Lpj Akupresur Hipertensi Kelompok 8.docx

  • Uploaded by: indah
  • 0
  • 0
  • November 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Lpj Akupresur Hipertensi Kelompok 8.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 5,650
  • Pages: 39
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TERAPI AKUPRESUR PADA PASIEN HIPERTENSI

KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

oleh Kelompok 8

PROGRAM SARJANA ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNVERSITAS JEMBER 2018

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TERAPI AKUPRESUR PADA PASIEN HIPERTENSI

KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

oleh Dewi Luqmana Sari Siti Aisyah Nova Detalia Saputri Wahyu Adinda Y. Moh. Ardi Arya S.

NIM 152310101008 NIM 152310101020 NIM 152310101032 NIM 152310101186 NIM 152310101226

PROGRAM SARJANA ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNVERSITAS JEMBER 2018

ii

PRAKATA

Alhamdulillah, Puji syukur kami panjatkan kepada hadirat Allah SWT, Pencipta alam semesta yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dapat selesai dengan baik. Pendidikan kesehatan tentang “Terapi Akupresure Pada Pasien Hipertensi” terutama pada klien seseorang yang mengalami masalah Hipertensi sangat penting artinya. Selain menyamakan antara teori dan kejadian yang pernah dialami klien, seseorang yang mengalami masalah Hipertensi dapat mengetahui penyebab dan bagaimana dampak Hipertensi jika dibiarkan. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini seseorang yang mengalami Hipertensi dapat menjaga kesehatan dan menurunkan tekanan darahnya melalui terapi guided imagery. Oleh sebab itu penting mengapa seseorang yang telah menjalani Hipertensi perlu

mendapat

pendidikan

kesehatan tentang Hipertensi dan

Manfaat Guided Imagery untuk Menurunkan Tekanan Darah”. Saya berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjalan dengan lancar dan sesuai tujuan sebelumnya dan berharap saran yang membangun sehingga dapat meningkatkan efektifitas dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.

Jember, 10 Mei 2018

Penyuluh (Kelompok 8)

iii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii PRAKATA ...................................................................................................... iii DAFTAR ISI ................................................................................................... iv BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi.................................................................................... . 1 1.2 Perumusan Masalah Mitra .................................................................. . 2 BAB 2. TUJUAN DAN MANFAAT. 2.1 Tujuan ................................................................................................. . 3 2.2 Manfaat ............................................................................................... . 3 BAB 3. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH 3.1 Dasar Pemikiran .................................................................................. 4 3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah ......................................................... 5 BAB 4. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN 4.1 Rencana Realisasi Penyelesaian Masalah ........................................... 8 4.2 Khayalak Sasaran ................................................................................ 8 4.1 Metode yang digunakan ...................................................................... 8 4.1 Anggaran dan Sumber Dana ............................................................... 9 4.1 Organisasi Pelaksana .......................................................................... 9 BAB 5. HASIL KEGIATAN 5.1 Analisis Evaluasi dan Hasil-Hasilnya ................................................. 10 5.2 Faktor Pendorong ................................................................................ 10 5.3 Faktor Penghambat ............................................................................. 11 BAB 6. PENUTUP 6.1 Kesimpulan ......................................................................................... 12 6.2 Saran ................................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 13 LAMPIRAN Lampiran 1: Daftar Hadir Lampiran 2: SAP Lampiran 3: Media Lampiran 4: Foto Kegiatan

iv

1

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Analisa Situasi Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Betapa tidak, hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer kesehatan. Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia WHO 2011 ada 1 milyar orang didunia menderita hipertensi dan 2/3 di anataranya berada dinegara berkembang. Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama terjadi di negara berkembang pada tahun 2025 dari Jumlah total 639 juta di tahun 2000. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 1,15 miliar kasus ditahun 2025 (Ardiansyah, 2012 dalam Hartitik S. & Suratih K., 2017). Menurut American Heart Association [AHA], penduduk Amerika yang berusia diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa, namun hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Disamping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia (Infodatin, 2014). Prevalensi Hipertensi nasional berdasarkan Riskesdas, (2013) sebesar 25,8%, tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung (30,9%), sedangkan terendah di Papua sebesar (16,8%). Berdasarkan data tersebut dari 25,8% orang yang mengalami hipertensi hanya 1/3 yang terdiagnosis, sisanya 2/3 tidak terdiagnosis. Data menunjukkan hanya 0,7% orang yang terdiagnosis tekanan darah tinggi minum obat Hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penderita Hipertensi

tidak menyadari menderita

Hipertensi

ataupun mendapatkan

pengobatan. Hipertensi yang tidak dapat penangan yang baik menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal dan kebutaan, stroke (51%) dan penyakit jantung koroner (45%) merupakan penyebab kematian tertinggi. Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, Hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor 5 (lima) pada semua umur (Kemenkes, 2017).

2

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Jember (2014), Prevalensi hipertensi di kabupaten Jember mencapai 31,7% dari total penduduk lansia. Di Kecamatan Ambulu kejadian hipertensi menempati Urutan 6 besar di seluruh Kabupaten Jember yaitu mencapai 40% dari total jumlah lansia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Laporan Bulanan (LB1) Subbag Program dan Infoormasi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, bahwa jumlah kunjungan di puskesmas seKabupaten Jember Tahun 2016 adalah sebesar 1.108.198 kunjungan. Dari jumlah tersebut diperoleh gambaran 10 penyakit utama tahun 2016 yaitu salah satunya penyakit Hipertensi Primer berada di urutan kedua dengan jumlah 108.904 setelah Infeksi Akut lain pada saluran pernafasan (Dinkes Kabupaten Jember, 2017). Terdapat beberapa cara untuk mencegah dan mengurangi hipertensi agar tidak bertambah parah, salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan tindakan akupresure. Akupressur merupakan terapi tusuk jari dengan memberikan penekanan dan pemijatan pada titik tertentu pada tubuh yang berdasarkan ilmu akupuntur (Fengge, 2012 dalam Majid & Rini, 2016). Oleh karena itu indakan tersebut dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun oleh seseorang yang menderita penyakit hipertensi untuk mencegah dan mengurangi penyakit tersebut.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan analisa situasi diatas, maka perumusan masalah dalam kegiatan yang akan dilakukan ini adalah pendidikan kesehatan tentang Terapi Akupresure padaPasienHipertensi

BAB 2. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan 2.1.1 Tujuan Umum Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentenag terapi akupresure pada petani dengan hipertensi untuk mampu memahami konsep dasar penyakit hipertensi karena kegiatan sehari-hari yang dilakukan sering ke sawah dengan membawa bekal makanan ikan asin yang berakibat terjadinya resiko hipertensi. 2.1.2 Tujuan Khusus a. Petani dengan hipertensi mampu menjelaskan pengertian hipertensi b. Petani dengan hipertensi mampu menjelaskan penyebab hipertensi c. Petani dengan hipertensi mampu menjelaskan tanda dan gejala hipertensi d. Petani dengan Hipertensi mampu menjelaskan dampak hipertensi e. Petani dengan hipertensi mampu menjelaskan pencegahan hipertensi

2.2 Manfaat a. Petani dengan hipertensi mengethaui pengertian hipertensi b. Petani dengan hipertensi mengetahui penyebab hipertensi c. Petani dengan hipertensi mengetahui tanda dan gejala hipertensi d. Petani dengan Hipertensi mengetahui dampak hipertensi e. Petani dengan hipertensi mengetahui pencegahan hipertensi

BAB 3. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH 3.1 Dasar Pemikiran Hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah bersifat abnormal. Dan seseorang tersebut dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg (Ardiansyah, 2012). Hipertensi atau biasa disebut sebagai darah tinggi merupakan suatu gangguan yang terjadi pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi (Pudiastuti, 2013). Menurut data WHO, di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4% orang di seluruh dunia mengidap penyakit hipertensi. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 orang tersebut, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara berkembang, termasuk salah satunya Indonesia (Yonata, 2016). Penyakit terbanyak yang di derita pada usia lanjut berdasarkan Riskesdas (2013) adalah hipertensi dengan prevalensi 45,9% pada usia 55-64 tahun, 57,6% pada usia 65-74 tahun, dan 63,8% pada usia ≥ 75 tahun (Infodatin Kemenkes RI, 2016 dalam Zaenurrohmah & Rachmayanti, 2017). Hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular yang menjadi permasalahan kesehatan yang sangat serius bila tidak ditangani. Hipertensi sering juga disebut sebagai Sillent Killer, yaitu penyakit yang dapat menyerang beberapa organ dalam tubuh dan dapat menyebabkan penyakit lain seperti serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, dan juga kebutaan. Menurut hasil dari beberapa penelitian, hipertensi yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko terkena stroke sebanyak tujuh kali dan tiga kali lebih besar terkena serangan jantung (Sari, C. Y., 2015 dalam Hasnah & Ekawati, 2016). Menurut WHO dan The International Society of Hypertension (ISH), (2012) menyebutkan bahwa pada saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan tiga juta di antaranya meninggal dunia pada setiap tahunnya, dan tujuh dari sepuluh orang tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara sepenuhnya (Kemenkes RI, 2012 dalam Hasnah & Ekawati, 2016).

5

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi yaitu faktor risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah yaitu terdiri dari genetika, umur, dan jenis kelamin. Sedangkan untuk faktor risiko yang dapat diubah yaitu obesitas, kurang olahraga, konsumsi garam berlebih, merokok, mengonsumsi alkohol dan juga stress. Oleh karena itu, sampai saat ini penyakit hipertensi menjadi perhatian bagi Pemerintah (Kemenkes RI, 2013 dalam Mamahit, Mulyadi & Onibala, 2017. Individu

yang

menderita

penyakit

hipertensi

terkadang

tidak

menampakkan gejala yang dialaminya sampai bertahun-tahun. Gejala akan muncul apabila menunjukkan adanya kerusakan vaskuler dengan manifestasi yang khas. Menurut Corwin ( 2000: 359) dalam Wiryowidagdo, (2002) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis akan timbul apabila setelah mengalami hipertensi selama bertahun-tahun, seperti nyeri kepala saat tidur, penglihatan kabur karena kerusakan retina akibat hipertensi. Selain itu gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, tengkuk terasa pegal (Wiryowidagdo, 2002). Perawatan yang dapat dilakukan oleh penderita hipertensi umumnya dilakukan oleh keluarga dengan memperhatikan pola hidup dan menjaga psikis dari anggota keluarga yang menderita hipertensi. Pengaturan pola hidup sehat sanagt penting untuk diterapkan oleh klien yang menderita hipertensi. Pola hidup sehat yang dapat dilakukan yaitu mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, dan memodifikasi diet. Sedangkan hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan psikis yaitu stress, olahraga dan istirahat (Amir, 2002). 3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah Tingginya angka prevalensi hipertensi setiap tahunnya menunjukkan bahwa hipertensi memerlukan penatalaksanaan yang benar dan tepat. Menurut Ardiansyah (2012) pengobatan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Pengobatan farmakologis merupakan pengobatan yang menggunakan obat-obatan yang dapat membantu menurunkan serta dapat

6

menstabilkan tekanan darah. Pengobatan farmakologis sendiri memiliki efek samping yang menguntungkan tetapi juga memiliki efek samping seperti terjadinya bronkospasme pada penggunaan beta blocker (Udjianti, 2010 dalam Afrilla, Dewi & Erwin, 2015). Efek samping yang mungkin timbul diantaranya seperti sakit kepala, pusing, lemas dan mual (Susilo & Wulandari, 2011 dalam Afrilla, Dewi & Erwin, 2015). Sedangkan pengobatan non farmakologis merupakan suatu bentuk pengobatan yang menggunakan cara, alat maupun bahan yang digunakan sebagai alternatif atau sebagai pelengkap pengobatan medis tertentu (Kozier Berman, & Synder, 2010 dalam Afrilla, Dewi & Erwin, 2015). Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi hipertensi salah satunya yaitu terapi akupressur. Akupressur merupakan terapi tusuk jari dengan memberikan penekanan dan pemijatan pada titik tertentu pada tubuh yang berdasarkan ilmu akupuntur (Fengge, 2012 dalam Majid & Rini, 2016). Penekanan ujung-ujung jari tangan pada daerah tertentu dapat berdampak positif terhadap kondisi fisik, mental dan sosial (Hartono, 2012 dalam Majid & Rini, 2016). Pada penderita hipertensi gejala yang muncul seperti, sakit kepala, pening dan mimisan. Sakit kepala pada penderita hipertensi dapat diatasi dengan pijat akupressur titik meridian GV 20 Baihui yang efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada kepala. Titik GV 20 Baihui terletak di kepala yang mempunyai fungsi sebagai perbaikan sirkulasi pembuluh darah dan pusing atau sakit kepala (Kwan, 2010 dalam Afrilla, Dewi & Erwin, 2015). Akupressur sendiri merupakan pengobatan yang berasal dari Cina (Traditional Chinese Medicine) yang biasa disebut sebagai pijat akupuntur yaitu metode pemijatan pada titik-titik akupuntur (acupoint) ditubuh manusia tanpa menggunakan jarum (Sukanta, 2008 dalam Majid & Rini, 2016). Menurut Rice (2006) akupressur merupakan teknik pemijatan dengan memberikan stimulus atau rangsangan pada titik-titik meridian tubuh dengan menggunakan jari-jari yang

7

bertujuan untuk mempengaruhi organ tubuh tertentu dengan mengaktifkan aliran energi (qi) pada tubuh (Majid & Rini, 2016). Titik-titik yang diintervensi adalah titik Lr 2 (Xingjian), titik Lr 3 (Taichong), titik Sp 6 (Sanyinjiaoi), titik Ki 3 (Taixi), titik Li 4 (Hegu), dan titik PC 6 (Neiguan). Titik-titik tersebut dapat menimbulkan kondisi yang rileks sehingga dapat berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Tsay, Cho, & Chen (2004) yang menyatakan bahwa akupressur efektif untuk menenangkan suasana hati, mengurangi kelelahan dan dapat menurunkan tekanan darah (Majid

& Rini, 2016). Akupressur dapat

memberikan pengaruh yang positif baik secara fisik maupun psikologis. Perangsangan pada titik-titk tersebut dapat menguatkan energi dan unsur yin yang dapat menyebabkan keseimbangan energi dalam tubuh. Keseimbangan energi dalam tubuh akan mengoptimalkan fungsi dan sistem organ dalam tubuh sehingga dapat terjadi peningkatan kesehatan salah satunya yaitu dapat menurunkan tekanan darah (Sukanta, 2009 dalam Majid dan Rini, 2016). Selain itu, manfaat dari akupressu yaitu dapat membantu dalam mengelola stres, menenangkan ketegangan pada saraf, dan juga dapat meningkatkan relaksasi pada tubuh. Teknik yang dilakukan pada terapi ini dengan menggunakan jari tangan yang dilakukan pada titik yang berhubungan dengan penyakit hipertensi. Pijatan yag dilakukan pada titik tertentu dalam terapi akupressur dapat merangsang gelombang saraf sehingga mampu melancarkan aliran darah, merelaksasikan spasme dalam tubuh, dan dapat menurunkan tekanan darah (Hartono, 2012 dalam Afrilla, Dewi & Erwin, 2015).

BAB 4. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Rencana Realisasi Penyelesaian Masalah Kegiatan penyuluhan dan pelatihan ini dilaksanakan di Jalan Koptu Berlian RT 02 RW 02, Kelurahan Tegal Gede, Kec. Sumbersari, Jember pada tanggal 17 Mei 2018. Pemberi penyuluhan yaitu Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Jember oleh Kelompok 8 yang memberi materi tentang penyakit hipertensi dan latihan terapi akupressur untuk penderita hipertensi kepada masyarakat di Jalan Koptu Berlian RT 02 RW 02, Kelurahan Tegal Gede, Kec. Sumbersari, Jember.

4.2 Khalayak Sasaran Khalayak sasaran pendidikan kesehatan tentang terapi akupressur dilakukan kepada masyarakat di Jalan Koptu Berlian RT 02 RW 02, Kelurahan Tegal Gede, Kec. Sumbersari, Jember yang mendukung untuk mencegah serta menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

4.3 Metode yang Digunakan Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan kesehatan ini dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab, sekaligus mempraktekkan kepada masyarakat. Ceramah dilakukan dengan penyampaian materi kepada masyarakat dan kemudian dilanjutkan dengan memberikan pelatihan terapi akupressur pada masyarakat. Keterangan: : Pemateri

: Sasaran

9

4.4 Anggaran Dan Sumber Dana 4.5 Organisasi Pelaksanaan Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Jember oleh Kelompok 8.

10

BAB 5. HASIL KEGIATAN 5.1 ANALISIS EVALUASI DAN HASIL-HASILNYA 5.1.1 Evaluasi Struktur a. Pemberian pendidikan kesehatan menggunakan leaflet sehingga masyarakat dapat membaca dan lebih mudah untuk mengingat apa yang telah disampaikan b. Kelompok menyiapkan literatur tentang materi berkaitan dengan tindakan terapi akupresure pada pasien hipertensi c. Keterbatasan media dalam melakukan penyampaian materi mengenai pendidikan kesehatan tentang hipertensi d. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk promosi kesehatan e. Menyiapkan konsumsi yang akan diberikan kepada masyarakat yang sudah hadir f. Mengumpulkan masyarakat untuk dapat hadir ditempat yang disediakan dan waktu yang ditentukan dengan tepat waktu 5.1.2 Evaluasi Proses a. Saat diberikan materi, masyarakat antusias untuk mendengarkan b. Klien hanya bertanya sedikit dan bertanya beberapa hal tentang materi yang disampaikan c. Peserta dihadiri oleh bapak-bapak dan ibu serta ponakannya, paling banyak hadir yaitu bapak-bapak 5.1.3 Evaluasi Hasil a. Klien menyatakan bahwa mereka memahami mengenai materi yang telah disampaikan b. Klien memahami tentang cara mencegah hipertensi c. Klien memahami mengenai penerapan terapi akupresure untuk mencegah dan mengurangi hipertensi

5.2 FAKTOR PENDORONG a. Pasien mendukung serta antusias dalam acara penyuluhan b. Bapak-bapak dan ibu cukup bersemangat dalam acara penyuluhan

11

c. Pasien merasa membutuhkan mengenai materi yang disampaikan oleh pemateri

5.3 FAKTOR PENGHAMBAT a. Beberapa masyarakat masih melakukan ibadah sehingga datang terlambat b. Masyarakat juga masih melakukan persiapan buka puasa karena waktu yang ditentukan tidak dapat dihadiri tepat waktu oleh masyarakat sehingga promosi kesehatannya molor hingga hampir buka puasa c. Pendidikan pasien yang masih minim sehingga materi harus disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana

BAB 6. PENUTUP 6.1. Kesimpulan Kegiatan pendidikan kesehatan melalui pelatihan terapi Akupressur untuk hipertensi sangat penting untuk dilaksanakan. Hal ini karena penyakit hipertensi merupakan penyakit yang banyak dialami disemua kalangan terutama yang usianya di atas 40 tahun. Perilaku hidup sehat, diet rendah garam dan gula, serta pelatihan terapi Akupressur merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat membantu mereka untuk memulihkan kondisi yang sehat dan mengurangi resiko terkena penyakit hipertensi. Meningkatnya kemampuan pelatihan terapi Akupressur untuk hipertensi sangat penting untuk dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung karena dapat menurunkan tekanan darah serta mencegah resiko terkena hipertensi. 6.2. Saran Saran yang ada dalam laporan pertanggung jawaban ini ditujukan pada pasien hipertensi baik yang berisiko maupun yang sedang mengalami penyakit hipertensi, yang diharapkan setelah dilakukan pendidikan kesehatan dapat mempraktikannya dalam kegiatan sehari-hari. Sedangkan bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah kesehatan terutama pada pasien resiko hipertensi maupun pasien pasca hipertensi.

13

DAFTAR PUSTAKA

Afrilla, Nopri., dkk. 2015. Efektifitas Kombinasi Terapi Slow Stoke Back Massage Dan Akupresur Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi. JOM, 2(2), Oktober 2015: 1299-1307. Amir, M. 2002. Hidup Bersama Penyakit Hipertensi Asam Urat, Jantung Koroner. Jakarta: PT. Intisari Media Utama. Ardiansyah, M. 2012. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Jogjakarta: DIVA Press Baradero, M. Dayrit, M. W. & Siswadi, Y. 2008. Klien Gangguan Kardiovaskuler Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. 2014. Profil Kesehatan Kabupaten Jember 2014. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. 2017. Profil Kesehatan Kabupaten Jember 2016. Hartutik S & Suratih K. 2017. Pengaruh Terapi Pijat Refleksi Kaki Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Primer. Vol. XV No.2. GASTER. Hasnah, & Ekawati, D. 2016. Pengaruh Terapi Akupunktur Pada Pasien Hipertensi Di Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat Makasaar. Journal of Islamic Nursing, 1(1), Juli 2016: 41-46. Kementerian Kesehatan RI. 2017. Sebagian Besar Penderita Hipertensi Tidak Menyadarinya.

Jakarta:

Kemenkes

RI.

[serial

online]

website:

http://www.depkes.go.id/article/view/17051800002/sebagian-besarpenderita-hipertensi-tidak-menyadarinya.html diakses pada 11 Mei 2018. Majid, Y. A., & Rini P. S. 2016. Terapi Akupresur Memberikan Rasa Tenang Dan Nyaman Serta Mampu Menurunkan Tekanan Darah Lansia. Jurnal Ilmu Kesehatan, 1(1), 2016.

14

Mamahit, M. L., Mulyadi, & Onibala, F. 2017. Hubungan Pengetahuan Tentang Diet Garam Dengan Tekanan Darah Pada Lansia Di Puskesmas Bahu Kota Manado. Jurnal Keperawatan, 5(1), Februari 2017: 1-4. Pudiastuti, R. D. 2013. Penyakit-Penyakit Mematikan. Yogyakarta: Nuha Medika. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (Infodatin). 2014. Hipertensi. Riset Kesehatan Dasar RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta: Riskesdas

RI.

[serial

online]

website:

http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas %202013 diakses pada 11 Mei 2018. Wiryowidagdo, Sudjaswadi dan M. Sitanggang. 2008. Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung, Darah Tinggi dan Kolesterol. Jakarta Selatan: Agromedia. Yonata, A. S. 2016. Hipertensi Sebagai Faktor Pencetus Terjadinya Stroke. Majority Vol. 5 No. 3. Zaenurrohmah, D. H., & Rachmayanti, R. D. 2017. Hubungan Pengetahuan dan Riwayat Hipertensi dengan Tindakan Pengendalian Tekanan Darah pada Lansia. Jurnal Berkala Epidemiologi, 5(2), Mei 2017: 174-184.

15

Lampiran 1. Berita Acara

17

15.30

16

Lampiran 2. Daftar Hadir

\

17

Lampiran 3. Materi 1.

Pengertian Hipertensi Hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah sistolik lebih dari

140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg (Wilson, LM, 1995). Menurut WHO (2011) batas normal tekanan darah adalah kurang dari 120 mmHg untuk tekanan sistolik dan untuk tekanan diastolik yaitu kurang dari 80 mmHg. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Sedangkan hipertensi pada lansia didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001). Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai faktor resiko yang dimiliki oleh seseorang. Faktor pemicu yang tidak dapat dikontrol akibat hipertensi adalah riwayat keluarga, jenis kelamin, dan umur. Sedangkan faktor pemicu yang dapat dikontrol adalah obesitas, kurangnya aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh. Hipertensi diklasifikasikan atas hipertensi primer (esensial) yaitu bila tidak ditemukan penyebab dari peningkatan tekanan darah tersebut dan persentasenya 90-95%, sedangkan hipertensi sekunder yaitu dapat disebabkan oleh penyakit atau keadaan seperti hiperaldosteranisme primer (sindroma Conn), sindroma Cushing, penyakit parenkim ginjal dan renovaskuler, serta akibat obat dan persentasenya 510%. (Bakri, 2008) Klasifikasi Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi berdasarkan JNC VII Kategori

Tekanan Darah Sistol

Tekanan Darah Diastol

Normal

< 120

< 80

Prahipertensi

120-139

80-89

Hipertensi derajat I

140-159

90-99

Hipertensi derajat II

≥ 160

≥ 100

18

Klasifikasi Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi dari WHO-ISH 1999 Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

<85

Normal Tinggi

130-139

85-89

I 140-159

90-99

140-149

90-94

Hiperteni

derajat

(ringan) Subgroup: borderline

Hipertensi derajat II 160-169

100-109

(sedang) Hipertensi derajat III

≥ 180

(berat)

≥ 140

Isolated

Systolic 140-149

≥ 110 < 90 <90

Hypertension Subgroup: borderline

2.

Penyebab Hipertensi Pada prinsipnya hipertensi ini tidak diketahui sebabnya secara pasti, tetapi

dapat dipelajari kemungkinan sebabnya. Pada orang muda dapat dipelajari kemungkinan sebabnya seperti kelainan kelenjar endokrin, kelainan fungsi jantung, kelainan fungsi ginjal, kelainan fungsi metabolisme yang menyebabkan komposisi darah kurang normal dan faktor yang umumnya bersifat bawaan. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu: a.

Hipertensi Primer atau Hipertensi Esensial Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), dikaitkan dengan faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Dan terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi.

b. Hipertensi Sekunder atau Hipertensi non Esensial Hipertensi yang diketahui penyebabnya, dan pada sekitar 5-10% penderita hipertensi. Penyebabnya adalah penyakit ginjal. Dan pada sekitar 1-2%

19

penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu misalnya pil KB. 95% penyebab dari hipertensi bersifat idiopatik (hipertensi esensial). Selain itu, terdapat pula jenis hipertensi lainnya yang disebut dengan hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh gangguan organ yang lainnya. Gangguan organ tersebut seperti gangguan pada ginjal yang dapat menyebabkan hipertensi, yaitu glomerulonefritis akut, penyakit ginjal kronis, penyakit polikistik, vaskuliti ginjal, dan tumor penghasil renin. Gangguan pada sistem endokrin juga dapat menyebabkan hipertensi, yaitu akromegali, hipotiroidisme, dan akibat kehamilan. Gangguan pada sistem kardiovaskuler, yaitu aorta, peningkatan volume intravaskuler, peningkatan curah jantung, dan rigiditas aorta. Dan gangguan neurologi seperti psikogenik, dan stress akut juga dapat menyebabkan hipertensi (Cohen, 2008). 3.

Faktor Resiko Hipertensi Irvin H. Page terkenal dengan teori Mosaic of Hypertension bahwa

hipertensi merupakan penyakit pengaturan tekanan darah yang diakibatkan oleh multifaktorial (Majid, 2005). Secara umum, faktor resiko terjadinya hipertensi yang teridentifikasi, yaitu: 1.

Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi a. Keturunan Berdasarkan hasil penelitian, jika di keturunan keluarganya ada yang mempunyai penyakit hipertensi, maka orang tersebut berisiko lebih besar untuk terkena hipertensi. Adanya riwayat keluarga terhadap hipertensi dan penyakit jantung secara signifikan dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi pada perempuan dibawah 65 tahun dan laki-laki dibawah 55 tahun (Julius, 2008). b. Jenis kelamin Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi tekanan darah. Hormone sex mempengaruhi sistem renin angiostensin. Secara umum tekanan darah pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Pada

20

perempuan resiko hipertensi akan meningkat setelah masa menopause yang menunjukkan adanya pengaruh hormon (Julius, 2008). c. Umur Berdasarkan hasil penelitian, semakin tinggi umur seseorang maka semakin tinggi tekanan darahnya. Hal ini disebabkan karena elastisitas dinding pembuluh darah semakin menurun dengan bertambahnya umur. Oleh karena itu, resiko hipertensi akan bertambah dengan semakin bertambahnya umur (Gray, et al. 2005). 2.

Faktor resiko yang dapat dimodifikasi a. Merokok Merokok dapat meningkatkan beban kerja jantung dan dapat menaikkan tekanan darah. Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan, karena nikotin dapat meningkatkan penggumpalan darah dalam pembuluh darah dan dapat menyebabkan pengapuran pada dinding pembuluh darah. Nikotin bersifat toksik terhadap jaringan saraf yang menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik, denyut jantung bertambah, kontraksi otot jantung seperti dipaksa, aliran darah pada koroner meningkat dan vasokontriksi pada pembuluh darah perifer (Gray, et al. 2005). b. Obesitas Kelebihan lemak (lemak abdominal) erat kaitannya dengan hipertensi. Tingginya peningkatan darah tergantung pada besarnya penambahan berat badan. Dan jika dapat menurunkan berat badan sekitar 5 kg dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan (Haffner, 1999) c. Stress Hubungan antara stress dengan hipertensi yaitu diduga melalui saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila stress berlangsung lama maka dapat mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi (Pickering, 1999).

21

d. Aktivitas fisik Orang yang mempunyai tekanan darah tinggi dan kurang aktifitas, dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Aktifitas fisik dapat membantu dengan mengontrol berat badan. Olahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah pada semua jenis kelompok (Simons-Morton, 1999). e. Asupan 1) Asupan Natrium Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan serta asam basa dalam tubuh serta berperan dalam transfuse saraf dan kontraksi otot (Kaplan, 1999). Garam dapat memperburuk hipertensi pada orang yang secara genetik sensitif terhadap natrium. Asosiasi jantung Amerika menganjurkan setiap orang untuk membatasi asupan garam tidak lebih dari 6 gram per hari. Dengan asupan natrium yang lebih dari 6 gram per hari, tekanan darahnya meningkat dan kejadian hipertensi lebih sering ditemukan (Kaplan, 1999). 2) Asupan Kalium Kalium merupakan ion utama dalam cairan intraseluler, cara kerja kalium ini adalah kebalikan dari Na. Penelitian epidemiologi, menunjukkan bahwa asupan rendah kalium akan mengakibatkan peningkatkan tekanan darah dan renal vascular remodeling yang mengindikasikan terjadinya resistensi oembuluh darah pada ginjal. Pada populasi dengan asupan tinggi kalium tekanan darah dan prevalensi hipertensi lebih rendah dibandijng dengan populasi yang mengkonsumsi rendah kalium (Appel, 1999). 3) Asupan Magnesium Magnesium merupakan jenis inhibitor yang kuat terhadap kontraksi vaskuler otot halus dan diduga berperan sebagai vasodilator dalam regulasi tekanan darah. The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of

22

High Blood Pressure (JNC) melaporkan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara magnesium dan tekanan darah. Suplementasi magnesium direkomendasikan untuk mencegah terjadinya hipertensi (Appel, 1999). 4.

Tanda dan Gejala Hipertensi Tekanan darah kadang berjalan tanpa adanya gejala khusus dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi pada organ-organ target seperti ginjal, otak, jantung, mata (Soeparman, 1999). Deteksi paling mudah terhadap hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah, berikut adalah penggolongan hipertensi disertai tanda dan gejalanya: a. Hipertensi Ringan Tanda dan gejalanya yaitu terjadi sakit kepala, pusing atau migraine, gangguan penglihatan, rasa berat ditengkuk, mudah lelah, mudah marah, cemas, dan sulit tidur. (Noegroho, 1996). b. Hipertensi Sedang Tanda dan gejalanya yaitu terjadi rasa sakit pada dada dan menjalar ke rahang, lengan, punggung atau perut bagian atas, menjadi tanda permulaan angina. (Tom Smith, 1996). c. Hipertensi Berat Tanda dan gejalanya yaitu terjadi kegagalan organ seperti susah bernapas sehingga terasa tidak mudah saat berbaring, dengan gembung pada kaki dan pergelangan kaki, gagal ginjal, retinopharty, myocardinal infark. (Noegroho, 1996). d. Hipertensi Terisolasi Tanda dan gejalanya adalah terjadi kelumpuhan pada anggota badan, terutama salah satu bagian muka, salah satu tangan, dan kemampuan berbicara menurun yang menjadi tanda peringatan adanya stroke. (Tom Smith, 1991).

5.

Pencegahan Hipertensi Menurut (Depkes RI, 2006) pencegahan penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan pengendalian faktor resiko, antara lain:

23

a. Mengatasi obesitas/menurunkan kelebihan berat badan

Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Karena risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang yang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang badannya normal b. Mengurangi asupan garam

Nasehat pengurangan pemakaian garam, harus memperhatikan kebiasaan makan si penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Jadi batasi konsumsi garam sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per hari pada saat memasak dan untuk penderita hipertensi maksikal 2 gram per hari (Gunawan, 2001). c. Diet rendah lemak

Konsumsi makanan secara sehat, seimbang dan bervariasi harus terus dilakukan seperti memperbanyak makanan breserat misalnya sayuran dan buah-buahan (Utami, 2009). d. Ciptakan keadaan rileks atau manajemen stress

Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat menontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah (Depkes, 2006). e. Melakukan olah raga teratur

Berolahraga secara teratur seperti melakukan senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menambah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol tekanan darah. f. Berhenti merokok

Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah sehingga dapat memperburuk hipertensi. Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat mengakibatkan proses artereosklerosis, dan tekanan darah tinggi. 6.

Penatalaksanaan Terapi Akupresur

24

Akupressur merupakan terapi tusuk jari dengan memberikan penekanan dan pemijatan pada titik tertentu pada tubuh yang berdasarkan ilmu akupuntur (Fengge, 2012 dalam Majid & Rini, 2016). Penekanan ujung-ujung jari tangan pada daerah tertentu dapat berdampak positif terhadap kondisi fisik, mental dan sosial (Hartono, 2012 dalam Majid & Rini, 2016). Pada penderita hipertensi gejala yang muncul seperti, sakit kepala, pening dan mimisan. Sakit kepala pada penderita hipertensi dapat diatasi dengan pijat akupressur titik meridian GV 20 Baihui yang efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada kepala. Titik GV 20 Baihui terletak di kepala yang mempunyai fungsi sebagai perbaikan sirkulasi pembuluh darah dan pusing atau sakit kepala (Kwan, 2010 dalam Afrilla, Dewi & Erwin, 2015). Titik-titik yang diintervensi adalah titik Lr 2 (Xingjian), titik Lr 3 (Taichong), titik Sp 6 (Sanyinjiaoi), titik Ki 3 (Taixi), titik Li 4 (Hegu), dan titik PC 6 (Neiguan). Titik-titik tersebut dapat menimbulkan kondisi yang rileks sehingga dapat berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah.

25

Lampiran 4. Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (PENDIDIKAN KESEHATAN)

Pokok Pembahasan : Terapi akupresur pada klien dengan hipertensi, klien mampu mengontrol saat terjadinya kekambuhan Sasaran

: Keluarga

Pukul

: 15.30 WIB

Waktu

: 30 menit

Hari/Tanggal

: Sabtu, 21 Mei 2016

Tempat

: Jl. Koptu Berlian RT 002/RW 002, Kelurahan Tegal Gede Kecamatan Sumbersari

Pemateri

: Mahasiswa Fakultas Keperawatan

A. Tujuan Intruksional Umum Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 30 menit tentang akupresure untuk pasien hipertensi pada petani dengan menggunakan akupresure dapat mempraktekkan teknik akupresure untuk menerapi dirinya sendiri dan dapat dilakukan secara rutin. B. Tujuan Khusus Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit tentang tehnik akupresur diharapkan klien dapat: 1. Menjelaskan pengertian hipertensi 2. Menjelaskan penyebab hipertensi 3. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi 4. Menjelaskan dampak hipertensi 5. Menjelaskan pencegahan dan penanganan hipertensi, salah satunya dengan terapi komplementer akupresur C. Pokok Bahasan: terapi akupresur pada klien dengan hipertensi, klien mampu mengontrol saat terjadinya kekambuhan.

26

D. Materi Penyuluhan (Terlampir) 1. Menjelaskan pengertian hipertensi 2. Menjelaskan penyebab hipertensi 3. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi 4. Menjelaskan dampak hipertensi 5. Menjelaskan pencegahan dan penanganan hipertensi, salah satunya dengan terapi komplementer akupresur

E. Metode Penyuluhan 1. Ceramah 2. Diskusi tanya jawab

F. Media 1. Leaflet 2. Poster G. Pelaksana Penyuluhan Penyaji

: Menyajikan materi

H. Kegiatan Penyuluhan Tahap Kegiataan

Kegiatan Penyuluh

Kegiatan Peserta

Pendahuluan

Memberi

( 5 menit )

memperkenalkan diri menjawab salam dan

salam, Memperhatikan

Media

dan Leaflet

membuka

pendidikan kesehatan Penyajian

Menjelaskan tentang :

( 20 menit )

1. Pengertian hipertensi 2. Penyebab hipertensi

Memperhatikan

Leaflet dan poster

27

3. Tanda dan gejala hipertensi 4. Dampak hipertensi 5. Pencegahan dan penanganan hipertensi, salah satunya dengan terapi komplementer akupresur Penutup ( 5 menit )

1. Menutup

Memperhatikan,

pertemuan dengan memberi memberi

Leaflet

pertanyaan

dan menjawab salam

kesimpulan materi

dari yang

disampaikan. 2. Mengajukan pertanyaan kepada peserta. 3. Mendiskusikan bersama yang

jawaban telah

diberikan. 4. Menutup pertemuan

dan

memberi salam.

I. Evaluasi Diskusi tentang kegiatan yang dilakukan. Dalam mengetahui seberapa jauh materi dipahami oleh keluarga Tn. T maka pemateri memberikan beberapa

28

pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan. Beberapa contoh pertanyaan yang dapat diajukan diantaranya: 1. Jelaskan pengertian hipertensi 2. Jelaskan penyebab hipertensi 3. Jelaskan tanda dan gejala hipertensi 4. Jelaskan dampak hipertensi 5. Jelaskan pencegahan dan penanganan hipertensi, salah satunya dengan terapi komplementer akupresur

J. Lampiran Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4

: Materi : Leaflet : Poster : Daftar hadir peserta

29

Lampiran 5. Media

30

31

Lampiran 6. Standar Operasional Prosedur (SOP)

PSIK

TERAPI ACEPRESSURE

UNIVERSITAS JEMBER NO DOKUMEN :

PROSEDUR TETAP

TANGGAL TERBIT

NO REVISI :

HALAMAN :

DITETAPKAN OLEH :

Ketua PSIK Universitas Jember

1.

PENGERTIAN

Akupresur adalah pengobatan cina yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan dengan memberikan tekanan atau pemijatan dan menstimulasi titik-titik tertentu dalam tubuh. Pada dasarnya terapi akupresur merupakan pengembangan dari teknik akupuntur, tetapi media yang digunakan bukan jarum, tetapi jari tangan atau benda tumpul

2.

TUJUAN

a. Menimbulkan relaksasi yang dalam b. Memperbaiki sirkulasi darah pada otot sehingga mengurangi nyeri dan inflamasi c. Memperbaiki secara langsung maupun tidak langsung fungsi setiap organ internal d. membantu memperbaiki mobilitas

32

e. menurunkan tekanan darah 3.

INDIKASI

4.

KONTRAINDIKASI

a. Pasien dengan Hipertensi b. Pasien keadaan nyeri seperti nyeri kepala, migren, nyeri bahu, nyeri lambung, nyeri haid,nyeri sendi dan lain-lain. c. Kelainan fungsional seperti asma, alergi, insomnia, mual pada kehamilan. d. Beberapa kelainan saraf seperti hemiparesis, kesemutan, kelumpuhan muka. e. Berbagai keadaan lain seperti mengurangi nafsu makan, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan stamina, efek analgesik pada operasi dan lainlain. Akupresur tidak boleh dilalakukan pada pasien dalam keadaan seperti: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m.

5.

PERSIAPAN KLIEN

n. a.

b.

Terlalu Lapar Terlalu Kenyang Terlalu Emosional Keadaan Hamil ( hanya pada titik tertentu) Terlalu lemah Luka dan perdarahan serius Infeksi akut, bernanah, abses Penyakit kulit ( terutama yang basah) Penyakit tumor ganas Kelainanan mental Tuberkolosis kulit Penyakit darah (infeksius) Mabuk atau dalam pembiusan Penyakit jantung akut Tentukan kebutuhan berdasarkan kondisi klien ddan data assessment sebelumnya Bantu pasien dalam posisi yang nyaman (posisi pasien terhadap terais akupresur

33

6.

PERSIAPAN ALAT

harus rileks, efisien, dan efektif, tidak terlalu kaku) c. Diskusikan prosedur dengan pasien d. Mencuci tangan Peralatan pendukung atau alat bantu yang dipersiapkan seperti: a. b. c. d. e. f.

Kapas Akhohol Peralatan presser Minyak Rempah atau ramuan khusus Air putih untuk minum pasien g. Tempat duduk/tempat tidur 7.

CARA KERJA Tahap Orientasi a. Menyapa dan mengidentifikasi identitas pasien b. Mengaji kondisi pasien c. Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan d. Memberi kesempatan pasien untukk bertanya e. Menanyakan kesedian pasien f. Menjaga privacy pasien g. Memposisikan pasien Tahap Kerja h. Jaga privasi pasien dengan menutup tirai i. Atur posisi pasien dengan memposisikan pasien pada posisi terlentang (supinasi), duduk, duduk dengan tangan bertumpu di meja, berbaring miring, atau tengkurap sesuai dengan kebutuhan terapi dan berikan alas. j. Bantu melepaskan sebagian pakaian pasien atau aksesoris yang dapat mennghambat tindakan akupresur yang akan dilakukan, jika perlu k. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bila perlu l. Cari titik-titik rangsangan yang ada di tubuh, menekannya sesuai dengan kedalaman yang dianjurkkan(biasanya ditandai dengan nyeri khas) Bila penerapan akupuntur memakai jarum, akupresur hanya memakai gerakan dan tekanan jari, yaitu jenis tekan putar, tekan titik, dan tekan urut. m. Kemudian lakukan Penekanan pada 12 titik atau jalur meridian utama tubuh dan 2 titik meridian tubuh tambahan. Meridian tubuh adalah saluran untuk menyebarkan chi (energi vital) ke seluruh tubuh. n. Penekanan dilakukan sekitar 10-15 menit atau sampai rasa sakitnya

34

mulai berkurang. o. Pada pasien hipertensi lebih ditekankan pada titik GV-20, BL-10, ST-9, LI-17, GB-21, BL-15,BL-17,BL-23LV-14,CV-4GB-39,SP-6, dan KI-1

Tahap Terminasi p. q. r. s. t.

Evaluasi hasil yang dicapai ( subyektif dan obyektif) Beri reinforcement positif pada pasien Kontrak pertemuan selanjutnya Mengakhiri pertemuan dengan baik Cuci tangan

8.

EVALUASI

9.

DOKUMENTASI

a. Pasien merasa segar setelah dilakukan massage b. Pasien tidak merasakan nyeri pada lokasi yang dikeluhkkan a. Catat tindakan yang telah dilakukan, tanggal dan jam pelaksanaan b. Catat hasil tindakan (respon subjektif dan objektif)

35

10. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN 11. HASIL

Lampiran 7. Dokumentasi

c. Dokumentasikan tindakan dalam bentuk SOAP a. Perhatikan nyeri dan ketidakyamanan yang dialami pasien b. Monitor tanda-tanda vital sebelum,selama dan sesudah latihan a. Evaluasi hasil kegiatan dan respon klien setelah tindakan b. Lakukan kontrak untuk terapi selanjutnya c. Akhiri kegiatan dengan cara yang baik d. Cuci tangan

Related Documents

Akupresur
May 2020 16
Hipertensi
May 2020 42
Hipertensi
May 2020 37
Hipertensi
June 2020 44

More Documents from "Suparjo, Skep.Ns"