225475256-lp-ate.docx

  • Uploaded by: Nugroho Tri
  • 0
  • 0
  • November 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View 225475256-lp-ate.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 1,646
  • Pages: 9
LAPORAN PENDAHULUAN TONSILITIS - RUANG BAITUNNISA 1 RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

Disusun Oleh : AHMAD IKHLASUL AMAL 092110004

STASE KEPERAWATAN ANAK PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG JUNI 2012

A. PENGERTIAN Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan lekosit, el-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis, 1994). Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis, 1994). Adenotonsilitis kronik adalah keradangan kronik pada tonsil sebagai akibat hipertrofi folikel-folikel getah bening disertai hipertrofi adenoid yang terjadi pada anak (http://medicastore.com, diunduh tanggal 9 juni 2012)

B. PENYEBAB Streptokokus hemolitikus grup A. Pneumokokus. Stafilokokus. Haemofilus influezae. (http://medicastore.com, diunduh tanggal 9 juni 2012) C. KLASIFIKASI Berdasarkan lama perjalanan penyakit dan penyebabnya, tonsillitis terbagi atas tonsillitis akut dan tonsillitis kronis. 1.

Tonsilitis Akut

-

Merupakan radang pada tonsil yang timbulnya (onset) cepat, atau berlangsung dalam waktu pendek (tidak lama), dalam kurun waktu jam, hari hingga minggu.

-

Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kripte tonsil dan tampak sebagai bercak kekuningan.

2. -

Tonsilitis Kronik Tonsilitis yang berlangsung lama (bulan atau tahun) atau dikenal sebagai penyakit menahun.

-

Bakteri penyebab tonsillitis kronik sama halnya dengan tonsillitis akut, namun kadang-kadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan gram negatif.

-

Faktor predisposisi tonsillitis kronis antara lain rangsangan kronis rokok, makanan tertentu, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat (http://publichealth.com,diunduh tanggal 9 juni 2012).

D. MANIFESTASI KLINIK 1. Penderita biasanya mengeluh sakit menelan, lesu seluruh tubuh, nyeri sendi. 2. Suhu tubuh sering mencapai 40°C, terutama pada anak. 3. Tonsil tampak bengkak, merah, dengan detritus berupa folikel atau membran. 4. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan leukositosis. 5. Pada tonsilitis kronik hipertrofi, tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripta lebar berisi detritus. Tonsil melekat ke jaringan sekitarnya. Pada bentuk atrofi, tonsil kecil seperti terpendam dalam fosa tonsilaris. 6. Gejala lainnya adalah demam, tidak enak badan, sakit kepala dan muntah (http://publichealth.com,diunduh tanggal 9 juni 2012).

E. PATOFISIOLOGI Bakteri dan virus masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas, akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi,dan bau mulut (Price, 1995).

F. PATHWAYS Invasi kuman patogen (bakteri / virus)

Penyebaran limfogen

Faring & tonsil

Proses inflamasi

hipertermi

Tonsilitis

Edema faring

Nyeri telan

Tonsil & adenoid membesar

Gangguan rasa nyaman : Nyeri

Sulit makan & minum

Gangguan pemenuhannutrisi < dari kebutuhan tubuh

Obstruksi jalan nafas

Ketidakefektifan jalan nafas

(Price, 1995)

G. PENATALAKSANAAN 1. Pemeriksaan Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa adalah pemeriksaan laboratorium meliputi : 1. Leukosit : terjadi peningkatan 2. Hemoglobin : terjadi penurunan 3. Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat

Diagnosis berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan fisik. Dengan bantuan spatel, lidah ditekan untuk melihat keadaan tonsil, yaitu warnanya, besarnya, muara kripte apakah melebar dan ada detritus, nyeri tekan, arkus anterior hiperemis atau tidak. Besar tonsil diperiksa sebagaiberikut: T0

= tonsil berada di dalam fossa tonsil atau telah diangkat

T1

= bila besarnya 1/4 jarak arkus anterior dan uvula

T2

= bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula

T3

= bila besarnya 3/4 jarak arkus anterior dan uvula

T4

= bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

2. Terapi a. Jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik per oral selama 10 hari. Jika anak mengalami kesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk suntikan. Tidak perlu memulai antibiotik segera, penundaan 1 – 3 hari tidak meningkatkan komplikasi atau menunda penyembuhan penyakit. Antibiotik hanya sedikit memperpendek durasi gejala dan mengurangi risiko demam rematik. Pasien tidak lagi menularkan penyakit sesudah pemberian 1 hari antibiotik b. Bila suhu badan tinggi, penderita harus tirah baring dan dianjurkan untuk banyak minum. Makanan lunak diberikan selama penderita masih nyeri menelan. c. Analgetik (parasetamol dan ibuprofen adalah yang paling aman) lebih efektif daripada antibiotik dalam menghilangkan gejala. Nyeri faring bahkan dapat diterapi dengan spray lidokain. d. Pada tonsilitis kronik, penting untuk memberikan nasihat agar menjauhi rangsangan yang dapat menimbulkan serangan tonsilitis akut, misalnya rokok, minuman/makanan yang merangsang, higiene mulut yang buruk, atau penggunaan obat kumur yang mengandung desinfektan. e. Bila terapi medikamentosa tidak berhasil dianjurkan terapi radikal dengan tonsilektomi. Indikasi tonsilektomi : Relatif a) Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil pertahun dengan terapi antibiotik adekuat.

b) Halitosis (nafas bau) akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis. c) Tonsilitis kronis atau berulang pada linier Streptokokkus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik  Mutlak (Absolut) a) Pembengkakan tonsil menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonal. b) Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase. c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam d) Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan tempat yang dicurigai limfoma (keganasan) e) Hipertropi tonsil atau adenoid dengan sindrom apnoe waktu tidur (http://medicastore.com, diunduh tanggal 9 Juni 2012)

H. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Pola persepsi dan tata hidup sehat. Meliputi

perawatan

diri

dan

cara

merawat

kesehatan

dirinya.

2. Pola nutrisi dan metabolisme. Meliputi makan dan minum, sebelum dan saat di rumah sakit berapa banyak minum dalam sehari serta apakah mengalami gangguan kebutuhan nutrisi 3. Pola eliminasi. Meliputi kebiasaan BAK dan BAB, warnanya, konsistensi, frekuensi, dan bau baik sebelum masuk rumah sakit atau masuk rumah sakit. 4. Pola istirahat dan tidur. Meliputi lama tidur klien, sebelum masuk rumah sakit dan setelah masuk rumah sakit, serta gangguan waktu tidur. 5. Pola aktifitas dan latihan. Meliputi aktivitas klien dirumah dan masyarakat serta lamanya klien beraktivitas. 6. Pola persepsi dan konsep diri. Dapat terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan hal itu merupakan dampak psikologi klien. Konsep diri meliputi : body image, ideal, harga diri, peran dan identitas.

7. Pola sensori dan kognitif. Daya pengelihatan, pendengaran, penciuman, perabaab dan perasa terjadi gangguan atau tidak, pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. 8. Pola reproduksi sosial. Meliputi hubungan klien dan keluarga (orang tua), mempunyai beberapa saudara dan termasuk anak keberapa. 9. Pola hubungan dan peran. Meliputi hubungan klien dengan teman sebaya, masyarakat, keluarga dan peran klien dalam keluarga. 10. Pola penanggulangan stress. Meliputi penyebab stress, koping terhadap stress, adaptasi terhadap stress dan pemecahan masalah. 11. Pola tata nilai dan kepercayaan. Agama dan keyakinan serta ritualitas (Doengoes, 2000). I. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses peradangan (inflamasi). 2. Nyeri akut berhubungan dengan nyeri telan. 3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nyeri telan, anorexia. 4. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan pembesaran tonsil. J. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses peradangan. Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam suhu tubuh turun. KH : - Tidak Terjadi Hipertermi - TTV dalam batas normal Intervensi : a.

Monitor tanda-tanda vital R/ peningkatkan suhu tubuh menandakan infeksi berlanjut

b.

Beri kompres dingin pada lipat ketiak, dahi dan belakang kepala R/ perpindahan panas secara konduksi

c.

Atur ventilasi ruangan dengan baik R/ memperlancar sirkulasi udara

d.

Anjurkan penderita untuk minum sedikit tapi sering R/ mempercepat evaporasi

e.

Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti pinetik

2.

Nyeri akut berhubungan dengan nyeri telan.

Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu 1 x 24 jam. KH : - Klien tidak merasa kesakitan saat menelan - Klien tenang - Skala nyeri O Intervensi : a.

Tingkatkan upaya untuk dapat melakukan proses menelan yang efektif seperti

bantu klien dengan mengontrol kepala R/ menetralkan hiperkstensi, membantu mencegah aspirasi dan meningkatkan kemampuan menelan b.

Letakkan Klien pada posisi / tegak selama dan setelah makan R/ menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi

c.

Anjurkan Kx untuk makan / minum sedikit tapi sering R/ meningkatkan intake cairan dan makanan serta melatih kempuan menelan

d.

Bila perlu berikan cairan melalui IV dan atau makan selalui selang R/ memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk

memasukkan segala sesuatu melalui mulut

3.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

nyeri telan, anorexia. Tujuan : Nutrisi terpenuhi dalam waktu 1 x 24 jam. KH : - Cukup - Nafsu makan meningkat Intervensi : a.

Kaji kemampuan klien untuk mengunyah atau menelan. R/ faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga klien harus terlindungi dari aspirasi.

b.

Timbang BB sesuai indikasi. R/ mengevaluasi keefektifab atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.

c.

Bersihkan mulut kx sebelum dan sesudah makan. R/ membersihkan sisa makanan dan memberikan rasa nyaman sehingga nafsu makan meningkat.

d.

Berikan makan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang sering dengan teratur. R/ meningkat intake makanan dalam memenuhi kebutuhan tubuh.

e.

Konsultasi dengan ahli gizi. R/ merupakan sumber efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori / nutrisi tergantung pada usia, BB, keadaan penyakit sekarang.

4. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan pembesaran tonsil Tujuan : Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan. KH: Jalan nafas bersih,Tanda-tanda vital dalam batas normal a.

Kaji fungsi sistem pernafasan. R/ Menunjukkan fungsi oksigenasi sitemik

b.

Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan. R/ Menghindari tanda-tanda sianosis dan keadekuatan pernafasan

c.

Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis). R/ Meningkatkan kewaspadaan dalam kebutuhan olsigenasi klien

K. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2010. Tonsilitis Pada Anak. http://medicastore.com-tonsilitis. Diunduh tanggal 8 juni 2012. Anonim, 2009. Tonsilitis. http://publichealth.com-tonsilitis. Diunduh tanggal 8 juni 2012. Boeis,Adam, 1994. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC. Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan Keperawatan dan masalah kolaboratif. Alih Bahasa : I Made Kanosa, Edisi III. EGC Jakarta. Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi: Konsep klinis prosesproses penyakit. Jakarta: EGC. Smeltzer dan Bare. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta: EGC.

More Documents from "Nugroho Tri"