Che

  • June 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Che as PDF for free.

More details

  • Words: 1,722
  • Pages: 6
Che, Vive Sisi-Sisi Lain Dari Kehidupan Ernesto Guevara

T. W. Utomo

Pengantar Saya bukan penganut paham komunisme. Mungkin juga saya tidak terlalu mendukung ismeisme lain yang diciptakan manusia. Kalau toh ada kesamaan antara yang saya lakukan dengan prinsipprinsip isme itu, mungkin karena kebetulan saja. Harap maklum, kehidupan di dunia ini memang sudah begitu kental dengan isme-isme yang dikembangkan orang-orang tertentu di berbagai penjuru dunia. Buktinya, saat bangun tidur lalu mandi hingga tidur lagi, diam-diam tanpa sengaja saya telah menjadi korban produk sebagian isme itu. Misalnya, saya mandi dengan sabun yang diproduksi dalam negeri atas lisensi luar negeri dengan prinsip kapitalisme. Saya juga tidak anti-Amerika, tidak anti-kapitalis, dan tidak anti-anti yang lain. Saya adalah realistis. Sebagai wartawan, saya ingin melihat sesuatu apa adanya dan menelusuri lebih mendalam mengapa dan bagaimana sesuatu itu bisa ada. Karena itu, saya tidak anti ini atau anti itu, namun memanfaatkan ini atau itu untuk tujuan-tujuan yang lebih realistis. Saya juga bukan pengagum berat Che Guevara. Saya kenal Che saat teman-teman kuliah berdiskusi soal teori-teori ketergantungan di Amerika Latin dan implikasinya terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kala itu saya juga pernah melihat stiker wajah Che di beberapa tempat. Selain gambar wajah Che, ada juga coretan khas tandatangannya. Namun, perkenalan saya dengan figur Che masih sangat dangkal. Apa lagi sampai tergila-gila lalu menokohnya. Saya belum sampai sejauh itu. Saya lebih banyak mengetahui Che justru setelah sesaat menjadi wartawan. Kebetulan kala itu ada berita soal ditemukannya jazad Che di Bolivia. Saya menulis berita yang disampaikan kantor berita Reuter untuk dimuat di koran tempat saya bekerja. Sebagai wartawan, saya harus bisa mengetahui lebih berbagai obyek berita itu sebelum menyajikannya untuk khalayak ramai. Maka, saya pun mulai mengorek-ngorek sejumlah info soal Che sehingga pengetahuan saya bertambah. Setelah itu, memori tentang Che agak terlupakan karena saya harus mengurusi pekerjaan yang lain di bidang kewartawanan dan akademik. Suatu ketika, entah karena apa, tiba-tiba saya memasang gambar Che untuk wallpaper di layar komputer kerja saya. Kala itu, saya baru saja browsing jagad maya internet untuk mencari gambargambar bagus sebagai hiasan komputer. Sebelum memasang gambar Che mengisap cerutu besar, di layar komputer saya ada gambar haunted house yang terkesan agak membuat bulu roma merinding. Setelah ada gambar Che, komputer saya bergambar agak lain dibanding komputer teman-teman. Jika komputer teman-teman bergambar anaknya, cewek cantik dengan pose menantang, atau tokoh animasi terkenal, komputer saya justru bergambar tokoh revolusi. Ha…ha… saya tertawa sendiri. Komputer saya jadi agak sangar dan ikutan seperti revolusioner. Apakah saya bangga dengan gambar Che di komputer kerja saya? Sebenarnya sih perasaan saya biasa-biasa saja. Bagi saya, gambar Che atau gambar lainnya tidak terlalu banyak beda. Tergantung pada manusia-manusianya yang memaknai gambar-gambar itu. Orang mungkin mengangkat alis saat melihat wallpaper di layar komputer kerja saya. Orang lain mungkin menepuk pundak saya karena dia memang mengidolakan Che. Tapi, kebanyakan orang tidak memberi komentar apa-apa soal gambar itu. Saya sendiri juga tidak terlalu mengidolakan gambar Che itu. Lebih-lebih membanggakan gambar Che yang sedang menghisap cerutu besar. Saya ini tidak suka asap rokok, apa lagi sampai mengisap cerutu. Kalau ada salah satu yang saya suka dari Che, tentu itu adalah semangatnya untuk menjadi revolusioner. Che punya semangat luar biasa dan nyaris tak pernah patah. Saat menjelang ajal pun, Che masih menunjukkan pribadi yang konsisten sebagai tokoh revolusioner. Memang, ada sih beberapa

sikap Che yang tidak konsisiten. Tapi, umumnya orang menilai ia teguh dengan prinsipnya seteguh wajah dingin dan senyum sinisnya. Ada beberapa bukti untuk menunjukkan kegigihan semangat itu. Sebagai putra keluarga yang cukup berada di Argentina, Che memilih hidup di hutan-hutan untuk bergerilya menggulingkan rezim yang dianggapnya menindas rakyat. Sebagai dokter, ia semestinya bisa mendapatkan banyak uang di kota, tapi ia lebih memilih mengunjungi kaum Indian yang berpenyakit kusta di pegunungan terpencil. Ketika sudah hidup mapan menjadi orang top sebagai menteri di pemerintahan Kuba, Che lama-lama juga tidak kerasan. Jiwa revolusioner menuntutnya untuk mencari lahan baru bertualang. Ia menyampaikan surat perpisahan pada Presiden Fidel Castro dan kembali ke hutan di Afrika dan Amerika Latin. Dia juga berani mengkritik Uni Soviet yang dianggapnya sudah mulai konservatif. Saya suka pada sikap konsistennya itu, bukannya cara-cara dia melakukan revolusi bersenjata. Selain itu, salah satu isme dari Che yang saya dukung adalah anti-imperialisme. Tapi, tentu saja level pemahaman Che dan perilaku saya soal anti-imperialisme ini jauh berbeda. Saya tidak suka dengan penindasan dan ekspolitasi berlebihan orang atas orang lainnya dengan cara tidak adil. Che juga. Bedanya, Che bisa mewujudkan itu di medan nasional hingga internasional. Kalau saya, lingkupnya masih di tingkat diri sendiri dan orang-orang sekitar. Itu pun saya tidak selalu berhasil. Sementara, Che sering memandang eksploitasi itu dilakukan oleh pemimpin negara atas rakyatnya atau oleh sistem kapital besar lewat jaringan internasional. Ia bisa memberikan advokasi hingga terjun langsung ke peperangan. Saya? Hemm... masih belum banyak berbuat apa-apa. Nah, ketika ada seorang teman datang dan menantang saya untuk menuliskan buku tentang Che, saya menjadi tertarik sekali. Saya bukan lagi sekadar membaca kisah hidup dan pemikiran-pemikiran Che, tapi juga menuliskannya dengan cara saya sendiri. Tapi, maaf, saya belum bisa menulis panjang, lebar dan detil seperti wartawan John Lee Anderson lewat buku A Revolutionary Life setebal lebih dari 800 halaman. Harap maklum, seumur hidup saya tidak pernah bertemu Che. Saya juga tidak pernah bergaul dengan orang-orang dekat Che. Yang saya dapatkan cuma berita-berita terkini serta dokumentasi tentang diri Che serta sekelumit kecil pandang orang-orang dekatnya. Beda dengan Anderson yang punya cukup banyak waktu dan dana cukup banyak untuk menelusurinya. Buku kecil tentang Che yang saya susun ini hanya hasil pencarian lewat jagad cyber. Boleh dikata, saya tinggal comot sana comot sini lalu menuliskannya lagi menjadi buku ini. Tentu saja banyak sekali kelemahannya karena penggalian saya sangat dangkal. Tingkat analisis saya juga tidak terlalu canggih karena pengetahuan saya masih sedikit. Saya yakin, jauh lebih banyak orang yang mengetahui berbagai sisi soal Che dari pada yang saya ketahui. Dalam buku yang sangat sederhana ini, saya mencoba menyajikannya tulisan sebagaimana layaknya gaya wartawan menulis berita. Tentu saja, itu tetap diadaptasikan menjadi tulisan panjang untuk buku. Saya mencoba mengungkap Che dari berbagai sisi yang populer-populer saja. Kalau membahas soal ideologinya, sudah banyak situs-situs ‘kiri’ yang menawarkan itu. Kalau membahas kisah hidupnya, beli saja buku-buku khusus biografi Che. Kalau soal pemikirannya, Che sendiri adalah penulis yang produktif dan banyak menghasilkan karya yang sudah dijual ke berbagai penjuru jagad. Maka, saya memilih sedikit tentang perjuangannya, sedikit tentang kematiannya, saya juga mencoba mengungkap sebagian kisah-kisah kecil tentang dirinya. Dalam salah satu bagian, saya menemukan beberapa sumber yang mengungkap kebiasaan Che merokok cerutu. Mengapa saya pilih tema soal cerutu? Sederhana saja jawabnya. Saat mencari gambargambar Che, saya menemukan banyak sekali ia berpose mengisap cerutu. Dari situ lalu saya menyimpulkan, tentu ada banyak cerita menarik soal Che dengan cerutu. Setelah browsing lebih dalam, saya memang menemukan sejumlah data menarik soal itu. Misalnya, bagaimana Che yang berpendidikan dokter itu menjadi begitu tergangtung pada cerutu dan menasihatkan orang lain untuk

mengisap cerutu. Saking tergantungnya, Che pernah mengisap asap bakaran daun apa saja ketika sudah tidak punya lagi stok cerutu. Atau, bagaimana ia solider dengan teman-temannya saat membuat cerutu sepanjang 40 senti lalu memotong-motongnya untuk dibagi rata. Sisi sederhana lain adalah soal salah satu gambarnya yang begitu populer di berbagai penjuru dunia. Gambar Che dengan tatapan mata tajam dan mengenakan topi baret berhiaskan bintang itu direproduksi oleh banyak orang. Dari cap berbagai produk seperti cerutu, asbak, minuman keras, hingga menjadi kaos yang dibawa-bawa demonstran anti-globalisasi di yang hampir menggagalkan sidang Forum Ekonomi Dunia. Dari berbagai belahan dunia sana, hingga ke kaos tetangga saya yang bonek pendukung Persebaya. Nah, dari begitu banyak reproduksi, orang kadang lupa pada si pembuat foto yakni Alberto Diaz Korda. Meski foto itu direproduksi berjuta-juta kali dan bahkan menjadi label produk kapitalisme, Korda boleh dikata tak sepeser pun mendapatkan uang dari royalti. Ada juga satu bagian tulisan tentang kebangkitan kembali Che Guevara. Untuk bagian ini, sudah banyak sekali yang sudah mengulas. Bahkan, majalah terkenal semacam TIME dan Newsweek juga membuat laporan khusus. Begitu juga dengan berbagai media lain di berbagai penjuru dunia. Kebangkitan kembali Che itu dalam wujud terus berkembangnya pemikiran revolusioner di kalangan generasi muda di berbagai penjuru dunia dan munculnya wajah Che dalam berbagai bentuk produk yang dijual pada umum. Che sebagai ikon tetap laku sebagai figur semangat anti-imperialisme. Pada saat yang sama, figur Che dimanfaatkan kaum kapitalis untuk berjualan produk yang sama sekali tidak sejalan dengan perjuangan Che. Pada suatu titik penulisan buku ini, saya juga sempat berfikir; jangan-jangan saya juga terpengaruh arus global untuk memanfaatkan nama besar Che sebagai cara mencari uang. Tapi, kemudian saya ralat sendiri pikiran itu. Alasannya sederhana saja; berapa sih kekayaan yang bisa didapatkan penulis buku non-populer di Indonesia? Kalau di Amerika, orang bisa mengandalkan masa pensiun lewat royalti buku. Di Inggris, J.K. Rowling bisa menjadi salah satu orang terkaya setelah menulis beberapa seri Harry Potter. Di Indonesia, tahapannya masih belum sampai sejauh merekamereka itu. Jarang sekali penulis buku di Indonesia yang bisa kaya raya. Hanya ada satu atau dua penulis yang tanpa sengaja mengalami boom, lalu dapat uang banyak saat itu saja. Maka, saya bisa sedikit menghibur diri; saya membuat buku tentang Che ini bukan untuk mengeksploitasi kepopulerannya agar mendapat banyak keuntungan finansial. Buku ini saya tulis untuk memberikan secuil informasi tentang Che bagi siapa saja yang membutuhkannya. Siapa tahu, buku sederhana ini bisa memberi inspirasi pada sebagian kita yang sedang krisis inspirasi. Surabaya, April 2007

Teguh W. Utomo

Daftar Isi

Bab 1 Sedarah dengan Pemberontak IRA dan Basque * Nenek Moyang Che Petualang dari Galway Bab 2 Sang Pembebas Kaum Tertindas * Perjalanan Hidup Ernesto ‘Che’ Guevara Bab 3 Tak Takut Hadapi Ancaman Maut * Saat-saat Terakhir Kehidupan Che Bab 4 Memotong Ketergantungan Dengan Jalan Revolusi * Kondisi Amerika Latin Saat Che Melawan Imperialisme Bab 5 Musuh Revolusi adalah Negara Besar yang Mengontrol Organisasi Internasional * Pemikiran Che Soal Transisi Pemerintahan dan Tantangannya Bab 6 Negara-negara Lain Telah Memanggil Saya Untuk Menyumbangkan Keringat * Surat Perpisahan dari Che untuk Fidel Castro Bab 7 Jangan Biarkan Ketidak-adilan Terjadi di Mana pun dan terhadap Siapa pun * Che Mendidik Anak-anaknya Lewat Surat Bab 8 Gagal Memerdekakan Diri Sendiri dari Asap Tembakau * Dokter Ahli Alergi Itu Hobi Mengisap Cerutu

Bab 9 Tampak Seperti Ada Misteri di Kedua Matanya * Susahnya Mengambil Gambar Che Bab 10 ‘Che Vive!’ dan Che Kini Lebih Hidup daripada Sebelumnya * Komersialisasi Figur Ikon Bab 11 Aku Bukan Pembebas. Manusia Membebaskan Dirinya Sendiri. * Berbagai Kutipan Ucapan Che

Diterbitkan oleh Selaras Publishing, Surabaya

Related Documents

Che
June 2020 50
Che
November 2019 63
Che
June 2020 30
Che
April 2020 31
Che
May 2020 33
Che
May 2020 34