Asesmen Berbasis Kompetensi By Indra Maipita

  • Uploaded by: Indra Maipita
  • 0
  • 0
  • April 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Asesmen Berbasis Kompetensi By Indra Maipita as PDF for free.

More details

  • Words: 4,883
  • Pages: 23
EVALUASI HASIL BELAJAR (Assesmen Berbasis Kompetensi) Indra Maipita A. Pendahuluan Implikasi dari penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Universitas Negeri Medan membutuhkan perubahan-perubahan mendasar sistem pendidikan di Unimed di antaranya: (1) perilaku belajar mahasiswa; (2) perilaku mengajar dosen; (3) sistem penilaian; (4) penataan sarana dan prasarana; (5) penataan kelembagaan dan aturan akademik; serta (6) ekspansi tempat belajar. Sebab pembaruan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti dengan perubahan praktik-praktik pembelajaran di kelas (KBM) yang dengan sendirinya akan mengubah praktik-praktik penilaian. Dalam pendidikan terdapat dua pengertian penilaian, yakni: Pertama, penilaian (assesment) yang merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar peserta didik (perseorangan atau sekelompok), dan mengefektifkan penggunaan informasi tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan. Kedua, penilaian (evaluasi) yang berarti kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan suatu sistem pendidikan secara keseluruhan. Pada kajian ini penulis membatasi diri pada penilaian dengan menggunakan arti penilaian sebagai “assessment” yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar mahasiswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar mengajar (KBM). Data atau informasi dari penilaian yang dilakukan harus dapat dijadikan bukti yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan. Evaluasi merupakan penilaian keseluruhan program pendidikan termasuk perencanaan suatu program substansi pendidikan 1

termasuk kurikulum dan penilaian (assessment) dan pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar (dosen), pengelolaan (manajemen) pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Pada KBK, penilaian mutlak perlu diarahkan pada penggunaan cara dan instrumen yang bervariasi. Dalam konteks ini, penilaian mahasiswa mutlak perlu dilatihkan untuk: (a) Mengungkapkan pemahamannya dalam bentuk kalimat sendiri, baik lisan maupun tulisan. (b)Menyatakan gagasan, khususnya dalam bentuk gambar, grafik, diagram, atau simbol-simbol lainnya. (c) Mengembangkan keterampilan fungsional (sosial, proses, praktis, dan sebagainya) dalam berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. (d)Menggunakan lingkungan alam (alam, sosial, dan budaya) sebagai sumber dan media belajar. (e) Penilaian perlu dilakukan dengan pemberian tugas membuat laporan penelitian, ringkasan, atau tulisan ilmiah. (f) Ranah penilaian perlu diperluas (tidak hanya ranah kognitif saja, tetapi mencakup ranah afektif dan psikomotor). (g) Penilaian menggunakan alat dan cara yang bervariasi dalam mengumpulkan informasi untuk menilai kemajuan belajar mahasiswa. Penilaian berbasis kompetensi merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar mahasiswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. PBK mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar mahasiswa dan pelaporan. Penilaian ini dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, oleh karena itu disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK dilakukan dengan pengumpulan kerja mahasiswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pencil). 2

B. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Penilaian dalam PBK Secara khusus penilaian (assesment) bertujuan untuk memberikan: 1. Informasi tentang kemajuan hasil belajar mahasiswa secara

2.

3.

4.

5.

individual dalam mencapai tujuan belajar sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukannya; Informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar lebih lanjut, baik terhadap masing-masing mahasiswa maupun terhadap seluruh mahasiswa di kelas; Informasi yang dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa, menetapkan tingkat kesulitan/kemudahan untuk melaksanakan kegiatan remedial, pendalaman atau pengayaan; Motivasi belajar mahasiswa dengan cara memberikan informasi tentang kemajuannya dan merangsangnya untuk melakukan usaha pemantapan atau perbaikan; Informasi semua aspek kemajuan setiap mahasiswa dan pada gilirannya dosen dapat membantu pertumbuhannya secara efektif untuk menjadi anggota masyarakat dan pribadi yang utuh.

Fungsi evaluasi dalam KBK bagi mahasiswa dan dosen adalah untuk membantu: (a) mahasiswa dalam mewujudkan dirinya dengan mengubah atau mengembangkan perilakunya ke arah yang lebih baik dan maju; (b) mahasiswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya; (c) dosen untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakannya telah memadai; dan (d) dosen membuat pertimbangan dan keputusan administrasi. Dari jabaran di atas, seharusnya evaluasi dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Secara garis besar, posisi evaluasi dalam peningkatan mutu pembelajaran diperlihatkan oleh bagan berikut: Berbagi & Pengolahan Inforamasi

Mekanisme Balikan

Internalisasi

3

Evaluasi

Berbagi & Informasi termasuk di dalamnya kegiatan perkuliahan, seminar, tugas praktikum, tugas penelitian, self instruction system, dan lain-lain. Sebagai pemantapan, mahasiswa diberikan latihan, response, tugas rumah, kerja kelompok, diskusi dan sebagainya, ini kita sebut dengan internalisasi. Langkah selanjutnya adalah mekanisme balikan, merupakan pembahasan hasil internalisasi, pemberian catatan evaluasi pada lembar hasil kerja, komentar terhadap internalisasi dan sebagainya. Mekanisme ini akan memberikan feed back terhadap dosen dan mahasiswa atas apa yang telah diajarkan oleh dosen dalam pengolahan informasi dan dikerjakan oleh mahasiswa dalam internalisasi. Komponen terakhir adalah evaluasi hasil dan evaluasi proses secara keseluruhan, terdiri dari assessmen berdasarkan test, tanpa test dan assesmen diri. Materi evaluasi harus dirancang sedemikian sehingga penguji yang berbeda dapat memberikan nilai yang sama, dengan kata lain ujian kompetensi harus betul-betul dapat menguji kompetensi mahasiswa. Kegiatan evaluasi perkuliahan untuk mata kuliah paralel harus dilakukan secara serentak oleh Tim dosen atau Tim Quality Assurance yang ditugaskan untuk kendali mutu. Materi ujian kompetensi seharusnya dikembangkan pada saat awal dan juga dipikirkan rencana proses evaluasi sebelum implementasi KBK. Proses evaluasi komprehensif untuk kontrol kualitas (Quality Controll) oleh Tim Quality Assurance sebaiknya dilakukan setiap tahun sesuai bagan di bawah ini.

Mhs (Input)

Kuliah Tahun 1

Tes (QC)

Kuliah Tahun ke-n

Tes (QC)

Ujian Skripsi

Sertifikasi

4

Lulusan (output)

Karena itu, penilaian harus diarahkan agar memenuhi prinsipprinsip umum penilaian sebagai berikut. 1. Valid Penilaian dalam PBK harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya, tepat atau sahih. Contoh, apabila dalam pelaksanaan kurikulum digunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan melakukan percobaan harus menjadi salah satu objek yang dinilai. Ketika merencanakan penilaian, dosen memerlukan jaminan bahwa semua kegiatan telah berorientasi pada usaha untuk menyediakan informasi yang relevan dengan Kompetensi dan Indikator Pencapaian Hasil Belajar. 2. Mendidik Penilaian harus memberi sumbangan positif terhadap pencapaian hasil belajar mahasiswa. Oleh karena itu penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan yang memotivasi bagi mahasiswa yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil. 3. Berorientasi pada kompetensi Penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum. 4. Adil dan objektif Penilaian harus adil terhadap semua mahasiswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang mahasiswa yang tidak berkaitan dengan pencapaian hasil belajar. Objektivitas penilaian tergantung dan dipengaruhi oleh faktor-faktor pelaksana, kriteria untuk skoring dan pembuatan keputusan pencapaian hasil belajar. Suatu tugas harus adil dan objektif untuk laki-laki dan perempuan, mahasiswa dengan latar belakang budaya yang berbeda, menggunakan bahasa yang

5

dapat dipahami serta mempunyai kriteria yang jelas dalam membuat keputusan atau menerapkan angka atau nilai. 5. Terbuka Kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan mahasiswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. 6. Berkesinambungan Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, teratur, terus menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar mahasiswa. Hasil penilaian perlu dianalisis dan ditindaklanjuti. Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. 7. Menyeluruh Penilaian terhadap hasil belajar mahasiswa harus dilaksanakan menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif serta berdasarkan pada berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar mahasiswa. Penilaian terhadap hasil belajar mahasiswa meliputi aspek pengetahuan, sikap atau nilai, dan keterampilan, serta materi secara representatif sehingga hasilnya dapat diintegrasikan dengan baik. 8. Bermakna Penilaian hendaknya mudah dipahami dan bisa ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi mahasiswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat, dan tingkat penguasaan mahasiswa dalam pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian, pelaksanaan penilaian berbasis kompetensi harus senantiasa memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut. (1) Apapun jenis penilaiannya harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi mahasiswa untuk menunjukkan 6

apa yang mereka ketahui dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuannya. Implikasi dari prinsip ini adalah: a. pelaksanaan penilaian hendaknya dalam suasana yang bersahabat dan tidak mengancam; b. semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan perlakuan yang sama dalam menerima program pembelajaran sebelumnya dan selama proses penilaian; c. mahasiswa memahami secara jelas apa yang dimaksud dalam penilaian; dan d. kriteria untuk membuat keputusan atas hasil penilaian hendaknya disepakati dengan mahasiswa. (2) Setiap dosen harus mampu melaksanakan prosedur penilaian dan pencatatan secara tepat . Implikasi dari prinsip ini adalah: a. prosedur penilaian harus dipahami dengan jelas oleh dosen; b. prosedur penilaian dan catatan harian hasil belajar mahasiswa hendaknya mudah dilaksanakan sebagai bagian dari KBM, dan tidak harus mengambil waktu yang berlebihan; c. catatan harian harus mudah dibuat, jelas, mudah dipahami, dan bermanfaat untuk perencanaan pembelajaran; d. menggunakan informasi yang diperoleh untuk menilai semua pencapaian belajar mahasiswa dengan berbagai cara; e. menilai pencapaian belajar mahasiswa yang bersifat positif untuk pembelajaran selanjutnya yang direncanakan oleh dosen dan mahasiswa; f. mengklasifikasikan dan menentukan kesulitan belajar sehingga mahasiswa mendapatkan bimbingan dan bantuan belajar yang sewajarnya; g. hasil penilaian hendaknya menunjukkan kemajuan dan keberlanjutan pencapaian belajar mahasiswa; h. menilai semua aspek yang berkaitan dengan pembelajaran, misalnya efektifitas KBM dan kurikulum;

7

i. konsekuensinya,

dosen harus selalu meningkatkan keterampilannya dalam melakukan penilaian melalui diskusi pengalaman dan membandingkan metode dan hasil penilaian; dan

C. Penilaian Kompetensi, Lulusan, dan Acuan Penilaian Berdasarkan Kepmen Diknas No.232/U/2000 dan 045/U/2002, kurikulum pendidikan tinggi memuat 5 kelompok mata kuliah, yaitu : 1. Kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK), mata kuliah yang berisi pembentukan mental manusia Indonesia. 2. Kelompok mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK), mata kuliah yang berisi bahan-bahan keilmuan yang akan ditransfer sesuai bidang masing-masing. 3. Kelompok mata kuliah keahlian berkarya (MKB), mata kuliah yang berisi tentang cara/teknik bagaimana mentransfer ilmu yang didalami sesuai bidang masing-masing. 4. Kelompok mata kuliah perilaku berkarya (MPB), mata kuliah yang berisi tentang inovasi yang sifatnya pengembangan keterampilan. 5. Kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB), mata kuliah berisi tentang bentuk-bentuk aplikasi dari keempat kelompok di atas. Jika dikaitkan dengan ketiga ranah yang ada dalam pendidikan, yaitu ranah afektif, kognitif dan psikomotor, maka kelompok mata kuliah MPK didominasi oleh ranah afektif, MKK didominasi oleh ranah kognitif, MKB didominasi oleh ranah psikomotor, MPB didominasi oleh ranah afektif dan MBB terdiri dari ranah kognitif, psikomotor, dan efektif dengan jumlah yang proporsional. Penilaian kompetensi dalam KBK merupakan penilaian kompetensi dasar mata kuliah dan penilaian kompetensi lulusan. Penilaian yang dilakukan harus sesuai dengan kelompok mata kuliah dan ketiga ranah tersebut. Penilaian kompetensi dasar merupakan penilaian terhadap pencapaian standar kompetensi minimal mata

8

kuliah. Sebab, kompetensi dasar merupakan pernyataan minimal tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah mahasiswa menyelesaikan pokok bahasan dan sub pokok bahasan dari suatu mata kuliah. Karena di dalam Kepmendiknas No. 232/U/2000 ditetapkan bahwa penilaian di Perguruan Tinggi masih tetap menggunakan kategori A, B, C, D, dan E, maka dalam hal ini perlu ditetapkan secara institusional kategori nilai yang menggambarkan bahwa mahasiswa dinyatakan kompeten. Dalam bebeberapa kali diskusi pengembangan KBK di Unimed, disepakati sementara bahwa standar nilai minimal seorang mahasiswa dikatakan kompeten adalah C. Ini berarti, mahasiswa yang belum mencapai kategori nilai C belum dikatakan kompeten, dan diwajibkan untuk mengikuti ujian kompetensi mata kuliah tersebut di lain waktu. Untuk meluluskan mahasiswa dalam suatu program studi diperlukan kompetensi lulusan program studi. Kompetensi lulusan suatu program studi dapat dijabarkan dari visi dan misi yang ditetapkan. Acuan untuk merumuskan kompetensi lulusan adalah struktur keilmuan mata kuliah, perkembangan psikologi mahasiswa, dan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna lulusan. Dalam hal ini ketentuan yang sama juga digunakan pada penetapan nilai standar kompetensi dasar dari seorang lulusan. Contoh penilaian dapat digambarkan sebagai berikut: Seseorang dikatakan lulus dari suatu program studi bila telah kompeten pada 10 mata kuliah yang tersedia. Jika distribusi nilai pada masing-masing mata kuliah seperti tertera pada Tabel 1 berikut, kita dapat menghitung rata-rata perolehannya sebagai lulusan.

Tabel 1. Contoh Perolehan Nilai Seorang Mahasiswa Pada Semua Mata Kuliah dari Suatu Program Studi.

9

No .

Nilai Huruf

Nilai

Jumla h

2

A

4

8

B

4

A

4

16

3

C

2

C

2

4

4

D

2

C

2

4

5

E

2

A

4

8

6

F

3

C

2

6

7

G

2

B

3

6

8

H

4

A

4

16

9

I

3

B

3

9

10

J

6

C

2

12

Total

30

Mata Kuliah

Sks

1

A

2

Nilai kumulatif =

89

TotalNilai 89 = = 3,0 = B TotalSKS 30

Sehingga mahasiswa dapat dinyatakan kompetensi dengan nilai B. Seorang mahasiswa dinyatakan mencapai nilai minimal C.

tidak

kompeten

bila

tidak

Perlu diperhatikan, bahwa bila satu di antara 10 mata kuliah di atas mahasiswa tidak kompeten, maka otomatis mahasiswa tersebut dinyatakan tidak kompeten sebagai lulusan. Sehingga lulusan dapat digolongkan atas 2 kategori, yakni “lulus kompeten” dan “lulus tidak kompeten”. Acuan yang digunakan dalam penilaian hasil belajar dapat menggunakan dua kriteria yaitu kriteria mutlak atau penilaian acuan patokan (PAP) dan kriteria relatif atau penilaian acuan norma (PAN) sesuai dengan kepentingannya. Bila penilaian dilakukan untuk mengetahui kedudukan individu mahasiswa dibandingkan dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan, maka sebaiknya digunakan kriteria mutlak (PAP); sedang bila digunakan untuk mengetahui kedudukan individu dalam kelompoknya, sebaiknya digunakan kriteria relatif (PAN). Namun demikian, untuk menyatakan seseorang kompeten atau tidak

10

hendaknya digunakan penilaian dengan kriteria mutlak (PAP). Penjelasan tentang hal ini secara skematis ditunjukkan pada Gambar 1 berikut. Perlakuan Instruksional untuk mencapai tingkah laku dan kompetensi

Diagnosis K emampuan

Untuk mewujudkan penguasaan konsep dan tingkah laku

Kriteria PAP

Acuan Penilaian

Norma Kelompok (PAN)

Kedudukan individu dibanding kan dengan KD yang ditentukan

Tujuan

Mengetahui Kedudukan individu dalam kelompok

Penyesuaian perlaku kan thd individu agar mencapai KD Fungsi

Seleksi perlaku an utk mencapai KD Kriteria mutlak

Sifat

Mengukur penyesuai an ind. thd materi inst Ind.dlm kelompok

Standar

Kriteria mutlak Seleksi terhdp individu

Gambar 1. Acuan Penilaian dalam KBK PAP = Penilaian Acuan Patokan PAN = Penilaian Acuan Norma KD = Kompetensi Dasar Penilaian otentik perlu dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa melalui kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari dimensi kompetensi yang ingin dicapai, ranah yang perlu diniliai meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. 1.

Ranah kognitif Kompetensi ranah kognitif meliputi tingkatan menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. a Tingkatan hafalan mencakup kemampuan menghafal verbal atau menghafal parafrase materi pembelajaran berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.

11

b Tingkatan pemahaman meliputi kemampuan membandingkan (menunjukkan persamaan dan perbedaan), mengidentifikasi karakteristik, menggeneralisasi, dan menyimpulkan. c Tingkatan aplikasi mencakup kemampuan menerapkan rumus, dalil atau prinsip terhadap kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan. d Tingkatan analisis meliputi kemampuan mengklasifikasi, mengolongkan, memerinci, mengurai suatu objek. e

f

Tingkatan sintesis meliputi kemampuan memadukan berbagai unsur atau komponen, menyusun, membentuk bangunan, mengarang, melukis, menggambar, dan sebagainya. Tingkatan evaluasi/penilaian mencakup kemampuan menilai (judgement) terhadap objek studi menggunakan kriteria tertentu, misalnya menilai kesesuaian suatu bangunan dengan bestek.

2. Ranah Psikomotor Berkenaan dengan ranah psikomotor, kompetensi yang dicapai meliputi tingkatan gerakan awal, semi rutin, gerakan rutin. Penilaian terhadap pencapaian kompetensi tersebut, adalah sebagai berikut: a. Tingkatan penguasaan gerakan awal berisi kemampuan

mahasiswa dalam menggerakkan sebagian anggota badan. b. Tingkatan gerakan semi rutin meliputi kemampuan melakukan atau menirukan gerakan yang melibatkan seluruh anggota badan. c. Tingkatan gerakan rutin berisi kemampuan melakukan gerakan secara menyeluruh dengan sempurna dan sampai pada tingkatan otomatis. b. Ranah Afektif Berkenaan dengan ranah afektif, ada dua hal yang perlu dinilai, yaitu pertama kompetensi afektif, dan kedua sikap dan minat mahasiswa terhadap mata kuliah dan proses pembelajaran. Kompetensi afektif yang ingin dicapai dalam pembelajaran 12

meliputi tingkatan pemberian respon, presiasi, penilaian, dan internalisasi. Berbagai jenis tingkatan ranah afektif yang dinilai adalah kemampuan mahasiswa dalam: a. memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan kepadanya; b. menikmati atau menerima nilai, norma, serta objek yang mempunyai nilai etika dan estetika; c. menilai (valuing) ditinjau dari segi baik buruk, adil tidak adil, indah tidak indah terhadap objek studi;. dan d. menerapkan atau mempraktikkan nilai, norma, etika dan estetika dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Penilaian perlu pula dilakukan terhadap daya tarik, minat, motivasi, ketekunan belajar, dan sikap mahasiswa terhadap mata kuliah tertentu beserta proses pembelajarannya. Banyak ahli pendidikan di Indonesia berpandangan, bahwa merosotnya kualitas pendidikan di Indonesia disebabkan hilangnya unsur softskill dalam PBM. Pengembangan softskill (keterampilan hidup) berpijak pada pemikiran bahwa hasil belajar aspek ini merupakan penguasaan berbagai kompetensi dasar dan diperoleh melalui berbagai pengalaman belajar. Hasil samping yang positif atau bermanfaat ini disebut juga nurturant effects. Sehubungan dengan itu, penilaian terhadap keterampilan hidup tersebut perlu dilakukan. Perlu dinilai seberapa jauh – melalui pengalaman belajar yang telah dilaksanakan – mahasiswa telah memiliki kecakapan hidup yang sesuai dengan kebutuhannya untuk bertahan dan berkembang dalam kehidupannya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Jenis-jenis keterampilan hidup yang perlu dinilai antara lain meliputi: 1.

Keterampilan diri (Keterampilan personal ) • Penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan YME • Motivasi berprestasi • Komitmen

13

• Percaya diri • Mandiri 2.

Keterampilan berpikir rasional • Berpikir kritis dan logis • Berpikir sistematis • Terampil menyusun rencana secara sistematis • Terampil memecahkan masalah secara sistematis

3.

Keterampilan sosial • Keterampilan berkomunikasi lisan/tulis • Keterampilan bekerjasama, kolaborasi, lobi • Keterampilan berpartisipasi • Keterampilan mengelola konflik • Keterampilan mempengaruhi orang lain

4.

Keterampilan akademik • Keterampilan merancang, melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiah • Keterampilan membuat karya tulis ilmiah • Keterampilan mentransfer dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitian untuk memecahkan masalah, baik berupa proses maupun produk.

5. Keterampilan vokasional • Keterampilan menemukan algorithme, model, prosedur untuk

mengerjakan suatu tugas • Keterampilan melaksanakan prosedur • Keterampilan

mencipta

produk

dengan

menggunakan

konsep, prinsip, bahan, dan alat yang telah dipelajari. D. Bentuk dan Instrumen Penilaian dalam PBK 1. Bentuk Penilaian Bentuk penilaian berkaitan erat dengan bentuk teknik penilaiannya. Misalnya data untuk penilaian penempatan

14

dihimpun dengan menggunakan teknik penilaian berupa tes pada awal mata kuliah yang disebut tes penempatan. Hasilnya diolah untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dimiliki mahasiswa. Data untuk penilaian diagnostik dihimpun menggunakan tes diagnostik. Hasilnya diolah untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi mahasiswa, termasuk kesalahan pemahaman konsep. Tes ini dilakukan apabila sebagian besar mahasiswa gagal dalam pembelajaran. Data untuk penilaian formatif dihimpun menggunakan tes formatif dalam bentuk kuis, pertanyaan lisan ataupun ulangan harian sepanjang semester. Datanya diolah dan digunakan untuk untuk memperoleh masukan tentang tingkat keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Data penilaian sumatif dihimpun melalui tes sumatif pada akhir semester/akhir tahun. Hasilnya diolah dan digunakan untuk menentukan keberhasilan belajar mahasiswa untuk mata kuliah tertentu. Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar penentuan tingkat keberhasilan mahasiswa dalam penguasaan kompetensi dasar diperlukan adanya tagihan-tagihan. Setiap jenis tagihan memerlukan seperangkat alat penilaian. Misalnya, untuk mengetahui penguasaan ranah kognitif oleh mahasiswa melalui ulangan harian dapat digunakan tes tulis dan tes lisan, sedangkan untuk mengukur ranah psikomotor dilakukan tes perbuatan berupa tes identifikasi, tes simulasi, atau yang lainnya. Seperangkat alat penilaian dan jenis tagihan yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut ini. 1. Kuis: digunakan untuk menanyakan hal-hal yang prinsip dari

kuliah yang lalu secara singkat, bentuknya berupa isian singkat, dan dilakukan sebelum kuliah. 2. Pertanyaan lisan di kelas: digunakan untuk mengungkap

penguasaan mahasiswa prinsip, atau teorema.

tentang

15

pemahaman

konsep,

3. Ulangan harian: dilakukan secara periodik pada akhir

pengembangan kompetensi, untuk mengungkap penguasaan pemahaman, sampai evaluasi, atau untuk mengungkap penguasaan pemakaian alat atau suatu prosedur. 4. Tugas

individu: dilakukan secara periodik untuk diselesaikan oleh setiap mahasiswa dan dapat berupa tugas rumah. Tugas individu dipakai untuk mengungkap kemampuan aplikasi sampai evaluasi atau untuk mengungkap penguasaan hasil latihan dalam menggunakan alat tertentu, melakukan prosedur tertentu.

5. Tugas kelompok: digunakan untuk menilai kemampuan

kerja kelompok dalam upaya pemecahan masalah. Jika mungkin kelompok mahasiswa diminta melakukan pengamatan atau merencanakan sesuatu proyek menggunakan data informasi dari lapangan. 6. Ulangan semester : digunakan untuk menilai ketuntasan

penguasaan kompetensi pada akhir program semester. Kompetensi yang diujikan berdasarkan kisi-kisi yang mencerminkan kompetensi dasar yang dikembangkan dalam semester yang bersangkutan. Dari aspek kognitif untuk mengungkap mengingat sampai evaluasi. Untuk aspek psikomotor dilakukan ujian praktik. Untuk aspek afektif dilakukan dengan pengumpulan data/hasil pengamatan dalam kurun waktu 1 semester. 7. Ulangan

kenaikan : digunakan untuk mengetahui ketuntasan mahasiswa untuk menguasai materi dalam satu tahun ajaran. Pemilihan komptensi ujian harus mengacu pada kompetensi dasar, berkelanjutan, memiliki nilai aplikatif, atau dibutuhkan untuk belajar pada bidang lain. Untuk keterampilan psikomotor dilakukan ujian praktik. Untuk aspek afektif dilakukan dengan pengumpulan data/hasil pengamatan dalam kurun waktu 1 semester

8. Laporan kerja praktik atau laporan praktikum: dipakai

untuk mata kuliah yang ada kegiatan praktikumnya.

16

9. Responsi atau ujian praktik: dipakai untuk mata kuliah

yang ada kegiatan praktikumnya untuk mengetahui penguasaan akhir baik dari aspek kognitif maupun psikomotor.

2. Instrumen Penilaian Instrumen penilaian ada yang berbentuk tes dan ada yang berbentuk nontes. Instrumen berbentuk tes merupakan semua alat penilaian yang hasilnya dapat dikategorikan menjadi benar dan salah, misalnya instrumen untuk mengungkap aspek kognitif dan psikomotor. Instrumen nontes hasilnya tidak dapat dikategorikan benar salah, dan umumnya dipakai untuk mengungkap aspek afektif. a. Alat penilaian Berbentuk Tes Bentuk tes ada yang berupa tes nonverbal (perbuatan) dan verbal. Tes nonverbal dipakai untuk mengukur kemampuan psikomotor. Tes verbal dapat berupa tes tulis dan dapat berupa tes lisan. Tes tulis dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non-objektif. 1) Tes untuk Mengukur Ranah Kognitif Penguasaan kognitif diukur dengan menggunakan tes lisan di kelas atau berupa tes tulis. Tes lisan berupa pertanyaan lisan yang digunakan untuk mengetahui daya serap mahasiswa terhadap masalah yang berkaitan dengan kognitif. Tes tertulis dilakukan untuk mengungkap penguasaan mahasiswa dalam aspek/ranah kognitif mulai dari jenjang pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, sampai evaluasi. Bentuknya dapat berupa isian singkat, menjodohkan, pilihan ganda, pilihan berganda, uraian objektif, uraian non-objektif, hubungan sebab akibat, hubungan konteks, klasifikasi, atau kombinasinya. Ranah kognitif juga dapat diukur menggunakan portfolio. Portfolio adalah kumpulan tugas/pekerjaan seseorang. Dalam bidang pendidikan, portfolio diartikan sebagai kumpulan dari

17

tugas-tugas mahasiswa. Hal yang penting pada penilaian yang didasarkan pada portofolio adalah mampu mengukur kemampuan membaca dan menulis yang lebih luas, mahasiswa menilai kemajuannya sendiri, mewakili sejumlah karya mahasiswa. Penilaian porfolio pada dasarnya adalah menilai karya-karya mahasiswa berkaitan dengan mata kuliah tertentu. Semua tugas yang dikerjakan mahasiswa dikumpulkan, dan di akhir satu unit program pembelajaran diberikan penilaian. Dalam menilai dilakukan diskusi antara mahasiswa dan dosen untuk menentukan skornya. Prinsip penilaian portfolio adalah mahasiswa dapat melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya di bahas. Karya yang dinilai meliputi hasil ujian, tugas mengarang, atau mengerjakan soal. Jadi portfolio adalah suatu metode pengukuran dengan melibatkan mahasiswa untuk menilai kemajuannya berkaitan dengan mata kuliah terkait. 2) Tes untuk Mengukur Ranah Psikomotor Tes untuk mengukur aspek psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan/perbuatan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai mahasiswa. Berikut adalah contoh-contoh tes penampilan atau kinerja: a) Tes

paper and pencil: walaupun bentuk aktivitasnya seperti tes tulis, namun yang menjadi sasarannya adalah kemampuan mahasiswa dalam menampilkan karya, misal berupa desain alat, desain grafis dan sebagainya.

b) Tes

identifikasi: lebih ditujukan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi sesuatu hal, misal menemukan bagian yang rusak atau yang tidak berfungsi dari suatu alat.

c) Tes

simulasi: dilakukan jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan mahasiswa, sehingga dengan simulasi tetap dapat dinilai apakah seseorang sudah menguasai keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat. 18

d) Tes petik kerja (work sample): dilakukan dengan alat

yang sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah mahasiswa sudah menguasai atau terampil menggunakan alat tersebut. Tes penampilan/perbuatan, baik berupa tes identifikasi, tes simulasi, ataupun petik/unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh datanya dengan menggunakan daftar cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale). Daftar cek lebih praktis jika digunakan untuk menghadapi subjek dalam jumlah besar atau jika perbuatan yang dinilai memiliki risiko tinggi, sedangkan skala penilaian cocok untuk menghadapi subjek yang sedikit. Perbuatan yang diukur memakai skala penilaian dengan rentangan dari sangat tidak sempurna sampai sangat sempurna. Jika dibuat skala 5, maka skala 1 paling tidak sempurna dan skala 5 paling sempurna. b. Alat penilaian Berbentuk Nontes Komponen afektif ikut menentukan keberhasilan belajar mahasiswa. Paling tidak ada dua komponen afektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat terhadap suatu mata kuliah. Sikap mahasiswa terhadap mata kuliah bisa positif bisa negatif atau netral. Hal ini tidak dapat dikategorikan benar atau salah. Dosen memiliki tugas untuk membangkitkan dan meningkatkan minat mahasiswa terhadap mata kuliah, serta mengubah dari sikap negatif ke sikap positif. Beberapa jenis skala sikap misalnya skala Likert, skala Thurstone dan skala perbedaan semantik untuk mengetahui sikap terhadap suatu hal, baik berupa mata kuliah ataupun kegiatan. Skala Bogardus untuk mengetahui sikap sosial mahasiswa. Skala Chapin untuk mengetahui tingkat keterlibatan mahasiswa dalam organisasi. Keterlibatan atau sikap mahasiswa terhadap kegiatan juga dapat dinilai dengan memanfaatkan teman sekelompok (peer assessment). Hasil penilaian antar teman dapat dipakai untuk dijadikan pertimbangan dalam memberikan saran-saran agar mahasiswa lebih termotivasi juga agar mau lebih baik berinteraksi sesama teman.

19

3. Langkah- langkah Pengembangan Assesmen Berbasis Kompetensi

Perumusan Kompetensi

Penjabaran Kompetensi Penyusunan Strategi Assesmen dan Kisi-kisi Pengembangan butir instrumen (termasuk rubrik, Pedoman skoring)

Langkah-langkah Identifikasi standar kompetensi lulusan Identifikasi kompetensi utama Identifikasi kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya Identifikasi pengalaman belajar untuk setiap kompetensi Menjabarkan kompetensi khusus (TIK) Menentukan strategi asessmen, yang terdiri dari: - metode asessmen (prosedur) - bentuk (jenis) instrumen - butir instrumen mengembangkan butir instrumen menelaah dan merevisi butir instrumen

Keterangan Desain instruksional: * TIU * Analisis instruksional * TIK * Pengalaman Belajar dijabarkan secara individual oleh dosen berdasarkan taksonomi tujuan pembelajaran

expert judgement dari rekan sejawad

melakukan ujicoba instrumen melakukan analisis empiris kualitas instrumen

Contoh Jenis Assesmen dan Bentuk Instrumen Kompetensi

Jenis assesmen

Penguasaan kognitif untuk - test tertulis (objektif, uraian) perolehan pengetahuan - Test lisan (ingatan, pemahaman) - Presentasi lisan -laporan assesmen mandiri (self assesmen) - Unjuk kerja (berbicara, membaca, menyimak, dll) Penguasaan kognitif tingkat - Studi kasus tinggi (aplikasi, analisis, - Produk (karya) evaluasi, kreasi) - Interview - Catatan pinggir (analitic memos/anecdotal record) - Laporan (dokumentasi) pemecahan masalah - Jurnal efektif - Simulasi komputer - Observasi pemecahan masalah Keterampilan Psikomotor - Unjuk kerja Tulisan bebas (opinion paper, diary, argumentative paper) - Observasi dalam kontek autentic - Non-test (angket)

20

Contoh Rubrik Holistik S kor

Deskripsi

4

Respon terhadap tugas sangat spesifik, informasi yang diberikan akurat dan memperlihatkan pemahaman yang utuh. Respon dikemukakan dalam suatu tulisan lancar dan hidup. Jawaban singkat dan jelas, kesimpulan atau pendapat mengalir secara logis. Secara menyeluruh respon lengkap dan meuaskan. Respon sudah menjawab tugas yang diberikan. Informasi yang diberikan akurat dan ditulis dengan lancar. Uraian bertele-tele. Respon kurang memuaskan. Walaupun informasi yang diberikan akurat, tetapi tidak ada kesimpulan atau pendapat. Ada masalah dengan alur berfikir yang ditawarkan (kurang logis, misalnya) Respon tidak menjawab tugas yang diberikan. Banyak informasi yang hilang dan tidak akurat. Tak ada kesimpulan atau pendapat. Secara menyeluruh respon tidak akurat dan tidak lengkap

3 2 1

Contoh Rubrik Analitik Sk or

Grafik

Spesifikasi

4

Gambar dan grafik disajikan benar

3

Sebagian besar gambar dan penjelasan yang diberikan benar Beberapa gambar disajikan tetapi tidak semua penjelasannya benar Gambar dan penjelasan yang diberikan sangat terbatas dan hanya sebagian yang benar

2 1

Rasional

yang Semua yang benar

sfesifikasi Rasional yang diberikan diberikan jelas dan “straighfoward” Semua sfesifikasi Penjelasan sudah yang diberikan ada tetapi masih benar kurang lengkap Hanya sebagian Rasional yang spesifikasi benar diberikan tidak lengkap Spesifikasi yang Rasional yang diberikan pada diberikan tidak umumnya salah benar

Contoh Rubrik Kognitif Kateg ori

S kor

Deskripsi

A

100/ 4

B

80/3

C

60/2

D

40/1

Menunjukkan pemahaman yang akurat dan komprehensif tentang konsep serta dapat menymbangkan pemahaman baru dalam beberapa aspek dari konsep yang menjadi tugasnya. Memperlihatkan pemahaman yang lengkap dan akurat terhadap konsep atau generalisasi Memperlihatkan pemahaman yang tidak menyeluruh tentang konsep dan generalisasi, bahkan dalam beberapa hal masih ada kesalah pahaman Memperlihatkan kesalahan konsepsi yang nyata dalam pokok bahasan yang ditugaskan

21

Contoh Rubrik Psikomotor Kateg ori

S kor

Deskripsi

A B

100/ 4 80/3

C

60/2

D

40/1

Menunjukkan mastery dalam suatu keterampilan tanpa kesalahan dan dilakukan secara otomatis Menunjukkan kemampuan untuk mentransfer keterampilan dari suatu bidang ke bidang lain tanpa kesukaran yang berarti Masih ada kesalahan walaupun tidak fatal dalam kinerja keterampilan Menunjukkan berbagai kesalahan fatal dalam melakukan keterampilan

E. Penutup Pada kenyataannya tidak ada satupun metode dan teknik penilaian yang dapat mengumpulkan informasi prestasi dan kemajuan belajar mahasiswa secara lengkap. Pengukuran tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran atau informasi tentang kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dan sikap seorang mahasiswa. Hasil tes juga tidak mutlak dan tidak abadi karena mahasiswa terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Perlu dilaksanakan teknik penilaian yang menghargai keterampilan atau kemampuan lain yang dimiliki mahasiswa. Penetapan salah satu teknik (misalnya hanya obyektif tes) akan menghambat pencapaian tujuan-tujuan kurikulum secara utuh. Teknik penilaian seperti itu sering kurang memberikan informasi atau catatan yang cukup tentang umpan balik (feed back) untuk mendiagnosis atau untuk memodifikasi pengalaman belajar. Dosen hendaknya mengembangkan teknik penilaian yang berbeda untuk mengukur jenis-jenis kompetensi yang beragam dari setiap tingkat pencapaian. Hasil penilaian dapat menghasilkan rujukan terhadap pencapaian mahasiswa dalam aspek kognitif, sikap, dan keterampilan, sehingga dapat menghasilkan profil siswa secara utuh. Semua penilaian itu tertuju pada satu kata, “mutu”. Mutu dalam pengertian awam adalah kesesuaian antara kondisi hasil didik dengan keinginan dan kebutuhan stakeholder (pihak-pihak 22

berkepentingan dengan) pendidikan. Pihak yang paling berkepentingan dengan hasil didik adalah orang tua peserta didik dan para calon pemakai hasil didik. Calon pemakai hasil didik dapat berupa industri dan lembaga-lembaga bisnis, instansi pemerintahan, dan masyarakat dalam arti luas. F. Sumber Bacaan Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. Academic Ranking of World Universities by Shanghai Jiao Tong University (China), http://ed.sjtu.edu.cn/rank/2004/top500list.htm. Diakses : 5 Desember 2004-12-06

International Institute for Management development, World Competitiveness Yearbook 2004. http://www02.imd.ch/wcy. Diakses : 6 Desember 2004. Kepmendiknas No. 232/U/2000, Tentang Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi. Marre, Katy E. Tanpa Tahun, Continuous Quality Improvement Perspective in the Self-Study. Dayton, Ohio: Associate Vice President for Graduate Studies & Research University of Dayton Dayton,Ohio Mukhlisah, 2004. Strategi Penjaminan Mutu Pendidikan. http://www.pikiranrakyat.com. Diakses: 24 Nopember 2004. ----------, 2003. Beberapa Teknik Evaluasi http://www.sabda.org. Diakses: 24 Nopember 2004.

Belajar.

World University Ranking by The Times Higher Education Supplement (U.K.), http://www.thes.co.uk/worldrankings/ . Diakses : 5 Desember 2004-12-06 Ranking by CEST (Switzerland), http://adminsrv3.admin.ch/cest_ccs/. Diakses : 5 Desember 2004-12-06. Rustam Sehar, Evaluasi Hasil Belajar, Makalah Seminar KBK Unimed, 30 September 2004.

23

Related Documents


More Documents from "Indra Maipita"