Buang Saja S Nya.docx

  • Uploaded by: Felix Herjuno
  • 0
  • 0
  • October 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Buang Saja S Nya.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 1,222
  • Pages: 4
BUANG SAJA ‘S’ NYA “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Masakan mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu. Dosa itu sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya”

Ngempet Anda pernah ngempet ? Tentu saja pernah. Ada orang yang pernah ngempet lapar dan haus, entah karena sedang puasa atau karena kehabisan cadangan sumber energi. Ada orang yang pernah ngempet untuk membeli hape baru yang promonya tiba-tiba muncul saat dia membuka aplikasi jual beli online. Ada juga yang harus ngempet supaya tidak misuh garagara bertemu dengan orang yang menjengkelkan. Tangan sudah terkepal, kepala sudah panas, pisuhan seperti sudah di rongga mulut dan tinggal dimuntahkan, tapi masih ada yang mampu menahannya. Ketika saya masih anak-anak, saat itu tahun ‘90an, saya mengenal sebuah “keyakinan” tentang ngempet. “Keyakinan” itu adalah tentang ngempet buang air besar dengan cara nggembol kerikil. Saat itu saya sempat berpikir apa hubungannya antara ngempet buang air besar dengan mengantongi kerikil. Beberapa kali saya coba saat itu dan beberapa di antaranya memang berhasil. Lalu saat itu saya mengambil kesimpulan polos, ‘kerikil itu menghambat-membuntu saluran pembuangan dan mencegah yang sudah muntup-muntup mengintip itu untuk keluar’. Orang yang sedang ngempet untuk melakukan sesuatu akan melakukan sesuatu yang lain agar ia berhasil dalam usaha ngempet nya itu. Sesuatu yang lain itu bisa berupa sugesti dalam pikiran, tindakan menghindar, ataupun tindakan yang berlawanan dengan sesuatu yang ia tahan itu. Bisa juga orang melakukan ketiganya agar kemungkinan berhasilnya semakin besar. Setiap orang pernah ngempet. Semua orang juga punya caranya sendiri-sendiri untuk ngempet. Pertanyaannya kemudian, pernahkah saudara ngempet untuk melakukan dosa? Punyakah saudara cara untuk ngempet supaya tidak melakukan dosa ketika dosa itu telah mengintip di depan pintu? Allah pernaah bersabda kepada Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Masakan mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu. Dosa itu sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya”(Kejadian 4:6-7).

Dosa Setiap orang memang punya kecenderungan untuk berbuat dosa, akan tetapi ia harus mampu berkuasa atas kuasa dosa itu, bukan sebaliknya. Mengapa orang punya kecenderungan berbuat dosa? Jawabannya tak lain adalah karena dosa asali yang telah dilakukan oleh ‘manusia pertama’. Begini, sebagai ciptaan yang secitra dengan Allah, manusia dikarunia dengan 3 ‘kesaktian’, suatu kapasitas ilahi: mampu berpikir tentang yang benar dan yang salah dengan akal rasionalnya, mampu menimbang-nimbang dan menilai baik buruknya tindakan dengan hati nuraninya, serta memilih untuk melakukan ini dan itu secara bertanggung jawab dengan kehendak bebasnya. Ketiganya tak dimiliki oleh satwa, flora, apalagi benda-benda mati. Kendali manusia atas kapasitas ilahinya kini terganggu. Kendali atas kapasitas ilahi dalam diri manusia itu terganggu akibat masuknya daya rusak dosa dalam dirinya. Hal itu terjadi ketika 'manusia pertama' diperdaya oleh si iblis untuk melawan kehendak Allah. Perlawanan itu dilakukan dengan cara mengiyakan dan membenarkan kata-kata si iblis. Dengan demikian 'manusia pertama' dengan sendirinya menegasi sabda Allah. Usaha si iblis itu berjalan mulus karena ia mengatakan kepada 'manusia pertama' itu, "Bukankah dengan mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk itu sesuatu yang baik? Bukankah dengan demikian kamu bisa jadi seperti Allah? Apa salahnya tahu tentang itu? Kalau kamu punya pengertian seperti Allah, mana mungkin kamu akan mati seperti yang dikatakan Allah? Coba saja"(Bdk. Kej. 3:1-7). Padahal, maksud Allah bukanlah menghalangi manusia untuk punya pengertian akan yang baik dan yang jahat. Sebenarnya, Allah - sebagai Pencipta - hendak menunjukkan bahwa diri-Nya lah satu-satunya penentu/standart moralitas dalam kehidupan. Tapi 'manusia pertama' terperdaya untuk menginginkan status ilahi itu. Si iblis lah yang paling menginginkan status itu dan lalu ia memperalat manusia. Allah ingin membawa ciptaan-Nya untuk sampai pada kebaikan dan bahkan sampai memahami Sang Kebaikan tanpa paksaan. Ia ingin membimbing manusia sampai pada pengertian akan kebenaran dan kebaikan yang sejati dengan menggunakan kesaktiankesaktiannya itu. Tetapi iblis datang memulai peperangan dengan Allah dan menggunakan manusia sebagai senjatanya. Peperangan rohani telah terjadi dalam diri manusia. Hai manusia, mana yang kau pilih, 'Tim Allah' atau 'gerombolan iblis' ? Pilihannya menentukan langkah selanjutnya dan hasil akhirnya.

Ngempet Dosa Ngempet dosa adalah langkah selanjutnya bagi manusia yang memilih bergabung dengan 'Tim Allah'. Dosa itu macamnya ada banyak. Manusia bisa jatuh ke dalam kebiasaan melakukan dosa ringan maupun berat. Awal mulanya sama seperti yang terjadi pada 'manusia pertama', rayuan. Karena manusia sudah punya kecenderungan berbuat dosa, maka menjadi semakin rentan tergoda. Beruntunglah manusia, dosa asali tidak menghilangkan 'kesaktiankesaktian' nya. Lebih beruntung lagi, Allah tak pernah tinggal diam ketika manusia berjalan ke arah iblis. Hanya saja, manusia tetap punya andil besar untuk menentukan kemana ia melangkah. Untuk itulah ia perlu mengasah 'kesaktian-kesaktian' nya itu untuk melawan rayuan dosa. Sama seperti orang kebelet BAB dan menggunakan kerikil untuk membantunya ngempet agar yang muntup-muntup itu tidak keluar, pun demikian ketika dosa itu sudah muntup-muntup mengintip di depan pintu dan hendak menguasai manusia, ia butuh sesuatu untuk membantunya melawan dosa itu. Manusia butuh 'kerikil-kerikil' untuk menahan diri agar tidak berbuat dosa. Kerikil itu kita namai 'buang saja s nya'. Ketika DOSA sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda, orang butuh yang namanya DOA. Ya, buang saja s nya. Memang tak semudah kelihatannya, tapi itulah senjata yang cukup ampuh untuk melawan godaan dosa. Pertanyaannya kemudian adalah 'bagaimana doa dapat menjadi senjata ampuh untuk melawan keinginan berbuat dosa?' Doa adalah senjata ampuh untuk melawan godaan dosa. Yesus pernah mengatakan kepada para murid-Nya, "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." (Lukas 22:40). Demikian pula sering kita ucapkan tatkala kita mendoakan doa Bapa Kami, "...dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat". Apapun doa yang didoakan ketika ia sadar sedang berhadapan dengan godaan berbuat dosa, doa itu akan besar kuasanya. Dalam doa yang diungkapkan dengan kesungguhan hati, terbangun koneksi dan komunikasi kasih antara manusia dengan Tuhan. Koneksi itulah yang sebenarnya menjadi senjata ampuhnya untuk melawan dosa. Dosa adalah kuasa jahat yang merusak dan bahkan dapat menghancurkan koneksi dan komunikasi kasih antara Allah dan manusia. Dalam doa lah kita menjaga dan memperbaiki koneksi dan komunikasi kasih itu. Kuasa doa yang dilambungkan dengan kesungguhan hati jauh lebih kuat dari kuasa dosa. Demikian adanya karena kuasa Allah jauh lebih kuat dari kuasa kejahatan macam apapun. Kuasa dosa itu masuk dan menguasai manusia mulai dari pikiran, kehendak, dan

kemudian sampai kepada perbuatan. Lebih parahnya lagi, kuasa dosa yang telah menguasai manusia semakin menjerumuskannya kepada kebiasaan berbuat dosa. Doa memang bukan satu-satunya cara untuk melawan kuasa dosa. Namun, melalui doa seseorang dapat membangun kesadaran 'betapa aku membutuhkan pertolongan kuasa Roh Kudus' dalam peperangan melawan kuasa dosa itu. Oleh karenanya, di dalam doa pun perlu dimohonkan supaya Roh Kudus memberikan terang kepada pikiran dan kehendak, memberikan anugerah kebijaksanaan yang memampukan seseorang berbuat baik, dan peneguhan-penghiburan ketika harus berhadapan dengan pencobaan. Ngempet dosa itu dimulai dari mengusahakan pikiran yang benar dan kehendak yang baik. Ngempet dosa itu bukan diam mematung tapi berusaha melakukan kebaikan sebagai lawannya. Ngempet dosa itu berusaha menemukan kelegaan bukan dengan cara melampiaskan keinginan berbuat dosa dalam tindakan berdosa melainkan dalam kemenangan karena mampu melawan bujukan dosa itu. Tetapi manusia tak dapat menang karena kuasanya sendiri. Perlulah ia memohon, "Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat Mu dengan penerangan Roh Kudus. Berilah supaya berkat Roh yang kudus itu pula kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, dan selalu bergembira karena penghiburan-Nya". Ketika dosa sudah mengintip di depan pintu, buang saja s nya dan berdoalah demikian.

Felix Herjuno Nganjuk, 21 Maret 2019

Related Documents

Buang Saja S Nya.docx
October 2019 25
Sama Saja
November 2019 37
Finalkan Saja...docx
April 2020 31
Buang Air Kecil - Hotd
October 2019 26
Pyaar Hai Ya Saja
June 2020 7

More Documents from ""

Buang Saja S Nya.docx
October 2019 25
Afaim
December 2019 36
146-391-1-pb.pdf
June 2020 26
April 2020 33
April 2020 44
July 2020 21