Chairunisa Isnainingrum/ X Mipa 3/ 07
Hikayat Si Miskin Dahulu kala, sepasang suami istri yang sangat miskin berusaha mencai rezeki dengan berkeliling di negara antah berantah. Negara antah berantah tersebut diperintahkan oleh Maharaja Indera Dewa yang sangat diagungkan di kerajaan tersebut. Beberapa raja di di tanah Dewa tersebut takluk dan selalu mengantarkan upeti setiap tahun kepada Maharaja Indera Dewa. Suatu hari, si Miskin datang ke istana Maharaja Indera Dewa yang disana juga terdapat raja, menteri, dan rakyat yang sedang menghadap sang raja. Pakaian si Miskin saat itu seperti kain yang digigit oleh seekor anjing, robek – robek. Semua orang lantas tertawa sambil melempari mereka dengan kayu dan batu hingga tubuh mereka bengkak dan berdarah. Baginda raja heran dengan keramaian yang terjadi di istananya “Apa yang sedang terjadi di luar?” tanya baginda raja. “Ya tuanku Syah Alam, orang – orang di luar sana sedang melempari si miskin” “Usir mereka semua dari istana ini!” perintah baginbda raja. Si Miskin pun pergi dari istana tersebut hingga sampailah di tepi hutan. Orang – orang yang ramai sudah kembali ke rumahnya. Begitupula dengan baginda raja yang masuk ke istananya dan raja – raja serta menteri – menteri juga kembali ke rumahnya. Si Miskin malam itu harus tinggal di dalam hutan. Setelah siang hari, si Miskin berjalan menuju istana untuk mencari rezekinya. Saat si Miskin sampai disuatu perkampungan, si Miskin akan dilempari dengan kayu jika ketahuan oleh pemimpin kampung itu dan segeralah si Miskin berlari jauh dari kampung itu. Saat dia tiba di pasar, maka orang – orang akan melemparinya dengan batu ataupun kayu sehingga ia berlari dengan tunggang langgang dan tubuhnya habis berlumuran darah. Sepanjang perjalanan pulang, si Miskin hanya bisa menangis dan menahan rasa lapar serta dahaganya. Terpaksalah si Miskin mencari makanan di tempat sampah yang ia lewati saat perjalanan pulang. Diambilnya ketupat yang sudah basi yang dibuang oleh orang pasar dengan buku tebu. Dimakannya ketupat basi tersebut lalu barulah buku tebu itu ia makan. Rasa dahaga dan laparnya sudah sedikit terobati. Hendak mati rasanya si Miskin saat dia ingin meminta pertolongan ke orang – orang. Bukannya dikasih barang, ke rumah mereka pun sudah ditolak. Suatu hari, saat petang, si Miskin kembali berjalan menuju hutan tempat ia tinggal dulu. Ia bersihkan seluruh luka yang ada ditubuhnya hingga darahnya sudah mengering. Si miskin pun mengeluh pada istrinya. “Ya tuanku, matilah rasaku ini. Sangatlah sakit rasanya tubuhku ini. Maka tiadalah berdaya lagi hancurlah rasaanya anggotaku ini.” Selang beberapa lama, sang istri mengandung 3 bulan. Sang istri menangis meminta buah mempelam yang ada di dalam taman raja itu. Sang suami saat menjadi raja di Keinderaan sangat tidak ingin memiliki anak. Si Miskin menyatakan keberatannya untuk menuruti keinginan isterinya itu, tetapi istri itu makin menjadi-jadi menangisnya. Maka berkatalah si Miskin, “Diamlah. Tuan jangan menangis. Biar Kakanda pergi mencari buah mempelam itu. Jikalau dapat, Kakanda berikan kepada tuan.” Si Miskin lalu pergi ke pasar, pulangnya membawa mempelam dan makanan-makanan yang lain. Setelah ditolak oleh isterinya, dengan hati yang sebal dan penuh ketakutan, pergilah si Miskin
menghadap raja memohon mempelam. Tiada disangka-sangka, raja sangat bermurah hati dan memberikan mempelam yang diminta si Miskin. Si Miskin mengambil buah mempelam tersebut seraya menyembah kepada baginda itu. Lalu ia keluar dan berjalan ke hutan untuk memberikan mempelam tersebut kepada istrinya. Sang istri merasa senang dan memakan buah mempelam yang didapat dari taman istana itu dengan tertawa – tawa. Tiga bulan kemudian, sang istri kembali meminta sebuah permintaan kepada suaminya. Kali ini sang istri menginginkan nangka yang ada di dalam taman raja itu. Lantas sang suami segera menuju ke taman raja dan memohon kepada baginda raja nangka tersebut. Seperti sebelumnya, sang raja memberikan nangka kepada si miskin. Ketika sampai di hutan, sang istri menyambut datangnya buah nangka dengan senang. Selama istri si Miskin hamil, semakin banyak orang yang datang memberi bantuan makanan, kain baju, beras, dan segala kebutuhan. Pada hari baik, setelah cukup bulannya, pada malam empat belas hari bulan, ketika bulan sedang terang, istri si Miskin melahirkan seorang putra yang sangat elok parasnya. Anak itu diberi nama Markaromah yang artinya anak dalam penderitaan. Maka dirawatlah anak tersebut dengan penuh kasih sayang. Ketika si Miskin menggali tanah untuk memancangkan tiang atap tempat berteduh, tergali olehnya taju (topi mahkota) yang penuh berhias emas. Dengan kehendak Yang Mahakuasa, hal tersebut dapat terjadi. Sang istri datang dan melihat emas itu seraya berkata kepada suaminya, “Adapun akan emas ini sampai kepada anak cucu kita sekalipun tiada habis dibuat belanja.