Lapsem Fiswan.docx

  • Uploaded by: hilda
  • 0
  • 0
  • July 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Lapsem Fiswan.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 764
  • Pages: 5
KEGIATAN 2 STRUKTUR KIMIA DAN MEKANISME KERJA HORMON Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan Yang Dibimbing Oleh Hendra Susanto, S.Pd, M.Kes.

Kelompok 4 : 1.

Arief Hidayatullah

(170342615535)

2.

Hilda Dwi Anjani

(170342615583)

3.

Isma Sandra Pahlevi

(170342615584)

4.

Mohammad Fatikunnaja

(170342615506)

5.

Riski Berliana

(170342615501)

Offering G 2017

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN DAN MANUSIA JURUSAN BIOLOGI, PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MALANG Oktober 2018

I.

Identifikasi Permasalahan

1. Penyakit apa yang disebabkan karena permasalahan konsumsi gorengan yang juga berhubungan dengan hormon dalam tubuh? 2. Bagaimana dampak kelebihan lemak terhadap struktur damn mekanisme kerja hormon?

II.

Rencana Investigasi

Dicari sampel berupa gorengan ataupun cimol

Dilihat kehigienisan tempat jualan maupun proses pembuatan gorenggorengan tersebut

Di identifikasi resiko penyakit yang dapat ditimbulkan dengan mencari literatur

Dirangkum dan disimpulkan apa yang sudah ditemukan dari berbagai macam jurnal

Hasil

III.

Investigasi Salah satu dampak akibat kebanyakan lemak adalah obesitas. Penimbunan lemak dalam

tubuh mengakibatkan gangguan hormon pertumbuhan, peningkatan triiodotironin dan penurunan kadar tiroksin plasma, peningkatan hormon kortisol. Selain itu terjadinya peningkatan hormon luteinzing, estrogen dan androgen serta gangguan pada siklus menstruasi terjadi pada wanita yang mengalami obesitas. Pada pria dengan obesitas, terjadi penurunan kadar testosteron yang disertai perubahan androgen menjadi estrogen. Seseorang

yang

mengalami penumpukkan lemak di bagian perut memiliki resiko mengalami gangguan toleransi glukosa, non-insulin dependent diabetes mellitus dan gangguan metabolik lain yang lebih tinggi. Obesitas akan menyebabkan terganggunya kemampuan insulin untuk

mempengaruhi pengambilan glukosa dan metabolismenya pada jaringan yang sensitif terhadap insulin (yang sering disebut resistensi insulin) serta meningkatan sekresi insulin plasma. Pengurangan pengambilan glukosa yang distimulasi insulin pada jaringan perifer dan peningkatan produksi glukosa hepatik akan mengganggu penghambatan pengeluaran glukosa dari hati oleh insulin pada saat puasa. Dari penelitian pada sel pasien obesitas telah diketahui bahwa terjadi pengurangan hubungan pengikatan insulin dengan reseptor spesifik, pengurangan aktivitas reseptor insulin tirosin kinase, pengurangan aktivitas transpor glukosa dan pengurangan jumlah dan aktivitas glycogen synthase. Orang gemuk dapat menjadi resisten terhadap insulin, menyebabkan peningkatan hormon insulin dalam darah. Insulin mengurangi lipolisis (pemecahan lemak) dan meningkatkan pembentukkan dan ambilan lemak. Orang gemuk berespon terhadap makanan berkarbohidrat dengan menaikan insulin dan mengurangi penggunaan asam lemak. Resistensi insulin telah diketahui merupakan salah satu ciri dari obesitas dan diabetes tipe 2. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh kelebihan gizi yang berkepanjangan dan hiperinsulinemia pada penderita obesitas. Salah satu dampak dari resistensi insulin adalah tingginya kadar gula darah (hiperglikemia) (Ricart dan Real, 2001). Obesitas terjadi karena kelebihan simpanan energi dalam bentuk lemak didalam sel adiposa. Lemak secara aktif memproduksi sejumlah hormon serta protein yang memiliki efek local dan sistemik. Senyawa tersebut antara lain: leptin, angiotensin, resistin adiponektin, plasminogen-activator inhibitor I, sitokin, inter leukin-6 (IL-6) dan Tumor Nekrosis Faktor Alpha (TNF-α). Sel adiposa berfungsi sebagai sel endokrin yang melepaskan beberapa molekul berkaitan dengan obesitas, seperti adiponektin, resistin dan Retinal Binding Protein-4 (RBP4). Kadar adiponectin menurun pada penderita obesitas sedangkan kadar resistin dan RBP-4 meningkat, yang mengakibatkan terganggunya homeostasis lemak, terganggunya hormone testosteron, terjadinya sensitivitas insulin, terganggunya pengontrolan gula darah, menyebabkan penyakit jantung dan terjadinya gangguan psikososial. Pada obesitas terjadi penurunan adiponectin tetapi peningkatan resistin dan RBP-4, hal ini yang mengakibatkan terjadinya sel lemak yang berpengaruh terhadap hormon testosteron. Pada pria yang obesitas terdapat lebih banyak sel lemak didalam tubuhnya. Sel lemak ini melepaskan enzim aromatase yang memfasilitasi perubahan testosterone menjadi estradiol. Aromatisasi dominan di jaringan perifer dari pada testis. Testosteron dalam jumlah tertentu dikonversikan menjadi estradiol, dehidrotestosteron dan etiocholanolone dalam batas normal. Testosteron mengalami aromatisasi menjadi estrogen pada pria yang mempunyai lemak berlebihan dalam tubuh pria

normal, perbandingan antara testosteron dan estradiol adalah 50:1, makin bertambah berat badan maka makin cepat penurunan hormon testosteron yang berubah menjadi estradiol.

IV.

Solusi alternatif

1. Mengurangi bahkan mencegah makanan gorengan yang memiliki kadar lemak tinggi dan mengantinya dengan ekanan yang dioleh dengan di rebus atau dikukus. 2. Meniriskan gorengan dari minyak yang menempel secara maksimal 3. Menganti manyak kelapa sawit yang digunakan untuk menggoreng dengan minyak yang sehat lain seperti minyak zaitu, kanola, jagung, biji bunga matahari dan minyak wijen. 4. Menggunakan minyak untuk menggoreng maksimal dua kali pemakaian. 5. agar minyak tidak menyerap ke dalam makanan yang digoreng, disarankan untuk menggoreng makanan pada suhu 176-1900C. 6. Makan sayur-sayuran atau makanan berserat

V.

Solusi utama

Yaitu Mengurangi bahkan mencegah makanan gorengan yang memiliki kadar lemak tinggi dan menggantinya dengan makanan yang diolah dengan di rebus atau dikukus. Karena untuk menghindari dari dampak negatif makanan gorengan, maka lebih baik mencegah mengkonsumsinya atau mengurangi mengkonsumsinya. Selain itu mengurangi makanan gorengan merupakan satu-satunya solusi yang tepat karena sumber dari penyakit-penyakit tersebut adalah dari gorengan ini, jadi mengatasi masalah ini dari sumbernya langsung.

Lampiran Dokumentasi

Related Documents

Lapsem Iik.docx
June 2020 20
Lapsem Bd.docx
April 2020 20
Lapsem Fiswan.docx
July 2020 34
Lapsem Sph.docx
May 2020 23
Lapsem 2.docx
May 2020 19

More Documents from "Husna Nur Wanah"