Proposal Jiwa.docx

  • Uploaded by: Erikabintan
  • 0
  • 0
  • December 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Proposal Jiwa.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 4,762
  • Pages: 34
PROPOSAL KEPERAWATAN JIWA “TAK Stimulus Sensori”

Disusun Oleh Kelompok 3: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Ranita Sari Fenny Mellike Erika Bintan W Irfan Saifur R Intan Wahyuli Eli Kusnatul A Amalia S Dyah Sulisningtyas

(P17221171004) (P17221173024) (P17221173026) (P17221173030) (P17221173034) (P17221173037) (P17221173038) (P17221173040)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG PRODI S.Tr KEPERAWATAN LAWANG TAHUN 2018/2019

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya kami

dapat menyelesaikan proposal yang

berjudul “

Asuhan Keperawatan Jiwa, TAK Stimulus Sensori’. Dalam menyelesaikan makalah ini, kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penulisan makalah kami ini. Kami menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangankekurangan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat

membangun

sangat

kami

harapkan

dari

pembaca

demi

kesempurnaan makalah ini, sehingga makalah ini dapat bermanfaat seperti yang kami harapkan. sebagai akhir kata, kami harapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca

Lawang,20 Maret 2019

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 A.

Latar Belakang ............................................................................................... 1

B.

Rumusan Masalah .......................................................................................... 2

C.

Tujuan ............................................................................................................. 3

D.

Manfaat ........................................................................................................... 3

E.

Metode Penulisan ........................................................................................... 3

F. Sistematika Penulisan ........................................................................................ 3 BAB II PEMBAHASAAN ........................................................................................... 4 A.

Landasan Teori ............................................................................................... 4

B.

Tujuan ............................................................................................................. 4

C.

Aktivitas dan Indikasi ..................................................................................... 5

Jenis Terapi Aktivitas Kelompok: Stimulasi Sensori................................................ 5 Terapi Stimulasi Sensori Suara Mendengar Musik ............................................... 6 Terapi Stimulasi Sensori Menggambar ............................................................... 10 Terapi Stimulasi Sensori Menonton TV/Video .................................................. 14 PENGORGANISASIAAN DAN ROLE PLAY ......................................................... 18 PENGORGANISASIAN ........................................................................................ 18 PERAN DAN TUGAS ........................................................................................ 18 Role Play ................................................................................................................. 20 BAB III PENUTUP .................................................................................................... 29 A.

Simpulan ....................................................................................................... 29

B.

Saran ............................................................................................................. 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 30

iii

iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan salah satu terapi modalitas sebagai bentuk psikoterapi yang dilakukan oleh sekelompok klien dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin dan diarahkan seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang terlatih. Salah satu jenis terapi aktivitas kelompok untuk klien gangguan interaksi sosial : menarik diri adalah terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori. Terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori adalah upaya menstimulasi semua pancaindra (sensori) agar memberi respon yang adekuat.(Kelliat B.A & Akemat,2004). Terapi ini diberikan karena klien tidak mampu berespon dengan lingkungan sosialnya. Rumah sakit jiwa Propinsi Bali merupakan pusat rujukan dalam merawat klien dengan gangguan jiwa di Bali. Berdasarkan data yang peneliti didapatkan di RS Jiwa Propinsi Bali, pada bulan Juli sampai dengan Desember tahun 2008 rata-rata jumlah klien yang dirawat tiap bulan sebanyak 274 orang. Dari jumlah tersebut 266 orang atau 97,1% mengalami skizoprenia, dari 266 klien tersebut 52 orang atau 20% mengalami kerusakan interaksi sosial. Kerusakan interaksi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain atau suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (Rawlins, 1993). Kerusakan interaksi sosial terjadi apabila individu menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. Pemutusan proses hubungan terkait erat dengan ketidakpuasan individu terhadap proses hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran serta dan tidak mampu berespon dengan lingkungan sosialnya, kondisi ini dapat 1

mengembangkan rasa tidak percaya diri dan keinginan menghindar dari orang lain. Apabila tingkah laku tersebut tidak segera ditanggulangi dapat menyebabkan klien mengalami gangguan jiwa yang lebih berat seperti munculnya halusinasi, risiko mencederai diri dan orang lain dan penurunan minat kebutuhan dasar psikologis. Asuhan keperawatan klien dengan kerusakan interaksi sosial dilakukan dengan pendekatan individu dan pendekatan kelompok. Hal ini dapat dilakukan terapi aktivitas kelompok, penggunaan kelompok dalam praktek keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan kekambuhan serta pemulihan harga diri klien selama dirawat di Rumah Sakit. Dinamika kelompok

membantu

klien

meningkatkan

perilaku

adaptif

serta

mengurangi perilaku maladaptif. Berdasarkan uraian diatas penggunaan terapi aktivitas kelompok dapat

memberikan

dampak

positif

dan

dapat

membantu

klien

meningkatkan perilaku adaptif serta mengurangi perilaku maladaptif terutama pada pasien dengan kerusakan interaksi sosial yang salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan berespon dengan lingkungan sosialnya. Salah satu terapi aktivitas kelompok yang mempunyai tujuan agar klien mampu memberikan respon dan dapat mengekspresikan perasaan adalah terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori. Dengan terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori klien dapat menggunakan semua panca inderanya untuk merespon stimulus yang diberikan, sehingga klien dapat memberi respon yang adekuat, dengan kemampuan memberi respon terutama terhadap lingkungan diharapkan klien mampu meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain. B. Rumusan Masalah Bagaimana prinsip terapi aktivitas kelompok: stimulasi sensori sebagai tindakan terapeutik asuhan keperawatan jiwa?

2

C. Tujuan Untuk mengetahui prinsip terapi aktivitas kelompok: stimulasi sensori sebagai tindakan terapeutik dalam asuhan keperawatan jiwa D. Manfaat Sebagai bahan acuan dan pemahaman konsep mengenai prinsip terapi aktivitas kelompok: stimulasi sensori sebagai tindakan terapeutik dalam asuhan keperawatan jiwa E. Metode Penulisan Makalah ini ditulis dengan teknik deskriptif kualitatif dimana data-data bersifat sekunder. Makalah ini ditunjang dari dari data-data studi kepustakaan yaitu dari buku-buku literattur penunjang masalah yang dibahas. F. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan D. Manfaat E. Metode Penulisan F. Sistematika Penulisan Bab II Pembahasan Bab III Penutup A. Simpulan B. Saran

3

BAB II PEMBAHASAAN A. Landasan Teori 1. Terapi aktivitas kelompok : Stimulasi sensori adalah upaya untuk menstimulasi semua pancaindera (sensori) agar memberi respon yang adekuat (Keliat, 2009) 2. Terapi aktivitas kelompok:stimulasi sensori merupakan aktivitas yang digunakan untuk memberikan stimulasi pada sensori klien, kemudian diobservasi reaksi sensori klien berupa ekspresi emosi atau perasaan melalui gerakan tubuh, ekspresi muka, ucapan. Terapi aktivitas kelompok untuk menstimulasi sensori pada penderita yang mengalami kemunduran fungsi sensoris. Teknik yang digunakan meliputi fasilitas penggunaan pancaindera dan kemampuan mengekpresikan stimulus baik dari internal maupun eksternal (Purwaningsih, 2009). Jadi, terapi stimulasi sensori merupakan jenis terapi dengan menstimulasi sensori klien untuk mendapatkan reaksi emosi atau perasaan melalui gerakan tubuh, ekspresi, dan ucapan. B. Tujuan 1. Tujuan Umum: Tujuan umum klien dapat berespon terhadap stimulus pancaindera yang diberikan 2. Tujuan Khusus: a. Meningkatkan kemampuan sensoris b. Meningkatkan upaya meningkatkan pusat perhatian c. Meningkatkan kesegaran jasmani d. Mengekspresikan perasaan 3. Tujuan khusus berdasarkan jenis Terapi Stimulasi Sensori: 4

a. Klien mampu berespon terhadap suara yang didengar b. Klien mampu berespon terhadap gambar yang dilihat c. Klien mampu mengekspresikan perasaan melalui gambar. C. Aktivitas dan Indikasi Klien yang mempunyai indikasi TAK-Stimulasi Sensori adalah klien isolasi sosial, menarik diri, harga diri rendah yang disertai dengan kurang komunikasi verbal. Aktivitas Stimulasi sensori dapat berupa stimulus terhadap penglihatan, pendengaran dan lain-lain, seperti gambar, video, tarian, dan nyanyian.

Hal yang harus diperhatikan: 1. Jika

klien

pergi

atau

meninggalkan

ruangan

terapis

mengingatkan kontrak yang telah disepakati. 2. Jika pasien diam fasilitator membujuk klien untuk berbicara jika klien

tetap

tidak

mau

berbicara

terapis

atau

leader

meningkatkan motivasi klien dengan mengatakan “ Yang lain bisa pasti Ibu bisa “ 3. Jika klien melakukan hal –hal yang tidak di inginkan (amuk, Mengganggu pasien lain, ribut ) terapis mengingatkan tentang aturan permainan. Jenis Terapi Aktivitas Kelompok: Stimulasi Sensori TAK stimulasi sensori memiliki 3 sesi yaitu: a) Sesi 1 : mendengarkan musik b) Sesi 2 : Menggambar c) Sesi 3 : Menonton TV/video

5

Terapi Stimulasi Sensori Suara Mendengar Musik

Sesi 1 : mendengar musik I.

Pengertian TAK yang diberikan dengan memberikan stimulus suara pada pasien sehingga terjadi perubahan perilaku.

II.

Tujuan 1. Klien mampu mengenali musik yang didengar 2. Klien mempu memberii respon terhadap music 3. Klien mampu menceritakan perasannya setelh mendengarkan music

III.

Setting 1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran 2. Ruangan nyaman dan tenang

IV.

Alat 1. Tape recorder 2. Kaset lagu dangdut, slow music, rohani (religius)

V.

Metode 1. Diskusi 2. Sharing persepsi

6

VI.

Langkah kegiatan

1. Persiapan a) Membuat kontrak dengan klien yang sesuai dengan indikasi menarik diri, harga diri rendah dan tidak mau bicara b) Mempersiakan alat dan tempat pertemuan 2. Orientasi a) Salam terapeutik b) Salam dari terapis kepada klien c) Evaluasi atau validasi d) Menanyakan perasaan klien saat ini e) Kontrak 

Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaiu mendengarkan music



Terapis menjelaskan aturan main berikut : 

Jika ada klien yang ingin meningalkan kelompok, harus minta ijin kepeda terapis



Lama kegiatan 45 menit



Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3. Tahap kerja a) Terapis mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri ( nama, dan nama panggilan ) dimulai dari terapis secara berurutan searah jarum jam. b) Setiap kali seorang klien selesai memperkenalkan diri, terapis mengajak semua klien untuk bertepuk tangan. c) Terapis dan klien memakai papan nama. d) Terapis menjelaskan bahwa akan diputar lagu, klien boleh tepuk tangan atau berjoget sesuai dengan irama lagu. Setelah lagu selesai klien akan diminta mencritakan isi dari lagu tersebut dan perasaan klien setelah mendengan lagu.

7

e) Terapis memutar lagu, klien mendengar boleh berjoget, tepuk tangan (kira-kira 15 menit) music yang diputar boleh diulang beberapa kali. Terapis mengobservasi respon klien terhadap musik f) Secara bergiliran, klien diminta menceritakan isi lagu dan perasaannya. Sampai semua klien mendapat giliran. g) Terapis

memberiikan

pujian,

setiap

klien

menceritakan

perasaannya, dan mengajak klien lain bertepuk tangan. 4. Tahap terminasi a) Evaluasi 

Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.



Terapis memberiikan pujian atas keberhasilan kelompok.

b) Tindak lanjut Terapis menganjurkan klien untuk mendengarkan music yang disukai dan brmakna dalam kehidupannya. c) Kontrak yang akan datang 

Menyepakati TAK yang akan datang yaitu menggambar.



Menyepakati waktu dan tempat.

5. Evaluasi Dan Dokumentasi a) Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.aspek yang dievaluasi adlah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi sensori mendengar musik, kemampuan klien yang diharapkan dalah mengikuti kegiatan , respon terhadap musi, memberi pendapat tentang musik yang didengar dan perasaan sat mendengar music. Formulir evaluasi sebagai berikut:

8

SESI 1:TAK STIMULASI SENSORI MENDENGAR MUSIK KEMAMPUAN MEMBERI RESPON PADA MUSIK NO ASPEK YANG DINILAI 1.

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

2.

Memberii respon ( ikut benyanyi/ menari/

NAMA KLIEN

joget/ menggerakkan tangan dan kaki dagu sesuai irama) 3.

Memberii pendapat tetang music yang didengar

4.

Menjelaskan perasaan setelah mendengar lagu

Petunjuk 1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien 2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti, merespon, memberi pendapat, mennyampaikan perasaan tentang music yang didengar (√) jika klien mampu dan tanda (×) jika klien tidak mampu b) Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 1, TAK stimulasi sensori mendengar music. Klien mengikuti kegiatan sampai akhir dan menggerakkan jari sesuai dengan irama music namun belum mampu memberi pendapat dan perasaan tentang music. Latih klien untuk mendengarkan music diruang rawat.

9

Terapi Stimulasi Sensori Menggambar

Sesi 2 : Menggambar I.

Pengertian TAK yang diberikan dengan memberikan stimulus menggambar pada pasien sehingga terjadi perubahan perilaku.

II.

Tujuan 1. Klien dapat mengekspresikan perasaan melalui gambar 2. Klien dapat memberi makna gambar

III.

Setting 1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran 2. Ruangan nyaman dan tenang

IV.

Alat 1. Kertas HV A 2. Pensil 2B (bila tersedia krayon juga dapat digunakan)

V.

Metode 1. Dinamika kelompok 2. Diskusi

VI.

Langkah kegiatan

1. Persiapan 10

a) Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 1 b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan 2. Orientasi a) Salam terapeutik  Salam dari terapis kepada klien  Terapis dan klien memakai papan nama b) Evaluasi / validasi Menanyakan perasaan klien saat ini c) Kontrak  Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menggambar dan menceritakannya kepada orang lain  Terapis menjelaskan aturan main berikut 

Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis



Lama kegiatan 45 menit



Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3. Tahap kerja a) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu menggambar dan menceritakan hasil gambar kepada klien lain . b) Terapis membagikan kertas dan pensil untuk tiap klien c) Terapis meminta klien menggambar apa saja sesuai dengan yang diinginkan saat ini d) Sementara klien mulai menggambar, terapis berkeliling, dan memberii penguatan kepada klien untuk terus menggambar. Jangan mencela klien. e) Setelah semua klien selesai menggambar, terapis meminta masing-masing klien untuk memperlihatkan dan menceritakan gambar yang telah dibuatnya pada klien lain. Yang harus

11

diceritakan adalah gambar apa dan apa makna gambar tersebut untuk klien. f) Kegiatan point e dilakukan sampai semua klien mendapat giliran. g) Setiap kali klien selesai menceritakan gambarnya, terapis mengajak klien lain bertepuk tangan.

4. Tahap terminasi a) Evaluasi  Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.  Terapis memberiikan pujian atas keberhasilan kelompok. b) Tindak lanjut Trapis menganjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan melalui gambar. c) Kontrak yang akan datang  Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu menonton TV.  Menyepakati waktu dan tempat. 5. Evaluasi dan Dokumentasi a) Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang di evaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi

sensori

menggambar,

kemampuan

klien

yang

diharapkan adalah mampu mengikuti kegiatan, menggambar, menyebutkan apa yang digambar dan menceritakan makna gambar.

12

SESI 2: TAK STIMULASI SENSORI MENGGAMBAR KEMAMPUAN MEMBERI RESPON TERHADAP MENGGAMBAR

NAMA KLIEN

NO ASPEK YANG DINILAI 1.

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

2.

Menggambar sampai selesai

3.

Menyebutkan gambar apa

4.

Menceritakan makna gambar

Petunjuk : 1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien 2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti, menggambar,

menyebutkan

gambar

dan

menceritakan

makna

gambar. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (×) jika klien tidak mampu b) Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien contoh : klien mengikuti sesi 2 TAK stimulasi sensori menggambar. Klien mengikuti

sampai

selesai.

Klien

mampu

menggambar,

menyebutkan nama gambar, dan menceritakan makna gambar. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan melalui gambar.

13

Terapi Stimulasi Sensori Menonton TV/Video

Sesi 3 : Menonton TV / Video I.

Pengertian TAK yang diberikan dengan memberikan stimulus suara dan melihat pada pasien sehingga terjadi perubahan perilaku

II.

Tujuan 1. Klien dapat memberii respons terhadap tontonan TV/Video (jika menonton TV, acara tontonan hendaknya dipilih yang positif dan bermakna terapi untuk klien). 2. Klien menceritakan makna acara yang ditonton.

III.

Setting 1. Klien dan terapis duduk membentuk setengah lingkaran didepan televise. 2. Ruangan nyaman dan tenang.

IV.

Alat 1. Video/CD player dan video tape/CD 2. Televise/ Laptop

V.

Metode Diskusi 14

VI.

Langkah kegiatan

1. Persiapan a) Mengingatkan kontrak dengan klien yang tlah mengikuti TAK sesi 2 b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan. 2. Orientasi a) Salam terapeutik  Salam dari terapis kepada klien  Terapis dank lien memakai papan nama b) Evaluasi/validasi Menanyakan perasaan klien saat ini c) Kontrak  Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu menonton TV/video dan menceritakannya  Terapis menjelaskan aturan main berikut 

Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis



Lama kegiatan 45 menit



Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3. Tahap kerja a) Terapus menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu menonton

TV/video

petikan

film

“laskar

pelangi”

dan

menceritakan makna yang telah ditonton. b) Terapis memutar TV/VCD yang telah disiapkan. c) Terapis mengobservasi klien selama menonton TV/video d) Setelah menonton, masing-masing klien diberi kesempatan menceritakan isi tontonan dan maknanya untuk kehidupan klien. Berurutan searah jarum jam, dimulai dari klien yang ada disebelah kiri terapis. Sampai semua klien mendapat giliran. 15

e) Setelah

selesai

klien

menceritakan

persepsinya,

terapis

mengajak klien lain bertepuk tangan dan memberiikan pujian.

4. Tahap Terminasi a) Evaluasi  Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK  Terapis memberiikan pujian atas keberhasilan kelompok b) Tindak lanjut Terapis menganjurkan klien untuk menonton acara TV yang baik c) Kontrak yang akan datang  Menyepakati TAK yang akan dating sesuai dengan indikasi klien  Menyepakati waktu dan tempat 5. Evaluasi dan Dokumentasi a) Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk stimlasi sensori menonton, kemampuan klien yang diharapkan adalah mengikuti kegiatan, berespon terhadap tontonan, menceritakan isi tontonan, dan mengungkapkan perasaan saat menonton. Formulir evaluasi sebagai berikut :

16

SESI 3: TAK STIMULASI SENSORIS MENONTON KEMAMPUAN MEMBERI RESPON PADA TONTONAN

NAMA KLIEN

NO ASPEK YANG DINILAI 1.

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir TAK

2.

Memberi respon pada saat menonton (senyum, sedih, dan gembira)

3.

Menceritakan cerita dalam TV/video

4.

Menceritakan perasaan saat menonton

Petunjuk : 1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien 2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti, berespon,

menceritakan,

dan

menyampaikan

perasaan

saat

menonton. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (×) jika klien tidak mampu

b) Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contohnya : klien mengikuti sesi 3 TAK stimulasi sensori menonton. Klien mengikuti kegiatan sampai selesai, ekspresi datar, dan tanpa respon, klien tidak dapat menceritakan isi tontonan dan perasaannya. Tingkatkan stimulus diruangan, ulang kembali dengan stimulus yang berbeda.

17

PENGORGANISASIAAN DAN ROLE PLAY

PENGORGANISASIAN Terapis Leadear

: Irfan Saifur R.

Co Leader

: Fenny Mellike

Observer

: Eli Khusnatul A.

Fasilitator

: 1. Ranita Sari 2. Erika Bintan 3. Intan Wahyuli

Pasien

: 1. Amalia J. 2. Dyah Sulistyaningtyas

PERAN DAN TUGAS 1. Leadear Tugas : a) Menyusun rencana TAK (proposal) b) Mengarahkan kelompok dalam pencapaian tujuan c) Memotivasi

dan

memfasilitasi

anggota

untuk

mengekspresikan perasaan, mengajukan pendapat dan memberikann umpan balik d) Sebagai role model e) Menjelaskan jalannya permainan dan melakukan kontrak waktu 2. Co Leader Tugas: a) Membantu leader dalam mengorganisir anggota kelompok

18

b) Menyediakan media 3. Fasilitator Tugas: a) Membantu leader dalam memfasilitsi anggota untuk berperan aktif dan memotifasi anggota b) Memfokuskan kegiatan c) Membantu mengkoordinasi anggota kelompok d) Duduk di sela-sela pasien 4. Observer a) Mengobservasi semua respon klien b) Mencatat

semua

proses

yang

terjadi

dan

semua

perubahan prilaku klien c) Duduk tidak di lingkungan permainan/diluar d) Mengevaluasi setiap keaktifan pasien e) Mengevaluasi tugas leader, fasilitator, dan co leader

19

Role Play Di sebuah ruangan pertemuan RSJ Lawang akan dilakukan terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori. Di RSJ Lawang di ruangan perawat, para perawat berdiskusi untuk menentukan terapi aktivitas kelompok yang akan dilakukan pada klien. Sesi 1: mendengarkan musik Hari senin 1 maret 2019, di ruang garuda di RSJ Lawang Leader

:

Selamat pagi teman-teman?

F dan O

:

Selamat pagi Pak….

Leader

:

Seperti yang telah kita rencanakan, kita akan akan melakukan terapi stimulasi sensori sebanyak 3 sesi. Dan sesi yang pertama akan kita lakukan hari ini yaitu mendengarkan music.

Co Leader

:

bagaima apakah sudah siap semuannya?

Fasilitator

:

sudah bu, kami sudah menyiapkan untuk hari ini

Observer

:

baik segera kita mulai

(berjalan menuju tempat terapi) Terapi mendengarkan musikpun dimulai Fasilitator 1

:

selamat pagi ibu-ibu. Bagaimana semangatnya hari ini?

Klien 1

:

semangat 45 bu

Fasilitator 1

:

Ya, saya disini bersama teman-teman akan melakukan terapi mendengarkan music, jadi nanti silahkan diikuti dengan baik ya

Klien 1

:

bu, request dong. Music dangdut ya bu. Nanti pasti akan bergoyah,, yahuddd

Fasilitator 2

:

loh ibu amal kenapa kok tidak bersemangat

Klien 2

:

enggak kenapa-kenapa sus

Fasilitator 1

:

siap ya bu. 1 2 3

20

Klien 1

:

(berjoget dan menikmati lagu yang diputarkan) ayo joget

teman-teman.

Dut

dut

yuk

kita

berdangdut..yahhhh Observer

:

(memantau apakah sesi berjalan dengan baik)

Fasilitator 2

:

saya ganti ya lagunnya( mengganti lagu bergenre pop galau)

Klien 2

:

(ikut bernyanyi dan menampakkan muka sedih sesuai dengan lagu yang diputarkan) “Tanpa undangan

diriku kau lupakan, tanpa

utusan diriku kau tinggalkan…….. Musikpun sudah selesai diputarkan, para fasilitator mengobeservasi keadaan klien dan mencatat hasil dari terapi.

Sesi 2: menggambar Co Leader

:

Sepertinya kegiatan kemarin cukup baik. Hanya pada saat tertentu mereka merasa kurang kondusif

Fasilitator 1

:

Ya saya setuju, mereka terbawa dengan music yang mereka sukai

Observer

:

Tapi, di akhir kegiatan mereka cukup kooperatif. Semoga saja sesi 2 ini lebih OK.

Leader

:

Baik… karena kita sudah kontrak waktu kemarin sekarang silakan teman-teman jemput mereka.

Fasilitator 1

:

Baik Pak

Leader

:

OK, mari kita mulai….

Para perawat segera memulai terapi sensori yang akan dilaksanakan di ruang pertemuan… Tiap fasilitator menemui klien untuk mengajak mereka ke ruang pertemuan…. Sementara leader dan Co Leader serta observer menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukanuntuk kegiatan terapi nanti.

21

Dan….. di ruang Nakula, tiba-tiba…

Fasilitator 2

:

Selamat pagi ibu Amal…. Seperti janji kemarin, Ibu ingat kan, hari ini kita akan menggambar?

Klien 1

:

Hah??? Menggambar… ? mmmmm ok deh, saya mau menggambar

Fasilitator 2

:

wajah saya yang cantik ini…

Iya…..ibu boleh menggambar apa saja yang ibu mau…. Ayo Bu sekarang kita ke ruang pertemuan….

: Oke2 (senyum-senyum kegirangan…)

Klien 1

Dan….. hal serupa juga terjadi di ruang Dharmawangsa dimana fasilitator sedang menjemput klien dengan Waham…… Fasilitator 3

:

Permisi bu, selamat pagi….

Klien 2

:

Suster tau gak….. saya sebenarnya bisa terbang..

Fasilitator 3

:

Sebentar

bu….jangan

terbang

dulu,

kita

menggambar dulu…. Klien 2

:

saya tidak ingat? Kita mau menggambar di ruang pertemuan kan…? Ayo kita terbang kesana sekarang…..

Fasilitator 3

:

Iya, tapi saya tidak bisa terbang, tapi kita bisa berangkat sama-sama…

Beberapa detik kemudian…. Fasilitator 3

:

Bagaimana ibu, coba lihat kaki ibu ada dimana? Menyentuh tanah bukan? Itu artinya ibu tidak terbang, tapi berjalan kaki.

Klien 2

:

O iya ya suster….

Beberapa menit kemudian semua klien sudah berada di ruang pertemuan…

22

Leader

:

Baik Ibu selamat pagi, sudah tahu rupanya ya kita sekarang akan melakukan kegiatan menggambar. Nanti kegiatan ini akan kita laksanakan selama 45 menit. Kegiatan ini akan membantu Ibu untuk melatih ekspresi dan emosi Ibu. Nanti saya perawat Erika dan Perawat Intan akan memandu ibu untuk mengikuti kegiatan ini…. Bukan begitu perawat Intan?

Co Leader

:

Tentu saja…..

Klien 1

:

saya yang paling cantik disini tau suster!!!!!

Co Leader

:

Oh iya….Ibu yang paling cantik di sini.

Leader

:

Sudah-sudah, sekarang kita mulai saja ya Ibu, menggambarnya….

Kegiatan

menggambar

akan

dimulai…

Fasilitator

membagikan kertas dan pensil kepada klien dan mereka semua pun duduk membentuk lingkaran…. Leader

:

Ibu ,sudah pernah pegang kertas dan pensil kan sebelumnya?

Klien 1

:

Pisau kok di bilang pensil…..

Fasilitaor 2

:

Ibu… ini bukan pisau Bu, ini pensil… Coba deh sekarang kalau ini ini pisau bisa gak dipakai untuk memotong/?

Klien 1

:

Mencoba memotong kertas memakai ini….!

Fasilitator 2

:

Gimana, tidak bisa kan Bu…

Klien 1

:

Oh iya ya… Berarti ini pensil ya suster….

Fasilitator 2

:

Iya tentu itu pensil……

Leader

:

Baiklah…..sekarang

kita

menggambarnya…. Ibu

mulai boleh

saya

ya

menggambar

apa saya yang Ibu mau, nanti setelah

23

selesai Ibu ceritakan apa yang Ibu gambar…. Ayo silahan…silakan… Para klien pun mulai menggambar mereka didampingi oleh fasilitatot….

Leader

:

Semua sudah selesai menggambar Bu ?

Klien

:

(Semua klien menjawab) Sudahh….

Leader

:

Sekarang silakan Ibu ceritakan apa yang Ibu gambar dan arti dari apa yang ibu gambar Di mulai dari Ibu Amal…. Ayo silakan…..

Klien 1

:

Ayo-ayo semua liat gambar saya……

Bagus

kan…… Cantik kan…. Ini saya….. Leader

:

Sekarang Ibu ceritakan arti dari gambar Ibu…

Klien 1

:

Ini gambar saya sewaktu saya masih muda… Saya Cantik sekali mirip artis kan bu….Pacar saya sangat sayang sama saya… sebentar lagi kami akan menikah… Tapi saya gak tahu kenapa dia belum jemputjemput saya…. (Klien terus menceritakan pengalamannya dimana Ia kehilangan kekasih yang

sangat

disayanginya……….) Leader

:

Ibu Amal.. gambarnya sudah bagus sekali, ayo kita beri tepuk tangan……

Kemudian leader pun mendekati klien 2 lalu menanyakan arti dari apa yang ia gambar… Leader

:

Ibu….. bagaimana dengan gambar Ibu?

24

Wah…Ibu menggambar

pesawat

terbang,

kenapa Ibu menggambar ini? Klien 2

:

Gambar saya memang bagus…. Sebenarnya saya bisa terbang…sama seperti

pesawat gambar

ini… Leader

:

Kenapa Ibu berkata seperti itu?

Klien 2 merenung sejenak, kemudian pelan-pelan ia mulai menceritakan peristiwa yang di alaminya 2 tahun lalu dimana ketika Ia tidak bisa melanjutkan

kuliah

di

jurusan

penerbangan karena ketidakmampuan ekonomi…. Klien 2

:

Dulu saya mahasiswa jurusan penerbangan…. Waktu itu, 6 bulan lagi saya akan lulus Cita-cita

saya

menjadi

ekonomi keluarga tidak (Demikian

seorang

kuliah…

pilot…

tapi

mendukung…

seterusnya….

Klien

menceritakan

sedikit demi sedikit pengalaman masa lalunya…). Leader

:

Bagus ya teman-teman, ayo kita beri tepuk tangan….

Setelah selesai menceritakan gambar…leader dan co leader kemudian memberikan reinforcement positif terhadap kelompok… Co Leader

:

Ibu sekalian… sudah bagus sekali apa yang sudah Ibu kerjakan… Semoga kegiatan ini bermanfaat. Besok kita akan melanjutkan kegiatan yang sama, tetapi bukan menggambar, melainkan menonton video… Terima kasih atas kesediaan Ibu sekalian… Sampai bertemu lagi besok…

Selamat pagi.

25

Sesi 3: Melihat video Pada hari Rabu sesi 3 pun dimulai, leader dan co leader mengumpulkan para tim TAK stimulus sensori untuk kelanjutan terapi klien.

Leader

:Selamat pagi teman-teman semua. Hari ini adalah sesi terakhir dari terapi yang kita lakukan sebelumnya. Apakah ada kendala yang belum teratasi?

Fasilitator

:sudah beres pak, semua sudah teratasi

Observer

: saya memantau terapi berjalan dengan baik

Leader

:okay.

Sebelumnya

terima

kasih

atas

kerjasamanya selama ini. Mari kita lakukan sesi yang terakhir dengan baik. Para tim menuju ke tempat terapis Fasilitator 3 : selamat pagi ibu-ibu Klien

: pagi bu

Fasilitator 3 : nanti kegitan kita menonton video yaitu sebuah film Surga yang tak dirindukan. Klien 1

: loh bu , surga kok malah tidak dirindukan

Fasilitator 3 : udah, dilihat dulu aja, nanti komentarnya. Okay Klien 2: iya bu Fasilitator 2 : siap ya 1 2 3 Fasilitator duduk disebelah pasien dan observer berada dibelakang pasien Klien 1: (tanpak tertawa jika ada bagian komedinya, dan tanpak penasaran akan ceritany) dan mulai meneteskan air mata

26

Klien 2

:(tampak

serius

dengan

jalan

ceritannya)

menangis tersedu-sedu dan sangat kencang

Film pun sudah selesai diputar para fasilitator mendekati klien Fasilitator 2 : loh ibu amal, kenapa ibu nangis, ibu mengerti akan certa yang ada difilm Klien 2

: ngerti bu, kasihan, gak ikhlas aku kalau jadi bellanya

Fasilitator 2 : emang gimana bu ceritanya Klien 2

: yang suaminya nikah lagi, sama perempuan yang belum dilkenalnya, dimadu itu sakit bu, tapi mbak bella kuat ya. Namun semua wanita kalau dimadu pasti sakit hati mbak.

Fasilitator 2 : o gitu ya bu. Ya sudah. Lupakan yang sedihnya. Ambil positifnya aja . coba positinya dari film ini apa bu? Klien 2

: kesabaran, keikhlasan yang penuh, dan kesetiaan

Fasilitator 2 : ah ibuknya pintar. Ibu sangat memperhatikkan ya buk filmnya. Bagus bu. Good job Fasilitator 3 : ibu tyas, bagaimana bu setelah menonton film ini, terus ibu bisa ceritaiin gak maksud dari filmnya seperti apa? Klien 1

: kasihan bu sama gemes. Ya saya kasihan sama mbak belanya terus saya jga gemes sama mbak ralinenya kok bisa-bisanya hamil duluan erus mau bunuh diri. Untung ada pak malaikat dateng

Fasilitator 3 : o gitu to buk. Terus pelajaran yang kita bisa ambil dari film tadi apa ya buk?

27

Klien1

: loh bu tadi anaknya Cuma ditunjukin dia masih sd dan berseragam dan tidak ada adegan belajar mengajar, jadi ya saya tidak tau pelajarannya bu

Fasilitator 3 : maksudnya hal positif apa yang bisa diambil dari film ini bu? Klein 1

: o itu to buk. Kalau saya lihat sih kesabranya

mbak bela ya buk, sama keikhlasannya yang begitu besar Fasilitator 3 : nah. Ibu sepertinya memeperhatikan dengan baik ya bu.

Fasilitator 3 : ibu-ibu saya dan teman-teman sudah selesai melakukan terapi yang dilaksanakan mulai hari senen kemarin. Jadi kita sudah 3 hari ya bu terapinya. Semoga terapi yang kita berikan bermanfaat. Kami pamit dulu ya dan terimakasih atas kerjasamannya selama 3 hari ini permisi.

28

BAB III PENUTUP A. Simpulan Terapi aktivitas kelompok merupakan timulasi sensori adalah upaya untuk menstimulasi semua pancaindera (sensoori) agar member respon yang adekuat. Tujuannya adalah agar klien dapat berespon terhadap stimulus pancaindera yang diberikan. Aktivitas Stimulasi sensori dapat berupa stimulus terhadap penglihatan, pendengaran dan lain-lain, seperti gambar, video, tarian, dan nyanyian. Klien yang mempunyai indikasi TAK-Stimulasi Sensori adalah klien isolasi sosial, menarik diri, harga diri rendah yang disertai dengan kurang komunikasi verbal. B. Saran Terapi aktivitas kelompok sudah sepantasnya masuk dalam standar asuhan keperawatan jiwa dan menjadi integral dalam standar assuhan keperawatan jiwa khususnya pada tindakan keperawatan jiwa yang diberikan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan jiwa utamanya di ruang rawat inap rumah sakit jiwa. Dengan demikian menjadi kewajiban perawat untuk memberikan terapi aktivitas kelompok secara rutin sesuai dengan kebutuhan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan jiwa dan menjadikannya sebagai bagian dari budaya profesional sehingga dapat meningkatkan citra dan mutu pelayanan keperawatan jiwa bagi pasien dan keluarganya.

29

DAFTAR PUSTAKA Keliat,Budi Anna. 2004. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakara: EGC Purwaningsih, Wahyu. 2009. Asuhan Keerawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika

Riyadi, Sujono. 2009. Asuhan Keeperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu

Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Arifin, Yasir. 2009. Terapi Kelompok. 23 Mei 2009. Arifin Yasir: Blog (Diakses 20 Maret 2019). Candra et al. n.d. Eksistensi Terapi Aktivitas Kelompok dalam Tindakan Keperawatan Jiwa.

(Diakses 20 Maret 2019).

30

Related Documents

Proposal
June 2020 38
Proposal
October 2019 60
Proposal
June 2020 41
Proposal
July 2020 34
Proposal
December 2019 58
Proposal
November 2019 62

More Documents from ""

Proposal Jiwa.docx
December 2019 0