Sejarah Gkppd.pdf

  • Uploaded by: Yohanes Hidaci Aritonang
  • 0
  • 0
  • May 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Sejarah Gkppd.pdf as PDF for free.

More details

  • Words: 14,973
  • Pages: 95
Universitas Sumatera Utara Repositori Institusi USU

http://repositori.usu.ac.id

Departemen Sejarah

Skripsi Sarjana

2018

Pemisahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ressort Cikaok di Kabupaten Dairi (1990-1995) Anakampun, Derlin Universitas Sumatera Utara http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/7653 Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara

PEMISAHAN GEREJA KRISTEN PROTESTAN PAKPAK DAIRI (GKPPD) DARI HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP) RESSORT CIKAOK DI KABUPATEN DAIRI (1990-1995) SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H NAMA

:DERLIN ANAKAMPUN

NIM

:130706027

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ABSTRAK Pemisahan gereja GKPPD dari HKBP Ressort Cikaok di Kabupaten Dairi 1990- 1995. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi HKBP sebelum GKPPD, dan latar belakang terjadinya pemisahan GKPPD dari HKBP, serta mengetahui bagaimana proses pemisahan GKPPD dari HKBP, kemudian menjelaskan akibat pemisahan GKPPD dari HKBP di Ressort Cikaok. Penulis menggunakan metode penulisan melalui wawancara dan observasi dengan berpedoman pada buku-buku yang ada hubungannya dengan masalah penelitian. Pemisahan gereja GKPPD dari HKBP Ressort Cikaok dimulai tahun 19901995.Terjadi karena adanya keinginan untuk memiliki gereja yang berlatar belakangkan suku sendiri, namun karena jemaat Pakpak yang belum mampu membentuk sebuah gereja mandiri sehingga dari HKBP memberikan HKBP Simerkata Pakpak. Seiring berjalannya waktu jemaat Pakpak yang semakin bertambah dan pemimpin ada seperti pendeta dan sintua. Jemaat Pakpak kembali menyampaikan keinginannya kepada Ephorus HKBP. Ephorus HBKP meberikan HKBP Simerkata Pakpak Otonom, tetapi hal ini pun tidak ditidak lanjuti sehingga jemaat Pakpak meresmikan pemisahan GKPPD dari HKBP tanpa persetujuan Ephorus HKBP. Dengan peristiwa ini jemaat Pakpak dianggap liar sehingga pihak keamanan terlibat secara khusus di Salak termasuk Ressort Cikaok. Jemaat Pakpak juga memiliki dua gereja yaitu GKPPD dan HKBP Simerkata Pakpak Otonom. Dengan tergantinya Ephorus baru dan adanya kesepakatan dari pihak GKPPD dan HKBP Simerkata Pakpak Otonom, sehingga pada tahun 1995 kedua gereja ini dibersatukan menjadi GKPPD. Kata kunci : Pemisahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi dari Huria Kristen Batak Protestan Di Kabupaten Dairi.

i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Walau tantangan, kesulitan selalu ada namun tetap semangat dan sabar sampai dapat menyelesaikan skripsi ini hingga akhir. Dalam perjalanan panjang melakukan penelitian dan pengumpulan data sungguh sebuah kebahagiaan dan anugrah bagi penulis dapat menyelesaikan sebuah tulisan sejarah yang berbentuk skripsi dengan judul Pemisahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) Dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ressort Cikaok Di Kabupaten Dairi (1990 -1995). Skripsi ini penulis ajukan untuk meraih gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Sebagai seorang manusia biasa penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, baik dari segi isi maupun dalam penulisan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca khususnya dari Bapak/Ibu Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan semua pembaca. Medan, April 2018 Penulis

Derlin Anakampun NIM: 130706027

ii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan petunjuk-Nya dapat menyelesaikan skripsi ini yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan. Untuk memenuhi syarat yang dimaksud penulis memilih judul: “ Pemisahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) Dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ressort Cikaok Di Kabupaten Dairi

1990- 1995”. Pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada pihak yang telah memberi bantuan, baik moril maupun materi, bimbingan, pengarahan, dan nasihat yang tak terhingga nilainya dalam penyelesaian skripsi ini, terutama kepada: 1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, dan Dekanat serta seluruh staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan. 2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, sekaligus dosen Penasehat Akademik penulis yang telah memberi wejangan bagi penulis, walaupun penulis belum bisa menjadi anak didik yang baik. Ibu Dra. Nina Karina, M.SP, Sekretaris Progam Studi Ilmu Sejarah dan sekaligus sebagai dosen pembimbing penulis yang telah memberikan petunjuk, nasehat dan membimbing penulis dengan sabar dalam penyelesaian skripsi ini.

iii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3. Seluruh staf pengajar Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberi bimbingan, pengetahuan, pengalaman, pendidikan dan pencerahan selama penulis menjadi mahasiswa. Tidak lupa juga pada staf administrasi Progam Studi Ilmu Sejarah, Bapak Ampera yang telah banyak membantu penulis selama penulis menjadi mahasiswa. 4. Khusus kepada orang tua yang sangat penulis cintai ayahanda Rumbia Anakampun dan ibunda Sonti Berutu yang telah melahirkan, membesarkan, merawat, mendidik, dan selalu memberi dukungan serta mendoakan penulis. Terimakasih untuk semua pengorbanan kalian yang tidak pernah dapat penulis balaskan dengan cara apapun. 5. Untuk nenek penulis, Rasi Kesogihen. Terimakasih untuk segala doa dan dukungannya selama ini. Nenek selalu memberi nasehat dan selalu mengajarkan kesabaran kepada penulis selama pengerjaan skripsi ini. 6. Kepada kakak/ abang serta adikku, Kakak Diana Anakampun, Abang Harpen Anakampun, Abang Tarsan Anakampun, Abang Saryono Anakampun dan Adikku Titus Anakampun. Kalian adalah motivasi terbesar bagi penulis selama mengikuti perkuliahan sampai akhir skripsi ini. 7. Seluruh keluarga penulis baik pihak Bapa, Papun Bapak Ronal dan Mbulu Mamak Hita, Maupun pihak Ibu, Puhun Bapak Jidno, Puhun Bapak Rei, Puhun Bapak Juntri, Puhun Bapak Ria, Puhun Bapak Runi, Nanguda Mak Sampri serta Nanguda Mak Hilda. Yang selalu mendukung studi penulis dan

iv UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

bantuan selama penulis melakukan penelitian di /lapangan. Semoga Tuhan memberkati kalian. 8. Kepada sahabat penulis di kelompok kecil “ Esthomihi “ Emkal beru Barus dan Natalia Sitorus, serta abang/kakak pemimpin, Abang Wendi Girsang, Kakak Nelvida Panjaitan dan Kakak Fera Sitompul. Terimakasih atas bantuan serta doa kalian yang membantu untuk kesuksesan penulis. 9. Sahabat- sahabat seperjuangan khususnya Ilmu Sejarah angkatan 2013, Hotni Nahampun, Dina L Sitanggang, Nia Kumala Sari, Nansa A. Aritonang, Joni P Angkat, Rosida Pasaribu, Jhonindo Saragih, Mery Silaban, Azis Nababan, Kakak Martionar Sinurat, Kakak Evelida Sinaga dan Ikampus, serta semua teman-teman di Progam Ilmu Sejarah yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu namanya, terimakasih dukungannya kepada penulis. 10. Kepada Bapak Derik Anakampun yang telah meluangkan waktu menjadi informan dan juga membantu penulis dalam penelitian, serta kepada seluruh informan yang membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Akhirnya untuk semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak disebutkan dalam penyusunan skripsi ini, saya ucapkan terimaksih. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca. Medan, Penulis

April 2018

Derlin Anakampun NIM: 130706027

v UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR ISI ABSTRAK ................................................................................................................ i KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii UCAPAN TERIMA KASIH.................................................................................... iii DAFTAR ISI ............................................................................................................. vi DAFTAR ISTILAH .............................................................................................. . viii DAFTAR TABEL .................................................................................................... xii BAB I

PENDAHULAH........................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 6 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................... 6 1.4 Tinjauan Pustaka ................................................................................ 7 1.5 Metode Penelitian .............................................................................. 9

BAB II GAMBARAN UMUM GKPPD SEBELUM TAHUN1990 ................... 11 2.1 Sejarah Kedatangan Agama Kristen .................................................. 11 2.2 HKBP ................................................................................................. 14 2.3 Struktur Organisasi HKBP ................................................................. 18 2.4 HKBP Simerkata Pakpak ................................................................... 30

BAB III FAKTOR- FAKTOR PEMISAHAN GKPPD DARI HKBP .............. 40 3.1 Faktor-Faktor Pemisahan GKPPD dari HKBP................... ................40 3.1.1 Faktor Terbentuknya Gereja Suku ......................... ...................40 3.1.2 Faktor Sosial Budaya ................................................................ 41 3.1.3 Faktor Sistem Kepeminpinan .................................................... 44 3.2 Proses Pemisahan GKPPD dari HKBP .............................................. 45

vi UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB IV AKIBAT PEMISAHAN GKPPD DARI HKBP RESSORT CIKAOK DI KABUPATEN DARI TAHUN 1990-1995 ............................................. 48 4.1 Terbentuknya tempat ibadah baru ...................................................... 48 4.2 Sistem Kekeluargaan Terpecah ......................................................... 49 4.3 Terjadinya Konflik ............................................................................ 52 4.3.1 Konflik Dari Dalam ................................................................. 53 4.3.2 Konfik Dari Luar ....................................................................... 55 4.4 Penyelesaian Konflik .......................................................................... 56 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 60 5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 60 5.2 Saran .................................................................................................... 62 Daftar Pustaka .......................................................................................................... 63 Daftar Informan ....................................................................................................... 65 Lampiran ..................................................................................................................

vii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR ISTILAH Animisme

: Mempercaya bahwa setiap benda di bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, poho atau batu besar), memiliki jiwa yang misti dihormati agar semangat tersebut tidak menggangu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan mereka sehari-hari.

D facto

: Bentuk penagakuan suatu negara terhadap negara lain yang berdasarkan pada kenayataan yang menyatakan bahwa negara tersebut sudah memenuhi syarat-syarat terbentuknya negara seperti adanya wilayah, adanya rakyat, adanya pemerintahan yang berdaulat

De jure

: Bentuk pengakuan yang dinyatakan secara resmi pleh nergara lain dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah yang diatur dalam hukum internasional terkait keberadan suatu negara baru agar bisa diterima sebagai anggota bangsa-bangsa di dunia dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya.

Devidet Et Impera

: Politik pecah belah baru dikuasai

Dinamisme

: Kepercayaan bahwa sesuatu memiliki tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasialan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup

viii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Distrik

: Kesatuan dari beberapa ressort untuk menetapkan dan membangun persekutuan, kesksian, dan pelayanan di distrik tersebut. Pelayan distrik dipimpn oleh Praeses, Sekrtasis Distrik, Bendehara Distrik, Kepala Bidang Koinonia, Kepala Bidang Marturia, dan Kepala Bidang Diakonia

Ephorus

: Orang yang memimpin segenap HKBP dan wakil HKBP terhadap pemerintahan, gerja dan badan organisasi lainnya. Jabatan harus diembannya sesaui dangan konfensi, tata gereja, dan siasat gereja HKBP. Periode kepemimpinnan selama 4 tahun dan dia dapat dipilih kembali untuk memimpin selama 2(dua) periode

GKPA

: Gereja Kristen Protestan Angkola

GKPP

: Gereja Kristen Protestan Pakpak

GKPPD

: Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi

GKPS

: Gereja Kristen Protestan Simalungun

HKBP

: Huria Kriten Batak Protestan

HKBP SPO

: Huria Kriten Protestan Batak Simerkata Pakpak Otonom

Isu

: Kabar yang tidak jelas asal usulnya dan belum terjamin kebenaranny; kabar angin; desas desus

ix UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kebudayaan

: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan ahsil kary manusia dalam rangka kehidupan msyarakat yang dujadikan milik diri manusia dengan belajar

Kembal Senjalakan

: Salah satu adat kebudayaan Pakpak

Konflik

: Percekcokan, perselisihan, pertengkaran. Defenisi konflik menurut sosiologis adalah suatu proses sosial antara dua oarang atau lebih (kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghacurkan atau membuatnya tidak berdaya

Mate caruyr tua

: Orang yang meninggal tetapi anak-anaknya telah meningkah dan memiliki cucu

Mergeraha

: peperangan antara satu kempung dengan kempung yang lainnya

Oles

: Salah satu adat Pakpak

Omniprasent

: Maha ada atau selalu hadir dalam segala tempat

Onderdistrik

:Daerah kecamatan

Pagaran

: Cabang

Pargodungan

: Kompleks gereja

x UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Penjajakan

: membahas ulang kembali

Perningkahan

:

Upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau

dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud mersmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial PPM

: Panitua Perwujutan Mandiri

PPML

: Panitia Persiapan Menjujung Lupo

Ressort

: Persekutan jemaat-jemaat setempat untuk menetapkan dan mengembangkan

persekutuan,

kesksian

dan

Kristen,

yang

pelayanan

ditengah-tengah jemaat Runggu

: Berkumpul

Sinode

:

Pertemuen

dalam

Agama

biasanya

diselenggarakan untuk mengadakan keputusan menyangkut maslah doktrin, administrsi atau aplikasi Zending

: pengkabaran injil usaha-usaha menyebarkan Agama Kristen; Badan penyelenggara (misi) penyebaran Agama Kristen

xi UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR TABEL Nama-nama gereja ressort Cikaok berdasarkan urutan pembangunan…….38

xii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Sebelum Agama Kristen masuk ke masyarakat Pakpak telah mengenal dua agama. Agama pertama adalah Agama Hindu, yang masuk melalui Barus oleh para pedagang dari India untuk membeli Kapur Barus dan Kemenyan. Salah satu peninggalan Agama Hindu adanya Mejan (Pertanda desa, yang berbentuk patung manusia

mengendarai Gajah). Mejan pada masa itu dikenal sebagai tempat

penyimpana abu jenazah yang dibakar (kremasi). Kepercayaan kedua adalah berupa animisme dan dinamisme yang percaya adanya suatu kuasa dan kekuatan gaib pada tempat-tempat tertentu, akan tetapi seiring berjalannya waktu Agam Kristen masuk sehingga perlahan-lahan kepercayaan tersebut hilang. Masuknya Agama Kristen ke Tanah Pakpak merupakan salah satu pengaruh dari kedatangan bangsa Belanda ke Tanah Pakpak untuk mencari Sisingamangaraja XII sekitar tahun 1904, karena Bakkara dan wilayah Toba yang merupakan kekuasanya telah habis dibakar dan dikuasai oleh Belanda. Sejak saat itu semakin terbuka jalan di Tanah Pakpak dari Doloksanggul ke Dairi. Dengan terbukanya jalan ini banyak orang luar yang datang ke Dairi untuk berdagang baik itu dari Barus, Melayu, Aceh dan Toba yang telah lama sepi. Etnis Batak Toba yang berdekatan dengan Dairi tidak hanya dengan berdagang ada yang ingin membuka perladangan, dan lain sebagainya.

1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Missionaris pertama yang menginjil di Tanah Pakpak adalah Pdt. Samuel Panggabean yang menginjili di Bandar Kuta Usang, Pegagan pada tahun 1905 dan ibadah pertama dilaksanakan di rumah keluarga Raja Sibayak Pakasior Manik di desa Kuta Usang1. Masyarakat yang ada di Dairi tidak hanya Pakpak, sebagian besar ada Toba yang telah terlebih dahulu mengenal Agama Kristen dari daerah asalnya. Seiring berjalannya waktu semakin banyak Jemaat di Dairi, tidak hanya masyarakat Toba sebagian masyarakat Pakpak yang telah menjadi Kristen . Pada Tahun 1910 berdirilah gereja HKBP di Dairi yang diberikan oleh Raja Asah Ujung. Jemaat yang ada di HKBP ini tidak hanya orang Toba, melainkan orang Pakpak yang telah menjadi Kristen. Hal ini tidak hanya terjadi di Dairi tidak terkecuali di Salak, Aceh Singkil dan di Tanah Pakpak lainnya. Dengan bertambah banyaknya jemaat Pakpak, mereka mulai ingin memisahkan diri dari HKBP sama seperti gereja GKPA, GKPS dan gereja suku lainnya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan Bahasa, sehingga pada tahun 1963 HKBP Simerkata Pakpak. Karena sistem kepemimpinan yang masih berada dibawah kekuasan HKBP sering sekali terjadi kesenjangan yang dirasakan oleh jemaat Pakpak2. Pada tanggal 9-11 September 1984 jemaat Pakpak Runggu3 di Salak dengan tujuan membentuk PPLM (Panitia Persiapan Menjujung Lupo), namun pada tanggal 6 Juli 1990 diubah menjadi PPM (Panitia Perwujudan Mandiri). Organisasi ini 1

Solin, Pdt. Elias J. P, Almanak Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) 2012, Sidikalang Dairi: Kantor Pusat GKPPD, hlm. 250. 2 Asalma Berutu “ Sejarah Singkat Kemandirian Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)”http//asalmaberutu.blogspot.comg>gkppd. 27 Februari 2017. 3 Runggu (bahasa Pakpak) artinya berkumpul.

2 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

bertujuan untuk mambentuk dan mempersiapkan kemandirian GKPPD yang akan di usulkan Ephorus HKBP. Pada 20 Oktober 1990 diadakan sidang penetapan nama, penetapan aturan-peraturan GKPPD di Gereja HKBP Simerkata Pakpak Suka Dame4. Setelah melalui proses yang panjang GKPPD memisahkan diri dari HKBP pada tanggal 25 Agustus 1991, walau awalnya belum mendapat restu dari HKBP. Tokoh yang dipilih sebagai Bishop Pdt. Elias J. Solin dan sebagai Seketaris Jenderal St S. Manik. Sebelumnya pemuka masyarakat dan pendeta Pakpak melakukan pertemuan dengan Ephorus HKBP S.A.E Nababan membahas tentang kemandirian GKPPD, sehingga pada Sinode ke- 50 hal itu dibahas dengan hasil HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) yang artinya jemaat Pakpak diberi kekuasaan untuk mengatur dan mengusur gereja HKBP Simerkata Pakpak. Hasil keputusan Pimpinan pusat HKBP membuat kekecewan bagi pemuka masyarakat dan pendeta Pakpak. Dimana mereka berharap bisa sama dengan gereja yang lain seperti GKPS, GKPA dan lain- lain yang memiliki gereja sendiri. Dalam keputusan ini dari jemaat Pakpak sendiri ada juga yang setuju atas keputusan pimpinan pusat HKBP dengan alasan karena tidak adanya kepastian kesejahteraan ekonomi yang dijanjikan dari Masyarakat Pakpak 5. Dua pandangan inilah yang mengakibatkan perpecahan dan kecurigaan diantara jemaat Kristen terkhusus para pendeta dan pengurusnya. Selain itu, mengakibatkan terbentuknya dua gereja, HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) 4

Solin, Pdt. Elias J. P Op.cit. hlm. 251. Budi Agustono, Disertasi, Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial- Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958- 2003, hlm. 231-235. 5

3 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dan GKPPD. Demikian jugalah yang terjadi di Ressort Cikaok mengalami perpecahan antara jemaat Kristen. Sebelum terjadi pemisahan antara HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) dengan GKPPD jemaat mengadakan ibadah di gereja. Setelah terjadi perpisahan HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) beribadah di Gereja, sementara GKPPD beribadah di rumah warga dengan menyesuaikan kondisi dan situasi keamanan. Kedua kelompok sering sekali saling mengejek, bergaul dengan kelompok masingmasing dan lain sebagainya. Bahkan isu- isu pengancaman terhadap jemaat di GKPPD Ressort Cikaok sering terdengar yang mengakibatkan ketakutan terutama pada kaum Laki-laki. Pada puncak penyatuan antara GKPPD dengan HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) kaum Laki-laki lebih sering bersembunyi di hutanhutan karena mendengar kabar bahwa di Salak telah terjadi kekerasan fisik dilakukan oleh pihak aparat keamanan6. Pada tanggal 6 Agustus 1995 peresmian GKPPD secara De Jure oleh Ephorus HKBP Pdt. DR. P. W. T. Simanjuntak. Peresmian GKPPD sebagai satu sinode gereja yang mandiri dilaksanakan di Medan dengan Pdt. Elias. J. Solin sebagai Bishop dan St. Sakkap Manik sebagai pelaksana harian, dan diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui keputusan Dirjen Bimas Kristen Protestan Departemen Agama Republik Indonesia No. : F/Kep/HK.005/22/740/1996 tanggal 22 Maret 19967.

6

Wawancara dengan Udin Berutu (62 tahun), Desa Cikaok tanggal 11 November 2016. Asalma Berutu “ Sejarah Singkat Kemandirian Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)”http//asalmaberutu.blogspot.comg>gkppd. 29 Februari 2017. 7

4 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Penjelasan singkat di atas, menarik perhatian untuk menjadikan jemaat GKPPD Ressort Cikaok sebagai objek penelitian dengan judul Pemisahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ressort Cikaok di Kabupaten Dairi 1990- 1995. Hal-hal menarik dalam penelitian yang telah dilakukan ini adalah ternyata jemaat yang memberitahu ke GKPPD Medan, bahwa di Salak telah terjadi konflik kekerasan antara aparat keamanan dengan masyarakat akibat kesalah pahaman, salah satu dari jemaat Ressort Cikaok. Ressort Cikaok memiliki 14 pagaren8 yang berpusat di Desa Cikaok. Desa Cikaok merupakan pemekaran dari Desa Silimakuta pada tahun 2003. Administrasi Desa Cikaok di sebelah Utara berbatasan dengan Delleng Raja; sebelah Selatan berbatasan dengan Delleng Junggu; sebelah Timur berbatasan dengan Desa Silima Kuta; sebelah Barat berbatasan dengan Desa Kuta Tinggi. Peneliti membatasi periode penelitian agar tetap fokus terhadap rentang waktu yang telah diteliti. Dimulai pada tahun 1990 merupakan awal terjadinya pemisahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Akibat dari pemisahan ini jemaat Pakpak terpecah menjadi dua kubu yaitu HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) dengan GKPPD. Pada tahun 1995 kedua kubu ini dibersatukan inilah merupakan batasan tahun penulisan penulis, sekaligus GKPPD diresmikan sebagai lembaga peribadahan khususnya jemaat masyarakat Pakpak.

8

Pagaren (bahasa Pakpak) artinya cabang

5 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah merupakan bagian yang memuat lebih jelas tentang masalah yang telah ditetapkan dalam latar belakang masalah. Dengan kata lain, masalah itu didentifikasikan dengan rumusan masalah secara eksplisif dalam urutan sesuai dengan instensitas terhadap topik penelitian9. Melihat dari latar belakang masalah maka penulis memberikan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi GKPPD di Kabupaten Dairi sebelum tahun 1990? 2. Bagaimana latar belakang

terjadinya pemisahan GKPPD dari HKBP di

Kabupaten Dairi pada tahun 1990- 1995 ? 3. Bagaimana proses pemisahan GKPPD dari HKBP di Kabupaten Dairi pada tahun 1990- 1995 ? 4. Apa akibat pemisahan GKPPD dari HKBP di Ressort Cikaok pada tahun 1990- 1995?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan berarti sebagai tindak lajut terhadap masalah yang diidetifikasikan, sehingga apa yang dituju hendaklah sesusai dengan urutan masalah yang telah dirumuskan. Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Menjelaskan kondisi GKPPD di Kabupaten Dairi sebelum tahun 1990

9

Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999,hlm.

50

6 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Menjelaskan latar belakang terjadinya pemisahan GKPPD dari HKBP di Kabupaten Dairi pada tahun 1990- 1995. 3. Menjelaskan proses pemisahan GKPPD dari HKBP di Kabupaten Dairi pada tahun 1990- 1995 4. Mengetahui dan menjelaskan akibat pemisahan GKPPD dari HKBP di Ressort Cikaok pada tahun 1990- 1995. Adapun manfaat penelitian ini adalah: 1. Bagi masyarakat umum, diharapkan penelitian ini dapat memberi pengetahuan baru tentang permasalahan pemisahan GKPPD dari HKBP Ressort Cikaok di Kabupaten Dairi 1990- 1995. 2. Aspek praktis yang mungkin diharapkan dari hasil penelitian ini adalah dapat dijadikan masukan sebagai sarana informasi bagi pemerintah daerah maupun provinsi dalam hal pengambilan kebijakan dan keputusan demi meningkatkan toleransi antaretnik dalam hal beragama. 3. Sebagai bahan referensi bagi para peneliti lain yang tertarik melakukan penelitian yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti oleh penulis.

1.4 Tinjauan Pustaka Lister Berutu dalam Aspek– Aspek Kultural Etnis Pakpak Suatu Eksploirasi Tentang Potensi Lokal. Menjelaskan tentang kekristenan adat istiadat Pakpak, tinjauan dari perspektif Sosio Antropologi, namun saya akan mencoba membahas

7 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

masalah bagaimana Kristen terkhusus Ressort Cikaok mempertahankan GKPPD dari segi perjalanan sejarahnya. Sonni Parlindungan Berutu dalam Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). Menjelaskan tentang sejarah Kemandirian gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi secara keseluruhan, buku ini menjadi referensi penulis dalam menuliskan sejarah pemisahan HKBP menjadi GKPPD Ressort Cikaok pada tahun 1990- 1995. Thomas Van Den End dalam Harta dalam Bejana Sejarah Gereja Ringkas. Menjelaskan tentang masuknya Agama Kristen di Pakpak yang dibawakan oleh Pdt. Samuel Panggabean. Buku ini menjadi panduan penulis dalam menjelaskan sejarah masuknya agama Kristen di Pakpak. Bungaran Antonius Simanjuntak dalam Konflik Status Dan Kekusaan Orang Batak Toba. Menjelaskan tentang kekuasaan orang Batak dalam hal memperebutkan kekuasaan dalam bidang kepemimpinan dan sosial budaya suku Batak. Buku ini menjadi panduan penulis dalam menjelaskan bagaimana hubungan kekuasaan orang Batak ikut mempengaruhi kepemimpinan dan struktur organisasi di GKPPD. Budi Agustono dari Desertasi dalam Rekontruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial- Pakpak di Smatera Utara 1958- 2003. Menjelaskan tentang sejarah perjalanan bagaimana Pakpak mempertahankan dan meraih GKPPD dalam konteks yang lebih luas jadi saya disini menjadikan referensi beliau untuk membahas dalam konteks yang lebih kecil yaitu di GKPPD Ressort Cikaok.

8 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Daniel Jonathan Tito Sigalingging dari Skripsi dalam Sejarah Gereja Kristen Protestan Angkola di

Tapanuli Selatan, 1988-2000. Menjelaskan tentang

terbentuknya Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP-A) menjadi Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), faktor-faktor perkembangan GKPA, serta bagaimana perkembangan GKPA dari tahun 1988-2000 di Tapanuli Selatan. Skripsi ini menjadi referensi penulis bagaimana jemaat Ressort Cikaok berada dibawah kekuasan HKBP berubah menjadi HKBP Simerkata Pakpak yang mengakibatkan dua kelompak yaitu HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) dan GKPPD yang pada akhirnya dibersatukan menjadi GKPPD Ressort Cikaok.

1.5 Metode Penelitian Di dalam metode penelitian sejarah, ada beberapa teknik ataupun langkahlangkah yang dilakukan oleh penulis untuk merampungkan tulisan atau skripsi ini. Adapun langkah-langkah yang dimaksudkan adalah sebagai berikut: 1. Heuristik, yaitu metode pengumpulan data atau sumber melalui studi kepustakaan, melakukan pengamatan lapangan, ataupun studi wawancara kepada narasumber yang dapat membantu penelitian dan berkaitan dengan judul penelitian yang diteliti. Dalam penelitian telah dilakukan, peneliti mengumpulkan sumber-sumber pendukung dari buku-buku yang terkait dengan judul penelitian yang ada di mayarakat Ressort Cikaok seperti Pendeta, dan Jemaat, perpustakaan Universitas Sumatera Utara, perpustakaan Universitas Negeri Medan dan

9 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

perpustakaan Daerah di kota Medan. Selain buku juga berupa desertasi dan internet. 2. Kritik sumber, merupakan sebuah usaha yang dilakukan peneliti untuk menyeleksi sumber atau bahan-bahan yang telah dikumpulkan. Setelah sumbersumber dikumpulkan kemudian diverifikasi melalui kritik, baik kritik ekstern maupun kritik intern. Kritik ekstern digunakan untuk mengetahui tentang kebenaran sumber yang diperoleh, sedangkan kritik intern digunakan untuk menilai kelayakan sumber yang akan digunakan dalam penulisan. Dalam hal ini yang selalu diingat bahwa sumber itu harus dapat dipercaya, ada penguatan saksi mata, benar, tidak dipalsukan, dan handal. 3. Interpretasi merupakan tahap dimana peneliti berusaha menghubungkan data – data yang didapat di lapangan dengan fakta yang ada. Dalam menganalisa sumber yang telah diperoleh dilakukan analisa yang lebih bersifat objektif dan ilmiah terhadap objek yang akan diteliti. 4. Historiografi, setelah semua sumber-sumber yang telah diperoleh selesai diuji kebenaran dan kelayakannya, tahap selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah merampungkan dari hasil laporan yang telah diperoleh menjadi sebuah tulisan berdasarkan dari fakta-fakta dan dituangkan secara sistematis dan kronologis. Dalam melakukan penulisan sejarah aspek kronologis memang perlu diperhatikan agar menghasilkan sebuah tulisan yang bernilai sejarah yang ilmiah dan objektif.

10 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB II GAMBARAN UMUM GKPPD SEBELUM TAHUN 1990 2.1 Sejarah Kedatangan Agama Kristen Sebelum berdirinya gereja di Tanah Pakpak, kekristenan sebenarnya sudah masuk memelui pengijilan yang dilakukan oleh beberapa missionaris. Pertama sekalinya penginjilan dilakukan oleh Pdt. Samuel Penggabean yang menginjili Bandar Kuta Usang (Sumbul sekarang), Pegagan pada tanggal 7 September 1905. Beliau salah satu anggota Pardonganon Mission Batak (PMB)

10

, yang bertujuan

untuk lebih menfokuskan diri akan pemberitaan Injil ke daerah yang ada di Samosir, Simalungun, dan termasuk Dairi. Pdt. Samuel Panggabean datang dari Simalungun melalui Aek Popo, Lea Pondom, dan terus mengikuti aliran lae (Sungai) Sikurang di Kecamatan Pegagan Hilir dan akhirnya sampai ke Kuta Usang. Kedatangan Pdt. Samuel Panggabean diterima oleh Raja Sibayak Pakasior Manik , hal ini karena keramahan beliau yang datang ke Tanah Pakpak. Raja Sibayak Pakasior Manik juga mau membuka diri untuk mendengar ajaran Kristen. Pada tanggal 10 September 1905, dimulailah kebaktian pertama yang diadakan di rumah Raja Sibayak Pakasior Manik dan diikuti beserta keluarganya. Dalam kebatian tersebut Pdt. Samuel Panggabean mengajarkan nyanyian rohani salah satu dari Buku Ende No.248 “Sidekah ko itanoh en”. Setelah penginjilan di Kuta Usang beliau pergi ke daerah lain untuk melakukan pengijilannya. Beliau pergi ke 10

PMB berpusat di Tiga Ras Kabupaten Simalungun yang dipimpin oleh Pdt. Henok Lumban Tobing. Sonni Parlindungan Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi Medan: Monora, 2002, hlm.6

11 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kota Sidikalang (Dairi) sekitar awal tahun 1906. Ketika beliau tiba di Sidikalang, beliau melihat bahwa sudah banyak masyarakat yang ada di Sidikalang beragama Kristen. Mereka ini adalah orang Toba yang datang dari daerah Toba ke Sidikalang dengan tujuan untuk berdagang. Para pedagang ini juga mau membagikan tentang ajaran Agama Kristen kepada masyarakat Pakpak yang mereka dapati. Diantara pedagang tersebut diantaranya Musa Sibarani11 dan Julius Hutabarat.12 Mereka menyebarkan kekristenaan itu lewat prilaku dan perkataan mereka. Musa Sibarani dan Julius Hutabarat datang dari Tapanuli yang kemungkinan pernah singgah di Sidikalang bahkan sampai ke Salak. Mereka adalah pedagang yang rutin berjualan di Salak (ibu kota Pakpak Bharat sekarang) yang biasanya diperdagangkan oles13 dan alat pertanian. Selain berdagang mereka juga mengajarkan penduduk tentang tata cara pertanian serta memperkenalkan pertanian menetap. Musa Sibarani juga mempunyai kepandaaian dalam hal medis. Dengan banyak memberikan praktek perawatan bagi orang-orang Pakpak serta menyembuhkannya. Musa Sibarani biasanya dalam hal pengobatannya selalu memulai praktek mediknya dengan berdoa kepada Tuhan. Musa Sibarani yang memiliki kelebihan taat beribadah dan pintar dalam hal medik membuat warga Salak menjadi simpatik. Ketertarikan warga tersebut membuat Muse Sibarani mendapat tempat dihati marga Boangmanalu

11

Julius Hutabarat merupakan seorang pedagang yang datang dari Toba dimana beliau sudah menganut Agama Kriten. 12 Musa Sibarani seorang pedagang yang datang dari Toba dan beliau juga mampu mengobati orang yang sakit 13 Oles merupakan pakaian pakaian adat.

12 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

terkhusus Perseol Boangmanalu. Parseol Boangmanalu meningkahkan putrinya dengan Musa Sibarani. Melihat perkembangan yang terjadi di Salak Musa Sibarani pergi ke Pearaja Tarutung untuk menjumpai Ephorus Pdt. I.L.Nomensen dan menceritakan segala perkembangan yang terjadi. Pada tahun 1907 Ephorus Pdt. I.L.Nomensen mengutus seorang penginjil bernama Samuel Hutahayan untuk melayani disana bersama-sama dengan Musa Sibarani. Banyak tantangan yang datang silih berganti terutama dari orang-orang yang beragama animisme yang menyebut dirinya “Silimin” yang beragama Sidamdam. Mereka menyebut bahwa Agama Kristen merupakan agama penjajah. Akan tetepi hal itu tidak menyurutkan semangat penyebaran Agama Kristen di Salak. Pada tanggal 18 Februari 1911 diadakan pembabtisan pertama di Salak terhadap 21 orang Pakpak yang dibabtis oleh Pdt. brenchemid termasuk dua raja yaitu Raja Mandalkop Boangmanalu, dan Raja Delleng Banurea. Melalui ketiga tugas gerja terutama marturia (bersaksi) dan diakonia (melayani) merka mulai menceritaan kekristen kepada orang- orang di Salak termasuk ke Cikaok dan sekitarnya.14 Sekitar tahun 1917 dibangun jugalah HKBP di Dusun Cikaok yang berressortkan HKBP Simerkata Pakpak Salak dengan galangan dana dari masyarakat setempat. Mereka mengerjakan dengan cara bergotong royong sampai selesai sekitar tahun 1918. Pada waktu itu masih ada hanyalah sintua, maka sintua inilah yang

14

Pdt. E. J. Solin, Almanak Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Sidikalang: Kantor Pusat GKPPD, 2010.

13 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

menuntun mereka dalam melaksanakan kebaktian salah satunya Gr.St. Henok Hasugian.15

2.2. HKBP Dengan bertambah banyaknya masyrakat yang ada di Tanah Pakpak menjadi Agama Kristen baik masyarakat Pakpak maupun pendatang secara khusus Toba. Pada tanggal 14 November 1906 Ompu Ephours mengutus guru Christian Friderick sebagai perintis memulai penjemaatan di Sidikalang. Beliau memulai pelayanan untuk menyatukan jemaat yang telah menjadi orang Kristen. Supaya jemaat ini semakin diteguhkan kepercayaan, mereka menunggu kepastian kedatangan seorang pendeta yang memimpin mereka beserta pendirian sebuah gereja16. Ephorus Nomensen kemudian mempelajari laporan-laporan dari Para missionaris yang telah melakukan pengamatan di Tanah Pakpak, baik itu di Sidikalang dan Salak Simsim, akhirnya beliau memutuskan untuk Missioner ke Sidikalang dan Salak Simsim untuk mendirikan Jemaat Huria sebagai wadah pemberitaan injil kebenaran Allah di Dairi. Di Sidikalang ditetapkan sebagai pembuka yang bertugas adalah Nicolas Fuchks berkebangsaan Belanda yang pada saat itu bekerja di RMG (Renische Mission Gesselschaft). Pada tanggal 22 April 1908 Pendeta Nicolas Fuchks didamping oleh Robert Brinkschmidt berangkat dari Sigumpar ke Sidikalang, perjalanan mereka dimulai dari

15 16

J. Boangmanalu, Preases Pdt. Cyrellus Simanjuntak, hlm.120. J. Boangmanalu, Op.cit. hlm.125.

14 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Sigumpar, Silalahi sampai tiba di Sidikalang. Pada tanggal 22 April 1908 hari tersebut penginjilan yang bekerja di Sidikalang dan sekaligus hari tersebut di tetapkan sebagai hari kelahiran HKBP di Sidikalang. Kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh guru Christian Friderick dengan muridnya. Guru inilah yang dahulu diutus Ephorus Nomensen sebagai perintis memulai penjemaatan di Sidikalang tahun 1906. Mereka melayani disebuah ruangan sekolah yang didirikan pemerintah Belanda karena pada masa itu gereja belum ada. Setiap malam berkumpul sekitar 40-60 orang Kristen berdoa dan mendengarkan khotbah dari para Pendeta dan Missioneris. Demikian juga aliran Animisme atau penyembahan berhala juga datang ikut melaksanakan ibadah yang diadakan pada hari minggu. Orang Pakpak juga turut serta mendengarkan firman Tuhan, tetapi karena perbedaan bahasa mengakibatkan mereka sulit untuk memahami sebagai dasar pengetahuan keimanan untuk dibaptis. Pendeta Fuckhs hanya bekerja satu tahun selanjutnya dipanggil bertugas ke Jakarta sehingga Pdt. Robert Brinkschmidt melanjutkan pelayanannya di Sidikalang. Beliau meminta mendirikan gereja dengan meminta bantuan pargodungan (kompleks gereja) Keppas, Raja Asah Ujung. Beliau adalah salah satu Raja Ihutan di keppas. Bersama dengan kedua saudaranya pertaki (pemimpin kampung) Raja Alam dan Raja Jonang Ujung mereka menyerahkan tanah kepada pendeta Robert Brinkschmidt untuk mendapat tempat pembangunan gereja. Pada dasarnya berdirinya HKBP bertujuan untuk menampung semua orang Batak yang datang ke Tanah Pakpak khusunya di Sidikalang. Perkembangan yang secara signifikan, bahwa orang Pakpak tertarik

15 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

menjadi Agama Kristen akibat dari pelayanan dan kesaksian orang Batak Toba terhadap orang Pakpak.17 Tanggal 25 Desember 1909 diadakan kebaktian minggu yang bertepatan hari natal. Pdt. Robert Brinckschmidt mengadakan pembabtisan diantarannya para penyembah berhala yang sudah menganut Agama Kristen dan sebagian besar diantara mereka adalah orang Pakpak termasuk Pertaki Raja Alang Ujung, pertaki Raja Jonang Ujung, Pertaki Raja Kundul Angkat, Pertaki Raja Sangkam Bintang, Pertaki Raja Asah Ujung. Seiring berjalannya waktu orang Pakpak semakin banyak menjadi penganut Agama Kristen, sehingga setahun kemudian berdirilah gereja HKBP Sidikalang beserta kompleks rumah hamba Tuhan diatas tanah yang telah diberikan Raja Asah Ujung18 Kekristenan di Tanah Pakpak tidak hanya misionaris saja yang berperan, orang Batak Toba Kristen yang sebelunya datang dari Toba juga menjadi salah satu penentu cukup berkembangnya kekristenan di Tanah Pakpak. Melalui perdagangan orang Toba mengajarkan Agama Kristen malalui perilaku dan perkataan mereka. Seperti yang terjadi di daerah Salak Simsim kekristenan itu mendapat pengaruh sekitar tahun 1906 akibat peranan pedagang yang datang dari daerah Tapanuli yang kemungkinan besar pernah singgah di Sidikalang. Diantara pedagang tersebut adalah Julius

17

Sonni Parlindungan Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi Medan: Monora, 2002, hlm.23-26. 18

Ibid, hlm. 28.

16 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Hutabarat dan Musa Sibarani. Pada saat mereka berdagang merka juga melakukan pengabaran injil. Pada tahun 1910 Gr. Julius Manik diutus ke Salak menjadi guru kuria pertama di gereja Salak. Beliau pintar dalam hal bermain musik seperti Sordam, Seruling, dan alat tiup lainnya. Beliau melayani di gereja Salak hanya sekitar 10 tahun dan digantikan oleh Gr. Justi Situmorang. Pada tahun 1927 beliau kembali digantikan oleh Gr. Osman Matondang. Beliaulah yang pertama sekali mengusulkan agar anakanak Pakpak dapat bersekolah di sekolah Zending HKBP. Orang yang bersekolah di sekolah Zending HKBP ini antara lain Firdinan Banurea, Gr. Lancam Huria Bako, Gr. David dan Gr. Lassarus Manik. Dengan adanya orang yang sudah mengenal pendidikan masyarakat Pakpak menyadari bahwa pendidikan membawa pengaruh positif bagi masyrakat Pakpak. Bahkan sejarah mencatat dari tahun 1917-1936 Agama Kristen berkembangan secara signifikan itu tidak hanya didaerah Salak, tapi juga disekitar Tinada, Jambu, Penggegen, Simerpara, Boang dan Cikaok.19 Pada tahun 1936 Zending HKBP mengutus Pdt. Cirrelus Simanjuntak di Salak dan sekitarnya, termasuk HKBP di gereja Cikaok. Beliau melayani selama 5 (lima) tahun, meskipun beliau orang Toba tetapi beliau berusaha untuk mempelajari Bahasa Pakpak dalam menyampaikan penginjilan kepada masyarakat setempat. Bukan hanya dalam penginjilan saja beliau bersikap baik dan mau belajar Bahasa Pakpak tetapi beliau juga mau mengikuti kebudayaan Etnik Pakpak. Salah satu contoh yang dilakukan Pdt. Cirrelus Simanjuntak dalam menyampaikan injil lewak budaya. Pada 19

Ibid, hlm. 34.

17 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

saat ada kemalangan di Masyarakat Pakpak beliau datang untuk turut ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Beliau juga memberikan penghiburan dan nasehat kepada keluarga yang berduka agar tetap hidup rukun. Dengan pelayanan yang dibuat oleh Pdt. Cirrelus Simanjuntak, seiring berjalannya waktu pada akhirnya banyak Masyarakat Pakpak memutuskan menjadi jemaat Kristen. Pelayanan ini hanya bisa dilakukan oleh beliau selama lima tahun karena Ephorus Pdt. Dr. Everwiebe memindahkan beliau ke HKBP Ressort Jajin matogu. 20 Pada tahun 1945 digantikan oleh Pdt. Davit dibantu oleh Ev.F. Banurea dan Gr. U. S. Manik. Pada tahun 1946 Ev. F. Banurea ini memberitakan injil di HKBP Salak, sedangkan Gr. U. S. Manik sendiri pergi ke Aceh Selatan. Pada awalnya mereka bertiga diutus dari HKBP Sidikalang secara bersama-sama, namun setelah satu tahun kemudian mereka berpencar. Satu orang yang pergi ke Aceh Selatan/ Aceh Singkil dan satu orang lagi tinggal di Salak21.

2.3 Struktur Organisasi HKBP Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah wadah persekutuan dari orang yang berasal dari segala kelompok, kalangan dan suku bangsa yang berada di seluruh Indonesia, serta di seluruh dunia ini yang dibaptiskan ke dalam nama Allah Bapa, Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Gereja itu adalah suatu

20

J. Boangmanalu, Preases Pdt. Cyrellus Simanjuntak, hlm 136. Pdt. E. J. Solin Almanak Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Sidikalang Dairi: Kantor Pusat GKPPD, 2012, hlm. 250. 21

18 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

perwujudan nyata dari Tubuh Kristus, yang menyaksikan kesatuan orang beriman di seluruh dunia ini. Sehingga gereja HKBP mempunyai visi, misi dan prinsip untuk mengembangkan kehidupan yang bermutu melalui pelayanan-pelayanan yang telah diajarkan kepada jemaaat HKBP. Selain itu juga HKBP merupakan lambing tubuh Kristus yang harus diterima oleh jemaat yang beragama Kristen. Adapun visi, misi dan prinsip HKBP tersebut adalah: a. Visi, HKBP berkembang menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka, serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat Kristen. b. Misi, HKBP berusaha meningkatkan mutu segenap warga masyarakat, terutama warga HKBP, melalui pelayanan-pelayanan gereja yang bermutu. Agar mampu melaksanakan amanat Tuhan Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan Abad-21. c. Prinsip, Untuk melaksanakan misi menuju visi tersebut di atas, HKBP berpegang teguh pada prinsip di bawah ini. 1). Melayani, bukan dilayani 2). Menjadi garam dan terang

19 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3). Menegakkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.22 Maksud dan Tujuan HKBP yaitu : 1. Memberitakan dan menghayati Firman Tuhan. 2. Memelihara kemurnian pemberitaan dan pengajaran firman Tuhan. 3. Menyediakan dirinya agar menjadi kemuliaan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. 4. Memantapkan dan menguatkan keberadaan HKBP. Di dalam melakukan pelayanan HKBP terbagi atas HKBP umum (pusat), Distrik, Resort, Huria, dan Jemaat. Ditingkat HKBP umum adalah kesatuan segenap HKBP yang meliputi jemaat, resort, distrik, lembaga-lembaga maupun yayasanyayasan yang dipimpin oleh Ephorus. Pelayanan umum dilakukan oleh Ephorus, Sekretaris Jenderal, Kepala Departemen Koinonia, Kepala Departemen Marturia, Kepala Departemen Diakonia, yayasan, Ketua Rapat Pendeta, Majelis Pekerja Sinode, Badan Audit HKBP, Badan Usaha HKBP, Badan Penyelenggara Pendidikan HKBP, Badan Penelitian Pengembangan HKBP, Bendahara Umum, dan komisi. Distrik adalah kesatuan dari beberapa resort untuk memantapkan dan mengembangkan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan di distrik itu. Pelayanan Distrik dipimpin oleh Praeses, Sekretaris Distrik, Bendahara Distrik, Kepala Bidang Kononia, Kepala Bidang Marturia, dan Kepala Bidang Diakonia. Ressort adalah

22

persekutuan

jemaat-

jemaat

setempat

untuk

memantapkan

dan

Hutapea Robert, Pdt, Bericht dan Statistik HKBP Jatisampurna : Bekasi, 2010

20 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

mengembangkan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan di tengah-tengah jemaatjemaat. Pelayanan Resort dipimpin oleh Pendeta Resort, Majelis Ressort, Sekertaris Ressort, Pendeta yang dibantu oleh Bibelvrouw, Diakones, dewan pengurus kegiatan tingkat Resort. Jemaat setempat adalah persekutuan beberapa warga HKBP di suatu tempat tertentu, yang dipimpin oleh pimpinan jemaat setempat. Pelayanan tingkat jemaat dipimpin oleh Guru Huria, Parhalado Huria, Seksi-seksi pengurus kegiatan di Huria, Panitia pembangunan. Menurut Pendeta JR. Hutauruk, tipe organisasi HKBP yang tersusun rapi yang berbentuk piramida berlaku sistem presbiterial, sinodal dan episkopal. Dalam lapisan jemaat berlaku ketiganya, namun yang menonjol ialah pesbiterial, yaitu jemaat melalui majelis jemaat mengatur dirinya, sehingga lapisan-lapisan di atasnya bisa hidup teratur. Unsur sinodal mendapat tekanan baik di lapisan resort maupun di lapisan teratas Sinode Godang. Seluruh kepemimpinan presbiterial dan sinodal itu dikuatkan lagi oleh unsur episkopal, yaitu dalam jabatan Eporus termasuk Praeses dan Pendeta Ressort. Adapun jabatan-jabatan struktural di HKBP berdasarkan Aturan dan Peraturan HKBP adalah sebagai berikut: 1. Ephorus Ephorus adalah yang memimpin segenap HKBP dan wakil HKBP terhadap pemerintah, gereja dan badan-badan organisasi lainya. Jabatannya harus diembannya sesuai dengan Konfesi, Tata Gereja dan Siasat Gereja HKBP. Periode

21 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

kepemimpinannya selama 4 tahun dan dia dapat dipilih kembali untuk mimpin selama 2 periode. Adapun yang menjadi tugas-tugas Eporus sesuai dengan Aturan dan Peraturan HKBP 1979 adalah sebagai berikut: a. Menggembalakan jemaat-jemaat dan pelayan-pelayan di segenap HKBP. b. Melaksanakan pembinaan terhadap pelayan-pelayan tahbisan dalam rangka upaya meningkatkan kemampuan mereka melaksanakan tugas-tugas pelayanannya, terutama dalam pelayanan firman dan penggembalaan. c. Memelihara dan menyuarakan tugas kenabian HKBP terhadap pemerintah atau penguasa melalui kata-kata maupun perbuatan nyata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di tengahtengah bangsa dan negara. d. Mewakili HKBP terhadap pemerintah, gereja, dan badan-badan lain di dalam maupun di luar negeri. e. Memimpin segenap HKBP bersama-sama dengan Sekretaris Jenderal dan kepala departemen berdasarkan Alkitab, Konfessi, Aturan Paraturan, dan Peraturan Penggembalaan dan Siasat Gereja sebagai manifestasi kepatuhannya kepada Yesus Kristus, Raja Gereja. Ephorus dapat mendelegasikan wewenang melaksanakan tugas-tugas tertentu kepada Sekretaris Jenderal, kepala departemen, atau praeses sesuai dengan kebutuhannya. f. Menyelenggarakan Sinode Agung sesuai dengan ketentuan persidangan

22 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Sinode Agung. g. Memimpin Rapat Pimpinan HKBP. h. Memimpin Rapat Praeses. i.

Mempersiapkan dan menyusun Rencana Induk Pengembangan Pelayanan HKBP yang akan disampaikan kepada Sinode Agung untuk ditetapkan.

Syarat Menjadi Ephorus a. Paling sedikitnya sudah 20 tahun menerima tahlbisall kependetaan di HKBP dan bekerja terus di HKBP. Pendetapendeta yang oleh HKBP diutus bekerja di gereja atau lembaga lain, mereka dianggap tetap bekerja di HKBP. b. Tidak pernah dikenai sanksi Peraturan Penggembalaan dan Siasat Gereja HKBP. 2. Praeses Adapun tugas praeses adalah sebagai berikut: a. Memimpin distrik bersama-sama dengan para kepala bidang b. Menyusun rencana strategis dan program kerja tahunan distrik sesuai dengan keputusan Sinode Agung, Majelis Pekerja Sinode, dan Rapat Pimpinan HKBP. c. Membina dan menggembalakan pelayan-pelayan tahbisan dalam pekerjaan yang sesuai dengan tugas pelayanannya masing-masing. d. Membimbing dan mengawasi semua kegiatan yan berkenaan dengan kerohanian dan kekayaan di jemaat-jemaat dan resort-resort.

23 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

e. Memimpin sinode distrik, majelis pekerja sinode distri dan rapat pimpinan distrik. 3. Sekertaris Jenderal Tugasnya yaitu : a. Menyertai Ephorus memimpin HKBP bersama-sama dengan kepala departemen. b. Memimpin administrasi HKBP sesuai dengan Aturan Peraturan HKBP c. Mewakili Ephorus melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Ephorus sesuai dengan kebutuhannya. d. Menerima laporan pelayanan dari organ-organ pelayanan di bawahnya. e. Bersama-sama dengan kepala departemen menyertai Ephorus menyusun Berita Pelayanan, Rencana Tahunan, dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Tahunan HKBP, yang akan mereka sampaikan ke Majelis Pekerja Sinode; Laporan Pertanggungjawaban dan Rencana Strategis ke Sinode Agung. 4. Pendeta Ressort Tugasnya yaitu : 1. Memimpin resort bersama-sama dengan majelis resort. 2. Memimpin jemaat induk resort bersama-sama dengan pelayan tahbisan lainnya. 3. Memimpin rapat resort, rapat majelis resort, dan rapat-rapat lain di tingkat

24 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ressort. 4. Memikirkan semua yang dibutuhkan demi membangkitkan dan menghidupkan jemaat bersama-sama dengan pelayan-pelayan di resort itu. 5. Membimbing jemaat-jemaat yang tergabung dalam resort itu untuk memenuhi tanggungjawabnya. 6. Melaksanakan keputusan Sinode Agung, Rapat Majelis Pekerja Sinode, sinode distrik, rapat majelis pekerja distrik, dan rapat resort. 7. Mengawasi keuangan dan kekayaan jemaat-jemaat yang dalam resssort itu. 8. Membuat evaluasi dan memberikan laporan pekerjaan, statistik, dan keuangan resort ke rapat resort dan praeses. Syarat Menjadi Pendeta adalah: a. Lulusan Sekolah Tinggi Teologi HKBP atau sekolah tinggi teologi lain yang diakui oleh HKBP yang sama kurikulumnya dengan Sekolah Tinggi Teologi HKBP jurusan kependetaan. b. Warga HKBP yang menghayati kasih karunia Allah yang diterimanya melalui baptisan dan pengakuan iman. c. Sudah praktek sedikit-dikitnya dua tahun di HKBP, dan dianggap sudah mampu menerima jabatan kependetaan sesuai dengan rekomendasi praeses dan pendeta resort. d. Sehat rohani dan jasmani. e. Menerima tahbisan jabatan kependetaan dari HKBP.

25 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

f. Pendeta yang diutus oleh gereja lain yang seiman dengan HKBP diperhitungkan sama dengan pendeta HKBP.23 5. Guru Jemaat Guru jemaat adalah yang menerima tahbisan jabatan guru jemaat dari HKBP melalui Ephorus Tugasnya : a. Sebagaimana tertera dalam Agenda Pemberian Jabatan Guru Jemaat b. Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan. c.

Menghadiri Rapat Guru Jemaat.

d. Ephorus yang memberikan persetujuan kepada guru – guru jemaat untuk bekerja diluar HKBP e. Guru-guru jemaat yang bekerja di luar HKBP tanpa persetujuan Ephorus, mereka tidak dianggap lagi pelayan HKBP.

6. Bibelvrouw Bibelvrouw adalah perempuan yang menerima jabatan bibelvouw dari HKBP melalui Ephorus sesuai dengan Agenda HKBP. Syarat Menjadi Bibelvrouw : a. Lulusan Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP. b. Sudah praktek sedikit-dikitnya dua tahun di HKBP, dan sudah menerima rekomendasi dari praeses dan pendeta ressort 23

J.R. Hutauruk, Bagan Organisasi HKBP, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990.

26 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

c. Sehat rohani dan jasmani. d. Menerima tahbisan jabatan bibelvrouw dari HKBP. 7.

Diakones

Diakones adalah perempuan yang menerima jabatan diakoii dari HKBP rnelalui Ephorus sesuai dengan Agenda HKBP. Syarat Menjadi Diakones : a. Lulusan Sekolah Tinggi Diakones HKBP. b. Sudah praktek sedikit-dikitnya dua tahun di HKBP dan sudah menerima rekomensasi dari praeses dan c. pendeta resort. d. Sehat rohani dan jasmani. e. Menerima tahbisan jabatan diakones dari HKBP. Tugasnya: a. Sebagaimana tertera dalam Agenda Pemberian Jabatan Diakones. b. Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan. c. Menghadiri Rapat Diakones. Tugasnya a. Sebagaimana tertera dalam Agenda Pemberian Jabatan Bibelvrouw. b. Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan. c. Menghadiri Rapat Bibelvrouw

27 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

8. Evangelis Evangelis adalah yang menerima jabatan evangelis dari HKBP melalui Ephorus sesuai dengan Agenda HKBP. Syarat Menjadi Evangelis : a. Yang sudah mengikuti program pelatihan dan memperoleh sertifikat evangelis dari Sekolah Tinggi Teologi HKBP. b. Yang sudah praktek sedikit-dikitnya tiga bulan di HKBP dan sudah menerima rekomendasi dari praeses dan pendeta resort. c. Sehat rohani dan jasmani. d. Kemampuannya sudah dievaluasi oleh Ephorus Tugasnya : a. Memberitakan Injil melalui kegiatan pewartaan, pengajaran, evangelisasi, dan kesaksian kemasyarakat tertentu, seperti kampus, sekolah, perkantoran, buruh, masyarakat marginal, dan lain – lain b. Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan. 9. Penatua Penatua adalah yang menerima jabatan penatua dari HKB melalui pendeta resort sesuai dengan Agenda HKBP. Syarat Menjadi Penatua :

28 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a. Warga jemaat yang mempersembahkan dirinya menjadi penatua di jemaat b. Rajin mengikuti kebaktian minggu dan perjamuan kudus. c. Berperilaku tidak bercela. d. Paling sedikitnya berumur 25 tahun. e. Sehat rohani dan jasmani. f. Sedikit-dikitnya berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. g. Dipilih oleh warga jemaat dari antara mereka dan ditetapkan oleh Rapat Pelayan Tahbisan. Tugasnya : a. Sebagai tertera dalam Agenda Penerimaan Penatua HKBP. b. Melaksanakan baptisan darurat. c. Menyusun statistik warga jemaat di lingkungannya masing-masing. d. Mengikuti sermon dan rapat penatua. e.

Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan.

10. Jemaat Biasa / Umum yaitu semua orang yang bergereja di gereja HKBP bisa di sebut sebagai jemaat tanpa melihat umur atau jenis kelamin atau suku. Jemaat biasanya hanya datang untuk mengikuti kebaktian minggu, kebaktian minggu adalah ibadah rutin setiap minggu nya yang bisa di ikuti oleh siapapun, ibada tersebut akan di pimpin

29 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

oleh Pendeta dengan di bantu oleh para sintua. Pemahaman tentang gereja sebagai instrumen kerajaan Allah sejak jaman Perjanjian Lama merupakan konsep yang sangat penting bagi pelayanan pastoral, karena : 1. Gereja sebagai keturunan perempuan akan terus berada dalam pertentangan dengan keturunan ular. Pertentangan ini bersifat konsisten dan rohani. 2. Dalam peperangan ini gereja mendapatkan jaminan kemenangan berdasarkan kesetiaan Allah pada rencana-Nya dan karya Kristus di kayu salib. 3. Fokus pelayanan gereja harus tertuju pada kepentingan Allah (pelebaran kerajaan-Nya) di muka bumi. 4. Gereja yang hanya berfokus pada dirinya sendiri sebenarnya bukan gereja.24

2.4 HKBP Simerkata Pakpak Gereja memang menjadi tempat para umat Tuhan bersatu dan bersekutu pada Tuhan. Pembenahan gereja dilakukan supaya gereja itu tidak tertinggal dalam mengikuti zaman. Didalam tubuh HKBP pembenahan dilakukan dalam perbaikan struktur tubuh kepemimpinannya. Pergantian Ephorus dari misionaris RGM menjadi pendeta orang Batak menjadi salah satu pembenahan yang sangat cepat. Ini menegaskan bahwa orang pribumi (orang Batak) sudah layak untuk memimpin gereja

24

Agustinus, The City of God, hal 32.

30 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

besar ini. Semuanya diatur sedemika rupa supaya tidak terjadi konflik dalam tubuh HKBP mengingat orang Batak adalah orang yang keras kepala. Pada kenyatannya hal itu tidak dapat dipungkiri perpecahan itu selalu ada. Dimulai dari berdirinya HKI dari HKBP akibat perbedaan paham dalam Pengaplikasian politik. Dilanjutkan dengan berdirinya GKPI akibat dari perbedaan paham antara kepemimpinan ditubuh HKBP. Selain itu jemaat HKBP juga sangat banyak, dimana pada saat itu Pakpak, Simalungun, Angkola, Toba, dan Karo dikelompokkan dalam satu suku yaitu suku Batak. Hal ini didasari adanya unsur persamanan antara etnis yang satu dengan yang lain.25 Pada tanggal 23 juli 1941 berdiri gereja Suku Karo yaitu GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) di Tapanuli yang dibawakan misionaris Belanda yang beraliran Calvinisme. Hal ini menjadi inspirasi bagi kesukuan lainnya yang ada di HKBP tidak terkecuali dengan Pakpak. Pada tahun 1953 pertama sekali berdiri gereja kesukuan dari HKBP ialah HKBP Simalungun dimulainya dengan adanya panjeheon (pemisahan) atau disebut GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun). Diikuti HKBP Angkola yang akhirnya menjadi Gereja Kristen Angkola (GKPA). Berdirinya gereja kesukuan mempunyai tujuan yang sama untuk memiliki gereja berdasarkan suku mereka sendiri dan memakai bahasa sendiri. Dalam mencapai tujuan itu tidaklah sangat mudah banyak proses yang harus dilalui. Sama halnya dengan Etnis Pakpak sekitar 20 tahun lamanya untuk memperjuangkan supaya

25

Bongaran Antonius Simanjuntak, Konflik status dan kekuasaan orang Batak Toba, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Edisi Revisi 2009.

31 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dapat mandiri menjadi gereja Pakpak yaitu GKPPD (Gereja Kristen Pakpak Dairi). Sekitar tahun 1963 jemaat Pakpak memiliki kesadaran sendiri untuk memiliki gereja, dimana mereka dapat memakai bahasa sendiri. Jemaat Pakpak selama ini dituntut dan terpaksa harus belajar bahasa Toba yang tidak mereka ketahui. Bahkan hambahamba Tuhan terpaksa belajar bahasa Toba untuk melayani. Hal ini menjadi miris bagi mereka, terutama bagi mereka yang telah mendapatkan pendidikan yang tinggi seperti Pdt. Davit Manik, Ev. F. Banurea, U.S. Manik dan lainnya. Mereka menganggap haruslah menujukkan identitas mereka dan memperlihatkan pada dunia bahwa Pakpak itu ada sama halnya dengan gereja suku yang lainnya. Selain itu, orang Pakpak merasa bahwa mereka tidak diperhatikan oleh HKBP. Para pengijilnya tidak mau belajar bahasa Pakpak dalam penginjilan, sementara orang Pakpak terpaksa untuk belajar Bahasa Toba baik dalam nyayian maupun Firman Tuhan. Pada akhirnya mereka menyampaikan harapan dan keinginan itu kepada pemimpin HKBP pusat di Paeraja. Mengingat dan menimbang bahwa tujuan penginjilan untuk menyampaikan firman Tuhan kepada jemaat, tetapi jika jemaatnya tidak mengerti otomatis tujuan itu tidak akan tercapai secara maksimal. Usulan ini akhirnya diterima oleh pemimpin HKBP pusat Paeraja. Pada tanggal 3 Maret 1963 berdirilah HKBP Simerkata Pakpak (HKBP yang memakai bahasa Pakpak) di Sumbul Pegagan. Mereka mengambil analogi bahwa kekristenan masuk ke Tanah Pakpak pertama kali di daerah Sumbul Pegagan, maka mereka ingin menjadi pelopor

32 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

pertama kali untuk menujukkan bahwa identitas gereja itu bisa muncul dari daerah mana saja.26 Pada tanggal 27 Maret 1965 berdiri lagi gereja HKBP Simerkata Pakpak di Sidikalang. Pesta peresmian HKBP Simerkata Pakpak Sidikalang dilakukan oleh Ephorus Pdt. DS. TS. Sihombing, tepat tanggal 25 Juli 1965 yang bertepatan dengan penerimaan serjana Theologi dari Universitas HKBP Nomensen oleh Pdt. Bastian Padang. Beliau menjadi pendeta pertama dari Suku Pakpak yang mendapat gelar sarjana Theologi dari Universitas HKBP Nomensen. Sekaligus HKBP Simerkata Pakpak Sidikalang ini dijadikan sebagai pusat HKBP Simerkata Pakpak. Jemaat yang memisahkan diri dari HKBP di Sidikalang sekitar kurang lebih 70 anggota keluarga. Satu persatu warga jemaat gereja yang bersuku Pakpak mengeluarkan diri dari HKBP menjadi anggota HKBP Simarkata Pakpak. Termasuk gereja HKBP Salak setelah berdiri HKBP Simerkata Pakpak di Sidikalang satu tahun kemudian HKBP Salak berdiri menjadi HKBP Simerkata Pakpak. Selanjutnya tepat tanggal 18 Oktober 1970 berdiri HKBP Simerkata Pakpak di Padang Bulan Medan dan beberapa gereja lainnya. Beberapa hamba Tuhan yang menjadi pelopor pendirian HKBP Simerkata Pakpak diantaranya ialah: 

Gr. L.H Bako



Gr. J Batanghari



St. M. D Solin

26

Wawancara Pdt E. J Solin ( pdt pertama GKPPD) di Medan13 Juli 2017

33 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA



St. L. Angkat



St. L. Manik



St. Manik dan lain- lain Selama perjalanan pemisahan gereja Etnis Pakpak dari HKBP menjadi HKBP

Simerkata Pakpak mendapat dukungan yang secara positif. Dalam arti tidak ada konflik baik dari HKBP secara keseluruhan maupan Pakpak sendiri. Pihak HKBP tidak mempersulit proses pendirian HKBP Simerkata Pakpak, mereka tidak mempermasalahkan layak atau tidak layaknya HKBP Distrik Simerkata Pakpak ini dibentuk. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah pelayanan terhadap orang Pakpak. Pada tanggal 24 Juli 1979 hal yang mengejutkan terjadi dalam perjalanan HKBP Simerkata Pakpak dengan diresmikannya Distrik HKBP Simerkata Pakpak di Sidikalang secara de facto yang dipimpin oleh Pdt. U. S. Manik. Selain itu para pelayan hamba Tuhan juga tidak lupa untuk meningkatkan kuliatas jemaatnya dengan cara memperjemahkan Alkitab kedalam bahasa Pakpak yang diterjemahkan oleh Gr.J. Padang Batanghari dan Pdt. E.J. Solin. Seiring berjalannya waktu yang dilalui oleh HKBP Simerkata Pakpak semakin jenuh atas kekuasan yang masih berada dibawah naungan HKBP. Dimana mereka harus tetap melaporkan setiap keadaan pelayanan kepada pimpinana pusat. Pemimpin pusat berhak memberikan keputusan dalam setiap pelayanan HKBP Simerkata Pakpak.

34 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada bulan September 1984 dibentuk sebuah organisasi dengan nama Panitia Persiapan Mejujung Lupo (PPML) di Salak. Adapun PPML ini bertujuan untuk membentuk dan mempersiapkan rencana pemisahan HKBP Simerkata Pakpak menjadi gereja Suku Pakpak. Hal yang dipersiapkan antara lain penetapan nama gereja, menyusun aturan dan peraturan gereja yang akan datang. Pada tahun 1986 para panitia menyampaikan usulan ini secara resmi kepada pempinan pusat HKBP Ephorus Pdt. Ds. G.H.M. Siahan. Beliau menyambut baik atas usulan yang disampaikan oleh PPML, tetapi pada waktu itu berketepatan Pdt. Ds. G.H.M siahan memasuki masa pesiunan. Beliau menawarkan supaya usulan ini disampaikan kepada pemimpin pusat HKBP Ephorus yang akan datang. Artinya pemisahan HKBP Simerkata Pakpak masih ditunda.27 Tahun 1987 terpilihlah Pdt. S.A.E Nababan sebagai Ephorus HKBP yang baru. Mengingat kesepakatan yang telah dilakukan oleh PPML dengan Ephorus lama, maka meraka kembali mengusulkan terkait tentang pemisahan HKBP Simerkata Pakpak dari HKBP kepada Pdt. Dr. S.A.E. Nababan selaku Ephorus baru yang telah dipilih. Pada saat disampaikan kepada Ephorus kebahagian berubah menjadi kekecewaan karena usulan yang disampaikan PPML sama sekali tidak ditanggapi oleh Ephorus. Lagi lagi untuk pemisahan HKBP Simerkata Pakpak dari HKBP tertunda kembali, namun karena banyak hal yang mendorong mereka untuk madiri masyarakat Pakpak bersatu dan terus berjuang untuk mewujudkan cita- cita mereka.

27

Sonni Parlindungan Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi Medan: Monora, 2002, hlm.31-36.

35 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada tahun 1990 PPML kembali menyampaikan kepada Ephorus HKBP Pdt. Dr. S.E.A. Nababan melalui surat yang telah ditanda tangani oleh 39 tokoh Simerkata Pakpak, usulan ini ditanggapi baik oleh Ephorus Pdt. S.E.A. Nababan dan akan dibahas pada saat rapat gabungan Majelis Pusat dan para praeses HKBP. Adapun isi surat yang diserahkan oleh tokoh- tokoh PPML kepada Ephorus Pdt. S.E.A. Nababan adalah untuk memperteguh pendirian gereja Pakpak sebagai berikut :  Tanggal 6 Juli 1990 diadakan rapat di Gereja HKBP Simerkata Pakpak Sidikalang, Panitia Persiapan Menjujung Lupo (PPML) diubah menjadi PPM (Panitia Perwujudan Mandiri). Kepanitiaan pemisahan Gereja Pakpak ini disetujui oleh 4 ressort HKBP Simerkata Pakpak yang ada di Dairi yaitu Ressort Sumbul Pegagan, Ressort Salak Simsim, Ressort Sidikalang dan Ressort Tingga Lingga.  Tanggal 1 September 1990 PPM melakukan rapat dengan tujuan untuk mencari nama yang tepat untuk Gereja Pakpak ini. Selain

itu untuk

membentuk panitia dengan tujuan menyusun aturan dan peraturan gereja mandiri ini. Dalam hasil rapat diputuskan bahwa nama gereja mandiri ini adalah GKPPD (Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi). Maka sejak itulah GKPPD mulai dipakai sebagai calon gereja yang mandiri.  Tanggal 20 Oktober 1990 diadakan peresmian aturan peraturan GKPPD di Gereja HKBP Simerkata Pakpak di Sukadame.

36 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada tanggal 9 November 1990 diadakan rapat gabungan Majelis Pusat dan para praeses28 HKBP yang dipimpin oleh Pdt. Dr. S.A.E. Nababan. Pada saat pengambilan keputusan beliau tidak setuju atas pemisahan HKBP Simerkata Pakpak dari HKBP. Beliau mengatakan bahwa pemisahan persekutuan gereja dengan latar belakang kepentingan adat- istiadat dan bahasa merupakan usaha untuk mencabikcabik tubuh Kristus. Selain itu beliau juga mengatakan jika perjuangan pemisahan ini terus dilanjutkan maka sampai 50 tahun kita tidak usah bertemu lagi. Hal ini sangat mengecewakan bagi para tokoh- tokoh PPM, dimana saat diberikan surat yang telah disusun mengenai persiapan kemandirian GKPPD beliau setuju. Tiba saat pengambilan keputusan beliau menjadi tidak setuju. Dalam arti sangat sedikit harapan untuk mewujudkan cita- cita dari jemaat Pakpak serta para tokoh- tokoh PPM. Gereja HKBP Simerkata Pakpak yang ingin memisahkan diri HKPB sekitar 70 gereja dengan jumlah warga jemaatnya sekitar 1.750 kk. Termasuk Cikaok merupakan Distrik HKBP Simerkata Pakpak yang berressortkan HKBP Simerkata Pakpak di Salak sebelum tahun 1990. Setelah terjadi pemisahan maka gereja Cikaok dijadikan pusat ressort yang terdiri dari 14 pagaren yang berada di Dusun Cikaok dipimpin oleh Pdt. Juliana Padang. Selama HKBP berkuasa di Gereja Pakpak khususnya di Desa Silima Kuta dan sekitarnya, jemaat Pakpak membangun gereja sebanyak 13 gedung gereja yang sebelumnya dimasukkan ke Ressort HKBP Simerkata Pakpak Salak. Setelah terjadi pemisahan bertambah satu yaitu di Dusun Lae Mbulan. 28

Praeses merupakan pendeta Distrik yang dimana Distrik ini terdiri dari beberapa ressort.

37 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Untuk lebih jelas lihat tabel dibawah ini. Tabel 4.1 Nama- nama gereja Ressort Cikaok berdasarkan urutan pembangunannya.

No 1

Almanak GKPPD Tahun 1994 hlm 271-273 Nama Gereja Guru Kuria GKPPD Cikaok St. Bachtiar Berutu

2

GKPPD Singgabur

St. Ragat Manik

3

GKPPD Kuta Kersik

St. Osman Berutu

4

GKPPD Namuseng

St. Ringgas Berutu

5

GKPPD Penanggalan

St. Sehat Bancin

6

GKPPD Kuta Tinggi

St. Ladin Berutu

7

GKPPD Napatumbuk

St. Curu Manik

8

GKPPD Lae Salak Sosial

St. Ros Lerita Br. Manik

9

GKPPD Binangaboang

St. Aner Bancin

10

GKPPD Resdes Silima Kuta

St.Dominar Br. Tumangger

11

GKPPD Simperbuang- Kuta Ujung

St.Osmar Situmorang

12

GKPPD Ulumerah

St. Juster Berutu

13

GKPPD Lae Langge

St. Tiarma Tinambun

14

GKPPD Lae Mbulan

St. Tinus Munthe

38 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB III FAKTOR- FAKTOR PEMISAHAN GKPPD DARI HKBP 3.1 Faktor Pemisahan GKPPD dari HKBP Sejak orang Pakpak dibaptis menjadi Kristen pada awal abad ke-20, sampai awal tahun 1990-an, tempat ibadah mereka adalah di Gereja HKBP. Media komunikasi yang dipakai di Gereja HKBP adalah bahasa Batak Toba, bukan bahasa Pakpak, sekalipun banyak jemaatnya yang Pakpak Kristen. Nyanyian, liturgi, doa, dan Injil menggunakan bahasa Batak Toba, sehingga Orang Pakpak Kristen melalui gereja cepat mengerti dan lancar berbahasa Batak Toba. Demikian pula dengan penginjil dan pendeta Kristennya, yang semua berasal dari Batak Toba. Sampai pada masa kemerdekaan, belum ada orang Pakpak yang menjadi pendeta. Baru di tahun 1953, ditasbihkan pendeta Pakpak pertama bernama Winfred Banurea. Namun karena dididik dilingkungan gereja dan masyarakat Batak Toba, saat melayani jemaatnya dia tetap menggunakan bahasa Batak Toba. Adapun alasan anggota jemaat dan pendeta untuk tetap memaksakan diri menjadi gereja kesukuan diantaranya ada dua faktor dari luar dan faktor dari dalam, namun faktor dari dalam ini juga merupakan hal yang membuat anggota jemaat Pakpak lama untuk dapat memisahkan diri dari HKBP.

3.1.1 Faktor Terbentuknya Gereja Suku Pada tahun 1963 memisahkan diri dari Huria Kristen Batak Protestan Simalungun (HKBPS) dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Sidikalang. GKPS memisahkan diri karena kurangnya perhatian

39 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dari Zendeling terhadap orang-orang Simalungun sehingga membuat Jaudin Saragih dan Pdt. J. Wismar Saragih mengambil inisiatif untuk memenangkan orang Simalungun menggunakan orang Simalungun dan bahasa Simalungun. Selain itu karena adanya perbedaan kebudayaan antara Simalungun dan Batak Toba.29 Hal ini menjadi motifasi bagi anggota jemaat Pakpak untuk memisahkan diri dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) secara khusus anggota jemaat yang tinggal di Sidikalang yang kebetulan gedung Gereja Kristen Prostestan Simalungun (GKPS) ini tidak jauh dari gedung Gerejas Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). Pada saat itu gereja Pakpak dengan nama Huria Kristen Batak

Protestan “Simerkata Pakpak“ (HKBP

Simerkata Pakpak), namun karena mereka juga ingin seperti GKPS jadi mereka berjuang untuk menjadi gereja yang mandiri dengan nama GKPPD. Semanagt ini tidak hanya dirasakan oleh anggota jemaat GKPPD Sidikalang tetapi hampir semua anggota jemaat Pakpak , sehingga hal ini disosialisasikan kepada setiap anggotan jemaat GKPPD bahkan lama kelamaan rasa ingin memisahkan diri ini semakin meningkat dan banyak anggota jemaat yang mendukung termasuk anggota jemaat ressort Cikaok.30

3.1.2 Faktor Sosial Budaya Pada 1940-an orang Pakpak banyak yang mengganti marganya menjadi marga Batak Toba. Menyembuyikan identitas merupakan strategi adaptasi orang Pakpak untuk bertahan hidup di daerah rantau. Orang Pakpak biasanya bermarga Solin lebih 29

Van Den End Thomas, Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985, hlm. 263 30 Wawancara, Joniater Berutu (56 tahun), Dusun Cikaok tanggal 13 Juli 2017

40 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

suka menyebut dirinya marga Pandiangan (Toba), Berutu biasanya Sinaga, Padang menjadi Situmorang, dan Tumangger menjadi Simbolon. Penggantian marga adakalanya bersifat sementara saat mereka berada didaerah rantau, dan jika pulang ke daerah asalnya mencantumkan kembali marga aslinya. Di Medan misalnya, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa marga Padang, berutu, Tumangger dari Tanah Pakpak. Karena itu orang Pakpak menggantikan marganya menjadi marga Batak Toba yang sebelumnya telah merantau ke kota-kota besar. Selain ingin dikenal dan menghilangkan rasa rendah diri, juga dapat dimanfaatkan untuk membangun relasi dengan Batak Toba. Berbagai kepentingan untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi di daerah rantau. Pada pertengahan 1980-an, penggantian marga dikalangan Pakpak mulai berkurang. Hal ini disebabkan adanya kesadaran akan pentingnya asal usul marga dan muculnya kekhawatiran jika penggantian marga terus terjadi marga Pakpak akan punah31. Demikian halnya di Sidikalang pada tahun 1930 orang Toba lebih banyak dibading dengan orang Pakpak yang sebagai tuan rumah. Bahkan dari tahun ketahun Batak Toba semakin meningkat dengan tujuan untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Orang Pakpak yang awalnya tinggal di Sidikalang ada yang berpidah kearah pegunungan atau Suak Simsim dan ada yang tetap di Sidikalang. Pada masa Kolonial orang Pakpak yang tinggal dipegunungan yang masih terbelakang kebanyakan orang Toba menyebutnya sebenggol artinya sama dengan suku yang rendah atau dipandang

31

Budi Agustono, Disertasi, Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial- Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958- 2003, hlm. 64-67

41 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

sebelah mata. Orang Toba waktu itu melihat orang Pakpak Simsim yang berjalan tanpa alas kaki sering menepuk tangan beberapa kali sebagai isyarat ada orang Pakpak yang sedang melintas ditengah kota. Saat orang Pakpak berjalan orang Toba memanggil bikan dengan sebutan nama, marga seperti lazimnya Batak Toba memanggil sesama, tetapi bertepuk tangan sebanyak tiga kali yang mengeluarkan bunyi pak…pak…pak. Pada saat petani menjual hasil panen ke pasar Sidikalang yang dominan Batak Toba dan media komunikasi Bahasa Toba Bahasa Pakpak tidak pernah digunakan di pasar ini karena orang Batak Toba tidak mengerti dan tidak akan mau belajar Bahasa Pakpak. Dalam hal berkomunikasi, dikehidupan sehari-hari orang Pakpak harus menggunakan bahasa Toba karena mereka hidup ditengah- tengah masyarakat Toba. Hal ini mengakibatkan Bahasa Pakpak semakin dilupakan bila masyarakat Pakpak tidak melestarikannya. Sementara di Salak sendiri karena mayoritas Pakpak sehingga hal ini tidak terlalu berpengaruh sekali khususnya di Ressort Cikaok. Mereka terpengaruh karena adanya mendengar isu- isu yang membuat mereka tidak aman seperti bagai PNS akan dimutasi jikalau pro GKPPD. Pada awalnya ini diperjuangkan lewat pemerintah, namun keinginan itu tidak tercapai karena belum adanya orang Pakpak yang menjadi pejabat tinggi. pada akhirnya dibuatlah dari gereja, dimana dengan adanya gereja Suku Pakpak maka orang Pakpak boleh bersatu kembali untuk melestarikan budayannya. 32

32

Wawancara, Denrik Anakampun, (53 tahun) di Medan 20 Juli 2017.

42 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3.1.3 Sistem Kepemimpinan Dari segi kepemimpinan untuk menjalankan keberadaan di gereja merupakan faktor pendorong sekaligus menjadi faktor penghambat terjadinya pemisahan GKPPD dari HKBP. Didalam HKBP hanya satu Ephorus, secara otomatis untuk peluang menjadi Ephorus bagi kalangan masyarakat Pakpak sangat sulit. Sementara segala yang terjadi dan yang dibutuhkan oleh gereja akan dilaporkan ke Zending lewat Ephorus. Itu artinya jemat Gereja Pakpak akan sulit medapatkan apa yang mereka butuhkan. Selain itu setiap kejadian di gereja HKBP Simerkata Pakpak harus dilaporkan kepimpinan pusat HKBP. Dimana yang mengambil keputusan ditentukan oleh pimpinan pusat sendiri. Dari hal ini jemaat Pakpak merasa kurang sepakat karena apa yang diputuskan atau diberikan oleh pimpinan pusat belum tentu hal itu yang sangat diperlukan mereka. Sementara yang memutuskan untuk benar atau salah, ia atau tidak, ini atau itu orang lain. Jadi hal ini mendorong jemaat Pakpak untuk memisahkan diri dari HKBP dengan harapan jemaat Pakpak bisa mengelola dan mengurus gerejanya sendiri. Disisi lain hal ini menjadi sebuah alasan dari HKBP bahwa orang Pakpak itu belum waktunya untuk berdiri. dilihat dari segi kepemimpinannya yang belum memadai seperti pendetanya yang masih bisa hitung jari. Jadi kurang memungkinkan untuk dilepaskan secara sendiri, tetapi melihat waktu yang begitu lama berada dibawah kekuasaan HKBP membawa dampak negatif bagi masyarakat Pakpak sendiri. Terkhusus dalam hal kebudayan Pakpak baik dari segi adat isti adat maupun

43 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dalam bahasa. Meskipun HKBP Simerkata Pakpak sudah lama dibuat, tetapi itu hanya dipergunakan saat diibadah berlangsung. Setelah keluar dari gereja Jemaat Pakpak kembali menggunakan Bahasa Toba seabagai alat komunikasi didalam kehidupan sehari- hari. Sementara di HKBP Ressort Salak berbeda dengan hal ini, mereka hanya menggunakan Bahasa Toba pada saat pergi dari daerahnya. Di Salak yang mayoritas masyrakat Pakpak sehingga dalam kehidupan sehari mereka tetap menggunakan Bahasa Pakpak.

3.2 Proses Pemisahan GKPPD Dari HKBP Didorong untuk memiliki gereja mandiri pada tanggal 26 Februari 1990 Panitia Persiapan Menjujung Lupa (PPML) menyampaikan aspirasinya tentang keinginan “menjujung Lupo” (berdiri sendiri) kepada Ephorus HKBP S.E.A. Nababan. Terkhusus bagi warga jemaat Pakpak yang berada di HKBP Distrik Simerkata Pakpak menginginkan secara penuh agar melalui kemandirian itu warga jemaat Pakpak semakin menunjukan identitasnya. Aspirasi ini ditanda tangani oleh 39 tokoh HKBP Simerkata Pakpak Akan tetapi aspirasi tidak mendapat tangggapan yang positif dari pemimpin Ephorus. Beliau mengatakan bahwa kemandirian itu terlalu cepat diingikan warga jemaat Pakpak. Beliau juga menanmbahkan bahwa HKBP Simerkata Pakpak belum mampu secara menejemen, kecakapan organisasi termasuk kemapanan finansial. Untuk itu Ephorus HKBP menginginkan supaya menunggu adanya kesiapan untuk mengadakan suatu gerja yang mandiri ditunda dahulu menunggu adanya kesiapan yang lebih matang deengan bantuan HKBP.

44 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Walau aspirasi yang diusilkan kepada Ephorus HKBP tidak mendapat respon yang baik, tetapi semangat untuk mendiri tidaklah padam. Dalam rangka mematangkan cita-cita kemandirian gereja Pakpak, pada tanggal 6 Juli 1990 Panitia Persiapan Menjujung Lupo (PPML) diganti menjadi Panitia Perwujudan Mandiri (PPM). Pada tanggal 26 Agustus 1990 diadakan pertemuan yang dihadiri 105 orang, mereka adalah utusan dari setiap gereja HKBP Simerkata Pakpak. Dengan agenda penyatuan pendapat dan sosialisasi kemandiran yangnantinya akan dibawa kesetiap gereja secara khusus gereja HKBP Simerkata Pakpak33. Melihat respon yang luar biasa dari warga jemaat serta didorong oleh keinginan untuk memiliki organisasi gereja yang mengatas namakan kesukuan. Hal ini dapat dilihat bahwa hampir semua suku yang ada di Sumatera Utara, Suku Pakpaklah yang masih belum memiliki gereja yang bercirikan suku. Pada tanggal 1 September 1990 Panitia Perwujudan Mandiri (PPM) rapat dengan tokoh-tokoh jemaat Kristen tentang tindak lajut kemandirian di Medan. Dengan hasil rapat menentukan nama gereja Pakpak yang mandiri, membentuk panitia, menyusun aturan dan peraturan gereja mandiri. Pada tanggal 20 Oktober 1990 diadakanlah rapat di HKBP Simerkata Pakpak Sukadame yang menghasilkan keputusan disahkan dan diresmikannya aturan dan peraturan gereja Pakpak mandiri. Hal ini dilakukan sebagai persiapan untuk membentuk gereja Pakpak mandiri yang akan disampaikan kepada Ephorus HKBP di Tarutung. Melihat semangat tersebuat Ephorus berjanji akan membahas kedalam

33

Sonni Parlindungan Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi Medan: Monora, 2002, hlm 55-58

45 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

agenda rapat Sinode Godang HKBP ke-50 di Pearaja Tarutung. Pada saat Sinode Godang Ephoorus HKBP mengambil keputusan bahwa untuk mempersiapkan adanya gereja Suku Pakpak yang mandiri, maka terlebih dahulu diberikan suatu otonomi khusus kepada gereja HKBP Simerkata Pakpak. Pada tanggal 4 Agustus 1991 PPM mengadakan rapat di Medan dengan tujuan untuk membahas tanggal kemandirian GKPPD, yang dilakukan secara kesepakatan bersama ditepatkan pada tanggal 25 Agustus 1991. Hal ini dilakukan tanpa ada persetujuan dari HKBP, tetapi panitia PPM membuat surat ataupun laporan mengenai keputusan yang telah dilakukan oleh panitia. PPM mengirim utusan untuk menyampaikan langsung surat tersebut kepada pimpinam pusat HKBP. Saat surat itu sampai ketangan pemimpin pusat HKBP, mereka kembali mengirim tim Biro HKBP kekantor PPM untuk menunda segenap rencana mengenai pemisahan HKBP Simerkata Pakpak dari HKBP. Pada saat kedatangan tem biro maka PPM mempertanyakan kapan mereka memdapat kepastian persetujuan dari HKBP untuk menjadi gereja Pakpak yang mandiri. Tem Biro menganggap bahwa hak untuk memutuskan ini diluar kekuasaan mereka. Dengan kata lain proses pemisahan HKBP Simerkata Pakpak dari HKBP masih belum ada persetujuan.34 Dengan kesepakatan bersama (dari pihak Pakpak) peresmian pemisahan HKBP Simerkata Pakpak dari HKBP dengan nama gerja GKPPD. Dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 1991 bertempat di Medan untuk mencegah terjadinya permasalahan. Pada saat itu fasilitas HKBP Simerkata Pakpak di Dairi atau pusat 34

Wawancara, Johnson Anakampun, (53 tahun) di Medan tanggal 22 Juni 2017.

46 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gereja Pakpak masih kepemilikan HKBP, sedangkan di Medan inventarisnya bisa dikatakan diluar dari HKBP. Adapun pengurus- pengurus gereja GKPPD adalah sebagai Bishop Pdt. Elias J. Solin dan Sekretaris Jenderal adalah St. S. Manik. Pada hari yang sama dilantiklah majelis pusat perdana Pdt. E.J.Solin Sm.Th, St.Sakkap Manik, Pdt.S. Lingga Sth, Pdt.Drs. Ridman Manik Sm Th, St. S.M. Boangmanal, St.Drs.M.J.Bancin, St.S.Berutu, St.Drs.S.Manik, St.Misi Cibro, St.F.Br Lingga, St.If.Derik Anakampun, Juanda Banurea, Drs.M.T.Banurea, Drs.R. Munthe, Drs. Rasmon Sinamo, dan Antoni Ujung SH. Merekalah yang menjadi anggota majelis pusat pada tahun 1991-1995. Peresmian ini dihadiri oleh warga jemat Pakpak serta Pdt. Armensius Munthe dari GKPS. Beliau memberi dukungan atas keberadan gereja jemaat Pakpakyang baru itu meskipun kecil pada awalnya tetapi Tuhan pasti memberkati. Keputusan kemandirian GKPPD tidak semua pihak yang setuju, dengan alasan belum

waktunya

untuk mandiri

dilihat

dari

kemampuan ekonomi,

serta

kepemimpinan Pakpak yang belum mapan. Pdt. U.S. Manik merupakan salah satu orang yang kurang setuju atas kemandirian GKPPD tanpa persetujuan dari Ephorus HKBP. Pada akhirnya beliau lebih baik memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua kepanitian Pemisahan GKPPD. Alasan beliau tidak setuju dikarenakan beliau tidak mau melawan terhadap pimpinannya. Pada tanggal 24 November 1991 Ephorus HKBP mengambil kebijakkan untuk dapat melumpuhkan semangat para tokoh GKPPD dengan meresmikan HKBP Simerkata Pakpak Otonom yang diketuai oleh Pdt. U.S. Manik. Selain itu beliau juga

47 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

diangkat langsung menjadi wakil bagi Ephorus bagi pelayan orang Pakpak. HKBP Simerkata Pakpak Otonom berpusat di Sidikalang. HKBP Simerkata Pakpak Otonom lebih banyak didukung dari jemaat HKBP sendiri.35 Ada pun maksud HKBP meresmikan HKBP Simerkata Pakpak Otonom adalah sebagai reaksi atas kemandirian GKPPD sekaligus sebagai persiapan untuk kemandirian gereja Pakpak kelak, sehingga belum adanya pengakuan resmi akan kemandirian gereja Pakpak yang mandiri.

35

Sonni Parlindungan Berutu, Op.cit, hlm. 42.

48 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB IV Akibat Pemisahan GKPPD Dari HKBP Ressort Cikaok di Kabupaten Dairi 1990-1995 4.1 Terbentuknya Tempat Ibadah Baru Pada saat terjadinya pemisahan gereja suku Jemaat Pakpak menjadi dua tempat ibadah. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendangan diantara warga jemaat Pakpak. Ada yang mengatakan belum waktunya untuk mandiri karena jemaat Pakpak belum mapan persiapannya menjadi sebuah gereja yang mandiri baik dari segi kepemimpianan maupun dari segi ekonomi dan lain sebagainya. Karena sering terjadinya kesenjangan yang dialami jemaat Pakpak serta ingin menunjukkan identitas Pakpak lewat gereja sama seperti gereja suku yang lain yaitu GKPS,GKPA dan lain, sehingga jemaat Pakpak berusaha keras untuk mewujudkan gereja yang mandiri yaitu GKPPD. Dengan adanya alasan dan tujuan tersebut menyebabkan jemaat Pakpak mengalami dua tempat ibadah kurang lebih 2 tahun diantarannya HKBP Simerkata Pakpak Otonom dan GKPPD. Hal ini terjadi karena kurangnya keseriusan Ephorus HKBP untuk mewujudkan gereja Pakpak yang mandiri dengan alasan terlalu cepat HKBP Simerkata Pakpak menjadi gereja yang mandiri. Beliau juga menyarankan terlebih dahulu memberikan gereja otonom untuk memetangkan warga jemaat gereja Pakpak mandiri ini. Dengan rasa kecewa jemaat Pakpak menerima keputusaan tersebut, tetapi setelah beberapa lama Ephorus tidak ada menanggapi pada akhirnya jemaat Pakpak mengambil inisiatif sendiri untuk meresmikan pemisahaan GKPPD dari HKBP.

49 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Setelah jemaat Pakpak meresmikan gerejanya Ephorus juga meresmikan HKBP Simerkata Pakpak Otonom.

`4.2 Sistem Kekeluargaan terpecah Pada saat terjadinya dua gereja di ressort Cikaok kekeluargaan juga mengalami perpecahan karena dari pihak HKBP Simerkata Pakpak Otonom tidak memberikan kesempatan kepada GKPPD untuk melaksanakan kebaktian secara bergantian di gereja. Sementara gereja tersebut merupakan hasil dari gotong royang semua jemaat Cikaok sebelumnya. Jemaat GKPPD merasa tidak adil demi keamanan masyarakat di Cikaok warga jemaat GKPPD mengadakan kebaktian di rumah warga. Bangun Berutu salah satu dari warga jemaat HKBP Simerkata Pakpak Otonom sering sekali mengajak warga jemaat GKPPD agar balik ke HKBP Simerkata Pakpak Otonom. Dalam kehidupan sehari-hari keramah tamahan antara sesama jemaat di Cikaok pun semakin pudar. Sebelumnya jika mereka mengadakan mardang atau mersuan maka mereka saling bantu membantu, tetapi dengan terjadinya perpecahan gereja ini. Mereka hanya mengundang orang yang satu gereja dengannya, selain itu jika mereka juga bertemu mereka hanya diam dan melajutkan setiap aktifitas masingmasing. Dengan adanya peristiwa ini para ibu dituntuk untuk mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki. Contoh pada saat mardang harus ada yang mertutak

50 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

biasanya dikerjakan oleh laki-laki tetapi karena mereka tidak ada maka para ibu harus mempelajarinya.36 Di Ressort Cikaok sendiri dari pihak keamanan tidak ada kekerasaan dengan jemaat setempat, tetapi karena mendengar berita bahwa di Salak telah terjadi penangkapan terhadap warga jemaat GKPPD. Pada tanggal 22 November 1991 ada 7 orang yang ditangkap Kodim Dairi salah satunya Sondang Boangmanalu.37 Hal ini menyebabkan para kaum laki-laki lebih sering bersembunyi di hutan-hutan baik siang maupun malam. Sedangkan para kaum ibu dan anak- anaknya berkumpul di satu keluarga masing- masing. Contohnya keluarga besar dari Mpung Mak Rista mereka tinggal di Persabahen . Hampir setiap malam mereka tidur dan kumpul di rumah Mpung Mak Rista, dimana Mpung ini orangnya tegas, berani, selain itu rumah Mpung Mak Rista ini juga ditengah jadi tempatnya strategis. Mereka biasanya tidur bergantian dan lama-lama karena takut koramilnya datang secara tiba- tiba. Tanda untuk mereka bisa siap siaga mengambil alat adalah hewan peliharan mereka yaitu Anjing, jika Anjingnya menggonggong maka mereka segara mengambil alat masingamsing ada yang pegang parang, kayu dan lain-lainnya.

36

Wawancara Rasi Hasugian, (85 tahun) di Cikaok 20 Juli 2017. Sonni Parlindungan Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi Medan: Monora, 2002, hlm 45. 37

51 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.3 Terjadi Konflik Konflik adalah perkelahian, peperangan, atau perjuangan yaitu berupa konfrontasi fisik antara berbagai pihak yang kemudian berkembang dengan masuknya ketidak kesepakatan yang tajam atau oposisi atas berbagai kepentingan, pertentangan ide. Konflik bisa muncul dalam skala yang berbeda seperti konflik antara orang, konflik antar kelompok, konflik antar kelompok dengan negara, konflik antar negara. Konflik itu bisa saja diredam, tetapi tidak bisa dihilangkan. Hal yang bijak bagi seorang pemimpin adalah mengidetifikasi, dan memahami konflik, belajar menghadapi, belajar mengelola, serta menyelesaikan konflik. Seiring dengan agresifnya manusia dalam mencapai kepentingan tersebut, konflik pun tetap omnipresent38. Dalam organisasi apapun dimana kita terlibat di dalamnya, pasti bakal berhadapan dengan konflik. Semakin besar organisasi, semakin rumit pula keadaannya. Dan dalam semua aspek, akan mengalami kompleksitas, baik alur informasi, pengambilan keputusan, pendelegasian wewenang, sumber daya manusia dan sebagainya. Demikian halnya didalam memperjuangkan gereja kesukaan dikalangan masyarakat Pakpak. 4.3.1

Konflik dari Dalam

Pada awalnya kepanitiaan dan kemanadirian GKPPD telah disetuju oleh keempat ressort HKBP Simerkata Pakpak di Dairi

yaitu resort Sumbul, Ressort

Pegagan, Ressort Salak Simsim, Ressort Sidikalang, dan Ressort Tinggalinga. Ketika

38

omnipresent merupakan konflik yang terjadi di mana saja, kapanpun waktunya, siapapun

kita.

52 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ditolaknya pemandirian GKPPD oleh pemimpin pusat HKBP, maka para pengurus dan jemaat yang meneruskan misi pemisahan gereja ini terbagi dua. Sebagian kepanitiaan tetap mengikut ajuran dari HKBP, baik jemaat maupun pendeta khususnya praeses HKBP Simerkata Pakpak di Sidikalang .Pdt. U.S. Manik yang menjadi ketua panitia kemandirian GKPPD pada waktu itu. Beliau menganggap belum saat untuk berdiri sendiri, selain itu beliau juga tidak mau melawan terhadap pimpinannya. Akhirnya beliau digantikan oleh Drs. M.T. Banurea dari kalangan orang awan yang berasal dari Medan. Ini disebabakan tidak adanya pendeta HKBP Simerkata Pakpak yang lain berani untuk menerusan kepanitiaan ini karena adanya berbagai alasan seperti takut dikucilkan dan kepentingan pribadi.39 Sementara dari setiap gereja sendiri tidak ada konflik yang secara nyata. Hanya saja para jemaat yang mendukung pemisahan GKPPD ini disarankan untuk keluar dari gereja dengan tujuaan untuk menghindari pertikaian yang mungkin akan terjadi. Akhirnya jemaat ini memilih untuk kebaktian ditempat tertentu seperti di rumah- rumah warga, di lapangan yang terbuka, dan di gegung yang tidak di pakai lagi (Gedung kopersi Unit Desa Meduk Rea barisan, Salak). Sementara di Ressort Cikaok sendiri berkebaktian dirumah warga dan paling lama di rumah Joni Berutu kurang lebih 2 (dua) tahun. Bahkan jemaat yang pro dengan GKPPD ini mengadakan

39

Sonni Parlindungan Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi Medan: Monora, 2002, hlm.58.

53 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

pembabtisan, naik sidi dan merayakan natalan di rumah tersebut biasanya kegiatan ini dilakukan di gereja.40

4.3.2 Konflik dari Luar Sesudah didirikan di Medan, GKPPD pun mulai bekerja dan menjadikan Medan sebagai pusat GKPPD. Pemimpin pusat HKBP tidak tinggal diam, mereka mulai melakukan reaksi untuk menantang pendirian gereja GKPPD ini. Pada tanggal 24 November 1991 HKBP pimpinan pusat membentuk tandingan HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) dengan GKPPD. Adanya campur tangan pemeritah/ penguasa dalam pemisahan GKPPD dari HKBP menyebabkan terjadi konflik fisik terkhusus di Salak. Dimana HKBP mengadu kepemerintah karena dianggap liar. Hal ini disebabkan tidak adanya persetujuan dari HKBP saat GKPPD mandiri. Pada bulan Juni 1992 salah satu anggota Koramil bermarga Sitanggang mendatangi Bapak Sondang Boangmanalu selaku pemegang kunci gudang Koperasi Unit Barisan-Salak. Gedung KUD ini merupakan tempat ibadah yang digunakan jemaat GKPPD selama ini, jadi beliau datang untuk meminta kunci tersebut karena gedung tersebut tidak memiliki ijin pakai. Bapak Sondang Boangmanalu tidak memberikan kunci tersebut tanpa persetujuan gereja dan kopersi. Pada akhirnya Sitanggang pergi ke kantor Polisi melaporkan kejadian tersebut, kemudian Sondang Boangmanalu dijemput polisi dan ditahan. Beliau dijemput paksa oleh oknum Koramil Salak. Sepanjang jalan menuju Koramil Salak (Dari Barisan ke markas 40

Wawancara, Joniater Berutu, (56 tahun) di Dusun Cikaok 23 Juli 2017

54 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Korami sekitar 4 km) keluarga Sondang menangis dan mengikuti dia serta masyarakat Barisan Salak, Pasar Salak, dan Lae Trondi pun berduyun-duyun mengikuti dia. Mereka meminta penjelasan atas penangkapan Sondang Boangmanalu, tetapi Koramil tidak bersedia memberi penjelasan bahkan meminta Kodim Dairi untuk menyerahkan pasukan. Kedatangan pasukan tentara dan Kodim dairi disambut dengan tangisan oleh masyarakat setempat tetapi para tentara membalas dengan rentetan senjata.41 Di Salak sendiri sempat terjadi konflik fisik dan ada campur tangan dari pihak keamanan. Pada saat datangnya para pihak keamanan ini disinilah Udin berutu dan dua kawannya melarikan diri ke Medan melewat hutan untuk memberitahukan bahwa di Salak terjadi konflik antara masyarakat setempat dengan pihak keamanan.

4.4 Penyelesaian Konflik Persoalan yang terus terjadi ditubuh gereja GKPPD berlangsung sampai tahun 1993. Hal ini didukung karena belum berubahnya kepengurusan HKBP pusat yang masih dipimpin oleh Pdt. S. A. E. Nababan . Pada tanggal 11- 13 Febuari 1993 diadakan Sinode Godang Istimewa di Medan melalui undangan pejabat Ephorus, terpilihlah Pdt. P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt. S.M. Siahan sebagai seketaris jenderal. Pada saat menjabat Pdt. P.W.T. Simanjuntak mulai melakukan penjajakan untuk menyatukan kedua kelompok ini. Pdt. P.W.T. Simanjuntak

41

Budi Agustono, Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial-Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958-2003. Disertasi, Yogyakarta: FIB, UGM, 2010, hlm. 165.

55 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

merupakan anak dari almarum Pdt. Cirellus Simanjuntak (rasul Pakpak). Beliau pernah berpesan supaya anaknya banyak- banyak membina dan membantu orang Pakpak.42 Ephorus HKBP mengakat tam pembantu dari pusat HKBP untuk menyelesaikan dan menyatukan kedua kelompok ini. Pada tanggal 15-16 September 1993 diadakan rapat penjejakan penyatuan GKPPD dengan HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) di HKBP Berastagi yang beranggotakan 10 orang. Dari utusan GKPPD 5 orang diantaranya: 1. Pdt. Drs. R. Manik, Sm. Th 2. Gr. J. Padang Batanghari 3. St. J. H. Manik 4. M. U. Limbong 5. St. L. J. Banurea S. Sos Utusan dari HKBP SPO diantaranya: 1. Pdt. A. M. H. Banurea Sm. Th 2. Pdt. D Berutu, Sm. Th 3. St. T. M. Matahari 4. P. Manik 5. St. M. T. Silaban Utusan HKBP Pusat diantaranya: 1. Pdt. U. Simbolon, Sm. Th 2. St. Drs. A. P. Situmorang43

42

J. Boangmanalu, Preases Pdt. Cyrellus Simanjuntak, hlm.47. Solin, Pdt. Elias J. P, Almanak Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) 2012, Sidikalang Dairi: Kantor Pusat GKPPD, hlm. 251. 43

56 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada akhirnya diadakan kembali rapat pada tanggal 24 April 1994 di pusat HKBP Distrik Dairi, yang memutuskan beberapa kesepakatan diantaranya sebagai berikut: 1) Sepakat memutuskan Synode penyatuan antaran GKPPD dengan HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) 2) Menetapkan aturan peraturan ( AD/RT) gereja GKPPD yang baru 3) Memilih pucuk pimpinan dengan mejelis pusat 4) Mengadakan peresmian berdirinya Gereja Pakpak satu atau dua bulan sesudah Synode penyatuan 5) Peresmian dilaksanakan langsung oleh Ephorus HKBP Setelah tam bekerja selama 2 tahun dari tahun 1993-1995, akhirnya pada tanggal 16-18 Juli 1995 diadakan Synode penyatuan HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) dengan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). Dalam Synode penyatuan ini akhirnya kedua pihak ini disatukan sekaligus dipilih pucuk pimpinan dan majelis pusat diantaranya:  Bishop

: Pdt. Elias J. Solin

 Seketaris Jenderai

: Pdt. Timur P. Bancin

Mengingat kesepakatan yang telah dibuat maka setelah dua bulan kemudian, tepat tanggal 6 Agustus 1995 GKPPD Mandiri diresmikan secara de jure yang dipimpin oleh Ephorus HKBP Pdt. P. W. T. Simanjuntak. Seluruh asset yang pernah diambil

57 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dan dikuasai oleh HKBP Simerkata Pakpak Otonom (SPO) akan diserahkan kembali kepada pimpinan GKPPD.44 Semua hal ini berlaku bagi gereja Pakpak tidak terkecuali Ressort Cikaok yang sebelumnya sempat mengalami dua tempat ibadah. Pada saat diadakannya penyatuan ini anggota jemaat Ressort Cikaok kembali beribadah digereja seperti beberapa tahun sebelumnya. Ressort Cikaok ini dipimpin oleh Pdt. Juliana Padang, beliau melayani selama lima tahun kedepannya. Beliau dipilih oleh pemimpin pusat GKPPD yang berada di Medan yaitu tahun 1991-1996.

44

Solin, Pdt. Elias J. P, Almanak Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) 2012, Sidikalang Dairi: Kantor Pusat GKPPD, hlm. 252.

58 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB V KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan Etnik Pakpak sama dengan etnik-etnik yang lainnya yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Pada saat kedatangan Belanda dengan tujuan untuk mengejar Sisingamangaraja XII akhirnya Belanda juga menjalankan taktiknya di Tanah Pakpak dengan mengkristenkan orang Pakpak. Dari sinilah awal masuknya Kristen ke Tanah Pakpak, selain itu Agama Kristen juga disebarkan lewat perdagangan. Dimana para pedagang ini sudah menganut Agama Kristen terlebih dahulu, kemudian menyebarkannya sampai ke Salak termasuk ke Ressort Cikaok. Pada hakekatnya memang orang Toba yang terlebih dahulu mengenal Agama Kristen dengan nama gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), sehingga setiap wilayah yang mendirikan gereja akan berada dibawah kekuasan dan nama HKBP khususnya gereja kesukuan. Sama halnya dengan GKPPD awalnya dengan nama gereja HKBP, namun karena menggunakan Bahasa Toba dalam beribadah orang Pakpak kurang mengerti. Mereka meminta untuk memisahkan diri HKBP, namun dilihat dari segi kepemimpinan dan ekonomi. Belum layak untuk mandiri sehingga diberikanlah HKBP Simerkata Pakpak yang artinya orang Pakpak sudah menggunakan Bahasa Pakpak dalam hal beribadah tetapi masih berada dibawah kekuasaan HKBP.

59 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Seiring berjalannya waktu terjadi kesenjangan yang dirasakan oleh jemaat Pakpak baik dari segi kepemimpian maupun ekonomi dari RGM. Bahkan jika dilihat dari gereja kesukuan hanya Pakpaklah yang belum memiliki gereja. Dengan adanya kesadaran ini orang Pakpak mengingikan suatu gereja yang berlatar belakangkan Pakpak yang dimana dapat mempersatukan Pakpak kembali. Selain itu pendeta Pakpak juga semakin banyak tahun demi tahun, pada akhirnya mereka kembali menyampaikan cita- citanya yang sebelumya tertunda, tetapi hal ini juga ditolak dengan alasaan yang sama. Dengan kurangnya kemapanan jemaat Pakpak yang membuat suatu organisasi yang berdasarkan gereja berlatar belakang Pakpak. Hal ini mengakibatkan jemaat Pakpak mengalami proses yang panjang untuk mencapai gereja mandiri. Baik dari jemaat Pakpak sendiri maupun diluar jemaat Pakpak seperti keeamanan. Karena orang Pakpak yang mengambil inisiatif sendiri untuk mandiri tanpa ada persetujuan dari pihak HKBP Pusat. Dengan hal ini orang- orang yang pro dengan GKPPD dianggap sebagai masyarakat yang liar, sehingga aparat keamanan campur tangan dengan pemisahan gereja ini. Bersamaan dalam hal ini HKBP pusat membuat HKBP Simerkata Pakpak Otonom dikarenakan orang Pakpak masih banyak yang kontra dengan GKPPD. Kekeluargaan ditengan jemaat ressot Cikaok mengalami pergeseraan. Meskipun orang Pakpak mengalami banyak tantangan dan proses yang panjang untuk medirikan gereja sendiri dan akhirnya cita- citanya tersebut dapat tercapain lewat tergantinya Ephorus yang baru dan adanya kesepakatan antara jemaat Pakpak.

60 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

5.2 Saran Penulis memberikan beberapa saran, kiranya dapat bermanfaat bagi semua pembaca baik itu masyarakat umum, mahasiswa dan pemerintah. GKPPD sebuah nama gereja Suku Pakpak yang dimana awalnya berasal dari tubuh HKBP kemudian memisahkan diri menjadi GKPPD. Dari hasil penelitian maka penulis memiliki saran sebagai berikut.  Pemerintahan dan seluruh jemaat Gereja Kristen Pritestan Pakpak Dairi (GKPPD) hendaknya mengetahui sejarah dan proses pemisahan dari HKBP. Bahwa untuk meraih dan mempertahankan nama GKPPD itu dari HKBP bukanlah hal yang mudah. Jadi catatan sejarah ini harus diingat sebagai bahan koreksi dan pelajaran bagi masyarakat Pakpak khususnya jemaat yang ada di Ressort Cikaok.  Kepada pimpinan pusat GKPPD kiranya membuat perubahan yang dapat lebih membangun dan memotifasi jemaat Pakpak. Dengan mendirikan sebuah sekolah atau rumah sakit yang berlatar belakang dari Etnis Pakpak. Sehingga ada suatu kebanggaan yang dapat dimiliki orang Etnis Pakpak sendiri.  Kepada seluruh masyarakat Pakpak yang secara umum jangan malu menunjukan jati dirimu dan kebudayaanmu. Sebab itu adalah warisan yang sangat berharga yang dititipkan oleh nenek moyang kita.

61 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR PUSTAKA Agustono, Budi, Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial-Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958-2003. Disertasi, Yogyakarta: FIB, UGM, 2010. Antonius, Bungaran Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009. Berutu, Lister, Nurbani Padang, Tradisi dan Perubahan – Konteks Masyarakat Dairi, Medan: Monora, 1998 Berutu, Lister,Aspek-aspek Kultural Etnis Pakpak Suatu eksplorasi tentang potensi lokal, Medan: Monora, 2002. Berutu, Lister., dkk, Sejarah Berdirinya Kabupaten Pakpak Bharat, Medan: Monora utama, 2013. Christano, Ch. Asal Mula Jemaat Mennonite. Semarang: Komisi Literatur SinodeMuria Indonesia, 1987. Dahlenburg, G.D. Konfensi- Konfensi Gereja Lutheran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991. Dudung, Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu 1999. End, Thomas Van Den, Harta Dalam Bejana : Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985 Hendropuspito, D. O.C. Sosiologo Agama, Yogyakarta: BPK Gunung Mulia, 2000. Jonathan, Daniel Tito Sigalingging, Sejarah Gereja Kristen Protestan Angkola di Tapanuli Selatan 1988-2000. Skirpsi, 2016. Parlindungan, Sonni Berutu, Sejarah Kemandirian Kristen Protestan Pakpak Dairi, Medan: Monora, 2002. Pattiasina.J.M.,Weinata Sairin, Gerakan Oikoumene Tegar Mekar di Bumi Pancasila. Buku Peringatan 40 Tahun PGI, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1997. Purba Elvis. F., O. H. S., Purba, Migrasi Batak Toba: di Luar Tapanuli Utara (Suatu Deskripsi) , Medan, 1997.

62 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Robertson, Roland, ed. Agama Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis, Jakarta: Rajawali, 1988. Simanjuntak, Ompu Buntilan, Sejarah Batak, Balige: Batara Sangti, 1977. Solin, Elias.J.Almanak Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD),Sidikalang Dairi: Kantor Pusat GKPPD,2012. Tanjung Flores, et.al, Dairi dalam Kilatan Sejarah (Medan: Perdana Publishing, 2011). Wahyudhi,dkk. Etnis Pakpak Dalam Fenomena Pemekaran Wilayah Mempertahankan Partisipasi Politik Perempuan Dalam Masyarakat Adat, Sidikalang: Yayasan Sada Ahmo, 2002.

Sumber lain Internet: Asalma Berutu “ Sejarah Singkat Kemandirian Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)”http//asalmaberutu.blogspot.comg>gkppd. 27 Februari 2017.

63 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR INFORMAN

1) Nama

: Rasi Kesogihen

Umur

: 85 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok/ kecamatan Salak

2) Nama

: Osman Berutu

Umur

: 57 Tahun

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Dusun Singgabur

3) Nama

: Bangun Berutu

Umur

: 56 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

4) Nama

: Udin Berutu

Umur

: 58 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

64 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

5) Nama

: Ulem Berutu

Umur

: 49 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

6) Nama

: Jonianter Berutu

Umur

: 57 tahun

Pekerjaan

: Mantan Kepala Desa

Alamat

:Dusun cikaok

7) Nama

: Juten Berutu

Umur

: 56 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

8) Nama

: Listua Padang

Umur

: 53 tahun

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Dusun Singgabur

65 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

9) Nama

: Sehat Bancin

Umur

: 52 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Desa Kuta tinggi

10) Nama

: Master Berutu

Umur

: 54 tahun

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Dusun Cikaok

11) Nama

: Rumbia Anakampun

Umur

: 48 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

12) Nama

: Sehat Tumangger

Umur

: 52 Tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Desa Kutatinggi

66 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

13) Nama

: Mestasi Tumangger

Umur

: 49 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

14) Nama

: Jikir Kesogihen

Umur

: 68 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

15) Nama

: Sonti Berutu

Umur

: 48 tahun

Pekerjaa

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

16) Nama

: Johnson Anakampun

Umur

: 54 tahun

Pekerjaan

: pendeta Ressort Medan 1

Alamat

: Jl. Luku 1 Padang Bulan Medan

67 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

17) Nama

: Derik Anakampun

Umur

: 53

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Jl. Air Bersih Simpang Kwala Medan

18) Nama

: Sampang Bancin

Umur

: 43 tahun

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Dusun Cikaok

68 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

LAMPIRAN Lampiran 1 Penulis dan Narasumber

Keterangan: Penulis dan narasumber dengan Bapak Denrik Anakampun salah satu pendiri Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 20 Juni 2017)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lampiran 2 Kantor Pusat GKPPD

Keterangan: Gambar pertama gedung kantor pusat GKPPD yang dimana struktur bangunannya identik dengan rumah Adat Pakpak serta terdapat lukisan gerga diatas gerbang masuk kedalam kantor (merah dan putih yang berhadap-hadapan dan ditengan lambing gereja GKPPD). Gambar yang kedua pamplet GKPPD yang terdapat lambang GKPPD (atas kanan) yang maknanya melingkar kemudian diatas Salip, serta didalam lingkaran terdapat lima sudut garis yang bersatu antara garis lainnya menyatakan bahwa jemaat Pakpak Lima Suak satu didalam Yesus Kristus. (Sumber: dokumentasi pribadi, 27 November 2017)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Acara Kebaktian Lampiran 3

Keterangan: gambar menerangkan acara kebaktian biasa setiap hari minggu yang dilakukan oleh HKBP Simerkata Pakpak Otonom pada masa penmisahan di gereja GKPPD Cikaok pada tahun 1992. (Sumber: Dokumentasi foto pribadi Bangun Berutu/ Bapak Jekky,) Lampiran 4

Keterangan: gambar Perayaan Natal gabungan (ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi serta sekolah minggu) setelah menjadi Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) di Gereja Cikaok tahun 1997. (Sumber: Dokumentasi Gereja Cikaok,)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lampiran 5

Keterangan: gambar acara kebaktian di rumah Jonianter Berutu pada masa sebelum penyatuan GKPPD dengan HKBP Simerkata Pakpak Otonom. (Sumber: Dokumentasi Jonianter Berutu)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lampiran 6 Gedung Gereja Cikaok

Keterangan: Gereja pusat Ressort Cikaok saat pulang kebaktian hari minggu yang berada di Desa Cikaok (Sumber: Dokumentasi pribadi 19 November 2017)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lampiran 7 Peta Kabupaten Dairi

Sumber: Dokumentasi internat https://www.google.com/search?q=peta+kabupaten+dairi+tahun+1994 di akses, 21 November 2017.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.1 Nama-nama gereja Ressort Cikaok berdasarkan urutan pembangunannya. Almanak GKPPD Tahun 1994 hlm 271-273 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2 13 14

Nama Gereja GKPPD Cikaok GKPPD Singgabur GKPPD Kuta Kersik GKPPD Namuseng GKPPD Penanggalan GKPPD Kuta Tinggi GKPPD Napatumbuk GKPPD Lae Salak Sosial GKPPD Binangaboang GKPPD Resdes Silima Kuta GKPPD Simperbuang- Kuta Ujung GKPPD Ulumerah GKPPD Lae Langge GKPPD Lae Mbulan

Guru Kuria St. Bachtiar Berutu St. Ragat Manik St. Osman Berutu St. Ringgas Berutu St. Sehat Bancin St. Ladin Berutu St. Curu Manik St. Ros Lerita Br. Manik St. Aner Bancin St.Dominar Br. Tumangger St.Osmar Situmorang St. Juster Berutu St. Tiarma Tinambun St. Tinus Munthe

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(EHrn-rs,&l,r oBr?rr.rn,TEHDERAI BI}'BI}IC.AII I'ASTARAIAT (TMISTET{) PROIESTA}'I OEPAEIE{E}I AGAilA BI $OIAR F/[ep4{f, . W -5 /22 n 40/1996

TEI{TAHG GME.'A [nIflBI

PffiTESIAI{ PAK-PaI DATBI,(GKPPD)

PET{DAETAAEN

DIBEXTT'R JE}INERAL

BITAI}IGAII I{A.SYARAKAT (KRISTEI{) PMESTAN DEPANXHM AGAT'A BI

{enbaca

1. o

3. 4llenimbang

a-

b-

c,

.Surat Femhonau dari Badan Fenguraw Gere,ia Kitsten Protestan Pak-pak Dairi (GXPFD) Nodor 91/TEly1995 tanggal 19 Oktober 1W5. Akta Botaris ilo 47 tangal 1U Anrstus 1S1 Xotaris D,iaidir, S[t- tentang Aturan dar Ferahran' Crere.ia Krlateu Protestan Pak-pak Dairi. Strnat dari Kanwil De.mrtenen Aeana Propinsi $matera Utara Homor t'b,/84. W/ZW4/L995, tangpal 31 JuIi'1985Srrrat Heksaendast tirihorus ffmp gc,*or 4g/OL4/I/1gdO, l tangl$al 29 Jamari 1996. trntuk perkemtxngan yang sehat dan terattir nqrlu diadakan penertiban stattrs huhun tembaea Keagamaan Kriaten Protestan di Indonesia. bahra penertiban dimakflrd dilakukan agar ielas funr,si dan bidang tugasnya nasi"ng-{aslnghahwa Gere.ia f,risten Pakpak Dairi telah memiliki bah+ra

&nggaran Dasar dan Aturan tie.reja yang

.disesualkan dengan Undanp;rmdang t'Io-B Tahtrn 1985HeneipEat

tZ.

3. 4-

5,

Staatsblad Tahrxr L927 [omor 155"156.15? tlaa

5Sz

tentang Rer,eling van de Bechtpositie der Kerk./Kerkgeaootschappen ; tlndang{danf; tlomor I Tahtm 1985 tentang Organisasi K.emasyarakatan; Rl llmor 18 Tahtrn 1986 tentang Peraturan krintah Fefaksanaan llndanp,-undaug Nomor I t'ahtm 1985 tentsng 0rgaulaa6l Kenasyarakatan: Keputusan keeiden RI llmor M 'Ihhrn 19?4 tentang Pokok-rrokok fuganisasi Departenen ; I[eprtrwar Presiden RI Nomr 15 'I'ahun 1984 tentang Srr$r$an (hrganisasi Departenen dengan segala terakhir t*omor 61 Tahun 1995 ; tfenteri Aeatna RI Nslor 18 Tahtrn 19?5 tentans Suflrt'rar Organisagi dan 'l'ata Eerja fbpartennen Agama yang t+'J.ah d"iubah dan diectpurnakan terakhir dengatr 75 lahun'1984Keintusatr tienteri &g.ama RI llomor UNIVERSITAS SUMATERA UTARA penrbaharnya

b-

sudah

f,-ernrtr.rsan

Menetapkan

Pert.ama

HEHUf USKAN TEPUruSAH DINETTITR JEI.IDERAT

BI}'BINGAH

PROTESTAN DEPAITTEHEN HASYAB4EAT ( KBISTEN ) AGAT'IA RI IENTANG PENDAFTANAN GERE.TA KRISTEN PEOTESTAN PAE-PAE DSIRI (GEPPD)

Hendaftarkan Gere.ia f,risten Pak-pak Dairi yanp berkedudukan./berpusat di {GtrPPD ) Sidikalang sebagai Lembaga Keagamaan Kristen Protestan yang bersifat Gere.ia.

Pendaftaran ini diberikan untuk men.iadi rie.qangan dalam rrea,ha melaksanakan tugasnya sesuai dengan Tata Dasar Gereia yane telah disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor I Tahun 1985 Setiap aklrir tahun Gere.ia Kristen Pak-pak Dairi wa"iib menberlkan informasi tenta-ng keadaan dan perkembatrgarutya kepada Dlrektorat Jendenal Bimbingan Hasyara-Eat ( Kristen ) Proteetan Departemen A*ama RI dl JakartaKeputusan ini mulai berlaku seJak tanfgaj ditetapkan denqan ketentuan apabila dl heuudian hari terdapat kekeliruan akan

Kedua

Ketiga

Keempat

rliadakan pelatretulan sebagalmana uestinya.

ssrual denpn aslinYa

Ditetapkan di Pada Tangsal

6:xel

Jakarta 22 Maret 1996

REKTUA JETIDERAL ( IMISTEN

E-

}

PAOTESf,AN

*I0lL._EAI{eru/

P-

150094401-

IEMEI'SAN :

t2. 34. 5. 6. 7-

Henteri Agama Bf di Jakarta (sebagai laponan) : Henteri f,ehakinan RI di Jakarta i Henterl Dalanr Negeri RI di Jakarta ; Sek.ien, Ir.ien, Para DirJen dan f,abalitbang Agama di lingkungan Departenen Agama : Grrbernrr/F.epala Daerah Tingkat I Propinsi seluruh Indonesla : Kakanwll Departemen Agama eq.f,epala Bidang,rPenbimas (Kristen) Proteetan selurl h fndonesia : Yang bereanHkutan untuk dl.ketahui dan dipergunakan sebagalmana megt.i-nya-

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

{r.

Related Documents

Sejarah
May 2020 28
Sejarah
April 2020 49
Sejarah
April 2020 35
Sejarah
May 2020 35
Sejarah
June 2020 23
Sejarah
October 2019 63

More Documents from "PrizilaZila Gryntari"