10 Konsepsi Tuhan Dalam Perspektif Islam

  • Uploaded by: Prabu Suroguna
  • 0
  • 0
  • May 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View 10 Konsepsi Tuhan Dalam Perspektif Islam as PDF for free.

More details

  • Words: 4,296
  • Pages: 11
Konsepsi Tuhan dalam Perspektif Islam

Sukemi Ismail *) *) Penulis adalah Doktorandus, dosen seminar bidang Tasawuf. Ia adalah dosen-tetap pada Jurusan Komunikasi (Dakwah), di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

Abstract: The discourse about God is a discussion that requiring human thought from early days. Man always seeking answer about who stand behind the existence of this whole world. However, there's difference on beliefs to God's existence, that caused by human difference level on reasoning ability. Then, is all diverse gods believed by human being true God? Which methods to ascertain it? This article would explain True God on Islam's perspective, and testing other Gods on several human faiths outside Islam, is it true of false, by using God's attribute detector. Keywords: Conception about God, True God, False God, God's attribute.

Pendahuluan Pembicaraan tentang Tuhan merupakan pembicaraan yang menyedot pemikiran manusia sejak jaman dahulu kala. Manusia senantiasa bertanya tentang siapa di balik adanya alam semesta ini. Apakah alam semesta terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuatan lain yang mengatur alam semesta ini. Bertitik-tolak dari keinginan manusia untuk mengetahui keberadaan alam semesta ini, maka manusia mencoba mengkajinya sesuai dengan kemampuan akal yang dimilikinya. Hasil dari kajian-kajian yang dilakukan, manusia sejak jaman primitif sudah mempercayai adanya kekuatan lain di luar diri manusia yang disebut dengan Tuhan. Namun, kepercayaan kepada adanya Tuhan berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan tingkat kemampuan akal manusia. Menurut Ibnu Thufail yang menulis kisah novel Hayy

bin Yaqdzan mengatakan bahwa manusia dengan akalnya mampu mempercayai adanya Tuhan.1 Demikian juga para pemikir dari semua aliran teologi dalam Islam seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah Bukhara dan Samarkand berpendapat bahwa mengetahui Tuhan dapat diketahui melalui akal.2 Mengingat kepercayaan terhadap Tuhan berbeda-beda, lantas apakah semua Tuhan yang dipercayai oleh manusia merupakan Tuhan yang Haq (benar), dan bagaimana cara mengetahui Tuhan yang Haq (benar) tersebut? Tulisan ini akan menjelaskan tentang Tuhan yang Haq (benar) dalam perspektif Islam, dan menguji Tuhan-Tuhan yang ada dalam kepercayaan manusia di luar Islam.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

1

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Kepercayaan Manusia terhadap Tuhan Dalam perjalanan sejarah manusia, muncul berbagai macam kepercayaan terhadap Tuhan. Ada kepercayaan yang disebut ‘dinamisme’ yang berarti kepercayaan kepada kekuatan gaib yang misterius. Dalam paham ini ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Benda yang mempunyai kekuatan gaib baik tentu akan disenangi, dipakai dan dimakan agar orang yang memakai atau memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya, benda yang mempunyai kekuatan gaib jahat tentunya akan ditakuti dan dijauhi.3 Ada pula kepercayaan yang disebut dengan ‘animisme’ yang berarti kepercayaan bahwa tiaptiap benda, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa mempunyai ruh. Tujuan mempercayai ruh ini adalah untuk mengadakan hubungan baik dengan ruh-ruh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka dan menjauhi perbuatan yang dapat membuat mereka marah.4 Ada lagi kepercayaan yang disebut dengan ‘politeisme’, yakni kepercayaan kepada dewadewa. Dalam kepercayaan ini hal-hal yang menimbulkan perasaan takjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh ruh-ruh, tetapi oleh dewa-dewa. Kalau ruh dalam animisme tidak diketahui tugastugasnya yang sebenarnya, dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu. Ada dewa yang bertugas memberikan cahaya dan panas ke permukaan bumi. Dewa ini dalam agama mesir kuno disebut Ra, dalam agama India Kuno disebut Surya, dan dalam agama Persia Kuno disebut Mithra. Ada pula dewa yang tugasnya menurunkan hujan, yang diberi nama Indera dalam agama Mesir Kuno, dan Donnar dalam agama Jerman Kuno. Selanjutnya ada pula dewa angin yang disebut Wata dalam agama India Kuno, dan Wotan dalam agama Jerman Kuno.5 Dalam paham politeisme, tiga dari dewa-dewa yang banyak meningkat ke atas dan mendapat perhatian dan pujaan yang lebih besar dari yang lain. Dewa yang tiga itu mengambil bentuk Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Dewa yang tiga ini dalam agama Veda disebut Indra, Vitra dan Varuna; dalam agama Mesir Kuno dikenal dengan Osiris dengan istrinya Isis dan anaknya Herus; dan dalam agama Arab Jahiliyah dikenal dengan al-Lata, al-Uzza, dan Manata. Selain itu, dalam paham politeisme, ada satu dari dewa-dewa itu yang meningkat di atas segala dewa yang lain, seperti Zeus dalam agama Yunani Kuno, Yupiter dalam agama Rumawi, dan Amor dalam agama Mesir Kuno. Paham ini belum menunjukkan adanya pengakuan terhadap satu Tuhan, tetapi baru pada pengakuan dewa terbesar di antara dewa yang banyak. Paham ini belum meningkat menjadi paham monoteisme, tetapi masih berada pada paham politeisme. Begitu juga kalau dewa yang terbesar itu saja yang dihormati dan dipuja, sedang dewa-dewa lain ditinggalkan, maka paham demikian telah keluar dari politeisme dan meningkat kepada henoteisme. Henoteisme mengakui satu Tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai Tuhannya sendiri-sendiri. Henoteisme mengandung paham Tuhan nasional.6

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

2

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Dalam masyarakat yang sudah maju, kepercayaan yang dianut bukan lagi dinamisme, animisme, politeisme, atau henoteisme, tetapi kepercayaan monoteisme, baik monoteisme praktis, monoteisme spekulatif, monoteisme teoritis, maupun monoteisme murni. Monoteisme praktis adalah kepercayaan yang tidak mengingkari dewa-dewa lain, tetapi hanya satu Tuhan saja yang diarah dan dipuja. Monoteisme spekulatif adalah kepercayaan yang terbentuk karena bermacam gambaran dewa-dewa lebur menjadi satu gambaran yang akhirnya dianggap sebagai satu-satunya dewa. Monoteisme teoritis ialah paham yang mempercayai bahwa Tuhan itu Esa dalam teori, tetapi dalam praktek dipercayai lebih dari satu Tuhan. Terakhir monoteisme murni adalah paham yang menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dalam jumlahnya dan sifat, dalam teori dan praktek, dan dalam pemikiran dan penghayatan.7 Selain kepercayaan pada monoteisme, pada masyarakat maju juga ada kepercayaan yang tidak mengakui adanya Tuhan, seperti para evolusionis yang mengatakan bahwa kehidupan berawal dari sebuah sel yang terbentuk secara kebetulan dari kondisi bumi yang primitif.8 Kepercayaan ini mendapatkan perlawanan dari kalangan ilmuwan. Mereka mengatakan bahwa terlalu berlebihan untuk menduga bahwa organisasi alam yang begitu halus dan harmonis adalah hasil kebetulan belaka seperti yang diungkapkan oleh Robert Boyle yang mengatakan bahwa sistem besar dunia yang teratur, struktur tubuh binatang dan panca-inderanya yang demikian menakjubkan dan lainnya yang ada di muka bumi ini, tidak mungkin ada kalau tidak ada yang menciptakannya. Oleh karena itu, para filosof mengakui dan mempercayai bahwa Tuhan sebagai pengarang atau pencipta struktur-struktur yang mengagumkan ini.9 Demikian pula, percobaan laboratorium dan perhitungan probabilistik secara gamblang menjelaskan bahwa asam amino yang merupakan sumber kehidupan tidak dapat dibuat secara kebetulan. Sel yang dikira timbul secara kebetulan dalam kondisi yang primitif dan tak terkontrol menurut para evolusionis, masih tidak bisa disintesiskan, sekalipun di laboratorium dengan teknologi tercanggih abad ke-20.10 Dengan demikian, kepercayaan kaum evolusionis merupakan kepercayaan yang palsu dan tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mempercayai adanya Tuhan.

Pengertian Tuhan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia, sebagai yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan lain sebagainya.11 Berangkat dari pengertian Tuhan seperti tersebut di atas, maka dalam dinamisme, kekuatan gaib yang misterius adalah Tuhan. Dalam Animisme, ruh adalah Tuhan. Dalam politeisme; Indra, Vitra dan Varuna dalam agama Veda adalah Tuhan. Brahma, Wisnu dan Syiwa dalam agama Hindu adalah Tuhan. Osiris, Isis dan Herus dalam agama Mesir Kuno adalah Tuhan. Al-Latta, al-Uzza dan Manata dalam agama Arab Jahiliyah adalah Tuhan. Dalam agama Kristen, Allah Tritunggal adalah Tuhan12 dan dalam agama Islam Allah SWT adalah Tuhan.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

3

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Jadi Tuhan itu memang banyak, sebanyak agama yang ada di dunia ini dan yang dianut manusia. Sedangkan Indra, Vitra dan Varuna; Brahma, Wisnu dan Syiwa; Allah Tritunggal dan Allah SWT adalah nama-nama Tuhan. Dengan perkataan lain, Tuhan adalah nama jabatan. Sedangkan Indra, Vitra dan Varuna; Brahma, Wisnu dan Syiwa, Allah Tritunggal dan Allah SWT adalah nama diri Tuhan. Jika dianalogikan dengan perkataan Presiden, yakni Presiden adalah nama jabatan tertinggi pada Negara republik. Karena itu, Negara-negara yang berbentuk republik ada pejabat yang disebut presiden, sedangkan nama diri dari presiden berbeda-beda seperti Susilo Bambang Yudhoyono, George W. Bush, Saddam Husein dan sebagainya adalah nama diri dari presiden.

Pengertian Tuhan dalam Perspektif Islam Untuk mengetahui pengertian Tuhan dalam Islam, maka perlu dikaji rujukan dari al-Qur’an tentang kata-kata yang memiliki makna Tuhan. Dalam al-Qur’an, perkataan Tuhan dikenal dengan istilah Rabb, Maalik atau Malik dan Ilaah. Masing-masing istilah tersebut mempunyai tekanan arti sendiri-sendiri.

Rabb Dalam al-Qur’an, perkataan Rabb sering dihubungkan dengan kata kerja seperti yang terdapat di dalam surat al-Alaq (96) ayat 1-5: Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah

menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Perkataan ‘Rabb’ yang dihubungkan dengan kata kerja juga terdapat di dalam al-Qur’an surat al-A’la (87) ayat 1-5: Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Paling Tinggi, yang menciptakan dan

menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberikan petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput itu kehitam-hitaman”. Dalam surat al-Alaq (96) ayat 1-5 itu terdapat empat kata kerja, yaitu dua kata kerja ‘menciptakan’ dan dua kata kerja ‘mengajar’, sedangkan dalam al-Qur’an surat al-A’la (87) ayat 15 itu terdapat kata kerja: menciptakan, menentukan, memberi petunjuk, menumbuhkan dan menjadikan. Karena itu, Rabb mempunyai pengertian Tuhan yang berbuat aktif. Jadi, Dia hidup dan ada dengan sesungguhnya, bukan ada dalam pikiran saja. Selanjutnya, kata Rabb dapat dipakai untuk menyebut selain Allah SWT, seperti yang terdapat dalam surat al-Taubah (9) ayat 31 yang berbunyi: Artinya: “Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

4

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Malik Dalam al-Qur’an, kata Malik dipakai untuk menunjuk pada Tuhan yang berkuasa, mempunyai, memiliki atau merajai sesuatu. Al-Qur’an surat al-Fatihah (1) ayat 4 menyebutkan:

maalikiyaumi al-din, artinya yang menguasai hari pembalasan, sedangkan di dalam surat al-Nas (114) ayat 2 menyebutkan: malik al-nas, artinya Raja manusia. Secara kronologis, kata Malik menduduki jabatan kedua setelah Rabb, artinya apabila Rabb itu menunjuk pada yang berbuat aktif, maka Malik menunjuk pada yang menguasai semua apa yang telah diperbuat-Nya tadi. Karena kedua kata itu ditujukan kepada Allah SWT, maka berarti bahwa Allah SWT itu pencipta alam dan Dia pula yang menguasainya.

Ilaah Secara etimologis ‘Ilaah’ mempunyai arti sebagai yang disembah dengan sebenarnya atau tidak sebenarnya.13 Apa saja yang disembah manusia, dia itu Ilaah namanya. Apabila manusia menyembah hawa nafsunya dalam arti selalu mengikuti jejaknya, maka hawa nafsu itulah Ilahnya atau Tuhannya yang disembah. Al-Qur’an surat al-Furqon (25) ayat 44 menyebutkan: Artinya: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya”. Meskipun segala sesuatu dapat disebut sebagai Ilaah, namun Ilaah yang sebenarnya ialah Ilaah yang mempunyai jabatan Robbun dan Malikun. Dengan kata lain, walaupun segala sesuatu dapat dipertuhan dan disembah manusia, namun Tuhan yang sebenarnya yang berhak disembah manusia ialah Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta yaitu Allah SWT. Ibnu Jarir berpendapat sesungguhnya berdasarkan kepada apa-apa yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Abbas menyatakan bahwa Allah itu ialah Empunya Ketuhanan dan yang Empunya penyembahan wajib atas makhluk-Nya seluruhnya.14 Sibawaih menyebutkan keterangan dari Khalil bahwa asal kata ‘Allah’ ialah Ilah, lalu ditambahkan alif menjadi Ilaah, sedangkan huruf lam di depannya sebagai ganti dari huruf

hamzah. Acuan kata dari Ilaah adalah fi’aal. Begitu juga contoh lainnya adalah al-naasu asalnya dari unaasun. Al-Kasa’i dan al-Farra berpendapat bahwa asal perkataan Allah itu dari kata al-Ilaah, lalu dibuang hamzah huruf ‘i’. Kemudian huruf ‘l’ (lam) pertama itu dimasukkan kepada huruf ‘l’ (lam) yang kedua, maka jadilah perkataan ‘ALLAH’. Pendapat senada juga diungkapkan oleh Ibnu Abbas bahwa asalnya ialah al-Ilaahu artinya yang disembah, lalu dibuang hamzah yaitu huruf i, maka bertemulah huruf l (lam) dan huruf l

(lam), berarti berkumpulnya huruf l (lam) pertama dan huruf yang l (lam) kedua menjadi dua huruf l (lam). Ucapannya disangatkan, dilisankan menjadi ‘Alloh’.15 Karena Allah SWT adalah Tuhan yang sebenarnya yang berhak disembah manusia, dan Dia adalah Tuhan pencipta alam semesta serta penguasanya, maka manusia dilarang mengangkat sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 22: Artinya: “Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

5

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Dari penjelasan ayat tersebut jelaslah bahwa Allah SWT melarang manusia mengangkat tandingan-tandingan yang menjadi sekutu bagi Allah. Maksudnya ada persamaan-persamaan dalam ibadah dan ketaatan. Padahal dia mengetahui bahwa amal perbuatan itu diperuntukkan kepada Allah saja bukan kepada lain-Nya, hanyalah Dia yang menjadi Tuhan mereka, Penciptanya dan Pencipta orang-orang sebelumnya. Pencipta bumi yang terhampar dan langit yang terbina. Dia yang menurunkan air dari langit, kemudian dengan itu pula Dia menyegarkan tumbuhnya bermacam-macam buah-buahan sebagai rezeki bagi mereka. Jadi, seseorang yang telah mengetahui yang demikian itu, tidak diperkenankan mengangkat sekutu-sekutu sebagai tandingan Allah.16 Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim bahwa syirik dapat menjelma dalam ungkapan-ungkapan kata seperti, “Demi Allah dan demi kehidupanmu hai Fulan, demi hidupku”, dan ucapan, “Kalau

tidak ada anjing ini kita didatangi pencuri”, dan kalimat “Kalau tidak ada angsa kecil di rumah itu tentu akan didatangi oleh pencuri”. Demikian juga kata-kata seseorang kepada temannya, “Apa yang dikehendaki oleh Allah dan kehendakmu”, dan ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan Fulan”. Seseorang tidak diperkenankan mencantumkan di dalamnya kata-kata fulan karena inilah semuanya yang menyebabkan syirik.

Atsar tersebut di atas, menurut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memiliki sanad yang baik, dan ia mengatakan bahwa kata-kata tersebut ialah yang lebih tersembunyi daripada semut halus di atas batu hitam di kegelapan malam. Artinya, perkara-perkara ini adalah syirik yang tersembunyi di kalangan manusia, tidak ada yang menyelidiki dan mengetahuinya kecuali sedikit dan dijadikan perumpamaan demikian karena tersembunyinya hal tersebut dengan selubung yang rapi.17 Oleh karena itu, kita harus hati-hati dan selektif dalam berbuat dan berkata supaya terhindar dari syirik sebab perbuatan syirik sangat riskan, bisa membuat pelakunya menjadi kafir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Maidah (5) ayat 17 dan ayat 73 yang artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih

putera Maryam. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”. Amal orang-orang kafir tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Di dalam al-Qur’an digambarkan bahwa amal orang kafir seperti fatamorgana. Dari jauh kelihatan ada air, tetapi ketika didekati tidak ada apa-apa. Sebagaimana terdapat di dalam surat an-Nur (24) ayat 39 yang artinya: “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang

datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun”.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

6

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Cara Mendeteksi Tuhan Haq atau Batil Segala sesuatu yang disembah dan dipuja oleh penganut agama disebut Tuhan. Lalu apakah semua Tuhan-Tuhan itu benar (Haq), atau ada yang benar (Haq) dan ada yang tidak benar (batal)? Untuk dapat mengetahuinya, maka perlu diuji kebenarannya. Alat uji atau detektor untuk mengetahui Tuhan yang benar (Haq) dan Tuhan yang tidak benar (batal) adalah sifat wajib Allah SWT. Sifat wajib Allah yang berjumlah dua puluh dibagi menjadi empat kelompok, sebagai berikut. 1. Sifat nafsiyah Sifat nafsiyah, yaitu sifat yang dengan sifat itu dapat membuktikan zat Allah Ta’ala. Yang dimaksud sifat nafsiyah adalah sifat wujud. 2. Sifat Salbiyah Sifat salbiyah artinya yang menafikan. Sifat ini tidak menerima sifat-sifat yang tidak mungkin dan tidak layak bagi Tuhan.Yang termasuk sifat salbiyah adalah sifat qidam, baqa, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyah. 3. Sifat Ma’ani Sifat ma’ani adalah sifat yang memastikan bahwa yang disifati itu bersifat dengan sifat tersebut. Yang termasuk sifat ma’ani adalah sifat qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, bashar dan

kalam. 4. Sifat Ma’nawiyah Sifat ma’nawiyah adalah sifat-sifat yang lazim atau memastikan sifat-sifat ma’ani. Setiap ada sifat ma’nawiyah pasti ada sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah ada tujuh yaitu: kaunuh qadiran,

kaunuhu muridan, kaunuhu aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu samian, kaunuhu bashiran, dan kaunuhu mutakalliman. Dari empat kelompok sifat wajib Allah yang berjumlah dua puluh itu, tidak semuanya akan dipakai sebagai detektor, hanya sifat salbiyah yang jumlahnya lima untuk dijadikan detektor. Sebelum kita mengaplikasikan sifat salbiyah pada suatu zat yang dianggap Tuhan, maka kita harus tahu bahwa Tuhan itu ‘wujud’, artinya ‘ada’, meskipun adanya tidak dapat dilihat dengan mata kepala karena memang Dia tidak dapat dilihat dengan mata kepala di dunia. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’am (6) ayat 103 yang artinya, “Dia tidak dapat dicapai oleh

penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Meskipun demikian, Tuhan dapat diketahui melalui matahati. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan dalil aqli maupun dalil naqli. Dalil aqli-nya adalah alam ini sebelum ada, ada dan tidak adanya sama saja, artinya ada boleh, tidak ada pun boleh. Karena alam ini barang mumkin. Jadi ada ya boleh, tidak ada ya boleh. Setelah alam ini ada, berarti adanya mengalahkan tidak adanya. Siapa yang mengalahkan tidak adanya oleh adanya? Jawabnya yang mengalahkan tidak adanya oleh adanya ialah suatu zat yang diberi nama dengan ismul a’dhom yaitu Allah.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

7

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Adapun dalil naqli-nya terdapat dalam surat al-An’am (6) ayat 102: Artinya, “…tidak ada Tuhan selain Dia. Pencipta segala sesuatu, sebab itu sembahlah Dia”. Sekarang kita mengaplikasikan kelima sifat salbiyah itu kepada zat yang dianggap Tuhan. Untuk mengetahui apakah Dia itu Tuhan yang Haq atau Tuhan yang batal. 1. Suatu zat yang dianggap sebagai Tuhan, kita pasangi dengan sifat ‘qidam’ yang artinya dahulu tanpa permulaan atau adanya tidak didahului dengan tidak ada. Kalau sesuai dengan sifat

qidam, maka zat itu adalah Tuhan yang Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan yang batal. 2. Suatu zat yang dianggap sebagai Tuhan, kita pasangi dengan sifat ‘baqa’ yang artinya kekal atau tidak diakhiri dengan tidak ada. Kalau sesuai dengan sifat baqa, maka zat itu adalah Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal. 3. Suatu zat yang dianggap Tuhan, kita pasangi dengan sifat ‘mukhalafatu lil hawaditsi’ yang artinya berbeda dengan segala yang baru (makhluk). Kalau sesuai dengan sifat tersebut, maka zat itu Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal. 4. Suatu zat yang dianggap Tuhan, kita pasangi dengan sifat ‘qiyamuhu binafsihi’ yang artinya berdiri dengan sendirinya atau tidak membutuhkan kepada yang lain. Kalau sesuai dengan sifat tersebut, maka zat itu adalah Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal. 5. Suatu zat yang dianggap Tuhan, kita pasangi dengan sifat ‘wahdaniyah’ yang artinya Esa baik Esa zat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya. Kalau sesuai dengan sifat tersebut, maka zat itu adalah Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal. Sekarang formula tersebut kita terapkan pada sesuatu atau zat yang dianggap Tuhan. Dalam “dinamisme” yang dianggap Tuhan adalah kekuatan gaib yang misterius, dalam “animisme” yang dianggap Tuhan adalah ruh, dan dalam politeisme yang dianggap Tuhan adalah dewa-dewa. Kekuatan gaib yang misterius, ruh dan dewa-dewa adalah sesuatu yang adanya didahului dengan tidak ada, atau memang tidak ada, atau adanya hanya diada-adakan saja. Kalau memang ada, maka adanya tidak kekal, artinya akan diakhiri dengan tidak ada. Mereka sama dengan makhluk, atau mereka memang makhluk. Oleh karena itu, mereka butuh kepada yang lain. Seperti kekuatan gaib butuh kepada benda untuk ditempati, ruh juga butuh benda untuk ditempati baik benda hidup maupun benda mati. Dewa-dewa juga butuh kepada dewa yang lain. Seperti dewa pencipta butuh kepada dewa pemelihara dan mereka berbilang. Jadi, yang dianggap Tuhan oleh dinamisme, animisme dan politeisme tidak sesuai dengan formula sifat salbiyah yang menunjukkan Tuhan Haq. Dengan demikian, Tuhan-Tuhan tersebut adalah Tuhan batal. Tuhan agama Kristen yang disebut Tritunggal atau Trinitas yang terdiri dari Allah Bapa, Tuhan anak dan Ruh Kudus, kalau diuji dengan menggunakan formula sifat salbiyah bagaimana, apakah Tuhan Haq atau batal?

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

8

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Kalau Allah Bapa adalah Allah SWT, maka Dia itu dahulu tanpa permulaan, tidak diakhiri dengan tidak ada (kekal), tidak sama dengan makhluk, tidak butuh kepada yang lain, dan Esa. Karenanya, Dia itu Tuhan Haq, tetapi kalau bukan Allah SWT berarti Dia itu Tuhan batal. Tuhan anak dan Ruh Kudus jelas mereka itu adanya didahului dengan tidak ada, tidak kekal seperti makhluk yang lain, butuh kepada yang lain, dan berbilang baik zatnya, sifatnya dan perbuatannya. Jadi, kesimpulan dari Trinitas adalah Allah Bapa adalah Tuhan Haq apabila Allah Bapa adalah Allah SWT, tetapi kalau bukan Dia maka adalah Tuhan batal. Adapun Tuhan anak dan Ruh Kudus, jelas Tuhan batal sebab formula sifat salbiyah yang diterapkan kepada mereka menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk, bukan Tuhan. Sekarang Tuhan Islam yaitu Allah SWT, di mana nama diri dari Tuhan Islam itu diperoleh melalui wahyu seperti firman-Nya dalam surat al-A’raf (7) ayat 54: Artinya, “Sesungguhnya Tuhan

kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi …” Jika Tuhan Islam, yakni Allah SWT diuji dengan menggunakan formula sifat salbiyah, maka Dia itu adalah: 1. Ada-Nya tidak didahului dengan tidak ada-Nya (qidam); 2. Tidak diakhiri dengan tidak ada (baqa); 3. Tidak sama dengan makhluk (mukhalafatu lil hawaditsi); 4. Tidak butuh kepada yang lain (qiyamuhu binafsihi); 5. Esa atau tidak berbilang dalam: a. Zat-Nya, artinya zat-Nya tidak tersusun dari bagian-bagian yang banyak. Dia tidak tersusun dari jasmani dan rohani; tidak tersusun dari kepala, tubuh dan anggota badan; dan tidak tersusun dari kulit, daging, darah dan tulang; b. Sifat-Nya, artinya sifat-Nya tidak berbilang. Tidak ada dua qudrah atau lebih, dua ilmu atau lebih dan sebagainya. Maksudnya sebelum Allah mencipta, ketika Allah mencipta, dan setelah mencipta, Allah itu tahu dan sangat tahu; c. Perbuatan-Nya, artinya semua perbuatan-Nya dilakukan sendiri tidak ada yang membantu. Jadi, formula sifat salbiyah hanya cocok diterapkan pada Tuhan Islam, yakni Allah SWT, dan tidak cocok untuk Tuhan-Tuhan lainnya. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Utsman al-Khaibari dalam kitabnya Durratun Nasihin bahwa “Soal-soal Ketuhanan mengandung dua pengertian yaitu: Pertama, Allah Ta’ala tidak menghajatkan kepada semua apa-apa yang selain Allah. Kedua, semua apa-apa yang selain Allah berhajat kepada Allah Ta’ala. Dari sinilah terdapat pengertian kalimat tauhid, artinya tidak ada yang dibutuhkan dari semua apa-apa yang selain Allah, kecuali hanya Allah Ta’ala. Maka, wajib bagi Allah Ta’ala sifat wujud (ada), qidam (dahulu tanpa permulaan), dan baqa (kekal selama-lamanya). Karena itu, kalau tidak wajib sifat ini niscaya Dia (Allah) butuh kepada yang mengadakan sebab tidak adanya satu dari sifat-sifat ini meng-

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

9

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

haruskan (menetapkan) wujudnya bersifat baru, dan tiap-tiap yang baru itu membutuhkan kepada yang mengadakan”.18 Setelah formula sifat salbiyah diterapkan pada semua Tuhan, maka dapat diketahui bahwa semua Tuhan adalah Tuhan batal, kecuali Tuhan Islam (Allah SWT) adalah Tuhan Haq (benar). Oleh karena itu, sangat tepat bunyi syahadat tauhid yang artinya, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang Haq (semua Tuhan batal) kecuali Allah.

Penutup Dari uraian di atas, jelaslah bahwa kekuatan-kekuatan yang ada di luar diri manusia dan diakui sebagai Tuhan, seperti yang dipercayai oleh Dinamisme, Animisme, Henoteisme, Politeisme dan Kaum Evolusionis merupakan Tuhan-Tuhan palsu yang keberadaan-Nya tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan dipercayai sebagai Tuhan yang Haq. Dengan demikian, Tuhan yang ada dalam pandangan Islam merupakan Tuhan yang Haq karena dapat dibuktikan dengan beberapa indikator yang dapat menunjukkan eksistensi Tuhan yang Haq. Selain itu, dalam Islam Tuhan yang Haq adalah Tuhan yang di dalamnya ada Rab, Malik dan Ilah.

Endnote Ibrahim Madkour, Filsafat Islam: Metode dan Penerapan Bagian I (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-3, 1993), hal. 56. 1

Lihat Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: UI-Press, Cet ke-5, 1986). 2

3

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: UI-Press), 1974, hal. 11.

Ibid., hal. 13. 5 Ibid., hal. 14. 6 Ibid., hal. 15. 4

7

Sidi Gazalba, Asas Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 39.

8

Harun Yahya, Mengenal Allah Lewat Akal (Jakarta: Robbani Press, 2001), hal. 120.

Paul Davis, The Mind of God, Terj. Hamzah, Membaca Pikiran Tuhan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 333. 9

10

Ibid., hal. 100.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hal. 965. 11

Menurut Van Niftrik dan B.J Boland, selain Allah, Tritunggal itu bukan Tuhan bukan pula Allah. Lihat Van Niftrik dan B.J Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978), hal. 67. 12

13

Yunus Yahya, Asmau Allah Husna (Bandung: PT. Karya Nusantara, 1981), hal. 10.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

10

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, Taisirul Aziz alHamid fi Syarhi Kitab al-Tauhid, Terj. Dja’far Sudjarwo, Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut Islam 14

(Surabaya: al-Ikhlas, TT), hal. 39.

Ibid., hal. 40. Ibid., hal. 764. 17 Ibid., hal. 765. 15 16

18

Ustman al-Khaibawi, Durratun Nasihin, Terj. Abdullah Shonhaji (Semarang: al-Munawar, TT), hal.

273.

Daftar Pustaka Abdul Wahab, Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Abdullah bin Muhammad. TT. Taisirul Azizil Hamid Fi

Syarhi Kitab at-Tauhid, Terj. Dja’far Sudjarwo, Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut Islam. Surabaya: al-Ikhlas. Asshiddiqie, M. Hasbi. 1973. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam. Jakarta: Bulan Bintang. Al-Bajuri, Syeikh Ibrahim. TT. Kifayatul Awam, Asia: Sirkatu al-Nuri. Davis, Paul. 2001. The Mind of God. Terj. Hamzah, Membaca Pikiran Tuhan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Departemen Agama RI. 1969. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Jamunu, Cet. Ke-3. Gazalba, Sidi. 1975. Asas Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang. al-Khaibawi, Utsman. TT. Durratun Nasihin, Terj. Abdullah Shonhaji. Semarang: al-Munawar. Madkour, Ibrahim. 1993. Filsafat Islam Metode dan Penerapan Bagian I. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Cet. Ke-3. Nasution, Harun. 1974. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI-Press. ____________. 1986. Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI-Press, Cet ke-5. Niftrik, Van dan B.J Boland. 1978. Dogmatika Masa Kini. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1993. Kamus Besar Bahasa

Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Yahya, Harun. 2001. Mengenal Allah Lewat Akal. Jakarta: Robbani Press.

Yahya, Yunus. 1981. Asmau Allah Husna. Bandung: PT. Karya Nusantara.

P3M STAIN Purwokerto | Sukemi Ismail

11

Ibda` | Vol. 3 | No. 1 | Jan-Jun 2005 | 130-145

Related Documents


More Documents from "Edy Ramdan"

Khalwatiyah
June 2020 17
Wan Ali Kutan
May 2020 19
Fikrah Nahdliyah
May 2020 21
M Khatib Langien
May 2020 23
M Saleh Darat
May 2020 28