Asuhan_keperawatan Ke.docx

  • Uploaded by: Claudia Armanda Musung
  • 0
  • 0
  • April 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Asuhan_keperawatan Ke.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 4,576
  • Pages: 25
BAB II PEMBAHASAN

A.

TINJAUAN TEORITIS

2.1

DEFINISI Narkotika adalah suatu zat atau obat yg berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yg dpt menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan ( Undang-undang RI No.22 thn 1997 ttg Narkotika) Psikotropika adalah suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Zat adiktif lain adalah bahan/zat yg berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika.

2.2

EPIDEMIOLOGI Di Amerika, prevalensi : o o o o o o

16,7 % > usia 18 tahun Alkohol 13,8% Non – alcohol 6,2% Marijuana 12- 33% per tahun, 5% pengguna baru Zat psikotherapetic dan kokain : 12,5% zat psikotherapetic, 11,5% kokin Zat – zat lain inhalan – halusinogen : 9%

Di Indonesia, prevalensi 0,065% pada tahun 1971 Bakilah dan hasil penelitian 10x lebih besar. Jumlah pecandu sampai sekarang ± 3.800.000 orang

1

2.3

DEMOGRAFI o o o o o

2.4

KOMORBIDITAS o o o o

2.5

Usia : 18- 25 tahun Jenis kelamin : laki-laki > wanita Ras dan etnik : kulit hitam > kulit putih Daerah padat pendudukmetropolitan lebih tinggi Daerah barat > timur

Ditemukan 76% laki-laki dan 65% wanita Paling sering penggunaan alcohol dan zat lain Gangguan kepribadian atau autisosial Depresi dan bunuh diri JENIS-JENIS NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA A.

Golongan Narkotika 1. Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh narkotika golongan 1 heroin/putauw, kokain, ganja .

2

2. Narkotika Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan .Contoh kodein 3. Narkotika Golongan III : Narkotika digunakan

yang

dalam

berkhasiat

terapi

atau

pengobatan

tujuan

dan

banyak

pengembangan

ilmu

pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein). B. Golongan Psikotropika Psikotropika

yang

mempunyai

potensi

mengakibatkan

sindroma

ketergantungan digolongkan menjadi 4 golongan yaitu : 1. Psikotropika Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu, LSD). 2. Psikotropika Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan . ( Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin). 3. Psikotropika Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam).

3

4. Psikotropika Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG). C. Zat adiktif lainnya Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika, meliputi : 1. Minuman berakohol Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia seharihari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol : a. Golongan A : kadar etanol 1-5% (Bir) b. Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur) c. Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput.) 2. Inhalansia Yaitu gas yang dihirup dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin. 3. Tembakau Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Dalam upaya penanggulangan ROKOK di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi 4

bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan ROKOK lain yang berbahaya.

2.6 PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA & PSIKOTROPIKA 

Golongan Narkotika

OPIOID (OPIAD) Opioid atau opiat berasal dari kata opium, jus dari bunga opium, Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin. Nama Opioid juga digunakan untuk opiat, yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium. opiat alami lain atau opiat yang disintesis dari opiat alami adalah

heroin

(diacethylmorphine),

kodein

(3-methoxymorphine),

dan

hydromorphone (Dilaudid). o Efek samping yang ditimbulkan Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara, kerusakan penglihatan pada malam hari, mengalami kerusakan pada liver dan ginjal, peningkatan resiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik dan penurunan hasrat dalam hubungan sex, kebingungan dalam identitas seksual, kematian karena overdosis. o Gejala intoksitasi (keracunan) opioid Konstraksi pupil ( atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat ) dan satu ( atau lebih ) tanda berikut, yang berkembang selama , atau segera setelah pemakaian opioid, yaitu mengantuk atau koma bicara

cadel

,gangguan

atensi

atau

daya

ingat.

Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis misalnya: euforia awal diikuti oleh apatis, disforia, agitasi atau

5

retardasi psikomotor, gangguan pertimbangaan, atau gangguan fungsi sosial atau pekerjaan ) yang berkembang selama, atau segera setelah pemakaian opioid. o Gejala putus obat dari ketergantungan opioid Kram otot parah dan nyeri tulang, diare berat, kram perut, rinorea lakrimasipiloereksi, menguap, demam, dilatasi pupil, hipertensi takikardia disregulasi

temperatur,

termasuk

pipotermia

dan

hipertermia.

Seseorang dengan ketergantungan opioid jarang meninggal akibat putus opioid, kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah, seperti penyakit jantung. Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi temperatur, dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat. Pada tiap waktu selama sindroma abstinensi, suatu suntikan tunggal morfin atau heroin menghilangkan semua gejala. Gejala penyerta putus opioid adalah kegelisahan, iritabilitas, depresi, tremor, kelemahan, mual, dan muntah. Turunan OPIOID (OPIAD) yang sering disalahgunakan adalah : a. Candu Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap (menggores) buah yang hendak masak. Getah yang keluar berwarna putih dan dinamai "Lates". Getah ini dibiarkan mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang menyerupai aspal lunak. Inilah yang dinamakan candu mentah atau candu kasar. Candu kasar mengandung bermacam-macam zat-zat aktif yang sering disalahgunakan. Candu masak warnanya coklat tua atau coklat kehitaman. Diperjual belikan dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai macam cap, antara lain ular, tengkorak,burung elang, bola dunia, cap 999, cap anjing, dsb. Pemakaiannya dengan cara dihisap. b. Morfin

6

Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupaakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan. c. Heroin ( putaw ) Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang di Indonesia pada akhir - akhir ini . Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu. Walaupun pembuatan, penjualan dan pemilikan heroin adalah ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik. d. Codein Codein termasuk garam / turunan dari opium / candu. Efek codein lebih lemah daripada heroin, dan potensinya untuk menimbulkan ketergantungaan rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih. Cara pemakaiannya ditelan dan disuntikkan.

e. Demerol Nama lain dari Demerol adalah pethidina. Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan. Demerol dijual dalam bentuk pil dan cairan tidak berwarna. f. Methadon Saat ini Methadone banyak digunakanorang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik 7

sintetik (opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine), pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine, levalorphane, dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine, butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid. Nama popoler jenis opioid : putauw, etep, PT, putih. g. Kokain Kokain adalah zat yang adiktif yang sering disalahgunakan dan merupakan zat yang sangat berbahaya. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyah-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan. Saat ini Kokain masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksifnya juga membantu. Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin dan heroin karena efek adiktif dan efek merugikannya telah dikenali. Nama lain untuk Kokain : Snow, coke, girl, lady dan crack ( kokain dalam bentuk yang paling murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat ). 

Golongan Psikotropika Psikotropika

yang

sekarang

sedang

populer

dan

banyak

disalahgunakan adalah psikotropika Gol I, diantaranya yang dikenal

8

dengan Ecstasi dan psikotropik Gol II yang dikenal dengan nama Shabushabu. a. Ecstasy Rumus

kimia

XTC

adalah

3-4-Methylene-Dioxy-Methil-

Amphetamine (MDMA). Senyawa ini ditemukan dan mulai dibuat di penghujung akhir abad lalu. Pada kurun waktu tahun 1950-an, industri militer Amerika Serikat mengalami kegagalan didalam percobaan penggunaan MDMA sebagai serum kebenaran. Setelah periode itu, MDMA dipakai oleh para dokter ahli jiwa. XTC mulai bereaksi setelah 20 sampai 60 menit diminum. Efeknya berlangsung maksimum 1 jam. Seluruh tubuh akan terasa melayang. Kadangkadang lengan, kaki dan rahang terasa kaku, serta mulut rasanya kering. Pupil mata membesar dan jantung berdegup lebih kencang. Mungkin pula akan timbul rasa mual. Bisa juga pada awalnya timbul kesulitan bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara segar). Jenis reaksi fisik tersebut biasanya tidak terlalu lama. Selebihnya akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal dan segala perasaan malu menjadi hilang. Kepala terasa kosong, rileks dan "asyik". Dalam keadaan seperti ini, kita merasa membutuhkan teman mengobrol, teman bercermin, dan juga untuk menceritakan hal-hal rahasia. Semua perasaan itu akan berangsur-angsur menghilang dalam waktu 4 sampai 6 jam. Setelah itu kita akan merasa sangat lelah dan tertekan. b. SHABU-SHABU Shabu-shabu berbentuk kristal, biasanya berwarna putih, dan dikonsumsi dengan cara membakarnya di atas aluminium foil sehingga mengalir dari ujung satu ke arah ujung yang lain. Kemudian asap yang ditimbulkannya dihirup dengan sebuah Bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air). Air Bong tersebut berfungsi sebagai filter

9

karena asap tersaring pada waktu melewati air tersebut. Ada sebagian pemakai yang memilih membakar Sabu dengan pipa kaca karena takut efek jangka panjang yang mungkin ditimbulkan aluminium foil yang terhirup. Sabu sering dikeluhkan sebagai penyebab paranoid (rasa takut yang berlebihan), menjadi sangat sensitif (mudah tersinggung), terlebih bagi mereka yang sering tidak berpikir positif, dan halusinasi visual. Masing-masing pemakai mengalami efek tersebut dalam kadar yang berbeda. Jika sedang banyak mempunyai persoalan / masalah dalam kehidupan, sebaiknya narkotika jenis ini tidak dikonsumsi. Hal ini mungkin dapat dirumuskan sebagai berikut: MASALAH + SABU = SANGAT BERBAHAYA. Selain itu, pengguna Sabu sering mempunyai kecenderungan untuk memakai dalam jumlah banyak dalam satu sesi dan sukar berhenti kecuali jika Sabu yang dimilikinya habis. Hal itu juga merupakan suatu tindakan bodoh dan sia-sia mengingat efek yang diinginkan tidak lagi bertambah (The Law Of Diminishing Return). Beberapa pemakai mengatakan Sabu tidak mempengaruhi nafsu makan. Namun sebagian besar mengatakan nafsu makan berkurang jika sedang mengkonsumsi Sabu. Bahkan banyak yang mengatakan berat badannya berkurang drastis selama memakai Sabu. 

Jenis-Jenis Bahan Berbahaya Lainnya Bahan berbahaya ini adalah zat adiktif yang bukan Narkotika dan Psikotropika atau Zat-zat baru hasil olahan manusia yang menyebabkan kecanduan. a. Minuman Keras Adalah semua minuman yang mengandung Alkohol tetapi bukan obat. o Efek Samping Yang Ditimbulkan Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya

10

berbeda-beda, tergantung dari jumlah / kadar alkohol yang dikonsumsi. Dalam jumlah yang kecil, alkohol menimbulkan perasaan relax, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi,

seperti

rasa

senang,

rasa

sedih

dan

kemarahan.

Bila dikonsumsi lebih banyak lagi, akan muncul efek sebagai berikut : merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat menjadi lebih emosional ( sedih, senang, marah secara berlebihan ) muncul akibat ke fungsi fisik - motorik, yaitu bicara

cadel,

pandangan

menjadi

kabur,

sempoyongan,

inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri. Kemampuan mental mengalami hambatan, yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya ingat terganggu, mulut rasanya kering. Pupil mata membesar dan jantung berdegup lebih kencang. Mungkin pula akan timbul rasa mual. Bisa juga pada awalnya timbul kesulitan bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara segar). Jenis reaksi fisik tersebut biasanya tidak terlalu lama. Selebihnya akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal dan segala perasaan malu menjadi hilang. Kepala terasa kosong, rileks dan "asyik". Dalam keadaan seperti ini, kita merasa membutuhkan teman mengobrol, teman bercermin, dan juga untuk menceritakan hal-hal rahasia. Semua perasaan itu akan berangsur-angsur menghilang dalam waktu 4 sampai 6 jam. Setelah itu kita akan merasa sangat lelah dan tertekan.

b. Nikotin Adalah obat yang bersifat adiktif, sama seperti Kokain dan Heroin. Bentuk nikotin yang paling umum adalah tembakau, yang dihisap dalam bentuk rokok, cerutu, dan pipa. Tembakau juga dapat digunakan sebagai tembakau

sedotan

dan

dikunyah

(tembakau

tanpa

asap).

Walaupun kampanye tentang bahaya merokok sudah menyebutkan betapa

11

berbahayanya

merokok

bagi

kesehatan

tetapi pada kenyataannya sampai saat ini masih banyak orang yang terus merokok. Hal ini membuktikan bahwa sifat adiktif dari nikotin adalah sangat kuat. o Efek Samping Yang Ditimbulkan Secara perilaku, efek stimulasi dari nikotin menyebabkan peningkatan perhatian, belajar, waktu reaksi, dan kemampuan untuk memecahkan maslah. Menghisap rokok meningkatkan mood, menurunkan ketegangan dan menghilangkan perasaan depresif. Pemaparan nikotin dalam jangka pendek meningkatkan aliran darah serebral tanpa mengubah metabolisme oksigen serebtral. Tetapi pemaparan jangka panjang disertai dengan penurunan aliran darah serebral. Berbeda dengan efek stimulasinya pada sistem saraf pusat, bertindak sebagai relaksan otot skeletal. Komponen psikoaktif dari tembakau adalah nikotin. Nikotin adalah zat kimia yang sangat toksik. Dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan, karena paralisis ( kegagalan ) pernafasan. c.

Desainer Zat Desainer adalah zat-zat yang dibuat oleh ahli obat jalanan. MEreka membuat obat-obat itu secara rahasia karena dilarang oleh pemerintah. Obat-obat itu dibuat tanpa memperhatikan kesehatan. Mereka hanya memikirkan uang dan secara sengaja membiarkan para pembelinya kecanduan dan menderita. Zat-zat ini banyak yang sudah beredar dengan nama speed ball, Peace pills, crystal, angel dust rocket fuel dan lain-lain.

2.7 EFEK / AKIBAT PEMAKAIAN ZAT  Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari ROKOK dapat digolongkan menjadi 3 golongan :

12

1. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis ROKOK yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lainlain. 2. Golongan Stimulan (Upper) Adalah jenis ROKOK yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain. 3. Golongan Halusinogen Adalah jenis ROKOK yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin. Namun, secara umum dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.diantaranya : 1. Dampak Fisik: Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi 

Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung,



gangguan peredaran darah

Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim

13



Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru



Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur



Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual



Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan

periode

menstruasi,

ketidakteraturan

menstruasi,

dan

amenorhoe (tidak haid) 

Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya



Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian

2. Dampak Psikologi: 

Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah



Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga



Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal



Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan



Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri



Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan



Merepotkan dan menjadi beban keluarga

14



Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram Dampak fisik dan psikis berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (biasa disebut sugest). Gejala fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dll.

2.8 FAKTOR PENYEBAB PENGGUNAAN NARKOBA Faktor penyebab penggunaan narkoba antara lain: 1. Ingin terlihat gaya Zat terlarang jenis tertentu dapat membuat pamakainya menjadi lebih berani, keren, percaya diri, kreatif, santai, dan lain sebagainya. Efek keren yang terlihat oleh orang lain tersebut dapat menjadi trend pada kalangan tertentu sehingga orang yang memakai zat terlarang itu akan disebut trendy, gaul, modis, dan sebagainya. 2. Solidaritas Kelompok Suatu kelompok orang yang mempunyai tingkat kekerabatan yang tinggi antar anggota biasanya memiliki nilai solidaritas yang tinggi. Misalnya, jika ketua atau beberapa anggota kelompok yang berpengaruh pada kelompok itu menggunakan narkotik, maka biasanya anggota yang lain baik secara terpaksa atau tidak terpaksa akan ikut menggunakan narkotik itu agar merasa seperti keluarga senasib sepenanggungan. 3. Menghilangkan rasa sakit Seseorang yang memiliki suatu penyakit atau kelainan yang dapat menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan dapat membuat orang jadi tertarik jalan pintas untuk mengobati sakit yang dideritanya yaitu dengan menggunakan obat-obatan dan zat terlarang.

15

4. Coba-coba / penasaran Dengan merasa tertarik melihat efek yang ditimbulkan oleh suatu zat yang dilarang, seseorang dapat memiliki rasa ingin tahu yang kuat untuk mencicipi nikmatnya zat terlarang tersebut. Jika iman tidak kuat, maka seseorang dapat mencoba ingin mengetahui efek dari zat terlarang. Tanpa disadari dan diinginkan orang yang sudah terkena zat terlarang itu akan ketagihan dan akan melakukannya lagi berulang-ulang tanpa bisa berhenti. 5. Menyelesaikan Masalah Orang yang dirudung banyak masalah dan ingin lari dari masalah dapat terjerumus dalam pangkuan narkotika, narkoba atau zat adiktif agar dapat tidur nyenyak atau jadi gembira ria dan kemudian merasa masalahnya terselesaikan sejenak. 6. Mencari Tantangan / Kegiatan Beresiko Bagi orang-orang yang senang dengan kegiatan yang memiliki resiko tinggi dalam menjalankan aksinya ada yang menggunakan obat terlarang agar bisa menjadi yang terhebat, penuh tenaga dan penuh percaya diri.

2.9 UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN Upaya penanggulangan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dapat dilakukan melalui beberapa cara, sebagai berikut ini : a.

Preventif (pencegahan),

yaitu untuk

membentuk

masyarakat

yang

mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik dari pada pemberantasan. Pencegahan penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan pengawasan dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah dan masyarakat, pengajian oleh para ulama, pengawasan tempat-tempat hiburan malam oleh pihak keamanan, pengawasan obat-obatan illegal dan melakukan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan Narkoba.

16

b.

Represif (penindakan), yaitu menindak dan memberantas penyalahgunaan narkoba melalui jalur hokum, yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat kemananan yang dibantu oleh masyarakat. Jika masyarakat mengetahui harus segera melaporkan kepada pihak berwajib dan tidak boleh main hakim sendiri.

c.

Kuratif (pengobatan), bertujuan penyembuhan para korban baik secara medis maupun dengan media lain. Di Indonesia sudah banyak didirikan tempat-tempat penyembuhan dan rehabilitas pecandu narkoba seperti Yayasan Titihan Respati, pesantren-pesantren, yayasan Pondok Bina Kasih dll.

d.

Rehabilitatif (rehabilitasi), dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban tidak kambuh kembali “ketagihan” Narkoba. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para korban narkoba agar dapat kembali ke masyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak boleh mengasingkan para korban Narkoba yang sudah sadar dan bertobat, supaya mereka tidak terjerumus kembali sebagai pecandu narkoba.

Upaya pencegahan penyalahgunaan Rokok : Upaya pencegahan meliputi 3 hal : 1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan ROKOK dan melakukan intervensi. Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan ROKOK, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan ROKOK. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik. 2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan ROKOK.

17

3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan ROKOK. B. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Tahap pengkajian terdiri atas kumpulan data yang meliputi data biologis, psikologis, social, dan spiritual. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut : a. Kaji situasi kondisi penggunaan zat - Kapan zat digunakan - Kapan zat menjadi lebih sering digunakan/mulai menjadi masalah - Kapan zat dikurangi/dihentikan, sekalipun hanya sementara b. Kaji risiko yang berkaitan dengan penggunaan zat 1) Berbagi peralatan suntik 2) Perilaku seks yang tidak nyaman 3) Menyetir sambil mabuk 4) Riwayat over dosis 5) Riwayat serangan (kejang) selama putus zat c. Kaji pola penggunaan 1) Waktu penggunaan dalam sehari (pada waktu menyiapkan makan malam) 2) Penggunaan selama seminggu 3) Tipe situasi (setelah berdebat atau bersantai di depan TV) 4) Lokasi (timbul keinginan untuk menggunakan ROKOK setelah berjalan melalui rumah Bandar) 5) Kehadiran atau bertemu orang-orang tertentu (mantan pacar, teman pakai) 6) Adanya pikiran-pikiran tertentu (“Ah, sekali nggak bakal ngerusak” atau “Saya udah nggak tahan lagi nih, saya harus make”) 7) Adanya emosi-emosi tertentu (cemas atau bosan) 8) Adanya faktor-faktor pencetus (jika capek, labil, lapar, tidak dapat tidur atau stress yang berkepanjangan) d. Kaji hal baik/buruk tentang penggunaan zat maupun tentang kondisi bila tidak menggunakan

18

2. Pohon Masalah Resti Menciderai Diri

(CP)

HDR

Gangguan Konsep Diri Atau Koping Mal Adaptif

3. Diagnosa yang mungkin timbul : a. Resiko tinggi menciderai diri sendiri b. Intoksikasi c. Harga diri rendah d. Koping mal adaptif

4. Intervensi  Strategi Pertemuan 1- klien : a. Mendiskusikan dampak penggunaan ROKOK bagi kesehatan, cara meningkatkan motivasi berhenti, dan cara mengontrol keinginan. b. Melatih cara meningkatkan motivasi dan cara mengontrol keinginan c. Membuat jadwal latihan

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat untuk membantu klien mengatasi craving / nagih (keinginan untuk menggunakan kembali ROKOK) adalah sebagai berikut: a. Identifikasi rasa nagih muncul

19

b. Ingat diri sendiri, rasa nagih normal muncul saat kita berhenti c. Ingatlah rasa nagih seperti kucing lapar, semakin lapar, semakin diberi makan semakin sering muncul d. Cari seseorang yang dapat mengalihkan dari rasa nagih e. Coba menyibukkan diri saat rasa nagih dating f. Tundalah penggunaan sampai beberapa saat g. Bicaralah pada seseorang yang dapat mendukung h. Lakukan sesuatu yang dapat membuat rileks dan nyaman, i. Kunjungi teman-teman yang tidak menggunakan narkoba j. Tontonlah video, ke bioskop atau dengar musik yang dapat membuat rileks k. Dukunglah usaha anda untuk berhenti sekalipun sering berakhir dengan menggunakan lagi l. Bicara pada teman-teman yang berhasil berhenti m. Bicaralah pada teman-teman tentang bagaimana mereka menikmati hidup atau rilekslah untuk dapat banyak ide.

Menurut Keliat dkk. (2006). Tujuan tindakan keperawatan untuk keluarga adalah sebagai berikut: a. Keluarga dapat mengenal masalah ketidakmampuan anggota keluarganya berhenti menggunakan ROKOK. b. Keluarga dapat meningkatkan motivasi klien untuk berhenti. c. Keluarga dapat menjelaskan cara merawat klien ROKOK. d. Keluarga dapat mengidentifikasi kondisi pasien yang perlu dirujuk Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan pada keluarga antara lain : a. Diskusikan tentang masalah yang dialami keluarga dalam merawat klien. b. Diskusikan bersama keluarga tentang penyalahgunaan / ketergantungan zat (tanda, gejala, penyebab, akibat) dan tahapan penyembuhan klien (pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi). c. Diskusikan tentang kondisi klien yang perlu segera dirujuk seperti: intoksikasi berat, misalnya penurunan kesadaran, jalan sempoyongan, gangguan penglihatan (persepsi), kehilangan pengendalian diri, curiga yang berlebihan, melakukan

20

kekerasan sampai menyerang orang lain. Kondisi lain dari klien yang perlu mendapat perhatian keluarga adalah gejala putus zat seperti nyeri (Sakau), mual sampai muntah, diare, tidak dapat tidur, gelisah, tangan gemetar, cemas yang berlebihan, depresi (murung yang berkepanjangan). d. Diskusikan dan latih keluarga merawat klien ROKOK dengan cara: menganjurkan keluarga meningkatkan motivasi klien untuk berhenti atau menghindari sikap-sikap yang dapat mendorong klien untuk memakai ROKOK lagi (misalnya menuduh klien sembarangan atau terus menerus mencurigai klien memakai lagi); mengajarkan keluarga mengenal ciri-ciri klien memakai ROKOK lagi (misalnya memaksa minta uang, ketahuan berbohong, ada tanda dan gejala intoksikasi); ajarkan keluarga untuk membantu klien menghindar atau mengannkan perhatian dari keinginan untuk memakai ROKOK lagi, anjurkan keluarga memberikan pujian bila klien dapat berhenti walaupun 1 hari, 1 minggu atau 1 bulan; dan anjurkan keluarga mengawasi klien minum obat.  Strategi Pertemuan dengan Pasien dan Keluarga Penyalahgunaan dan Ketergantungan ROKOK. a. Pasien  Sp1-P 1) Membina hubungan saling percaya 2) Mendiskusikan dampak ROKOK 3) Mendiskusikan cara meningkatkan motivasi 4) Mendiskusikan cara mengontrol keinginan 5) Latihan cara meningkatkan motivasi 6) Latihan cara mengontrol keingan 7) Membuat jadwal aktivitas  Sp 2-P 1) Mendiskusikan cara menyelesaikan masalah 2) Mendiskusikan cara hidup sehat 3) Latihan cara menyelesaikan masalah 21

4) Latihan cara hidup sehat 5) Mendiskusikan tentang obat

b. Keluarga  Sp1-K 1) Mendiskusikan masalah yang dialami 2) Mendiskusikan tentang ROKOK 3) Mendiskusikan tahapan penyembuhan 4) Mendiskusikan cara merawat 5) Mendiskusikan kondisi yang perlu dirujuk 6) latihan cara merawat  Sp2-K 1) Mendiskusikan cara meningkatkan motivasi 2) Mendiskusikian pengawasan dalam minum obat (Sumber: Keliat dkk, 2006).

5. Evaluasi  Evaluasi yang diharapkan dari klien adalah sebagai berikut : a. Klien mengetahui dampak ROKOK b. Klien mampu melakukan cara meningkatkan motivasi untuk berhenti menggunakan ROKOK c. Klien mampu mengontrol kemampuan keinginan menggunakan ROKOK kembali d. Klien dapat menyelesaikan masalahnya dengan koping yang adaptif e. Klien dapat menerapkan cara hidup yang sehat f. Klien mematuhi program pengobatan  Evaluasi yang diharapkan dari keluarga adalah sebagai berikut : a. Keluarga mengetahui masalah yang dialami klien b. Keluarga mengetahui tentang ROKOK c. Keluarga mengetahui tahapan proses penyembuhan klien 22

d. Keluarga berpartisipasi dalam merawat klien e. Keluarga memberikan motivasi pada kilien untuk sembuh f. Keluarga mengawasi klien dalam minum obat

23

BAB III PENUTUP

3.1

KESIMPULAN Masalah penyalahguanaan NARKOBA / ROKOK khususnya pada

remaja adalah ancaman yang sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya. Pengaruh ROKOK sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang ditimbulkannya. Masalah pencegahan penyalahgunaan ROKOK bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan ROKOK yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut. 3.2 SARAN -

Kita sebagai generasi penerus bangsa seharusnya sadar akan pentingnya bahaya narkoba di lingkungan sekitar kita.

-

Memahami dan mendalami ilmu pengetahuan yang cukup tentang bahaya narkoba.

-

Adanya penyuluhan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait mengenai bahaya narkoba dalam kehidupan sehari-hari kepada masyarakat luas, agar

upaya

penanggulangan

penyalahgunaan

narkoba

dapat

dilaksanakan dalam tugas bersama. -

Kesadaran untuk menjahui barang-barang haram narkoba.

-

Kuatkan tekad untuk berkata, “TIDAK PADA NARKOBA”.

24

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.A.A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi, Konsep, dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba. Kusumawaati, Farida, 2010, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Salemba Medika Keliat, Budi ana, 2006, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi 2, EGC, Jakarta Depkes. (2002). Keputusan Menteri kesehatan RI tentang pedoman penyelenggaraan sarana pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (ROKOK). Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Depkes. (2001). Buku pedoman tentang masalah medis yang dapat terjadi di tempat rehabilitasi pada pasien ketergantungan ROKOK. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat http://www.bnn.go.id

25

More Documents from "Claudia Armanda Musung"