Bekal Seorang Calon Pemimpin Bangsa

  • Uploaded by: Prof. DR. H. Imam Suprayogo
  • 0
  • 0
  • June 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Bekal Seorang Calon Pemimpin Bangsa as PDF for free.

More details

  • Words: 932
  • Pages: 4
Bekal Seorang Calon Pemimpin Bangsa Bagikan 29 Juni 2009 jam 9:37 Diunggah melalui Facebook Seluler Bangsa ini patut bersyukur, memiiliki calon pemimpin bangsa yang bersemangat dan bertekat untuk memperbaiki keadaan. Mereka mengetahui bahwa persolalan bangsa pada saat ini adalah terletak pada tarap ekonomi rakyat yang masih rendah, tingkat pengangguran yang tinggi, dan jumlah lapangan kerja yang semakin terbatas. Beberapa hal inilah yang ingin diprioritaskan untuk ditangani segera jika mereka terpilih menjadi pemimpin bangsa melalui pemilu yang akan datang. Mengikuti tema-tema kampanye yang disampaikan, terkesan calon presiden hanya dituntut lebih untuk menyelesaikan beban tugas padawilayah yang bersifat terbatas, ialah ekonomi. Seolah-olah persoalan bangsa ini hanya terkait dengan ekonomi. Hal ini terjadi, mungkin karena sedemikian yakinnya bahwa persoalan bangsa ini teletak pada persoalan tersebut, hingga mengira bahwa persoalan itu hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan ekonomi. Padahal, semestinya persoaloan kehidupan, seharusnya dilihat dalam perspektif yang luas. Kehidupan sosial selalu tali temali satu dengan lain secara bersinambung dan berkelindan. Katakanlah benar bahwa persoalan bangsa ini terletak pada ekonomi, tetapi harusnya disadari bahwa persoalan ekonomi selalu terkait dengan persoalan lainnya, misalnya pendidikkan, hukum, politik, sosial danbahkan juga budaya.Oleh karena itu seorang kepala negara selalu dituntut berkemampuan melihat sesuatu persoalan pada perspektif yang luas, mendalam, dan komprehensif. Kehidupan sosial harus dilihat dalam perspektif yang amat luas. Tidak selalu persoalan ekonomi misalnya, hanya bisa diselesaikan oleh seorang ekonom. Persoalan ekonomi bisa diselesaikan melalui pintu-pintu politik, budaya, hukum dan atau lainnya. Oleh sebab itu, seorang presiden, tanpa mengurangi berbagai bekal yang lain, maka bekal kemampuan leadership dan managerial tingkat tinggi adalah sangat diperlukan.

Sebagai seorang leadership setingkat presiden, yang diperlukan adalah kemampuan berimajinasi, mimpi-mimpi, memahami persoalan bangsa pada masa yang lalu, saat ini, dan yang akan datang. Pemimpin bangsa harus mengetahui peta yang luas dan juga tahu di mana letak atau posisi bangsa ini dalam pergumulan jalannya sejarah kehidupan manusia saat ini, dan yang akan datang. Kekuatan apa dan di mana sesungguhnya penggerak kehidupan global ini, perlu dikenali secara baik. Selain itu, tentu saja juga dituntut untuk mengenal secara baik internal bangsa ini sendiri.Seorang presiden harus tahu, misalnya tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia ini, di mana letak kekuatan-kekuatan sumber penggeraknya. Negara mana dan sampai di mana di antara berbagai negara di dunia ini, yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui berbagai penelitian dan uji cobanya.Atas dasar pengetahuan itu, maka ia sebagai leader akan menggerakkan dan menunjukkan strategi yang seharusnya ditempuh untuk mengejar ketertinggalannya itu bagi kemajuan bangsanya. Presiden kemudian memiliki pilihan, apakah ia mengembangkan keunggulan di bidang lainnya agar segera berhasil meraih daya saing yang tinggi. Atau, jika tidak mungkin mampu mengejar ketertinggalan itu, sebagai seorang presiden, memerintahkan menteri yang membidanginya, agar mengembangkan strategi baru sebagai jalan pintas atau terabasan yang bisa dilalui. Pengetahuan tentang peta berbagai kemajuan bangsa-bangsa di dunia ini penting artinya untuk dijadikan dasar merumuskan program alternatif yang lebih strategis. Sehingga, seorang calon presiden tidak cukup menyampaikan materi kampanye sebatas menjelaskan hal yang bersifat teknis, misalnya tentang pemberian BLT, kridit kepada siswa atau sarjana yang baru lulus, dan sejenisnya itu. Hal itu penting, tetapi wilayah itu mungkin cocok jika diserahkan saja kepada para menteri, gubernur, bupati atau wali kota. Seorang presiden semestinya, dituntut menyampaikan pandangan-pandangannya yang lebih mendasar, luas dan mendalam. Itulah sebabnya, kepala negara semestinya sekaligus juga seorang filosof, sehingga dari bekal dan kemampuannya itu ia bisa mengambil keputusan yangarif dan bijak.Selanjutnya, sebagai seorang manajerial tingkat tinggi, maka yang diperlukan adalah kemampuan melihat volume dan luasnya wilayahberbagai bidang yang harus diprioritaskan dan dilakukan untuk meraih dan menyelesaikan persoalan bangsa. Pekerjaan ini terkait dengan human resousces dan juga penganggaran. Seorang kepala negara atau presiden harus

memahami itu, sekalipun sebatas garis besar, di mana, kapan dan strategi apa yang seharusnya diambil untuk mendapatkan itu semua. Sebagai seorang presidern yang arif dan bijak, sudah barang tentu harus memahami kultur, budaya, kekuatan-kekuatan penggerak danyang berpengaruh terhadap kehidupan bangsa ini. Ini semua diperlukan agar jalannya kehidupan negeri ini------dalam ukuran besardan luas, berhasil berjalan dengan mantap. Seorang pemimpin negera besar, seperti bangsa Indonesia ini, juha harus berbekalkan gambaran tentang bentuk bangunan masyarakat yang diedialkan ke depan secara lebih jelas. Bangsa ini telah memiliki konsep itu, sekalipun dalam garis besar. Gambaran yang dimaksud itu adalah Pancasila, UUD 1945, dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.Sudah barang tentu, konsep-konsep dasar itu perlu secara terus menerus diterjemahkan ke dalam rumusan-rumusan operasional, dan juga harus diwariskan secara terus menerus kepada generasi ke generasi, baik melalui pendidikan maupun lainnya. Pemimpin negara setingkat presiden, harus menyandang pemikiran-pemikiran besar, cita-cita besar, tekat yang besar dan tentu saja semangat besar. Seorang presiden menurut hemat saya, tidak perlu terjebak memasuki wilayah pikiran-pikiran teknis, yang sesungguhnya hal itu cukup menjadi tugas dan tanggung jawab menteri, gubernur, bupati atau wali kota saja. Seorang presiden, menurut hemat saya dituntutmemiliki kemampuan leadership dan managerial tingkat tinggi yang selalu memiliki landasan filosofis yang mendalam, luas, dan kokoh.Oleh karena itu, jika saya ditanya tentang apa bekal yang harus dimiliki sebagai seorang pemimpin bangsa, agar sukses membawa negaranya meraih kemajuan, maka jawaban saya adalah, bahwa calon presiden itu harus menyandang jiwa dan pikiran besar, integritas dan semangat berjuang dan berkorban yang tidak terbatas.Dan, andaikan saya juga ditanya, buku atau kitab apa yang paling utama, yang seharusnya digunakan sebagai pegangan oleh seorang kepala negara untuk memimpin rakyat yang sedemikian besar jumlahnya, maka jawaban saya, ----- jika calon presiden itu beragama Islam, kitab itu adalah al Qur’anul kariem. Kitab ini datang dari Allah dan pasti kebenarannya. Seorang presiden, dengan berbekalkan kitab itu, selain akan memiliki pandangan luas tentang manusia dan masyarakat serta masa depan kehidupan manusia, ia juga akan bertambah berwibawa, karena membawa dan membaca ayat-ayat yang berasal dari Yang Maha Berwibawa, yaitu Allah swt. Wallahu ‘alam.

Related Documents


More Documents from "Prof. DR. H. Imam Suprayogo"