KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat serta karunianya-Nya kami dapat menyalesaikan makalah ini guna memenuhi tugas dari mata kuliah Keperawatan Anak ”Asuhan Keperawatan pada anak dengan Autisme”. Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya.Akhirnya kami ucapkan terimakasih dan semoga saja makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Jogyakarta,12 februari 2019
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................
i
DAFTAR ISI .................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................
1
A. Latar Belakang ..............................................................................
1
B. Rumusan Masalah.............................................................. ............
1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................
2
D. Manfaat Penulisan........................................................... ...............
2
BAB II PEMBAHASAN ..............................................................................
3
A. Defenisi .......................................... ...............................................
3
B. Etiologi .......................................... ...............................................
4
C. Patofisiologi........................................................................... ........
7
D. Manifestasi klinis ............................................................... ...........
9
E. Penatalaksanaan..............................................................................
12
F. Pemeriksaan Diagnostik................... ..............................................
13
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN........................................................ .
15
BAB IV PENUTUP .......................................................................................
21
A. Kesimpulan ...................................................................................
21
B. Saran ..............................................................................................
21
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
22
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Autisme adalah perkembangan kekacauan otak dan gangguan pervasif yang di tandai dengan terganggunya interaksi sosial, keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi social, gangguan dalam perasaan sensoris, serta tingkah laku yang berulang – ulang. Gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis dan marah – marah sendiri. Gejala autisme dapat terdeteksi pada usia sebelum 3 tahun. (Huzaemah, 2010) Berbagai pendekatan, metode, teknik, dan treatmen dikembangkan untuk membantu anak – anak penyandang autisme dari mulai terapi modifikasi tingkah laku, wicara, makanan makanan yang dikonsumsi, farmakoterapi, cognitive, bahkan sampai pada masalah sensori yang dialami oleh penyandang auitsme. Dari beberapa jenis terapi yang telah diimplementasikan secara meluas, ada yang melibatkan peran serta orang tua. Ada terapi yang memerlukan bantuan ahli atau terapis dan ada juga yang dilakukan sendiri oleh orang tua di rumah. Banyak hal yang bisa dan harus dilakukan orang tua anak autis. Berdasarkan uraian diatas, penulis akan membahas asuhan keperawatan pada anak dengan autisme.
B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan autisme ? 2. Apa yang etiologi autisme ? 3. Bagaimana patofisiologi autisme ? 4. Apa saja manifestasi klinis autisme pada anak ? 5. Apa saja penatalaksanaan autisme pada anak ? 6. Bagaimana pemeriksaan diagnostic autisme pada anak?
1
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan autisme ?
C. Tujuan Masalah 1.
Tujuan Umum Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada anak dengan autisme
2. Tujuan Khusus Penulisan makalah ini bertujuan untuk agar mahasiswa mengetahui dan memahami: a.
Defenisi autisme
b. Etiologi autisme c. Patofisiologi autisme d. Manifestasi klinis autisme e. Penatalaksanaan autisme f. Pemeriksaan Diagnostik autisme g. Asuhan keperawatan pada anak dengan autisme
D. Manfaat Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk melatih dan menambah
pengetahuan
tentang
anak
autis. Dan
diharapkan
agar
mahasiswa/mahasiswi dapat membuat asuhan keperawatan pada anak dengan autisme. Disamping itu juga sebagai syarat dari tugas mata kuliah keperawatan anak 1 yang berjudul Asuhan keperawatan pada anak dengan autisme
2
BAB II PEMBAHASAN
A. DEFENISI Secara harfiah autisme berasal dari kata autos ( diri ) sedangkan isme ( paham/aliran). Autisme secara etimologi adalah anak yang memiliki gangguan perkembangan
dalam
dunianya
sendiri.
Beberapa
pengartian
autis
menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pada anak, mengalami kesendirian, kecenderungan menyendiri. (Leo kanker handojo, 2003 )
Autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Dimana gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku “Sumber dari Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austistik”. ( American PsychiaticAssociation 2000 )
Autisme adalah adanya
gangguan dalam bidang Interaksi sosial,
komunikasi, perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan perkembangan terlambat atau tidak normal. Autisme mulai tampak sejak lahir atau saat masi bayi ( biasanya sebulum usia3 tahun ). “Sumber dari Pedoman Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa” (PPDGJ III)
Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan anak tersebut terisolasi dari anak yang lain. (Baron-Cohen, 1993). Jadi anak autisme merupakan anak yang mengalami gangguan perkembangan yang sangat kompleks yang dapat diketahui sejak umur sebelum 3 tahun mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial serta perilakunya.
Anak autisme dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu: a. Segi pendidikan : anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan komunikasi, sosial, perilaku pada anak sesuai dengan
3
kriteria DSM-IV sehingga anak ini memerlukan penanganan/layanan pendidikan secara khusus sejak dini. b. Segi medis : anak autis adalah anak yang mengalami gangguan/kelainan otak yang menyebabkan gangguan perkembangan komunikasi, sosial, perilaku sesuai dengan kriteria DSM-IV sehingga anak ini memerlukan penanganan/terapi secara klinis. c. Segi psikologi : anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang berat bisa ketahui sebelum usia 3 tahun, aspek komunikasi sosial, perilaku, bahasa sehingga anak perlu adanya penanganan secara psikologis. d. Segi sosial anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan berat dari beberapa aspek komunikasi, bahasa, interaksi sosial, sehingga anak ini memerlukan bimbingan ketrampilan sosial agar dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Jadi Anak Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang bersifat pervasive (inco) yaitu meliputi gangguan kognitif, bahasa, perilaku,komunikasi, dan gangguan interaksi sosial, sehingga ia mempunyai dunianya sendiri.
B. ETIOLOGI Penyebab autisme menurut banyak pakar telah disepakat bahwa pada otak anak autisme dijumpai suatu kelainan pada otaknya. Apa sebabnya sampai timbul kelainan tersebut memang belum dapat dipastikan. Banyak teori yang diajukan oleh para pakar, kekurangan nutrisi dan oksigenasi, serta akibat polusi udara, air dan makanan. Diyakini bahwa ganguan tersebut terjadi pada fase pempentukan organ (organogenesis) yaitu pada usia kehamilan antara 0 ± 4 bulan. Organ otak sendiri baru terbentuk pada usia kehamilan setelah 15 minggu. Dari penelitian yang dilakukan oleh para pakar dari banyak negara diketemukan beberapa fakta yaitu 43% penyandang autisme mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan anak cuek terhadap lingkungannya. Kelainan juga ditemukan pada otak kecil (cerebellum), terutama pada lobus ke VI dan VII. Otak kecil bertanggung jawab atas proses sensoris,
4
daya ingat, berfikir, belajar berbahasa dan proses atensi (perhatian).Juga didapatkan jumlah sel Purkinye di otak kecil yang sangat sedikit, sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan dopamine, akibatnya terjadi gangguan atau kekacauan impuls di otak. Ditemukan pula kelainan yang khas di daerah sistem limbik yang disebut hippocampus. Akibatnya terjadi gangguan fungsi control terahadap agresi dan emosi yang disebabkan oleh keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autister kandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, seringkali terlalu agresif atau sangat pasif. Hippocampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat.Terjadilah kesulitan penyimpanan informasi baru. Perilaku yang diulang-ulang yang aneh dan hiperaktif juga disebabkan gangguan hippocampus. Faktor genetika dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel – sel saraf dan sel otak, namun diperkirakan menjadi penyebab utama dari kelainan autisme, walaupun bukti-bukti yang konkrit masih sulit ditemukan. Diperkirakan masih banyak faktor pemicu yang berperan dalam timbulnya gejala autisme. Pada proses kelahiran yang lama (partus lama) dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin dapat memicu terjadinya austisme. Bahkan sesudah lahir (post partum) juga dapat terjadi pengaruh dari berbagai pemicu, misalnya : infeksi ringan sampai berat pada bayi. Pemakaian antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan tumbuhnya jamur yang berlebihan dan menyebabkan terjadinya kebocoran usus (leaky getsyndrome) dan tidak sempurna nya pencernaan protein kasein dan gluten. Kedua protein ini hanya terpecah sampai polipeptida. Polipeptida yang timbul dari kedua protein tersebut terserap ke dalam aliran darah dan menimbulkan efek morfin pada otak anak. Dan terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak terpenuhi karena faktor ekonomi.
5
Penyebab Autisme diantaranya : a. Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot) terutama pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan kemampuan bicara). b.
Kelainan kromosom (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).
c. Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti). d. Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan tidak menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf, perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan. e. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan sensori serta kejang epilepsi f. Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak g. Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh Pada masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur anak, anak tidak berespon saat diangkat dan tampak lemah. Tidak adanya kontak mata, memberikan kesan jauh atau tidak mengenal. Bayi yang lebih tua memperlihatkan rasa ingin tahu atau minat pada lingkungan, bermainan cenderung tanpa imajinasi dan komunikasi pra verbal kemungkinan terganggu dan tampak berteriak-teriak. h. Pada masa anak-anak dan remaja, anak yang autis memperlihatkan respon yang abnormal terhadap suara anak takut pada suara tertentu, dan tercengggang pada suara lainnya. Bicara dapat terganggu dan dapat mengalami kebisuan. Mereka yang mampu berbicara memperlihatkan kelainan ekolialia dan konstruksi telegramatik. Dengan bertumbuhnya anak pada waktu berbicara cenderung menonjolkan diri dengan kelainan intonasi dan penentuan waktu. Ditemukan kelainan persepsi visual dan fokus konsentrasi pada bagian prifer (rincian suatu lukisan secara sebagian bukan menyeluruh). Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas panca indera penciuman, kecap dan raba ketika mengeksplorasi lingkungannya.
6
C. PATOFISIOLOGI Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat dilapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak. Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit,dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak. Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autisme terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
7
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain.Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya selPurkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada system saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atausebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematiansel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan karena ibu mengkomsumsi makanan yang mengandung logam berat. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide. Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motorik, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Menurut kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperandalam proses memori). Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat. Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan.
8
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal Meliputi kemampuan berbahasa dan mengalami keterlambatan atau sama
sekali
tidak
dapat
bicara.
Menggunakan
kata-kata
tanpa
menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-katanya tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Ekolalia (meniru atau membeo), meniru kata, kalimatatau lagu tanpa tahu artinya. Bicara monoton seperti robot. 2. Gangguan dalam bidang interaksi social Meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknnya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh. 3. Gangguan dalam bermain Diantaranya bermain sangat monoton dan aneh, misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kedekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja diapergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, gelang karet, baterai atau benda lainnya. Tidak spontan, reflaks dan tidak berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura-pura. Sering memperhatikan jari- jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi, sulit mengubah rutinitas sehari-hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.
9
4. Gangguan perilaku Dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datangi, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari dan berlari-lari tentu arah.Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti dirinya sendiri seperti memukul kepala didinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong denagn tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya. 5. Gangguan perasaan dan emosi Dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak. Tidak dapt berbagi perasaan (empati) dengan anak lain. 6. Gangguan dalam persepsi sensori Meliputi
perasaan
sensitif
terhadap
cahaya
(penglihata),
pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilatatau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai pelukan, bila digendong sering merosotatau melepaskan diri dari pelukan. 7. Intelegensi Dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara fungsional. Kecerdasan sering diukur melalui perkembangan nonverbal, karena terdapat gangguan bahasa. Didapatkan IQ dibawah 70 dari 70% penderita, dan dibawah 50 dari 50%. Namun sekitar 5% mempunyai IQ
10
diatas 100. Anak autis sulitmelakukan tugas yang melibatkan pemikiran simbolis atau empati. Namun adayang mempunyai kemampuan yang menonjol di suatu bidang, misalnya matematika atau kemampuan memori.
Ciri yang khas pada anak yang austik : a. Defisit keteraturan verbal b. Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik c. Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau dipikirkan orang lain). Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah: a. Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal b. Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal c. Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel dan tidak imajinatif. Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.
Tanda autis berbeda pada setiap interval umurnya :
Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi tegang bila diangkat ,cuek menghadapi orang tuanya, tidak bersemangat dalam permainan sederhana (ciluk baa atau kiss bye), anak tidak berupaya menggunakan kat-kata. Orang tua perlu waspada bila anak tidak tertarik pada boneka atau binatang mainan untuk bayi, menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila anak terlihat tertarik pada kedua tangannya sendiri.
Pada usia 2-3 tahun dengan gejala suka mencium atau menjilati bendabenda, disertai kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain sebagai benda atau alat, menolak untuk dipeluk, menjadi tegang atau sebaliknya tubuh menjadi lemas, serta relatif cuek menghadapi kedua orang tuanya.
Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak merasa sangat terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari. Bila anak akhirnya mau berbicara, tidak jarang bersifat ecolalia (mengulang-ulang apa yang diucapkan orang lain segera atau setelah beberapa lama), dan
11
anak tidak jarang menunjukkan nada suara yang aneh, (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata terbatas (walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa juga berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri.
E. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan dibagi dua yaitu penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan keperawatan : 1. Penatalaksanaan Medis Umumnya terapi yang diberikan ialah terhadap gejala, edukasi dan penerangan kepada keluarga, serta penanganan perilaku dan edukasi bagi anak. Manajemen yang efektif dapat mempengaruhi outcome. Intervensi farmakologi, yang saat ini dievaluasi, mencakup obat fenfluramine, lithium, haloperidol dan naltrexone. Terhadap gejala yang menyertai. Terapi anak dengan autisme membutuhkan identifikasi diri. Intervensi edukasi yang intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih baik, peran serta orang tua dapat meningkat prognosis.Terapi perilaku sangat penting untuk membantu para anak autis untuk lebih bias menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan saja guru yang harus menerapkan terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap anggota keluarga di rumah harus bersikap sama dan konsisten dalam menghadapi anak autis. Terapi peilaku terdiri dari tetapi wicara, terapi okupasi, dan menghilangkan perilaku yang asosial. Dalam terapi farmakologi dinyatakan belum ada obat atau terapi khusus yang menyembuhkan kelainan ini. Medikasi (terapi obat) berguna terhadap gejala yang menyertai, misalnya haloperidol, risperidone dan obat anti-psikotik teradap perilaku agresif, ledakan-ledakan perilaku, instabilitas mood (suasana hati). Obat antidepresi jenis SSRI dapat digunakan terhadap ansietas, kecemasan,
mengurangi
stereotip
dan
perilaku
perseveratif
dan
mengurangi ansietas dan fluktuasi mood. Perilaku mencederai diri sendiri dan mengamuk kadang dapat diatasi dengan obat naltrexone.
12
2. Penatalaksanaan Keperawatan Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk: 1. Mengurangi masalah perilaku. 2. Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. menagement perilaku dapat mengubah perilaku destruktif danagresif. 3. Meningkatkan
kemampuan
belajar
dan
perkembangan
terutama bahasa.Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif (hukuman). 4. Anak
bisa
mandiri
dan bersosialisasi.
Mengembangkan
ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti
dari
berbagai
kombinasi
gangguan
perkembangan.
Bila
tes-tes
secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 1:5 anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak diaatas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka.
13
The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tesscreening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
1.
Pengkajian > Kaji riwayat kehamilan ibu,nutrisi saat hamil dan terjadi ganguan pada saat hamil atau tidak. > Kaji riwayat partum dan post partum > Uji perkembangan * Psikososial
Menarik diri dan tidak responsive terhadap orang tua
Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem
Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek
Perilaku menstimulasi diri
Pola tidur tidak teratur
Permainan stereotip
Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
Tantrum yang sering
Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan
Kemampuan bertutur kata menurun
Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus * Neurologis
Respons yang tidak sesuai terhadap stimulasi
Reflex mengisap buruk
Tidak mampu menangis ketika lapar * Gastrointestinal
Penurunan nafsu makan
penurunan berat badan * Gangguan tingkah laku
Gangguan komunikasi verbal dan nonverbal.contoh:sulit bicara atau bicara berulang-ulang
Gangguan pola bermain.contohnya:tidak suka bermain dengan teman sebaya 15
Gangguan sensori,seperti tidak sensitive terhadap rasa sakit/takut
Gangguan respon emosi.contoh:sering marah-marah dan tertawa tanpa alas an
2.
Gangguan interaksi social
Diagnosa Keperawatan a. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulasi b. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat inap di rumah sakit c. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan
3.
Intervensi Keperawatan a. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulasi Hasil yang diharapkan : Anak mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan tubuh yang sederhana,konkret; bayi dengan efektif dapat mengomunikasikan kebutuhannya (keinginan akan makan, kenyamanan, dan sebagainya). INTERVENSI
RASIONAL
Ketika
berkomunikasi
Kalimat
dengan
anak,bicaralah
diulang-ulang
yang
sederhana
dan
mungkin
dengan kalimat singkat yang
merupakan
terdiri atas satu hingga tiga
berkomunikasi karena anak yang
kata,dan
autistic mungkin tidak mampu
ulangi
perintah
sesuai yg diperlukan.
satu-satunya
mengembangkan
cara
tahap
operasional yang konkret Gunakan
irama,music,dan
Gerakan
gerakan
tubuh
membantu
membantu
untuk
perkembangan
fisik anak
dan
suara
mengenali
integritas tubuh serta batasan-
16
komunikasi
sampai
anak
batasannya
dapat memahami bahasa.
sehingga
mendorongnya terpisah dari objek dan orang lain.
Bantu
anak
mengenali
Memahami konsep penyebab dan
hubungan antara sebab akibat
efek membantu anak membangun
dengan cara menyebutkan
kemampuan untuk terpisah dari
perasaannya yang khusus dan
objek
mengidentifikasi
mendorongnya mengekspresikan
penyebab
serta
orang
lain
dan
stimulus bagi mereka.
kebutuhan serta perasaannya.
Ketika
berkomunikasi
Biasanya
anak
dengan
anak,bedakan
mampu
membedakan
dengan
realitas
kenyataan fantasi,dalam
pernyataan
untuk
yang singkat dan jelas.
dan
autistic
tidak antara
fantasi,dan
mengenali
gagal
nyeri
atau
sensasi lain serta peristiwa hidup dengan cara yang bermakna.
b.
Sentuh dan gendong bayi,
Menyentuh
dan
menggendong
tetapi semampu yang dapat
mungkin tidak membuat bayi
ditoleransi
yang autistic merasa nyaman
Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan
dengan rawat inap di rumah sakit Hasil yang diharapkan : Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku merusak diri sendiri,yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau destruksi berkurang,serta peningkatan kemampuan mengatasi frustasi. INTERVENSI Sediakan kondusif
RASIONAL lingkungan
dan
sebanyak
mungkin rutinitas sepanjang
17
anak yang autistic dapat berkembang
melalui
lingkungan yang kondusif
periode perawatan di rumah
dan rutinitas,dan biasanya
sakit.
tidak
dapat
beradaptasi
terhadap perubahan dalam hidup mereka. Lakukan
intervensi
keperawatan
dalam
Sesi
yang
singkat
dan
sesi
sering memungkinkan anak
singkat dan sering.Dekati
mudah mengenal perawat
anak dengan sikap lembut
serta
dan bersahabat,dan jelaskan
sakit.Mempertahankan
apa yang akan anda lakukan
sikap
dengan
mendemonstrasikan
kalimat
yang
jelas,dan sederhana.
lingkungan
rumah
tenang,ramah,dan
prosedur
pada
orang
tua,dapat membantu anak menerima intervensi. Gunakan selama
restrain
fisik
Restrain
fisik
dapat
prosedur
ketika
mencegah
membutuhkannya,
untuk
tindakan mencederai diri
memastikan keamanan anak
sendiri.Biarkan anak terlibat
dan
dalam perilaku yang tidak
untuk
mengalahkan
anak
dari
amarah dan frustasinya.
terlalu membahayakan.
Gunakan teknik modifikasi
Pemberian
perilaku yang tepat untuk
hukuman dapat membantu
menghargai perilaku positif
mengubah
dan menghukum perilaku
dan
yang negative.
kekerasan.
Ketika
anak
berperilaku
imbalan
perilaku
mencegah
dan
anak
episode
Setiap peningkatan perilaku
destruktif, tanyakan apakah
agresif
ia mencoba menyampaikan
perasaan stress meningkat,
sesuatu untuk dimakan atau
kemungkinan muncul dari
diminum atau apakah ia
kebutuhan
18
menujukkan
untuk
perlu pergi ke kamar mandi
mengkomunikasikan sesuatu
c.
Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan
Hasil yang diharapkan : Orang tua mendemonstrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang ditandai oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat serta bantuan. INTERVENSI
RASIONAL
Anjurkan orang tua untuk
Membiarkan
mengekspresikan
mengekspresikan perasaan
perasaan dan
dan kekhawatiran mereka
kekhawatiran
mereka.
tentang
orang
kondisi
tua
kronis
anak membantu mereka beradaptasi
terhadap
frustasi dengan baik. Rujuk orang tua ke kelompok
Kelompok
pendukung
pendukung autism setempat
memperbolehkan
dan ke sekolah khusus jika
tua menemui orang tua
diperlukan.
dari
anak
menderita berbagi
orang
lain
yang
autis
untuk
informasi
memberikan
dan
dukungan
emosional. Anjurkan orang tua untuk
Kontak dengan kelompok
mengikuti konseling
swabantu membantu orang tua memperoleh informasi tentang
masalah
terkini,dan perkembangan yang berhubungan dengan autisme
19
4. IMPLEMENTASI Setelah rencana disusun , selanjutnya diterapkan dalam tindakan yang nyata untuk mencapai hasil yang diharapkan. Tindakan harus bersifat khusus agar semua perawat dapat menjalankan dengan baik, dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam implementasi keperawatan perawat langsung melaksanakan atau dapat mendelegasikan kepada perawat lain yang dipercaya. 5. EVALUASI Merupakan tahap akhir dimana perawat mencari kepastian keberhasilan yang dibuat dan menilai perencanaan yang telah dilakukan dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika yang ditetapkan belum tercapai dalam proses keperawatan.
BAB IV PENUTUP 20
A. Kesimpulan Autisme suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh gejala– gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuaninteraksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasitimbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakanberulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajarterhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Sampai saat inipenyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu adanyaperubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang berhubungandengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter, danakhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dalamkemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan, tetapi padahubungan sosial dan respon anak terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan dunianya sendiri. Dan cenderung suka mengamati hal – hal kecil yang bagi orang lain tidak menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yangmenarik. Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan normalseperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
B. Saran Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca ksususnya bagi mahasiswa-mahasiswi Poltekkes Kemenkes Padang dapat memahami asuhan keperawatan pada anak dengan autisme dan khususnya bagi orang tua yang memiliki anak autisme.
DAFTAR PUSTAKA
21
Aziz Alimul.2006. Pengantar Ilmu Keperawatan 2. Edisi pertama. Jakarta : Salemba Medika Betzz, Cicilia. 2002. Keperawataan Pediatric. Jakarta : EGC Behrman, Kliegman, Arvin, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Alih Bahasa Prof. DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K), EGC, Jakarta Hidayat, A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Ed.2. Jakarta : Salemba Medika Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
22