidak bisa langsung mengalihkan tema yang sudah menjadi isu tersebut ke tema lain yang tidak mengganggu kemapanan masyarakat. Malah seorang organiser harus tetap mengembangkan isu tersebut, membuat masyarakat semakin terganggu dan berniat merubah nilai ataupun sistem yang menindas mereka. Namun organiser hanya bisa berkomunikasi dan memberi pemahaman secara lebih tegas dan lugas jika telah ada kepercayaan dan penerimaan dari masyarakat terhadap keberadaan seorang organiser. Membangun kepercayaan dan keyakinan dari masyarakat tersebutlah yang cenderung harus diatasi terlebih dahulu. Saling percaya antara organiser dengan orangorang dalam satu komunitas tersebut merupakan kunci masuk awal pengorganisasian. Cara membangun kepercayaan tersebut bermacammacam, salah satunya adalah membangun komunikasi yang intens melalui pertemuan-pertemuan komunitas. Ketika kegiatan menempel, membangun kepercayaan dan secara perlahan mengganggu pemikiran komunitas sudah berjalan, maka kerja-kerja organiser selanjutnya cenderung lebih mudah untuk dilakukan. Bahkan, jika hal-hal ini tuntas dilakukan oleh seorang organiser, maka percepatan pengorganisasian dapat terlaksana. Satu sisi, pendekatan yang dimulai dengan pengenalan komunitas, membangun kepercayaan, mengganggu nilai dan sistem sosial budaya terkesan lebih lambat. Dari kondisi ini seorang organiser tidak harus takut bahwasannya pengorganisasian akan berjalan tidak sesuai dengan targettarget waktu. Namun di sisi lain, ketika seorang organiser sudah dengan tepat

41

memilih kontak, maka percepatan kerja pengorganisasian akan terjadi. Jika seorang organiser memilih orang yang punya akses komunikasi ataupun interaksi yang intens dengan orang-orang lain yang ada di lama komunitas, maka dapat dibayangkan terjadinya penyebaran pemikiran yang sebelumnya disampaikan organiser kepada seorang kontak ataupun kader. Dalam konteks buruh perkebunan, maka seorang organiser harus memilih orang dikenal secara baik di dalam komunitas buruh perkebunan. Nantinya ia akan ngobrol dengan mandor, buruh yang bekerja di bidang lain, ataupun sampai ke tingkat pimpinan perusahaan yang lebih tinggi. Teknik ini sebenarnya cukup efektif jika dijalankan oleh seorang organiser, karena bukan hanya akan mengurangi beban kerja, namun juga mempercepat waktu, karena kader atau kontak, maupun buruh lainnya akan terus-menerus menyebarkan pemikiran-pemikiran yang mendukung perubahan.

Diskusi dan Aksi Salah satu tugas paling penting yang harus dilakukan oleh seorang organiser adalah melakukan diskusi dengan orang-orang di komunitas. Diskusi biasanya dilaksanakan kepada buruh yang dinilai memiliki kemampuan dan kelebihan dibandingkan dengan buruh lainnya. Dengan diskusi akan banyak hal yang dapat diperoleh. Pertama, melalui diskusi akan semakin terbangun kesalingpercayaan antara buruh dengan organiser. Kedua, diskusi menjadi media menggali berbagai informasi, baik itu tentang kondisi perusahaan, pelanggaran yang terjadi di perusahaan, karakteristik masyarakat sampai pada sifa-sifat individu peserta diskusi. Ketiga, diskusi menjadi media transfer pemahaman dan pengetahuan yang efektif sehingga meningkatkan kapasitas seorang buruh ataupun kader. Ke empat, melalui diskusi akan dibicarakan beberapa rencana aksi dan strategi maupun taktik menghadapi masalah. Namun sering sekali diskusi menjadi momok bagi buruh, karena diskusi dianggap sebagai ancaman bagi perusahaan. Jika sudah dianggap sebagai sebuah ancaman, maka akan cepat pula pengusaha menyusun strategi menghadang dampak yang akan ditimbulkan dari proses diskusi tersebut. Dengan kata lain, diskusi menjadikan proses pengorganisasian menjadi lebih terbuka. Pengalaman di perkebunan sudah menunjukkan gejala seperti itu. Ketika diskusi masih dilakukan secara pribadi-pribadi tidak ada ancaman yang dirasakan oleh buruh. Ketika diskusi sudah melibatkan banyak orang, maka mudah tercium oleh pengusaha. Akibatnya, pengusaha kemudian

42

menugaskan kepala desa, centeng, mandor, ataupun orang-orang pemuka di lingkungan tersebut untuk mendatangi buruh yang ikut diskusi. Lingkungan perkebunan biasanya sangat tertutup karena berbentuk enclave dari lingkungan luar. Melakukan pengorganisasian secara terbuka dengan mudah dapat tercium oleh pengusaha. Ketika buruh belum melakukan diskusi-diskusi, maka perusahaan biasanya akan menganggap buruh tidak memiliki kekuatan apapun, namun saat diketahui oleh perusahaan, maka tekanan, intimidasi dan pengaruh pun akan muncul. Untuk itulah seorang organiser harus benar-benar memahami ancaman (yang tentunya diketahui melalu analisis sosial dan investigasi) dan diikuti dengan penyusunan strategi dan taktik melakukan diskusi. Mengembangkan serikat buruh secara terbuka tentu bermanfaat dalam rangka formalitas keberadaan serikat, karena menyangkut syarat-syarat formal untuk didaftarkan ke dinas tenaga kerja. Namun realitas saat ini tidaklah memungkinkan untuk terus-menerus menggunakan strategi formal tersebut, karena di beberapa industri perkotaan maupun perkebunan, strategi formal malah dijadikan alat oleh perusahaan untuk menekan, dalam bentuk PHK, mutasi, tidak naik golongan, dan sebagainya. Untuk itulah serikat buruh perlu mengubah pandangan tentang sisi legalitas. Selama ini buruh memahami legalitas dari sisi status formal serikat agar dapat berhadapan secara formal dengan perusahaan dan pemerintah, baik dalam melakukan perundingan menyelesaikan perselisihan, membuat PKB dan sebagainya. Legalitas yang harus dipahami serikat adalah dari sisi kekuatan massa. Dengan demikian, tanpa status formal pun sebenarnya serikat bisa punya kekuatan legal untuk melawan dan menyampaikan kebutuhannya. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah menggunakan strategi bawah tanah dengan menghindari cara-cara formal yang terbuka. Ada beberapa taktik yang bisa digunakan untuk menyembunyikan ataupun menutupi aktivitas pengorganisasian dan pendidikan buruh, antara lain dengan menggunakan media-media lokal, seperti perwiritan, tarik-tarikan, serikat tolong menolong (STM), dan sebagainya. Cara-cara seperti itu cukup efektif mengelabui perusahaan sehingga tekanan dan ancaman menjadi minim. Bagi komunitas buruh, baik itu industri dan perkebunan, pendidikanpendidikan kelas sebenarnya cenderung kurang efektif dibandingkan media diskusi-diskusi kelompok kecil. Melalui diskusi-diskusi kelompok kecillah

43

sebenarnya kualitas kader dan buruh dapat digenjot sehingga dapat membangun kader dan buruh yang berfikir maju dan progresif. Bukan hanya itu, melalui diskusi kelompok kecil, peningkatan kualitas lebih tampak dibandingkan pendidikan yang melibatkan banyak orang. Pada saat melakukan diskusi-diskusi kelompok kecil di komunitas, organiser juga harus benar-benar mempersiapkan diri dengan hal-hal yang akan didiskusikan. Memang ada baiknya seorang organiser menyusun materi diskusi dengan bentuk tahapan-tahapan, mulai dari yang paling dasar sampai menyentuh hal-hal pokok perjuangan. Namun cara seperti ini punya kelemahan ketika tidak berhubungan dengan kepentingan komunitas. Pengalaman menunjukkan, diskusi kelompok pernah kehabisan tema untuk menjadi bahan diskusi kelompok. Padahal, sebenarnya tidaklah masuk akal jika organiser kehabisan bahan untuk diskusi, mengingat ada begitu banyak persoalan-persoalan yang ada di komunitas buruh, mulai dari persoalan ekonomi, keluarga, lingkungan, pendidikan, maupun persoalan yang diakibatkan relasi antara buruh dengan pengusaha. Prinsip pertama yang harus dipegang seorang organiser adalah, bahan diskusi melimpah di komunitas buruh, sehingga tidaklah mungkin diskusi kelompok kehabisan tema. Dengan demikian seorang organiser harus secara terus menerus menggali persoalan-persoalan yang ada di komunitas buruh untuk dibicarakan di dalam kelompok kecil. Prinsip kedua, organiser tidak boleh memilih-milih tema diskusi, karena seluruh persoalan yang terungkap sesungguhnya merupakan realitas yang harus dipecahkan oleh komunitas. Bagi organiser yang merasa berideologi hal ini sering terjadi. Ada tema yang dianggap pokok, ada juga yang dianggap tidak pokok dan tidak bersinggungan dengan perjuangan. Namun organiser benar-benar bisa berdiri di sisi buruh, maka seluruh persoalan adalah nyata dan harus dibicarakan. Namun mendiskusikan persoalan-persoalan yang terungkap tersebut tidaklah dalam rangka semata-mata memecahkan persoalan semata, namun juga dalam rangka melatih kekritisan dengan cara mengkaitkannya dengan persoalan-persoalan pokok buruh. Bicara masalah jalan rusak, kamar mandi umum yang jelek, listrik yang terbatas, biaya sekolah anak yang terlalu tinggi, terikatnya buruh dengan rentenir ataupun persoalan-persoalan mistis, dan sebagainya harus dikaitkan dengan pokok persoalan ataupun konteks inti dari persoalan tersebut. Ketika membicarakan tentang rentenir, maka organiser harus bisa membawa alur pembicaraan ke arah penghisapan. Seorang organiser harus mampu mengarahkan pembicaraan, bahwasannya persoalan terikatnya buruh

44

dengan rentenir bukan sekedar hubungan pinjam-meminjam antara buruh dengan rentenir, bukan hanya tentang adanya pihak yang menghisap dan yang lain dimanfaatkan, ataupun sekedar konflik hutang antara keduabelah pihak. Pada kasus seperti itu, seorang organiser harus bisa membawa kelompok kecil untuk mengkaitkannya dengan kecilnya gaji di perusahaan. Seorang buruh ataupun keluarga buruh yang berhutang pada rentenir tentunya punya alasan kuat, antara lain kecilnya gaji dan besarnya kebutuhan buruh dan keluarga buruh. Jelas menurut pandangan organiser ada kaitan antara keberadaan rentenir dengan kecilnya upah ataupun penghisapan perusahaan terhadap buruh. Pada saat diskusi inilah organiser memberi pemahaman, tentunya dengan bahasa dan logika sederhana tentang kaitan antara kebutuhan buruh – gaji kecil – penghisapan perusahaan – hutang – dan rentenir. Jika ini bisa dilakukan oleh organiser maka akan muncul pemahaman dan juga kesadaran dari kelompok tentang bagaimana persoalan hutang dengan rentenir bisa terjadi. Diskusi kelompok kecil juga bisa menjadi monoton jika tidak dilanjutkan dengan aksi. Bagi buruh, apa yang dilakukan biasanya harus diwujudkan dengan aksi. Pemikiran seperti ini tentu nyata sehingga harus dipertimbangkan oleh organiser. Pada beberapa diskusi kelompok kecil yang didampingi organiser sering sekali muncul pernyataan ketidakpuasan kelompok. Dari diskusi ke diskusi tidak ada wujud nyata yang bisa dilihat ataupun dilakukan oleh kelompok. Tentunya dari proses diskusi sudah terjadi peningkatan pemahaman dan pengetahuan kelompok. Peningkatan inilah yang harus segera diwujudkan dalam bentuk aksi, karena jika tidak akan membawa dampak kejenuhan kader atau buruh. Aksi yang menjadi tindak lanjut dari diskusi kelompok tidaklah dalam bentuk yang besar, seperti pengerahan massa, negosiasi ataupun perundingan dengan pengusaha. Ada banyak aksi yang dapat dilakukan jika sebelumnya diskusi kelompok membicaraka persoalan-persoalan keseharian buruh. Persoalan-persoalan tersebutlah yang kemudian harus dicarikan pemecahannya. Namun organiser juga harus hati-hati dalam memilih persoalan yang harus diselesaikan. Organiser bersama kelompok harus menyepakati sebuah persoalan yang memiliki tingkat kesulitan atau kendala paling kecil untuk diatasi. Jika persoalan yang akan diselesaikan terlalu besar, maka kemungkinan gagal akan semakin besar. Ketika terjadi kegagalan, maka kemungkinan besar akan berdampak pada kelompok.

45

Diskusi juga menuntut kejelian dari seorang organiser. Sering sekali permasalahan yang dihadapi oleh organiser, baik itu masalah internal kelompok atau keorganisasian serikat buruh dianalisis secara sangat subyektif dan normatif. Sebagai contoh, sebuah serikat di tingkat basis merasa hidup lagi akibat pengurus yang sudah tidak aktif. Beberapa kali pertemuan dan diskusi kelompok di tingkat basis tidak lagi diikuti. Menurut anggota, tidak aktifnya pengurus diakibatkan rasa sakit hati terhadap pengurus atau anggota serikat yang terlalu maju dan menonjol. Beberapa kasus yang dihadapi buruh tidak disampaikan ke pengurus, namun kepada seorang anggota yang memiliki kemampuan dan kedekatan dengan asisten kepala (askep) dan manajer. Pengurus merasa ditinggalkan sehingga tidak mau lagi mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi. Akhirnya pasif nya pengurus tersebut berdampak kepada anggota lainnya, rata-rata menjadi kurang aktif mengikuti diskusi-diskusi kelompok. Jika ini yang menjadi landasan berfikir untuk mengaktifkan kembali organisasi maka nantinya akan membuat persoalan berulang kembali. Beberapa anggota kemudian berinisiatif mengaktifkan organisasi dengan cara membuat pergantian pengurus. Padahal, pemahaman dan kesadaran rata-rata anggota belum sesuai dengan prinsip serikat yang sejati. Sebahagian besar anggota masih menggunakan pola patronase dalam kegiatan organisasi. Mereka sangat berharap pengurus atau ketua selalu hadir dalam setiap kegiatan, tanpa mereka sadari sebenarnya pengurus juga adalah anggota serikat jika tidak dalam posisi forum-forum resmi organisasi. Dalam diskusi-diskusi kelompok, persoalan-persoalan seperti inilah yang harus dibicarakan. Namun pembicaraan tidak dapat mentah-mentah menerima pertimbangan anggota yang berinisiatif untuk melakukan pergantian pengurus. Disinilah tugas organiser, yakni menggunakan kejeliannya melihat persoalan dan menggunakan prinsip-prinsip organisasi rakyat yang tidak terlalu bergantung pada sosok ketua atau pengurus serikat. Jika keinginan anggota dituruti, maka persoalan yang sama akan berulang kembali. Organiser harus memberikan pemahaman kepada anggota yang berinisiatif tersebut tentang pentingnya kesadaran dan pengetahuan dari pengurus tentang eksistensi pengurus dan fungsi anggota. Menggantungkan kegiatan organisasi pada ketua atau pengurus telah menyalahi prinsip organisasi serikat buruh yang berbasis massa. Harus ada langkah-langkah memutuskan ketergantungan yang sangat besar terhadap ketua atau pengurus, ataupun memangkas pemahaman patronase dari anggota.

46

Diskusi seperti ini jelas sangat berguna bagi sebuah kelompok organisasi. Namun hal itu tidak akan ada gunanya jika tidak dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan, dalam kasus ini harus ada kegiatan penyadaran anggota, yang dilakukan oleh pengurus yang masih aktif ataupun anggota-anggota yang memiliki pemikiran maju untuk mengaktifkan kembali organisasi. Aksi yang dipilih adalah yang paling kecil kemungkinannya mengalami kegagalan. Namun aksi juga dapat berbentuk latihan-latihan kepada kelompok. Hal inilah yang sering kali dilupakan oleh organiser. Sekecil apapun aksi, sebenarnya dapat menjadi media latihan untuk meningkatkan kekritisan, membangun kemarahan, keberanian dan percaya diri dari kelompok. Namun aksi-aksi latihan tersebut tidak selalu berhubungan dengan relasi buruh dengan pengusaha. Di komunitas buruh terdapat berbagai komponen masyarakat, seperti mandor, centeng, asisten, satpam atau hansip, kepala desa, polisi, tentara, dan sebagainya. Aktor-aktor tersebut sering sekali menjadi musuh buruh karena kerap digunakan menjadi perpanjangan tangan pengusaha menekan buruh. Untuk membangun rasa percaya diri, seorang organiser dapat menugaskan buruh untuk menyebarkan pemahaman yang ia sudah peroleh kepada buruh lain. Untuk membangun keberanian dan kemampuan berdebat, organiser menugaskan kader buruh mendatangi kantor polisi ataupun melanggar aturan lalu lintas. Untuk melatih keyakinan, organiser dapat memberi penugasan kepada buruh untuk mengunjungi dan investigasi ke rumah mandor atau asisten. Bentuk-bentuk penugasan seperti itu sepertinya sangat kecil dan sepele. Namun secara psikologis jelas ini punya pengaruh kepada seorang buruh. Ketika seorang buruh dengan sengaja melanggar lalu lintas, maka ia dipaksa untuk mendebat polisi, sehingga keberaniannya pada polisi akan semakin besar, demikian juga ketika buruh melakukan investigasi ke rumah asisten atau mandor. Investigasi ke rumah asisten atau mandor tersebut dapat menjadi media pelatihan mengurangi rasa takutnya kepada asisten atau mandor.

Menghadapi Ancaman Kerja-kerja pengorganisasian juga sering sekali diperhadapkan dengan situasi-situasi sulit dan komponen-komponen masyarakat yang selama ini dikenal menentang perubahan dalam masyarakat. Salah satu komponen yang dianggap paling menakutkan sekaligus menjadi musuh adalah preman atau organisasi kepemudaan. Di kawasan industri komponen masyarakat ini

47

punya kekuasaan yang sangat kuat karena digunakan oleh modal dan pemerintah sebagai instrumen kekuasaan selain polisi dan militer. Kerja pengorganisasian selama ini cenderung menghindar dari preman dan organisasi kepemudaan tersebut. Strategi menghindar sebenarnya tidaklah tepat bagi seorang organiser. Organiser seharusnya juga melakukan pendekatan kepada orang-orang yang selama ini ditakuti oleh buruh dan masyarakat secara umum. Justru kekuasaan dan kekuatan preman malah dapat digunakan untuk mendukung perubahan, sehingga organiser juga harus melakukan pendekatan kepada mereka. Yang menjadi kendala bagi seorang organiser adalah bagaimana melakukan pendekatan terhadap orang-orang yang dianggap momok atau ditakuti di masyarakat tersebut. Pengalaman menunjukkan, jika ingin melakukan pendekatan kepada preman, yang pertama dilakukan adalah melakukan kunjungan ke sarang musuh, ke titik-titik dimana mereka berkumpul, seperti kedai kopi, kedai makan, persimpangan, ataupun pos-pos yang dijadikan pusat aktivitas. Kedua, seorang organiser mencoba mendengar apa yang dibicarakan tanpa menunjukkan reaksi apapun. Ketika, seorang organisasi harus benar-benar pasif ataupun menunjukkan kesan bodoh, tidak mengerti dan tidak layak diperhitungkan, dengan demikian seorang organiser menunjukkan kesan bahwa ia bukanlah orang yang pantas dijadikan musuh, saingan, ataupun yang punya kepentingan di komunitas tersebut. Setelah tahapan-tahapan di atas dilakukan oleh seorang organiser, maka kemudian mulailah berkomunikasi secara lebih intensif. Pada awalnya bicarakan hal-hal yang terkait dengan kekuatan/kekuasaan yang mereka mulai. Pembicaraan ini bertujuan untuk mengukur kekuatan yang mereka miliki. Ketika bicara tentang kekuatan mereka, seorang organiser harus memperlihatkan ekspresi yakin bahkan takut dengan apa yang diceritakan. Dari seluruh cerita yang disampaikan oleh preman tersebut, maka seorang organiser harus dengan cermat dan jeli mendengarkan kata demi kata yang diucapkan. Pada suatu saat pasti mereka akan mengungkapkan sesuatu tema yang dapat digunakan oleh organiser untuk memulai pembicaraan yang lebih aktif lagi. Tema tersebut bukan hanya menarik namun juga dapat dijadikan jalan masuk organiser untuk mulai menundukkan mereka. Tema yang dipilih oleh tentunya bukan sembarang tema. Organiser harus melihat tema-tema yang dapat dikaitkan dengan persoalan-persoalan struktural dan menjadi titik kelemahan mereka. Organiser kemudian mulai bercerita tentang hal yang sama, atau kejadian di tempat lain. Cerita tersebut

48

sifatnya dapat membandingkan antara kekuatan yang dimiliki preman tersebut dengan kekuatan preman di tempat lain. Cerita itu bertujuan bagaimana kekuatan atau kekuasan yang sama juga terjadi di tempat lain. Namun kalau bisa cerita tersebut lebih dramatis dan lebih hebat sehingga preman tersebut mulai ”ciut” dengan kekuatannya. Setelah komunikasi seperti itu berlangsung, maka sebenrnya sudah tercipta ruang yang lebih lebar bagi seorang organiser untuk memasuki wilayah psikologis dan kelompok preman tersebut. Pada pertemuanpertemuan selanjutnya seorang organiser mulai menunjukkan apa yang dimiliki oleh organiser. Tentunya apa yang akan ditunjukkan tersebut harus ada kaitannya dengan apa yang paling diandalkan oleh preman. Namun yang harus dijadikan pegangan oleh seorang organiser adalah, jangan sekalikali melakukan tekanan terhadap mereka secara langsung. Jika mereka sudah pada posisi melemah, seorang organiser tidak boleh memperlemah atau menyudutkan posisi mereka, karena nantinya akan memunculkan resistensi atau perlawanan yang lebih besar lagi. Dengan kata lain, seorang organiser harus tetap menghormati mereka. Demikian juga dalam melakukan perlawanan dengan pihak polisi atau militer. Dalam kerja pengorganisasian organiser selalu akan berhadapan dengan pihak kamanan atau militer. Namun sama dengan sikap terhadap preman, polisi dan militer juga harus dihadapi. Yang harus dilakukan adalah melakukan latihan kepada buruh, terutama kepada kader-kader. Latihan tersebut salah satunya adalah dalam bentuk melakukan kunjungan ke markas-markas polisi atau militer. Pada saat berkunjung tersebut seorang buruh atau kader ditugaskan bertanya tentang fungsi dan peran polisi atau tentara dalam kasus-kasus perburuhan. Apa yang ditanyakan oleh seorang kader buruh tersebut harus benar-benar didapatkan. Latihan kedua adalah dengan melakukan tindakan-tindakan yang melawan atau melanggar hukum. Namun tindakan tersebut haruslah yang memiliki resiko kecil, seperti melanggar aturan lalu lintas dan sebagainya. Diupayakan seorang kader ketika melanggar peraturan tersebut harus membuat keributan atau yang bisa memancing reaksi atau perhatian banyak orang. Salah satunya adalah dengan sengaja tidak memakai helm pada saat rajia polisi. Ketika di hentikan oleh polisi, kader harus mendebat apa yang dipersalahkan oleh polisi. Perdebatan tersebut harus mendapat perhatian banyak orang. Apapun dampak dari tindakan melawan hukum tersebut, yang paling penting adalah bagaimana kader bisa melakukan perdebatan yang bisa memancing perhatian banyak orang.

49

Latihan-latihan tersebut adalah salah satu bentuk strategi agar buruh atau kader yakin untuk bisa melakukan perlawanan kepada polisi atau aparat keamanan. Latihan seperti ini adalah salah satu cara organiser untuk mencari solusi atas ketakutan buruh kepada polisi atau militer. Demikian juga dengan ketakutan terhadap pemerintah, atau kekuatan-kekuatan sosial politik yang selama ini mengambil bagian dalam penindasan buruh. Namun yang harus dikuatkan sebelum latihan ini adalah bagaimana kader atau buruh memiliki kemampuan berargumentasi secara cerdas. Namun harus diwaspadai jangan sampai tindakan-tindakan latihan melawan hukum tersebut tidak terjadi secara terus menerus dan malah merugikan buruh. Tindakan latihan melawan hukum tersebut dibuat tetap dalam rangka membangun keberanian buruh membongkar dan melawan penindasan dan tekanan yang selama ini terjadi pada buruh. Perlawanan-perlawanan yang tidak berhubungan secara langsung dengan konteks perubahan harus diminimalkan sehingga fokus tindakan buruh adalah bagaimana membangun pertentangan terhadap komponen-komponen penindas.

Kesabaran dalam Pengorganisasian Seorang organiser juga harus memiliki kesabaran dalam mengorganisir. Ketiadaan kesabaran dan ingin melihat perkembangan perubahan cepat sering sekali menjadi persoalan bagi seorang organiser. Padahal, besar kemungkinan kerja-kerja mengorganisir mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut dapat saja disebabkan oleh kesalahan memilih kontak, pengaruh yang lebih besar dari faktor lingkungan, ataupun adanya tekanan yang membuat komunitas dampingan sulit mengalami perubahan. Seorang organiser harus memahami bahwa kerja-kerja pengorganisasian bukanlah tugas-tugas instan yang secara langsung dapat dilihat. Dapat saja kerja-kerja organiser dalam beberapa waktu yang singkat berhasil membentuk beberapa kelompok dalam komunitas tersebut. Namun jika kelompok yang telah dibentuk masih rentan terhadap perpecahan dan tidak bukan merupakan kumpulan orang-orang yang sadar, maka sebenarnya kerja-kerja pengorganisasian telah gagal. Kerja-kerja pengorganisasian akan cepat hancur seiring dengan waktu, apalagi kemudian tidak ada proses penguatan secara terus-menerus terhadap kelompok-kelompok tersebut. Kesabaran seorang organiser juga harus dibarengi dengan merekam proses secara terus menerus tentang perkembangan ataupun perubahan kualitas dari kontak ataupun komunitas setempat. Pada awalnya, sering sekali seorang organiser melakukan pencatatan terhadap kerja-kerja yang dilakukannya. Pada setiap pertemuan, perjalanan, investigasi, diskusi dan

50

sebagainya, seorang organiser masih aktif melakukan pencatatan. Namun beberapa waktu kemudian sering organiser tidak melakukannya lagi. Salah satu penyebabnya adalah, organiser merasa sudah tidak merasa penting lagi terhadap informasi dan data yang ia dapat. Di lapangan, sering sekali informasi yang diperoleh berulang-ulang, sehingga organiser merasa jenuh dengan informasi yang dicatatnya.

GRAFIK KEMAJUAN/PERUBAHAN

Pertemuan IV

Pertemuan III

Pertemuan II

Pertemuan I

Perubahan sikap, pandangan, tindakan, pemikiran, dll, tentang A, B dan C. Penguatan kembali tentang A, B, C dan D, dan penambahan materi E

Perubahan sikap, pandangan, tindakan, pemikiran, dll, tentang A, B dan C. Penguatan kembali tentang A, B, C dan penambahan D

Perubahan sikap, pandangan, tindakan, pemikiran, dll, tentang A, B dan C. Penguatan kembali tentang A, dan B dengan penambahan materi C

Materi Perbincangan: A dan B

51

Grafik di atas menunjukkan bagaimana dalam setiap pertemuan ataupun kunjungan di komunitas dan kontak harus selalu ada kemajuan atau perubahan. Pertama kali seorang organiser berkomunikasi tentang beberapa topik. Pada pertemuan selanjutnya seorang organiser harus melihat perubahan sebagai akibat perbincangan pada pertemuan I. Demikian juga dengan pertemuan atau perbincangan selanjutnya. Setiap pertemuan seorang organiser mencatat kemajuan-kemajuan dan perubahan-perubahan sikap, apa yang keluar dari pikiran kontak, komunitas ataupun tindakan-tindakan yang sudah dilakukannya. Selain itu organiser dapat mengamati perubahan tersebut jika tidak bisa diukur sekedar melalui perbincangan. Proses seperti ini tentunya tidak akan dapat dinilai jika tidak ada pencatatan yang baik. Untuk itu, pencatatan yang ditail atau rinci harus tetap dilakukan. Tanpa itu, seorang organiser tidak akan bisa melihat perubahan sikap, pemikiran, tindakan dari kontak atau sebuah komunitas. Setiap perubahan atau perkembangan yang telah dicatat oleh organiser tersebutlah kemudian yang akan menjadi bahan untuk meningkatkan perbincangan lainnya. Tentunya perbincangan organiser dengan kontak yang dimulai dari materi yang paling ringan kemudian mulai beranjak ke materi yang lebih berat dan fokus ke persoalan pokok yang dihadapi kontak atau komunitas. Materi yang paling ringan dapat saja diambil dari hal-hal yang dialami oleh buruh sehari-hari, permasalahan keluarga ataupun yang bersumber dari lingkungan. Hal yang pertama kali dibicarakan adalah permasalahanpermasalahan kecil yang dihadapi masyarakat, misalnya masalah kerusakan jalan, KTP, banjir, sekolah anak, dan sebagainya. Perbincangan tentang kehidupan sehari-hari menjadi pintu masuk ke permasalahan yang terkait dengan hal-hal pokok yang dihadapi oleh masyarakat. Kerja-kerja pengorganisasian prinsipnya adalah menyelesaikan persoalanpersoalan masyarakat dengan kekuatan masyarakat itu sendiri. Seorang organiser adalah membuka hal-hal yang selama ini tidak dianggap permasalahan. Peran yang dijalankan oleh organiser tersebut tidak sama dengan tugas-tugas provokasi semata, karena ada tanggungjawab yang besar dari seorang organiser untuk menguatkan masyarakat secara terus menerus membuka dan menuntaskan halhal yang menindas.

Dari Kebiasaan Sampai yang Paling Pokok Sebagai strategi awal, seorang organiser dapat saja menggunakan issu-issu keseharian buruh sebagai jalan masuk dan dalam rangka membangun kepercayaan dengan komunitas. Namun fokus kerja organiser adalah tetap membuka persoalan pokok yang dihadapi oleh masyarakat, yang sudah

52

terpendam dan telah menjadi keyakinan bagi masyarakat, baik itu dalam bentuk doktrin, kepercayaan, agama maupun dogma-dogma kepercayaan. Doktrin, nilai, hegemoni, keyakinan, kepercayaan, budaya, dogma, doktrin, dll

Peraturan dan perundangan, hukum, dll

Kebiasaan, cara, perilaku, kesalahan, ketiadaan, teknik, dll

Seorang organiser dapat saja terjebak dengan kasus-kasus normatif yang dihadapi oleh buruh, antara lain tentang upah, jaminan sosial, kesehatan dan keselamatan kerja ataupun hak-hak berserikat. Salah satu dasar analisis yang digunakan oleh seorang organiser adalah peraturan dan perundangan yang mengatur hak-hak normatif dan hak pekerja lainnya. Pada pendekatan ini, seorang organiser berusaha membandingkan peraturan dan perundangan ketenagakerjaan berdasarkan realitas yang terjadi di lapangan. Menggunakan isu-isu hak normatif buruh memang satu tahapan yang lebih maju bagi seorang organiser setelah ia mampu memberi penyadaran tentang kehidupan sehari-hari komunitas buruh. Walaupun bukan merupakan tahapan dengan batasan yang tegas, namun dalam proses diskusi, perbincangan, maupun memberi contoh dalam sebuah komunitas, isu-isu yang paling terkait dengan kehidupan seharihari merupakan pintu masuk ke perbincangan tentang hak-hak ketenagakerjaan seperti yang telah tercantum dalam peraturan dan perundangan ketenagakerjaan. Kemudian, pengembangan isu dan pembangunan kesadaran akan hak-hak buruh juga sebenarnya merupakan pintu masuk perubahan nilainilai, dogma, doktrin dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah membatu atau ”kasep” di komunitas buruh. Satu hal yang harus dipahami oleh seorang organiser adalah, bahwasannya tidaklah tepat jika seorang organiser hanya terpaku pada persoalan-persoalan normatif yang dihadapi dan menjadi masalah oleh buruh. Kebiasaan seperti ini sering dilakukan oleh organiser dikarenakan komunitas buruh selalu menginginkan persoalan-persoalan normatif untuk diselesaikan secara cepat.

53

Ataupun juga, seorang organiser dapat saja menggunakan isu-isu normatif agar mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Pendekatan seorang organiser yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan buruh yang pada umumnya terkait dengan persoalan normatif tersebut tentu dapat dipahami sepanjang sebagai jalan masuk ke persoalan-persoalan yang lebih pokok. Namun sebelumnya, untuk menciptakan kepercayaan dan keyakinan dari masyarakat, seorang organiser tidak secara langsung mendiskusikan persoalan-persoalan normatif. Diskusi dan perbincangan isu-isu normatif di satu sisi ternyata sering sekali dapat menjebak organiser seakan-akan menjadi agen penyelesaian kasus normatif. Apalagi jika dalam komunitas buruh sendiri persoalan-persoalan normatif selalu menempati urutan pertama persoalan yang dihadapi. Kedua, persoalan-persoalan normatif tidak mendewasakan komunitas buruh disebabkan adanya kondisi di lapangan, bahwa masalah normatif adalah kebutuhan-kebutuhan jangka pendek yang cepat memuaskan namun tidak bersifat jangka panjang. Tujuan dari sebuah proses pengorganisasian pada prinsipnya adalah melakukan perubahan kondisi masyarakat yang sebelumnya ditindas dan diperlakukan tidak adil. Bentuk penindasan dan penghisapan tersebut ada berbagai jenis, mulai dari yang paling vulgar atau terbuka sampai yang sangat tertutup ataupun halus. Dua level penindasan seperti yang terlihat pada gambar di atas adalah yang paling terbuka dan dapat dirasakan dengan cepat. Misalnya, untuk melihat penyelewengan upah yang diberlakukan di sebuah perusahaan, maka yang dilakukan hanyalah membandingkannya dengan peraturan tentang pengupahan yang ditetapkan oleh pemerintah. Demikian juga dengan sistem tindakan yang paling dasar, seperti kebiasaan dan cara. Untuk mengukur level terendah dari tindakan ini hanyalah jenis, bentuk, teknik alternatif dari kebiasaan dan cara hidup keseharian. Kebiasaan beraktivitas sepulang kerja, kebiasaan untuk ngangin atau jalan-jalan, cara menyimpan uang dari hasil gaji dan sebagainya merupakan bentuk-bentuk tindakan yang paling mudah untuk dimasuki oleh seorang organiser. Namun ketika sudah meningkat pada persoalan nilai, sikap, dogma agama atau kepercayaan, budaya dan sebagainya, maka akan semakin sulit, dan inilah yang menjadi target utama yang harus dirubah oleh seorang organiser. Jelas sekali bahwa seorang organiser tidak akan memfokuskan diri pada persoalan-persoalan normatif, seperti upah, jaminan sosial dan sebagainya. Walaupun hal-hal normatif menjadi tuntutan utama dari buruh, namun persoalan tersebut tidak harus dijawab ataupun menjadi tanggungjawab utama seorang organiser. Walaupun, pemahaman dan pengetahuan seorang organiser tentang hal-hal normatif juga harus dimiliki. Menjadikan target utama pengorganisasian pada pemberdayaan dan penyadaran nilai-nilai tidak dapat

54

dijadikan alasan atau pembenaran seorang organiser untuk tidak memahami persoalan-persoalan normatif buruh. Sering juga tuntutan dan harapan buruh kepada organiser tentang persoalanpersoalan normatif tersebut dijadikan dasar penilaian terhadap organiser. Seorang organiser yang dianggap kurang memahami dan tidak mampu menjawab tuntutan dan kebutuhan normatif sering kali dianggap tidak memiliki kapasitas sehingga kurang bisa diterima oleh buruh. Hal inilah yang kemudian secara perlahan-lahan harus dirubah oleh seorang organiser. Bagaimana seorang organiser memberi pemahaman kepada buruh, bahwasannya persoalanpersoalan normatif bukanlah hal utama yang harus dirubah. Agar tidak mendapat penolakan dari masyarakat atau buruh, maka komunikasi di sekitar persoalan normatif tidak bisa dihindari sama sekali. Dalam setiap perbincangan ataupun diskusi, persoalan-persoalan normatif pasti akan muncul. Untuk mengantisipasi hal tersebut, seorang organiser harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan tentang hak-hak normatif. Untuk itu organiser harus memahami peraturan-peraturan ketenagakerjaan ataupun informasi-informasi yang terkait dengan persoalan normatif yang terjadi di tempat lain. Namun perbincangan tentang hak-hak normatif tersebut sekedar dijadikan tema atau topik masuk. Kemudian diskusi atau perbicangan tersebut harus secara perlahan-lahan diarahkan ke target perubahan yang pokok, yakni merubah sikap dan nilai yang menindas buruh. Untuk bisa mengarahkan perbincangan dan diskusi ke arah permasalahan pokok, maka daya analisis, improvisasi dan kecepatan berfikir seorang organiser jelas menjadi kemampuan yang tidak bisa tidak dimiliki oleh seorang organiser. Bagaimana seorang organiser ketika bicara upah tidak sekedar mengkaitkannya dengan pasal demi pasal ketentuan peraturan yang mengatur masalah pengupahan ataupun surat-surat keputusan tentang upah minimimum. Secara cepat seorang organiser harus bisa berfikir dan menganalisis pertanyaan dan keingintahuan buruh tentang upah tersebut menuju perbincangan yang lebih substantif yakni tentang penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh pengusaha terhadap buruh. Perlahan-lahan, ketika diskusi atau perbincangan sudah mulai mengarah pada persoalan-persoalan pokok perburuhan, maka kemudian seorang organiser harus bisa menggali lebih dalam tentang pemahaman buruh tentang tema-tema penindasan, penghisapan dan perubahan yang harus dilakukan terhadap kondisi tersebut. Tentunya pembicaraan ke arah itu tidak dapat dilakukan dengan cepat. Organiser juga harus melihat reaksi yang muncul pada saat memasuki wilayah yang sensitif tersebut. Untuk melihat reaksi tersebut tidaklah juga dapat dipahami secara kasat mata. Sering sekali organiser harus mundur

55

sebentar agar dapat mengevaluasi reaksi dari buruh untuk kemudian pada waktunya akan membuka lagi diskusi atau komunikasi yang menyentuh persoalan-persoalan pokok di masyarakat. Kemampuan menganalisis, kecepatan berfikir dan berimprovisasi tersebut jelas menjadi syarat penting seorang organiser. Bagaimana ia bisa mengkaitkan antara anak buruh yang tidak sekolah, kualitas makanan yang dikonsumsi buruh, beban kerja dan waktu kerja dan sebagainya dengan upah. Bagaimana organiser menghubungkan antara upah yang kecil, status buruh kotrak, borongan dan harian dengan penindasan dan perbudakan, ataupun bagaimana organiser menganalisis kaitan antara perilaku sex buruh perkebunan dengan penindasan budaya dan feodalisme dan sebagainya. Kapasitas seperti itu hanya dapat dimiliki seorang organiser jika ia secara langsung mengalami proses pengorganisasian di kalangan buruh. Benturanbenturan yang dihadapi organiser ketika berhadapan dengan buruh akan semakin mematangkan organiser untuk berfikir cepat dan menganalisis situasi berdasarkan informasi-informasi yang didapat dari buruh. Terkadang persiapan yang matang, menyusun apa yang ingin diperbincangkan ataupun menyediakan bahan-bahan diskusi tidak akan berguna saat bertemu dengan kontak ataupun diskusi dengan kelompok buruh. Data-data yang menguatkan memang penting, seperti perundang-undangan dan peraturan, surat keputusan tentang ketenagakerjaan dan sebagainya. Namun di lapangan hal itu tidak banyak berguna karena organiser akan mengalami kesulitan menjelaskan istilah-istilah, konsep maupun kata-kata yang tidak mereka mengerti. Jika seorang organiser langsung menunjukkan kertaskertas ataupun buku-buku yang menyangkut perburuhan, maka fokus peserta diskusi ataupun kontak akan terpusat ke benda-benda tersebut dan kurang tertarik lagi dengan apa yang akan didiskusikan. Adalah lebih efektif jika seorang organiser memang sudah memahami apa yang ingin disampaikan dan dibicarakan sebelum ke lapangan, tanpa membawa benda-benda tersebut pada saat berkunjung ke kontak atau komunitas buruh. Untuk memancing perbincangan, seorang organiser bisa menggunakan atau memakai simbol-simbol yang dirasakan menarik dan bisa dihubungkan ke arah permasalahan pokok.

Dekonstruksi Simbol-Simbol Salah satu sisi paling penting di masyarakat adalah simbol, seperti bahasa, ungkapan-ungkapan, gaya, maupun tindakan yang disimbolkan. Tidak ada satupun masyarakat yang tidak menggunakan simbol saat berkomunikasi maupun berinteraksi satu sama lain. Begitu pentingnya simbol sehingga harus 56

juga digunakan oleh organiser, baik itu untuk tujuan membongkar kemapanan, membangun komunikasi ataupun membangun sebuah konflik. Berdasarkan teori strukturalis simbol dianggap sebagai satu bagian dari struktur yang lebih besar. Merubah sebuah simbol ataupun memutarbalik maknanya akan merubah sistem atau struktur secara keseluruhan. Khususnya terhadap komunitas dimana penindasan sudah terlalu dalam, pemutarbalikan simbol cukup efektif untuk membongkar kemapanan pikiran dan perilaku masyarakat. Pengalaman menunjukkan, simbol banyak digunakan oleh kekuasaan untuk membuat penindasan menjadi semakin langgeng di dalam masyarakat. Kata-kata kesopanan, bapak-anak, kemitraan, karyawan dan bahasa-bahasa yang dianggap tabu menjadi permainan kekuasaan dan modal agar masyarakat selalu terkurung dalam budaya diam dan tidak memberontak. Satu cara yang dapat digunakan oleh organiser adalah membongkar makna tersebut dengan cara memutarbalikkan makna dari simbol tersebut. Paling tidak ini dapat digunakan untuk memulai perbincangan. Ketika organiser merusak makna dari sebuah simbol maka akan berdampak pada ketergangguan komunitas. Simbol merupakan bentuk-bentuk tanda yang diyakini oleh masyarakat. Masyarakat menggunakan simbol untuk menunjukkan atau sebagai tanda akan situasi atau keadaan. Penggunaan simbol dalam masyarakat juga dijadikan pedoman oleh masyarakat untuk berinteraksi antar sesamanya. Simbol menjadi alat bagi masyarakat untuk menyatakan status atau kedudukan, nilai yang mapan, dan sebagainya. Namun sayangnya, simbol-simbol tersebut bukanlah bentukan masyarakat sendiri, namun merupakan titipan kekuasaan. Kekuasaan berusaha membentuk tatanan masyarakat yang sesuai dengan keinginan mereka, sehingga simbol tersebut menjadi mapan dan dianggap sebagai dasar pijakan hidup yang mapan bagi masyarakat. Begitu kuatnya tatanan simbol dan makna yang dipahami oleh masyarakat, sehingga masyarakat sendiri tidak bisa keluar. Simbol beserta maknanya tersebut sangat melekat di masyarakat, sehingga jika dilanggar akan berbuah sanksi. Simbol-simbol tersebut selalu dijaga oleh masyarakat ataupun individu sehingga tidak hancur. Selama simbol tersebut terjaga, rahasia dan manipulasi akan tetap tersembunyi. Kekuasaan juga akan selalu mempertahankan simbol tersebut agar tetap melekat pada diri masyarakat dan individu. Pada kondisi seperti inilah organiser bertugas membongkar kemapanan simbol tersebut agar terlepas dari diri masyarakat. Selama simbol tersebut masih melekat, maka kekuasaan akan tetap memiliki kontrol yang sangat besar. Tanpa kekerasan pun kekuasaan masih bisa berperan jika simbol-simbol tersebut masih dipertahankan dan dijalankan oleh masyarakat.

57

Ada banyak bentuk simbol yang bisa ditemukan dalam masyarakat. Mulai dari simbol status di pekerjaan, keluarga, maupun di masyarakat. Dari seluruh simbol yang dijaga oleh masyarakat tersebut, semuanya bertujuan untuk memelihara indentitas. Organiser harus membongkar identitas tersebut agar mendukung perubahan. Ketika simbol tersebut dipertahankan oleh masyarakat, maka perubahan akan sulit terjadi, sebab di dalam masyarakat, simbol berfungsi menjaga tatanan masyarakat yang sudah ada. Cara pertama yang harus ditempuh oleh organiser adalah memulai komunikasi yang mengarah pada pembongkaran simbol-simbol tersebut. Pengalaman menunjukkan, simbol-simbol yang ada di komunitas ataupun yang dipakai seorang organiser juga bisa digunakan untuk memancing perbincangan atau diskusi. Mulai dari pakaian yang dipakai organiser, rokok, ataupun bendabenda yang dikenakan atau digunakan memiliki makna luas jika organiser bisa mengkaitkannya ke persoalan pokok buruh. Hal-hal seperti ini sering sekali disepelekan oleh organiser. Bahkan gaya bertutur dan bahasa, gaya seorang organiser juga sebenarnya menjadi pusat perhatian buruh dan komunitas. Semua itu harus digunakan oleh organiser sehingga perbincangan atau diskusi tidak akan pernah kehilangan tema. Seorang organiser harus juga memiliki sensitifitas melihat persoalan-persoalan yang terkait dengan aspek nilai tersebut. Untuk itulah muatan ideologi merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang organiser. Tanpa kapasitas ideologis yang jelas, tegas dan terarah, maka organiser akan bingung dan tidak mengetahui bagian-bagian nilai masyarakat yang berkontribusi menindas atau menghisap rakyat. Ada banyak ungkapan-ungkapan yang secara cepat harus ditangkap oleh seorang organiser untuk bisa memulai merubah nilainilai menindas tersebut. Sensitivitas juga dapat dimaknai sebagai bentuk kepekaan organiser terhadap hal-hal yang diungkapkan oleh buruh. Biasanya, dalam diskusi atau perbincangan-perbincangan informal dengan buruh, akan muncul beberapa cerita, mulai cerita yang paling biasa sampai yang paling unik dan aneh. Ceritacerita tersebut bahkan sering berulang-ulang diungkapkan oleh buruh. Seorang organiser kemudian harus menangkap inti cerita dan secara cepat juga menganalisisnya. Setelah didapat makna dari cerita tersebut barulah organiser mengarahkan cerita tersebut ke tema-tema yang berhubungan dengan kondisi perburuhan. Hal itu dikarenakan biasanya buruh tidak pernah mengkaitkan perilaku atau cerita tersebut dalam konteks perburuhan. Mereka menceritakan sesuatu dalam konteks perilaku individu, budaya ataupun situasi lokal tanpa bisa menghubungkannya dengan suasana penindasan yang mereka alami.

58

Cerita-cerita tersebut sering sekali dalam bentuk guyon, walak-walak dan cerita pengisi waktu. Padahal apa yang diceritakan oleh buruh, apakah itu terkait dengan perilaku individu atau banyak orang punya kaitan erat dengan persoalan upah dan hak-hak buruh. Tugas seorang organiser adalah mengkaitkan cerita-cerita kehidupan sehari-hari mereka tersebut dengan penindasan yang dialami buruh. Menganggap sepele dengan cerita-cerita atau fenomena yang dianggap menarik oleh buruh adalah wujud tidak sensitifnya organiser. Salah satunya adalah fenomena Koran (Kontol Raun) atau Kambam. Cerita tentang Koran dan Kambam tersebut di buruh perkebunan adalah cerita unik tentang perilaku sex yang sering terjadi. Dalam perbincangan, cerita ini sering sekali dianggap cerita lucu pengisi waktu. Namun seorang organiser harus sensitif mendengar cerita tersebut. Ia harus menganalisis apa sebenarnya disebalik perilaku sex tersebut dan mencoba mengkaitkannya dengan penindasan terhadap buruh. Sensitivitas juga tidak sekedar simpatik dengan apa yang dihadapi oleh buruh. Tidaklah kemudian organiser hanya kasihan dengan kondisi yang dialami buruh. Organiser juga harus memiliki kadar empati yang tinggi. Empati disini berarti seorang organiser harus melibatkan diri untuk menyelesaikan persoalan atau masalah yang dihadapi buruh. Tidak boleh sekedar kasihan, atau memahami keadaan hidup buruh. Organiser yang sekedar simpatik, kasihan, ataupun menggunakan sisi emosi dalam kasus tersebut tidak akan banyak membantu menyelesaikan persoalan buruh. Organiser tidak boleh hanyut dan tenggelam dengan apa yang dialami oleh buruh, namun harus segera sadar dan cepat-cepat keluar dari situasi sedih yang dialami buruh. Daripada sekedar kasihan dan hanyut dalam kesedihan buruh, organiser harus mencoba menganalisis dan berfikir bagaimana memecahkan persoalan yang dihadapi buruh tersebut. Kemampuan memecahkan persoalan pokok yang ada disebalik cerita-cerita sedih di komunitas buruh tersebut tentunya tidak akan bisa terjadi jika tidak ada totalitas dari seorang organiser. Totalitas seorang organiser hanya bisa terbentuk jika organiser melibatkan diri mulai dari hal-hal terkecil dan paling mudah, seperti ngobrol tentang kehidupan keseharian buruh sampai ke persoalanpersoalan paling pelik di pekerjaan mereka. Jika seorang organiser hanya terlibat dalam tema-tema peraturan dan perundangan atau hak normatif buruh, maka hubungan kepercayaan, saling pengertian antar buruh dan organiser tidak akan terbentuk. Di perkebunan, ataupun di industri kota, ada banyak buruh yang menganggap pengusaha adalah sebagai mitra kerja, orang tua, pemimpin yang

59

harus dihormati, disegani, dan dijaga kepentingan ataupun perasaannya. Hal itulah yang sering kali menjadi kendala bagi buruh untuk melakukan kritik ataupun protes terhadap pengusaha ataupun menajer-manajer perusahaan. Malah pada banyak kasus, pengusaha dan manajer perusahaan dianggap telah berjasa karena telah memberikan lapangan kerja ataupun memberi makan keluarga buruh. Seorang organiser yang tidak memiliki sensitivitas ideologis yang cukup tentu dapat terhanyut dengan ungkapan-ungkapan ataupun pernyataan buruh atau masyarakat. Pengusaha dianggap sebagai orang yang telah berjasa sehingga jangan di ganggu ataupun di sakiti. Ungkapan seperti itu jelas merupakan penipuan yang dilakukan oleh pemodal dengan tujuan agar buruh tidak berkeinginan memberontak atau mengganggu kepentingan pengusaha. Pandangan sedemikian rupa telah tertanam sangat dalam di dalam masyarakat sehingga sulit untuk dirubah. Tugas seorang organiser dalam kasus seperti itu adalah membongkar pemahaman masyarakat atau buruh agar berubah. Namun untuk merubah itu diperlukan strategi, teknik dan waktu yang panjang. Banyangkan saja, nilai-nilai di perusahan dan secara keseluruhan dalam budaya industri telah terdapat mesin-mesin ataupun instrumen pembodohan ataupun penindasan yang bekerja secara sistematis. Apakah itu di industri perkotaan dan perkebunan alat-alat penguasaan sosio cultural dan politik tersebut menancap erat dalam struktu sosial. Mulai dari media massa, lembaga keagamaan, politik, ekonomi, maupun instrumen budaya digunakan alat untuk membangun kepatuhan di kalangan buruh. Sampai-sampai, khususnya di perkebunan, sangat sulit kita bisa membedakan, mana yang sebenarnya nilai asal yang sudah ada jauh sebelum buruh bekerja di perusahaan atau nilai sosial budaya, ekonomi dan politik yang dibentuk atau ditanamkan oleh kaum modal. Kejelian seorang organiser jelas dibutuhkan dalam proses memilah-milah nilai-nilai ini. Jika seorang organiser lalai menganalisis atau memilah nilai-nilai ini, maka organiser menjadi bagian dari agen yang melanggengkan penindasan di komunitas buruh. Untuk merubah nilai yang menindas namun sudah tertanam secara sangat mendalam di dalam masyarakat tersebut tentunya punya konsekuensi ataupun resiko yang berbeda dengan perubahan di level kebiasaan maupun cara hidup. Melakukan perubahan di level nilai sama dengan bergerak di wilayah paling sensitif di masyarakat ataupun komunitas buruh. Akan ada ketersinggungan, penolakan ataupun kebencian yang lebih besar jika organiser tidak menyentuhnya secara hati-hati dan perlahan. Kesalahan organiser konsekuensinya cukup besar. Komunitas atau individu akan semakin kuat mempertahankan nilai-nilai tersebut sehingga akan semakin sulit untuk dirubah.

60

Salah satu sisi nilai komunitas yang cukup sulit untuk dirubah adalah fanatisme agama. Di wilayah-wilayah perdesaan dan komunitas perkebunan, kepercayaan tentang agama cukup kuat. Masyarakat cukup nyaman dengan kepercayaan yang diyakininya. Namun sayangnya, keyakinan agama tersebut sudah disuntik oleh kepentingan pengusaha. Pengusaha punya peran besar memasukkan kepentingannya, melalui acara-acara keagamaan yang dilaksanakan di lingkungan perusahaan perkebunan. Bahkan, para pemimpinpemimpin perusahaan juga sering di daulat menjadi pembicara pada acara-acara tersebut. Untuk melanggengkan kepentingannya tersebut, perusahaan malah kerap membangun hubungan yang sangat kuat dengan pihak pemimpin-pemimpin agama lokal. Mereka bertugas memberi pemahaman, melalui ceramah-ceramah untuk menenangkan buruh. Buruh yang taat, sabar, pengertian, dan yang membuat kondisi perusahaan kondisif adalah beberapa simbol yang sering digunakan. Cukup berat melunturkan kepercayaan seperti itu, sebab organiser bukan hanya berhadapan dengan nilai yang diyakini oleh buruh, namun juga keyakinan buruh terhadap pemimpin-pemimpin atau tokoh agama yang menjadi panutan di komunitas. Tujuan utama organiser sebenarnya tidak harus melunturkan nilai-nilai agama maupun identitas sosial budaya lainnya. Yang harus dilakukan oleh organiser sebenarya adalah memberi pemahaman kepada buruh, bahwasannya disebalik indentitas tradisional tersebut, terdapat identitas lain yang sebenarnya lebih melekat, yakni identitas sebagai buruh. Indentitas tersebut adalah lintas agama, nilai, kepercayaan, norma dan adat istiadat. Namun disebabkan sulitnya memberi pengertian tentang identitas sebagai buruh, maka mau tidak mau organiser harus melakukan pembongkaran atas nilai-nilai mapan di masyarakat. Jika nilai-nilai yang sudah tertanam cukup dalam di komunitas buruh sudah mengalami perubahan, maka persoalan-persoalan di area sensitif sosial tidak akan menjadi sisi yang rentan lagi di masyarakat. Sebagai contoh, kegiatankegiatan perwiritan selama ini diketahui sebagai media penguatan hegemoni kekuasaan kepada masyarakat atau buruh. Ketika masyarakat sudah mulai sadar dan memahami penggunaan media tersebut sebagai wujud strategi kekuasaan dan modal, maka komunitas buruh akan mulai menghindari ataupun memanipulasi media tersebut untuk kepentingan masyarakat. Tentu saja kerja-kerja organiser pada saat berkunjung ke komunitas, baik itu dalam bentuk diskusi ataupun ngobrol dengan kontak tidak terlepas dari kelemahan. Tidak seluruh pertanyaan, analisis, materi diskusi dan tema yang dibicarakan dapat secara langsung direspon oleh organiser. Pada beberapa kejadian seorang organiser tidak mampu menjawab ataupun tidak mengerti apa

61

yang ditanyakan atau yang ingin diketahui buruh. Saat di lapangan seorang organiser juga harus jujur jika berhadapan dengan tema-tema yang benar-benar tidak dipahami. Seorang organiser harus mengakui dengan jujur jika memang ia tidak memahami dan mengerti apa yang ditanyakan oleh buruh. Menjawab segala hal yang ditanyakan atau tidak diketahui oleh buruh, namun sebenarnya tidak diketahui atau diketahui secara setengah-setengah oleh organiser akan berdampak pada dua hal. Pertama akan memunculkan ketergantungan antara buruh dengan organiser. Pada satu sisi ini baik karena kemudian kata-kata organiser cenderung akan didengarkan oleh buruh. Namun ketergantungan tersebut akan menciptakan ketokohan kepada organiser. Jika hal ini sudah muncul, maka segala keputusan, sikap, pandangan dari buruh akan mencerminkan sikap organiser. Inilah yang harus dihindari. Jangan sampai organiser menjadi tokoh yang tau segala hal dan harus didengarkan secara mutlak. Jika itu yang terjadi, maka partisipasi dan inisiatif buruh akan hilang sama sekali, padahal itu bertentangan dengan tujuan-tujuan organiser. Kedua, mengungkapkan yang tidak dipahami atau dipahami secara tidak lengkap oleh organiser suatu saat akan menjadi bumerang. Mustahil jika organiser tau segala hal tentang perburuhan. Yang memahami seluruh persoalan buruh adalah buruh itu sendiri, sehingga tidaklah mungkin sebenarnya organiser mengetahui seluruh persoalan yang ditanyakan atau ingin diketahui buruh. Kemampuan menjawab seluruh pertanyaan adalah sebuah kebohongan organiser. Nantinya jika masukan organiser tersebut dikerjakan dan berdampak buruk atau tidak menghasilkan sesuatu maka organiser akan disalahkan, dan ini akan merugikan kerja-kerja pengorganisasian. Organiser juga harus sadar, bahwasannya selalu akan terdapat orang-orang yang punya pengetahuan dan pengalaman lebih dari orang lain di suatu komunitas. Di perkebunan, mereka-mereka ini adalah pelaku gerakan-gerakan buruh dan gerakan sosial lama yang mengambil sikap diam. Bahkan, masyarakat awam sering kali tidak mengetahui bahwasanya ”orang-orang lama” tersebut punya kemampuan yang lebih tentang dunia perjuangan atau gerakan. Terhadap orang-orang seperti ini, organiser harus mengambil sikap sebagai orang yang mau belajar. Organiser yang menganggap tau segala hal tidak akan mendapat dukungan dari mereka. Pengalaman mengorganisir di perkebunan menunjukkan bahwasannya organiser selalu bisa bertemu dengan ”orang-orang lama” ini. Bahkan, jika komunikasi antar organiser dengan mereka sudah ”nyambung” dan sudah terbangun kepercayaan, maka mereka akan banyak memberi masukan tentang strategi yang dijalankan organiser. Seperti yang terjadi di wilayah Asahan. Organiser bertemu dengan tokoh pergerakan lama yang hidup senderhana

62

menjadi buruh. Tanpa sepengetahuan organiser, tokoh tersebut ternyata sudah memiliki penilaian terhadap kerja-kerja organiser. Dikarenakan sudah ada saling kepercayaan, tokoh tersebut kemudian memberi masukan agar organiser tidak salah mengidentifikasi dan menjadikan seorang buruh menjadi kader. Masukan seperti ini sangat penting untuk diterapkan oleh organiser, karena tokoh tersebut sudah lebih mengenal komunitas dan struktur sosial setempat. Ketika menyentuh persoalan-persoalan pokok buruh, seorang organiser wajib memberi contoh atau analogi cerita yang mengarah pada hakekat suatu hal. Misalnya ketika berbicara tentang buruh kontrak/harian atau borongan, saat mendiskusikan upah, jaminan sosial dan sebagainya, maka organiser harus mendorong perbincangan kepada hal-hal yang menyentuh hakekat, prinsip, ideologis atau filosofis. Mengapa demikian? Salah satunya adalah ketika buruh mempertanyakan perbedaan antara upah pokok dan tunjangan. Organiser harus mampu menjelaskan kepada buruh tentang apa yang dimaksu dengan upah pokok dan tunjangan dengan menggunakan dasar analisis yang lebih mendasar dan prinsipil, bukan sekedar mengkaitkannya dengan peraturan ataupun perundangan yang mengatur persoalan pengupahan. Untuk dapat menyentuh permasalahan pokok buruh yang dianggap paling besar berkontribusi terhadap penindasan, seorang organiser juga harus dibekali dengan kemampuan menyederhanakan persoalan-persoalan buruh. Sistem sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sangat kompleks tentunya sulit untuk dipahami oleh buruh. Belum lagi terkait dengan konsep-konsep yang terkandung dalam peraturan dan perundangan perburuhan, baik di tingkat negara maupun perusahaan. Sistem yang kompleks tersebut tentunya harus dipahami oleh buruh sehingga buruh memahami bagaimana sistem yang dibangun pemerintah dan modal dalam menindas buruh. Proses penyederhanaan sistem atau mekanisme yang kompleks tersebut tentunya menuntut pemahaman yang cukup oleh seorang organiser tentang sistem sosial, politik, ekonomi maupun budaya di tingkat makro maupun lokal. Pengetahuan dasar organiser tentang teori perubahan sosial, pilihannya terhadap ideologi dan tatanan masyarakat yang dicita-citakan, pengenalannya terhadap sistem sosial di konteks pengorganisasian ataupun pengalamannya mengorganisir merupakan beberapa catatan penting yang harus dikuatkan bagi seorang organiser. Tanpa itu, ia akan mengalami kesulitan menyusun logikalogika sederhana yang akan disampaikan kepada buruh. Sulit memang untuk membangkitkan kemampuan seperti itu pada seorang organiser. Untuk itu seorang organiser harus terus menerus belajar tentang teoriteori perubahan sosial secara struktural, dipraktekkan di lapangan dan menganalisisnya secara terus menerus. Kemampuan teoritik, filosofis, teknik

63

analisis sosial, menganalogi sesuatu merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi seorang organiser. Namun kemampuan tersebut dikuatkan melalui praktek di lapangan secara terus-menerus. Konsep dan teoriteori perubahan sosial tersebutlah yang diuji dilapangan untuk melihat efek yang terjadi di lapangan. Jika sebuah teori tidak bisa menjelaskan realitas yang terjadi, maka tugas seorang organiser kemudian adalah membangun sebuah analisis baru yang bersumber dari pengalaman ideologi perubahan yang diyakininya.

Menghadapi Konflik-Konflik Kelompok dan Organisasi Persentuhan dengan komunitas buruh, baik itu buruh industri dengan buruh perkebunan merupakan satu hal yang selalu dihadapi oleh organiser. Tidak ada proses pengorganisasian yang tidak berhadapan dengan konflik, sehingga seorang organiser harus memiliki kemampuan dalam hal pengelelolaan konflik. Ada berbagai tipe konflik yang sering ditemui dikalangan buruh, baik itu konflik antar anggota kelompok atau serikat, anggota dengan pengurus di tingkat basis, sesama pengurus basis, pengurus basis dengan pengurus di tingkat pusat organisasi maupun diantara pengurus pusat. Peran seorang organiser tidak dibatasi pada tipe konflik tertentu, namun di semua tingkatan konflik, karena bagaimanapun juga, kerja-kerja organiser cepat atau lambat pasti akan terpengaruh akibat konflik-konflik tersebut. Harus diakui juga, bahwasannya masyarakat, termasuk komunitas buruh memiliki mekanisme tersendiri yang bisa digunakan untuk menyelesaikan konflik. Namun jika dilihat dari realitas yang terjadi selama ini, institusi, mekanisme dan nilai penyelesaikan konflik sudah hilang sama sekali dihancurkan oleh aturan dan norma kekuasaan. Dari begitu banyak konflik yang sering terjadi di dalam komunitas buruh, ada beberapa yang paling menonjol dan sering terjadi, antara lain. Konflik antara antar buruh akibat permasalahan-permasalahan pekerjaan, konflik yang ditimbulkan dalam lingkungan ketetanggaan dan interaksi sosial di komunitas dan sebagainya. Konflik di tingkat organisasi biasanya disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, ketidakkonsistenan pengurus, tidak berjalannya program kerja organisasi atau kelompok, tidak dilayaninya kebutuhan anggota, tidak transparannya pengelolaan keuangan, kekuasaan yang terlalu besar dari pengurus, ketimpangan pemahaman, pengetahuan dan pengalaman antar anggota dan pengurus, tidak partisipatifnya pengambilan keputusan, hubungan yang terlalu dekat antara pengurus dan anggota kepada pihak pengusaha, kecurigaan dan prasangka dari anggota dan pengurus akibat pemihakan dari pengusaha dan sebagainya.

64

Selain itu, konflik juga dapat muncul akibat dari terlalu dekatnya seorang anggota ataupun pengurus sebuah kelompok atau organisasi dengan jaringan. Selama ini kedekatan dengan jaringan dianggap positif karena mendorong organisasi untuk dikenal di lingkungan elemen gerakan yang lebih luas. Selain itu, interaksi dengan organisasi lain dapat menambah pengetahuan bagi pengurus dan anggota yang diutus sebagai perwakilan mengikuti aktivitas jaringan. Namun di sisi lain, sering terjadi dominasi pengutusan orang, sehingga tidak merata kepada pengurus dan anggota lainnya. Kebiasaan seperti ini jelas menimbulkan kecurigaan bagi pengurus dan anggota yang jarang bahkan sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan jaringan. Satu hal yang harus dipahami oleh organiser adalah selalu menjadikan gejala dan realitas konflik tersebut sebagai pertimbangan melakukan pengorganisasian. Organiser yang tidak mau tau, menganggap tidak penting dan terlalu menjauhi konflik internal tersebut akan semakin menjauhkan organiser terhadap komunitas buruh. Namun melibatkan diri terlalu jauh dengan cara menjadi orang yang terlibat langsung dalam penyelesaian konflik juga bukan tindakan yang tepat. Tetap saja, langkah pertama yang harus dilakukan seorang organiser untuk memasuki wilayah konflik di komunitas ataupun kelompok adalah membangun kepercayaan. Tujuan dari membangun kepercayaan ini adalah agar orang-orang di dalam komunitas tersebut mau mendengarkan perkataan dan masukanmasukan dari organiser. Tanpa adanya kepercayaan, maka organiser akan tetap menjadi orang luar. Jika hanya menjadi orang luar, maka tidak akan ada kesempatan organiser untuk mempengaruhi proses penyelesaian konflik. Ketika seorang organiser bisa dipercaya dan dianggap menjadi orang dalam, maka segala informasi yang terkait dengan konflik akan terbuka. Perolehan informasi merupakan salah satu hal terpenting dalam pengelolaan konflik disebabkan tanpa informasi maka kegagalan dan kesalahan penyelesaian akan semakin besar. Informasi yang diperoleh oleh organiser tentunya haruslah seimbang. Mendapat informasi hanya dari satu pihak cenderung tidak seimbang. Belum tentu informasi yang diperoleh dari satu pihak adalah yang paling benar, karena latarbelakang konflik hanya dari sisi kepentingan pihak tersebut. Langkah paling tepat adalah mendengarkannya dari dua atau tiga pihak. Tentu saja perlu memperoleh informasi dari pihak netral yang cenderung lebih objektif. Namun pihak netral tersebut tidaklah sembarangan orang, karena ia juga harus mengerti konflik yang terjadi, jika tidak, maka ia tetap saja akan memberi informasi yang tidak terkait langsung dengan terjadinya konflik.

65

Related Documents

Upah Buruh
June 2020 5
Hsm 111 Buruh India
May 2020 9
Strategi
May 2020 47
Strategi
August 2019 65