Katakan Al Haq Walaupun Pahit Rasanya

  • May 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Katakan Al Haq Walaupun Pahit Rasanya as PDF for free.

More details

  • Words: 18,907
  • Pages: 38
Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Judul Buku

: Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya Tahdzir ≠ Razia Surury Berkamuflase Salafy Penulis : Abul ‘Abbas Khodhir bin Nữrussalim Editor : Tim Darus Sholah Desain Cover : Tim Dãrus Sholãh Lay-out : Tim Dãrus Sholãh Penerbit : Dãrus Sholãh [Limboro, Kec. Seram Barat Kab. Seram bagian Barat

Cetakan

Maluku-Indonesia Timur] Bekerja sama dengan: Forum Da’wah Salafiyah Cikarang Perum. Telaga Murni Cikarang Barat Email : [email protected] : I / 13 Juli 2008 – 9 Rajab 1429 H

Copyright © 2008. Bebas disalin untuk kepentingan dakwah Khusus untuk kalangan sendiri

1 Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

2

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

DAFTAR ISI Lembar Judul…………………………………………………………….1 Copy Right ………………………………………………………………2 Daftar Isi ………………………………………………………………...3 Muqaddimah …………………………………………………………….4 I. Katakan Yang Haq Walaupun Pahit Rasanya .......................................8 II. Tahdzir Adalah Perkara Disyari’atkan ...............................................11 III. Perbedaan Tahdzir Dan Razia ................................................... ........13 IV. NABI Shallallahu ‘alaihi wassallam, dari Awal - Akhir Dakwahnya dengan Mentahdzir? ................................................................................14 V. Kenapa Ada Yang Harus Dikatakan Sesat? .............................. .........21

VII. Tanggapan Atas Ucapan Keji Itu! ...................................................58 1) Hati-hati dari orang yang bernama Dr. Rabi’!...................................58 2) Itu kan hanya fatwa ulama! ...............................................................60 3) Mereka [ulama] adalah rijal kami juga rijal.......................................61 4) Mereka kan hanya ulama biasa bukan ulama kibar...........................62 5) Kami masih tunggu ulama kibar dan ulama senior............................62 6) Syaikh Rabi’ tidak termasuk ulama paling senior di Saudi...............62 7) Itu kan hanya masalah khilafiyah ijtihadiyyah..................................63 8) Kami memperbaiki Yayasan dan Ma’had hizbiyyah dari dalam .....63 9) Jangan kalian seperti orang yang tidak punya rasa syukur, gurunya saja ditahdzir habis-habisan...............................................................66 10) Tidak usah tahdzir-tahdziran lah! Semangat saja belajar dan ibadah biar masuk Surga! Itu tujuan kita, kan? ............................................66 11) Biarkan [yang ditahdzir itu], dia juga punya jasa! Semua orang bisa salah dan bisa benar ..........................................................................67 12) Walau sudah jadi da’i tetap saja sedikit karakter premanismenya tidak hilang................. .......................... ......................................................67 VIII. Seruan Untuk Taubat! ....................................................................69

VI. Tanggapan Terhadap Ucapan Keji Terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ....................................................................................39 a) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah pendusta ............................................................................................39 b) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah tukang sihir.................................................................................... ....40 c) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah orang sesat ........................................................................................46 d) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah orang gila ..........................................................................................48 e) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para Rasul tidak ada apa-apanya, sama saja dengan kaumnya ...........................................51

3 Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

4

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

MUQADDIMAH ‫ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻟﺮﲪﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ‬

‫ ﻣﻦ ﻳﻬﺪﻩ ﺍﷲ ﻓﻼ‬،‫ ﻭﺳﻴﺌﺎﺕ ﺃﻋﻤﺎﻟﻨﺎ‬،‫ ﻭﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﷲ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﺭ ﺃﻧﻔﺴﻨﺎ‬،‫ ﳓﻤﺪﻩ ﻭﻧﺴﺘﻌﻴﻨﻪ ﻭﻧﺴﺘﻐﻔﺮﻩ‬،‫ﺇﻥ ﺍﳊﻤﺪ ﷲ‬

‫ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﳏﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ‬،‫ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﷲ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ‬،‫ ﻭﻣﻦ ﻳﻀﻠﻞ ﻓﻼ ﻫﺎﺩﻱ ﻟﻪ‬،‫ﻣﻀﻞ ﻟﻪ‬

.‫ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ‬

‫ﻠﹶﻘﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻱ ﺧ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺑ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﺭ‬‫ ﺍﺗ‬‫ﺎﺱ‬‫ﺎ ﺍﻟﻨ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ ﻳ‬. ‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻤ‬‫ﻠ‬‫ﺴ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﻮﺗ‬‫ﻤ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻘﹶﺎﺗ‬‫ ﺗ‬‫ﻖ‬‫ ﺣ‬‫ ﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻮﺍ ﺍﺗ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬

‫ ﺇﹺﻥﱠ‬‫ﺎﻡ‬‫ﺣ‬‫ﺍﻷَﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﺀَﻟﹸﻮﻥﹶ ﺑﹺﻪ‬‫ﺴ‬‫ ﻱ ﺗ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺍﺗ‬‫ﺎﺀً ﻭ‬‫ﻧﹺﺴ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﲑ‬‫ﺎﻻ ﻛﹶﺜ‬‫ﺎ ﺭﹺﺟ‬‫ﻤ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﺚﱠ ﻣ‬‫ﺑ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻬ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬‫ﺎ ﺯ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﹶﻖ‬‫ﺧ‬‫ ﻭ‬‫ﺓ‬‫ﺪ‬‫ﺍﺣ‬‫ﻔﹾﺲﹴ ﻭ‬‫ ﻧ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬

‫ﺎ‬‫ﻴﺒ‬‫ﻗ‬‫ ﺭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻋ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬

‫ﻊﹺ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻄ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻮﺑ‬‫ ﺫﹸﻧ‬‫ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﺮ‬‫ﻔ‬‫ﻐ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻤ‬‫ ﺃﹶﻋ‬‫ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﺢ‬‫ﻠ‬‫ﺼ‬‫ ﻳ‬.‫ﺍ‬‫ﻳﺪ‬‫ﺪ‬‫ﻻ ﺳ‬‫ﻗﹸﻮﻟﹸﻮﺍ ﻗﹶﻮ‬‫ ﻭ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻮﺍ ﺍﺗ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬

.‫ﺎ‬‫ﻴﻤ‬‫ﻈ‬‫ﺍ ﻋ‬‫ﺯ‬‫ ﻓﹶﻮ‬‫ ﻓﹶﺎﺯ‬‫ ﻓﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻮﻟﹶﻪ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬

،‫ﺎ‬‫ ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺍﳍﺪﻱ ﻫﺪﻱ ﳏﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺷﺮ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﳏﺪﺛﺎ‬،‫ ﻓﺈﻥ ﺃﺻﺪﻕ ﺍﳊﺪﻳﺚ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﷲ‬:‫ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ‬

.‫ ﻭﻛﻞ ﺿﻼﻟﺔ ﰲ ﺍﻟﻨﺎﺭ‬،‫ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ‬،‫ﻭﻛﻞ ﳏﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ‬ Dengan ni’mat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia telah limpahkan kepada kami, sehingga Alhamdulillah kami bisa menulis suatu permasalahan yang sedang dibicarakan oleh banyak pihak. Pada tulisan ini kami fokuskan hanya pada permasalahan manhaj yang berkaitan dengan fitnah Surury, dimana pihak-pihak yang memiliki kemiripan (baca: ciri) dengan Syaikh Muhammad Surur Zainal Abidin ini tidak mau dilabeli dengan Surury. Mereka lebih suka menyandang nama Salafi, walaupun mereka harus memaksakan diri untuk melekatkan “label” tersebut pada diri mereka, namun dalam keadaan mereka terusmenerus melakukan penyelisihan terhadap manhaj Salafush Shalih. Bahkan sangat aneh bahwa sebagian dari mereka membenci tahdzir karena menurut anggapan mereka, tahdzir identik dengan kekerasan atau razia. Tapi sangat disayangkan ternyata mereka [Surury] justru mengaplikasikan tahdzir ini terhadap para ulama Ahlussunnah dalam artian mereka memperingatkan umat agar menjauh dari para ulama tersebut. Tidak sekedar itu, namun sebagian mereka juga berani mencaci, mencela dan memboikot para ulama Ahlussunnah dan menghalang5 Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

halangi umat supaya tidak datang menimba ilmu di markaznya para ‘Ulama Ahlussunnah. Maka disini kami sengaja “menggoreskan tinta hitam di atas putih” ini sebagai nasehat dan peringatan, untuk kami khususnya dan Surury beserta kelompok sesat, serta kaum muslimin pada umumnya agar memposisikan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam memposisikan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ ﺇﹺﻟﹶﻰ‬‫ﻭﻩ‬‫ﺩ‬‫ﺀٍ ﻓﹶﺮ‬‫ﻲ‬‫ﻲ ﺷ‬‫ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻋ‬‫ﺎﺯ‬‫ﻨ‬‫ ﻓﹶﺈﹺﻥﹾ ﺗ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﺮﹺ ﻣ‬‫ﻲ ﺍﻷﻣ‬‫ﺃﹸﻭﻟ‬‫ﻮﻝﹶ ﻭ‬‫ﺳ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﺮ‬‫ﻴﻌ‬‫ﺃﹶﻃ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻴﻌ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻃ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬

‫ﺄﹾﻭﹺﻳﻼ‬‫ ﺗ‬‫ﻦ‬‫ﺴ‬‫ﺃﹶﺣ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ ﺧ‬‫ﻚ‬‫ﺮﹺ ﺫﹶﻟ‬‫ﻡﹺ ﺍﻵﺧ‬‫ﻮ‬‫ﺍﻟﹾﻴ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺑﹺﺎﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻮﻝﹺ ﺇﹺﻥﹾ ﻛﹸﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺍﻟﺮ‬‫ ﻭ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬ “Wahai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul[Nya] serta Ulil ‘Amr (‘Ulama) diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih (berbeda) pendapat tentang [hukum] sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul[Nya] (AsSunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya.” (AnNisa’: 59). Sudah menjadi sifat bagi manusia apabila mendapati atau ketika membaca suatu masalah tentu akan ada tanggapan, baik yang nantinya dengan memberi saran, kritik atau berupa komentar dan ada pula yang mendiamkannya. Maka jauh-jauh hari sebelumnya kami sebutkan bahwa tulisan ini kami susun dengan keterbatasan yang ada. Permasalahan ini kami tulis ketika sedang berada di Cikarang, apabila ditemukan satu kata atau satu hurufpun yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya maka kami minta maaf yang sebesar-besarnya dan mohon kiranya untuk dimaklumi. Ada satu yang paling penting untuk kami ungkapkan disini, dimana ketika kami pernah menjelaskan tentang permasalahan manhaj yang kaitannya dengan tahdzir seperti ini, muncul beberapa komentar mulai dari sebagian pegiat dakwah yang dengan bangga dan penuh percaya diri menyatakan tidaklah pantas orang yang membuat penjelasan masalah tahdzir itu, karena orang itu tingkat rendah baik dalam belajar maupun pengalaman, penulisnya tidak berilmu dan ... Maka dengan penuh penghormatan, kami katakan bahwa justru dengan dijelaskannya Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

6

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

permasalahan ini, insya Allah akan tampak jelas siapa sebenarnya yang tingkat rendah? Sebagai renungan dan nasehat atas pernyataan mereka itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻮﺭﹴ‬‫ﺎﻝﹴ ﻓﹶﺨ‬‫ﺘ‬‫ﺨ‬‫ ﻛﹸﻞﱠ ﻣ‬‫ﺐ‬‫ﺤ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﺎ ﺇﹺﻥﱠ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﺽﹺ ﻣ‬‫ﻲ ﺍﻷﺭ‬‫ﺶﹺ ﻓ‬‫ﻤ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ﺎﺱﹺ ﻭ‬‫ﻠﻨ‬‫ ﻟ‬‫ﻙ‬‫ﺪ‬‫ ﺧ‬‫ﺮ‬‫ﻌ‬‫ﺼ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ﻭ‬ “Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena bangga) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18). Kalau kami sudah jelas tingkat rendah –sebagaimana dikatakan- jadi kami tidak berani mentahdzir para ‘Ulama Ahlussunnah apalagi sampai mencela mereka. Kamipun memposisikan mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam memposisikan. Adapun mereka yang mencaci dan mentahdzir para ‘Ulama Ahlussunnah? Maka mereka sudah memaksa-maksakan diri mereka untuk setingkat dengan ‘ulama, sehingga mereka menganggap ‘Ulama Ahlussunnah pantas untuk dijadikan mainan bibir. Mereka tahdzir ‘Ulama Ahlussunnah dan mereka hinakan di hadapan orangorang yang tingkatannya masih rendah, maka jangan kemudian tersinggung dan marah kalau orang tingkat rendah tersebut bangkit dan bersikap karena didasari rasa cemburu yang tinggi –karena Allah Subhanahu wa Ta’ala -. Bagaimana tidak, tumpuan harapan dan citacitanya untuk meraih ilmu para ‘Ulama Ahlussunnah ternyata dihalanghalangi oleh orang-orang yang sok merasa lebih tinggi daripada para Ulama Ahlussunnah dan berani mengangkat suara melebihi suara para ‘Ulama Ahlussunnah. Teringatlah kami dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﲑﹺ‬‫ﻤ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﺕ‬‫ﻮ‬‫ ﻟﹶﺼ‬‫ﺍﺕ‬‫ﻮ‬‫ ﺍﻷﺻ‬‫ﻜﹶﺮ‬‫ ﺇﹺﻥﱠ ﺃﹶﻧ‬‫ﻚ‬‫ﺗ‬‫ﻮ‬‫ ﺻ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺾ‬‫ﺍﻏﹾﻀ‬‫ ﻭ‬‫ﻴﹺﻚ‬‫ﺸ‬‫ﻲ ﻣ‬‫ ﻓ‬‫ﺪ‬‫ﺍﻗﹾﺼ‬‫ﻭ‬ “Dan sederhanalah kamu ketika berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).

7 Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Ringkasnya pada muqaddimah ini, kami katakan: Disaat-saat fitnah semakin mencekam, disaat itu pula manusia terombang-ambing, orang yang mengetahui kebenaranpun ikut diam dan bahkan terkadang bersikap seperti orang yang tidak tahu-menahu, padahal keadaan menuntutnya untuk berani mengatakan yang haq, walaupun pahit rasanya. Bahkan terkadang supaya tetap tenar dan terhormat, berani menjelekkan saudaranya di hadapan manusia apabila saudaranya terjatuh pada sebuah kesalahan manusiawi dalam mengkritik orang-orang yang memusuhi ‘Ulama Ahlussunnah. Sebagai penutup muqaddimah, kami haturkan terima kasih kepada Ikhwan Salafy Cikarang, khususnya yang senantiasa hadir dalam majlis ta’lim di Sekretariat Ikhwan Salafy Perum Telaga Murni Cikarang Barat, yang telah banyak membantu kami selama penantian pemberangkatan ke Yaman –semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan dan barakah serta menjaga mereka dari fitnah-fitnah-, tak lupa pula ucapan terima kasih kepada Abul Husain ‘Umair AlLimbory yang telah menyisihkan waktunya untuk mengajar atau memberikan beberapa faidah ilmu syar’i kepada Ikhwan Salafy Cikarang –semoga Allah menjaganya-. Sebagai manusia tentu tidak luput dari salah dan keliru maka dengan itu kami menerima saran dan kritik yang sifatnya membangun, dan harapan kami semoga dengan kehadiran tulisan yang sederhana ini sebagai wacana baru -yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu terbedakan antara yang haq dan yang bathil. Semoga apa yang kami upayakan ini ikhlas semata-mata karena mengharap wajah-Nya. ‫ﻭﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻰ ﳏﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﲨﻌﲔ‬. Cikarang, 1 Juli 2008 Hamba yang faqir atas ampunan Robbnya Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

8

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

BAB I Katakan Yang Haq Walaupun Pahit Rasanya :‫ﺑﻌﺪ‬. ‫ﺍﳊﻤﺪ ﷲ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﱯ ﺍﻷﻣﻲ ﳏﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ‬ Prinsip “Katakan yang Haq walaupun Pahit Rasanya” dalam menyikapinya manusia terbagi tiga golongan; Golongan pertama, Mereka langsung merealisasikannya tanpa peduli resiko apa yang nanti diterimanya, mereka tegas dalam masalah ini, dan ini didasari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﻠﹸﻮﻥﹶ‬‫ﺎﻫ‬‫ﺎ ﺍﻟﹾﺠ‬‫ﻬ‬‫ ﺃﹶﻳ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻲ ﺃﹶﻋ‬‫ﻭﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺄﹾﻣ‬‫ ﺗ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﻗﹸﻞﹾ ﺃﹶﻓﹶﻐ‬ “Katakanlah; Apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah? Wahai orang-orang bodoh!” (Az-Zumar: 64) Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻭﻥ‬‫ ﺩ‬‫ﻦ‬‫ﻮﻥﹶ ﻣ‬‫ﻋ‬‫ﺪ‬‫ ﺗ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﺃﹶﻋ‬‫ﻬﹺﻴﺖ‬‫ﻲ ﻧ‬‫ﻗﹸﻞﹾ ﺇﹺﻧ‬ “Katakanlah; Sesungguhnya aku dilarang menyembah sesembahan yang kalian sembah selain Allah.” (Al-Ghofir: 66). Golongan kedua, Mereka yang diam, tidak mengatakan yang haq dan yang bathil, ini terkadang didasari karena rasa takut atau karena berbagai macam pertimbangan dan kemungkinan yang lain mereka merasa belum pantas atau ragu-ragu. Maka sebagai peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺎﺗ‬‫ﺎﻧ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻣ‬‫ﻮﻧ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬‫ﻮﻝﹶ ﻭ‬‫ﺳ‬‫ﺍﻟﺮ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻮﻧ‬‫ﺨ‬‫ﻮﺍ ﻻ ﺗ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.” (Al-Anfal: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺒﹺﻴﻼ‬‫ ﺳ‬‫ ﻟﹶﻪ‬‫ﺠﹺﺪ‬‫ ﺗ‬‫ ﻓﹶﻠﹶﻦ‬‫ﻞﹺ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻠ‬‫ﻀ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﻻﺀِ ﻭ‬‫ﺆ‬‫ﻻ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﻫ‬‫ﻻﺀِ ﻭ‬‫ﺆ‬‫ ﻻ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﻫ‬‫ﻚ‬‫ ﺫﹶﻟ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ ﺑ‬‫ﺬﹶﺑﹺﲔ‬‫ﺬﹶﺑ‬‫ﻣ‬ “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali9 Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (AnNisa’: 143). Juga peringatan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, dari dari Sahabat Rasulullah yang mulia, Abu Malik al-Haarits bin ‘Aashim al-Asy’ary radiyallahu ‘anhu : “Al-Qur-an adalah hujjah yang akan membelamu atau (boleh jadi) yang akan melawanmu. Semua manusia berangkat di pagi hari untuk berusaha, ada yang menjual dirinya (kepada Allah) sehingga ia terbebas (dari adzab), atau (kepada setan) sehingga ia binasa.” (HR. Muslim 223) Golongan ketiga, Mereka yang mengganti al-haq dengan albathil, mereka membeli petunjuk dengan kesesatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻯ‬‫ﺪ‬‫ﻼﻟﹶﺔﹶ ﺑﹺﺎﻟﹾﻬ‬‫ﺍ ﺍﻟﻀ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﺍﺷ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻚ‬‫“ ﺃﹸﻭﻟﹶﺌ‬Mereka itulah.yang membeli kesesatan dengan petunjuk” (Al-Baqarah: 16). Berkata ahli tafsir: ‫ﺃﺧﺬﻭﺍ ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ ﻭﺗﺮﻛﻮﺍ ﺍﳍﺪﻯ‬ “Mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk”. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala perjelas lagi : ‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺮ‬‫ ﺍﻟﹾﻜﹶﺎﻓ‬‫ ﻛﹶﺮﹺﻩ‬‫ﻟﹶﻮ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﺭﹺﻩ‬‫ ﻧ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ ﻣ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﻭ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺍﻫ‬‫ ﺑﹺﺄﹶﻓﹾﻮ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻮﺭ‬‫ﺌﹸﻮﺍ ﻧ‬‫ﻄﹾﻔ‬‫ﻴ‬‫ﻭﻥﹶ ﻟ‬‫ﺮﹺﻳﺪ‬‫ﻳ‬ “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan tetap Allah mengokohkan cahaya-Nya meskipun orang-orang yang kufur itu membencinya.” (Ash-Shaf: 8). Untuk menyatakan al-haq, walaupun pahit rasanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam telah memberikan ketegasan sebagaimana sabdanya : ‫ﻻ ﳝﻨﻌﻦ ﺃ ﺣﺪﻛﻢ ﻫﻴﺒﺔ ﺍﻟﻨﺎ ﺱ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﰲ ﺣﻖ ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻩ ﺃﻭ ﺷﻬﺪﻩ ﺃﻭ ﲰﻌﻪ‬ “Janganlah rasa segan salah seorang kalian kepada manusia, menghalanginya untuk mengucapkan kebenaran jika melihatnya, menyaksikannya, atau mendengarnya.” (HR. Ahmad, 3/50, At-Tirmidzi, no. 2191, Ibnu Majah no. 4007. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Ash-Shahihah, 1/322). Pada penerapan hadits ini memiliki beberapa ketentuan dan aturan-aturan yang perlu diperhatikan: Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

10

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Pertama, Hendaklah apa yang dikatakan adalah benar adanya [pasti kebenarannya] dan bertujuan baik, jika tidak demikian maka harus diam. Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : ““Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. AlImam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah) . Kedua, Setiap apa yang akan dikatakan harus diteliti terlebih dahulu, apakah sesuatu itu sudah pasti kebenarannya ataukah hanya sangkaan? Maka dari sini perlu penyeleksian suatu khabar, apabila khabar itu datang kepada kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ﲔ‬‫ﻣ‬‫ﺎﺩ‬‫ ﻧ‬‫ﻢ‬‫ﻠﹾﺘ‬‫ﺎ ﻓﹶﻌ‬‫ﻠﹶﻰ ﻣ‬‫ﻮﺍ ﻋ‬‫ﺒﹺﺤ‬‫ﺼ‬‫ ﻓﹶﺘ‬‫ﺎﻟﹶﺔ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺑﹺﺠ‬‫ﻣ‬‫ﻮﺍ ﻗﹶﻮ‬‫ﻴﺒ‬‫ﺼ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﺈﹴ ﻓﹶﺘ‬‫ﺒ‬‫ ﺑﹺﻨ‬‫ﻖ‬‫ ﻓﹶﺎﺳ‬‫ﺎﺀَﻛﹸﻢ‬‫ﻮﺍ ﺇﹺﻥﹾ ﺟ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬ “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasiq yang membawa suatu khabar, maka periksalah dengan teliti, agar kaliantidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tana mengetahui (hakekat sebenarnya) yang menyebabkan kalian menyesal dengan perbuatan itu.” (Al-Hujurat: 6). Juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta manakala menyampaikan setiap khabar yang dia dengar” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh AlAlbani dalam Ash-Shahihah, dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu).

BAB II Tahdzir Adalah Perkara Disyari’atkan Tahdzir merupakan suatu pemberian peringatan yang diserukan oleh individu atau kelompok, dalam rangka untuk menjauhi suatu perkara yang dinilai sebagai kejelekan atau kemudharatan. Telah kita maklumi bersama bahwa berpegang teguh dengan AsSunnah adalah suatu keharusan, maka dengan itu sebagai keharusan pula mengajak manusia untuk kembali kepadanya. Disamping itu, mentahdzir dari semua yang menyelisihi As-Sunnah adalah disyari’atkan bahkan sangat perlu, apabila keadaan menuntut yang demikian itu. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﻯ‬‫ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﺖ‬‫ﻔﹶﻌ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻧ‬‫ﻓﹶﺬﹶﻛﱢﺮ‬ “Oleh sebab itu berilah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” (Al-A’la: 9). Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan langsung kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam: ‫ﺬﹶﻛﱢﺮ‬‫ ﻣ‬‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ﻤ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻓﹶﺬﹶﻛﱢﺮ‬ “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan.” (Al-Ghosiyah: 21). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mentahdzir langsung terhadap kesesatan ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam khutbah Jum’at, sebagaimana hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam apabila berkhutbah, matanya memerah, suaranya meninggi, dan memuncak kemarahan baliau, hingga seakan-akan baliau sedang memberikan peringatan kepada pasukan perang, kemudian beliau bersabda, ‘Pasukan musuh akan menyerang kalian setiap saat’!”. Beliau bersabda : ،‫ﺎ‬‫ ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺍﳍﺪﻱ ﻫﺪﻱ ﳏﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺷﺮ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﳏﺪﺛﺎ‬،‫ ﻓﺈﻥ ﺃﺻﺪﻕ ﺍﳊﺪﻳﺚ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﷲ‬:‫ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ‬ ‫ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ‬،‫ﻭﻛﻞ ﳏﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ‬،

11Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

12

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

“Sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaikbaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara baru yang diada-adakan (dalam agama) dan seluruh bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim 867). Amirul Mu’minin ‘Umar bin Al-Khaththab Radiyallahu ‘anhu berkata: “Hati-hatilah dan jauhilah oleh kalian orang-orang yang menggunakan ra`yunya. Karena sesungguhnya mereka adalah musuhmusuh As-Sunnah. Mereka dilemahkan oleh hadits-hadits, hingga tidak mampu menghafalnya. Akhirnya mereka berbicara dengan ra`yu mereka, maka mereka tersesat dan menyesatkan (orang lain).” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni rahimahullah dalam Sunan dan Al-Lalikai rahimahullah dalam Syarhu Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah) Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Para pembela Islam dan para Imam pembawa petunjuk tidak akan pernah berhenti mentahdzir umat di seluruh pelosok dunia agar menjauhi orang yang menyimpang. Mereka mentahdzir supaya meninggalkan dan tidak mengikuti jejak mereka”. Demikianlah beberapa untaian dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan Atsar Salafush Shalih yang menjadi bukti tentang disyari’atkannya tahdzir. Insya Allah akan datang penjelasan masalah ini pada pembahasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam di awal hingga akhir dakwahnya dipenuhi dengan peringatan/tahdzir.

13Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

BAB III Perbedaan Tahdzir dan Razia Dari penjelasan yang lalu telah kita ketahui tentang permasalahan mengenai tahdzir, adapun razia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penangkapan beramai-ramai; penggerebekan penjahat yang berbahaya bagi keamanan. Dan pelaksanaan razia ini adalah wewenang penguasa atau pihak yang ditunjuk oleh penguasa, jika dilaksanakan oleh setiap individu maka mudharatnya lebih besar dibanding maslahatnya. Adapun razia dalam bahasa Arab adalah ‫ ﺭﺯﺀ‬-‫ ﺭﺯ ﻳﺌﺔ‬- ‫ﺭﺯ ﻳﺔ‬ (ruz’un-raziiatun-raziyyatun) yaitu bahaya yang besar. Razia dalam istilah Indonesia bertujuan untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan ini sama dengan tujuan tahdzir. Hanya saja terkadang tahdzir disalahgunakan oleh orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyimpangan dan penyakit sehingga mereka jadikan untuk menjauhkan al-haq dan mendatangkan al-bathil. Insya Allah akan datang penjelasan berikut contoh-contohnya.

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

14

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

BAB IV NABI Shallallahu ‘alaihi wassallam, dari Awal - Akhir Dakwahnya dengan Mentahdzir? Pada pembahasan berikut ini kami lebih banyak menggunakan hujjah dari Al-Qur’an dalam menjelaskan tentang permasalahan tahdzir. Ini mengingatkan kami dengan perkataan Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah: “Tidak diragukan lagi bahwa yang paling baik disampaikan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam, karena sesungguhnya Al-Qur’an adalah penasehat yang paling mulia bagi umat manusia.” Wahyu pertama kali turun pada Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, wahyu kemudian terhenti berhari-hari, dan pada bulan Syawal turunlah wahyu yang kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺮ‬‫ﺠ‬‫ ﻓﹶﺎﻫ‬‫ﺰ‬‫ﺟ‬‫ﺍﻟﺮ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ ﻓﹶﻄﹶﻬ‬‫ﻚ‬‫ﺎﺑ‬‫ﻴ‬‫ﺛ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ ﻓﹶﻜﹶﺒ‬‫ﻚ‬‫ﺑ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ ﻓﹶﺄﹶﻧ‬‫ ﻗﹸﻢ‬‫ﺛﱢﺮ‬‫ﺪ‬‫ﺎ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬ “Hai orang yang berselimut, bangkitlah dan berilah peringatan dan Robbmu agungkanlah, pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (Al-Mudatstsir: 1-5). Lafadz‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ ﻓﹶﺄﹶﻧ‬‫ ﻗﹸﻢ‬adalah bentuk perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam untuk bangun dari tempat tidurnya supaya mentahdzir (memberi peringatan kepada) manusia untuk meninggalkan kesesatan dan kesyirikan serta perbuatan dosa yang lainnya, sehingga mereka selamat dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan dengan lebih jelas: ‫ﺮﹺﻳﻦ‬‫ﻠﹶﻰ ﺍﻟﹾﻜﹶﺎﻓ‬‫ﻝﹸ ﻋ‬‫ ﺍﻟﹾﻘﹶﻮ‬‫ﻖ‬‫ﺤ‬‫ﻳ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻴ‬‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺣ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﻟ‬ “Supaya dia (Muhammad) mentahdzir orang-orang yang hidup dan supaya pastilah [ketetapan azab] bagi orang-orang kafir.” (Yaasin: 70). Demikianlah ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menerangkan adanya tahdzir, dan semua itu penuh dengan hikmah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 15Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

‫ﻴﻢﹺ‬‫ﻜ‬‫ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮﹺ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﺕ‬‫ ﺍﻵﻳ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ﻠﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﻠﹸﻮﻩ‬‫ﺘ‬‫ ﻧ‬‫ﻚ‬‫ﺫﹶﻟ‬ “Demikianlah, Kami bacakan kepada kamu sebagian dari ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah.” (Ali Imron: 58). Telah diketahui bahwa para Rasul diutus untuk memberi kabar gembira dan untuk mentahdzir (memberi peringatan) dari berbagai kejelekkan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan : ‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ ﺃﹶﻛﹾﺜﹶﺮ‬‫ﺽ‬‫ﺮ‬‫ ﻓﹶﺄﹶﻋ‬.‫ﺍ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ﻧ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﲑ‬‫ﺸ‬‫ ﺑ‬.‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ﻡﹴ ﻳ‬‫ﻘﹶﻮ‬‫ﺎ ﻟ‬‫ﺑﹺﻴ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺁﻧ‬‫ ﻗﹸﺮ‬‫ﻪ‬‫ﺎﺗ‬‫ ﺁﻳ‬‫ﻠﹶ ﺖ‬‫ ﻓﹸﺼ‬‫ﺎﺏ‬‫ﺘ‬‫ ﻛ‬.‫ﻴﻢﹺ‬‫ﺣ‬‫ﻦﹺ ﺍﻟﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ ﺍﻟﺮ‬‫ﻦ‬‫ﱰﻳﻞﹲ ﻣ‬‫ ﺗ‬.‫ﺣﻢ‬

.‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻌ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻓﹶﻬ‬ “Haamiiim. Diturunkan dari Robb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arob, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling [darinya] maka mereka tidak [mau] mendengarkan.” (Fushshilat: 1-) Dan ketika manusia berpaling, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam terus menerus mentahdzir mereka dengan azab-azab yang pernah Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan kepada kaum terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻮﺩ‬‫ﺛﹶﻤ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﺩ‬‫ ﻋ‬‫ﻘﹶﺔ‬‫ﺎﻋ‬‫ﺜﹾﻞﹶ ﺻ‬‫ﻘﹶﺔﹰ ﻣ‬‫ﺎﻋ‬‫ ﺻ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺗ‬‫ﺬﹶﺭ‬‫ﻮﺍ ﻓﹶﻘﹸﻞﹾ ﺃﹶﻧ‬‫ﺿ‬‫ﺮ‬‫ﻓﹶﺈﹺﻥﹾ ﺃﹶﻋ‬ “Jika mereka berpaling, maka katakanlah; Aku telah memperingatkan kalian dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud.” (Fushshilat: 13) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam mentahdzir manusia dari neraka serta menjelaskan bahwa yang akan masuk ke dalam neraka adalah orang yang mendustakan kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan: ‫ﻠﹶﻈﱠﻰ‬‫ﺍ ﺗ‬‫ﺎﺭ‬‫ ﻧ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺗ‬‫ﺬﹶﺭ‬‫ﻘﹶﻰ ﻓﹶﺄﹶﻧ‬‫ﺎ ﺇﹺﻻ ﺍﻷﺷ‬‫ﻼﻫ‬‫ﺼ‬‫ﻟﱠﻰ ﻻ ﻳ‬‫ﻮ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻱ ﻛﹶﺬﱠﺏ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬ “Maka Kami peringatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala, tidak ada yang masuk di dalamnya kecuali orang yang celaka, yang mendustakan kebenaran dan berpaling (dari keimanan).” (Al-Lail: 1416). Jadi, berbicara tentang tahdzir adalah pembicaraan yang tidak bisa diingkari dikalangan kaum muslimin, bahkan kaum musyrikin Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

16

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

sekalipun telah memahami masalah tahdzir ini, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dengan jelas dalam Al-Qur’an tentang pernyataan mereka: ‫ﺍ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻌ‬‫ﻜﹸﻮﻥﹶ ﻣ‬‫ ﻓﹶﻴ‬‫ﻠﹶﻚ‬‫ ﻣ‬‫ﻪ‬‫ﻻ ﺃﹸﻧﺰﻝﹶ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﻟﹶﻮ‬ “Mengapa tidak diturunkan kepadanya satu malaikat supaya malaikat itu memberikan tahdzir bersama dengan dia (Muhammad)”. (AlFurqan: 7). Bahkan di dalam Al-Quran sangat banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang adanya syaria’at tahdzir ini, nabi dan rasul diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tujuan untuk memberi kabar gembira dan mentahdzir (memberi peringatan). Berikut ini kami sebutkan diantara ayat-ayat yang menjelaskan tentang tahdzir tersebut: ‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ ﺗ‬‫ﻠﱠﻜﹸﻢ‬‫ﻟﹶﻌ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﻭ‬‫ﺘ‬‫ﺘ‬‫ﻟ‬‫ ﻭ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ ﻟ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﻞﹴ ﻣ‬‫ﺟ‬‫ﻠﹶﻰ ﺭ‬‫ ﻋ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻛﹾﺮ‬‫ ﺫ‬‫ﺎﺀَﻛﹸﻢ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﺟ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺠﹺﺒ‬‫ﻋ‬‫ﺃﹶﻭ‬ “Dan herankah kalian bahwa ada peringatan datang dari Robb kalian melalui seorang laki-laki dari kalangan kalian sendiri, untuk mentahdzir kalian dan supaya kalian bertaqwa sehingga [dengan itu] kalian mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 63). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga : ‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺁﺧ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻬ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻊ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ﻻ ﺗ‬‫“ ﻭ‬Dan janganlah kalian mengadakan sesembahan-sesembahan selain Allah, sungguh aku pemberi peringatan yang jelas dari Allah untuk kalian.” (Adz-Dzariyat: 51). Dan tujuan dari tahdziran tersebut adalah supaya tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan‫ﺮ‬‫ﺎ ﺁﺧ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻬ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻊ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬yaitu ‫ﻻ ﺗﺸﺮﻛﻮﺍ ﺑﻪ‬ ‫ ﺷﻴﺊ‬artinya : “Janganlah kalian menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun”. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an tentang masalah tahdzir ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan keadaan mereka ketika ditahdzir: .‫ﺠﹺﻴﺐ‬‫ﺀٌ ﻋ‬‫ﻲ‬‫ﺬﹶﺍ ﺷ‬‫ﻭﻥﹶ ﻫ‬‫ﺮ‬‫ ﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﹾﻜﹶﺎﻓ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻥﹾ ﺟ‬‫ﺠﹺﺒ‬‫ﻞﹾ ﻋ‬‫ ﺑ‬.‫ﺠﹺﻴﺪ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺁﻥ‬‫ﺍﻟﹾﻘﹸﺮ‬‫ﻕ ﻭ‬

17Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

“Qaaf. Demi Al Quran yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: "Ini adalah suatu yang amat ajaib". (Qaaf: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman lagi tentang mereka itu: ‫ﻰ‬‫ﺗ‬‫ﺆ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﺮﹺﺉﹴ ﻣ‬‫ ﻛﹸﻞﱡ ﺍﻣ‬‫ﺮﹺﻳﺪ‬‫ﻞﹾ ﻳ‬‫ ﺑ‬.‫ﺓ‬‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ ﻗﹶﺴ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺕ‬‫ ﻓﹶﺮ‬.‫ﺓﹲ‬‫ﺮ‬‫ﻔ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ ﺣ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ ﻛﹶﺄﹶﻧ‬.‫ﲔ‬‫ﺮﹺﺿ‬‫ﻌ‬‫ ﻣ‬‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﺬﹾﻛ‬‫ﻦﹺ ﺍﻟﺘ‬‫ ﻋ‬‫ﻢ‬‫ﺎ ﻟﹶﻬ‬‫ﻓﹶﻤ‬

.‫ﺓﹲ‬‫ﺮ‬‫ﺬﹾﻛ‬‫ ﺗ‬‫ﻪ‬‫ ﻛﹶﻼ ﺇﹺﻧ‬.‫ﺓﹶ‬‫ﺮ‬‫ﺎﻓﹸﻮﻥﹶ ﺍﻵﺧ‬‫ﺨ‬‫ﻞﹾ ﻻ ﻳ‬‫ ﻛﹶﻼ ﺑ‬.‫ﺓﹰ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻨ‬‫ﻔﹰﺎ ﻣ‬‫ﺤ‬‫ﺻ‬ “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka. Sekali-kali tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Quran itu adalah peringatan.” (AlMuddatstsir: 49-54) ‫ﻢ‬‫ﻠﹶﻰ ﺁﺛﹶﺎﺭﹺﻫ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺇﹺﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﺔ‬‫ﻠﹶﻰ ﺃﹸﻣ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎﺀَﻧ‬‫ﺎ ﺁﺑ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﺟ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺎ ﺇﹺﻧ‬‫ﻓﹸﻮﻫ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ﻳﺮﹴ ﺇﹺﻻ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻣ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺔ‬‫ﻳ‬‫ﻲ ﻗﹶﺮ‬‫ ﻓ‬‫ﻚ‬‫ﻠ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺎ ﺃﹶﺭ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ﻛﹶﺬﹶﻟ‬‫ﻭ‬ ‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺮ‬‫ ﻛﹶﺎﻓ‬‫ ﺑﹺﻪ‬‫ﻢ‬‫ﻠﹾﺘ‬‫ﺳ‬‫ﺎ ﺃﹸﺭ‬‫ ﺎ ﺑﹺﻤ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺇﹺﻧ‬‫ﺎﺀَﻛﹸﻢ‬‫ ﺁﺑ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﻢ‬‫ﺗ‬‫ﺪ‬‫ﺟ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻤ‬‫ﻯ ﻣ‬‫ﺪ‬‫ ﺑﹺﺄﹶﻫ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ ﺟﹺﺌﹾﺘ‬‫ﻟﹶﻮ‬‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺃﹶﻭ‬.‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺪ‬‫ﻘﹾﺘ‬‫ﻣ‬ “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapakbapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (Rasul itu) berkata: "Apakah (kalian akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kalian dapati dari bapak-bapak kalian menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (Az-Zukhruf: 23-24). Dengan sikap mereka tidak mau menyambut peringatan dan mereka senantiasa mengingkari rasul itu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ﺎ‬‫ﻴ‬‫ﻧ‬‫ﺎﺓﹶ ﺍﻟﺪ‬‫ﻴ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﺮﹺﺩ‬‫ ﻳ‬‫ﻟﹶﻢ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻛﹾﺮﹺﻧ‬‫ ﺫ‬‫ﻦ‬‫ﻟﱠﻰ ﻋ‬‫ﻮ‬‫ ﺗ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻦ‬‫ ﻋ‬‫ﺮﹺﺽ‬‫ﻓﹶﺄﹶﻋ‬

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

18

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (An-Najm: 29). Dengan sebab perbuatan mereka seperti itu, di akhirat mereka mendapatkan balasannya, mereka akhirnya menyesal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺰ‬‫ﻴ‬‫ﻤ‬‫ ﺗ‬‫ﻜﹶﺎﺩ‬‫ ﺗ‬.‫ﻔﹸﻮﺭ‬‫ ﺗ‬‫ﻲ‬‫ﻫ‬‫ﻬﹺﻴﻘﹰﺎ ﻭ‬‫ﺎ ﺷ‬‫ﻮﺍ ﻟﹶﻬ‬‫ﻌ‬‫ ﻤ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ﻴﻬ‬‫ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﺃﹸﻟﹾﻘﹸﻮﺍ ﻓ‬.‫ﲑ‬‫ﺼ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺑﹺﺌﹾﺲ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻨ‬‫ﻬ‬‫ ﺟ‬‫ﺬﹶﺍﺏ‬‫ ﻋ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺑ‬‫ﻭﺍ ﺑﹺﺮ‬‫ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻠﱠﺬ‬‫ﻟ‬‫ﻭ‬ ‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎ ﻧﺰﻝﹶ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻗﹸﻠﹾﻨ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ ﻓﹶﻜﹶﺬﱠﺑ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ﺎﺀَﻧ‬‫ ﺟ‬‫ﻠﹶﻰ ﻗﹶﺪ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺑ‬.‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺄﹾﺗ‬‫ ﻳ‬‫ﺎ ﺃﹶﻟﹶﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺘ‬‫ﻧ‬‫ﺰ‬‫ ﺧ‬‫ﻢ‬‫ﺄﹶﻟﹶﻬ‬‫ ﺳ‬‫ﺝ‬‫ﺎ ﻓﹶﻮ‬‫ﻴﻬ‬‫ ﻓ‬‫ﻲ‬‫ﺎ ﺃﹸﻟﹾﻘ‬‫ ﻛﹸﻠﱠﻤ‬‫ﻆ‬‫ﻴ‬‫ﺍﻟﹾﻐ‬

‫ﺒﹺﻬﹺﻢ‬‫ﻓﹸﻮﺍ ﺑﹺﺬﹶﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﻓﹶﺎﻋ‬.‫ﲑﹺ‬‫ﻌ‬‫ﺎﺏﹺ ﺍﻟﺴ‬‫ﺤ‬‫ﻲ ﺃﹶﺻ‬‫ﺎ ﻓ‬‫ﺎ ﻛﹸﻨ‬‫ﻞﹸ ﻣ‬‫ﻘ‬‫ﻌ‬‫ ﻧ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﻊ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ ﻛﹸﻨ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻟﹶﻮ‬‫ ﻭ‬.‫ﻼﻝﹴ ﻛﹶﺒﹺﲑﹴ‬‫ﻲ ﺿ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺀٍ ﺇﹺﻥﹾ ﺃﹶﻧ‬‫ﻲ‬‫ﺷ‬

.‫ﲑﹺ‬‫ﻌ‬‫ﺎﺏﹺ ﺍﻟﺴ‬‫ﺤ‬‫ﻘﹰﺎ ﻷﺻ‬‫ﺤ‬‫ﻓﹶﺴ‬ “Dan orang-orang yang kafir kepada Robbnya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab: "Benar ada", sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar". Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghunipenghuni neraka yang menyala-nyala". Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyalanyala.” (Al-Mulk: 6-11). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan lagi (untuk lebih memperjelas tentang masalah tahdzir ini): ‫ﺍ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ﻧ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﺒ‬‫ﻣ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﺪ‬‫ﺎﻫ‬‫ ﺷ‬‫ﺎﻙ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺎ ﺃﹶﺭ‬‫ﺇﹺﻧ‬ “Sungguh Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Al-Fath: 8). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mentahdzir dengan tujuan 19Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

supaya orang yang ditahdzir itu beriman dan bagi yang sudah beriman supaya semakin kokoh keimanannya, sehingga dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka punya kemampuan untuk menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻴﻼ‬‫ﺃﹶﺻ‬‫ﺓﹰ ﻭ‬‫ﻜﹾﺮ‬‫ ﺑ‬‫ﻮﻩ‬‫ﺤ‬‫ﺒ‬‫ﺴ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﻩ‬‫ﻗﱢﺮ‬‫ﻮ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﻩ‬‫ﺭ‬‫ﺰ‬‫ﻌ‬‫ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻮﻟ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺎﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﺘ‬‫ﻟ‬ “Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya dan bertasbih kepada-Nya di pagi dan petang.” (Al-Fath: 9). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Thaahaa, Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaahaa: 1-3). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ﻤ‬‫ﺇﹺﻧ‬‫ ﻭ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺪ‬‫ﻨ‬‫ ﻋ‬‫ﺎﺕ‬‫ﺎ ﺍﻵﻳ‬‫ﻤ‬‫ ﻗﹸﻞﹾ ﺇﹺﻧ‬‫ﻪ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﺕ‬‫ ﺁﻳ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻻ ﺃﹸ ﻧﺰﻝﹶ ﻋ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻟﹶﻮ‬‫ﻭ‬ “Dan orang-orang kafir Mekkah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Robbnya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". (Al‘Ankabut: 50). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : ‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﺎ ﺃﹶﺗ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻣ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ ﻟ‬‫ﻚ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻖ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻮ‬‫ ﻞﹾ ﻫ‬‫ ﺑ‬‫ﺍﻩ‬‫ﺮ‬‫ﻘﹸﻮﻟﹸﻮﻥﹶ ﺍﻓﹾﺘ‬‫ ﻳ‬‫ ﺃﹶﻡ‬.‫ﲔ‬‫ﺎﻟﹶﻤ‬‫ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ﺏ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻴﻪ‬‫ ﻓ‬‫ﺐ‬‫ﻳ‬‫ﺎﺏﹺ ﻻ ﺭ‬‫ﺘ‬‫ﱰﻳﻞﹸ ﺍﻟﹾﻜ‬‫ ﺗ‬.‫ﺍﱂ‬ .‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺪ‬‫ﺘ‬‫ﻬ‬‫ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻠﱠﻬ‬‫ ﻟﹶﻌ‬‫ﻚ‬‫ﻠ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ﻳﺮﹴ ﻣ‬‫ﺬ‬‫ﻧ‬ “Alif Laam Miim, Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Robb semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia (Muhammad) mengada-adakannya." Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Robbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (As-Sajdah: 1-3). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

20

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﺎ ﺃﹸﻧ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻣ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ ﻟ‬.‫ﻴﻢﹺ‬‫ﺣ‬‫ﺰﹺﻳﺰﹺ ﺍﻟﺮ‬‫ﱰﻳﻞﹶ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ ﺗ‬.‫ﻴﻢﹴ‬‫ﻘ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ ﻣ‬‫ﺍﻁ‬‫ﺮ‬‫ﻠﹶﻰ ﺻ‬‫ ﻋ‬.‫ﲔ‬‫ﻠ‬‫ﺳ‬‫ﺮ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻦ‬‫ ﻟﹶﻤ‬‫ﻚ‬‫ ﺇﹺﻧ‬.‫ﻴﻢﹺ‬‫ﻜ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﺁﻥ‬‫ﺍﻟﹾﻘﹸﺮ‬‫ ﻭ‬.‫ﻳﺲ‬

‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ ﻓﹶﻬ‬‫ﻢ‬‫ﻠﹶﻰ ﺃﹶﻛﹾﺜﹶﺮﹺﻫ‬‫ﻝﹸ ﻋ‬‫ ﺍﻟﹾﻘﹶﻮ‬‫ﻖ‬‫ ﺣ‬‫ ﻟﹶﻘﹶﺪ‬.‫ﻠﹸﻮﻥﹶ‬‫ ﻏﹶﺎﻓ‬‫ﻢ‬‫ ﻓﹶﻬ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺎﺅ‬‫ﺁﺑ‬ “Yaa siin. Demi Al Quran yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, yang berada diatas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapakbapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.” (Yaasiin: 1-7). Para rasul terus menerus mentahdzir kaumnya, namun kaumnya selalu berpaling bahkan berani menuduh dan mengatakan kepada para rasul sebagai tukang sihir dan orang gila. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻰ‬‫ﺎ ﺃﹶﺗ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ ﻛﹶﺬﹶﻟ‬‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺁﺧ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻬ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻊ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬.‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻭﺍ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻓﹶﻔ‬ ‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ ﻓﹶﻤ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻝﱠ ﻋ‬‫ﻮ‬‫ ﻓﹶﺘ‬.‫ ﻃﹶﺎﻏﹸﻮﻥﹶ‬‫ﻡ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻢ‬‫ﻞﹾ ﻫ‬‫ ﺑ‬‫ﺍ ﺑﹺﻪ‬‫ﻮ‬‫ﺍﺻ‬‫ﻮ‬‫ ﺃﹶﺗ‬.‫ﻮﻥﹲ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ ﻣ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺣ‬‫ﻮﻝﹴ ﺇﹺﻻ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺳ‬‫ﺳ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬

.‫ﻨﹺﲔ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻔﹶﻊ‬‫ﻨ‬‫ﻯ ﺗ‬‫ ﻓﹶﺈﹺﻥﱠ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﺫﹶﻛﱢﺮ‬‫ ﻭ‬.‫ﻠﹸﻮﻡﹴ‬‫ﺑﹺﻤ‬ “Maka bersegeralah kembali kepada Allah, sungguh aku pemberi peringatan yang jelas dari Allah untuk kalian. Dan janganlah kalian mengadakan sesembahan yang lain selain Allah. Sungguh aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah. Demikianlah disetiap kali seorang rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka [kaumnya] pasti mengatakan; “Dia itu tukang sihir atau orang gila”. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampui batas. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan engkau sama sekali tidak tercela. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang yang beriman.” (Ath-Thur: 50-55). Dengan keberadaan para rasul yang senantiasa memberi kabar gembira dan mentahdzir kaumnya supaya nantinya kaum itu tidak punya alasan lagi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya : 21Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

‫ﺎ‬‫ﻴﻤ‬‫ﻜ‬‫ﺍ ﺣ‬‫ﺰﹺﻳﺰ‬‫ ﻋ‬‫ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻞﹺ ﻭ‬‫ﺳ‬‫ ﺍﻟﺮ‬‫ﺪ‬‫ ﻌ‬‫ﺔﹲ ﺑ‬‫ﺠ‬‫ ﺣ‬‫ﻠﹶﻰ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺎﺱﹺ ﻋ‬‫ﻠﻨ‬‫ﻜﹸﻮﻥﹶ ﻟ‬‫ﺌﹶﻼ ﻳ‬‫ ﻟ‬‫ﺭﹺﻳﻦ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﺮﹺﻳﻦ‬‫ﺸ‬‫ﺒ‬‫ﻼ ﻣ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 165). Dan semua rasul diutus mempunyai tujuan yang sama, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan : .‫ﻨﹺﲔ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻠﹾﻤ‬‫ﻯ ﻟ‬‫ﻛﹾﺮ‬‫ﺫ‬‫ﻈﹶﺔﹲ ﻭ‬‫ﻋ‬‫ﻮ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻖ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻩ‬‫ﺬ‬‫ﻲ ﻫ‬‫ ﻓ‬‫ﺎﺀَﻙ‬‫ﺟ‬‫ ﻭ‬‫ﻙ‬‫ﺍﺩ‬‫ ﻓﹸﺆ‬‫ ﺑﹺﻪ‬‫ﺖ‬‫ﺜﹶﺒ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ﻞﹺ ﻣ‬‫ﺳ‬‫ﺎﺀِ ﺍﻟﺮ‬‫ﺒ‬‫ ﺃﹶﻧ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﻘﹸﺺ‬‫ﻛﹸﻼ ﻧ‬‫ﻭ‬ “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Huud: 120). Setiap tahdziran/peringatan dalam Al-Qur’an selalu bertujuan kemaslahatan dunia dan akhirat berupa perintah supaya mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi kesyirikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : .‫ﲑ‬‫ﺸ‬‫ﺑ‬‫ ﻭ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻨﹺﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻭﺍ ﺇﹺﻻ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻌ‬‫ ﺃﹶﻻ ﺗ‬.‫ﺒﹺﲑﹴ‬‫ﻴﻢﹴ ﺧ‬‫ﻜ‬‫ﻥﹾ ﺣ‬‫ ﻟﹶﺪ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﹶﺖ‬‫ ﻓﹸﺼ‬‫ ﺛﹸﻢ‬‫ﻪ‬‫ﺎﺗ‬‫ ﺁﻳ‬‫ﺖ‬‫ﻤ‬‫ﻜ‬‫ ﺃﹸﺣ‬‫ﺎ ﺏ‬‫ﺘ‬‫ ﻛ‬.‫ﺍﻟﺮ‬ “Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu dari-Nya.” (Huud: 1-2). Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan: .‫ﺑﹺﲔ‬‫ ﺍﻷﻗﹾﺮ‬‫ﻚ‬‫ﺗ‬‫ﲑ‬‫ﺸ‬‫ ﻋ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ ﻭ‬.‫ﺬﱠﺑﹺﲔ‬‫ﻌ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻦ‬‫ﻜﹸﻮﻥﹶ ﻣ‬‫ ﻓﹶﺘ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺁﺧ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻬ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻊ‬‫ ﻣ‬‫ﻉ‬‫ﺪ‬‫ﻓﹶﻼ ﺗ‬ “Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) sesembahan yang lain selain Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di'azab. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara’: 213-214). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : ‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ ﻭ‬‫ﻲ ﻏﹶﻔﹾﻠﹶﺔ‬‫ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ ﺍﻷﻣ‬‫ﻲ‬‫ ﺇﹺﺫﹾ ﻗﹸﻀ‬‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﺴ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ﻭ‬

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

22

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (Maryam: 39). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ﺎ‬‫ﺎﻫ‬‫ﺸ‬‫ﺨ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ﻤ‬‫“ ﺇﹺﻧ‬Kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit).” (An-Naazi’at: 45).

23Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

BAB V KENAPA ADA YANG HARUS DIKATAKAN SESAT? Al-haq dan al-bathil akan terus berseteru -sejak Iblis membangkang dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam hingga hari akhir nanti- dengan perseteruan yang begitu sengit, dan tipu daya akan terus-menerus dilakukan oleh balatentara Iblis untuk mengaburkan al-haq dari al-bathil, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan tipu daya itu berlangsung berkepanjangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan tampakkan suatu pembeda yang jelas tentang hakekat keduanya: ‫ﺍ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﲔ‬‫ﺎﻟﹶﻤ‬‫ﻠﹾﻌ‬‫ﻜﹸﻮﻥﹶ ﻟ‬‫ﻴ‬‫ ﻟ‬‫ﻩ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻠﹶﻰ ﻋ‬‫ﻗﹶﺎﻥﹶ ﻋ‬‫ﻱ ﻧﺰﻝﹶ ﺍﻟﹾﻔﹸﺮ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻙ‬‫ﺎﺭ‬‫ﺒ‬‫ﺗ‬ “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (Al-Furqan: 1). Upaya pengaburan terhadap al-haq dan al-bathil akan terus gencar hingga sampai waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan, namun di tengah adanya pengaburan tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan orang-orang yang adil yang akan tampil untuk menjelaskan mana al-haq dan mana pula al-bathil, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : “Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang yang adil dari tiap-tiap generasi yang senantiasa berjuang menjaga agama ini dari pemutar balikan fakta, kedustaan atas nama agama dan penta’wilan orang-orang bodoh.” (Hadits ini dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Bani dalam Al-Misykah). Dahulu di zaman jahiliyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam belum diangkat sebagai nabi dan belum diutus sebagai rasul, beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam dikenal jujur, amanah, menyambung silaturrahmi, sopan santun, memuliakan tamu, dan perbuatan terpuji ada padanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam diakui oleh kaumnya, mereka memberikan gelar kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam sebagai Al-Amin. Namun di saat Nabi

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

24

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Shallallahu ‘alaihi wassallam diangkat sebagai nabi dan diutus sebagai rasul, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam mulai menda’wahkan tauhid dan mentahdzir kaumnya dari kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, akhirnya keadaanpun berbalik, tadinya mereka [kaum musyrikin] senang dan memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, kemudian mereka mencela, menghina dan bahkan sampai berusaha menghabisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Diantara ucapan keji yang keluar dari mulut-mulut mereka terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam khususnya dan para nabi umumnya, yaitu: - Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah pendusta - Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah tukang sihir - Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah orang gila - Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah orang sesat - Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul tidak ada apa-apanya, sama saja dengan kaumnya - Dan berbagai ucapan keji yang mereka [musyrikin] lontarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para shahabatnya, dan mereka tetap tidak mau mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Apakah dengan sikap mereka seperti itu kemudian kita katakan mereka sebagai mu’min? Muslim saja mereka tidak, apalagi sampai dikatakan mu’min. [Tanggapan terhadap ucapan mereka ini akan kami sebutkan pada pembahasan TANGGAPAN TERHADAP UCAPAN KEJI TERHADAP RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi wassallam] Merupakan suatu perkara yang sangat mengherankan ketika ada dari orang-orang yang berupaya menjelaskan antara al-haq dan al-bathil serta mentahdzir manusia dari al-bathil, tiba-tiba muncul suatu kelompok yang menghalanginya bahkan berupaya memeranginya, apalagi kalau 25Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

penjelasan dan tahdziran tersebut menyangkut mereka, merekapun menantang dan mengumumkan permusuhan. Jadi tidak heran apabila ada di sekitar kita, sebagian orang ketika mentahdzir suatu kelompok dan melabeli kelompok tersebut dengan label-label yang dinilai -- oleh orang yang tidak faham hakekatnya -tidak pantas. Sebagaimana label sururi, turotsi, hizbi atau yang semisalnya mereka pun akan membantah bukan sururi, turotsi, atau hizbi. Padahal bukti-bukti kejelasan perbuatan dan ucapan mereka bagaikan matahari di siang hari, diantara perkataan keji sekaligus sebagai bentuk tahdzir mereka terhadap Ahlussunnah dan para ‘Ulamanya adalah: 1. “Hati-hati dengan orang yang bernama Duktur Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali!”) 2. Sepulangnya dari Saudi, di Magelang Muhammad Wujud “memberikan oleh-oleh” tentang Syaikh Rabi’:“Kalau di Indonesia dia (Syaikh Rabi’) diulamakan, kalau di Saudi banyak yang seperti dia.” 3. Abdullah Taslim –semoga Allah meluruskan lisannya- berkata: “Adapun tentang syaikh Robi’ bin Hadi –semoga Allah Azza wa Jalla menjaganya- beliau tidak termasuk ulama yang paling senior di Saudi, karena ulama-ulama lain yang lebih tua dan lebih lama belajar dibanding beliau banyak di Saudi…” (Konsultasi Ustadz: Memahami Kaidah Al Jarhul Mufassar Muqaddamun Alatta’diil dan Sikap Kita di Tengah Kerasnya Gelombang Fitnah (UPDATE), artikel ke 338, Muslim) 4. Murid besar Syarif Hazza’ si kaki tangan Ihya’ut Turots, Abu Mus’ab menyatakan:“Syaikh Rabi’ yang membantah Syarif Hazza’ adalah Shighar ulama (ulama kecil)” 5. Abu Nida’ Chamsaha Safwan, Lc, petinggi yayasan Majelis AtTurots al-Islamy yang berkata tentang kitab-kitab dan kaset karya para Ulama Salafiyyin: “Adapun tentang kitab-kitab dan kaset-kaset yang pada dasarnya ditujukan kepada kami (yang secara khusus kami belum menerimanya dari antum) Pada Dasarnya Adalah BarangBarang Yang Pasif yang kami tidak bisa bertanya dan bertabayyun

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

26

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

secara langsung, hanya sebatas kepada kitab dan kaset” (Dinukil dari selebaran Yayasan At-Turots yang dikeluarkan pada tanggal 4 Jumadil Akhir 1417H/17 Oktober 1996) 6. Itu kan hanya fatwa ulama! 7. Mereka [ulama] adalah rijal, kami juga rijal (laki-laki) 8. Mereka kan hanya ulama biasa bukan ulama kibar (besar) 9. Kami tidak mau perkataan ulama itu! Kami masih tunggu ulama kibar dan ulama senior. 10. Syaikh Rabi’ tidak termasuk ulama paling senior di Saudi 11. Itu kan hanya masalah khilafiyah ijtihadiyyah 12. Kami memperbaiki Yayasan dan Ma’had hizbiyyah dari dalam. 13. Jangan kalian seperti orang yang tidak punya rasa syukur, gurunya saja ditahdzir habis-habisan 14. Tidak usah tahdzir-tahdziran lah! Semangat saja belajar dan ibadah biar masuk Surga! Itu tujuan kita, kan? 15. Ga usah ngomongin tahdzir-tahdziran… 16. Ahli tahdzir picisan bermanhaj salafi extreme berkelakar 17. Biarkan [yang ditahdzir itu], dia juga punya jasa! Semua orang bisa salah dan bisa benar. 18. Ahlussunnah [atau Salafy] itu keras-keras karena kebanyakan mantan-mantan preman, jadi watak kepremanannya itu masih terus ada. Apalagi ucapan yang begitu garang dan ganas pada tahun 2005 mengirim email (setelah pembubaran LJ) dan memvonis ex-LJ sebagai bajinganbajingan Khawarij! Berikut nukilan email ganasnya: “From Forum Konsultasi Terpadu Al-Islam Sun Sep 25 23:53:13 2005 [email protected] ass.wr.wb, kalian memang orang-orang Berkepala Batu Dan Tahu Malu (???!-peny). serta Tidak Punya Muka And Muka Tembok(???!-peny). …JADI RENUNGKANLAH BAJINGAN-BAIJNGAN KHAWARIJ. sebelum Allah membuka borok-borok kalian yang menjijikkan. Atau KALO KALIAN MASIH PUNYA NYALI DAN JANTAN MANA 27Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

PEMBESAR-PEMBESAR KALIAN, YA BAJINGAN KHAWARIJ YANG MENGAKU SALAFY, INILAH TANTANGAN RANDI FIDAYANTO, jika kalian memang orang-orang yang benar. …JANGAN KALIAN WAHAI PEMBESAR-PEMBESAR KHAWARIJ YANG BISANYA MENIPU DAN MENDOKTRIN BEBEK-BEBEK YANG TIDAK PUNYA DALIL. Randi Fidayanto, Lc Purwokerto” 1 Dan berbagai ucapan keji semakna yang keluar dari mulut-mulut mereka terhadap Ahlussunnah dan para ‘Ulamanya yang jelas-jelas menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan mereka tetap tidak mau beradab terhadap ‘Ulama Ahlussunnah, apakah dengan sikap mereka seperti itu terhadap Ulama Ahlussunnah menjadikan mereka sebagai Ahlussunnah? Berapa banyak ayat dan hadits serta perkataan salafush shalih yang dipaparkan oleh para ‘Ulama Ahlussunnah ketika mentahdzir kesesatan dan penyimpangan, namun malah mereka berani nantang Ulama Ahlussunnah. Subhanallah! [Insya Allah tanggapan atas ucapan keji tersebut akan ada pada pembahasan INI TANGGAPAN ATAS UCAPAN KEJI ITU] Apa lagi ucapan super kasar yang dihindari sendiri oleh pakar bahasa Halus, Abduh Zulfidar Akaha, Lc seperti di footnote berikut ini,2

1

http://nyata.wordpress.com/2008/04/21/superman-dan-dakwah-dari-dalam/ Saya makin benci salafi... Ketika mereka yang baru menyatakan diri salafilangsung main menyalahkan orang; itu salah, itu bid'ah, itu sururi, itusesat, itu kafir…. Saya makin benci salafi... Ketika mereka merenggut orang terdekat dalam keluarga saya, dan mereka mencekokinya dengan doktrin-doktrin murahan beriming-iming surga. Saya makin benci salafi... Ketika mereka sibuk menggembar-gemborkan musibah yang terjadi di Indonesia adalah akibat kesesatan dan bid'ah yang dikerjakan rakyat negeri ini. Saya makin benci salafi... Ketika mereka sangat antusias membela bangsa lain ketimbang bangsa negeri sendiri. Saya makin benci salafi... Ketika mereka bersinggungan dengan saya, mereka halalkan darah saya, mereka mengejar saya. Saya makin benci salafi... Tapi saya bisa apa...!!! Bangsat kau salafi!!! Kupretist Sat, Jun 21, 2008 at 11:33 AM 2

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

28

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

atau sumpah serapah seperti ini.3 Tak terhitung ucapan, hujatan, bahkan ancaman fisik, pembunuhan juga terlontar pada Ahlussunnah. Seperti ucapan di bawah topik "Ane kesal ama SALAFY", ada postingan salaf pada 03 Mei 2006, 14:07:17 : "ane ingin ngumpulin salafiyun trus tak sembelih satu-satu. biar kapok. setuju nggak ente-ente?" (http://myquran.org/forum/index.php/topic,2418.msg35330/topicseen.ht ml#msg35330). Di bawah topik "Siapa yang Menaungi Manhaj ‘Killer’ ?", ada postingan tuingtuing pada 29 April 2008, 16:51:12 : "wah, di-hajr

3 SALAFUSHOLEH TIDAK SEPERTI "SALAFI" ADA TIGA JULUKAN BAGUS UNTUK ORANG-ORANG "SALAFI": 1. SALAFI BERMULUT ANJING 2. SALAFI BAJINGAN 3. SALAFI AHLI MENGGONGGONG http://hidupsalafusholeh.blogspot.com/ Minggu, 2008 Juni 01 : “DIMANA-MANA ORANG DENGAN BAJU KEARAB-ARABAN PLUS JENGGOT, CELANA CINGKRANG, YANG HOBINYA BILANG BIT’AH-BIT’AH MENUDUH ORANG SEMBARANGAN. MEREKA INILAH YANG DINAMAKAN ORANGORANG SALAFI. SALAFI MEMANG ANJING, MELIHAT WAJAHNYA SAJA SUDAH LANGSUNG TERBAYANG WAJAH ANJING YANG SUKA MENGGOGONG. SEKALI LAGI SALAFI TERBUKTI BERMULUT SEPERTI ANJING SENANG SEKALI LIHAT ORANG SALAFI DIBUNUH DAN DIRENDAHKAN AKIBAT DARI KELAUANNYA YANG SUKA MEM-BIT’AHKAN DAN MENGKAFIRKAN KELOMPOK ISLAM YANG LAIN. PADAHAL KELOMPOK ISLAM INI TELAH TERBUKTI BERPEGANG TEGUH PADA AJARAN ISLAM. SALAFI MEMANG ANJING…ANJING…BAJINGAN….ASU…BABI…DAN HEWAN TERCELA LAINNYA. DIMANA-MANA ORANG DENGAN BAJU KEARAB-ARABAN PLUS JENGGOT, CELANA CINGKRANG, YANG HOBINYA BILANG BIT’AH-BIT’AH MENUDUH ORANG SEMBARANGAN. MEREKA INILAH YANG DINAMAKAN ORANG-ORANG SALAFI.

(8x) http://hidupsalafusholeh.blogspot.com/2008/06/salafi-asubajingan.html Rabu, 2008 April 09. Salafi memang BAJINGAN, suka mengkritik kelompok Islam yang lain. Padahal golongan yang dikritik oleh salafi jauh lebih baik daripada Salafi. Justru kelompok yang dikritik malah lebih berakhlak seperti akhlaknya para Salafusholeh. Sekali lagi, salafi memang bukan Salafusholeh. Salafusholeh selalu menghormati perbedaan pendapat. Sedangkan"salafi" TIDAK. Sehingga wajar bila disebut ORANG-ORANG SALAFI MULUTNYA SEPERTI MULUT ANJING, suka menggonggong GUK...GUK...GUK...KAING..KAING... http://hidupsalafusholeh.blogspot.com/2008/04/salafi-memang-anjing.html

29Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

masih mending pak. DI HAJAR AJA SEKALIAN. http://myquran.org/forum/index.php/topic,38160.msg1056622.html Tak luput juga dari ucapan Abu Abdirrahman Al Thalibi alias Joko Waskito yang menghina ma’had Darul Hadits Yaman, di bawah topik "Beda Salafus Shalih dengan Khawarij Modern" pada 03 Mei 2008 11:51:57 : "Namun di tangan Khawarij jaman modern, segalanya jadi berubah. Mereka membenci urusan dunia, mendoktrin pengikutpengikutnya untuk “belajar din saja”, tidak mau tahu urusan masyarakat, membenci masalah politik, tidak tahu perkembangan ekonomi, informasi, budaya, dst. Bahkan di Ma’had Daarul Hadits Syaikh Muqbil di Yaman, disana tidak ada listrik, rumah-rumah dari tembok tanah, tidak tersentuh teknologi.” Inilah ejekan, hinaan, celaan, pada Ahlussunnah dan Ulamanya dari hizbiyyun itu. Maka sebagai peringatan dan nasehat Al Imam Al Hafidz Abul Qasim Ibnu ‘Asakir rahimahullah dalam dalam kitab Tabyiinu Kadzbil Mufari (halaman 29-30) berkata: “Ketahuilah, wahai saudaraku [semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua ke dalam keridhaan-Nya dan memasukkan kita ke dalam golongan orangorang yang takut kepada-Nya dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa] bahwa daging para ulama itu beracun, sebagaimana diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyingkap penutup orangorang yang menghinakan mereka dan siapa saja yang melepaskan lidahnya untuk menjelekkan dan menghinakan para ulama, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ditimpakan kepada orang tersebut berupa hati yang mati sebelum kematian dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻴﻢ‬‫ ﺃﹶﻟ‬‫ﺬﹶﺍﺏ‬‫ ﻋ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻴﺒ‬‫ﺼ‬‫ ﻳ‬‫ﺔﹲ ﺃﹶﻭ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻴﺒ‬‫ﺼ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﺮﹺﻩ‬‫ ﺃﹶﻣ‬‫ﻦ‬‫ﻔﹸﻮﻥﹶ ﻋ‬‫ﺎﻟ‬‫ﺨ‬‫ ﻳ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺬﹶﺭﹺ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﺤ‬‫ﻓﹶﻠﹾﻴ‬ “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (An Nur: 63) Walaupun mereka [yang mengucapkan kata-kata keji tersebut] mengatakan: “Kami adalah ahlussunnah wal Jama’ah, kami tidak pernah mencela atau menjelek-jelekan penguasa apalagi sampai memberontak Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

30

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

kepada penguasa muslim, karena sifat mencela dan menjelek-jelekan penguasa muslim adalah sifatnya Muhammad Surur Zainal Abidin [dan orang-orang yang sefaham dengannya] bukan kami. Dan kami tidak pula mengkafirkan ahlu kiblat dari kaum muslimin.” Namun ucapan mereka ini tidak ubahnya hanya permainan kata-kata dusta yang penuh hiasan. Maka kami tegaskan: “Memang mereka tidak pernah memberontak kepada penguasa dan tidak mengkafirkan kaum muslimin, namun ini hanya satu sifat Surury yang terbebas [yang tidak ada] pada mereka dan juga kelompok mereka. Namun perlu diketahui, bahwa “Seseorang yang terbebas dari satu sifat, bukan suatu jaminan ia terbebas dari semua sifat”. Maka kami tegaskan lagi bahwa mereka adalah Surury atau minimalnya mereka adalah saudara-saudaranya Surury, karena sifat kesururiyahan lebih dominan pada mereka, dan kami tidak menyalahkan orang-orang menyatakan mereka adalah Hizbi! Catatan penting, Abdurrahman bin Abdul Karim at Tamimi Abu Auf adalah guru di Ma’had ‘Ali Al Irsyad Surabaya, yang sekarang menjadi STAI Ali bin Abi Thalib. Ma’had Abdurrahman at Tamimi ini berada di bawah DPW Al Irsyad Jawa Timur yang dipimpin Chalid Bawazir. Ketua PP Al Irsyad yang membawahi Chalid Bawazir adazlah Ir. Farouk Zein Badjabir. Chalid adalah sebagai sponsor utama daurahdaurah masyayikh Yordan dan Saudi, ternyata juga terbukti melakukan pembangkangan massal terhadap keputusan pemerintah yang mengillegal-kan PP Al Irsyad versi mereka. Setelah tanggal 1 Juli 2005 dikabarkan adanya “PENGUMUMAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA” di situs www.alirsyad.org, isinya “Mahkamah Agung Republik Indonesia akhirnya mengeluarkan Putusannya yang BERKEKUATAN HUKUM TETAP tetap dalam perkara No. 1702/K/PDT/2004 Jo. No. 31/PDT/2004/PT. DKI Jo. No. PDT.G/2002/PN.JKT.TIM...Menyatakan menurut hukum bahwa Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah dengan Ketua Umum Ir. 31Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

FAROUK ZEIN BAJABIR termasuk semua Personalia dan Fungsionarisnya yang diangkat dan Tawangmangu pada tanggal 16-17 Oktober 1999 maupun Muktamar Luar Biasa di Cilacap pada tanggal 03 sampai dengan Juli 2002 adalah cacat hukum, tidak sah dan batal demi hukum.”4 Lantas pejabat PP Al Irsyad, Ketua Majelis Organisasi & Kelembagaan, Husen Maskati, dalam artikel bertajuk “Tabayyun”, diposting di www.alirsyad.or.id pada tanggal 11 Juli 2005 pukul 02.41 pm, menuliskan : “Sebenarnya lebih afdhal lagi yang harus menjawab dan memberikan penilaian adalah Tim Mediator; Fuad Bawazier, Yusuf Thalib dan Sulaiman Ganis bukan Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung, sebab kita tahu siapa Bagirmanan dan siapa Abdurrahman Saleh serta bagaimana kondisi obyektif peradilan di Indonesia tercinta ini. Dengan demikian akan jelas siapa sebenarnya yang melanggar kesepakatan atau khianat dengan kesepakatan bersama yang telah dinyatakan secara lisan maupun tulisan dalam suatu keputusan yang sah dan disaksikan bersama oleh banyak orang.”5 Inilah penentangan yang jelas pada keputusan Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, lantaran keputusan yang tidak menyenangkan mereka, organisasinya dianggap ilegal. Hal ini terekam dalam catatan kami sejak tahun 2005.6 Pejabat Al Irsyad ini langsung menyebut nama pejabat negara waktu itu, Bagir Manan (Ketua MA) dan Abdurrahman Saleh (Jaksa Agung) tidak obyektif alias tidak adil.

4

http://alirsyad.net/index.php?option=com_content&task=view&id=45&Itemid=2 Nampak tulisan Husen Maskati di screen shot yang diambil pada tanggal 11 Juni 2006 kami rekam pada situs berikut http://img120.imageshack.us/img120/8438/ppalirsyadmenentangma11vz9.jpg. Judul artikel Tabayyun nampak di halaman utama situs Al Irsyad www.alirsyad.or.id pada 25 Desember tahun 2005. http://img71.imageshack.us/img71/8118/ppalirsyadmenentangma25jx8.jpg 6 http://img71.imageshack.us/img71/8118/ppalirsyadmenentangma25jx8.jpg 5

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

32

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Gambar 1. Bukti penentangan PP Al Irsyad pimpinan Ir. Farouk Zein Badjabir, rekan Abdurrahman Abu Auf at Tamimi (Surabaya), Drs. Chalid Bawazeer, penyelenggara daurah masyayikh Yordania dan Saudi beberapa tahun terakhir. Dipampangkan di situs www.alirsyad.or.id, rekaman yang ada versi 11 Mei 2006. Sekarang situs www.alirsyad.or.id diambil alih oleh PP Al Irsyad yang dimenangkan Mahkamah Agung RI. Jika mereka tidak mau dikatakan Surury [atau minimalnya saudara-saudaranya Surury], maka kami akan ceritakan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu : “Ada dua wanita dari Hudzail bertengkar, satu dari keduanya melemparkan batu kepada yang lain hingga meninggal dunia dan meninggal pula janin dalam perutnya”, maka dua wanita tersebut tadi, perkaranya diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 33Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

wassallam putuskan bahwa wanita yang melemparkan batu sehingga menggugurkan janin dalam kandungan itu harus membayar diat seorang budak laki-laki atau seorang budak perempuan. Maka berkatalah Hamal bin Malik bin An-Naabighoh Al-Hudzaliy: Bagaimana dimintai membayar diat [orang menggugurkan janin], yang janin tersebut tidak minum, tidak makan, tidak berucap dan tidak pula menangis/tertawa? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menyatakan: “Sesungguhnya dia (Hamal) termasuk saudara-saudaranya dukun”. Coba cermati, Hamal Al-Hudzaliy hanya melantunkan sajak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dengan tegas nyatakan dia termasuk saudara-saudaranya dukun, karena sajak seperti itu biasanya adalah lantunan para dukun, lagi pula sajaknya mengandung makna penentangan terhadap hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekarang coba bandingkan dengan mereka yang tidak mau dikatakan Surury atau saudara-saudaranya Surury, bukankan kemiripan mereka terhadap Syaikh mereka Muhammad Surur sangat banyak [dan lebih mendominasi], sedangkan Hamal Al-Hudzaliy mengucapkan sajak hanya sekali saja yang keluar dari mulutnya langsung dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam sebagai saudara-saudaranya dukun. Sangat bertolak-belakang-kan? Mereka hanya satu sifat yang tidak sama dengan Muhammad Surur yaitu tidak mencela atau memberontak kepada penguasa muslim dan tidak mengkafirkan kaum muslimin, sedangkan Hamal Al-Hudzaliy mengucapkan sajak hanya sekali ucapan saja dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam sebagai saudara-saudaranya dukun, bukankah lebih pas dan cocok kalau mereka menyandang gelar Surury karena lebih mendominasi kemiripan mereka dengan Syaikh Muhammad Surur? Adapun ketersinggungan mereka terhadap kami karena membantah ucapan keji yang keluar dari mulut mereka terhadap ‘Ulama Ahlussunnah itu, sehingga mereka menyatakan: “Memang itu kebiasaan dia mentahdzir kami, menuduh kami adalah Surury ketika di belakang kami, apakah begini cara yang hikmah ?”

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

34

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Maka kami katakan: “Tidak salah kalau kami atau ada sebagian orang menyikapi mereka seperti itu, bukankah hujjah telah sampai kepada mereka jauh-jauh hari sebelumnya, namun kini mereka mau bersikap masa bodoh. Sekali lagi, tidaklah salah apabila mereka disikapi seperti itu. Bukankah dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam selepas pembagian harta rampasan perang, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah orang yang sangat berlaku adil dan menginginkan orang-orang yang baru masuk Islam bertambah senang dan cinta terhadap Islam sehingga mereka mendapatkan hasil pembagian yang menyenangkan hati mereka, tiba-tiba Dzul Khuwaisirah at Tamimi yang nampak bijak dengan berjubah “Keadilan untuk kesejahteraan para pejuang”, mengangkat suara : “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menjawab: “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil”. Maka Umar bin Al-Khaththab [dalam riwayat lain, Khalid bin Al-Walid] menyatakan: “Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya!”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menjawab “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari ar-ramiyyah2, dilihat nashl-nya (besi pada ujung anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat rishaf-nya (tempat masuknya nashl pada anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat nadhiy-nya (batang anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat qudzadz-nya (bulu-bulu yang ada pada anak panah) maka tidak didapati pula bekasnya. Anak panah itu benar-benar dengan cepat melewati/menembus lambung dan darah (hewan buruan itu). Ciri-cirinya, (di tengah-tengah mereka) ada seorang laki-laki hitam, salah satu lengannya seperti payudara wanita atau seperti potongan daging yang bergoyang-goyang, mereka akan muncul di saat terjadi perpecahan di antara kaum 35Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

muslimin.”. Dan perkataan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassallam ini tidak diperdengarkan langsung kepada penggagas faham khawarij tadi. Maka apakah mereka akan menyalahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam tidak bicara langsung didepannya? Dan ketika mereka ditahdzir oleh sebagian mantan teman-teman atau mantan mad’u-nya, ditahdzir dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau hadits-hadits atau dengan ucapan salafush sholih supaya mereka sadar dan mau bertaubat untuk tidak lagi duduk atau mencari ilmu di pangkuan ahlu bid’ah atau ahlu ahwa’, mereka dengan lisan yang ringan menjawab: “Biarkanlah ahlu tahdzir itu mentahdzir, tidak perlu kita tersibukkan dengan mereka, biarkan! Nantinya juga –kalau sudah capek atau bosan- akan berhenti dan diam dengan sendirinya.” Subhanallah. Maka perlu digaris-atasi bahwa ucapan seperti ini merupakan bentuk tidak beradabnya mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala , padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : ‫ﻭﻥﹶ‬‫ﻔﹶﻜﱠﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻠﱠﻬ‬‫ﻟﹶﻌ‬‫ ﻭ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺎ ﻧﺰﻝﹶ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﺎﺱﹺ ﻣ‬‫ﻠﻨ‬‫ ﻟ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﺘ‬‫ ﻟ‬‫ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﻚ‬‫ﺎ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﺃﹶﻧﺰﻟﹾﻨ‬‫ﻭ‬ “Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Nabi) Adz-Dzikr, agar kamu menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka. Semoga mereka mau berfikir.” (An-Nahl: 44). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menjelaskan AlQur’an kemudian sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam diteruskan oleh pewarisnya yaitu para ulama. Para ulama-pun merealisasikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﻚ‬‫ﺎ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﺃﹶﻧﺰﻟﹾﻨ‬‫ ﻭ‬yaitu pada Al-Qur’an tersebut telah ada penyebutan tentang apa saja yang dibutuhkan oleh hamba berupa penjelasan atau keterangan tentang urusan mereka yang kaitannya dengan perkara dien (agama) atau perkara dunia mereka, yang zhahir atau yang bathin. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam juga diperintahkan untuk menjelaskan kepada manusia pada umumnya serta mentahdzir mereka dari kesesatan berupa syirik, maksiat dan bid’ah. Sedangkan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala : Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

36

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺎ ﻧﺰﻝﹶ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﺎﺱﹺ ﻣ‬‫ﻠﻨ‬‫ ﻟ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ ﺘ‬‫ﻟ‬ [supaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menjelaskan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka berupa Adz-Dzikr] yang mencakup penjelasan dari segi lafadznya ataupun menjelaskan dari segi maknanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam memberikan pengajaran atau tahdzir supaya kita mengikutinya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam ketika mempraktekkan sholat di hadapan para shahabat tepatnya di atas mimbar, beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya tadi aku lakukan hal itu agar kalian mengikuti aku dan kalian dapat belajar tentang salatku.” (HR. Bukhari, jilid 1, hal 106, HR Muslim) Dan dalam beberapa hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mentahdzir langsung dengan lisan, seperti tahdzir terhadap Khawarij : “Anjing-anjing neraka. Mereka adalah sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh AlAjurri dalam Asy-Syari’ah hal. 156)]. Terkadang pula dengan perbuatan, seperti tahdzir atas sahabat Ka’ab bin Malik Radiyallahu ‘anhu lantaran tidak ikut jihad pada perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para shahabat tidak mengajaknya bicara. Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mengumpulkan keduanya yakni tahdzir dengan perkataan dan perbuatan, seperti tahdzir terhadap penggagas faham Khawarij. Lantas kenapa mereka kemudian mau bermasa bodoh atau berpura-pura bodoh dengan masalah tahdzir? Apakah mereka tidak mau tahu di balik keasyikan bergaul dengan ahlu bid’ah, bermesraan dengan kesesatan dan penyimpangan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan palingkan mereka dari kebaikan dan rahmatNya menuju kejelekkan dan kehinaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺍ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺇﹺﻥﹾ ﻳ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﺔ‬‫ﺍ ﻛﹸﻞﱠ ﺁﻳ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺇﹺﻥﹾ ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻖ‬‫ﺮﹺ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻴ‬‫ﺽﹺ ﺑﹺﻐ‬‫ﻲ ﺍﻷﺭ‬‫ﻭﻥﹶ ﻓ‬‫ﺮ‬‫ﻜﹶﺒ‬‫ﺘ‬‫ ﻳ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻲ‬‫ﺎﺗ‬‫ ﺁﻳ‬‫ﻦ‬‫ ﻋ‬‫ﺮﹺﻑ‬‫ﺄﹶﺻ‬‫ﺳ‬ ‫ﲔ‬‫ﻠ‬‫ﺎ ﻏﹶﺎﻓ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻮﺍ ﻋ‬‫ﻛﹶﺎﻧ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺗ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺂﻳ‬‫ ﻛﹶﺬﱠﺑ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ ﺑﹺﺄﹶﻧ‬‫ﻚ‬‫ﺒﹺﻴﻼ ﺫﹶﻟ‬‫ ﺳ‬‫ﺬﹸﻭﻩ‬‫ﺨ‬‫ﺘ‬‫ ﻳ‬‫ﻲ‬‫ﺒﹺﻴﻞﹶ ﺍﻟﹾﻐ‬‫ﺍ ﺳ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻳ‬‫ﺒﹺﻴﻼ ﻭ‬‫ ﺳ‬‫ﺬﹸﻭﻩ‬‫ﺨ‬‫ﺘ‬‫ ﻻ ﻳ‬‫ﺪ‬‫ﺷ‬‫ﺒﹺﻴﻞﹶ ﺍﻟﺮ‬‫ﺳ‬

37Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika melihat jalan yang membawa petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (AlA’raf: 146). Memang mereka [Surury] ada kebanggaan tersendiri ketika dikatakan mereka adalah Surury, mungkin mereka akan berkata: “Tidak, kami bukan Surury, tidakkah kalian lihat bahwa kami mengajarkan kitabkitab ulama Ahlussunnah? Lihatlah pula bahwa kami sudah banyak memperkenalkan dakwah Ahlussunnah ini kepada orang awam, dan berapa banyak yang menerima dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah dari kami?” Maka kami katakan: Dengan adanya andil dan peran mereka seperti itu, sehingga masyarakat tahu tentang aqidah Ahlussunnah dari mereka, atau mengerti adab Islami dari mereka dan faham hukum-hukum Islam dari mereka, maka yang demikian itu adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam : “Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan [sebab] orang yang fajir (pembuat dosa)”. (Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu) Dengan pernyataan yang tegas dan kokoh tersebut kemudian bisa menimbulkan kritikan dari berbagai pihak termasuk dari pihak Surury sendiri, kenapa harus dibeda-bedakan? Bukankah ada kesamaan walaupun, beberapa sisi ada perbedaan, lagi pula lebih mendominasi pada ciri Salafi dan sedikit pada sifat Sururi ? Kenapa masih ada penyebutan pihak sana dikatakan Surury, Turotsi, yang pihak lain dikatakan Salafy [Ahlussunnah]? Maka sebagai jawaban bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : ‫ﺎﺭﹺ‬‫ ﻛﹶﺎﻟﹾﻔﹸﺠ‬‫ﲔ‬‫ﻘ‬‫ﺘ‬‫ﻞﹸ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ ﻧ‬‫ﺽﹺ ﺃﹶﻡ‬‫ﻲ ﺍﻷﺭ‬‫ ﻓ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻔﹾﺴِﺪ‬‫ ﻛﹶﺎﻟﹾﻤ‬‫ﺎﺕ‬‫ﺤ‬‫ﺎﻟ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﺍﻟﺼ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻞﹸ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ ﻧ‬‫ﺃﹶﻡ‬

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

38

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orangorang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?” (Shaad: 28). Demikianlah pernyataan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kamipun nyatakan: Patutkah kami menganggap orang-orang yang mencela, mencaci dan menghina ‘Ulama Ahlussunnah sama dengan Salafy [Ahlussunnah]? Patutkah kami menganggap orang-orang yang berteman dengan ahlu bid’ah serta ahlu ahwa’ sama dengan berteman dengan Salafy? Wallahu a’la wa a’lam.

39Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

BAB VI Tanggapan Terhadap Ucapan Keji Terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam VI.a. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah Pendusta? Kaum musyrikin memiliki andil yang sangat besar dalam menjelek-jelekkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam , ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mentahdzir mereka dengan firman Allah (Al-Qur’an), mereka balik mengatakan: Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah pendusta. Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan tentang perkataan mereka: ‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺮ‬‫ ﺁﺧ‬‫ﻡ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﻪ‬‫ﺎﻧ‬‫ﺃﹶﻋ‬‫ ﻭ‬‫ﺍﻩ‬‫ﺮ‬‫ ﺍﻓﹾﺘ‬‫ﺬﹶﺍ ﺇﹺﻻ ﺇﹺﻓﹾﻚ‬‫ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬ “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan [oleh Muhammad], dan dia dibantu oleh suatu kaum yang lainnya.” (AlFurqan: 4). Dan tidak ketinggalan pula kaum munafiqin ikut mengucapkan perkataan keji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan: ‫ﺍ‬‫ﻭﺭ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻏﹸﺮ‬‫ﻮﻟﹸﻪ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﺎ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﻋ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ ﻣ‬‫ﺽ‬‫ﺮ‬‫ ﻣ‬‫ﻲ ﻗﹸﻠﹸﻮﺑﹺﻬﹺﻢ‬‫ ﻓ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻘﹸﻮﻥﹶ ﻭ‬‫ﺎﻓ‬‫ﻨ‬‫ﻘﹸﻮﻝﹸ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺇﹺﺫﹾ ﻳ‬‫ﻭ‬ “Dan ketika orang-orang munafiq yang di dalam hati mereka ada penyakit, mereka berkata; Allah dan Rasul-Nya tidak pernah janjikan kepada kami melainkan hanya tipuan.” (Al-Ahzab: 12). Dan sama pula pada umat-umat terdahulu ketika nabi Hud ‘alaihissalam mentahdzir mereka supaya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya, mereka balik mentahdzir, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan : ‫ﺑﹺﲔ‬‫ ﺍﻟﹾﻜﹶﺎﺫ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ﻈﹸﻨ‬‫ﺎ ﻟﹶﻨ‬‫ﺇﹺﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﺔ‬‫ﻔﹶﺎﻫ‬‫ﻲ ﺳ‬‫ ﻓ‬‫ﺍﻙ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﻟﹶﻨ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻣ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻦ‬‫ﻭﺍ ﻣ‬‫ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻸ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﹾﻤ‬ “Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami menyangka kamu adalah pendusta.” (Al-A’rof: 66). Nabi Hud ‘alaihissalam membantah mereka dan mengingatkan mereka tentang azab Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

40

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Allah Subhanahu wa Ta’ala namun tidaklah membuat mereka sadar. Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan: ‫ﲔ‬‫ ﺃﹶﻣ‬‫ﺢ‬‫ﺎﺻ‬‫ ﻧ‬‫ﺎ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﺃﹶﻧ‬‫ﻲ ﻭ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﺎﻻﺕ‬‫ ﺭﹺﺳ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻠﱢﻐ‬‫ ﺃﹸﺑ‬‫ﲔ‬‫ﺎﻟﹶﻤ‬‫ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ﺏ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ﻮﻝﹲ ﻣ‬‫ﺳ‬‫ﻲ ﺭ‬‫ﻨ‬‫ﻟﹶﻜ‬‫ﺔﹲ ﻭ‬‫ﻔﹶﺎﻫ‬‫ ﺑﹺﻲ ﺳ‬‫ﺲ‬‫ﻡﹺ ﻟﹶﻴ‬‫ﺎ ﻗﹶﻮ‬‫ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻳ‬ “Dia [Hud] menjawab: “Wahai kaumku! Bukannya aku kurang waras, tetapi aku ini adalah Rasul dari Robb seluruh alam, aku menyampaikan amanat Robbku dan pemberi nasehat terpercaya kepada kalian.” (AlA’rof: 67-68). Bahkan Fir’aun, Hamman dan Qarun ketika didatangi oleh Musa ‘alaihissalam dalam mentahdzir mereka, mereka berkata Musa ‘alaihissalam tukang sihir dan pendusta, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan : ‫ﻰ‬‫ﻮﺳ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ ﺃﹶﺭ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻘﹶﺎﺏﹺ ﻭ‬‫ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ﻳﺪ‬‫ﺪ‬‫ ﺷ‬‫ ﻗﹶﻮﹺﻱ‬‫ﻪ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻢ‬‫ﺬﹶﻫ‬‫ﻭﺍ ﻓﹶﺄﹶﺧ‬‫ ﻓﹶﻜﹶﻔﹶﺮ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ ﺑﹺﺎﻟﹾﺒ‬‫ﻢ‬‫ﻠﹸﻬ‬‫ﺳ‬‫ ﺭ‬‫ﻴﻬﹺﻢ‬‫ﺄﹾﺗ‬‫ ﺗ‬‫ﺖ‬‫ ﻛﹶﺎﻧ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ ﺑﹺﺄﹶﻧ‬‫ﻚ‬‫ﺫﹶﻟ‬ ‫ ﻛﹶﺬﱠﺍﺏ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺣ‬‫ﻭﻥﹶ ﻓﹶﻘﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺳ‬‫ﻗﹶﺎﺭ‬‫ﺎﻥﹶ ﻭ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻫ‬‫ﻥﹶ ﻭ‬‫ﻮ‬‫ﻋ‬‫ﺮ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﻓ‬.‫ﺒﹺﲔﹴ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﹾﻄﹶﺎﻥ‬‫ﺳ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺗ‬‫ﺑﹺﺂﻳ‬ “Yang demiklan itu adalah karena telah datang kepada mereka rosulrosul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya. Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Hamman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang tukang sihir yang pendusta". (Ghaafir: 22-24).

VI.b. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Para Rasul adalah Tukang Sihir atau Terkena Sihir? Adalah bukti yang sangat jelas ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dengan tegas mentahdzir kaum musyrikin dari kesyirikan dan kesesatan mereka balik mantahdzir manusia agar tidak seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam yang mereka katakan sebagai tukang sihir. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan ucapan mereka: ‫ﺍ‬‫ﻮﺭ‬‫ﺤ‬‫ﺴ‬‫ﻼ ﻣ‬‫ﺟ‬‫ﻮﻥﹶ ﺇﹺﻻ ﺭ‬‫ﺒﹺﻌ‬‫ﺘ‬‫ﻮﻥﹶ ﺇﹺﻥﹾ ﺗ‬‫ﻤ‬‫ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﻈﱠﺎﻟ‬‫ﻭ‬

41Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

“Dan orang-orang yang zholim itu berkata: Kalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.” (Al-Furqan: 8). Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan pula tentang sikap mereka itu: ‫ﺎ ﺑﹺﻪ‬‫ﺇﹺﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ﺬﹶﺍ ﺳ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻫ‬‫ﻖ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ﻟﹶﻤ‬‫ ﻭ‬.‫ﺒﹺﲔ‬‫ﻮﻝﹲ ﻣ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻖ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﻰ ﺟ‬‫ﺘ‬‫ ﺣ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﺁﺑ‬‫ﻻﺀِ ﻭ‬‫ﺆ‬‫ ﻫ‬‫ﺖ‬‫ﻌ‬‫ﺘ‬‫ﻞﹾ ﻣ‬‫ﺑ‬

.‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺮ‬‫ﻛﹶﺎﻓ‬ “Bahkan Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan bapak-bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Quran) dan seorang rasul yang memberi penjelasan. Dan tatkala kebenaran (Al Quran) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya". (Az-Zukhruf: 29-30). Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan tanda-tanda kalau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah benar seorang rasul dan diutus untuk memberi peringatan mereka balik mengingkari tanda-tanda tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ﻘﹸﻮﻟﹸﻮﺍ ﺳ‬‫ﻳ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﺮﹺﺿ‬‫ﻌ‬‫ﺔﹰ ﻳ‬‫ﺍ ﺁﻳ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺇﹺﻥﹾ ﻳ‬‫ﻭ‬ “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (Al-Qomar: 2). Disaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mentahdzir kaum musyrikin agar mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ,mereka balik menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam sebagai tukang sihir yang banyak berdusta. Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan: ٌ‫ﺀ‬‫ﻲ‬‫ﺬﹶﺍ ﻟﹶﺸ‬‫ﺍ ﺇﹺﻥﱠ ﻫ‬‫ﺪ‬‫ﺍﺣ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺔﹶ ﺇﹺﻟﹶﻬ‬‫ﻬ‬‫ﻞﹶ ﺍﻵﻟ‬‫ﻌ‬‫ ﺃﹶﺟ‬.‫ ﻛﹶﺬﱠﺍﺏ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺣ‬‫ﺬﹶﺍ ﺳ‬‫ﻭﻥﹶ ﻫ‬‫ﺮ‬‫ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﹾﻜﹶﺎﻓ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﺭ‬‫ﺬ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺎ ﺀَﻫ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻥﹾ ﺟ‬‫ﺠﹺﺒ‬‫ﻋ‬‫ﻭ‬ ‫ﻠﱠﺔ‬‫ﻲ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺬﹶﺍ ﻓ‬‫ﺎ ﺑﹺﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻌ‬‫ﻤ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ ﻣ‬.‫ﺍﺩ‬‫ﺮ‬‫ﺀٌ ﻳ‬‫ﻲ‬‫ﺬﹶﺍ ﻟﹶﺸ‬‫ ﺇﹺﻥﱠ ﻫ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻬ‬‫ﻠﹶﻰ ﺁﻟ‬‫ﻭﺍ ﻋ‬‫ﺒﹺﺮ‬‫ﺍﺻ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﺸ‬‫ ﺍﻣ‬‫ ﺃﹶﻥ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻸ ﻣ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻄﹶﻠﹶﻖ‬‫ﺍﻧ‬‫ ﻭ‬.‫ﺎﺏ‬‫ﺠ‬‫ﻋ‬

‫ﻼﻕ‬‫ﺘ‬‫ﺬﹶﺍ ﺇﹺﻻ ﺍﺧ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﺍﻵﺧ‬ “Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja?

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

42

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kalian dan tetaplah (menyembah) sesembahan-sesembahan kalian, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (Shaad: 4-7). Dengan perlakuan kaum musyrikin tersebut, tidaklah kemudian membuat syari’at tahdzir terhapus atau terhenti, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala terus memerintahkan kepada rosul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam untuk tetap mentahdzir mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ﻲ‬‫ﻮﺍ ﻓﹶﺈﹺﻧ‬‫ﺼ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ ﻗﹸﻞﹾ ﺗ‬.‫ﻮﻥ‬‫ﻨ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺐ‬‫ﻳ‬‫ ﺭ‬‫ ﺑﹺﻪ‬‫ﺺ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺎﻋ‬‫ﻘﹸﻮﻟﹸﻮﻥﹶ ﺷ‬‫ ﻳ‬‫ ﺃﹶﻡ‬.‫ﻮﻥ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ﻻ ﻣ‬‫ﻦﹴ ﻭ‬‫ ﺑﹺﻜﹶﺎﻫ‬‫ﻚ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﺔ‬‫ﻤ‬‫ ﺑﹺﻨﹺﻌ‬‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ ﻓﹶﻤ‬‫ﻓﹶﺬﹶﻛﱢﺮ‬

.‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻞﹾ ﻻ ﻳ‬‫ ﺑ‬‫ﻟﹶﻪ‬‫ﻘﹶﻮ‬‫ﻘﹸﻮﻟﹸﻮﻥﹶ ﺗ‬‫ ﻳ‬‫ ﺃﹶﻡ‬.‫ ﻃﹶﺎﻏﹸﻮﻥﹶ‬‫ﻡ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻢ‬‫ ﻫ‬‫ﺬﹶﺍ ﺃﹶﻡ‬‫ ﺑﹺﻬ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻼﻣ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺮ‬‫ﺄﹾﻣ‬‫ ﺗ‬‫ ﺃﹶﻡ‬. ‫ﲔ‬‫ﺼ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ “Maka tetaplah memberi peringatan, dan karena disebabkan nikmat Robbmu kamu (Muhammad) bukanlah seorang dukun dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya". Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kalian". Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman.” (Ath-Thur: 29-33). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkisahkan nabi Syu’aib ‘alaihissalam ketika mentahdzir kaumnya: ‫ﺮﹺﻱ‬‫ﺮﹴ ﺇﹺﻥﹾ ﺃﹶﺟ‬‫ ﺃﹶﺟ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﻋ‬‫ﺄﹶﻟﹸﻜﹸﻢ‬‫ﺎ ﺃﹶﺳ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬.‫ﻮﻥ‬‫ﻴﻌ‬‫ﺃﹶﻃ‬‫ ﻭ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﻓﹶﺎﺗ‬.‫ﲔ‬‫ﻮﻝﹲ ﺃﹶﻣ‬‫ﺳ‬‫ ﺭ‬‫ﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬.‫ﻘﹸﻮﻥﹶ‬‫ﺘ‬‫ ﺃﹶﻻ ﺗ‬‫ﺐ‬‫ﻴ‬‫ﻌ‬‫ ﺷ‬‫ﻢ‬‫ﺇﹺﺫﹾ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻟﹶﻬ‬

‫ﻮﺍ‬‫ﺴ‬‫ﺨ‬‫ﺒ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬.‫ﻴﻢﹺ‬‫ﻘ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ﻄﹶﺎﺱﹺ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺴ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺎﻟﹾﻘ‬‫ﺯﹺﻧ‬‫ ﻭ‬.‫ﺴِﺮﹺﻳﻦ‬‫ﺨ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻦ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬‫ﻜﹸﻮﻧ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ﻞﹶ ﻭ‬‫ﻓﹸﻮﺍ ﺍﻟﹾﻜﹶﻴ‬‫ﺃﹶﻭ‬. ‫ﲔ‬‫ﺎﻟﹶﻤ‬‫ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ﺏ‬‫ﻠﹶﻰ ﺭ‬‫ﺇﹺﻻ ﻋ‬ ‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ﻤ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺇﹺﻧ‬‫ﲔ‬‫ﻟ‬‫ﺍﻟﹾﺠﹺﺒﹺﻠﱠﺔﹶ ﺍﻷﻭ‬‫ ﻭ‬‫ﻠﹶﻘﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻱ ﺧ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﺍﺗ‬‫ﻭ‬. ‫ﻳﻦ‬‫ﻔﹾﺴِﺪ‬‫ﺽﹺ ﻣ‬‫ﻲ ﺍﻷﺭ‬‫ﺍ ﻓ‬‫ﺜﹶﻮ‬‫ﻌ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﻴ‬‫ ﺃﹶﺷ‬‫ﺎﺱ‬‫ﺍﻟﻨ‬

.‫ﺑﹺﲔ‬‫ ﺍﻟﹾﻜﹶﺎﺫ‬‫ﻦ‬‫ ﻟﹶﻤ‬‫ﻚ‬‫ﻈﹸﻨ‬‫ﺇﹺﻥﹾ ﻧ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺜﹾﻠﹸﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺑ‬‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬.‫ﺮﹺﻳﻦ‬‫ﺤ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬ “Ketika Syu'aib berkata kepada mereka: "Mengapa kalian tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang 43Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

diutus) kepada kalian. maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Robb semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kalian merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kalian merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dan umat-umat yang dahulu". Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.” (Asy-Syu’ara’: 177-186). Diantara sekian bukti bahwa tahdzir akan terus ada, dan di zaman dahulu juga senantiasa diserukan oleh para rasul hingga rasul-rasul tersebut dikatakan tukang sihir, diantara mereka adalah nabi Musa ‘alaihissalam, beliau mentahdzir Fir’aun dan para tukang sihirnya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan: ‫ﻪ‬‫ﺜﹾﻠ‬‫ﺮﹴ ﻣ‬‫ ﺑﹺﺴِﺤ‬‫ﻚ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﺄﹾﺗ‬‫ ﻓﹶﻠﹶﻨ‬.‫ﻰ‬‫ﻮﺳ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ ﻳ‬‫ﺮﹺﻙ‬‫ﺎ ﺑﹺﺴِﺤ‬‫ﻨ‬‫ﺿ‬‫ ﺃﹶﺭ‬‫ﻦ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻨ‬‫ﺮﹺﺟ‬‫ﺨ‬‫ﺘ‬‫ﺎ ﻟ‬‫ﻨ‬‫ﻰ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺃﹶﺟﹺﺌﹾﺘ‬‫ﺃﹶﺑ‬‫ ﻭ‬‫ﺎ ﻓﹶﻜﹶﺬﱠﺏ‬‫ﺎ ﻛﹸﻠﱠﻬ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺗ‬‫ ﺁﻳ‬‫ﺎﻩ‬‫ﻨ‬‫ﻳ‬‫ ﺃﹶﺭ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎﺱ‬‫ ﺍﻟﻨ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﺤ‬‫ﺃﹶﻥﹾ ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﺔ‬‫ﻳﻨ‬‫ ﺍﻟﺰ‬‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ ﻳ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ﺪ‬‫ﻋ‬‫ﻮ‬‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻣ‬.‫ﻯ‬‫ﻮ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ﻜﹶﺎﻧ‬‫ ﻣ‬‫ﺖ‬‫ﻻ ﺃﹶﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﺤ‬‫ ﻧ‬‫ﻔﹸﻪ‬‫ﻠ‬‫ﺨ‬‫ﺍ ﻻ ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﻋ‬‫ﻮ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﻞﹾ ﺑ‬‫ﻌ‬‫ﻓﹶﺎﺟ‬ ‫ﺬﹶﺍﺏﹴ‬‫ ﺑﹺﻌ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺘ‬‫ﺤ‬‫ﺴ‬‫ﺎ ﻓﹶﻴ‬‫ﺑ‬‫ ﻛﹶﺬ‬‫ﻠﹶﻰ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻭﺍ ﻋ‬‫ﺮ‬‫ﻔﹾﺘ‬‫ ﻻ ﺗ‬‫ﻠﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻳ‬‫ﻰ ﻭ‬‫ﻮﺳ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻟﹶﻬ‬.‫ﻰ‬‫ ﺃﹶﺗ‬‫ ﺛﹸﻢ‬‫ﻩ‬‫ﺪ‬‫ ﻛﹶﻴ‬‫ﻊ‬‫ﻤ‬‫ﻥﹸ ﻓﹶﺠ‬‫ﻮ‬‫ﻋ‬‫ﺮ‬‫ﻟﱠﻰ ﻓ‬‫ﻮ‬‫ﻰ ﻓﹶﺘ‬‫ﺤ‬‫ﺿ‬ ‫ﺎﻛﹸﻢ‬‫ﺮﹺﺟ‬‫ﺨ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﻳ‬‫ﺍﻥ‬‫ﺮﹺﻳﺪ‬‫ ﻳ‬‫ﺍﻥ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺣ‬‫ ﻟﹶﺴ‬‫ﺬﹶﺍﻥ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬.‫ﻯ‬‫ﻮ‬‫ﺠ‬‫ﻭﺍ ﺍﻟﻨ‬‫ﺮ‬‫ﺃﹶﺳ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ ﺑ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺮ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻣ‬‫ﻋ‬‫ﺎﺯ‬‫ﻨ‬‫ ﻓﹶﺘ‬.‫ﻯ‬‫ﺮ‬‫ﻦﹺ ﺍﻓﹾﺘ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﺏ‬‫ ﺧ‬‫ﻗﹶﺪ‬‫ﻭ‬

‫ﻠﹶﻰ‬‫ﻌ‬‫ﺘ‬‫ﻦﹺ ﺍﺳ‬‫ ﻣ‬‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ ﺍﻟﹾﻴ‬‫ ﺃﹶﻓﹾﻠﹶﺢ‬‫ﻗﹶﺪ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻔ‬‫ﻮﺍ ﺻ‬‫ ﺍﺋﹾﺘ‬‫ ﺛﹸﻢ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ﺪ‬‫ﻮﺍ ﻛﹶﻴ‬‫ﻌ‬‫ﻤ‬‫ ﻓﹶﺄﹶﺟ‬.‫ﺜﹾﻠﹶﻰ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺎ ﺑﹺﻄﹶﺮﹺﻳﻘﹶﺘ‬‫ﺒ‬‫ﺬﹾﻫ‬‫ﻳ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻤ‬‫ﺮﹺﻫ‬‫ ﺑﹺﺴِﺤ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺿ‬‫ ﺃﹶﺭ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬

‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻪ‬‫ﻞﹸ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﻴ‬‫ﺨ‬‫ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻴ‬‫ﺼ‬‫ﻋ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻟﹸﻬ‬‫ﺒ‬‫ﻞﹾ ﺃﹶﻟﹾﻘﹸﻮﺍ ﻓﹶﺈﹺﺫﹶﺍ ﺣ‬‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺑ‬.‫ ﺃﹶﻟﹾﻘﹶﻰ‬‫ﻦ‬‫ﻝﹶ ﻣ‬‫ﻜﹸﻮﻥﹶ ﺃﹶﻭ‬‫ﺎ ﺃﹶﻥﹾ ﻧ‬‫ﺇﹺﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻲ‬‫ﻠﹾﻘ‬‫ﺎ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﻰ ﺇﹺﻣ‬‫ﻮﺳ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻳ‬ ‫ﻠﹾﻘﹶﻒ‬‫ ﺗ‬‫ﻴﻨﹺﻚ‬‫ﻤ‬‫ﻲ ﻳ‬‫ﺎ ﻓ‬‫ﺃﹶﻟﹾﻖﹺ ﻣ‬‫ ﻭ‬.‫ﻠﹶﻰ‬‫ ﺍﻷﻋ‬‫ﺖ‬‫ ﺃﹶﻧ‬‫ﻚ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻒ‬‫ﺨ‬‫ﺎ ﻻ ﺗ‬‫ ﻗﹸﻠﹾﻨ‬.‫ﻰ‬‫ﻮﺳ‬‫ﻴﻔﹶﺔﹰ ﻣ‬‫ ﺧ‬‫ﻔﹾﺴِﻪ‬‫ﻲ ﻧ‬‫ ﻓ‬‫ﺲ‬‫ﺟ‬‫ ﻓﹶﺄﹶﻭ‬.‫ﻰ‬‫ﻌ‬‫ﺴ‬‫ﺎ ﺗ‬‫ﻬ‬‫ ﺃﹶﻧ‬‫ﻢ‬‫ﺮﹺﻫ‬‫ﺤ‬‫ﺳ‬ ‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺎﺭ‬‫ ﻫ‬‫ﺏ‬‫ﺎ ﺑﹺﺮ‬‫ﻨ‬‫ﺍ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺁﻣ‬‫ﺪ‬‫ﺠ‬‫ﺓﹸ ﺳ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ ﺍﻟﺴ‬‫ﻲ‬‫ ﻓﹶﺄﹸﻟﹾﻘ‬.‫ﻰ‬‫ﺚﹸ ﺃﹶﺗ‬‫ﻴ‬‫ ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺣ‬‫ ﺍﻟﺴ‬‫ﺢ‬‫ﻔﹾﻠ‬‫ﻻ ﻳ‬‫ﺮﹴ ﻭ‬‫ﺎﺣ‬‫ ﺳ‬‫ﺪ‬‫ﻮﺍ ﻛﹶﻴ‬‫ﻌ‬‫ﻨ‬‫ﺎ ﺻ‬‫ﻤ‬‫ﻮﺍ ﺇﹺﻧ‬‫ﻌ‬‫ﻨ‬‫ﺎ ﺻ‬‫ﻣ‬

‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﹶﻜﹸﻢ‬‫ﺟ‬‫ﺃﹶﺭ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻳ‬‫ﺪ‬‫ ﺃﹶﻳ‬‫ﻦ‬‫ ﻓﹶﻸﻗﹶﻄﱢﻌ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ ﺍﻟﺴ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻠﱠﻤ‬‫ﻱ ﻋ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ ﻟﹶﻜﹶﺒﹺﲑ‬‫ﻪ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻞﹶ ﺃﹶﻥﹾ ﺁﺫﹶﻥﹶ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ ﻟﹶﻪ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻨ‬‫ﻰ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺁﻣ‬‫ﻮﺳ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬

.‫ﻘﹶﻰ‬‫ﺃﹶﺑ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺬﹶﺍﺑ‬‫ ﻋ‬‫ﺪ‬‫ﺎ ﺃﹶﺷ‬‫ﻨ‬‫ ﺃﹶﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ﻟﹶﺘ‬‫ﻞﹺ ﻭ‬‫ﺨ‬‫ﺬﹸﻭﻉﹺ ﺍﻟﻨ‬‫ﻲ ﺟ‬‫ ﻓ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﻠﱢﺒ‬‫ﻷﺻ‬‫ ﻭ‬‫ﻼﻑ‬‫ﺧ‬ “Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tandatanda kekuasaan Kami semuanya maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran). Berkata Fir'aun: "Adakah kamu datang kepada Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

44

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kamipun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya). Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik". Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang, Berkata Musa kepada mereka: "Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa". Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. Maka mereka berbantahbantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama, Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini, (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) ataukah kami orang yang melemparkan dahulu?" Berkata Musa: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakanakan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: "janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Robb Harun dan Musa". Berkata Fir'aun: "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah 45Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya". (Thahaa: 56-71). Dan juga pernyataan kaum Nasrani terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah tukang sihir, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ﻮﻝﹴ‬‫ﺳ‬‫ﺍ ﺑﹺﺮ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﺒ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﺍﺓ‬‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ ﺍﻟﺘ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻱ‬‫ﺪ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﺎ ﺑ‬‫ﻤ‬‫ﻗﹰﺎ ﻟ‬‫ﺪ‬‫ﺼ‬‫ ﻣ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﻮﻝﹸ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺳ‬‫ﻲ ﺭ‬‫ﻴﻞﹶ ﺇﹺﻧ‬‫ﺍﺋ‬‫ﺮ‬‫ﻨﹺﻲ ﺇﹺﺳ‬‫ﺎ ﺑ‬‫ ﻳ‬‫ﻢ‬‫ﻳ‬‫ﺮ‬‫ ﻣ‬‫ﻦ‬‫ﻰ ﺍﺑ‬‫ﻴﺴ‬‫ﺇﹺﺫﹾ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻋ‬‫ﻭ‬ ‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ﺬﹶﺍ ﺳ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻫ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ ﺑﹺﺎﻟﹾﺒ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ ﻓﹶﻠﹶﻤ‬‫ﺪ‬‫ﻤ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﻪ‬‫ﻤ‬‫ﻱ ﺍﺳ‬‫ﺪ‬‫ﻌ‬‫ ﺑ‬‫ﻦ‬‫ﻲ ﻣ‬‫ﺄﹾﺗ‬‫ﻳ‬ “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Ash-Shaff: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan pula tentang nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang tertuduh sebagai tukang sihir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ ﺍﻟﺴ‬‫ﺎﺱ‬‫ﻮﻥﹶ ﺍﻟﻨ‬‫ﻠﱢﻤ‬‫ﻌ‬‫ﻭﺍ ﻳ‬‫ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﲔ‬‫ﺎﻃ‬‫ﻴ‬‫ ﺍﻟﺸ‬‫ﻦ‬‫ﻟﹶﻜ‬‫ﺎﻥﹸ ﻭ‬‫ﻤ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﺳ‬‫ﺎ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﻣ‬‫ﺎﻥﹶ ﻭ‬‫ﻤ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ ﺳ‬‫ﻠﹾﻚ‬‫ﻠﹶﻰ ﻣ‬‫ ﻋ‬‫ﲔ‬‫ﺎﻃ‬‫ﻴ‬‫ﻠﹸﻮ ﺍﻟﺸ‬‫ﺘ‬‫ﺎ ﺗ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬‫ﻌ‬‫ﺒ‬‫ﺍﺗ‬‫ﻭ‬

‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﱠﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺘ‬‫ ﻓﹶﻴ‬‫ﻜﹾﻔﹸﺮ‬‫ﺔﹲ ﻓﹶﻼ ﺗ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ ﻓ‬‫ﻦ‬‫ﺤ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ﻤ‬‫ ﻘﹸﻮﻻ ﺇﹺﻧ‬‫ﻰ ﻳ‬‫ﺘ‬‫ ﺣ‬‫ﺪ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﻥ‬‫ﻠﱢﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺎ ﻳ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﺕ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻭﺕ‬‫ﺎﺭ‬‫ﺎﺑﹺﻞﹶ ﻫ‬‫ﻦﹺ ﺑﹺﺒ‬‫ﻠﹶﻜﹶﻴ‬‫ﻠﹶﻰ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﺃﹸﻧﺰﻝﹶ ﻋ‬ ‫ﻻ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺮ‬‫ﻀ‬‫ﺎ ﻳ‬‫ﻮﻥﹶ ﻣ‬‫ﻠﱠﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺘ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺑﹺﺈﹺﺫﹾﻥ‬‫ﺪ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ ﺑﹺﻪ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎﺭ‬‫ ﺑﹺﻀ‬‫ﻢ‬‫ﺎ ﻫ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﺟﹺﻪ‬‫ﻭ‬‫ﺯ‬‫ﺀِ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ ﺑ‬‫ﻗﹸﻮﻥﹶ ﺑﹺﻪ‬‫ﻔﹶﺮ‬‫ﺎ ﻳ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻤ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬

.‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ﻮﺍ ﻳ‬‫ ﻛﹶﺎﻧ‬‫ ﻟﹶﻮ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻔﹸﺴ‬‫ ﺃﹶﻧ‬‫ﺍ ﺑﹺﻪ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺷ‬‫ ﻣ‬‫ﻟﹶﺒﹺﺌﹾﺲ‬‫ﻼﻕﹴ ﻭ‬‫ ﺧ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﻲ ﺍﻵﺧ‬‫ ﻓ‬‫ﺎ ﻟﹶﻪ‬‫ ﻣ‬‫ﺍﻩ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ﻦﹺ ﺍﺷ‬‫ﻮﺍ ﻟﹶ ﻤ‬‫ﻤ‬‫ﻠ‬‫ ﻋ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ ﻭ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻔﹶﻌ‬‫ﻨ‬‫ﻳ‬ “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

46

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (AlBaqarah: 102). VI.c. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah orang-orang Sesat? Dengan berbagai macam upaya yang dilakukan oleh kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam namun tetap tidak berhasil, merekapun akhirnya mentahdzir manusia agar menjauhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dengan mereka tegaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah termasuk orang yang sesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala bantah tuduhan keji itu sebagaimana perkataan-Nya: .‫ﻰ‬‫ﻮﺣ‬‫ ﻳ‬‫ﻲ‬‫ﺣ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻭ‬‫ﻮ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬.‫ﻯ‬‫ﻮ‬‫ﻦﹺ ﺍﻟﹾﻬ‬‫ ﻋ‬‫ﻖ‬‫ﻄ‬‫ﻨ‬‫ﺎ ﻳ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬.‫ﻯ‬‫ﺎ ﻏﹶﻮ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺒ‬‫ﺎﺣ‬‫ﻞﱠ ﺻ‬‫ﺎ ﺿ‬‫ ﻣ‬.‫ﻯ‬‫ﻮ‬‫ﻢﹺ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﻫ‬‫ﺠ‬‫ﺍﻟﻨ‬‫ﻭ‬ “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tidaklah dia berucap menurut kemauan hawa nafsunya.” (An-Najm: 1-3). Sudah menjadi perkara yang tidak bisa diingkari lagi, bahwa setiap yang mentahdzir pasti akan dikatakan dengan kata-kata keji atau sesat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan: ‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﺻ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺻ‬‫ ﺭﹺﳛ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺎ ﺃﹶﺭ‬‫ ﺇﹺﻧ‬.‫ﺬﹸﺭﹺ‬‫ﻧ‬‫ﺬﹶﺍﺑﹺﻲ ﻭ‬‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻋ‬‫ﻒ‬‫ ﻓﹶﻜﹶﻴ‬‫ﺎﺩ‬‫ ﻋ‬‫ﺖ‬‫ﺮﹴ ﻛﹶﺬﱠﺑ‬‫ﻛ‬‫ﺪ‬‫ ﻣ‬‫ﻦ‬‫ﻞﹾ ﻣ‬‫ﻠﺬﱢﻛﹾﺮﹺ ﻓﹶﻬ‬‫ﺁ ﻥﹶ ﻟ‬‫ﺎ ﺍﻟﹾﻘﹸﺮ‬‫ﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺴ‬‫ ﻳ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻭ‬

‫ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﻲ‬‫ﻟﹾﻘ‬‫ ﺃﹶﺅ‬.‫ﺮﹴ‬‫ﻌ‬‫ﺳ‬‫ﻼﻝﹴ ﻭ‬‫ﻲ ﺿ‬‫ﺎ ﺇﹺﺫﹰﺍ ﻟﹶﻔ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻪ‬‫ﺒﹺﻌ‬‫ﺘ‬‫ﺍ ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﺍﺣ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ﺍ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ ﻓﹶﻘﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺃﹶﺑ‬.‫ﺬﹸﺭﹺ‬‫ ﺑﹺﺎﻟﻨ‬‫ﻮﺩ‬‫ ﺛﹶﻤ‬‫ﺖ‬‫ﺮﹴ ﻛﹶﺬﱠﺑ‬‫ﻛ‬‫ﺪ‬‫ ﻣ‬‫ﻦ‬‫ﻞﹾ ﻣ‬‫ﻠﺬﱢﻛﹾﺮﹺ ﻓﹶﻬ‬‫ﻟ‬

.‫ﺮ‬‫ ﺍﻷﺷ‬‫ﻦﹺ ﺍﻟﹾﻜﹶﺬﱠﺍﺏ‬‫ﺍ ﻣ‬‫ﻮﻥﹶ ﻏﹶﺪ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ﻴ‬‫ ﺳ‬.‫ﺮ‬‫ ﺃﹶﺷ‬‫ ﻛﹶﺬﱠﺍﺏ‬‫ﻮ‬‫ﻞﹾ ﻫ‬‫ﺎ ﺑ‬‫ﻨﹺﻨ‬‫ﻴ‬‫ ﺑ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻋ‬ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Kaum 'Aad pun mendustakan(pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancamanancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancamanKu. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila". Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (Al-Qomar: 17-26). Tidak hanya berhenti tuduhan mereka kepada para rasul, namun mereka juga menuduh orang-orang yang beriman sebagai orang sesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺎﻟﱡﻮﻥﹶ‬‫ﻻﺀِ ﻟﹶﻀ‬‫ﺆ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺇﹺﻥﱠ ﻫ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺃﹶﻭ‬‫ﺇﹺﺫﹶﺍ ﺭ‬‫ﻭ‬ “Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat." (Al-Muthaffifin: 32).

‫ﺁﻥﹶ‬‫ﺎ ﺍﻟﹾﻘﹸﺮ‬‫ﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺴ‬‫ ﻳ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ ﻭ‬.‫ﺬﹸﺭﹺ‬‫ﻧ‬‫ﺬﹶﺍﺑﹺﻲ ﻭ‬‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻋ‬‫ﻒ‬‫ ﻓﹶﻜﹶﻴ‬.‫ﺮﹴ‬‫ﻘﹶﻌ‬‫ﻨ‬‫ﻞﹴ ﻣ‬‫ﺨ‬‫ ﻧ‬‫ﺎﺯ‬‫ﺠ‬‫ ﺃﹶﻋ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ ﻛﹶﺄﹶﻧ‬‫ﺎﺱ‬‫ ﺍﻟﻨ‬‫ﱰﻉ‬‫ ﺗ‬.‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ﺲﹴ ﻣ‬‫ﺤ‬‫ﻡﹺ ﻧ‬‫ﻮ‬‫ﻲ ﻳ‬‫ﻓ‬ 47Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

48

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

VI.d. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para rasul adalah orang-orang gila? Para rasul terus menerus mentahdzir kaumnya supaya mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mentauhidkannya, namun kaumnya selalu berpaling dan bahkan menuduh dan mengatakan kepada para rasul tersebut sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻭﺍ‬‫ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻸ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ ﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﹾﻤ‬.‫ﻘﹸﻮﻥﹶ‬‫ﺘ‬‫ ﺃﹶﻓﹶﻼ ﺗ‬‫ﻩ‬‫ﺮ‬‫ ﻏﹶﻴ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻪ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺎ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﻣ‬‫ﻭﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻡﹺ ﺍﻋ‬‫ﺎ ﻗﹶﻮ‬‫ ﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﻳ‬‫ﻪ‬‫ﻣ‬‫ﺎ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﻗﹶﻮ‬‫ﻮﺣ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ ﺃﹶﺭ‬‫ﻟﹶﻘﹶﺪ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺋ‬‫ﻲ ﺁﺑ‬‫ﺬﹶﺍ ﻓ‬‫ﺎ ﺑﹺﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻌ‬‫ﻤ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ﻜﹶﺔﹰ ﻣ‬‫ﻼﺋ‬‫ ﻷﻧﺰﻝﹶ ﻣ‬‫ﺎﺀَ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﺷ‬‫ﻟﹶﻮ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻞﹶ ﻋ‬‫ﻔﹶﻀ‬‫ﺘ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﻳ‬‫ﺮﹺﻳﺪ‬‫ ﻳ‬‫ﺜﹾﻠﹸﻜﹸﻢ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﺬﹶﺍ ﺇﹺﻻ ﺑ‬‫ﺎ ﻫ‬‫ ﻣ‬‫ﻪ‬‫ﻣ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬

‫ﲔﹴ‬‫ﻰ ﺣ‬‫ﺘ‬‫ ﺣ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﻪ‬‫ﺼ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﺔﹲ ﻓﹶﺘ‬‫ ﺟﹺﻨ‬‫ﻞﹲ ﺑﹺﻪ‬‫ﺟ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺭ‬‫ﻮ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬.‫ﲔ‬‫ﻟ‬‫ﺍﻷﻭ‬ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?" Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa bapak-bapak kami yang dahulu. la tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu." (Al-Mu’minun: 23-25). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengisahkan: ‫ﻮﻥﹲ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ ﻟﹶﻤ‬‫ﻚ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﻪ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻱ ﻧﺰﻝﹶ ﻋ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻳ‬‫ﻭ‬ “Mereka berkata: Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.” (Al-Hijr: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga kisahkan: ‫ﻰ‬‫ﺎ ﺃﹶﺗ‬‫ ﻣ‬‫ﻚ‬‫ ﻛﹶﺬﹶﻟ‬‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺎ ﺁﺧ‬‫ ﺇﹺﻟﹶﻬ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻊ‬‫ﻠﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ﻻ ﺗ‬‫ ﻭ‬.‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻲ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﻧ‬‫ﻭﺍ ﺇﹺﻟﹶﻰ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺮ‬‫ﻓﹶﻔ‬ ‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ ﻓﹶﻤ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﻝﱠ ﻋ‬‫ﻮ‬‫ ﻓﹶﺘ‬.‫ ﻃﹶﺎﻏﹸﻮﻥﹶ‬‫ﻡ‬‫ ﻗﹶﻮ‬‫ﻢ‬‫ﻞﹾ ﻫ‬‫ ﺑ‬‫ﺍ ﺑﹺﻪ‬‫ﻮ‬‫ﺍﺻ‬‫ﻮ‬‫ ﺃﹶﺗ‬.‫ﻮﻥﹲ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ ﻣ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺎﺣ‬‫ﻮﻝﹴ ﺇﹺﻻ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺳ‬‫ﺳ‬‫ ﺭ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬

.‫ﻨﹺﲔ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻔﹶﻊ‬‫ﻨ‬‫ﻯ ﺗ‬‫ ﻓﹶﺈﹺﻥﱠ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮ‬‫ﺫﹶﻛﱢﺮ‬‫ ﻭ‬.‫ﻠﹸﻮﻡﹴ‬‫ﺑﹺﻤ‬ “Maka bersegeralah kembali kepada Allah, Sungguh aku pemberi peringatan yang jelas dari Allah untuk kalian. Dan janganlah kalian 49Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

mengadakan sesembahan yang lain selain Allah. Sungguh aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah. Demikianlah disetiap kali seorang rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka [kaumnya] pasti mengatakan; “Dia itu tukang sihir atau orang gila”. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampui batas. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan engkau sama sekali tidak tercela. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang yang beriman.” (Ath-Thur: 50-55). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺬﹶﺍ ﺇﹺﻻ‬‫ﺎ ﻫ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ﺎﺅ‬‫ ﺁﺑ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻌ‬‫ﺎ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻳ‬‫ﻤ‬‫ ﻋ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ﺪ‬‫ﺼ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﻳ‬‫ﺮﹺﻳﺪ‬‫ﻞﹲ ﻳ‬‫ﺟ‬‫ﺬﹶﺍ ﺇﹺﻻ ﺭ‬‫ﺎ ﻫ‬‫ ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﻣ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﺎ ﺑ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺗ‬‫ ﺁﻳ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﻠﹶﻰ ﻋ‬‫ﺘ‬‫ﺇﹺ ﺫﹶﺍ ﺗ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻬ‬‫ﻮﻧ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ﺪ‬‫ﺐﹴ ﻳ‬‫ ﻛﹸﺘ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﺎ ﺁﺗ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬.‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ﺬﹶﺍ ﺇﹺﻻ ﺳ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬‫ﻢ‬‫ﺎﺀَﻫ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ ﻟﹶﻤ‬‫ﻖ‬‫ﻠﹾﺤ‬‫ﻭﺍ ﻟ‬‫ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻔﹾﺘ‬‫ ﻣ‬‫ﺇﹺﻓﹾﻚ‬

‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ‬‫ﻒ‬‫ﻲ ﻓﹶﻜﹶﻴ‬‫ﻠ‬‫ﺳ‬‫ﻮﺍ ﺭ‬‫ ﻓﹶﻜﹶﺬﱠﺑ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﺎ ﺁﺗ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﺭ‬‫ﺸ‬‫ﻌ‬‫ﻮﺍ ﻣ‬‫ﻠﹶﻐ‬‫ﺎ ﺑ‬‫ﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻛﹶﺬﱠﺏ‬‫ ﻭ‬.‫ﻳﺮﹴ‬‫ﺬ‬‫ ﻧ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﹶﻚ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺎ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺃﹶﺭ‬ ‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻧ‬‫ﻮ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬‫ﺔ‬‫ ﺟﹺﻨ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺒﹺﻜﹸﻢ‬‫ﺎﺣ‬‫ﺎ ﺑﹺﺼ‬‫ﻭﺍ ﻣ‬‫ﻔﹶﻜﱠﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﺗ‬‫ﻯ ﺛﹸﻢ‬‫ﺍﺩ‬‫ﻓﹸﺮ‬‫ﻰ ﻭ‬‫ﺜﹾﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﱠﻪ‬‫ﻮﺍ ﻟ‬‫ﻘﹸﻮﻣ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﺓ‬‫ ﺪ‬‫ﺍﺣ‬‫ ﺑﹺﻮ‬‫ﻈﹸﻜﹸﻢ‬‫ﺎ ﺃﹶﻋ‬‫ﻤ‬‫ﻗﹸﻞﹾ ﺇﹺﻧ‬. ‫ﲑﹺ‬‫ﻜ‬‫ﻧ‬ .‫ﻳﺪ‬‫ﺪ‬‫ﺬﹶﺍﺏﹴ ﺷ‬‫ ﻋ‬‫ﻱ‬‫ﺪ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ ﺑ‬‫ﻟﹶﻜﹸﻢ‬ “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: "Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kalian dari apa yang disembah oleh bapak-bapak kalian", dan mereka berkata: "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja". Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekalikali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orangorang dahulu itu lalu mereka mendustakan rosul-rosul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku. Katakanlah: Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepada kalian satu hal saja, yaitu supaya kaalian menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendirisendiri; kemudian kalian pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

50

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

penyakit gila sedikitpun pada kawan kalian itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Saba’: 43-45). Yang dimaksud dalam ayat tersebut pada lafadz ‫ﺒﹺﻜﹸﻢ‬‫ﺎﺣ‬‫ ﺑﹺﺼ‬yaitu nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, yang mereka [kaum musyrikin] katakan sebagai orang yang gila. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bukanlah orang gila bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah orang yang paling berakal dan makhluk yang paling berakal serta paling berilmu dan paling baik ahklaknya. Itulah perlakuan kaum musyrikin terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, mereka ditahdzir agar tidak berbuat syirik dan supaya mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun mereka membalas tahdzir dengan ucapan keji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ ﺑ‬‫ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻧ‬‫ﻮ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬‫ﺔ‬‫ ﺟﹺﻨ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺒﹺﻜﹸﻢ‬‫ﺎﺣ‬‫ﺎ ﺑﹺﺼ‬‫ﻭﺍ ﻣ‬‫ﻔﹶﻜﱠﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﺗ‬‫ﻯ ﺛﹸﻢ‬‫ﺍﺩ‬‫ﻓﹸﺮ‬‫ﻰ ﻭ‬‫ﺜﹾﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﻠﱠﻪ‬‫ﻮﺍ ﻟ‬‫ﻘﹸﻮﻣ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﺓ‬‫ﺪ‬‫ﺍﺣ‬‫ ﺑﹺﻮ‬‫ﻈﹸﻜﹸﻢ‬‫ﺎ ﺃﹶﻋ‬‫ﻤ‬‫ﻗﹸﻞﹾ ﺇﹺﻧ‬

.‫ﻳﺪ‬‫ﺪ‬‫ﺬﹶﺍﺏﹴ ﺷ‬‫ ﻋ‬‫ﻱ‬‫ﺪ‬‫ﻳ‬ Katakanlah: Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepada kalian suatu hal saja, yaitu supaya kalian menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kalian pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawan kalian itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Saba’: 45). Dengan ucapan keji yang kaum musyrikin selalu lontarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah orang yang gila, maka itu sebagai bentuk mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﺎ‬‫ﻭﺍ ﻣ‬‫ﻔﹶﻜﱠﺮ‬‫ﺘ‬‫ ﻳ‬‫ﻟﹶﻢ‬‫ ﺃﹶﻭ‬.‫ﲔ‬‫ﺘ‬‫ﻱ ﻣ‬‫ﺪ‬‫ ﺇﹺﻥﱠ ﻛﹶﻴ‬‫ﻢ‬‫ﻲ ﻟﹶﻬ‬‫ﻠ‬‫ﺃﹸﻣ‬‫ ﻭ‬.‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ﺚﹸ ﻻ ﻳ‬‫ﻴ‬‫ ﺣ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺭﹺﺟ‬‫ﺪ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ﻨ‬‫ﺎ ﺳ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺗ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺂﻳ‬‫ ﻛﹶﺬﱠﺑ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻭ‬ ‫ﺒﹺﲔ‬‫ ﻣ‬‫ﻳﺮ‬‫ﺬ‬‫ ﺇﹺﻻ ﻧ‬‫ﻮ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻫ‬‫ﺔ‬‫ ﺟﹺﻨ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﺒﹺﻬﹺﻢ‬‫ﺎﺣ‬‫ﺑﹺﺼ‬ “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada 51Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.” (Al-A’raf: 182-184). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ‫ﻮﻥ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ ﺑﹺﻤ‬‫ﻚ‬‫ﺑ‬‫ ﺭ‬‫ﺔ‬‫ﻤ‬‫ ﺑﹺﻨﹺﻌ‬‫ﺖ‬‫ﺎ ﺃﹶﻧ‬‫ﻭﻥﹶ ﻣ‬‫ﻄﹸﺮ‬‫ﺴ‬‫ﺎ ﻳ‬‫ﻣ‬‫ﺍﻟﹾﻘﹶﻠﹶﻢﹺ ﻭ‬‫ﻥ ﻭ‬ “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Robbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (Al-Qalam: 1-2) VI.e. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan para Rasul itu tidak ada apa-apanya, sama saja dengan kaumnya? Disaat para nabi dan rasul mentahdzir kaumnya dari kejelekan, kaumnya enggan dan merasa bangga dengan diri-diri mereka, sampaisampai mereka nyatakan bahwa para nabi dan rasul itu tidak ada apaapanya atau sama saja dengan kaumnya. Mereka ingkar terhadap para nabi dan rasul, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan: ‫ﺎ‬‫ﺜﹾﻠﹸﻨ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺑ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹸﻮﺍ ﺇﹺﻥﹾ ﺃﹶﻧ‬ “Mereka berkata: “Kalian tidak lain hanyalah manusia seperti kami”.” (Ibrahim: 11). Allah telah terangkan bahwa para rasul menjawab ucapan keji mereka: ‫ﻩ‬‫ﺎﺩ‬‫ﺒ‬‫ ﻋ‬‫ﻦ‬‫ﺎﺀُ ﻣ‬‫ﺸ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻠﹶﻰ ﻣ‬‫ ﻋ‬‫ﻦ‬‫ﻤ‬‫ ﻳ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻦ‬‫ﻟﹶﻜ‬‫ ﻭ‬‫ﺜﹾﻠﹸﻜﹸﻢ‬‫ ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺑ‬‫ﻦ‬‫ﺤ‬‫ ﺇﹺﻥﹾ ﻧ‬‫ﻢ‬‫ﻠﹸﻬ‬‫ﺳ‬‫ ﺭ‬‫ﻢ‬‫ ﻟﹶﻬ‬‫ﻗﹶﺎﻟﹶﺖ‬ “Berkata Rosul-rosul itu kepada mereka; [benar] kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (Ibrahim: 12). Inilah keinginan mereka agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus rasul dari kalangan malaikat bukan dari manusia, dan sikap mereka ini kemudian diikuti oleh Surury. Mereka [Surury] mau menerima fatwa kecuali dari ulama kibar atau ulama senior saja, adapun selain itu mereka enggan dan menolaknya. Apakah benar mereka siap menerima kalau fatwa itu datangnya dari ulama senior atau ulama kibar walaupun menyelisihi hawa nafsu mereka? Ternyata tidak, mereka tidak

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

52

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

mungkin mau menerima fatwa tersebut karena menyelisihi hawa nafsu mereka. Telah banyak fatwa ulama senior dan fatwa ulama kibar yang mereka terlantarkan, sekadar contoh Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah [yang Ahlussunnah akui juga Surury akui bahwa beliau adalah ulama kibar di zamannya] ketika ditanya tentang AsySyaikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi hafizhahullah: Maka beliau rahimahullah memuji Syaikh Rabi’ dan beliau rahimahullah menasehatkan agar mengambil ilmu darinya. “Saudara-saudara kami para masyayikh yang terpandang di Madinah ini, tidak lagi kami ragukan. Mereka adalah para penganut akidah yang baik dan mereka adalah Ahlus Sunnah wal jama’ah, seperti Syaikh Muhammad Amman bin ‘Ali, Syaikh Rabi’ bin Hadi...” (kaset Taudlihul Bayan). Bahkan Syaikh Bin Baz telah mengizinkan Syaikh Rabi’ untuk mengajar di masjid beliau beberapa bulan sebelum beliau meninggal, yang mana hal ini menunjukkan bahwa Syaikh meninggal dalam keadaan ridla kepada Syaikh Rabi’. (Syaikh Abu ‘Abdillah Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi, Mengenal Lebih Dekat Asy Syaikh Rabi’) Apa dengan fatwa ulama kibar ini kemudian mereka berani katakan bahwa Syaikh Rabi’ tidak pantas diambil fatwanya karena bukan ulama kibar? Anggaplah –kalau benar- beliau bukan ulama kibar maka bukankah fatwa ulama kibar seperti Syaikh Bin Baz yang telah merekomendasikan mengambil ilmu dari Syaikh Rabi’ sepantasnya mereka terima? Tidak kemudian mereka nyatakan bahwa Syaikh Rabi’ bukan ulama kibar, dan lebih jahat lagi pernyataan “Hati-hati dengan orang yang bernama Duktur Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali!” Itulah “tahdzir” dan peringatan Aunur Rafiq Ghufran kepada Ustadz HaryadiSurabaya (mantan muridnya) menjelang keberangkatan beliau untuk studi di Universitas Islam Madinah pada sekitar tahun 1998-1999 sebagaimana yang terungkap dalam sesi dialog tentang “Bahaya Sururi Bagi Kaum Muslimin” di kota Pasuruan Jawa Timur yang diisi oleh Ustadz Zainul Arifin). Jadi mereka [Surury] mengikuti sikap kaum terdahulu dari kalangan kaum musyrikin, yang mereka menginginkan rasul dari 53Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

malaikat [bukan dari manusia] sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﹾﺒﹺﺴ‬‫ﺎ ﻳ‬‫ ﻣ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻠﹶﻴ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ﻟﹶﻠﹶﺒ‬‫ﻼ ﻭ‬‫ﺟ‬‫ ﺭ‬‫ﺎﻩ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﻌ‬‫ﻠﹶﻜﹰﺎ ﻟﹶﺠ‬‫ ﻣ‬‫ﺎﻩ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﻌ‬‫ ﺟ‬‫ﻟﹶﻮ‬‫ﻭ‬ “Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari malaikat), tentulah kami jadikan dia berwujud seorang laki-laki [dan jika Kami jadikan dia seorang laki-laki], kami pun akan jadikan mereka [musyrikin] itu tetap ragu sebagaimana sekarang mereka ragu.” (Al-An’am: 9). Bagaimana pula dengan bukti buku PP Al Irsyad yang mencerca ulama Ahlussunnah yang mempertahankan metode nabawiyah dalam rukyah/hilal, bukan hisab? “Sebenarnya yang bertanggung jawab tentang perbedaan dan perselisihan yang memalukan ini (antara ru’yah dan hisab-pen) adalah ulama. Para ulama sendirilah yang memikul beban dosanya, bukan umat yang awam. Karena ulama yang berstatus sebagai pewaris para nabi, telah lengah dalam mengemban tugas yang dipikulnya.. Para ulama tidak mengulurkan kepada umat apa yang wajib untuk diulurkan, seperti nasehat yang semestinya, amar ma’ruf nahi mungkar dan memperbaiki hubungan antar umat. Sesungguhnya agama itu adalah nasehat, justru mereka diam tidak mengambil tindakan penyelamatan, ironisnya lagi kebanyakan orang yang menulis dalam masalah ini semakin menambah keruhnya masalah dan memperluas perbedaan di masyarakat” (Himpunan Tiga Risalah, PP Al Irsyad) “Seandainya mereka (ulama, pen) bekerja untuk Allah dalam mendamaikan umat ini dan mengerahkan potensi mereka untuk mengatasi keadaan ini serta melakukan usahanya untuk mempertemukan antara kedua kubu yang berseteru ini dengan cara menggabungkan nash-nash (dalil-dalil) yang datang dalam masalah ru’yah dan hisab dan mengkompromikan antara keduanya, akan tetapi sangat disayangkan, mereka tidak mendapatkan taufiq untuk itu, dan ini benar-benar nasib sial bagi umat islam dan kaum muslimin.” (Himpunan Tiga Risalah, Majelis Ifta’ dan Tarjih Jam’iyyah Al-Irsyad, Diterjemahkan oleh Agus Hasan Bashari, Lc, Sya’ban 1425H/Oktober 2004M, hal.104-105). Apakah buku di atas juga merupakan bukti yang menunjukkan bahwa Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

54

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Surury menjunjung tinggi kemuliaan dan kehormatan para ulama pewaris para nabi atau sebaliknya ? Salah seorang pentolan Surury, Abdurrazzaq bin Khalifah Asy Syaiji –semoga Allah memberikan ampunan untuk kita dan dia- ternyata juga memiliki kemiripan dengan “saudara-saudaranya” di sini, di negeri ini, sama-sama membenci dan memusuhi Syaikh Rabi' hafidhahullah. Cukuplah komentar dari Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah untuk membungkamnya: “Dia menyebarkan kasetnya yang penuh dengan racun syubhat dan kebohongan-kebohongan terhadap Fadhilatusy Syaikh Rabi’ yang berjudul “Rabi’ bin Hadi AlMadkhali fi al Mizan Haqaaiq wa Waqaaiq”. “ Tulisan-tulisan Sayyid Quthb juga penuh dengan tikaman terhadap Nabi Musa, shahabat ‘Utsman bin Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. (Lihat Adhwa Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthb Wa Fikrihi dan Matha’in Sayyid Quthb Fi Ash-habi Rasulillah, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali). Demikian pula goresan-goresan pena Abu Rayyah sarat akan pelecehan terhadap para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat AlAnwarul Kasyifah, karya Asy-Syaikh Al-Mu’allimi) Muhammad Al-Ghazali juga sangat tajam tikamannya terhadap ulama sunnah (lihat Al-Irhab, karya Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, hal. 132-133). Adapun Abdurrahman Abdul Khaliq, maka ia termasuk kreator penikaman terhadap ulama sunnah abad ini (sebagaimana dalam kitabnya Khuthuth Ra’isiyyah Liba’tsil Ummatil Islamiyyah). “Dan saat ini sangat disayangkan kita tidak mempunyai ulama kecuali orang-orang yang memahami Islam dengan pemahaman tradisional…” Dan juga perkataannya: “Kita tidak inginkan barisan dari ulama mummi (jasadnya ada, namun pola pikirnya kuno, pen).” Adapun pelecehannya terhadap ulama besar Muhammad Al-Amin AsySyinqithi rahimahullah adalah: “Dia ibarat perpustakaan berjalan, namun cetakan lama yang perlu direvisi.” Dan juga perkataannya: “Orang ini tidak mampu menjawab syubhat yang dilancarkan oleh 55Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

musuh-musuh Allah, bahkan tidak ada kesiapan untuk mendengarkan syubhat tersebut.” (Dinukil dari Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, karya Asy-Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 119-120). Tak kalah pula pelecehan terhadap ulama sunnah (abad ini) yang dilakukan oleh Salman bin Fahd Al-‘Audah dalam kasetnya Waqafaat Ma’a Imami Daril Hijrah dan tanya jawabnya dengan majalah Al-Ishlah Emirat. Salman Al-‘Audah berkata: “Di dunia Islam saat ini sangat banyak lembaga-lembaga yang jauh dari agama, dan terkadang lembaga tersebut bertanggungjawab tentang fatwa atau urusan agama namun yang dilakukan sebatas pengumuman masuk dan keluarnya bulan Ramadhan.” Dia juga berkata: “Berbagai insiden yang terjadi di teluk (Arab) semakin membongkar berbagai macam penyakit tersembunyi yang diidap oleh kaum muslimin ….. -hingga perkataannya- dan membongkar pula tentang tidak adanya referensi ilmiah (ulama) yang benar dan dapat dipercaya oleh kaum muslimin.” (Dinukil dari Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 98). ‘Aidh Al-Qarni dalam Qashidah “Da’il Hawasyi Wakhruj” yang terdapat dalam kitabnya Lahnul Khulud hal. 46-473, Nashir Al-‘Umar dalam kitabnya Fiqhul Waqi’. Aidh Al-Qarni bersyair tentang para ulama Ahlussunnah yang tinggal di kota Riyadh, Saudi Arabia: “Shalat dan puasalah sekehendakmu, Agama tidak mengenal “Aabid” hanya dengan sekedar shalat dan puasa. Engkau hanyalah ahli ibadah dari kalangan pendeta, Bukan dari umat Muhammad, cukuplah ini sebagai celaan. hingga perkataannya: Karya tulismu hanya untuk membicarakan orang-orang yang telah mati. Tidak lain engkau orang yang sekarat dan banyak omong. Karya tulismu hanya untuk membicarakan orangorang yang telah mati, Tidak lain engkau orang yang sekarat dan banyak omong, Tiap hari kau syarah matan dengan madzhab taqlid, sungguh kau telah menambah noda-noda hitam Engkau pun nampak sibuk dengan masalah-masalah sampingan ketika engkau takut dengan seorang

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

56

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

yang jahat lagi ganas. Jangan berkata sepatah kata pun wahai Syaikh! Dan tunggulah usia fatwa orang sejenismu hanya 50 tahun saja.” (Dinukil dari kitab Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 99) Safar Hawali dalam kasetnya Fafirruu Ilallah. Safar Hawali berkata: “Ulama kita wahai ikhwan!!! Semoga Allah menjaga mereka… Semoga Allah menjaga mereka!!! (sebagai ungkapan kekecewaan, pen), kita tidak bisa membenarkan segala sesuatu dari mereka, mereka tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan)!!… Kita nyatakan: “Ya! Mereka kurang di dalam memahami waqi’ (fenomena kekinian), mereka punya sekian banyak kekurangan yang harus kita lengkapi!! Bukan kita lebih utama dari mereka, tetapi kita hidup dan bergelut dengan berbagai macam persoalan kekinian, sedangkan mereka menyikapi persoalan-persoalan tersebut dengan hukum yang tidak sesuai dengan zaman yang mereka hidup padanya!” -hingga perkataannya- “Dan sebagian dari ulama tersebut mulai menerima kritikan ini, karena mereka sudah jompo! atau telah memasuki fase ……!?” (Dinukil dari Madarikun Nazhar Fis Siyasah, hal. 351 footnote no.1) Lebih-lebih lagi yang dilakukan oleh Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin dalam majalah “As-Sunnah”-nya (yang lebih pantas disebut Al-Bid’ah). Muhammad Surur berkata tentang para ulama besar Ahlussunnah yang ada di Saudi Arabia: “Dan jenis lain adalah orangorang yang berbuat tanpa ada rasa takut, yang selalu menyesuaikan sikap-sikapnya dengan sikap para tuannya… Ketika para tuan ini meminta bantuan (pasukan) dari Amerika (untuk menghadapi Saddam Husain sosialis, pen), dengan sigap para budak tersebut mempersiapkan dalil-dalil yang membolehkan perbuatan itu, dan ketika para tuan berseteru dengan Iran (yang berpaham sesat Syi’ah Rafidhah, pen) maka para budak itu pun selalu menyebut-nyebut kejahatan dan kesesatan Syi’ah Rafidhah …” (Majalah As-Sunnah, edisi 23, hal. 29-30). Dia juga berkata tentang para ulama tersebut: “Perbudakan di masa lalu cukup sederhana, karena si budak hanya mempunyai tuan (secara 57Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

langsung). Adapun hari ini, perbudakan cukup rumit, dan rasa heranku tak pernah sirna terhadap orang-orang yang berbicara tentang tauhid namun mereka budak budak budak budaknya budak, dan tuan terakhir mereka adalah seorang nashrani (yakni George Bush, pen).” (Majalah As-Sunnah, edisi. 26). (Lihat kitab AlQuthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 89). Juga Muhammad bin Abdillah Al-Mas’ari. Betapa kasar dan arogannya pelecehan mereka itu. Muhammad Al-Mas’ari berkata tentang Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah: “Adapun pendapatku secara pribadi sesungguhnya Asy-Syaikh Ibn Baz telah sampai pada tingkat pikun, dungu serta lemah yang sangat.” Adapun pelecehannya terhadap shahabat Mu’awiyah: “Sesungguhnya aku menganggap Mu’awiyah sebagai seorang perampas kekuasaan.” Sedangkan pelecehannya terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : “Bahwasanya dia adalah seorang yang polos (biasa-biasa saja) dan bukan seorang yang ‘alim.” (Lihat kitab Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 115). (Dikutip dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=226) Ditambah lagi, tulisan nan kasar bertajuk “Syaikh Rabii’ AlMadkhali::"Penyimpangan, Skandal, Kesesatan dan Kebodohannya” di forum myQuran. Inilah sekian bukti yang menunjukan mereka Hizbi, Sururi, Turotsi, hanya pandai bermain kata-kata, dan menjadikan agama ini sebagai permainan dalam kehidupan dunia mereka, maka kami ingatkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺎﺗ‬‫ﻮﺍ ﺑﹺﺂﻳ‬‫ﺎ ﻛﹶﺎﻧ‬‫ﻣ‬‫ﺬﹶﺍ ﻭ‬‫ ﻫ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻣ‬‫ﻮ‬‫ﻘﹶﺎﺀَ ﻳ‬‫ﻮﺍ ﻟ‬‫ﺴ‬‫ﺎ ﻧ‬‫ ﻛﹶﻤ‬‫ﻢ‬‫ﺎﻫ‬‫ﺴ‬‫ﻨ‬‫ ﻧ‬‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﺎ ﻓﹶﺎﻟﹾﻴ‬‫ﻴ‬‫ﻧ‬‫ﺎﺓﹸ ﺍﻟﺪ‬‫ﻴ‬‫ ﺍﻟﹾﺤ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺗ‬‫ﻏﹶﺮ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺒ‬‫ﻟﹶﻌ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﻮ‬‫ ﻟﹶﻬ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻳﻨ‬‫ﺬﹸﻭﺍ ﺩ‬‫ﺨ‬‫ ﺍﺗ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬

‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺪ‬‫ﺤ‬‫ﺠ‬‫ﻳ‬ “[Yaitu] orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu dengan kehidupan dunia. Maka pada hari [kiamat] ini, Kami lupakan mereka pertemuan hari ini [sebagaimana mereka dahulu] dan karena mereka mengingkari ayatayat Kami.” (Al-A’rof: 51).

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

58

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

BAB VII Tanggapan Atas Ucapan Keji Itu!

dan kini hadir pula mereka yang terus gencar mengumumkan kebencian terhadap para ‘ulama Ahlussunnah. Wallahul musta’an.

VII.a. “Hati-hati dengan orang yang bernama DR. Rabi’!” Peringatan atau tahdziran kepada umat yang keluar dari mulut-mulut surury dan hizbi dengan lafadz “Hati-hati dengan orang yang bernama DR. Rabi’!” adalah bukan suatu contoh yang baru, namun contoh seperti itu sudah pernah terjadi di zaman dahulu. Peringatan [tahdziran tersebut] merupakan warisan dari Bani Israil, dahulu ada seorang tukang sihir yang dia hidup di sisi sang raja. Ketika semakin tua usianya dia meminta kepada sang raja agar dicarikan seorang pemuda yang dia akan mewariskan ilmu sihirnya, sang raja pun memenuhi permintaannya. Maka diutuslah seorang pemuda untuk menimba ilmu sihir, namun di tengah perjalanan pemuda tadi melewati seorang rahib, diapun mampir dan mendengarkan ilmu dan nasehat dari rahib tersebut dan dia sangat kagum terhadapnya. Dan ketika sampai di tempat tukang sihir, tukang sihir memukulnya dan mentahdzirnya....... [hingga akhir kisah]. Juga kisah Salman Al-Farisy ketika suatu saat bapaknya memerintahkannya untuk ke ladang, Salman melewati gereja dan dia kagum dengan orang yang beribadah didalamnya. Kemudian sesampainya di rumah dia ditanyai oleh bapaknya. Dia ceritakan kekagumannya terhadap kebagusan ajaran yang dibawa oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, lalu bapaknya mentahdzirnya; bahwa tidak ada agama yang benar di muka bumi ini kecuali agama mereka........ [hingga akhir kisah]. Jadi janganlah seseorang terheran-heran kemudian sampai tertipu dengan perbuatan seorang da’i yang memperingatkan seorang mad’u-nya agar menjauh dari ‘Ulama Ahlussunnah. Mungkin mereka itu sedang kehausan akan ilmu tidak “syar’i”, hingga mereka ingin mempraktekkan ilmunya dengan meneladani perbuatan Bani Israil yang selalu benci terhadap orang-orang shalih di kalangan mereka, sebagaimana kisah Juraij sang ahli ibadah yang mereka ingin merusak dan menjelekkannya, 59Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

60

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Gambar 2. Daftar nama peserta Daurah Mahad Al Irsyad tanggal 6 – 10 Desember 2004. Lihat nomor 72 & 73, Abdurrahman At Tamimi selaku panitia daurah mengundang Muzayyin dan Mustaqim. Lihat gambar 2, nampak nama Muzayyin yang merupakan perwakilan Pondok Pesantren Al-Mukmin Solo atau yang lebih dikenal kehebohannya sebagai pesantren yang didirikan dan dikelola oleh “teroris” Abubakar Ba’asyir-Ngruki dengan haluan NII-nya!! Adapun nomor 72 diisi nama Mustaqim yang menjadi utusan dari Ponpes Dar Asy-Syahadah Boyolali. Secara historis dan manhaj, pondok ini memiliki kaitan dengan Al-Mukmin-Solo, karena itulah tidak mengherankan jika Dar Asy-Syahadah ini salah satu hasil didikannya terlibat dalam kasus bom Bali II ! Jelas pemahaman Sururi, Khawarij, pengeboman tergambar jelas disana dan mereka saling berangkulan di acara daurah itu. VII.b. Itu kan hanya fatwa ulama! Tidak hanya sekedar penyimpangan manhaj, berangkulan dengan hizbi, disaat-saat pelampiasan hawa nafsu hizbiyyahnya, mereka bermudah-mudahan dalam bergaul, duduk dan menjalin kerjasama dengan ahlu bid’ah dan ahlu ahwa’. Bahkan dari jaringan teroris Khawarij sebagaimana bukti daftar nama peserta Daurah Masyayikh tahun 2004 yang diselenggarakan Al Irsyad Surabaya. Sebagian ulama yang tahu kondisi Al Irsyad seperti Syaikh Uba’id al Jabiri hafidhahullah, dan Syaikh Ahmad bin Yahya an Najmi rahimahullah tentang perbuatan mereka itu kemudian memberikan fatwa, “... organisasi Al-Irsyad yang didirikan oleh seorang yang disebut Ahmad bin Muhammad As-Surkati As-Sudani Al-Anshari adalah organisasi Ikhwaniyyah Siyasiyyah dan bukan di atas Sunnah sama sekali. Namun dia dibangun diatas manhaj organisasi Ikhwanul Muslimin...” Akhirnya tim pembela Ahmad Surkati/PP Al Irsyad Al Islamiyah, ketua Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Surabaya, Abu Salma Muhammad Rachdie Pratama, S.Si berfatwa: “Adapun jawaban dua masyaikh yang mulia maka jawaban tersebut berangkat dari kebatilan dan talbis bukti dokumen yang diajukan.“ Atau kilah yang tak bermutu, “Itu kan 61Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

hanya fatwa ulama!” Subhanallah, apakah mereka [Surury] itu akan menentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ ﺇﹺﻟﹶﻰ‬‫ﻭﻩ‬‫ﺩ‬‫ﺀٍ ﻓﹶﺮ‬‫ﻲ‬‫ﻲ ﺷ‬‫ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻋ‬‫ﺎﺯ‬‫ﻨ‬‫ ﻓﹶﺈﹺﻥﹾ ﺗ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ﺮﹺ ﻣ‬‫ﻲ ﺍﻷﻣ‬‫ﺃﹸﻭﻟ‬‫ﻮﻝﹶ ﻭ‬‫ﺳ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﺮ‬‫ﻴﻌ‬‫ﺃﹶﻃ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻴﻌ‬‫ﻮﺍ ﺃﹶﻃ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬

‫ﺄﹾﻭﹺﻳﻼ‬‫ ﺗ‬‫ﻦ‬‫ﺴ‬‫ﺃﹶﺣ‬‫ ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ ﺧ‬‫ﻚ‬‫ﺮﹺ ﺫﹶﻟ‬‫ﻡﹺ ﺍﻵﺧ‬‫ﻮ‬‫ﺍﻟﹾﻴ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻥﹶ ﺑﹺﺎﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻮﻝﹺ ﺇﹺﻥﹾ ﻛﹸﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺍﻟﺮ‬‫ ﻭ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬ “Wahai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul[Nya] serta Ulil ‘Amr (‘Ulama) di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih (berbeda) pendapat tentang [hukum] sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul[Nya] (AsSunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya.” (AnNisa’: 59). Para ahli tafsir menerangkan lafaz ‫ﺮﹺ‬‫ﻲ ﺍﻷﻣ‬‫ ﺃﹸﻭﻟ‬mencakup ‘Ulama dan penguasa, namun pada pembahasan ini kami maksudkan adalah ‘Ulama. Jelas sekali bahwa Syaikh Uba’id Al Jabiri, mantan profesor di Universitas Islam Madinah dan Ahmad bin Yahya an Najmi, mufti dari Jizan, Saudi Arabia dikenal luas sebagai ulama Ahlussunnah masa kini. Inilah bukti nyata manhaj mereka yang sesungguhnya. VII.c. Mereka [ulama] adalah rijal, kami juga rijal Apabila terus dipaparkan fatwa beserta hujjah-hujjah yang kokoh, mereka balik berkata: “Mereka [ulama] adalah rijal, kami juga rijal”, kenapa mereka [Surury dan Hizbi] itu tidak sekalian katakan : “Nabi dan Rasul rijal, kami juga rijal? sehingga tidak perlu mengambil bimbinganya”. Apakah ketika membaca Al-Qur’an mereka tidak melewati firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini: ‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﻌ‬‫ ﻻ ﺗ‬‫ﻢ‬‫ﺘ‬‫ﻞﹶ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮﹺ ﺇﹺﻥﹾ ﻛﹸﻨ‬‫ﺄﹶﻟﹸﻮﺍ ﺃﹶﻫ‬‫ ﻓﹶﺎﺳ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻲ ﺇﹺﻟﹶﻴ‬‫ ﻮﺣ‬‫ﺎﻻ ﻧ‬‫ ﺇﹺﻻ ﺭﹺﺟ‬‫ﻚ‬‫ﻠ‬‫ ﻗﹶﺒ‬‫ﻦ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﻠﹾﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺎ ﺃﹶﺭ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ “Dan tidaklah kami mengutus sebelummu, kecuali orang-orang [dari kalangan] laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada Ahla Dzikr (‘Ulama) jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43) sehingga mereka bisa memposisikan diri mereka seperti Ahlu Dzikr (‘ulama Ahlussunnah) atau bahkan merasa lebih tinggi darinya?

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

62

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

VII.d. Mereka [ulama itu] kan hanya ulama biasa bukan ulama kibar Inilah ucapan mereka [surury dan hizbi], ketika terus dibantah akhirnya mereka kehabisan alasan, mungkin mereka berkata: “Mereka [ulama itu] kan hanya ulama biasa bukan ulama kibar”. VII.e. Kami masih tunggu ulama kibar dan ulama senior ketika tampak kekuatan hujjah ada pada pihak yang mentahdzir mereka, berkata lagi dari mereka: “Kami tidak mau perkataan ulama itu! Kami masih tunggu ulama kibar”. VII.f. Syaikh Rabi’ tidak termasuk ulama paling senior di Saudi Dan ketika dikatakan kepada mereka [surury] apa ada dasarnya memilahmilah fatwa ‘Ulama, Syaikh Rabi’ sudah fatwakan demikian dan demikian, diantara mereka menjawab lagi: “Syaikh Rabi’ tidak termasuk ulama paling senior di Saudi”. Sangat aneh dan lucu! kenapa mereka [Surury dan Hizbi] itu bersusah-payah menghafal, menulis dan membaca hadits? Bukankah yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu dan beliau adalah bukan termasuk golongan yang pertama-tama masuk Islam [atau bukan senior dari kalangan shahabat yang masuk Islam dan bukan pula shahabat yang pertama kali meriwayatkan hadits, tetapi sudah ada yang mendahului meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam]? Dan telah disepakati bahwa shahabat yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar dan ‘Ali sekaligus mereka berdua termasuk shahabat kibar, apakah Surury hanya mau mengambil hadits dan fatwa dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘anhu dan Amirul Mu’minin ‘Ali Radiyallahu ‘anhu saja dan mengabaikan hadits dan fatwa shahabat yang lain semisal Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu dan shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in yang tidak senior lainnya?

63Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

VII.g. Itu kan hanya masalah khilafiyah ijtihadiyyah Dengan banyaknya argumen dan alasan yang mereka buat-buat maka dipaparkan fatwa berikut hujjah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang melarang mereka agar tidak menjalin hubungan dengan Yayasan Hizbi, lalu mereka, yakni Firanda Andirja ibnu Abidin Abu Abdil Muhsin as Sonronji, Lc berkata lagi: “... permasalahan khilafiyah ijtihadiyah”. VII.h. Kami memperbaiki Yayasan dan Ma’had Hizbi dari dalam Ketika terus diingatkan kenapa mereka [Surury] tidak mau keluar meninggalkan Yayasan dan Ma’had yang diatur oleh hizbi itu, mereka dengan gagah perkasa dan penuh percaya diri menjawab: “Kami memperbaiki Yayasan dan Ma’had Hizbi dari dalam”. Al Ustadz Muhammad Wildan pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423/ 19 February 2003 bertanya pada syaikh Khalid ar- Raddadi : "Apa bantahan anda terhadap perkataan sebagian da’i tentang bolehnya bergaul dengan firqah-firqah atau jama’ah-jama’ah yang ada dengan alasan untuk memperbaiki dari dalam ?" Syaikh Khalid menjawabnya : "Yang pertama, perbaikan dari dalam bukan berarti bahwa engkau tetap bersamanya. bentuk pengingkaran paling kecil adalah tindakanmu memisahkan diri darinya. Pengingkaran terkecil itu adalah tindakanmu memisahkan diri darinya, tidak bergaul dengannya. Adapun apabila engkau tetap bersama mereka, bergaul dengan mereka, mendiamkan kemungkaran-kemungkaran mereka, maka tidak akan terjadi perbaikan pada diri mereka dan tidak pula pada dirimu. Jadi, perkataan seperti itu adalah perkataan yang tidak benar. Khususnya jika disana ada saudara-saudara salafiyyun, hendaknya saudara-saudara kita yang salafiyun tersebut menyeru, menda’wahi mereka dan menasehati mereka dari/dalam keadaan jauh dari mereka. Apabila mereka menerima nasehat tersebut, Dan juga apabila diantara mereka ada yang menerima kebenaran, Alhamdulillah …(ada perkataan yg tidak jelas)… bahwa bentuk pengingkaran yang paling kecil adalah memisahkan diri dari mereka. Tidak bersama mereka dan tidak bermajlis

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

64

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

dengan mereka sebab tidak akan tercapai bentuk pengingkaran apabila seseorang itu tetap bersama mereka, mereka/kaum muslimin tidak memahami ketika seseorang tetap bersama suatu kelompok yang mempunyai penyimpangan, bahwa orang tersebut mengingkari manhajnya. Ketika meninggal Abu Rawwaad, manusia pada waktu itu melihat Sufyan ats-Tsawry, mereka mengatakan "Sufyan (Sufyan ats-Tsawry) akan menyolatkan orang tersebut". Kemudian ketika Sufyan tidak menyolatkan orang tersebut ditanyakan kepada beliau, "mengapa kamu tidak menyolatkannya". beliau menjawab, "agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’". Jadi, agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’, terutama apabila orang yang tidak menyolatkan tersebut adalah seorang yang mempunyai kedudukan dan derajad yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. " Syaikh juga menjelaskan, "Masyaa Allah, ada seseorang yang berani pergi bersama ahlul bid’ah/orang-orang yang menyimpang, bermajelis dengan mereka dengan mengatakan, "Saya akan menasihatinya" dan ia merasa aman terhadap dirinya dari fitnah. Ini adalah termasuk musibah paling besar dan termasuk pintu yang dijadikan oleh Syaithan untuk menjerumuskan banyak manusia. Dimana banyak dari kalangan manusia yang berhujjah bahwa mereka ingin menasihati dengan bergabung dengan mereka atau dengan alasan untuk memperbaiki dari dalam seperti yang telah disebutkan sebelum ini atau yang semisalnya, yang pada akhirnya akan menjadikan ia seorang pentolan dari kalangan pentolan mereka (yaitu ahlul bid’ah). Dan telah diriwayatkan dari Imran bin Hithaan dan ia adalah seorang rawi yang telah dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhaary dalam shahihnya. Dan Imran bin Hithaan ini pada akhirnya menjadi salah seorang pimpinan dari al-Khawaarij padahal sebelumnya dia adalah pemimpin Ahlus Sunnah. Imran bin Hithaan mempunyai seorang sepupu perempuan dan sepupu perempuannya ini adalah seorang pentolan dari kalangan khawaarij. Imran bin Hithaan berkata, "Saya menikahi sepupu 65Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

perempuan saya tsb agar saya bisa mengembalikannya kepada sunnah". Maka Imraan bin Hithaan menikahi sepupunya tsb kemudian akhirnya ia berubah menjadi salah seorang pemimpin al-Khawaarij. Jadi seseorang itu jangan merasa aman dari fitnah thd dirinya dengan bergaul dengan ahlul bid’ah, bermajelis dengan mereka, mendengarkan kajian2 mereka dan bergaul dengan mereka. Bagaimana mungkin ia merasa aman dari fitnah thd dirinya dan ini merupakan suatu keberanian, yaitu keberanian yang besar dari kalangan pemuda saat ini. Seseorang yang merasa percaya diri dan tidak khawatir fitnah akan menimpa dirinya. Dan di dalam sebuah hadits yang disebutkan oleh Ibnu Bathah dalam kitabnya al-Ibaanah, Dan ini adalah hadits shahih dari sabda Nabi ‘Alayhi Shallaatu Wasallam, " Barang siapa diantara kalian yang mendengar ttg kedatangan Dajjal maka janganlah ia mendatanginya." Demikian hadits ini disebutkan oleh Ibnu Bathah dalam kitabnya alIbaanah. Dan Ibnu Bathah berdalil dengan hadits ini ttg tidak bolehnya mendatangi ahlul bid’ah dan bermajelis dengannya. Hendaknya ia jangan pergi sekalipun ia tahu bahwa itu adalah dajjal bahwa ia adalah seorang yang kadzab/pendusta. Sekalipun ia mendengar kedatangannya dan ia yakin itu adalah dajjal tapi hendaklah ia tidak pergi karena dikhawatirkan ia akan tertimpa fitnah." (Dikutip dari http://tazhimussunnah.files.wordpress.com/2008/01/dialog-ustadzwildan-dengan-as-syaikh-abu-yasir-khalid-ar-raddadiy.pdf) Tidakkah mereka [Surury] juga mau mengambil pelajaran dari pengalaman Asy-Syaikh Prof. DR. Robi yang sekian lama bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dalam rangka untuk menasehati dengan memberikan syarat-syarat namun tidak ada perubahan sehingga beliau – hafizhahullah- menjauh dan berlepas diri dari Ikhwanul Muslimin, bahkan gigih menerangkan bukti bukti penyimpangannya dan penyimpangan tokoh-tokohnya sebagai wujud kecintaan beliau kepada umat agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan? Apakah mereka [Surury] merasa lebih pandai dan lebih lincah dan lebih “kebal manhaj” dari pada Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali? Masya Allah.

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

66

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

VII.i. “Jangan kalian seperti orang yang tidak punya rasa syukur, gurunya saja ditahdzir habis-habisan” Inilah mereka [Surury] ketika kehabisan alasan, untuk menutupi rasa malu berkatalah diantara mereka yang pernah mendidik orang-orang yang membantah mereka tadi, mereka berkata dihadapan mad’u-nya: “Jangan kalian seperti orang yang tidak punya rasa syukur, gurunya saja ditahdzir habis-habisan”, karena khawatir ucapan tersebut akan terus dipermasalahkan, maka sebagai ralat ucapannya itu dan berlanjut. VII. j Tidak usah tahdzir-tahdziran lah! Semangat saja belajar dan ibadah biar masuk Surga! Itu tujuan kita, kan? Merekapun mungkin akan berkata lagi: “Tidak usah tahdzirtahdziran lah! Semangat saja belajar dan ibadah biar masuk Surga! Itu tujuan kita, kan?”. Inilah lagu lama yang kini disenandungkan lagi. Kalau seperti itu, apa bedanya dengan Jama’atut Tabligh, yang mana apabila telah dikumandangkan jihad karena kaum muslimin telah dibantai, bahkan dari kalangan mereka sendiri juga dibantai tetapi mereka tetap enggan untuk berjihad dengan alasan tidak perlu perang dengan senjata, cukup dengan do’a yang dengannya orang-orang kafir itu akan binasa dengan sendirinya. Dan kalau terus kita berperang melawan orang kafir tentu akan menjadikan orang kafir terhalangi untuk mengetahui kelembutan dan keindahan Islam!? Maka perlu diingat lagi, apakah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mengutus Mu’adz Radiyallahu ‘anhu ke Yaman hanya memerintahkan cukup kamu ajarkan Sholat, puasa dan haji? Tidak demikian! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam memerintahkan yang pertama-tama diserukan adalah tauhid atau kalimat Laa Ilaha Illallah yang tentu konsekwensinya mengajarkan tauhid dan mentahdzir lawannya yaitu syirik. Dan bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pertama kali menyerukan tauhid dan mentahdzir lawannya yaitu syirik Hal ini bisa kita saksikan dalam Kitab Sittatu Mawadhi’ minas Siroh buah karya dari Syaikhul Islam Muhammad Abdul Wahhab –rahimahullah-. Dari sini kita ketahui, sangatlah salah jika ada sebagian 67Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

da’i hanya senang mengkaji fiqih dan terus sibuk dengan masalah fiqh dan menjauh dari masalah manhaj serta menutup mata dengan masalah tahdzir. VII. k Biarkan [yang ditahdzir itu], dia juga punya jasa! Semua orang bisa salah dan bisa benar Ketika tahdziran terhadap kelompok dan pimpinan kelompok yang mereka bela mati-matian selama ini, karena beberapa hadits nabi ditolak dengan alasan menyelisihi akal atau tidak masuk akal. Dan ketika heboh istilah Wahabi dengan gemetar dan merintih badannya takut dikatakan Wahabi, dengan penuh menghinakan diri menegaskan dakwah mereka bukan dakwah Wahabi dan mereka tidak kenal siapa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ketika demikian gencar bantahan terhadap mereka, dengan lisan ringan mereka [surury dan hizbi] berkata: “Biarkan [yang ditahdzir itu], dia juga punya jasa! Semua orang bisa salah dan bisa benar”. Sampai ada dari mereka berani mengatakan “Kenapa ahli tahdzir itu tidak mentahdzir Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar yang juga salah? Bukankah dia juga salah dalam Aqidah”. Subhanallah! Mereka mau menyamakan pimpinan kelompok mereka dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, apa Al-Hafidz Ibnu Hajar menolak hadits Shohih? Beliau – rahimahullah- salah hanya dalam masalah memahami bukan menolak nash, dan lagi pula beliau seorang mujtahid [yang telah diakui keilmuannya oleh para ‘Ulama sezamannya dan ‘Ulama setelahnya], dan apabila mujtahid salah dalam ijtihadnya maka dia mendapat satu pahala namun apabila benar dia mendapat dua pahala. VII.l. Walau sudah jadi da’i tetap saja sedikit karakter premanismenya tidak hilang Sudah menjadi kebiasaan mereka [Surury dan Hizbi] yang selalu menjelekan Ahlussunnah dan bahkan para ‘Ulama Ahlussunnah mereka hinakan, tidak heran kalau kemudian salah satu dari mereka (Abu Salma Muhammad Rachdie Pratama, S.Si murid Abdurrahman Abu Auf atTamimi, pengajar STAI Ali bin Abi Thalib alias Ma’had Ali Al Irsyad as

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

68

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

Salafi, Surabaya) berkata: “… sebelum jadi da’i dia ini adalah preman… jadi walau sudah jadi da’i tetap saja sedikit karakter premanismenya tidak hilang…". “Biasanya yang bisa menerima ucapan-2 Abu Masud ini adl org yg serupa atau juga mantan preman. Jadi cocoklah preman ketemu preman.” (Sumber dari buku tamunya buku tamunya nomor 122 pada Mei 8th, 2007 pada 2:03 pm). Mereka berani mengatakan seperti itu, lalu bagaimana dengan ‘Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab Radiyallahu ‘anhu yang sangat tegas dan keras sampai setiap orang yang membawa syubhat dan yang memiliki pemikiran sesat langsung dipukul dengan pelepah korma hingga berlumuran darah, apakah mereka [surury dan hizbi] itu akan mengatakan: “Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab Radiyallahu ‘anhu sebelum jadi shahabat dia ini adalah preman… jadi walau sudah jadi shahabat tetap saja sedikit karakter premanismenya tidak hilang….” Kita berlindung kepada Allah dari ucapan dan keyakinan keji terhadap para shahabat radhiyallahu 'anhum. Demikianlah sebagian ucapan keji mereka terhadap para ‘Ulama Ahlussunnah, seolah-olah para ‘Ulama Ahlussunnah adalah pembuat dosa, sehingga mereka dengan gampang berkata kepeda mereka dengan perkataan keji, tidakkah mereka mau merenungi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﺎ‬‫ﺒﹺﻴﻨ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﺇﹺﺛﹾﻤ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺎﻧ‬‫ﺘ‬‫ﻬ‬‫ﻞﹶ ﺑ‬‫ﻤ‬‫ﺘ‬‫ ﺍﺣ‬‫ﺮﹺﻳﺌﹰﺎ ﻓﹶﻘﹶﺪ‬‫ ﺑ‬‫ﻡﹺ ﺑﹺﻪ‬‫ﺮ‬‫ ﻳ‬‫ﺎ ﺛﹸﻢ‬‫ ﺇﹺﺛﹾﻤ‬‫ﻴﺌﹶﺔﹰ ﺃﹶﻭ‬‫ﻄ‬‫ ﺧ‬‫ﻜﹾﺴِﺐ‬‫ ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ “Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (An-Nisa’: 112).

69Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

BAB VIII Seruan Untuk Taubat! Subhanallah! Dari sebagian ucapan keji yang kami kutipkan tersebut menunjukkan kalau mereka [surury dan hizbi] tenyata tidak pernah lelah dan letih, mereka terus gencar membuat permusuhan terhadap Ahlussunnah. Apakah mereka akan membenci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam yang terus mentahdzir kesesatan, dan mentahdzir kaum musyrikin sampai kemudian kaum musyrikin mentahdzir balik dan kemudian membuat tuduhan keji dan bahkan berupaya melakukan makar sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan: ‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ ﺧ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﻭ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻜﹸﺮ‬‫ﻤ‬‫ﻳ‬‫ﻭﻥﹶ ﻭ‬‫ﻜﹸﺮ‬‫ﻤ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻮﻙ‬‫ﺮﹺﺟ‬‫ﺨ‬‫ ﻳ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﻠﹸﻮﻙ‬‫ﻘﹾﺘ‬‫ ﻳ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ﻮﻙ‬‫ﺜﹾﺒﹺﺘ‬‫ﻴ‬‫ﻭﺍ ﻟ‬‫ ﻛﹶﻔﹶﺮ‬‫ﻳﻦ‬‫ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ ﺑﹺﻚ‬‫ﻜﹸﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺇﹺﺫﹾ ﻳ‬‫ﻭ‬

‫ﺮﹺﻳﻦ‬‫ﺎﻛ‬‫ﺍﻟﹾﻤ‬ “Dan ketika orang-orang kafir melakukan [daya dan upaya] terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (Al-Anfal: 30). Tidakkah mereka seharusnya menyikapi tahdziran itu dengan baik sangka, apakah mereka lupa dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﻬﹺﻴﺪ‬‫ ﺷ‬‫ﻮ‬‫ﻫ‬‫ ﻭ‬‫ﻊ‬‫ﻤ‬‫ ﺃﹶﻟﹾﻘﹶﻰ ﺍﻟﺴ‬‫ ﺃﹶﻭ‬‫ ﻗﹶﻠﹾ ﺐ‬‫ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻟﹶﻪ‬‫ﻦ‬‫ﻤ‬‫ﻯ ﻟ‬‫ﻛﹾﺮ‬‫ ﻟﹶﺬ‬‫ﻚ‬‫ﻲ ﺫﹶﻟ‬‫ﺇﹺﻥﱠ ﻓ‬ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaf: 37). Ataukah mereka [surury dan hizbi] menginginkan tahdziran lenyap supaya kesesatan, penyimpangan dan kebatilan bercampur dengan al-haq? Apakah tidak sampai kepada mereka firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﻭﻥﹶ‬‫ﺪ‬‫ﺘ‬‫ﻬ‬‫ ﻣ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ ﺍﻷﻣ‬‫ﻢ‬‫ ﻟﹶﻬ‬‫ﻚ‬‫ ﺑﹺﻈﹸﻠﹾﻢﹴ ﺃﹸﻭﻟﹶﺌ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺎﻧ‬‫ﻮ ﺍ ﺇﹺﳝ‬‫ﻠﹾﺒﹺﺴ‬‫ ﻳ‬‫ﻟﹶﻢ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺍﻟﱠﺬ‬

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

70

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

“Dan orang-orang yang beriman, [mereka] tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezholiman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mendapat petunjuk” (Al-An’am: 82). Tidakkah mereka [surury dan hizbi] mau meninggalkan perbuatan jelek itu supaya mereka mendapat keamanan dan petunjuk? Tidakkah mereka [surury] dan kelompok-kelompok sesat itu, mau mengambil pelajaran supaya mau bertaubat? Kami mengajak mereka untuk beradab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segera bertaubat dan kembali kepada al-haq serta bergabung dengan Ahlussunnah semoga mereka dapat petunjuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah perintahkan: ‫ﻭَﺍﺗﱠﺒِﻊْ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﻣَﻦْ ﺃَﻧَﺎﺏَ ﺇِﻟَﻲﱠ‬ “Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku” (Luqman: 15). Perhatikanlah bahwa setiap nash apabila datang dengan bentuk perintah maka itu berfaedah wajib dan segera untuk dilaksanakan, para ulama ushul menegaskan masalah ini dengan berdalil hadits Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : َ ‫ﻠﹶﺎﺓ‬‫ ﻛﹸﻞﱢ ﺻ‬‫ﺪ‬‫ﻨ‬‫ ﻋ‬‫ﺍﻙ‬‫ﻮ‬‫ ﺑﹺﺎﻟﺴ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺗ‬‫ﺮ‬‫ﻲ ﻟﹶﺄﹶﻣ‬‫ﺘ‬‫ﻠﹶﻰ ﺃﹸﻣ‬‫ ﻋ‬‫ﻖ‬‫ﻟﹶﺎ ﺃﹶﻥﹾ ﺃﹶﺷ‬‫ﻟﹶﻮ‬ "Kalaulah tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat. " Jumhur Ulama berpendapat: “Hadits tersebut adalah dalil atas bahwasanya setiap perintah itu berfaedah wajib, dan ini adalah madzhab mayoritas fuqaha”. Ditambah lagi kejelasannya dalam Al-Qur’an sebagaimana perkataan Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih AlUtsaimin rahimahullah: “Dan dalil atas bahwasanya setiap perintah itu berfaidah wajib, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﻴﻢ‬‫ ﺃﹶﻟ‬‫ﺬﹶﺍﺏ‬‫ ﻋ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻴﺒ‬‫ﺼ‬‫ ﻳ‬‫ﺔﹲ ﺃﹶﻭ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ ﻓ‬‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻴﺒ‬‫ﺼ‬‫ ﺃﹶﻥﹾ ﺗ‬‫ﺮﹺﻩ‬‫ ﺃﹶﻣ‬‫ﻦ‬‫ﻔﹸﻮﻥﹶ ﻋ‬‫ﺎﻟ‬‫ﺨ‬‫ ﻳ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺬﹶﺭﹺ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﺤ‬‫ﻓﹶﻠﹾﻴ‬ ".....maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” Segi pengambilan dalil adalah: Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan 71Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

orang-orang yang menyelisihi perintah Ar-Rasul akan ditimpakan kepada mereka fitnah.” Kalau mereka [surury dan kelompok sesat] mau bertaqwa kemudian mau bertaubat maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tampakkan kepada mereka furqan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ampuni kesalahan-kesalahan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ﻴﻢ‬‫ﻈ‬‫ﻞﹺ ﺍﻟﹾﻌ‬‫ ﺫﹸﻭﺍﻟﹾﻔﹶﻀ‬‫ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﻭ‬‫ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﺮ‬‫ﻔ‬‫ﻐ‬‫ﻳ‬‫ ﻭ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺌﹶﺎﺗ‬‫ﻴ‬‫ ﺳ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻨ‬‫ ﻋ‬‫ﻜﹶﻔﱢﺮ‬‫ﻳ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻗﹶﺎﻧ‬‫ ﻓﹸﺮ‬‫ﻞﹾ ﻟﹶﻜﹸﻢ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ ﻳ‬‫ﻘﹸﻮﺍ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺘ‬‫ﻮﺍ ﺇﹺﻥﹾ ﺗ‬‫ﻨ‬‫ ﺁﻣ‬‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶﻳ‬‫ﻳ‬ “Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepada kalian Furqaan. Dan kami akan jauhkan diri kalian dari kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29). Dari ayat tersebut terdapat beberapa keterangan dari ahli tafsir, yang perlu kita ketahui, yaitu: Pertama, Al-Furqan adalah pembeda, yang membedakan antara petunjuk dengan kesesatan, membedakan al-haq dan al-bathil, membedakan al-halal dan al-harom. Lafadz ‫ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻜُﻢْ ﻓُﺮْﻗَﺎﻧًﺎ‬yaitu ًniscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kepada kalian furqan yang akan membedakan antara al-haq dengan al-bathil, antara yang membahayakan dengan yang memberikan manfaat. Kedua, Penghapusan kejelekan dan terampuninya dosa yaitu dengan sebab ketaqwaan kalian yang kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan furqan sehingga kemudian terhapuslah kejelekan dan terampunilah dosa kalian. Ketiga, Pahala yang besar yakni ketika kalian telah bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan furqan kepada kalian kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala hapus kesalahan kalian dan Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni dosa-dosa kalian maka disaat itulah kalian mendapatkan balasan [pahala] yang besar. Tidakkah mereka kemudian mau merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

72

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia

Tahdzir ≠ Razia

Surury Berkamuflase Salafy

Surury Berkamuflase Salafy

‫ﻮﻥﹶ‬‫ﻮﺗ‬‫ﻤ‬‫ ﻳ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻻ ﺍﻟﱠﺬ‬‫ ﺍﻵﻥﹶ ﻭ‬‫ﺖ‬‫ﺒ‬‫ﻲ ﺗ‬‫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺇﹺﻧ‬‫ﺕ‬‫ﻮ‬‫ ﺍﻟﹾﻤ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﺪ‬‫ ﺃﹶﺣ‬‫ﺮ‬‫ﻀ‬‫ﻰ ﺇﹺﺫﹶﺍ ﺣ‬‫ﺘ‬‫ ﺣ‬‫ﺌﹶﺎﺕ‬‫ﻴ‬‫ﻠﹸﻮﻥﹶ ﺍﻟﺴ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ ﻳ‬‫ﻳﻦ‬‫ﻠﱠﺬ‬‫ﺔﹸ ﻟ‬‫ﺑ‬‫ﻮ‬‫ ﺍﻟﺘ‬‫ﺖ‬‫ﺴ‬‫ﻟﹶﻴ‬‫ﻭ‬

‫ ﻛﹸﻔﱠﺎﺭ‬‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﻭ‬ “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.” (An-Nisa’: 18). Apakah mereka tidak ingin merealisasikan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala : ‫ﻴﻢ‬‫ﺣ‬‫ﺍ ﺭ‬‫ ﻏﹶﻔﹸﻮﺭ‬‫ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﺕ‬‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ ﺣ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺌﹶ ﺎﺗ‬‫ﻴ‬‫ ﺳ‬‫ﻝﹸ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ ﻳ‬‫ﻚ‬‫ﺎ ﻓﹶﺄﹸﻭﻟﹶﺌ‬‫ﺤ‬‫ﺎﻟ‬‫ﻼ ﺻ‬‫ﻤ‬‫ﻞﹶ ﻋ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ ﻭ‬‫ﻦ‬‫ﺁﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﺎﺏ‬‫ ﺗ‬‫ﻦ‬‫ﺇﹺﻻ ﻣ‬

Tidakkah kita mau mengambil pelajaran?. ‫ﻭﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻰ ﳏﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﲨﻌﲔ‬. Cikarang, Senin Dhuha 10 Juli 2008 Hamba yang faqir atas ampunan Robbnya Abul ‘Abbas Khidhir Al-Limbory

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal sholih; maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70)? Janganlah mengira bahwa taubat [atau kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ] adalah suatu aib atau cela, tapi justru itulah alamat keberhasilan dan kesuksesan. Tidakkah kita ingat Wahsyi seorang pembunuh panglima perang Uhud; Hamzah bin Abdil Muththolib Radiyallahu ‘anhu [paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam yang dicintai] berani bertaubat, karena merasa dirinya telah banyak memudharatkan Islam di masa-masa kekufurannya. Beliau Radiyallahu ‘anhupun berupaya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk Islam dan berjihad membela Islam, Wahsyi Radiyallahu ‘anhu bersabda : “Sesungguhnya tidak ada yang dapat membersihkan aku dari dosa-dosaku kecuali dengan membela Islam habis-habisan sebagaimana dahulu aku menghinakan Islam habishabisan.” Sampai akhirnya beliau Radiyallahu ‘anhu berhasil membunuh dengan melemparkan tombaknya ke perut Musailamah Al-Kadzdzab sang nabi palsu, yang tombak tersebut dahulunya dia lemparkan ke perut Hamzah bin Abdil Muththolib Radiyallahu ‘anhu.

73Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

74

Katakan al-Haq walaupun Pahit Rasanya

Tahdzir ≠ Razia Surury Berkamuflase Salafy

75Abul ‘Abbas Khodhir bin Nurussalim Al-Limbory Darus Sholah

Related Documents

Kalimat Al Haq
October 2019 19
Haq Al Sama
June 2020 8
Ad Diinul Al Haq
December 2019 28
Katakan Sejujurnya.pdf
November 2019 19