Proposal Ta Elistia Pt. Pamapersada.docx

  • Uploaded by: Elistia Falupi
  • 0
  • 0
  • December 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Proposal Ta Elistia Pt. Pamapersada.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 2,354
  • Pages: 23
ANALISIS POTENSI TERJADINYA SWABAKAR PADA TEMPORARY STOCKPILE DI PT. PAMAPERSADA NUSANTARA KABUPATEN KAPUAS KALIMANTAN TENGAH PROPOSAL SKRIPSI

OLEH : ELISTIA TRI FALUPI DBD 115 013

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN / PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN 2019

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi ini dengan baik. Judul penelitian yang penulis ajukan kepada PT. Pamapersada Nusantara adalah Analisis Potensi Terjadinya Swabakar pada Temporary Stockpile. Proposal ini dibuat penulis dengan topik dan waktu yang telah ditentukan, jika terdapat saran topik maupun waktu yang tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan maka penulis menerima saran dan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan hal positif bagi perusahaan tempat dilaksanakannya penelitian dan juga bagi penulis selaku pelaksana penelitian.

Palangka Raya, Maret 2019

Penulis

Data Diri

Nama

: Elistia Tri Falupi

NIM

: DBD 115 013

Tempat, Tgl Lahir

: Palangka Raya, 7 September 1997

Status

: Belum Menikah

Kebangsaan

: Indonesia

Alamat Asal

: Jl. Jatayu Raya Tjilik Riwut km.8 Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.

Alamat Domisili

: Jl. Jatayu Raya Tjilik Riwut km.8 Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.

HP

: 0895615882605

Email

: [email protected]

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Judul

“Analisis Potensi Terjadinya Swabakar pada Area Stockpile di PT. Pamapersada Nusantara Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah”

1.2

Latar Belakang Permasalahan PT. Pamapersada Nusantara merupakan suatu perusahaan yang bergerak

pada sektor tambang batubara. Batubara yang diproduksi oleh PT. Pamapersada Nusantara digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri maupun untuk eksport kebutuhan konsumen luar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan para konsumen tersebut, batubara yang diproduksi harus sesuai dengan permintaan maupun prasyarat yang diinginkan konsumen. Dalam hal ini terutama adalah kualitas batubara harus sesuai dengan standart kualitas yang telah disepakati. Untuk menjaga kualitas dari batubara setelah ditambang, maka harus diperhatikan teknis penimbunannya. Salah satu masalah pada timbunan batubara adalah penjadwalan pembongkaran batubara di temporary stockpile dimana hal tersebut dapat memicu

gejala swabakar pada timbunan batubara yang sudah

terlalu lama di area stockpile. Swabakar pada area stockpile

menyebabkan

kerugian bagi perusahaan karena batubara tidak akan bernilai ekonomis lagi untuk dipasarkan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mencegah potensi terjadinya swabakar pada area stockpile.

1.3

Rumusan Masalah 1.

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya swabakar pada temporary stockpile di PT. Pamapersada Nusantara?

2.

Bagaimana upaya pencegahan dan penanggulangan terjadinya swabakar?

3.

Bagaimana dimensi ukuran stockpile yang baik untuk diterapkan di PT. Pamapersada Nusantara?

1.4

Maksud dan Tujuan 1.4.1 Maksud Adapun maksud pelaksanaan Tugas Akhir ini adalah untuk menganalis Potensi Terjadinya Swabakar di PT. Pamapersada Nusantara Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. 1.4.2 Tujuan 1. Mengetahui faktor penyebab terjadinya swabakar. 2. Mengetahui cara pencegahan dan penanggulangan swabakar. 3. Mengetahui dimensi ukuran stockpile yang baik untuk diterapkan di PT. Pamapersada Nusantara.

1.5

Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengetahui bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi swabakar PT. Pamapersada Nusantara 2. Perusahaan Manfaat penelitian bagi perusahaan adalah sebagai identifikasi kondisi tumpukan stockpile dan mendapatkan masukan untuk desain tumpukan stockpile.

1.6

Batasan Masalah 1. Hanya melakukan penelitian pada jenis tumpukan yang diterapkan PT. Pamapersada Nusantara 2. Tidak Melakukan Uji Parameter Kualitas Batubara.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1

Manajemen Stockpile Manajemen stockpile adalah proses pengaturan atau prosedur yang terdiri dari pengaturan kualitas dan prosedur penimbunan batubara di stockpile. Manajemen stockpile merupakan suatu upaya agar batubara yang diproduksi dapat dikontrol, dari kualitasnya maupun kuantitasnya. Selain itu manajemen stockpile juga dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang mungkin muncul dari proses handling atau penanganan batubara di stockpile. Seperti misalnya terjadi penyusutan kuantitas batubara baik yang diakibatkan oleh erosi pada musim hujan , debu pada musim kering, atau terbuang yang disebabkan oleh terbakarnya batubara di stockpile. Terdapat 2 jenis sistem manajemen stockpile, diantaranya : 1.

Sistem LIFO (Last In First Out) yaitu di mana batubara yang terakhir kali ditimbun paling awal diambil. Pada sistem ini kegiatan penimbunan dilakukan sesuai dengan jadwal akan tetapi kegiatan pembongkaran timbunan dilakukan pada batubara yang terakhir ditimbun, sehingga pola ini memungkinkan batubara tertimbun lebih lama.

2.

Sistem FIFO (First In First Out) yaitu di mana batubara yang pertama kali ditimbun pertama kali diambil. Manajemen FIFO di setiap stockpile baik di perusahaan tambang batubara maupun di end user harus diusahakan terlaksana karena akan mencegah risiko terjadinya pembakaran spontan di stockpile. Hal ini dikarenakan semakin lama

batubara terekspose

di

udara semakin besar

kemungkinannya batubara tersebut mengalami oksidasi yang berarti pula semakin besar kemungkinan terjadinya self heating sampai terjadinya pembakaran spontan. Biasanya manajemen FIFO ini terkendala dengan masalah kualitas. Ada kalanya batubara yang sudah ditimbun pertama kali di stockpile tidak dapat dimuat atau diambil karena alasan kualitas yang tidak memenuhi. Namun demikian setiap kesempatan manajemen FIFO ini tetap harus diprioritaskan dilakukan pada saat tidak ada alasan kualitas karena di antara langkah pencegahan yang lain, manajemen FIFO adalah yang paling murah.

2.2

Swabakar (Spontaneous Combustion) Menurut Sukandarrumidi (2004), Batubara dapat terbakar dengan sendirinya setelah mengalami beberapa proses yang bertahap, yaitu: 1. Mula-mula batubara akan menyerap oksigen dari udara secara perlahan-lahan dan kemudian temperatur batubara akan naik.

2. Sebagai akibat temperatur naik, kecepatan batubara menyerap oksigen dari udara bertambah dan temperatur kemudian akan mencapai 1001400C. 3. Setelah mencapai temperatur 1400 C, uap dan CO2 akan terbentuk. 4. Sampai temperatur 2300C isolasi CO2 akan berlanjut. 5. Bila temperatur telah berada diatas 3500C, ini berarti batubara telah mencapai titik solutnya dan akan cepat terbakar.

2.3

Penyebab Terjadinya Swabakar Batubara

merupakan

bahan

bakar

organik

dan

apabila

bersinggungan langsung dengan udara dalam keadaan temperatur tinggi (misalnya musim kemarau yang berkepanjangan) akan terbakar sendiri. Keadaan ini akan dipercepat oleh : a. Reaksi eksothermal (uap dan oksigen di udara). Hal ini yang paling sering terjadi b.Bakteria c. Aksi katalis dari benda-benda anorganik

Sedangkan

penyebab

kemungkinan

terjadinya

swabakar

(spontaneous combustion) yang utama, yaitu karbonisasi yang rendah (low carbonization) dan kadar belerang batubara yang tinggi (> 2 %) dengan ambang batas kadar belerang sebaiknya 1,2 %. Selain itu, menurut

Gerrard Widodo (2009), terdapat pula faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya swabakar pada penimbunan batubara, antara lain : 1. Lamanya Penimbunan Semakin lama batubara tertimbun akan semakin banyak panas yang tersimpan di dalam timbunan, karena volume udara yang terkandung dalam timbunan semakin besar, sehingga kecepatan oksidasi menjadi semakin tinggi. 2. Metode Penimbunan Dalam timbunan batubara perlu mendapatkan pemadatan. Dengan adanya pemadatan ini akan dapat menghambat proses terjadinya swabakar batubara, karena ruang antar butir diantara material batubara berkurang. 3. Kondisi Penimbunan •

Tinggi Timbunan Tinggi timbunan yang terlalu tinggi akan menyebabkan semakin banyak panas yang terserap. Hal ini dikarenakan sisi miring yang terbentuk akan semakin panjang sehingga daerah yang tak terpadatkan akan semakin luas. Akibatnya permukaan yang teroksidasi semakin besar. Untuk batubara bituminous yang ditimbun lebih dari 30 hari sebaiknya tinggi timbunan maksimum 6 meter. Sedangkan untuk timbunan batubara lignit lebih dari 14 hari tinggi timbunan maksimum 4 meter



Ukuran Butir Pada dasarnya semakin besar luas permukaan yang berhubungan langsung dengan udara luar maka semakin cepat pula terjadinya swabakar. Sebaliknya semakin besar ukuran bongkah batubara semakin semakin lambat untuk terjadi swabakar. Ukuran butir batubara juga mempengaruhi kecepatan dari proses oksidasi. Semakin seragam besar ukuran butir dalam suatu timbunan batubara, semakin besar pula porositas yang dihasilkan dan akibatnya semakin besar permeabilitas udara luar untuk dapat beredar di dalam timbunan batubara.



Sudut Timbunan Adalah sudut yang dibentuk oleh suatu tumpukan batubara pada timbunan (stockpile). Sudut tersebut sebaiknya lebih kecil dari angle of repose timbunan batubara. Pada umumnya material yang berukuran kasar memiliki angle of repose yang lebih besar bila dibandingkan dengan material berukuran halus. Sudut timbunan batubara pada stockpile yang cukup ideal yaitu 380. (Tabel 2.1)

TABEL 2.1 ANGLE OF REPOSE BEBERAPA MATERIAL Material

Angle of Repose

Clay , dari tambang Coal , dari tambang Graver , dari tambang Limestone , dari tambang Bijih mangan Batuan, bongkah Pasir, kering (Sumber : Andri Hermawan, 2001)

30 – 40 38 38 30 – 40 39 20 – 29 35

4. Parameter Batubara Parameter batubara yang mempengaruhi proses terjadinya swabakar adalah kandungan air total (total moisture), terdiri atas kandungan air bebas (free moisture) dan kandungan air bawaan (inherent moisture), zat terbang (volatile matter), dan indeks ketergerusan (HGI). Batubara yang mempunyai kandungan moisture yang lebih tinggi lebih rentan mengalami pembakaran sendiri (swabakar) apabila dibandingkan dengan batubara dengan kandungan moisture yang lebih rendah (Umar, 2012). 5. Suhu Swabakar Semua jenis batubara mempunyai kemampuan untuk terjadinya proses swabakar, tetapi waktu yang diperlukan dan besarnya suhu yang dibutuhkan untuk proses swabakar batubara ini tidak sama. Untuk batubara yang mempunyai kelas rendah memerlukan waktu yang lebih

pendek dan suhu yang lebih rendah bila dibandingkan dengan batubara yang mempunyai kelas yang tinggi.

2.3

Sistem Penumpukan dan Pola Penimbunan Sistem penumpukan batubara harus diatur sedemikian rupa agar segresi atau pemisahan stock berdasarkan perbedaan kualitas dapat dilakukan dengan baik dan juga tumpukan tesebut dapat meminimalkan resiko terjadinya pembakaran spontan di stockpile. Menurut Anne M Carpenter, (1999) hal ini dapat dilakukan dengan cara menumpuk batubara memanjang searah dengan arah angin agar permukaan tumpukan batubara yang menghadap ke arah datangnya angin menjadi kecil.

Arah Angin

Gambar 2.1 Tumpukan Batubara terhadap Arah Mata Angin

Selain penumpukan dibuat sejajar dengan arah angin, untuk penyimpanan batubara yang relatif lama, bagian permukaan

yang

menghadap ke arah angin harus dipadatkan dan sudut lerengnya diperkecil. Pemadatan terhadap seluruh permukaan dapat dilakukan

apabila batubara tersebut akan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Menurut G. Okten, Storage of Coal Problem and Precaution, terdapat beberapa macam pola penimbunan diantaranya antara lain sebagai berikut :

a. Cone ply merupakan pola dengan bentuk kerucut pada salah satu ujungnya sampai tercapai ketinggian yang dikehendaki dan dilanjutkan menurut panjang stockpile. Pola ini menggunakan alat curah, seperti stacker reclaimer.

Gambar 2.2 Pola Penimbunan Cone Ply

b. Chevron merupakan pola dengan menempatkan timbunan satu baris material, sepanjang stockpile dan tumpukan dengan cara bolak-balik hingga mencapai ketinggian yang diinginkan. Pola ini baik untuk alat curah seperti belt conveyor atau stacker reclaimer.

Gambar 2.3 Pola Penimbunan Chevron

c. Chevcon merupakan pola penimbunan dengan kombinasi antara pola penimbunan chevron dan pola penimbunan cone ply.

Gambar 2.4 Pola Penimbunan Chevcon d. Windrow merupakan pola dengan tumpukan dalam baris sejajar sepanjang lebar stockpile dan diteruskan sampai ketinggian yang dikehendaki tercapai. Umumnya alat yang digunakan adalah backhoe, bulldozer, dan loader.

Gambar 2.4 Pola Penimbunan Windrow

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Metode Secara Umum Metode yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada metode pengamatan aktual lapangan yang bertujuan untuk mendapatkan data – data yang dibutuhkan. Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap penyusunan laporan akhir. Adapun pekerjaan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan penyusunan usulan tugas akhir. Sasaran utama studi pendahuluan ini adalah gambaran umum daerah penelitian. Studi literatur dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang kegiatan penelitian, yang diperoleh dari : a. Instansi terkait b. Perpustakaan c. Informasi penunjang lainnya 2. Pengamatan Lapangan Pengamatan di lapangan ditujukan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan secara langsung di lapangan. Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran.

3. Pengolahan Data Pengolahan data hasil penelitian dilakukan dengan perhitungan berdasarkan teori yang ada dan data hasil penelitian. 4. Analisa data Dari rumusan-rumusan yang telah didapat kemudian dilakukan analisa untuk menemukan jawaban atas pertanyaan perihal rumusan dan hal-hal yang diperoleh dalam penelitian. 5. Kesimpulan Hasil sintesis data keseluruhan dirangkum ke dalam laporan tertulis untuk dipertanggungjawabkan dalam bentuk laporan hasil penelitian skripsi.

3.2

Metode Pengambilan Data Cara pengumpulan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi: 1. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data-data dari literaturliteratur dan media internet tentang kestabilan lereng. 2. Observasi lapangan, yaitu pengamatan di lapangan kondisi lereng yang menjadi objek penelitian. 3. Konsultasi dengan instruktur lapangan serta orang-orang yang ahli dibidangnya. Adapun data – data yang dikumpulkan terbagi menjadi dua, yaitu : a. Data Primer

Meliputi : 

Suhu batubara pada temporary stockpile



Ukuran dimensi temporary stockpile

b. Data Sekunder Meliputi :  Peta Lokasi perusahaan  Struktur Organisasi  Kondisi geologi setempat  Kondisi geomorfologi setempat  Data curah hujan  Data penunjang lainnya

3.3

Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain : 1. Buku catatan 2. Alat tulis 3. Kamera 4. Alat Pelindung Diri (APD) 5. Laptop dan perlengkapan pendukung lainnya

3.4

Langkah Kerja 1.

Tahap Persiapan Pada tahap ini yang dilakukan adalah mempelajari buku-buku literatur, laporan-laporan hasil kerja praktek dan tugas

akhir yang telah ada sebelumnya, serta buku petunjuk yang tersedia dan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. 2.

Tahap Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini mencakup data hasil pengamatan lapangan di PT. Pamapersada Nusantara.

3.

Tahap Penyusunan Laporan Data yang diperoleh kemudian diolah untuk selanjutnya dilakukan pembahasan sesuai dengan rumusan masalah pada laporan.

3.5

Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah selama 2 bulan yaitu pada minggu ke 1 (satu) Mei 2019 sampai dengan minggu ke 4 (empat) Juni 2019 di PT. Pamapersada Nusantara, dengan rincian kegiatan sebagai berikut: Kegiatan

Mei

Minggu Ke-

3

Orientasi Lapangan Pengambilan

dan

Pengumpulan Data Pengolahan Data Pembuatan

Laporan

Tugas Akhir Presentasi Laporan

4

Juni 1

2

3

4

1

2

3.6

Bagan Alir

MULAI

Rumusan Masalah 1.

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya swabakar pada temporary stockpile di PT. Pamapersada Nusantara?

2.

Bagaimana upaya pencegahan dan penanggulangan terjadinya swabakar?

3.

Bagaimana dimensi ukuran stockpile yang diterapkan PT. Pamapersada Nusantara?

4.

Studi Literatur Pengumpulan Data

Data Sekunder

Data Primer  Suhu batubara pada temporary stockpile  Ukuran dimensi temporary stockpile

  

     

Peta Lokasi perusahaan Struktur organisasi Kondisi geologi setempat Kondisi geomorfologi setempat Data curah hujan Data penunjang lainnya

Pengolahan dan Analisis Data Perhitungan suhu maksimal temporary stockpile Perhitungan waktu terjadinya swabakar Perhitungan dimensi temporary stockpile yang sesuai

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN DAN SARAN

SELESAI

DAFTAR PUSTAKA

Anne M Carpenter, 1999, “Management Of Coal Stockpile”, IEA Coal Research Andri, Hermawan, 2001, “Pengenalan Umum Batubara”, Coal Quality Control & Quantity, Sucifida G. Okten, O. Kural, E. Algurkaplan, stoage of Coal Problem and Precautions, Departement Mining Engineering, Istanbul Tecnical University Gerrard Widodo, 2009, “Upaya Menghindari Kabakaran Tumpukan Batubara”, Berita PPTM, No. 11 dan 12, Bandung I Nengah Budha dan Widoro S, 1990, “Penimbunan Batubara”, Direktorat Teknologi Pertambangan Sukandarrumidi. 2004, “Batubara dan Gambut”. Penerbit Gadjah Mada. University Press, Cetakan, Ke-2. Yogyakarta.

Related Documents


More Documents from "Arradex Novian"