EPISTEMOLOGI NALAR ISLAMI
Menurut pemakaian umum, epistemologi dapat diartikan
atau didefinisikan sebagaimempelajari asal usul, atau sumber atau struktur, metode dan validitas (sahnya) pengetahuan.
AKAL Kata akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-aqlyang dalam bentuk kata benda, berlainan dengan alwahy, tidak terdapat dalam Al-Quran. Diterangkan
pula
bahwa
al-‘aql
mengandung
arti
kebijaksanaan, al-nuha, lawan dari lemah pikiran, al-humq. Selanjutnya disebut bahwa al-‘aql juga mengandung arti kalbu, al-
qalb
Arti asli dari kata ‘aqala kelihatannya adalah mengikat dan menahan dan orang yang ‘aqil di jaman jahiliah, yang dikenal dengan hamiyyah atau darah panasnya, adalah orang yang dapat menahan amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
WAHYU Wahyu sendiri berasal dari kata Arab al-wahy, dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan kata pinjaman dari bahasa asing. Kata itu berarti suara, api dan kecepatan. Di samping itu ia juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. AlWahy selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan dengan cepat. Tetapi kata itu lebih dikenal dalam
arti “apa yang disampaikan Tuhan kepada nabi-nabi”
K E D U D U K A N A K A L D A N WA H Y U D A L A M TEOLOGI ISLAM
Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajibankewajiban manusia terhadap tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua hal tersebut. Akal, sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan
tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
Banyak terdapat dalam buku-buku klasik tentang ilmu kalam yang membahas persoalan akal dan wahyu, keduanya terkait dengan dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua.
Masalah pertama bercabang menjadi mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui
Tuhan
yang
dalam
istilah
Arab
disebut
husnul
ma’rifah Allah dan wujud ma’rifah Allah. Kedua cabang dari masalah kedua ialah: mengetahui baik dan jahat, dan kewajiban mengerjakan
perbuatan baik dan kewajiban menjauhi perbuatan jahat
Sederhananya seperti ini: 1. Dapatkah akal mengetahui adanya Tuhan? 2. Kalau ya, dapatkah akal mengetahui kewajiban berterimakasih kepada Tuhan? 3. Dapatkah akal mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat? 4. Kalau ya, dapatkah akal mengetahui bahwa wajib bagi manusia berbuat baik dan wajib baginya menjauhi perbuatan jahat? Polemik yang terjadi antara aliran-aliran teologi Islam yang bersangkutan ialah: yang manakah di antara keempat masalah itu yang dapat diperoleh melalui akal dan mana melalui wahyu? Masing-masing aliran memberikan jawaban-jawaban yang berlainan.
Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa ke-empat masalah tersebut dapat diketahui akal, golongan Asy’ariah mengatakan bahwa akal dapat mengetahui hanya satu dari ke-empat masalah itu, yaitu adanya Tuhan.
Menurut penjelasan Al-Asy’ari sendiri, semua kewajiban dapat diketahui hanya melalui wahyu. Akal tak dapat menentukan Sesuatu menjadi wajib dan dengan demikian tak dapat mengetahui bahwa mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jahat adalah wajib. Selanjutnya ia mengatakan bahwa akal dapat mengetahui adanya Tuhan, tetapi mengetahui tentang kewajiban terhadap Tuhan diperoleh hanya melalui wahyu.