Surat-kabar-guru-belajar-18-pendidikan-inklusi-pendidikan-untuk-semua.pdf

  • Uploaded by: Lea
  • 0
  • 0
  • November 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Surat-kabar-guru-belajar-18-pendidikan-inklusi-pendidikan-untuk-semua.pdf as PDF for free.

More details

  • Words: 22,368
  • Pages: 72
Menularkan Kegemaran Belajar

Guru Belajar Edisi ke 4 Tahun Ketiga, November 2018

PENDIDIKAN INKLUSI PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

#PendidikanUntukSemua

1

BERANDA

Surat Kabar

Guru Belajar Info Surat Kabar Guru Belajar

Alamat Surat Elektronik dan Media Sosial

Terbit setiap dua bulan sekali, surat kabar ini menampilkan praktik cerdas pengajaran dan pendidikan untuk menularkan kegemaran belajar pada Komunitas Guru. Isi tidak sepenuhnya mewakili pandangan redaksi. Dewan Redaksi Najelaa Shihab Bukik Setiawan Rizqy Rahmat Hani M. Abdurrahman

Alamat kantor Jalan Ciater Rawa Mekar Jaya, Serpong Tangerang Selatan, 15310

Kontributor Penyunting

Rizky Satria KGB Tangerang Selatan Sekolah Cikal

Panji Irfan SMP Tunas Argo Seruyan IG :@panji26irfan FB : Panji Irfan

Iwan Apriana KGB Bandung SMPN 1 Nagreg FB : Iwan Apriana

Tika Awalini IG :@tika_awalin FB : Tika Awalin

Suhud Rois KGB Cimahi SD Peradaban Insan Mulia IG : @suhudrois FB : Suhud Rois

Desainer Grafis

Marsaria Primadona Sekolah Cikal IG :@pimaaditya FB : Pima Aditya

2

Ina Lina Paud Hidayah Surabaya IG :@veenuz027 FB : Lina Ina

Surat Kabar Guru Belajar 18

Wilma Kailola Sekolah Kembang IG :@wilmakailola FB : -

Suhud Rois KGB Cimahi SD Peradaban Insan Mulia IG : @suhudrois FB : Suhud Rois

Semua Murid Semua Guru

Pendidikan Inklusi : Melibatkan Semua Keberhasilan Bersama

C

ita-cita pendidikan untuk semua, sering tidak menjadi prioritas. Jumlah individu berkebutuhan khusus di Indonesia, yang sekitar 12% dari populasi negara dimarginalkan dengan alasan bahwa mayoritas anak lainnya pun masih berada dalam keterbatasan. Disini kita melupakan, bahwa pendidikan untuk semua bukan soal keberpihakan pada salah satu golongan, tetapi percaya bahwa kesuksesan semua mencapai tujuan saling berkaitan. Manfaat pendidikan inklusi, bukan hanya penting untuk anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan lebih banyak kesempatan - tetapi juga mengembangkan kompetensi anak-anak yang tumbuh bersama di lingkungan. Peduli dan berkolaborasi, integritas dan kemampuan melakukan aksi, adalah sebagian dimensi yang bisa dicapai oleh anak yang belajar bersama teman dengan beragam sejak usia dini. Cara memanusiakan hubungan, yang menjadi dasar interaksi belajar-mengajar - juga prasyarat menjadi sekolah inklusi, belum mampu diimplementasi di banyak institusi. Di banyak lembaga, anak berkebutuhan khusus tidak dipercaya potensinya, lebih sering dilihat

sebagai masalah bersama. Sejatinya, anak berkebutuhan khusus tidak perlu bantuan berkelanjutan, namun perlu dukungan pemberdayaan. Miskonsepsi seperti perbedaan afirmasi dan dispensasi, pentingnya label diagnosa dan intervensi dini sambil terus menghindari stigmatisasi, peran orangtua untuk advokasi, dan beragam pemahaman lain masih belum sepenuhnya dihayati- bahkan oleh profesional pendidikan di negeri ini yang sudah mendapatkan akreditasi atau sertifikasi. Pun sudah komit pada cita-cita dan menyepakati cara, memastikan bahwa cakupan sepanjang tahun ajaran mencapai tujuan, masih harus dipertanyakan. Masih banyak anak berkebutuhan khusus yang dipertanyakan kesiapannya untuk mendapat kesempatan inklusi, menjadi korban perundungan dari PAUD hingga pendidikan tinggi, kurang keaktifannya dalam berbagai organisasi - semua data menunjukkan bahwa pekerjaan kita dalam memastikan semua dan setiap anak merasakan makna pendidikan. Inovasi dalam pendidikan adalah keniscayaan, kerja barengan untuk pendidikan adalah kunci #PendidikanUntukSemua

3

Dibalik keterbatasannya kekuatan anak menunggu kesempatan dan dukungan lingkungan untuk terus ditumbuhkan. Najelaa Shihab

perubahan. Pernyataan ini saya percaya sepenuh hati, terlebih lagi saat bicara tentang pendidikan inklusi. Proses belajar lembaga, guru, orangtua dan semua orang dewasa sering terlambat dibanding kebutuhan sang anak yang bergerak sangat cepat. Akselerasi akses dan kualitas, percepatan ketersediaan dan keterjangkauan pendidikan, harus dimulai sejak sekarang. Berbagai teladan, sudah dicoba dilakukan pada tingkat prestasi perorangan di berbagai bidang. Satu keluarga atau satu guru yang berupaya optimal, walau miskin dukungan lingkungan, mungkin saja mengantar kesuksesan individual. Namun besarnya faktor kebetulan, keberuntungan atau apapun yang sifatnya insidental adalah bukti ketidakadilan pendidikan. Pendidikan harus selalu direncanakan, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, dan direfleksikan. Janji inklusi kita, mensyaratkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan untuk menyebarkan berbagai praktik baik ini, agar dapat direplikasi dan diadaptasi di banyak keluarga, kelas dan lembaga. Tugas terberat bagi pemerintah pusat maupun daerah? Menjadi agregator dari praktik baik di masyarakat dan memastikan anak terpenuhi haknya tanpa syarat. Tugas termudah bagi pembaca? Mulai percaya pada potensi yang luar biasa dan hadir sepenuh hati untuk semua anak di sekitar kita. Dibalik keterbatasannya - kekuatan anak menunggu kesempatan dan dukungan lingkungan untuk terus ditumbuhkan. Banyak hal sederhana, bagi kita yang ingin bermakna. 4

Surat Kabar Guru Belajar 18

Najelaa Shihab Pendiri Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal, IniBudi.Org, Keluarga Kita, Islamedu dan penggagas Semua Murid Semua Guru Bisa ditemui di instagram @NajelaaShihab

Dari Redaksi

Watak Pendidikan Bangsa Merdeka

S

iapa bilang bangsa kita tidak terdidik di zaman kolonial belanda? Kalau tidak terdidik, bagaimana Indonesia melahirkan Soekarno, Hatta, Agus Salim, Syahrir, Tan Malaka dan banyak lagi intelektual Pada zaman Hindia Belanda, ada 2 jalur utama sekolah dan 1 jalur khusus di pedesaan. Jalur utama pertama: Europesche Lager School (sekolah dasar, 7 tahun) - Hoogere Buger School (sekolah menengah, 5 tahun) yang hanya bisa diikuti anak Belanda dan segelintir anak pribumi. Jalur utama kedua: Hollandsche Inlandsche School (sekolah dasar, 7 tahun) - Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (sekolah menengah pertama, 3 tahun) - Algemeene Middelbare School (sekolah menengah atas, 3 tahun). Anak-anak pribumi membayar lebih mahal dibandingkan anak Belanda. Setelah lulus HBS atau AMS, lulusannya bisa bekerja, melanjutkan sekolah tinggi di Hindia atau melanjutkan sekolah tinggi di Belanda. Intelektual pejuang kemerdekaan kebanyakan adalah segelintir anak pribumi yang bisa menikmati salah satu dari jalur pendidikan ini. Ada satu jalur lagi, Volkschool (sekolah rakyat, 3 tahun). Di sekolah rakyat, murid hanya diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Di kemudian hari, sekolah rakyat dibagi menjadi dua: angka siji untuk anak priyayi/bangsawan dan angka loro untuk anak rakyat kebanyakan. Lulusannya tidak bisa melanjutkan sekolah,

Bukik Setiawan Dewan Redaksi

pilihannya hanya bekerja pada perusahaan atau lembaga yang membutuhkan keterampilan calistung. Sekarang mari kita lihat gambaran besarnya. Apa yang terjadi pada pendidikan di Hindia Belanda? Apakah bangsa kita terdidik? Terdidik. Terbukti pada zaman Hindia Belanda lahir banyak intelektual yang kapasitas dan kontribusinya diakui hingga kini. Lalu apa masalahnya? Diskriminasi! Pembatasan akses pendidikan berdasarkan suku bangsa dan strata sosial. Pendidikan hanya untuk kalangan tertentu saja. Itulah namanya pendidikan eksklusif, pendidikan yang hanya bisa diakses oleh orang kulit putih atau orang-orang berada saja. Indonesia Merdeka mengikrarkan sebuah janji, mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya anak-anak tertentu saja. Karena itu, pendidikan eksklusif yang menjadi watak pendidikan kolonial, sudah sepatutnya didobrak di zaman kemerdekaan ini. Zaman penjajahan berlaku pendidikan eksklusif maka zaman Indonesia merdeka berlaku pendidikan inklusif, pendidikan untuk dan setiap anak. Pendidikan yang mengakomodasi beragam kondisi sosial ekonomi, beragam suku bangsa, beragam agama, beragam pan-

#PendidikanUntukSemua

5

dangan politik, dan beragam kondisi fisik psikologis anak. Ketika lingkungan pada umumnya masih membatasi akses, pendidikan selayaknya menjadi teladan dengan membuka akses dan memberi dukungan agar semua dan setiap anak bisa menjangkau akses tersebut. Pada titik ini, guru merdeka belajar yang menjadi pengungkit perubahan pendidikan inklusi.

Pendidikan inklusi adalah watak pendidikan bangsa merdeka! Bukik Setiawan

Kita bisa mulai dari mengubah persepsi bahwa pendidikan inklusi hanya bermanfaat bagi anak penyandang disabilitas. Pendidikan inklusi adalah watak pendidikan bangsa merdeka! Kenyataannya, inklusivitas pendidikan bukan saja bermanfaat bagi anak-anak yang terhambat, tapi juga buat semua anak, dan juga buat guru. Pendidikan inklusi yang sejatinya mengajarkan pada kita semua menghadapi kenyataan hidup yang niscaya beragam. Belajar di sekolah inklusif berarti belajar menghadapi tantangan kehidupan nyata. Temukan praktik pengajaran yang inklusif, pelajari dan sebarkan ke rekan guru yang lain. Bersama kita belajar dan menyebarluaskan pendidikan inklusif agar kita menjadi sejatinya bangsa merdeka! Sekali merdeka, tetap merdeka belajar! Sumber literatur: Sekolah-sekolah di Zaman Belanda,Tirto, https:// tirto.id/sekolah-sekolah-di-zaman-belanda-bXbV diakses pada 6 November 2018. Kondisi dan Perkembangan Pendidikan di Hindia Belanda Awal Abad XX. https://phesolo.wordpress.com/2012/07/21/kondisi-dan-perkembangan-pendidikan-di-hindia-belanda-awal-abad-xx/ diakses pada 6 November 2018.

6

Surat Kabar Guru Belajar 18

Praktik Baik Pengajaran

Anak Baru yang Tidak Mau Menulis Penulis : Suhud Rois KGB Cimahi SD Peradaban Insan Mulia [email protected]

S

ebut saja ia Bimo. Bimo anak pindahan dari sebuah SD di Bandung. Saya baru tahu tentangnya ketika hari pertama masuk di kelas. Hmm, rupanya dia pindah ke sekolah tempat saya mengajar waktu itu karena tidak naik kelas. Bayangan saya langsung mengerucut pada profil anak yang tidak naik kelas. Pasti karena nilainya kurang. Berarti anak ini ... (Belum apa-apa saya sudah punya penilaian miring terhadapnya). Bagai dunia yang terbalik, penilaian saya seketika berubah ketika pertama kali berinteraksi dengannya. Bimo memang berbeda. Tapi bukan hal negatif. Saya justru melihat Bimo sebagai anak yang cukup percaya diri. Sebagai anak baru, dia cepat sekali menjalin hubungan sosial dengan teman-temannya. Caranya berinteraksi dan berkomunikasi memberi kesan pada saya bahwa ia tidak biasa-biasa saja. Kalau pun tidak naik kelas, pasti ada yang salah. Bukan salah dia, tapi sesuatu yang lain. Minggu pertama tak terlihat ada yang berbeda saat belajar di kelas. Minggu pertama biasanya saya pakai untuk pengo/ndisian kelas. Pembahasan aturan kelas, prosedur, pembagian tim piket, dan sebagaianya. Belum banyak materi yang dipelajari. Minggu kedua, ketika pembelajaran sudah benar-benar dimulai, terlihat gejala-gejala istimewa Bimo. Waktunya diskusi, oke. Pengetahuannya cukup luas. Ketika aktivitas belajarnya secara body-kinestetik, semangat dia sangat tinggi. Pendeknya, Bimo seperti tidak punya masalah dalam belajar. Semua baru kelihatan ketika harus menulis. Ada alasan dan cara yang ia gunakan supaya tidak menulis.

Desain Grafis Wilma Kailola KGB Jakarta Pusat Sekolah Kembang Kemang

Minggu selanjutnya masih seperti itu. Saat itu saya mengetahui penyebab kenapa dia tidak naik kelas. Bukan karena tidak mampu menguasai materi pelajaran, tapi tidak mau menulis. Saat itu kasus ini menjadi sesuatu yang baru bagi saya. Yang jadi pertanyaan saya adalah, bagaimana saya bisa memastikan dia dapat mengikuti pembelajaran dengan baik tanpa menulis? Bagaimana mengantisipasi respon teman-temannya? Bagaimana cara penilaiannya? Awalnya saya secara persuasif mencoba supaya dia mau menulis. Tapi ternyata tidak berhasil. Untungnya, teman-teman sekelasnya sudah terkondisikan untuk menerima perbedaan, sehingga bukan merupakan masalah yang besar bagi teman-temannya. Setelah beberapa kali usaha persuasi tidak berhasil, akhirnya saya berkesimpulan bahwa Bimo memang enggan menulis. Saya harus cepat mengambil kebijakan khusus untuknya. Saya ajak dia berdiskusi bagaimana caranya dia mampu menguasai materi walaupun tidak menulis. Hasilnya, kami sepakat bahwa untuk memastikan dia mengerjakan tugas dan menguasai materi tidak perlu dengan tulisan, tetapi secara lisan. Begitulah. Ketika aktivitas belajarnya tidak menulis, ia mengikuti seperti biasa. Ketika ada aktivitas menulis, dia tetap saya ikutkan. Dia harus menulis, walaupun hanya lima atau enam kata. Selebihnya dilengkapi secara lisan. Biasanya saya melakukannya ketika istirahat atau sesudah kelas dibubarkan (pulang). Mengapa? Kalau saya lakukan ketika anak #PendidikanUntukSemua

7

yang lain menulis, akan mengganggu konsentrasi teman-temannya. Di situlah muncul masalah baru, ketika yang lain nulis, apa yang Bimo kerjakan? Awalnya dia diam saja, duduk. Lama kelamaan dia keluar dari tempat duduknya, berbaring di lantai, dan tidur. Tentu saja tidak bisa dibiarkan. Saya harus cari alternatif kegiatan untuknya. Saya ajak dia untuk membaca buku. Saya minta dia memilih buku yang disukainya. Dia ambil, dibawa ke tempat duduknya. Ia pun terlihat tenang dengan buku yang dipilihnya. Selesaikah dengan cara seperti itu? Ternyata tidak. Setelah beberapa kali menjalani aktivitas tersebut, Bimo mulai berubah. Ia tidak tertarik untuk memilih buku. Berbagai alasan ia pakai supaya tidak membaca lagi. Ternyata bukan hanya tidak mau menulis, dia juga tidak suka membaca. Akhirnya ketika ada aktivitas menulis, saya bawa Bimo ke tempat yang agak jauh dari teman-teman. Di sanalah ia bisa menunjukkan kemampuannya dalam menguasai materi tanpa mengganggu konsentrasi teman-temannya. Hal sama juga terjadi ketika diadakan tes tertulis. Saat anak-anak yang lain mengerjakan tes tertulis, dia saya pisahkan untuk memberikan jawaban secara lisan. Ketika dites secara lisan itulah baru kelihatan bahwa pengetahuannya cukup banyak. Gaya dan cara berbicaranya pun sudah bagus. Kalimatnya runut dan mudah dipahami. Saya memilih tidak memaksa dia menjawab secara tertulis karena yang dinilai bukan tulisan, tetapi pemahaman anak. Mau dengan tulisan, lisan, atau dengan cara yang lain bagi saya tidak masalah. Kecuali untuk pelajaran menulis. Mau tidak mau nilainya kurang. Bimo bukan tidak bisa mengikuti pelajaran, dia hanya tidak menulis. Tidak adil kalau kemudian dia dicap gagal dan harus tidak naik kelas gara-gara hal tersebut. Jadilah di kelas 3 Bimo anak yang istimewa. Anak yang tidak mau menulis, tapi bisa banyak hal. Pembelajaran juga bagi teman-temannya untuk menghargai keunikan teman. Di kelas-kelas selanjutnya Bimo masih tidak suka menulis. Tetapi karena tuntutan, ia akhirnya sedikit demi sedikit memaksakan untuk menulis. 8

Surat Kabar Guru Belajar 18

Praktik Baik Pengajaran

Belum Bisa Membaca? Tidak Masalah Penulis : Andi Olle Mashurah KGB Makassar Rumah Sekolah Cendekia [email protected]

Suatu hari menjelang libur semester, saya dihampiri orangtua murid dari kelas 2 SD. “Bu Guru, bagaimana perkembangan anak saya, Bu?” “Oh, bagus sekali, Bu. Pengetahuannya luas. Anak Ibu sangat suka bertanya sampai detail. Tulisannya juga bagus, meski masih sering menggunakan huruf besar semua.” “Tapi anak saya sampai sekarang belum bisa membaca, Bu. Bagaimana dia bisa mengerjakan soal-soal kalau dia belum bisa membaca? Apa saya mesti memasukkannya ke kursus membaca selama liburan?” “Ooo… jangan, Bu. Biarkan saja dia menikmati liburannya. Soal membaca, nanti juga akan bisa. Anak Ibu memiliki semua yang diperlukan untuk jadi pembelajar hebat. Senang buku, pintar bercerita, suka bertanya, tarikan huruf-hurufnya bagus. Hampir semua aspek kebahasaan yang dimilikinya berkembang baik. Satu-satunya yang belum ketemu kuncinya hanya membaca. Tidak ada masalah sama sekali.” “Tapi dia belum bisa membaca, Bu.” “Tidak apa-apa, Bu. Untuk anak Ibu yang belum bisa membaca, agar mengetahui pemahamannya akan materi pelajaran, kami melakukan tes secara lisan. Kami bacakan soalnya dan dia menjelaskan

pemahamannya. No problem. Anak Ibu baru kelas 2 SD. Dia belum akan membuat surat lamaran kerja, bukan?” kata saya sambl tersenyum. Saya ingat, akhirnya si Ibu pulang dengan ringan dan meninggalkan sekolah dengan merangkul pundak anaknya. Saya akan berkisah tentang murid istimewa ini. Biar tidak ngelantur ke mana-mana, saya sebut saja dia “Abang”. Abang bergabung di sekolah kami sejak usia 3 tahun. Ibunya bekerja di sebuah bank swasta, sedangkan ayahnya seorang dosen. Saat masuk sekolah, Abang sering menyakiti diri sendiri saat menangis tak terkendali, sampai menjerit-jerit. Hanya menjerit, karena kosakatanya masih sedikit dan bicaranya masih belum jelas. Bahkan kawan ibunya dalam sebuah obrolan menyebut kalau si Abang kemungkinan autis. Tapi tidak. Sekolah kami tidak pernah melabeli anak, bagaimana pun kondisinya. Kami menerima murid apa adanya. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami, beberapa anak yang bergabung di sekolah dengan usia yang sangat muda dan dalam kondisi speech delay, lebih banyak disebabkan kurangnya rangsangan verbal dari orang dewasa di sekitarnya. Betapa tidak, bahkan saat konsultasi dengan pihak sekolah pun, gadget dalam keadaan aktif, bahkan bisa menyela pembicaraan serius tentang anak-anaknya yang sementara kami obrolkan.

#PendidikanUntukSemua

9

Hal yang sama mungkin terjadi juga di rumah. Apalagi bila kedua orangtuanya bekerja, maka permasalahan yang dialami makin kompleks. Kami menduga hal inilah yang jadi faktor utama sejumlah anak mengalami keterlambatan dalam berkomunikasi. Ketidakmampuan untuk menyampaikan keinginan agar dipahami orang lain membuat anak jadi kesal dan marah, hingga akhirnya tantrum.

Keinginan untuk bisa menjelaskan tentang gambar yang dibuatnya juga mendorongnya untuk terus belajar membaca dan menuliskan sendiri cerita tentang gambarnya.

Andi Olle Mashurah

Karena kosa kata Abang masih sangat terbatas, saya mesti menjelaskan satu persatu dengan penjelasan yang sesederhana mungkin agar Abang paham. Beruntung, tugas saya di sekolah tidak sebanyak guru lain, karena posisi saya hanya sebagai guru bidang studi, bukan guru kelas, sehingga waktu saya lebih banyak untuk memperhatikan murid yang butuh penanganan khusus. Keberagaman murid di ruang kelas, terutama dari segi kemampuan baca tulis, membuat saya mesti mendesain sendiri lembaran kerja murid untuk mengakomodir tujuan pembelajaran serta kemampuan murid yang berbeda-beda. LKS harus menantang bagi mereka yang sudah bisa membaca, namun juga bisa jadi bahan belajar yang mudah bagi anak-anak yang belum bisa membaca. Dalam pembagian kelompok di kelas, saya juga selalu mengusahakan agar Abang sekelompok dengan kawan-kawan yang sudah bisa membaca dan membuat aturan sedemikian rupa agar murid yang bisa membaca menjadi tutor bagi temannya yang belum mampu membaca. Saya terus membangun kedekatan dengan Abang sehingga dia tidak sungkan untuk bertanya atau meminta tolong bila ada kesulitan. Misalnya dengan memberikan apresiasi pada setiap karya yang dibuatnya. Saya ingat dua kali membuatnya mengeluarkan senyum tertahan. Pertama, saat saya membeli karyanya saat Market Day, sebuah bros hewan air dari kain flannel. Saya membeli dan menggunakan bros itu saat mengajar di kelas. Melihat saya memakainya, binar bahagia di matanya. Yang kedua, saat saya membantunya menyelesaikan paper quilling laba-laba yang dibuatnya sebagai karya keterampilan. Berbagai upaya yang kami lakukan untuk membantunya.Kami tidak menjadikan belum mampu-

10

Surat Kabar Guru Belajar 18

nya Abang membaca sebagai masalah. Kesediaan menolong menyelesaikan kesulitannya perlahan membangun kepercayaan dirinya untuk terus belajar membaca. O, iya. Abang sangat suka menggambar. Hasil gambarannya sangat bagus. Saya sering memancing dengan bertanya tentang gambar yang dibuatnya dan memintanya untuk menuliskan beberapa kata tentang gambar yang dibuatnya. Keinginan untuk bisa menjelaskan tentang gambar yang dibuatnya juga mendorongnya untuk terus belajar membaca dan menuliskan sendiri cerita tentang gambarnya. Saya sudah lupa tepatnya kapan Abang akhirnya bisa membaca. Tahu-tahu saat kelas 4 SD dia sudah jadi tempat bertanya bagi kawan-kawannya untuk banyak hal karena kesenangannya membaca. Pengetahuannya sangat luas. Sepertinya kesenangan membaca buku yang dibangun dengan membacakannya buku, makin tak terbendung ketika kunci cara membaca sudah ditemukannya. Abang jadi pelahap buku yang luar biasa. Saat ini dia sudah kelas 2 SMP dan dengan mudah menyelesaikan target membaca dan membuat summary atau resensi buku 2 judul buku per minggu yang diterapkan sekolah. Sebagai guru, kita hanya perlu menerima kondisi anak dan membantunya dengan senang hati untuk melewati hambatannya. Membangun kedekatan juga sangat penting agar anak tahu bahwa dirinya berarti. Makassar, 17 Oktober 2018.

#PendidikanUntukSemua

11

Praktik Baik Pengajaran

Kerja Kelompok: Strategi Sederhana Mengatasi Keberagaman Penulis : Budiyanti Dwi Hardanie KGB Bandung Sekolah Mutiara Bunda [email protected]

S

Desain Grafis Suhud Rois KGB Cimahi SD Peradaban Insan Mulia

ekolah yang mempercayai pendidikan adalah hak semua anak, tentu harus siap dengan berbagai konsekuensinya. Dalam mempersiapkan diri menghadapi konsekuensi, ada sistem yang didesain untuk memastikan pembelajaran sehari-hari berjalan sesuai dengan kebutuhan anak, memudahkan guru dalam menjalankan tugasnya, dan memungkinkan manajemen sekolah melakukan pantauan dan perbaikan pada sistem yang berjalan.

Ketersediaan waktu berbanding terbalik dengan gemuknya materi yang harus dikuasai murid.

Salah satu konsekuensi menjadi sekolah inklusif adalah penerimaan murid baru tidak berdasarkan uji tertentu. Calon murid mengikuti kelas observasi untuk dilihat kebutuhan belajarnya, termasuk di antaranya memilihkan karakter guru yang tepat, lingkungan kelas yang menunjang cara belajarnya, serta aktivitas belajar yang diperlukannya agar bisa belajar dengan lebih optimal. Hasilnya, murid yang diterima di sekolah kami beragam keadaannya. Keberagaman ini juga mempengaruhi komposisi di kelas. Berpengaruh juga dalam memilih strategi-strategi pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid.

Tak ada penyakit yang tak ada obatnya. Hal itu kami yakini pasti berlaku juga di ruang kelas. Tak ada tantangan yang tak ada solusinya. Kami percaya bahwa tidak ada murid yang hadir dalam keadaan kosong. Semua memiliki sesuatu yang bisa menjadi pengetahuan baru bagi yang lain. Kelas hanya memerlukan komposer yang tepat, yang dapat memastikan setiap kelebihan dan kekuatan murid menjadi bermanfaat dan dapat dioptimalkan di kelas.

Satu bulan pertama di kelas baru biasanya merupakan masa perjuangan bagi guru-guru. Di tiap kelas, sepulang sekolah akan ada diskusi-diskusi kelompok guru yang sedang menceritakan tantangan yang dihadapi ketika kegiatan belajar. Tuntutan tuntas belajar untuk setiap materi yang dibawakan di kelas, diikuti kondisi kelas yang dihuni individu yang unik dan tak dapat dibandingkan satu sama lain adalah hal paling seru bagi guru di manapun. 12

Surat Kabar Guru Belajar 18

Tantangan level selanjutnya adalah kehadiran murid berkebutuhan khusus di kelas. Kebutuhan mereka yang beragam dan memerlukan penanganan individual lebih besar dibanding temanteman sekelasnya menjadikan tim guru di kelas perlu waktu dan tenaga ekstra dalam merancang dan mendampingi mereka belajar.

Berdasarkan diskusi dengan guru-guru di sekolah, strategi bekerja dalam kelompok sampai saat ini masih paling mujarab untuk mengatasi keberagaman. Studi mengenai bekerja dalam kelompok ini sudah digagas puluhan tahun lalu. Bahkan, sekarang dengan adanya keterampilan abad 21 yang perlu dikuasai murid, yaitu kolaborasi, membuat pentingnya bekerja sama dalam kelompok menjadi hal yang tak bisa dihindari. Strategi bekerja dalam kelompok (group work) telah dipraktikkan dalam pendidikan di Indonesia sejak lama. Mungkin Anda masih mengingat istilah CBSA (Cara Belajar Murid Aktif). Murid

duduk dalam kelompok-kelompok, dengan harapan dapat berinteraksi selama pembelajaran. Sayangnya, praktik bekerja dalam kelompok tidak semulus yang dibayangkan. Tidak hanya di Indonesia. Pelaksanaan group work seringkali malah dijadikan alat bagi guru untuk mendapatkan waktu luang melakukan kegiatan lain. Murid diberi tugas untuk dikerjakan dalam kelompok, sementara guru menyelesaikan aktivitas lain, seperti menyelesaikan administrasi, menulis laporan, dan sebagainya (Quinn, 2013). Selain itu, kerja kelompok yang tidak terencana dan tidak dipantau prosesnya juga berpotensi menimbulkan hasil belajar yang tidak optimal. Dalam bekerja kelompok, ada hal-hal mendasar yang terlebih dahulu harus sudah menjadi kebiasaan murid dan guru, yaitu: 1. Mendengarkan orang lain. 2. Kompromi, menghargai perbedaan. 3. Menetapkan tujuan bersama dan menentukan ukuran keberhasilannya. 4. Memahami peran dan tanggung jawab. 5. Memberi umpan balik. 6. Memantau kemajuan dari waktu ke waktu. Keberadaan murid berkebutuhan khusus di kelas seringkali dipandang sebagai hambatan bagi murid lain untuk lebih cepat menguasai materi. Padahal riset membuktikan, meski penuh tantangan dan perlu perencanaan matang, berbagai keuntungan dapat diperoleh murid, baik yang reguler maupun yang berkebutuhan khusus melalui kegiatan kerja kelompok ini. Murid reguler mendapatkan pengalaman #PendidikanUntukSemua

13

terutama dalam hal kepekaan terhadap lingkungan sekitar (Baines, Blatchford, & Webster, 2015). Agar strategi bekerja dalam kelompok ini dapat berjalan dengan optimal, kami biasanya menentukan terlebih dahulu tujuan pengelompokan. Untuk memahami konsep-konsep abstrak, kami mengelompokkan murid dengan kombinasi kemampuan menangkap dan menjelaskan hal baru. Anak-anak lebih mudah memahami sebuah konsep jika disampaikan dalam bahasa yang sesuai dengan kemampuannya. Di sini peran murid berkemampuan verbal yang baik dapat berkembang, karena ia dapat menjelaskan kembali suatu konsep kepada temannya dalam kalimatnya sendiri, juga dengan bahasa yang biasanya lebih mudah dimengerti teman. Lain lagi jika kami perlu melakukan remedial teaching. Murid dengan kemampuan yang sudah baik dan sudah menguasai materi akan dikelompokkan untuk selanjutnya menerima pengayaan, sementara murid yang belum menguasai materi akan mendapatkan penjelasan serta kegiatan diskusi terbimbing. Kelompok murid yang mendapatkan materi pengayaan dapat diberi tanggung jawab untuk mempelajari secara mandiri terlebih dahulu, agar kami memiliki waktu untuk mendampingi kelompok remedial. Untuk keperluan proyek dengan durasi pengerjaan agak panjang, kami mengelompokkan murid berdasarkan kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Ada yang akan berperan sebagai pemimpin, pencurah gagasan, do-ers, bahkan motivator. 14

Surat Kabar Guru Belajar 18

Ada kalanya kami memberi kepercayaan kepada mereka untuk menentukan sendiri kelompoknya, yang dianggap sudah dapat saling memahami cara kerja masing-masing. Namun, sebelum diberi kepercayaan seperti ini, harus dipastikan murid memang sudah paham tentang peran dan tanggung jawab. Rasa empati harus sudah terbangun di antara mereka, terutama berkaitan dengan keikutsertaan murid berkebutuhan khusus. Di waktu-waktu tertentu, kami mengharapkan murid bisa bekerja sama dengan siapa saja. Ini biasanya dilakukan untuk membagi kelompok ketika akan melakukan sesi curah gagasan atau awal sebelum memulai sebuah pembahasan. Dengan tujuan seperti ini, murid dikelompokkan secara acak saja. Misalnya melalui kriteria tertentu yang sifatnya tidak mengikat, seperti berkelompok dengan teman yang lahir di bulan yang sama, atau berhitung, dan sebagainya. Pada praktiknya, masih saja ada murid yang tidak bisa menerima salah satu teman kelompoknya. Bisa juga meski sudah dipikirkan dengan matang, hasil kerja kelompok tidak semaksimalkan yang diharapkan. Di saat seperti ini, kami mengajak murid melakukan refleksi dan bersama-sama menilai keberhasilan kegiatan. Sebagai tim guru, setelah kegiatan selesai, kami pun melakukan refleksi. Tidak pernah ada satu strategi yang sempurna untuk semua kegiatan belajar. Guru perlu melihat kebutuhannya saat akan membagi kelompok, melihat tujuan belajar yang ingin dicapai, juga melihat juga kesiapan anak sebelum membuat kelompok.

Praktik Baik Pengajaran

Menuju Pendidikan IDEA (Inclusion, Diversity, Equity, dan Accomplishment) dalam Kelas Matematika Penulis : Andri Febriandrini K Lazuardi Al Falah Junior High Depok [email protected]

Desain Grafis Marsaria Primadona KGB Cikal Sekolah Cikal [email protected]

“We have the chance to build this new energy economy in ways that reflect our deepest values of inclusion, diversity, and equal opportunity to everyone.” - Van Jones

S

engaja saya mengutip Van Jones, seorang aktivis lingkungan hidup berkebangsaan Amerika keturunan Afrika dan penulis buku “Green Collar Economy”, sebagai landasan saya mendidik di kelas. Menurut beliau, definisi “go green” bukan hanya sekadar mengambil dan mendaur ulang sampah yang terbuang, namun juga merengkuh kembali komunitas-komunitas yang termarjinalkan untuk memberikan kesempatan dengan mengajarkan keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk masa depan mereka. Seperti kutipan di atas, dalam setiap pembelajaran, saya harus memikirkan elemen IDEA yang terdiri dari Inclusion (inklusi), Diversity (keberagaman), dan Equity atau Equal Opportunity (ekuitas) kepada setiap murid, sehingga akhirnya setiap anak mampu merengkuh Accomplishment (kompetensi dasar) dalam kelas Matematika.

Membangun IDEA dan Tujuan Pembelajaran Saya memiliki prinsip bahwa semua murid punya kesempatan yang sama untuk bisa pintar Matematika. Matematika bukan hanya sekadar menghafal rumus, menguraikan persamaan, dan berhitung. Pendidikan inklusi dalam pelajaran Matematika menurut saya bukan hanya terbatas untuk murid yang berkebutuhan khusus juga. Storeygard (2012) dalam bukunya menekankan bahwa inklusi dalam Matematika berarti saya harus bisa membentuk sebuah komunitas kelas yang belajar melalui partisipasi dan keterlibatan aktif setiap anggotanya dalam menyelesaikan tugas Matematika. Tugas guru hanya memberikan dukungan yang diperlukan agar komunitas tersebut berjalan. Setiap murid merasa kontribusinya dihargai dengan baik, dan tidak ada yang merasa dikecilkan maupun disepelekan.

Pada kesempatan ini, saya akan membahas bagaimana saya membangun elemen IDEA dalam pelajaran Matematika kelas 8 SMP, dengan topik pelajaran mengenai measurement (pengukuran) dan 3D geometry (bangun ruang).

Diversity atau keberagaman dalam Matematika berarti saya mengakui bahwa setiap murid memiliki kompetensi Matematika yang berbeda. Ada yang bagus kemampuan spasialnya sehingga cepat dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan geometri. Ada juga yang bagus kemampuan sequentialnya sehingga cepat mengerti apa #PendidikanUntukSemua

15

yang diminta dalam sebuah soal cerita. Ada juga yang lebih senang Matematika jika dikerjakan dengan komputer, dan lain sebagainya. Keberagaman ini yang harus saya selalu tekankan pada murid, sehingga mereka mampu membuat perbedaan-perbedaan yang ada menjadi kekuatan saat bekerja sama. Equity atau Equal Opportunity berarti saya harus punya asas berkeadilan dalam mengajar. Saya harus bisa melihat hambatan-hambatan murid, dan membuka pintu akses yang berbeda, sehingga setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kompetensi Matematika dan menguasai pembelajaran dengan baik. Tentu saja, tujuan akhir saya dalam setiap pembelajaran Matematika adalah Accomplishment (kompetensi dasar) yang harus dicapai setiap murid. Selain kompetensi kognitif yang akan terlihat pada hasil penilaian formatif, saya harus bisa membawa murid memiliki kompetensi psikomotor yang telah digariskan oleh silabus dan kurikulum. Pada topik pembelajaran Measurement (Pengukuran) dan 3D Geometry (bangun ruang) untuk kelas 8, maka kompetensi dasar yang harus diraih adalah sebagai berikut: 1. Measurement (Pengukuran): a.Kompetensi Kognitif: Mengerti konsep pengukuran, melakukan konversi antar satuan pengukuran, dan menggunakan konsep pengukuran dalam kehidupan sehari-hari. b.Kompetensi Psikomotor: Mampu melakukan pengukuran dengan alat yang benar dan presisi yang baik. 2.3D Geometry (Bangun ruang) a.Kompetensi Kognitif: Mengerti elemen geometri bangun ruang, menghitung volume, kapasitas dan luas permukaan bangun ruang, serta menyelesaikan permasalahan bangun ruang dalam kehidupan. b.Kompetensi Psikomotor: Membuat desain produk yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar dengan konsep bangun ruang. Berdasarkan buku yang saya tulis, Evolusi Guru dan Sekolah Abad 21, maka saya mengejar accomplishment yang diraih murid tidak hanya pada kompetensi kognitif dan psikomotorik saja. Tetapi juga termasuk mengembangkan perspektif global, pemahaman lintas kultural, serta kompetensi abad 21 yaitu: komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreatif.

16

Surat Kabar Guru Belajar 18

Tantangan dalam Pembelajaran Tantangan yang saya hadapi dalam penerapan IDEA di kelas Matematika adalah sebagai berikut: 1.Dengan waktu pembelajaran di kelas yang terbatas, yaitu 5x35 menit setiap minggunya, tantangan yang saya hadapi adalah bagaimana dengan keterbatasan waktu pembelajaran tetap bisa mengajarkan materi Matematika dan mencapai accomplishment dari sisi kognitif, psikomotor, dan kompetensi abad 21. 2. Bagaimana dengan spektrum kompetensi Matematika yang sangat lebar, saya harus bisa memfasilitasi seluruh murid supaya murid yang pintar tidak merasa pelajarannya terlalu mudah atau begitu juga sebaliknya. 3. Bagaimana dengan IDEA di kelas Matematika, saya membuat Matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi murid, mengurangi kecemasan dan memotivasi mereka untuk mau belajar Matematika. Aksi dalam Pembelajaran Untuk menjawab tantangan tersebut, saya menggunakan tahapan 5E yang terbagi menjadi 3 minggu. Tahapan 5E tersebut adalah: engage (mengikat), explore (merambah), explain (menjelaskan), elaborate (memperdalam), dan evaluasi (menilai). Pada tahapan engage (mengikat), saya selalu mengaitkan Matematika dengan isu terkini baik lokal dan global. Kali ini, tentang lingkungan hidup dengan menunjukkan gambar sampul depan majalah National Geographic edisi bulan Juni 2018 yang berupa bentuk seperti gunung es di lautan biru, namun sebenarnya itu adalah tas plastik tertelungkup dan ujungnya nampak di permukaan. Tema majalah adalah “Planet atau Plastik”, dengan tulisan “18 juta pon plastik terbuang ke laut setiap tahunnya. Dan itu cuma ujung atas gunung es yang terlihat”. Saya menunjukkan gambar kuda laut yang berpegangan pada kapas pembersih telinga (cotton bud) dan tubuh seekor burung camar yang tertutup tas plastik. Murid sangat antusias memberikan opini mereka melihat gambar tersebut. Memasuki tahapan eksplorasi, saya merambah pembahasan konsep volume. Saya bertanya, jika saya punya botol plastik air mineral 1 liter (setara 1.000 cm3), kira-kira akan butuh berapa botol untuk memenuhi ruangan kelas. Murid melakukan langkah awal dengan mengkonversi ukuran ruang kelas dari meter ke sentimeter. Murid

lalu mengalikan luas lantai dengan tingginya hingga mendapat volume ruang kelas dan membagi hasilnya dengan 1.000 cm3 hingga didapat jumlah sekitar 200.000 botol. Padahal sebuah produsen minuman ringan memproduksi berjuta botol minuman setiap tahunnya. Jika 200.000 botol bekas minum saja bisa memenuhi ruangan kelas, maka tak lama lagi planet bumi ini akan tertutup dengan plastik jika sampah plastik tidak tertangani dengan serius. Lalu, saya minta murid melihat di lingkungan sekolah, sejauh mana sampah plastik sudah tertangani. Murid menyadari dengan jumlah tempat sampah di sekolah yang ada belum bisa untuk memilah sampah, sampah plastik dan organik masih menjadi satu. Setelah itu saya bertanya, tempat sampah itu bentuk geometrinya termasuk apa, prisma (prism) atau limas (pyramid). Murid menjawab prisma dan saya tanya apa alasannya. Kepada murid yang berkebutuhan khusus, saya tanya mana yang merupakan panjang, lebar, dan tinggi dari sebuah tempat sampah. Setelah berdiskusi, murid pun menyimpulkan beda bentuk prisma dengan limas adalah prisma memiliki dua permukaan alas dan tutup yang sejajar dan dihubungkan oleh rusuk-rusuk. Saya pun melanjutkan dengan bertanya cara mengetahui kapasitas tempat sampah. Murid menjawab dengan mengalikan luas alas dengan tinggi tempat sampah. Saya mencoba memberikan beberapa bentuk dengan berbagai ukuran dan meminta murid menghitung volumenya. Disinilah proses explain atau menerangkan, dimana murid menguraikan dan menyimpulkan teori. Memasuki tahap elaborate atau memperdalam, saya menggunakan pembelajaran berbasis proyek. Berkaitan dengan sampah plastik di sekolah, kita sepakat membuat tempat sampah tambahan sehingga sampah bisa dipilah. Untuk menghemat biaya, kami memakai pipa PVC dan kawat kasa untuk membuat tempat sampah. Saya membagi murid ke beberapa kelompok kerja. Mereka memulai dengan membuat desain dengan tinkercard.com, sebuah program desain berbasis web. Desain yang mereka buat adalah tempat sampah dengan bahan pipa PVC sepanjang 4 m berukuran ¾”. Setelah itu, setiap kelompok mulai mengukur dan memotong pipa, serta merangkai pipa menjadi tempat sampah sesuai desain masing-masing. Reaksi murid saat mengerjakan proyek ini cukup beragam. Ada kelompok yang membuat desain #PendidikanUntukSemua

17

tanpa menghitung terlebih dahulu total panjang potongan pipa, yang setelah dihitung panjangnya lebih dari 4 m. Ada kelompok yang memiliki desain cukup rumit sehingga mereka kesulitan saat menentukan panjang pipa. Ada murid yang bersikukuh setengah meter itu bukan 50 sentimeter, hingga akhirnya melihat sendiri bahwa keduanya ternyata sama panjang. Seluruh murid antusias dan memberikan kontribusi ke dalam proyek tersebut. Pada gambar di atas terlhat anak yang berkebutuhan khusus akan bisa berlatih mengukur dan memotong pipa dengan presisi baik, dengan dibantu oleh teman-temannya. Dari proses mendesain hingga membuat tempat sampah ini, murid mempraktikkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitasnya. Tahapan terakhir pembelajaran adalah evaluation atau penilaian berupa review hasil belajar, baik dengan tes formal maupun informal. Pelajaran Sebagai Hasil Refleksi Dari proses pembelajaran, saya melakukan refleksi apakah sudah menjawab 3 tantangan yang saya sebutkan sebelumnya, dengan hasil sebagai berikut: 1. Dalam 3 minggu pembelajaran dan 5 tahapan, saya bisa menyajikan kegiatan dalam kelas yang berbeda dan semakin lama tingkatannya semakin diperdalam. Dari yang awalnya bertanya dan berdiskusi, dilanjutkan dengan menerangkan lebih detail dan memakai konsep untuk membangun sebuah produk. Saya menilai proses pengolahan pemahaman sudah berjalan cukup baik.

18

Surat Kabar Guru Belajar 18

2. Dengan proses explore atau merambah dengan pertanyaan, guru banyak menanyakan opini murid, sehingga murid yang lebih banyak bersuara daripada guru. Guru tidak banyak menerangkan sehingga murid tidak bosan. Murid yang lemah maupun kuat dalam Matematika tidak akan canggung karena pertanyaan dibuat dari yang paling mudah hingga yang paling susah. Guru pun meminta murid mengajukan alasan dari hasil sebuah perhitungan, sehingga murid yang pintar sekalipun biasanya belum terbiasa menguraikan hasil pemikirannya. 3. Menjawab tantangan ketiga, saya melihat secara perlahan Matematika mulai digemari dan beberapa murid tidak lagi cemas menghadapi Matematika. Sejauh ini, reaksi murid positif dan antusias terhadap pembelajaran Matematika di kelas Penutup Penerapan IDEA dalam pembelajaran Matematika memang memerlukan komitmen dan bisa menghabiskan waktu pembelajaran jika guru tidak bisa mengontrol kegiatan. Namun, dengan menerapkan IDEA, murid menjadi lebih aktif belajar, mau berpartisipasi aktif, dan menyenangi Matematika. Daftar Pustaka Andri, T. (2018). Evolusi Guru dan Sekolah Abad 21. Jejak Publisher. Storeygard, J. (2012). Count Me In! K-5: Including Learners with Special Needs in Mathematics Classroom. Sage Publication.

Praktik Baik Pengajaran

Metode Memahami Isi Cerita Bagi Murid Disleksia Penulis : Rizki Yuliani Tumbuh Primary School [email protected]

S

ebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa dalam Sekolah Dasar inklusi kita memiliki murid yang sangat beragam, baik dari latar belakangnya, gaya belajarnya, kemampuan belajarnya, maupun kesulitan belajarnya. Dalam sekolah inklusi, seringkali murid yang memiliki kesulitan belajar seperti disleksia, diskalkuli, ADD, dll, yang berada dalam satu kelas dengan murid reguler lainnya. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya, karena murid dengan kesulitan belajar dituntut untuk mencapai kompetensi dasar yang sama dengan murid regular lainnya. Saya pernah memiliki murid disleksia dalam satu kelas. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ia kesulitan untuk memahami isi cerita secara utuh. Pada umumnya murid-murid lain di kelas sudah bisa memahami isi bacaan dari suatu cerita pendek, dan sudah mampu menceritakannya kembali. Namun tidak demikian dengan murid disleksia. Selain biasanya ia kesulitan memahami isi bacaan, ia juga kesulitan untuk menceritakan kembali isi bacaan. Wah bagaimana ini ya? Saya harus mencari cara agar ia bisa mencapai target belajar seperti lainnya. Akhirnya yang saya lakukan

Desain Grafis Ina Lina KGB Surabaya Puad Hidayah Surabaya

adalah melakukan asessment terlebih dahulu. Bila ia belum bisa memahami isi cerita secara keseluruhan, maka saya mundur satu langkah. Apakah ia bisa memahami isi bacaan dari satu paragraf? Wah ternyata ia belum paham juga. Sekali lagi, saya harus mundur satu langkah dan mencari tahu, apakah ia bisa memahami isi dari satu kalimat? Dan ternyata kemampuannya baru sampai tahap bisa memahami isi kalimat. Setelah saya mengetahui kesulitannya, lalu saya menyusun strategi atau metode yang disesuaikan dengan tahap kemampuannya. Saat merancang metode belajar individual, sangat membantu sekali lho bila kita mengetahui banyak hal tentang murid tersebut. Seperti murid disleksia yang saya tangani ini. Ia sangat suka sekali menggambar dan senang akan halhal yang berkaitan dengan robot. Maka saat itu saya membuat cerita tentang robot-robot dan memasukkan namanya sebagai salah satu tokoh dalam cerita. Memasukkan namanya dalam cerita juga sangat membantu lho, selain bisa membuatnya jadi lebih tertarik, ia juga bisa lebih terhubung dengan isi cerita. Nah berhubung ia baru bisa memahami isi

#PendidikanUntukSemua

19

kalimat, maka cerita pendeknya saya buat seperti cerita bergambar, setiap gambar untuk satu kalimat. Selain mendapatkan visualisasi dari isi cerita, ia pun jadi bisa melihat timeline atau urutan dari cerita tersebut. Untuk mengetahui apakah ia paham akan isi cerita, saya memberikan potongan gambar-gambar tersebut kemudian meminta murid tersebut untuk mengurutkannya. Setelah ia berhasil mengurutkan gambarnya, saya meminta dia untuk menceritakan satu-persatu gambar tersebut secara lisan lalu menuangkannya ke dalam tulisan. Setelah murid dirasa sudah bisa memahami isi cerita dengan metode ini, saya menaikkan level kesulitannya. Kali ini satu gambar untuk setiap paragraf dan ukuran gambar mulai diperkecil. Tahapan untuk menceritakan kembali isi cerita pun sama dengan sebelumnya, yaitu dengan mengurutkan gambar terlebih dahulu, lalu menceritakan gambar satu-persatu secara lisan, kemudian menuangkan cerita lisan tadi ke dalam bentuk tulisan. Bila murid sudah bisa memahami isi cerita secara per paragraf, maka saatnya menaikan kembali level kesulitan. Kali ini saya sudah tidak menggunakan gambar lagi untuk membantu dia memahami isi bacaan. Saya memberikan cerita secara full text. Nah.. tapi tetap saja saya perlu melakukan penyesuaian dalam tulisan. Karena keunikan dari anak disleksia adalah ia akan merasa tidak nyaman bila melihat huruf yang terlalu kecil ataupun berdempetan. Makanya terkadang anak disleksia sering lompat baris saat membaca tulisan yang full text. Oleh karena itu saat akan memberikan cerita secara full text saya juga perlu menyesuaikan ukuran tulisan dan spasinya. Ukuran tulisan dibuat lebih besar dari biasanya. Bila untuk anak reguler saya biasa menggunakan ukuran tulisan 11 atau 12, untuk anak disleksia saya menggunakan ukuran

20

Surat Kabar Guru Belajar 18

tulisan 14. Begitu juga dengan spasi, untuk murid reguler saya biasa menggunakan spasi 1.5 namun untuk murid disleksia saya menggunakan spasi 2.0. Nah, setelah beralih ke cerita full text ada lagi nih tantangannya. Dia jadi agak bingung ketika akan menceritakan kembali isi cerita karena tidak ada gambar sebagai panduan. Oleh karena itu sebelum menuliskan kembali isi cerita, saya meminta dia untuk menggambarkan terlebih dahulu pemahaman dari isi cerita tersebut. Baru setelah itu ia menceritakannya kembali dalam bentuk tulisan.

Sebagai guru kita dituntut untuk peka melihat keunikan anak. Rizki Yuliani

Selain karena strateginya yang disesuaikan dengan kebutuhan anak disleksia, keberhasilan metode ini juga ditentukan oleh konsistensi dalam menerapkannya. Semakin konsisten dan semakin sering diberi latihan maka murid disleksia juga pada akhirnya akan bisa memahami bacaan full text seperi murid lainnya. Namun metode ini belum tentu cocok diterapkan bagi murid lainnya, karena setiap anak tentu memiliki kemampuan dan gaya belajar yang berbeda-beda. Bagi saya, selama guru bisa memahami di mana letak kesulitan murid terlepas dari apapun itu jenis kesulitan belajarnya maka kita bisa membantu murid tersebut untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan keunikannya. Oleh karena itu, dalam menyusun strategi atau metode belajar individual bagi murid dengan kesulitan belajar, hal-hal berikut ini sangat penting untuk dilakukan : 1. Asesmen tahap kemampuan murid. 2. Mengetahui tahapan-tahapan pembelajaran dalam suatu materi. 3. Mengenali gaya belajar murid. 4. Mengenali hal-hal yang disukai oleh murid. 5. Konsistensi dalam melaksanakan metode. Sebagai guru kita dituntut untuk peka melihat keunikan anak. Masih banyak kasus di mana guru tidak menyadari bahwa muridnya memiliki kesulitan belajar, sehingga murid tersebut dianggap sebagai anak yang bodoh atau under achiever. Padahal tidak ada anak yang bodoh, yang diperlukan hanyalah metode belajar yang sesuai dengan keunikan setiap anak. Semoga anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak dengan kesulitan belajar di Indonesia bisa mendapatkan perhatian dan kesempatan belajar yang sama dengan murid-murid lainnya..

#PendidikanUntukSemua

21

Praktik Baik Pengajaran

Bersama Kita Bisa Penulis : KRISTIJORINI KGB Solo Raya KB/TK KRISTEN WIDYA WACANA PASAR LEGI SURAKARTA [email protected]

A

ir matanya tumpah saat menceritakan putra kesayangannya yang cerdas namun tidak bisa diam. Bukan hal yang mudah merawat sang buah hati yang sangat aktif ini. Tugas itu pasti berat untuk ditanggungnya. Saat banyak anak dapat duduk tenang untuk belajar, sang anak sibuk berlarian sambil sesekali membuang benda yang ada di dekatnya. Saat anak lain sudah lancar berbicara, sang anak hanya bisa berteriak histeris ketika ingin mengungkapkan sesuatu. Saat teman-temannya sudah mampu memegang pensil dan mewarnai gambar, sang anak baru mulai belajar berbicara dengan satu sampai dua kata. Apa yang salah dengan buah hatinya? Apakah yang harus dia lakukan? Bagaimana menghadapi lingkungan sekitar terutama lingkungan sekolah? Ada lagi kisah orangtua yang mengalami kesulitan ekonomi karena usahanya yang bangkrut atau berhenti dari pekerjaannya. Bagaimana mereka harus bertahan hidup sekaligus memikirkan masa depan buah hatinya. Begitu juga dengan kisah orangtua yang kesulitan menjaga buah hatinya dari lingkungan buruk di sekitarnya. Lingkungan masyarakat yang tidak memberi ruang nyaman untuk tumbuh kembang seorang anak sehingga si anak tumbuh dengan tidak baik. Juga kisah orangtua yang berjuang untuk anaknya yang cacat fisik yang selalu mengalami perlakuan tidak 22

Surat Kabar Guru Belajar 18

menyenangkan. Dan masih banyak lagi kisah mengharukan dari orangtua yang mengalami tantangan dalam merawat buah hatinya. Bagi saya, jeritan hati mereka adalah jeritan orangtua yang anaknya mengalami kesulitan baik secara fisik, emosi, keyakinan, maupun ketika berbeda karena kondisi ekonomi bahkan ketika berbeda kecerdasan. Apa yang bisa kita lakukan sebagai pendidik? Bagaimana lembaga pendidikan dapat memberikan kontribusi dalam membantu permasalahan tersebut? Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan, YSK Widya Wacana Surakarta memiliki komitmen untuk mengembangkan pendidikan terpadu dengan pendekatan holistic integrative berupa pendidikan yang mengintegrasikan segala aspek dalam pendidikan seperti nilai moral, etis, religius, psikologis, filosofis, dan sosial dalam kesatuan yang dilakukan secara menyeluruh baik jiwa maupun raga juga aspek material dan aspek spiritual untuk memenuhi kebutuhan esensial anak. Dalam menggunakan pendekatan holistic integrative ini, lembaga kami melakukan beberapa langkah yang bekerjasama dengan berbagai pihak. Pertama, Program Continuous Personal Record (CPR) menjadi program Yayasan dengan tujuan mendengarkan dan mencatat isi hati orangtua kepada wali kelas yang bersifat rahasia serta berlangsung terus menerus. Jika

Mengembangkan pendidikan terpadu dengan pendekatan holistic integrative berupa pendidikan yang mengintegrasikan segala aspek dalam pendidikan seperti nilai moral, etis, religius, psikologis, filosofis, dan sosia

Program Continuous Personal Record (CPR)

Mendengarkan dan mencatat isi hati orangtua kepada wali kelas yang bersifat rahasia serta berlangsung terus menerus

Pelayanan Kasih

Yang memiliki kemampuan finansial lebih dapat menolong anak yang kurang mampu sehingga orangtua menjadi ringan dalam membiayai pendidikan anaknya.

Pertemuan Orangtua Murid

Pemaparan program sekolah serta program parenting yang menghadirkan seorang ahli dibidang anak.

Bercerita dengan kata ‘Aku Istimewa’

Melalui kata “Aku Istimewa”, anak belajar bahwa semua anak istimewa bagi dirinya, keluarganya, teman-temannya dan lingkungannya.

si anak tetap belajar di yayasan kami mulai dari Kelompok Bermain sampai dengan SMA, maka catatan perkembangan ini akan berlanjut kepada wali kelasnya yang bertujuan untuk mendapatkan riwayat perkembangan anak secara lebih rinci. Dengan catatan dan solusi berkelanjutan yang sudah didiskusikan bersama orangtua ini, maka wali kelas akan lebih mudah mencari metode yang tepat untuk menangani anak-anak. Kedua, program Pelayanan Kasih di mana yang kuat menolong yang lemah. Yang memiliki kemampuan finansial lebih dapat menolong anak yang kurang mampu sehingga orangtua menjadi ringan dalam membiayai pendidikan anaknya. Di samping program pelayanan kasih, lembaga juga bekerjasama dengan organisasi Compassion Internasional yang ada di gereja-gereja pendukung lembaga kami. Organisasi ini sangat membantu anak-anak dalam segi pembiayaan maupun tumbuh kembangnya. Lembaga pendidikan kami juga bekerjasama dengan dinas terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Kelurahan maupun lembaga mitra yang lain. Ketiga, Pertemuan Orangtua Murid (POTM) yang biasanya berisi tentang pemaparan program sekolah serta program parenting yang menghadirkan seorang ahli dibidang anak. Bahkan dari Dinas Pendidikan bersedia untuk menjadi narasumber guna memberikan pemahaman yang benar tentang sekolah inklusi. Dalam parenting inilah kami membangun komunikasi yang aktif dengan orangtua murid. Segala perbedaan pandangan dalam pengasuhan di dalam kelas dikomunikasikan di sini. Penting menjelaskan kepada mereka bahwa seorang anak di dalam sekolah tidak hanya belajar tetapi juga berinteraksi dengan anak lain. Dalam interaksi itu pasti akan ada gesekan karena masing-masing anak memiliki pemikiran, gaya bersikap dan budaya yang berbeda-beda. Gesekan pasti tidak dapat dihindarkan. Tapi yang paling penting harus dilakukan adalah memberikan penyadaran bahwa tiap anak memiliki cara untuk mengatasi masalahnya sendiri. Gaya penyelesaiannya pasti berbeda-beda. Justru dengan adanya perbedaan ini anak belajar untuk berinteraksi, berempati, bersosialisasi dan belajar untuk melindungi dirinya. Keempat, melalui bercerita dengan berbagai media dan melalui kata “Aku Istimewa” anak belajar tentang penghargaan diri, toleransi, berempati dan bagaimana seorang anak dapat melindungi dirinya maupun anak lain. Melalui cerita baik cerita umum maupun cerita rohani, anak-anak belajar mencintai Tuhan dan sesama. Melalui kata “Aku Istimewa”, anak belajar bahwa semua anak istimewa bagi dirinya, keluarganya, teman-temannya dan lingkungannya. Pada awalnya #PendidikanUntukSemua

23

anak-anak sulit memahami kata istimewa tersebut. Namun ketika saya menunjukkan betapa mereka berbeda satu dengan yang lain, betapa mereka masing-masing punya kelebihan yang tidak sama, mereka mulai memahami kata istimewa tersebut. Bahkan bagi anak berkebutuhan khusus sekalipun juga merasa memiliki keistimewaan. Dengan kata “istimewa” tersebut, anak-anak termotivasi melakukan kegiatan dengan baik. Dengan kata “istimewa” anak-anak belajar saling menjaga maupun menolong satu dengan yang lain, belajar berempati dan belajar lebih mandiri. Melalui cerita dan kata positif, anak-anak belajar arti saling mengasihi dalam perbedaan. Setelah pemahaman akan konsep dirinya mulai terbentuk, cara selanjutnya adalah dengan kegiatan kolaborasi atau kegiatan kelompok. Dengan kolaborasi inilah anak-anak belajar saling melengkapi, menghargai, dan saling menolong. Contohnya adalah merapikan mainan bersama, menggambar secara berkelompok, bisik berantai, menghias kelas bersama, menyusun balok secara kelompok, menyiram tanaman secara berkelompok dan lainnya. Awalnya anak-anak masih menunjukkan egonya. Namun lama kelamaan anak-anak mulai dapat belajar berkolaborasi dengan baik. Segala perbedaan hilang dalam kegiatan bersama. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan pasal 2 yang berbunyi “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar….” maka seharusnya semua memiliki hak yang sama oleh Negara dalam pendidikan. Tujuan pendidikan akan berjalan dengan baik apabila semua pihak yang terlibat dalam pendidikan dapat bekerjasama dan rela berbagi beban dengan sesama yang membutuhkan seperti lagu “Usah Kau Lara Sendiri” yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya. “…..Letakkanlah tanganmu di atas bahuku Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu Di depan sana cahya kecil tuk memandu Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya…” Dengan berjalan bersama, berbagi beban bersama, maka pendidikan untuk semua akan terwujud sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

24

Surat Kabar Guru Belajar 18

Praktik Baik Pengajaran

P3K dalam Usaha Membangun Madrasah Inklusi Penulis : Muhammad Niamil Hida KGB Pekalongan MI Kranji 01 [email protected]

“Anak gila kok diterima di sekolah,” kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi. MI Walisongo Kranji 01 Pekalongan pada awalnya adalah sekolah/madrasah biasa seperti pada umumnya, sekolah/madrasah setingkat SD yang di bawah Kementrerian Agama. Awal mula munculnya ide menerapkan sistem inklusi karena keresahan beberapa guru melihat anak yang kami duga termasuk berkebutuhan khusus di sekitar sekolah tidak dapat kesempatan belajar yang baik, jikapun diterima di SD/MI hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan pelayanan yang layak. “Terus anak-anak spesial ini tanggung jawab siapa?” Kata-kata itu yang akhirnya membuat tekad kami semua untuk memulai langkah awal menerima anak terindikasi berkebutuhan khusus di MI kami dengan modal “nekat”. Modal tekad dan nekat memang kata yang pas untuk menggambarkan kondisi saat itu saat memulai merintis madrasah inklusi. Banyak sekali tantangan yang harus dilalui baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dilihat dari faktor internal kondisi guru-guru di MI Kranji 01 tidak ada satupun dari jurusan yang berkompeten dalam penangan ABK, bahkan mayoritas guru di MI Kranji 01 adalah dari lulusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan beberapa bukan jurusan pendidikan. Faktor internal

Desain Grafis Muhammad Niamil Hida KGB Pekalongan MI Kranji 01

lain yaitu kondisi sarana prasarana yang belum memenuhi dan belum ideal. Faktor eksternal juga sangat mempengaruhi tingkat tantangan dalam upaya menerapkan madarasah inklusi saat itu. Pada tahun 2012, di Kementerian Agama belum ada peraturan yang mengatur tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Di tahun berikutnya ada MI Kranji seperti mendapat angin segara karena Kementerian Agama mengeluarkan PMA No. 90 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan madrasah, yang di salah satu pasalnya menyebutkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, tepatnya pada pasal 14 ayat 6 yang berbunyi “MI wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkebutuhan khusus”. Dengan modal peraturan ini kami menjadi lebih yakin bahwa madrasah juga mendapat dukungan yang baik dari pemerintah. Membangun kesadaran lingkungan sekolah akan pentingnya pendidikan inklusi di daerah yang sangat minim informasi tentang inklusi menjadi hal penting, stempel jelek masih banyak diterima anak berkebutuhan khusus, anak autis dianggap gila, anak ADHD dianggap tidak layak belajar bareng sebayanya di sekolah karena sering mengganggu. Melihat hambatan atau tantangan memang perlu untuk menyiapkan aksi apa yang pas untuk menjawab tantangan-tantangan. Seperti tantangan untuk menumbuhkan kesadaran penting#PendidikanUntukSemua

25

nya sistem inklusi kepada masyarakat, dan tugas sekolah/madrasah adalah memberikan edukasi dan bukti. Usaha untuk memberikan edukasi dan bukti kami lakukan melalui tindakan P3K, bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, tetapi P3K yang kepanjangannya: Program Solutif, Pembelajaran Efektif, Promosi Simpatik dan Komitmen Energik. 1. Program Solutif Program-program yang didesain berusaha memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang muncul di sekolah, seperti masalah kesempatan yang sama dalam berekspresi; sekolah/madrasah memberikan kesempatan kepada semua murid untuk tampil sebagai pengibar bendera, walau tubuh mereka sangat mencolok berbeda. Memberikan anak berkebutuhan khusus juga ikut berperan tentunya disesuaikan dengan potensinya. Tidak hanya itu, juga memberikan kesempatan anak kelas 1 MI untuk tampil dengan menjadi petugas upacara. Contoh-contoh program lain seperti parenting untuk memanusiakan hubungan dengan wali murid, program tentang pemahaman toleransi dengan hari tanpa seragam dan lain sebagainya. 2. Pembelajaran Efektif Belajar efektif yang kami percaya bukan sekadar mahir menjawab soal, tetapi belajar yang mendekatkan dengan realita kehidupan sehari-hari, seperti belajar tentang perpindahan panas dengan memasak dan latihan menyetrika baju, belajar perubahan zat benda dengan mencuci baju dan lain sebagainya. Jika murid didekatkan dengan hal yang bukan abstrak akan mempermudah pemahaman, salah satunya kehadiran anak berkebutuhan 26

Surat Kabar Guru Belajar 18

khusus sangat membatu guru mendekatkan realita ketika membahas toleransi, mencegah terjadinya bulliying dengan buddy system dan lain sebagainya. 3. Promosi Simpatik Kalau 2 hal di atas adalah usaha untuk memberikan bukti pentingnya pendidikan inklusi, promosi simpatik adalah upaya untuk mengedukasi masyarakat. Promosi yang dilakukan di MI kami saya yakin juga sudah dilakukan oleh sekolah lain, yaitu promosi melalui berbagai hal, seperti menyebar brosur dan promosi melalui media sosial. Cara tersebut bisa efektif jika sekolah kita sudah dipandang, kami sadar akan hal itu, maka yang kami lakukan adalah berbagi ilmu tentang apa yang guru-guru kami miliki kepada guru dan orangtua di sekitar, baik praktik baik maupun kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka. Kegiatan promosi simpatik dengan kolaborasi ini sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat. 4. Komitmen “Energik” Bagi saya yang terakhir ini faktor penentu keberhasilan dalam usaha meningkatkan sesuatu termasuk membangun madrasah inklusi. Dalam menjalankan 3 usaha sebelumnya pasti muncul beberapa masalah, tanpa komitmen yang kuat tidak mungkin kita bisa bertahan dengan tujuan mulianya, dengan komitmen masalah apapun bisa diminimalisir selama selalu mencari cara untuk menyelesaikan masala. Untuk menjaga komitmen guru, yang kami lakukan adalah dengan membuat program diskusi rutin dengan program obsesi (obrolan senin santai) di forum inilah kami merefleksi program-program yang sudah dijalankan dan mencari program baru atau memodifikasi program program lama jika dibutuhkan. Melalui refleksi bersama program-program untuk memberikan pelayanan bisa bertumbuh lebih baik, seperti awal menerapkan inklusi program awal hanya klinik baca, akhirnya berkembang dengan PPI (program pembelajaran individual) dan lain sebagainya Melalui cara P3K ini yang di dalamnya ada kegiatan refleksi alhmadulillah sedikit demi

sedikit apa yang kami lakukan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan inklusi menuai hasil. Mulai terlihat dari pancaran wajah anak-anak spesial yang mulai percaya diri berbaur dengan anak seusianya. Anak yang dulunya selalu berpindah-pindah setiap tahunnya mulai belajar dengan nyaman sampai lulus kelas 6. Murid-murid non ABK juga ikut terpantik empatinya seperti ikut membantu memapah berjalan jika teman spesialnya ada ingin ke luar ketika pendampingnya sedang tidak ada di kelas. Respon masyarakat juga mulai tumbuh Hal ini bisa dilihat dari jumlah murid yang tadinya berjumlah 167 dalam 6 tahun bertumbuh hampir 300 murid, yang tadinya ada 6 ruang kelas sekarang tersedia 12 kelas yang setiap kelasnya kami batasi maksimal 28 murid yang didalamnya 2 anak berkebutuhan khusus. Kepercayaan terhadap madrasah inklusi juga bisa dilihat dari asal murid yang ada di MI yang dulu hampir semua dari kampung sendiri, beberapa tahun ini sudah ada separuh murid yang yang berasal dari luar desa bahkan luar kecamatan. Selain indikator perubahan di atas, pengakuan dari pemangku kebijakan mulai muncul di antaranya ada 2 buku yang di dalamnya sebagian mengangkat tentang perjuangan membangun madrasah inklusi. Ada buku “Madrasah Transformatif” karangan Dr. H. A. Umar, Ma yang saat itu menjadi kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan yang sekarang menjabat sebagai Direktur KSKK Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, dan buku “Mengawal Generasi Milenial-Sosok Guru Madrasah Inspiratif 2017” yang diterbitkan oleh Ditjen Pendis Kementerian Agama RI. Harapannya banyak sekolah atau madrasah yang berani untuk menerapkan pendidikan inklusi. Jika ada yang berpendapat “menerapkan sekolah inklusi menurunkan prestasi dan eksistensi”, yakinlah itu hanya miskonsepsi. Memang ketika kami berusaha menerapkan inklusi tidak mudah, tetapi dengan selalu berbenah, insya Allah usaha kita akan menjadi berkah.

#PendidikanUntukSemua

27

Praktik Baik Pengajaran

Pemberian Dukungan kepada Anak Berkebutuhan Khusus Penulis : Purwani Vinaltri KGB Cikal Sekolah Cikal [email protected]

T

anpa bisa menutup mata lagi, saat ini jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) semakin banyak. Hampir di sekolah-sekolah Negeri maupun Swasta, saya sering menjumpai beberapa kelas, bahkan setiap kelas terdapat anak berkebutuhan khusus. Biasanya terdapat 1-2 siswa anak berkebutuhan khusus di dalam kelas. Selama 10 tahun perjalanan karir saya mengajar siswa ABK, saya pernah membimbing siswa berkebutuhan khusus dengan kesulitan belajar dan autisme pada rentang usia 8-13 tahun. Selama mendampingi mereka pula, banyak pembelajaran yang saya dapatkan dari beragamnya kebutuhan khusus mereka. Setiap ABK yang sudah menginjak usia sekolah dengan keterbatasan dan tingkat ketunaan beragam yang mereka miliki, menurut saya, mereka tetap punya hak untuk mendapatkan pelajaran di sekolah. Ya! Mereka juga berhak mendapatkan Pendidikan yang layak, sama dengan teman-teman lainnya di sekolah.

Beberapa praktik nyata yang pernah saya lakukan adalah dimulai dengan pembuatan profil setiap siswa yang saya bimbing. Tujuan saya membuat profil siswa ini adalah agar saya bisa memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki siswa ABK. Berdasarkan profil yang didapat, nantinya saya dapat memberikan dukungan yang beragam pula kepada setiap siswa ABK. Dari profil yang disimpulkan, ada siswa ABK yang membutuhkan dukungan membangun motivasi belajar dan perilaku (kepatuhan), kesiapan belajar, perlu didukung untuk mengembangkan keterampilan sosial, membutuhkan dukungan mengembangkan keterampilan manajemen diri, komunikasi sampai kepada dukungan pembelajaran bina diri dan fungsional. Untuk memberikan beberapa dukungan yang beragam tersebut, tidak terlepas juga membutuhkan dukungan dan kerjasama dari komunitas yang ada di sekolah dan orangtua pastinya!

28

Surat Kabar Guru Belajar 18

Praktik yang sudah dilakukan adalah saya memberikan dukungan pembentukan perilaku (kepatuhan) siswa ABK. Saya menyiapkan beberapa kartu bergambar yang memuat gambar perilaku yang diharapkan ketika ia mengikuti sesi pengarahan pagi yang diberikan oleh guru kelas. Gambar perilaku siswa ABK yang diharapkan di dalam kartu adalah ketika ia mengikuti sesi pengarahan, ia dapat duduk tenang bersama teman sekelasnya. Artinya, selama mendengarkan, ia tidak mengoceh dan posisi tangan berada di samping badannya atau di atas pahanya, tidak pegang-pegang pipi teman dan bisa sambil mengatakan jaga jarak. Kartu gambar tersebut tidak hanya dipegang oleh saya, namun juga tersedia di kelas. Oleh karenanya, kartu tersebut juga dapat digunakan oleh guru kelas. Kemudian saya juga melibatkan teman-teman sekelasnya untuk juga melakukan hal serupa, jika siswa ABK tersebut menunjukkan perilaku yang mengganggu (sering pegang-pegang pipi teman yang disukainya). Temannya akan mengatakan jaga jarak sambil menunjukkan kartu ketika anak berkebutuhan khusus mulai berusaha mendekat dan terlihat ingin pegang pipi. Dukungan model tersebut dirasa dapat mengontrol siswa ABK untuk menahan keinginannya untuk pegang-pegang pipi teman yang disukainya, karena intensitas pegang-pegang pipi menjadi berkurang. Kemudian, bentuk dukungan yang diberikan kepada siswa ABK lainnya yang pernah saya bimbing adalah dukungan untuk menyiapkan pembelajaran atau memberikan gambaran materi, sebelum materi itu didapatkan di kelas (preview), mengulang pelajaran yang telah didapat (review) dan memodifikasi metode pembelajaran terhadap materi yang dipelajari (remedial). Kemudian, bagaimana dukungan pembelajaran akademik yang saya berikan kepada anak autis di

kelas? Apakah siswa dengan Autisma mengikuti pembelajaran yang sama? Apakah siswa ini juga belajar di kelas sama dengan teman-teman lain? Apakah siswa ini memiliki tujuan pembelajaran yang sama?. Jawabannya adalah, Ya! Siswa ABK dengan autisma yang saya bimbing, juga mendapatkan kesempatan belajar yang sama dengan teman-teman sekelasnya. Dukungan belajar seperti apa yang diberikan?. Bentuk dukungan yang saya lakukan adalah memodifikasi semua pembelajaran akademik di kelas menjadi pembelajaran fungsional bagi siswa ABK tersebut. Contohnya seperti memberikan kesempatan kepada siswa ABK langsung mengaplikasikan penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari (Matematika), memberikan kesempatan belajar untuk memahami kegiatan ekonomi dengan melibatkan siswa pada acara market day bersama teman sekelasnya (IPS terintegrasi dengan Matematika), tetap melibatkan siswa mengikuti kegiatan kunjungan lapangan bersama teman-teman sekelasnya sesuai dengan kebutuhan. Lalu bagaimana mana dengan pelajaran subjek lainnya Agama Islam, Musik, Tari dan lain-lain? Siswa ABK dengan autisme, juga tetap bisa mengikuti pembelajaran tersebut. Dukungan yang saya berikan adalah saya bekerjasama dengan masing-masing guru subjek mendiskusikan tujuan pembelajaran yang mungkin diberikan kepada siswa ABK ini sesuai dengan profilnya. Kemudian selain siswa ABK ini didampingi secara individual, saya juga memberikan tips dan trik kepada guru subjek agar bisa menyampaikan materi kepada murid tersebut. Seperti contohnya pada pembelajaran Musik. Tujuan pembelajaran yang diharapkan pada pembelajaran tersebut adalah memainkan Musik suling. Berdasarkan profil, siswa ABK memiliki keterampilan motorik halus yang belum optimal. Kemudian keterbatasan ini saya sampaikan kepada guru Musik kemudian saya berdiskusi dan memberikan saran untuk mengganti alat musik yang bisa dimainkan sesuai dengan keterampilan motorik halus yang sudah dikuasai oleh siswa ABK. Akhirnya pianika menjadi alternatif dan siswa ABK pun bisa bergabung bersama-sama temannya mendapatkan kesempatan memainkan sebuah lagu yang sama dengan memainkan alat musik, meskipun menggunakan alat musik yang berbeda. Menurut saya tidak ada kata yang tidak mungkin dilakukan agar anak siswa ABK tetap mendapatkan kesempatan belajar dengan memberikan dukungan belajar yang optimal kepada siswa ABK. Semua dukungan yang saya lakukan pun mempunyai tantangan yang beragam pula. Tantangan menghadapi suasana hati murid yang mudah berubah, tantangan dalam menghadapi minimnya dukungan orangtua dan guru-guru yang terlibat serta lingkungan. Cara saya menghadapi tantangan yang dahsyat sekalipun, alhamdulillah dapat dilalui dengan lancar. Dengan saya berpikir positif bahwa saya menganggap tantangan bukan halangan bagi saya untuk tetap memberikan dukungan belajar bagi siswa ABK, namun saya anggap sebagai proses belajar saya. Dengan saya melihat, mendengar dan merasakan kehadiran siswa ABK maka semakin besar keinginan saya untuk terus berbuat sesuatu buat mereka. “Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak”. #PendidikanUntukSemua

29

Praktik Baik Pengajaran

Praktik Pengajaran Diferensiasi Untuk Mengakomodasi Keragaman Murid Penulis : Hasto Pidekso Enita Wardhana KGB Cikal Sekolah CIkal

S

aat ini, menjadi guru bahasa Indonesia pada Sekolah Menengah (SMP) merupakan sebuah tantangan besar. Diantara serbuan berbagai budaya populer dari berbagai negara, penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih sedikit dan dianggap tidak mencerminkan budaya yang keren di kalangan (siswa) remaja. Disamping itu, kurangnya buku bacaan berbahasa Indonesia (fiksi dan non-fiksi) menjadikan akses belajar remaja menjadi terbatas. Dalam sebuah sumber, dinyatakan bahwa jumlah terbitan buku di Indonesia hanya 18.000 judul buku per tahun ( dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun). Kondisi ini membuat tantangan guru Bahasa Indonesia menjadi lebih besar. Dalam pengajaran Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa tujuan belajar adalah : 1. Menggunakan bahasa sebagai wahana pemikiran, kreativitas, refleksi, pembelajaran, ekspresi diri, analisis dan interaksi sosial 2. Mengembangkan keterampilan yang terlibat dalam mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, melihat dan menyajikan dalam berbagai konteks 3. Menggunakan teks dari periode sejarah yang berbeda dan berbagai budaya Dalam tujuan di atas, terlihat perlunya keragaman media belajar dan diferensiasi dalam mengek30

Surat Kabar Guru Belajar 18

splorasi kemampuan masing-masing siswa. Di awal tahun, Saya mendiskusikan tujuan belajar diatas, berikut dengan media belajar yang akan digunakan kepada siswa kelas 7 (saat itu ada 7 siswa). Diskusi ini penting untuk mengenali minat belajar masing-masing siswa. Dalam diskusi terlihat ada siswa yang menyukai membaca, menulis ataupun presentasi (audio visual). Proses diferensiasi sudah dimulai dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan menumbuhkan minat siswa (classroom environment). Siswa juga diberi ruang untuk memberi masukan mengenai media belajar yang diinginkan, misalnya majalah, lagu, dan novel, selain yang disediakan oleh guru (high quality curriculum). Hasil kerja siswa dan proses penilaian juga dikomunikasikan dalam sesi ini, sebagai bagian keterbukaan belajar (respectful task and assessment). Proses penyelesaian tugas siswa juga menjadi bagian diskusi di awal tahun, sebagai bagian dukungan atas keragaman gaya belajar siswa (flexible process). Dalam term awal, Saya memulai materi dengan menyuguhkan 4 novel serial Anak Mamak karya Tere Liye berjudul Burlian, Pukat, Eliana dan Amelia. Judul novel mencerminkan 1 karakter anak dan berbagai petualangan yang dialami. Berkaitan dengan materi pembelajaran, siswa belajar mengenai bahasa kiasan/metafora. Setiap siswa

memilih 2 dari 4 novel yang ada. Produk penilaian adalah berupa esai dan membuat video. Ada beberapa pertanyaan mendasar yang harus dijawab siswa dalam menyelesaikan penilaian , yaitu berkaitan dengan tokoh dalam novel, bahasa dan alur cerita serta moral cerita. Siswa diberi waktu 2 minggu (6x pertemuan) untuk membaca 2 novel dan bebas untuk diskusi dengan saya, jika ada bagian novel yang perlu ditanyakan. Setiap anak mempunyai fase membaca yang berbeda, termasuk bagaimana mereka membaca di kelas. Ada yang duduk serius di kursi masing-masing, ada yang tiduran di bean bag di karpet, bahkan ada yang harus ditemani teh hangat selagi membaca. Kegiatan membaca di kelas harus menyenangkan, karena menjadi titik tolak siswa untuk menyenangi kegiatan belajar dan analisa.

jika misalnya kalian memilih karakter Amelia, hal-hal baik apakah yang dapat dilakukan Amelia terhadap Burlian?” Disini siswa belajar tentang kompetensi berbicara dan berekspresi dalam konteks video yang diunggah di YouTube dengan target pemirsa remaja yang seusia (12-13 tahun). Proses pembuatan video ini juga melibatkan kemampuan siswa dalam menggunakan berbagai perangkat lunak untuk video editing.

Proses diskusi juga menjadi cair dan hangat, karena ternyata mereka mempunyai pandangan yang berbeda untuk masing2 karakter dalam novel. Kutipan paragraf dalam novel, menjadi pembeda masing2 siswa dalam menginterpretasikan karakter , ini menjadi semakin menarik, karena ternyata ada 7 jawaban berbeda dari 7 siswa yang membaca. Bahkan ketika saya memilih kutipan yang berbeda, mereka dapat memilih kutipan lain untuk menyetujui/menyanggah pendapat saya. Benar-benar suasana kelas yang menyenangkan bersama mereka. Semua pendapat/argumentasi disampaikan dengan baik, serius, berdasarkan data, namun tetap dalam suasana yang menyenangkan. Disini siswa belajar mendalami isi novel, kompetensi berbicara, mendengarkan pendapat lain serta menulis esai. Penulisan esai dilakukan 1 minggu sebanyak 600-700 kata.

Di term selanjutnya, saya memilih 1 novel klasik terjemahan berjudul The Hobbit karya JRR Tolkien yang diterbitkan di Inggris, 1937. Berkaitan dengan materi pembelajaran, siswa belajar mengenai paragraf narasi (menceritakan), deskripsi (menggambarkan) dan persuasi (mengajak) dalam novel fiksi. Disini siswa diajak memahami konteks budaya Barat di abad pertengahan yang penuh dengan cerita fiksi mengenai dunia peri, naga, serta pertarungan umat manusia melawan monster. Di term ini, Produk penilaian adalah berupa blog. Ada beberapa pertanyaan mendasar yang harus dijawab siswa dalam menyelesaikan penilaian , yaitu berkaitan dengan tokoh dalam novel, bahasa dan alur cerita serta moral cerita. Siswa diberi waktu 2 minggu (6x pertemuan) untuk membaca dan berdiskusi. Setelah proses membaca, kita menonton seluruh filmnya (3 seri). Dengan membandingkan karya tulisan (novel) dan karya audio-visual (film), siswa dapat mengenali perbedaan cara berekspresi dari masing2 karakter dan menemukan perbedaan interpretasi dan imajinasi ketika disampaikan dengan media audio-visual. Pertanyaan yang menghasilkan diskusi hangat ada-

Untuk pembuatan video (4-6 menit), mereka perlu membuat respon atas 1 pertanyaan, “Jika kita menjadi salah satu tokoh utama, hal-hal baik apa yang dapat dilakukan terhadap saudara yg lain? (Contoh : Kita memilih buku “Amelia” dan “Burlian”,

Di sini proses diferensiasi terlihat pada proses pemilihan novel. Sebelumnya mereka melakukan riset mengenai sinopsis ke-4 novelnya, sehingga mereka dapat memilih 2 novel tersebut berdasarkan karakter favorit dan dekat dengan penggambaran diri mereka masing-masing.

#PendidikanUntukSemua

31

lah ketika membahas : “Apakah Thorin (karakter utama) termasuk dalam definisi ‘pahlawan’? Apakah kematian karakter ini diharapkan dan dibenarkan setelah tindakannya sepanjang novel?” Respon siswa dalam mendalami pertanyaan diatas, benar2 membuat kelas menjadi hidup dan semangat. Sekali lagi yang ada 7 jawaban berbeda dari 7 siswa yang membaca. Saya menempatkan diri sebagai fasilitator yang mencoba tidak mengambil posisi menyalahkan/membenarkan, namun menjadi teman diskusi yang selalu menggelitik imajinasi dan pemikiran mereka dalam berargumen. Disini siswa belajar mendalami dan analisis isi novel dari periode sejarah dan budaya yang berbeda, mendalami konflik antar karakter yang memerlukan analisis dari berbagai sudut pemikiran. menyajikan pemikiran dengan media yang berbeda (blog yang dapat diedit/diperbarui setiap saat) serta mengembangkan imajinasi. Di sini proses diferensiasi terlihat pada produk yang diapresiasi. Mereka boleh menuliskan review berdasarkan novel saja, berdasarkan film saja, atau berdasarkan novel dan film. Siswa yang menyukai membaca detil, cenderung akan melakukan review berdasarkan novelnya, namun yang menyukai film, pastinya senang dengan review berdasarkan detil dalam film. Di term terakhir, siswa belajar untuk menyusun teks cerita, diskusi dan prosedur, sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat secara lisan. Dalam term ini, Di term ini, Produk penilaian adalah berupa Rekaman Suara (Audio Recording) acara TalkShow (Radio). Disini saya mengajak siswa kunjungan ke Stasiun Radio dan belajar langsung dengan para penyiar secara langsung. Di kelas, setiap siswa memulai kegiatan dengan mendengarkan siaran radio yang berbeda sesuai dengan minat masing2. Acara yang didengarkan adalah yang berkonsep Talk Show . Pada saat kunjungan ke Colors Radio FM, siswa bertemu dengan Manajer Acara dan 3 penyiar yang berbeda (Penyiar khusus acara musik, acara teknologi dan acara bisnis). Pemilihan stasiun radio ini didasarkan pada target pemirsa remaja & anak muda (15-25 tahun) Dari Manajer Acara, siswa melakukan wawancara dan belajar banyak hal : pembuatan konsep acara, pembuatan iklan sesuai permintaan klien, pengaturan durasi, dll. Dari 3 penyiar acara, siswa boleh memilih mana yang diinginkan sesuai konsep acara yang diinginkan. Masing2 siswa melakukan wawancara dan belajar 32

Surat Kabar Guru Belajar 18

tentang : membuat pointers diskusi dan membuat proses diskusi dalam Talkshow menjadi lebih menarik, interaktif serta memberi informasi yang terkini. Sebelum bertemu para penyiar tersebut, setiap siswa sudah membuat konsep acara berdasarkan riset yang dilakukan, sehingga pada saat diskusi, dilakukan dengan terarah dan tajam. Masukan yang diberikan para penyiar (profesional), menjadi sangat berharga untuk siswa dalam memperbaiki konsep acaranya. Disini proses diferensiasi terlihat dalam proses pemilihan topik Talkshow oleh siswa. Hal ini berkaitan dengan perbedaan minat masing2 siswa, sehingga disini ada kebebasan mereka untuk berekspresi. Kesimpulan dari diferensiasi adalah praktik guru untuk menyesuaikan kurikulum, strategi mengajar, strategi penilaian, dan lingkungan kelas dengan kebutuhan semua siswa yang berbeda. Kelas yang berdiferensiasi memberikan jalur yang berbeda bagi siswa untuk mendapatkan isi, untuk memproses informasi dan ide-ide,serta untuk mengembangkan produk, hasil belajar, dan imajinasi, yang menunjukkan sejauh mana pemahaman yang diperoleh siswa. Kelas yang mempraktikkan diferensiasi akan membuat siswa lebih memahami materi pembelajaran dengan baik. Belajar Bahasa Indonesia menjadi lebih menarik dan menantang, tidak lagi menjadi aktivitas yang membosankan, namun menjadi aktivitas yang dinanti.

Praktik Baik Pengajaran

Mengelola Keragaman Kelas Penulis : Yanuar Khaldun KGB Surabaya Sekolah Cikal [email protected]

P

ada tahun ajaran kemarin saya mendapatkan tugas mendampingi anak usia 3 tahun atau kelas playgroup. Hal ini berdasarkan dari hasil observasi awal guru kelas yang menjelaskan bahwa muridnya R sering tiba-tiba berlari dan memukul atau mendorong, sehingga teman-temannya tidak nyaman. Setelah guru perhatikan ternyata ada satu murid yang selalu menjadi sasaran R. Murid ini selalu menjadi korban R yang bisa didorong atau ditarik sehingga temannya tersebut menjadi ketakutan. Dari hasil pengamatan tersebut, guru kelas menginformasikan kepada saya sebagai tim SSC (Student Support Center) agar dilakukan observasi. Tim SSC segera menjadwalkan observasi pada murid tersebut dan dari hasil observasi yang kami lakukan, akhirnya kami diskusikan dengan guru kelas. Kami pun berencana mengundang orangtua dikarenakan R membutuhkan program khusus dan pendampingan. Seminggu kemudian, orangtua kita undang untuk berdiskusi. Guru kelas mengawali dengan menceritakan mengenai kondisi R ketika dikelas. R pada dasarnya anak yang cerdas, tetapi atensi, bahasa dan self awarenes R masih perlu diarahkan agar lebih baik lagi. Kami juga menunjukkan video rekaman video R ketika didalam kelas. Orangtua sempat kaget juga dan tidak percaya kalau anaknya melakukan hal seperti itu. Kamipun menjelaskan kepada orangtua bahwa R memerlukan pendampingan untuk pengarahan ke perilaku yang lebih baik lagi. Akhirnya orangtua R

Desain Grafis Muhammad Niamil Hida KGB Pekalongan MI Kranji 01

setuju dan mau anaknya didampingi . Pada hari pertama saya masuk sebagai pendamping, ada beberapa catatan yang saya buat pertama: kontak mata masih pendek, ketika berbicara juga sering tidak melihat. Kedua R tiba-tiba meremas tangan temannya pada saat aktivitas menonton video. Ketiga R tiba-tiba berusaha memeluk temannya yang duduk didepan dan sebelah kirinya. Ke empat R berusaha memegang leher temannya, dan saya mengarahkan terlebih dahulu sehingga tidak terjadi. Minggu ke empat pendampingan, Kecenderungan agresivitas R masih sering nampak muncul ketika dia mendengar musik dengan ritme yang cepat. Hal ini terlihat ketika dalam sebuah lagu, ada bagian yang harus diulang dan musiknya makin lama makin cepat, sehingga R terlihat seperti menjadi terlalu senang dan berlari-larian memutari kelas dengan kegirangan tanpa memperhatikan didepannya ada orang apa tidak dan ini menjadi catatan lagi bagi saya lagi. R cukup terbuka dengan saya dengan ia sering mengungkapkan kalau dirinya ingin memukul temannya. Terkadang R belum bisa menjelaskan alasannya mengapa dia ingin memukul. Saya menjelaskan bahwa tangan bukan untuk memukul, melainkan untuk bersalaman. Pada kesempatan lain, ketika semua anak sudah siap berdoa, ada salah satu temannya yang belum menunjukkan kesiapannya berdoa juga terkadang menjadi pemicu R menjadi merasa seperti panik. R #PendidikanUntukSemua

33

terlihat menunjukkan inisiatif untuk mengingatkan temannya yang masih belum siap. R masih perlu belajar bagaimana mengingatkan teman tanpa harus menarik temannya. Pada saat belajar bersama-sama dengan temannya, terkadang ada sebuah kejadian tak terduga yang membuat R harus belajar mengontrol emosinya. Seperti pada saat kakinya terkena lem temannya, R mengungkapkan bahwa dia tidak suka dan spontan langsung bereaksi dengan memukul temannya. R masih perlu belajar mengontrol emosinya dan cara menyelesaikan masalah dengan baik. Dari hasil pendampingan saya, sayapun mencoba membuat catatan tentang perilaku agresif yang sering muncul seperti mendorong, menarik, menendang dan memukul. Dari beberapa minggu catatan ini, terlihat pola dari R, yaitu pola kapan dia akan mendorong, siapa sasarannya, dan penyebab kecemasan yang dialami. Dari data tersebut, saya gunakan untuk program yang akan saya berikan. Saya juga selalu berusaha menjalin komunikasi dengan orang tua untuk mengetahui bagaimana R ketika dirumah. Seperti ketika di rumah R sering terpapar gadget sehingga bahasa yang diucapkan terlihat kaku dan kontekstual. Sayapun menuliskan beberapa rekomendasi setiap bertemu dengan orang tua. Adapun rekomendasi tersebut sebagai berikut Term 1 Saya merekomendasikan agar selama di rumah orangtua diharapkan secara intens membantu mengembangkan motorik kasar dan motorik halus R, melalui aktivitas seperti mengajak R untuk berlari dengan rintangan yang bervariasi. Hal ini dilakukan untuk melatih awareness R dengan lingkungan disekitarnya, terutama ketika R melakukan aktifitas fisik. Untuk mengembangkan aktivitas motorik halus, bisa melalui aktivitas seperti menulis dan mewarnai gambar yang di tempel di dinding. Kegiatan ini untuk membantu kemampuan visual motorik R, sehingga meningkatkan kemampuan koordinasi mata dan tangan. Term 2 Saya merekomendasikan kepada orang tua di rumah agar bisa membantu melatih R dengan memberikan perintah sederhana untuk mengembangkan rasa tanggung jawabnya, misalnya dengan membereskan mainan yang telah dipakainya atau menaruh barang yang telah ia pakai kembali pada tempatnya. Orang tua diharapkan mendorong R untuk saling bercerita mengenai aktivitas di sekolah. Melalui interaksi saling bercerita, orang tua dapat memahami ketika anak mengalami masalah atau kesulitan agar anak bisa mengungkapkan ketika dia merasa kesal. 34

Surat Kabar Guru Belajar 18

Term 3 Pada term Orang tua bisa memberikan cerita tentang problem solving kepada R. Jadi R bisa memiliki gambaran, jika ada masalah maka menyelesaikannya seperti apa. Selain bercerita, orang tua di rumah dapat mengajak anak bermain peran dan menceritakan dongeng tentang penanaman moral value, terutama tentang bagaimana mengontrol emosi. Term 4 Pada term 4, saya merekomendasikan agar orang tua bisa mengajak R untuk bermain lempar tangkap bola, untuk meningkatkan atensi terhadap instruksi dan objek yang dia tangkap Selain itu saya juga menyarankan orangtua agar memberikan kesempatan kepada R untuk dapat mencoba melakukan aktifitas atau sesuatu hal terlebih dahulu sampai tuntas dan tidak terburu-buru memberikan bantuan. Hal tersebut guna membantu membiasakan R untuk mau mencoba sampai selesai setiap aktifitas atau penugasan yang ia lakukan. Selama memberikan kesempatan itu orangtua dapat sambil memberikan pertanyaan inquiry kepada R seperti bagaimana sesuatu atau aktifitas tertentu harus dilakukan, bagaimana cara melakukan sesuatu atau aktifitas tertentu, dsb. Hal ini guna merangsang kemampuan berpikir R sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi timbal balik dua arah. Melihat kemampuan kognitif R yang cukup bagus, R membutuhkan beberapa metode untuk belajar suatu materi yang sama. Dengan menggunakan beberapa metode, dapat mengurangi rasa kebosanan pada R terhadap materi yang sedang dia pelajari. Orangtua R cukup proaktif dengan memberikan terapi tambahan diluar seperti terapi ketrampilan sosial, motorik kasar dan halus, memberikan les berenang Pada awal term 4 perilaku agresifitas R mulai berkurang . Hal ini terlihat pada kemampuan sosial interaksi R dengan teman-temannya saat ini terlihat lebih baik lagi daripada sebelumnya. R bisa bermain dengan semua temannya dan tidak hanya satu teman saja termasuk ketika bermain tembak-tembakan tanpa berakhir dengan konflik. Ketika R menginginkan mainan yang sedang digunakan temannya, R bisa menunggu untuk bergantian. Saya melihat R juga mulai bisa mengidentifikasi dan mengkomunikasikan apa yang terjadi disekitarnya, seperti pada saat berdoa ada temannya yang keluar untuk ke toilet, maka R akan meminta teman-temannyayang dikelas untuk berhenti berdoa dan menunggu sampai temannya kembali dari toilet. Hal ini juga berpengaruh pada kemampuannya dalam mengelola emosi, R pada awal term 4 nampak lebih baik dibandingkan term sebelumnya. Seperti: misalnyaPada saat mengalami konflik dengan temannya saat sedang bermain, misalnya pada saat R tidak boleh melewati karpet biru oleh teman-teman perempuannya yang sedang bermain, R dapat merespon dengan tanpa mendorong atau emosi. R juga berlanjut dengan sengaja melewati karpet yang sebelumnya tidak boleh dilewati oleh temannya sehingga teman-teman R mengejar dia. Maksud dari R adalah mengajak teman-temannya bermain bersama.

#PendidikanUntukSemua

35

Temu Pendidik Regional

Apa Pentingnya Temu Pendidik Regional? K

omunitas Guru Belajar pada akhirnya menggelar Temu Pendidik Regional Jawa Timur yang dihadiri guru dari lebih 12 daerah di Jawa Timur. Apa pentingnya? Temu Pendidik awalnya dirancang dengan tujuan pendidik bisa berkumpul dan berbagi praktik pengajaran dan pendidikan dalam durasi 2 jam. Waktu singkat, berbagi cerita praktis, dan mendapat ide untuk dipraktikkan di ruang kelas masing-masing. Terlihat mudah tapi ternyata penuh tantangan. Banyak guru yang tidak percaya diri untuk menjadi narasumber, meski punya banyak pengalaman dan strategi pengajaran. Beberapa daerah mencoba melakukan Temu Pendidik. Pada awalnya setiap daerah punya caranya masing-masing. Ada yang mengundang narasumber non guru. Ada yang mengubahnya menjadi pelatihan kecil. Tapi perlahan-lahan, Temu Pendidik kembali ke semangat semula, menjadi ajang bagi guru untuk saling berbagi praktik cerdas pengajaran. Temu Pendidik menjadi rumah yang nyaman buat guru. Temu Pendidik berkembang, yang semula hanya diniatkan untuk di tiap daerah, menjadi Temu Pendidik daring untuk membantu daerah-daerah yang masih butuh dukungan. Temu Pendidik daring terbagi dua: Temu Pendidik Mingguan di Telegram dan Temu Pendidik Bulanan di Facebook Live. Dalam perjalanannya, Temu Pendidik Bulanan dihentikan karena dinilai kurang efektif. Sejak tahun lalu, Temu Pendidik Nusantara 2017 memperkenalkan 4 format Temu Pendidik yaitu Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier mengacu pada 4 Kunci Pengembangan Guru. Dinilai berhasil, empat jenis kelas tersebut diperkenalkan sebagai pilihan format Temu Pendidik Daerah di Buku Panduan Komunitas Guru Belajar 2.0. Lalu dimana posisi Temu Pendidik Regional? Apa pentingnya?

36

Surat Kabar Guru Belajar 18

Bukik Setiawan

(tulisan ini bisa dibaca di blog.kampusgurucikal.com)

Perkembangan Komunitas Guru Belajar begitu pesat, dari 8 daerah pada 4 tahun yang lalu, kini telah berkembang di 145 daerah. Perkembangan di setiap daerah beragam. Ada yang kencang berlari, ada yang jalan santai, ada juga yang masih sibuk metik petai *eh Perkembangan pesat Komunitas Guru Belajar patut disyukur tapi sekaligus membuahkan konsekuensi, kebutuhan waktu dan energi untuk menemani jadi meningkat berlipat. Tidak mungkin semua guru penggerak Guru Belajar belajar di Temu Pendidik Nusantara (TPN). Meski minat guru untuk hadir dari tahun ke tahun terus meningkat, Temu Pendidik Nusantara yang setahun sekali tidak mungkin mengakomodasi kebutuhan berbagai daerah. Kami pun melakukan refleksi. Kampus Guru Cikal pernah melakukan Safari Disiplin Positif ke 6 daerah di Jawa Timur dalam seminggu di tahun 2016. Pada tahun 2017, mencoba dengan cara berbeda, kolaborasi dengan Pesta Pendidikan di 5 daerah di Indonesia. Refleksi terhadap berbagai upaya tersebut melahirkan ide tentang perlunya Temu Pendidik Regional. Temu Pendidik yang dihadiri sejumlah daerah di suatu wilayah. Dengan berkumpul di satu titik, memungkinkan Kampus Guru Cikal berinteraksi dengan semua guru dari berbagai daerah. Kampus Guru Cikal tidak harus satu per satu berkunjung ke 145 daerah. Ide Temu Pendidik Regional sudah dibicarakan di akhir 2016 dan sudah disetujui Ketua Kampus Guru Cikal di awal 2017. Namun selalu ada jarak antara kita ide dengan pelaksanaan. Kami mulai menjajakan ide Temu Pendidik Regional pada penggerak yang aktif daerahnya. Jawa Timur pernah mengadakan pertemuan untuk membahasnya, tidak tanggung-tanggung, di gunung Bromo. Jawa Tengah sudah pernah mengadakan pertemuan di Semarang dan memutuskan tuan rumah Temu Pendidik Regional. Makassar sudah pernah mengadakan rapat pembentukan panitia. Entah ada angin apa, semua berlalu.

Pada pertengahan semester genap 2017, Kepala Sekolah Cikal Surabaya melontarkan tantangan: “Ruangan serba guna kami sudah jadi. Kampus Guru Cikal mau bikin acara apa?”. Saya langsung mengiyakan dan memesan tanggal kegiatan, meski kemudian lupa juga haha Sementara ide temu pendidik regional dilupakan dengan sejumlah kesibukan, sampai kemudian rapat panitia Temu Pendidik Nusantara. Jreng! Belum Temu Pendidik Regional eh sudah mau Temu Pendidik Nusantara. Kontak-kontak lagi. Makassar mundur. Jawa Tengah buntu. Harapannya tinggal Jawa Timur. Saya memutuskan untuk melakukan percepatan, meski beresiko ada yang akan ketinggalan. Temu Pendidik Regional harus diadakan terlebih dahulu agar ketika di TPN bisa diperbincangkan, dipelajari dan dilaksanakan di regional yang lain. Kepanitiaan Temu Pendidik Regional Jawa Timur dikoordinasikan Panitia Temu Pendidik Nusantara. Pak Yanuar dari Guru Belajar Surabaya yang menjadi ketua. Format TPN 2017 diduplikasi. Panitia kerja cepat, super kilat. Temu Pendidik Regional Jawa Timur menggelar 6 kelas kemerdekaan, 6 kelas kompetensi, 6 dan 6 kelas kolaborasi. Tiket pre order ludes dalam 3 hari. Tiket reguler pun tidak lama habis. Panitia menambah kursi pun tetap harus menolak pendaftar.

Kediri posting foto mereka di tengah perjalanan. Guru dari lebih 12 daerah berbondong-bondong hadir dan penuh semangat sepanjang Temu Pendidik Regional. Temu Pendidik Regional Jawa Timur Bagaimana saya bisa percaya pernyataan guru malas belajar sementara di depan mata lebih 200 guru yang hadir bukan karena penugasan, hadir karena butuh belajar, bahkan menempuh perjalanan hingga 5 jam? Selamat buat Sekolah Cikal Surabaya sebagai tuan rumah, Panitia Temu Pendidik Regional dan Komunitas Guru Belajar Jawa Timur. Kombinasi keberanian memulai, kebesaran hati menerima dan kesungguhan melakukan usaha demi mewujudkan kesempatan belajar yang lebih luas untuk guru belajar. Apa yang kurang tahun ini akan kita perbaiki bersama di tahun depan ya Cerita susah senang mengadakan Temu Pendidik Regional Jawa Timur layak dan sudah seharusnya dibagikan di Temu Pendidik Nusantara. Semoga tahun depan akan lebih banyak Temu Pendidik Regional, lebih banyak berjumpa rekan seperjuangan. Karena meski berjalan sendiri lebih cepat, tapi berjalan bersama akan menempuh perjalanan lebih jauh. Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara 2018

Sabtu pagi jam 6, grup WA Guru Belajar Regional Jawa Timur sudah ramai. Rombongan dari Jombang dan

#PendidikanUntukSemua

37

Kilas Balik

TPN 2018 Temu Pendidik Nusantara

38

Surat Kabar Guru Belajar 18

Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2018 baru saja usai. Acara besar ini diinisiasi Kampus Guru Cikal Jakarta. Selama tiga hari, 5-7 Oktober 2018, seribuan lebih pendidik dari berbagai daerah berkumpul di Sekolah Cikal Cilandak, SDN 12-13 Cilandak dan Gelanggang Olah Raga PKP Jakarta Islamic School. Bukan sekadar menunjukkan kekuatan, guru berkumpul karena mereka sadar dan yakin bahwa guru (juga) perlu belajar. Satu titik awal untuk meruntuhkan pandangan bahwa guru hanya belajar jika mendapat intruksi atau insentif, miskonsepsi yang sering didengungkan Ibu Najelaa Shihab, inisiator Kampus Guru Cikal.

TEMU PENDIDIK NUSANTARA 2018 Ahmad Faozan Penggerak KGB Indramayu

Melucuti Model Pengembangan Guru yang Mapan TPN merupakan acara puncak dari keseluruhan proses temu pendidik yang dilakukan secara berkala. Sepanjang tahun, guru dari berbagai daerah terkoneksi dalam temu pendidik (mudik) mingguan menggunakan teknologi. Mereka belajar antar sesama secara daring (dalam jaringan). Mudik bulanan diadakan di halaman facebook Kampus Guru Cikal. Mudik juga dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) di berbagai daerah baik secara daring maupun luring (luar jaringan). Di TPN, acara puncak mudik, guru sangat bisa menjadi pembicara dan berbagi praktik baik pembelajaran. Pengalaman saya menjadi pembicara dalam mudik diawali dengan proses reflektif guru dalam pembelajaran yang merupakan praktik baik dan dituangkan dalam tulisan kemudian disebarkan melalui Surat Kabar Guru Belajar (SKGB). Dari SKGB ini, tulisan disebarkan, dibahas dan didiskusikan. Mudik adalah proses pengembangan guru dari, oleh dan untuk guru. Proses ini melucuti pengembangan guru yang sudah mapan, bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli atau pakar. Bagi guru akan lebih bermakna belajar pada guru yang telah melakukan praktik baik. Tentu guru yang berbagi praktik baik adalah guru yang belajar secara berkesinambungan. Mereka mencoba beragam strategi untuk pembelajaran. Gagal dan mencoba lagi. Guru sejati adalah pembelajar sepanjang hayat, karena belajar bukan proses yang instan. Pada saat yang bersamaan, para pendidik juga menjadi peserta TPN. Ada banyak pilihan tema dan kelas yang disediakan oleh panitia. Guru bebas memilih dan memasuki kelas sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Ini juga melucuti pengembangan guru yang mapan, bahwa pengembangan guru hanya bertujuan untuk peningkatan kompetensi, yang dalam praktiknya kadang-kadang mereduksi kemerdekaan guru sebagai pribadi yang unik dan memiliki kebutuhan belajar yang unik pula. #PendidikanUntukSemua

39

Belajar dan berbagi praktik baik akan memberi dampak bagi guru untuk mendapatkan inspirasi, menemukan solusi, melakukan aksi dan refleksi berkelanjutan sesuai konteksnya. Guru tak cukup belajar bagaimana cara mengajar yang baik. Tak ada resep yang sama untuk beragam konteks pembelajaran yang dihadapi guru. Saya sudah dua kali berkesempatan mengikuti TPN sejak tahun lalu. Begitu banyak energi positif, kekuatan, dukungan dan perasaan seperjuangan. Seperti yang sering didengungkan Ibu Elaa, panggilan akrab Ibu Najelaa Shihab, bahwa guru merdeka belajar perlu diperjuangkan. Menjadi guru merdeka belajar tidak bisa sendirian. KGB yang tersebar di berbagai kabupaten/kota menjawab kebutuhan ini. Saya perlu banyak belajar tentang keteguhan, kesabaran dan ketahanan untuk tetap berjuang dari para Penggerak KGB, semodel Ibu Rahmi dan Ibu Wanti, dari KGB Pesisir Selatan Sumatera dan Sanggau Kalimantan. Keduanya menjadi inspirasi dalam acara puncak TPN tahun ini. Memanusiakan Hubungan: Catatan Seorang Pengawas yang Galau Tema besar yang banyak diperbincangkan sepanjang tahun dalam mudik dan menjadi tema TPN adalah memanusiakan hubungan. Ibu Elaa selalu mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar, anak adalah sekutu utama kita. Semakin mudah pencapaian kita jika semakin cepat kita memberdayakannya. Tema ini menjadi pemikiran saya beberapa bulan belakangan terkait dengan konteks pengembangan guru yang saya hadapi. Sekira setahun lalu saya dipromosikan menjadi pengawas sekolah bidang kepengawasan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada SD. Latar belajang saya guru PAI pada salah satu SD di Kabupaten Indramayu. Dalam supervisi pendidikan modern yang saya pelajari, ada hal senada dengan yang ibu Elaa dengungkan di atas. Guru adalah mitra bagi pengawas sekolah. Supervisi kini lebih dipahami sebagai fasilitasi pengawas sekolah terhadap guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran, alih-alih supervisi dipa40

Surat Kabar Guru Belajar 18

hami semodel inspeksi. Tentu saja ada tantangan tersendiri bagi saya. Semula pembelajaran yang saya lakukan sebagai guru untuk anak-anak (pedagogi), berubah menjadi pengawas untuk guru-guru (andragogi). Juga koordinasi lintas instansi, saya Pengawas PAI yang berasal dari Kementerian Agama, sementara guru-guru PAI pada SD berada di bawah dinas pendidikan. Plus usia rata-rata guru yang berada jauh di atas saya. Gambaran umum yang agak nyinyir tentang pengawas juga menjadi tantangan yang tak bisa dianggap remeh. Ini pula yang jumat lalu ditanyakan Ibu Nadia Jirjis, Penggerak KGB Rembang. “Tugas pengawas itu apa, Pak?” tanya Bu Nadia. “Memang kenapa, Bu?” tanyaku balik. “Ya biasanya, kan, pengawas datang hanya marah-marah atau menyalahkan.” Tegas Bu Nadia. Dus, ketika pertama kali saya mendapat amanah ini, saya lebih banyak berkolaborasi dengan kelompok kerja guru (KKG) Pendidikan agama Islam karena Guru-Guru PAI adalah mitra pengawas PAI. Ada keinginan untuk memberdayakan mereka agar lebih kompeten dan menerapkan pembelajaran yang nyaman bagi siswa. Setahun ini saya lebih banyak melakukan teknik kelompok besar dalam KKG, baik dilakukan sendiri maupun kolaborasi dengan Pengawas PAI yang memiliki visi sama, atau dengan IslamEdu, oleh-oleh TPN 2017. Saya amat sangat jarang berkunjung dan melihat kondisi pembelajaran PAI di kelas, yang awalnya ingin saya lakukan di tahun kedua. Inilah kesalahan saya. Pengembangan guru yang masih berkutat dan bertujuan pada kompetensi, alih-alih kemerdekaan guru.

Menuju Rekan Seperjuangan “Alhamdulillah, akhirnya bisa bergabung dan berfoto bareng dengan rekan seperjuangan KGB Bandung. Setelah semalam galau tingkat dewa. Serasa sudah sempurna rencana yang disusun, tiket, penginapan, transportasi, izin orangtua, izin suami-anak, tinggal packing dan berangkat. Tapi tiba-tiba Koko mengeluh sakit gigi dan gusinya bengkak, serta Keykey demam sampai tengah malam. Sambil gendong si kecil, nahan kantuk karena begadang. Aku hanya bisa berbisik di telinga mereka berdua … ‘Mas, Dek kalau Kalian ikhlas besok bunda berjuang mencari ilmu ya. Tapi kalau memang Kalian ingin bunda tidak pergi, Bunda tidak akan pergi. Dan saya pasrah, biarlah Allah yang memutuskan mana yang terbaik menurutNya. Dan Alhamdulilah menjelang subuh, mereka bangun dengan ceria. Mereka melepaskku dengan senyuman. Makasih ya malaikat kecilku…”

oleh Rizqy Rahmat Hani

Begitulah tulis Guru Dwi Haryati anggota Komunitas Guru Belajar Bandung dalam salah satu postinganya di Instagram. Cerita yang menggugah semangat sebelum berangkat ke Temu Pendidik Nusantara 2018. Bukan hanya Guru Dwi yang memiliki cerita perjalanan, ratusan guru dari berbagai daerah sejak Kamis 3 Oktober 2018 pun memiliki cerita yang beragam menuju Jakarta. Perjalanan menuju #TPN2018 pun menjadi bagian menarik bagi guru-guru. Karena perjalanan juga bagian dari pelajaran. Ada perubahan di berbagai daerah dari tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya berangkat sendiri, tahun ini mengajak rekannya. Tahun kemarin menikmati perjalanan tanpa teman ngobrol, tahun ini bukan sekadar ngobrol tapi membuat yel-yel, berdiskusi di bus atau bahkan gerbong kereta yang disewa. #PendidikanUntukSemua

41

“Perjalanan dari berbagai daerah dengan macam transportasi namun dengan tujuan yang sama yaitu berjumpa rekan seperjuangan.”

Perjalanan berjumpa rekan seperjuangan pun dimulai. KGB Solo menyewa satu gerbong kereta, dan membuat perjalanan semakin bermakna dengan obrolan dan menyanyikan yel-yel yang dibuat. Bergerak ke daerah pantai utara Jawa, ada KGB Rembang, Semarang dan Pekalongan yang sama-sama menggunakan bus berangkat ke Temu Pendidik Nusantara 2018. Di bagian Kalimantan, KGB Sanggau yang biasanya langganan memberangkatkan 4-5 orang penggerak, kali ini mengagetkan dengan 17 anggota KGB yang dengan rela mengeluarkan uang untuk belajar ke Jakarta. “Saya menunggu Bu Elva was-was, karena jam 10.00 WIB dia belum sampai ke Painan. Padahal pesawat dari bandara Minagkabau berangkat pukul 14.00 WIB. Saya takut terlambat dan ketinggalan pesawat.” kata guru Mul salah satu penggerak KGB Pesisir Selatan. KGB Pesisir Selatan yang memiliki wilayah yang memanjang memang harus ekstra dalam menempuh perjalanan menuju bandara. Untungnya sekitar 5 penggerak yang berangkat bisa tepat waktu sampai bandara. Teman-teman dari Sulawesi pun sama, beberapa penggerak yang berasal dari berbagai daerah harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju bandara. Salah satu yang paling sedih adalah penggerak Palu pak Munfarida yang tidak jadi berangkat akibat gempa dan tsunami yang melanda seminggu sebelum TPN 2018 berlangsung. Dalam pesan telegramnya ia menunjukkan foto-foto terkini Palu dan penyesalan dia yang tidak bisa hadir di TPN 2018 karena bandara belum berfungsi maksimal. Berbagai daerah dengan berbagai cerita perjalanan dengan satu tujuan berjumpa rekan seperjuangan!

42

Surat Kabar Guru Belajar 18

Kelas Penggerak

oleh Rizqy Rahmat Hani

“Kalau Kamu melakukan sesuatu dan kamu tidak takut, maka yang kamu lakukan itu biasa saja.” Najelaa Shihab saat membuka sesi kelas penggerak TPN 2018.

“Pendidikan bisa berhasil jika dimulai dari guru sendiri…” “Adanya titik temu antara orangtua guru dengan murid..”

Kelas penggerak adalah kelas khusus untuk penggerak Komunitas Guru Belajar. Guru-guru yang resah terhadap kondisi pendidikan sehingga mengajak rekan guru lain untuk belajar. Oleh karena itu Najelaa Shihab di awal langsung mengajukan pertanyaan “Perubahan pendidikan berhasil jika ….”. Pertanyaan tersebut memancing peserta kelas untuk menjawabnya, dan benar saja dalam hitungan menit para peserta saling berebut menjawab.

Tiga pendapat guru tersebut dikuatkan oleh Najelaa Shihab. Kemudian beliau menyampaikan tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar : Guru belajar menunggu instruksi Guru hanya bisa belajar dari ahli Guru cukup belajar bagaimana cara mengajar Guru belajar secara instan Guru bisa merdeka belajar sendirian.

“Perubahan pendidikan berhasil jika bukan hanya memenuhi proyek saja. Saya merasa kalau ada proyek, dari pemerintah baru ada pelatihan”

Menanggapi Najelaa Shihab, guru Endoh dari KGB Tangerang Selatan bercerita tentang pengalamannya belajar menggerakkan KGB. Menurutnya tidak harus menjadi orang hebat dulu untuk menjadi rekan berbagi di dunia pendidikan. #PendidikanUntukSemua

43

Selain itu di kelas penggerak, Najelaa Shihab menampilkan lingkaran cita-cita guru. Dimulai dari mozaik Merdeka, menurutnya untuk emncampai cita-cita guru menjadi guru yang merdeka saja tidaklah cukup. Guru juga harus memiliki kompetensi, suka berkolaborasi dan mau mengembangkan karier. Esensi kompetensi adalah kemampuan guru beradaptasi. Adaptasi dengan murid, adaptasi dengan lingkungan ataupun dengan sekolah. Namun miskonsepsi yang ada selama ini bahwa guru yang kompeten adalah guru yang banyak memenangi lomba, yang banyak pialanya. Miskonsepsi lainnya adalah bahwa guru yang berkarier yaitu guru yang menjadi kepala sekolah atau jika mau berkarier guru harus meninggalkan profesi guru. Najelaa Shihab pada kesempatan itu membongkar salah kaprah tersebut. Guru yang berkarier adalah guru yang megembangkan karier yang masih berkaitan dengan pendidikan, seperti guru penulis, guru pembuat kurikulum, guru gamifikasi, guru pembuat konten pendidikan, dan sebagainya. Cara yang Kampus Guru Cikal dan Sekolah Cikal gunakan untuk Merdeka Belajar adalah memanusiakan hubungan. Kenapa memanusiakan hubungan : 1. Berorientasi pada anak 2. Menunjukkan empati 3. Membangun relasi Jika dilihat dari point di atas guru yang #memanusiakanhubungan antara lain guru yang : 1. Ingin tahu tentang anak. Percaya anak adalah sekutu 2. Fokus kepada kebutuhan anak dan kesiapan anak 3. Menumbuhkan disiplin dan dukungan. 4. Menghormati semua dan setiap anak.

44

Surat Kabar Guru Belajar 18

Setelah Najelaa Shihab menyampaikan pemaparannnya, para peserta banyak yang penasaran dan mengajukan pertanyaan, salah satunya adalah Guru Bagus dari KGB Malang “Apa bedanya memanusiakan hubungan dengan memanusiakan manusia?” “Yang terpenting bukan komparasinya. Tapi menyepakati tentang memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan muncul karena saya sering ketemu guru ketika ditanya jawabanya adalah yang penting kurikulum!” jawab Najelaa Pertanyaan kedua datang dari KGB Cimahi, “Bagaimana mengelola emosi berkaitan dengan memanusiakan hubungan?”. “Memanusiakan hubungan juga tentang menerima kita. Memanusiakan hubungan berkaitan erat dengan merdeka belajar. Berfokus pada tujuan. Ingat tujuannya. Kendalikan diri.” Jawab Najelaa Shihab. Bagian akhir dari kelas penggerak adalah bagian cerita. Penggerak dari berbagai daerah saling bertukar cerita tentang bagaimana menggerakkan KGB di daerah masing-masing. “Saya dulu awal-awal menggerakkan KGB Sanggau dianggap gila” Wanti, KGB Sanggau.

“Tiga orang yang memiliki visi yang sama lebih berdaya daripada 200 orang yang ikut tapi tanpa tujuan.”

Berbeda dengan Wanti, Windi penggerak KGB Sintang mengungapkan kesulitannya dalam menggerakkan KGB “Memasukkan anggota ke grup KGB itu mudah. Namun membangkitkan semangat belajarnya yang sulit. Ini PR bagi saya sebagai penggerak.” Mengakhiri sesi Bukik Setiawan berujar “Tiga orang yang memiliki visi yang sama lebih powerfull dari pada 200 orang yang ikut tapi tidak punya tujuan.”

#PendidikanUntukSemua

45

Kepemimpinan yang Memanusiakan

M

Oleh Budiyanti Hartadie

erdeka adalah modal utama guru untuk meraih cita-cita guru. Di Kelas kemerdekaan Temu Pendidik Nusantara 2018, guru yang menjadi narasumber menceritakan pengalamannya dalam melakukan praktik baik di kelas selama 15 menit. Berbeda dari tahun kemarin, tahun ini peserta kelas bisa mengetahui jenjang kelas di setiap judulnya. Sehingga bisa disesuaikan dengan kelas yang diampunya. Dalam TPN 2018 ini terdapat lebih dari 100 Narsumber dan 80 lebih judul . Sehingga panitia membuatnya menjadi dua sesi yang dilaksanakan pada hari Jumat 5 Oktober 2018 dari pukul 15.00 - 17.30 WIB. Namun ada yang menarik di kelas kemerdekaan tahun ini yaitu hadirnya kelas kemerdekaan khusus yang diisi oleh para CEO dari berbagai perusahaan multi nasional. Berikut salah satu cerita dari guru Bubu penggerak KGB dari Bandung. Tugas utama seorang leader adalah menumbuhkan kebiasaan continuous learning pada karyawannya. Ini tidak hanya menjadi penting 46

Surat Kabar Guru Belajar 18

di organisasi pendidikan, maka terbayangkah jika karyawan yang bekerja di bidang pendidikan – apalagi guru – tidak menikmati kegiatan belajar? Ketika seseorang berhenti belajar, pengetahuan dan keahlian yang ia miliki tidak lagi relevan. Tidak ada yang kebetulan. Profesi guru, tentunya tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tiba-tiba, kebetulan, dan bisa dilakukan begitu saja kalau ada bakat. Bakat jika dikelola dengan baik, akan menjadi kekuatan besar yang kemudian dapat menjadi modal untuk memberikan kontribusi dan dampak yang lebih luas. Oleh karena itu, seorang guru perlu terus menerus mengembangkan diri melalui kegiatan belajar yang terencana. Ada 4 hal yang menjadi pilar dalam kepemimpinan: Self-awareness: pemahamannya terhadap kelebihan, kekuatan, tujuan hidup dirinya sendiri. Kesadaran ini dapat dipupuk melalui kegiatan refleksi yang dilakukan sehari-hari dan dibiasakan.

Ingenuity: melakukan inovasi dan selalu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Pemimpin tidak berhenti ketika tim sudah mencapai target tertentu, tetapi terus menerus mendorong tim untuk mencari solusi dari permasalahan di sekitar, menerima perubahan dengan positive attitude. Love and compassion: setiap langkah dilakukan didasari oleh rasa peduli dan ketulusan dalam memberikan pelayanan yang prima. What comes from heart goes to heart. Dari kepedulian dan ketulusan yang dipancarkan, akan membawa dampak positif pada setiap tugas yang diselesaikan. Heroism: semangat memberikan yang terbaik. Tidak hanya menyelesaikan tugas, tidak hanya semata achieving target, seorang pemimpin yang menginspirasi akan mendorong tim untuk selalu melakukan yang terbaik. Menjadi pemimpin yang memanusiakan hubungan, didasari pada prinsip ASA: Authentic (menyerap hal-hal yang positif, untuk memancarkan hal-hal yang positif), Spirituality (memiliki value diri yang jelas dan positif, serta selalu mengembalikan berbagai pencapaian yang diraih pada kuasa Sang Maha Kuasa, tidak besar kepala pada kekuatan yang dimiliki), dan Adaptable (selalu mawas diri terhadap perubahan di sekitar, dapat memberikan contoh beradaptasi). Seorang pemimpin juga perlu memiliki kompas kehidupan yang jelas, kompas yang selalu menunjuk pada Allah SWT untuk setiap tujuan hidupnya. Ia juga harus bisa memimpin dengan hati, menyentuh hati. Pemimpin juga perlu menjadi dirinya sendiri, tanpa kepura-puraan. Seorang pemimpin juga perlu memiliki ketangguhan. Pemimpin yang tahan banting adalah dia yang punya harapan di masa sulit, dan percaya tim yang dipimpinnya dapat melalui itu semua. Sambil tak lupa pula, setelah segala pencapaian selalu lakukan social responsibility, apa yang bisa kita laku-

kan untuk masyarakat yang membutuhkan, apa yang bisa kita berikan untuk membantu permasalahan di sekitar. Waktunya berefleksi. Seringkali ketika topiknya pemimpin, tanpa sadar yang dipikirkan adalah pemimpin yang lain, pemimpin di tempat kerja, pemimpin negara, pemimpin apalah. Lupa, bahwa diri kita sendiri juga pemimpin. Jadi sebelum menunjuk sana sini, sudahkah berkaca pada apa yang ada di dalam hati ini? Sudahkah semua hal baik yang perlu dimiliki seorang pemimpin itu juga ada di diri ini? Sesi ini membuat saya banyak merenung. Di depan saya duduk sederet pemimpin-pemimpin cerdas, yang menjadi leader bagi ribuan karyawan yang bekerja di perusahaannya masing-masing. Ketika mereka satu per satu berbicara, terasa sekali aura pemimpin yang berbicara dari hati. Mereka berbicara melalui pengalaman puluhan tahun. Mereka dengan tulus menyampaikan hal-hal yang membantu mereka mencapai keberhasilan, dengan tujuan supaya kami yang mendengarkan terinspirasi dan bisa juga menggali kekuatan dari diri sendiri yang dapat membantu tugas kami sebagai pemimpin di manapun itu, skala mikro ataupun makro. Langkah terakhir dari siklus belajar ini, adalah rencana aksi. Saya tergugah dengan kalimat “menjadi pemimpin itu harus punya kompas kehidupan yang jelas.” Ini yang saya rasakan perlu saya asah kembali. Membangun kedekatan dengan Sang Pemilik Kehidupan, melalui yang wajib, yang sunah, hablumminallah, hablumminannaas, yang manapun yang bisa saya lakukan. Betty salah seorang guru Cikal setelah mengikuti sesi kelas kemerdekaan mengatakan bahwa “Menjadi guru itu bisa menjadikan diri sebagai pemimpin yang otentik, spiritual dan adaptable”

#PendidikanUntukSemua

47

Keseruan Kelas Kompetensi

48

Surat Kabar Guru Belajar 18

Kelas Kolaborasi : Desa Literasi Oleh Tunggul Herwanto

A

pa yang bisa kita lakukan dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini? Mengeluh? Menyalahkan? Sudah saatnya kita saling bergandengan tangan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Salah satu kelas di Temu Pendidik Nusantara 2018 adalah kelas kolaborasi. Kelas yang mempertemukan guru dengan komunitas, perusahaan ataupun instansi yang peduli dengan pendidikan. Karena pendiidkan adalah tanggung jawab bersama. Oleh karena itu para komunitas, instansi, ataupun perusahaan mengajak guru di aktivitas pendidikan yang mereka lakukan. Salah satunya adalah seperti tulisan kolaborator di bawah ini, Tunggul Harwanto pengelola Desa Literasi Banyuwangi. Desa Literasi : Membangun Indonesia Dari Kampung Halaman. Tema yang saya bawakan ini adalah salah satu ikhtiar kecil di level desa dengan mengkolaborasikan beberapa komponen yang ada pada masyarakat desa, bersinergi dan bergerak bersama dalam hal mengembangkan budaya literasi, meningkatkan wawasan serta menstimulasi berbagaikreatifitas dan inovasi masyarakat dalam pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pedesaan. Upaya menumbuhkan cita-cita kenyataannya tidak sederhana. Bahkan saat saya mencoba membagi peserta di kelas menjadi beberapa kelompok dan

mengajak untuk menggambarkan kondisi Desa di tahun 2045. Hasilnya cukup mengejutkan. Hampir setiap kelompok mempresentasikan bahwa desa perlahan berubah menjadi kota yang modern. Banyak gedung-gedung bertingkat dan interaksi manusianya dikendalikan oleh tekhnologi. Kearifan lokal mulai luntur tergerus budaya asing. Desa tak lagi dikenal sebagai rumah yang kaya akan petuah bijaksana. Memprediksi Indonesia dimasa yang akan datang memang tidak mudah, apalagi kondisi di zaman informasi yang sangat dimanis ini, masyarakat dituntut untuk memiliki kamampuan adaptasi yang baik. Itu sebabnya urusan litarasi adalah pondasi. Membangun peradaban yang memanusiakan hubungan menjadi kunci penting untuk memulai gerakan. Melalui Desa Literasi, kami percaya bahwa menjadikan membaca sebagai kebiasaan diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan wawasan apapun terutama terkait dengan potensi dan pembangunan di lingkungan Desa termasuk menjaga kearifan lokal yang sudah berabad lamanya. Termasuk mendorong tumbuhnya kesadaran diri terhadap desa yang dituangkan dalam bentuk karya dan pengabdian bagi masyarakat, bukan hanya yang lahir dari inisiatif pribadi, namun juga gagasan gagasan yang melahirkan gerakan gerakan kolektif untuk perubahan.

#PendidikanUntukSemua

49

Kelas dan Pameran Karier Oleh M. Abdurrahman “Pameran dan kelas karier juga menjadi bagian menarik dari TPN kali ini. Guru ternyata memiliki karier dalam bidang apa saja, yang dalam bahasa Pak Andrie Firdaus disebut karier protean, karier yang tak hanya bersifat vertikal, kepala sekolah, pengawas dan seterusnya. Protean berarti membelah diri. Guru bisa berkarier sebagai penulis buku, pelatih, pembuat konten bahan ajar, pembuat media pembelajaran, editor, ilustrator, ngeband dan karier lain. Inspiratif ya.” Ahmad Faozan, salah satu peserta Temu Pendidik Nusantara 2018.

Beragam karya dikenalkan di hari ketiga TPN ini. Produk alat peraga edukatif, buku, layanan konsultasi hingga layanan program dibawa oleh Para Guru dari berbagai daerah. Dari pukul 11.30 s.d. 14.00 tujuh belas judul kelas karier dapat diikuti peserta. Kelas dibagi menjadi 5 sesi dengan 4 lokasi berbeda di 4 sudut tribun GOR PKP Ciracas. Narasumber berbagi pengalaman dalam berkarier, mengembangkan produk maupun layanan. Sebelum kelas diakhiri narasumber dan peserta melakukan refleksi bersama.

Kelas karier merupakan salah satu kategori kelas dalam Temu Pendidik Nasional 2018. Sebagai salah satu bentuk realisasi darri 4 kunci pengembangan guru, kelas ini memberikan kesempatan kepada guru membagi dan memperoleh inspirasi jenjang karier yang sesuai dengan potensi diri. Membawa tujuan agar para pendidik dapat memperkenalkan karya dan layanan yang memberi dampak positif terhadap praktik pengajaran dan pendidikan, serta memberi kesempatan pada setiap pendidik untuk belajar mengenai proses berkarya dan berkarier pada pendidik yang menjadi narasumber.

Dari 17 Kelas Karier ada 8 Judul Kelas dengan kategori buku yaitu : 1. Dongeng Dialektika : Kisah Filsafat untuk Anakanak (Clara Ng), 2. Guru Merdeka, Guru Berdaya (Suhud Rois), 3. Panduan Model Terapi Perilaku untuk PAUD A Inklusi (Hayanti Jaya Harjani), 3. Merdeka Belajar di Ruang Kelas (Chusnul Chotimah) 4. Memanusiakan Hubungan, Belajar Sepanjang Hayat (M. Rizky Satria, Suhud Rois & Puti Hamid), 5. Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now (Imelda Hutapea),

50

Surat Kabar Guru Belajar 18

6. Puzzle Hati Konselor (Erni Marlina), 7. Buku Karya Kolaborasi Guru Menulis (Sugih dan Andy Hermawan). Pada kategori layanan program ada Mazra Yasir dengan “Dancing with The Stars, Belajar Bahasa Inggris melalui Seni dan Gerak, Miranti Banyuning Bumi dengan “SainsPOP, Upaya Membumikan Sains dan Teknologi, Sofi Santoso & Tyas Effendi dengan Bekas Bernilai, Program Kreativitas Barang Bekas, serta Budiman dengan Nyanyian Alfabet : Cara Asik Membunyikan Huruf. Sedangkan di Kategori Layanan Konsultasi bisa ditemui kelas Perseonalisasi Belajar, Desainer Kurikulum Abad Ke-21 oleh Puti Hamid, dan Karier Protean, Karier Guru di Abad ke-21 Oleh Bukik Setiawan & Andrie Firdaus. Nadine Cassinie membawakan Pelatihan Sepatu Rajut, Membangun Ekonomi Kreatif pada Generasi Muda sebagai Layanan Pelatihan. 2 Buah Alat Peraga juga dikenalkan melalui kelas ini Andi Olle Mashurah yang membuat Rakit Atraktif, Alat Peraga Belajar Membaca. Alfi Lailatin dengan karyanya Batik Folder, Belajar Melalui Budaya Lokal Selain melalui kelas karier di atas tribun, Guru yang mengembangkan karier juga memamerkan karya di seberang panggung. Setiap peserta dapat berkeliling sambil melewati meja-meja displai. Jika merasa tertarik obrolan dapat terbentuk, dari informasi tentang karya hingga kemungkinan kolaborasi yang bisa muncul. Pada beberapa karya, seperti board games (papan permainan), komik, dan website, peserta dapat langsung mencoba dan memperoleh manfaat, dan bahkan inspirasi untuk diterapkan pada proses pembelajaran di sekolah. Tanggal 7 Oktober 2018 juga menjadi sarana selebrasi perjuangan Komunitas Guru Belajar melalui acara puncak. Sebagai pendukung acara puncak, panggung disetting dengan mewakili isi Temu Pendidik, di mana Guru berbagi inspirasi praktik baik, melakukan refleksi bersama, dan kemudian merencanakan aksi. Ahmad Faozan juga punya kesan tersendiri tentang format hari terakhir TPN ini “Inspirasi, Refleksi dan Aksi, tiga kata ini tertulis besar di panggung utama yang saya lihat ketika mengikuti kelas karier dan acara puncak TPN. Bertemu dengan rekan seperjuangan di TPN 2018 masuk dalam memori jangka panjang saya. Bahkan keseruan TPN tahun sebelumnya masih menjadi energi bagi saya.”

#PendidikanUntukSemua

51

Acara Puncak TPN 2018 Inspirasi, Refleksi, dan Aksi

52

Surat Kabar Guru Belajar 18

Para peserta Temu Pendidik Nusantara 2018 sudah bersiap di tempat duduk yang disediakan panitia di GOR PKP Jakarta Timur. Ada yang unik dari visual yang ditampilkan di panggung utama, adanya 3 lingkaran yang di tengahnya masing-masing terdapat tulisan : inspirasi, refleksi dan aksi. Bukan tanpa sebab panitia meletakkan 3 lingkaran bertulisakan kata tersebut di panggung. Karena memang sesi acara puncak dibagi menjadi 3 layaknya tulisan dalam lingkaran. Sesi Inspirasi Di sesi ini panitia menyuguhkan kisah haru dari berbagai elemen pendidikan. Tentang bagaimana perjuangan meraih cita. Najelaa Shihab menjadi pemandu dalam acara puncak. Pertama ada dua guru dari dua daerah yang berbeda Guru Rahmi dan Guru Wanti, dua guru tersebut menceritakan perjuangan mereka dalam menjadi guru merdeka belajar. “Guru itu bukan robot, guru bukan tuan bagi muridnya dan guru bukan ditaktor.” ucap Wanti penggerak dari Sanggau mengakhiri sesinya. “Saya awalnya merasa aneh di Komunitas Guru Belajar, namun lama kelamaan keanehan itu pun menjalar ke saya dan saya merasa sekarang menjadi seperti mereka.” sambung Guru Rahmi yang merasa senang bergabung di Komunitas Guru Belajar. Setelah sesi guru, hadir di panggung masih di lingkaran inspirasi yaitu Tari Sandjojo selalku akademik Sekolah Cikal, dan 3 murid Sekolah Cikal yaitu Tanisa, Adit dan Latisha. Bu Tari menceritakan tentang bagaimana sekolah menjadi bagian masyarakat yaitu melalui program playground. “Sekolah tidak melulu mengejar nilai, sekolah bisa menjadi tempat kita berkontribusi kepada masyarakat.” Sejalan dengan bu Tari, Adit seorang siswa kelas 11 Sekolah Cikal Setu menunjukkan apa yang ia bisa lakukan untuk kebermanfaatan, ia menunjukkan proyek yang sedang ia garap. Proyek membuat video 1 menit yang berisi resep dan cara masak makanan murah namun bergizi. Berbeda dengan Adit, Latisha mempresentasikan sebuah alat yang ia buat yaitu kursi roda untuk anjing yang tidak bisa jalan. Adapun Tanisha menunjukkan bagaimana ia

memanfaatkan teknologi dan alat musik untuk menciptakan alat musik yang murah. “Bu Yuli itu best friend aku. Selalu ngasih semangat aku di saat aku gagal. Beliau selalu ngerti aku” sambung Latisha di akhir sesi yang menunjukkan bahwa Memanusiakan Hubungan penting. Sesi Refleksi Setelah para peserta terharu biru di sesi inspirasi, di sesi refleksi peserta dibuat tertawa oleh bercandaan dari dua komika yang sudah banyak dikenal orang, yaitu Soleh Solihun dan Arie Kriting. Di sesi ini Najelaa Shihab sebagai pemandu mengungkap masa kecil Arie Kriting dan Soleh Solihun terutama saat masa sekolah. “Saya senang sekali saat sekolah kalau guru bercerita. Bukan waktu pelajaran. Biasanya kalau pelajaran itu ngantuk. Namun saat cerita itu adalah bagian yang menarik bagi murid-murid.” ungkap Soleh Solihun Sesi Aksi Di sesi terakhir adalah sesi aksi, sesi aksi adalah sesi di mana orang-orang akan melakukan aksi apa setelah Temu Pendidik Nusantara 2018. Perubahan apa yang akan dilakukan. Niamil Hida penggerak KGB Pekalongan memiliki #AksiTPN2018 adalah mengadakan kegiatan Guru Masuk Kampus. Adapun Heni, Penggerak Solo Raya ingin lebih banyak kegiatan kolaborasi di KGB Solo Raya dan di TPN 2019 akan memberangkatkan 100 orang dari Solo Raya ke TPN 2019. Di sesi ini pula, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menginginkan kegiatan Komunitas Guru Belajar terintergrasi satu sama lain. Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Regional dan Temu Pendidik Nusantara saling berkait. Di akhir sesi ini Bukik Setiawan berujar “Pastikan kita tidak lagi gila sendirian. Pastikan tidak ada lagi rekan guru yang kesepian. Karena kita adalah rekan seperjuangan. Najelaa Shihab menutup TPN 2018 dengan tema TPN 2019 “Literasi Untuk Menggerakkan Negeri”

#PendidikanUntukSemua

53

Serunya 3 Hari Bersama Keluarga Guru Belajar

Saya tidak hanya belajar di kelas-kelas di TPN tapi juga dari Keluarga Guru Belajar Ermawaty

Banyak yang mengira jika di Temu Pendidik Nusantara hanya belajar di kelas-kelas. Namun nyatanya tidak sekadar di kelas-kelas. Ketika berjumpa rekan seperjuangan dari berbagai daerah membicarakan hal ringan pun bisa belajar. Ketika berjumpa host parents, menginap di rumahnya, berinteraksi, mengobrol dengan anaknya, berbagi kisah mengajar di daerah juga belajar. Iya, di Temu Pendidik Nusantara 2018 seperti TPNTPN sebelumnya ada program host parents. Di mana orangtua komunitas Cikal menjadi orangtua angkat guru-guru yang datang dari daerah. Program orangtua angkat tahun ini cukup berbeda dari tahun sebelumnya karena ada acara penjemputan guru dari daerah oleh orangtua angkat di Rumah Main Cikal Cilandak. Menjadi orangtua angkat berarti menyediakan rumah, menyediakan konsumsi selama menginap, mengajak berinteraksi. Hal itu pulalah yang membekas di hati para guru. Berikut adalah testimoni guru-guru saat menginap di orangtua Komunitas Cikal. Endang Puspitasari - Rayi Soeharto Jujur.. spechless banget. Sulit ngungkapin banyak rasa di dada ini atas semua penyambutan, perlakuan, bahkan bagaimana kami diantarkan hingga ke Bandara Sukarno Hatta. Semuanya terasa begitu indah, begitu nyaman. Saya pun merasa diterima menjadi bagian dari satu keluarga yang bahagia, keluarganya Ibu Rayi Soeharto. Kagumnya saya bagaimana ibu membimbing anak-anak yang semuanya keren dalam potensi. Rauf, Osman, dan Hafez. Semuanya membekas dalam perjalanan saya saat ini dan nanti. Terima kasih telah memberi warna hidup bagi saya, Bu. Terima kasih atas semuanya. Tak putus air hujan turun bilamana dia mengizinkan dirinya untuk turun. Berharap, tak putus pula silahturahmi diantara kita yang sudah dan sedang bersama dibangun. Salam hangat dari saya dan keluarga. Mohon maaf lahir dan bathin.

54

Surat Kabar Guru Belajar 18

Erni Marlina - Safana Nadhia 3 hari bersama keluarga baru, yang kami panggil bapak dan ibu. Di saat pengumuman orang tua asuh, ada rasa Was-was yang berkejolak dalam hati, apalagi disaat melihat foto keluarga orangtua asuh yang ada di WA. Pertanyaan campur aduk di hati terutama komunikasi karena dari foto saya mengira bahwa orang tua kami itu orang Arab. Apalagi bahasa Inggris saya juga sedikit-sedikit. Maka curhatlah saya dengan suami untuk mencurahkan kegaulauan, saya bertanya apakah saya batalin aja berangkatnya? Soalnya ini pertama kali dan saya sangat takut tidak bisa menyesuaikan diri. Akan tetapi suami meyakinkan kepada saya untuk tetap berangkat karena yakin bahwa bu Elaa pasti sudah memilih orangtua asuh yang sesuai kriteria. Berangkatlah dengan Bismillah. Dan satu kalimat pertama keluar dari mulut saya ketika mengabari suami yaitu luar biasa, mulai dari penyambutan, penjemputan dan legahnya adalah orangtua asuh kami asli Indonesia meskipun keturunan Arab. Singkat cerita saya dijemput oleh ibu Nana yang kominikasinya sangat baik sekali. Ibu nana menunjukkan kamar saya, kemudian memanggil seorang asisten rumah tangga dan memperkenalkan kepada saya, jika saya butuh apa-apa langsung menghubungi ART tersebut. Keesokan harinya saya sarapan bersama lengkap di meja makan bincang-bincang ringan kami lanjutkan, kemudian saya diantar okeh sopir beliau ke Sekolah Cikal untuk kelas penggerak. Dalam perjalanan ibu Nana selalu menghubungi saya untuk memastikan apakah saya baik-baik saja. Malamnya kami dibawa ngeteh ke resto orangtua asuh, namanya Gordi. Perbincangan dilanjutkan sangat asyik dan kami lupa waktu ternyata sudah jam 12 malam. Setiap saat ibu selalu bertanya apakah kami sudah makan, apakah kami baik-baik saja dan itulah yg membuat saya selalu terharu. Tibalah hari ketiga, rasanya waktu sangat cepat sekali berlalu, kami masih ingin bercengkrama dengan anak-anak ibu asuh tapi harus berakhir hari ini, hadiah terindah yang tidak akan kami lupakan adalah ibu asuh kami mengantarn kami

bersilaturahmi dengan bapak Quraish Shihab. Ermawaty - Tari Sandjodjo Sewaktu mengetahui bahwa sebagian penerima beasiswa penuh akan tinggal dengan host parents, saya sempat berpikir, sepertinya seru juga ya, 3 malam bersama keluarga baru. Namun ternyata nama saya tidak ada di daftar host parent. Maka saya masuk ke grup LPMP Ceria. Ehhh ternyata, setelah dekat hari H, saya dinfo masuk daftar host parent no 21 bersama bu Heny dr KGB Solo. Hmmm... Jadi penasaran siapakah host parents saya.... Lalu mulai lah chat di grup WA koordinasi dengan perantara Bu Inka. Sampai tiba di Rumah Main Cikal utk bertemu host parents. Pertama bertemu Bu Tari, host parents saya, kesannya ramah dan ngobrolnya santai. Suka dengan gaya rambutnya dan gaya berpakaiannya hehe... Setelah ngobrol, ternyata Bu Tari juga Head of Academic di Sekolah Cikal. Wahhh... Orang penting, batinku. Kita ngobrol banyak juga selama di perjalanan menuju rumah Bu Tari. Sepertinya bakal enjoy kkarena enak ngobrol ama Bu Tari. Malam perdana ni, Bu Heny belum bergabung dengan kami. Sampai di rumah Bu Tari, yang paling menarik perhatian adalah desain rumahnya. Hahaha... Saya pernah hampir jadi arsitek, tp gak jadi. Punya kebiasaan memperhatikan desain rumah orang. Dan saya suka banget dengan desain interior rumahnya. Dan yang paling bikin senang, di rumahnya banyak sekali benda yang saya sukai, terlihat di mana mana begitu saya masuk ke dalam rumahnya. Di rak, di lemari, di anak tangga... Benda itu adalah buku... Iya buku terlihat dimana mana! ... Dalam hati, ni rumah idaman banget hahaha.... Kenalan dengan Pak Danny, suami Bu Tari dan kedua anaknya, Dante dan Damian (semoga tidak salah sebut namanya, kalau salah maafkan saya). Oh iya, tidak lupa tiga ekor anjing di rumah. Saya lupa nama mereka. Bu Tari memberi tahu nama mereka di tengah gonggongan mereka melihat saya. Memori kepala saya cuma merekam suara gonggongan mereka, tidak namanya, maaf yaaaa.....

#PendidikanUntukSemua

55

Keseruan Guru Belajar bersama host parents

56

Surat Kabar Guru Belajar 18

Malam perdana ini ngobrol seru dengan Bu Tari dan Pak Danny. Topiknya berputar terus dari ringan, sedang, ke berat. Obrolan kita dari overnight oatmeal yang lagi trend di Jakarta hingga politik dan filsafat! Malam berikutnya, Bu Heny bergabung dengan kita. Karena Bu Tari ada meeting di Kemang Village Mall, kami pun dibawa ke sana. Saya sudah sering dengar Kemang Village Mall namun belum pernah ke sana. Akhirnya malam itu menginjak Kemang Village Mall. Lebih serunya lagi, sedang ada konser 100 penyanyi, utk menggalang dana bagi Palu dan Donggala. Ada 3 Diva, Glenn Fredly, Bams, Reza, Melly Goeslow dan banyak lagi. Pertama kalinya merasakan suasana konser. Seruuuu....! Malam terakhir di rumah Bu Tari, saya dan Bu Heny pulang duluan ke rumah, Bu Tari dan keluarga pulang agak malam karena ada arisan keluarga. Sebenarnya masih pengen ngobrol tapi badan sudah gak kuat. Akhirnya malam terakhir tidak ada interaksi dengan keluarga Bu Tari. Sayang juga. Belum sempat ngobrol dengan anak-anak Bu Tari. Tapi Bu Tari bilang akan berkunjung ke Binjai, semoga jadi :) Pagi terakhir, kita sarapan bersama dan kembali ngobrol berbagai topik. Yg paling saya ingat statement Pak Danny bahwa teknologi ternyata membawa manusia untuk kembali ke naturnya yang benar. Kesimpulan ini didapat setelah potongan potongan cerita yg disampaikan secara random. Pak Danny bercerita tentang satu suku di Kalimantan di mana pintu rumah tidak perlu dikunci tapi aman. Lalu kita juga membahas tentang bisnis Jack Ma yang menggunakan teknologi tinggi sehingga tidak perlu ada pegawai di tokonya. Jadi kalau dipikir-pikir, jika manusia mau jujur dan tidak serakah, kita sama sekali tidak membutuhkan teknologi canggih utk membuka toko yg tidak membutuhkan pegawai. What a thought in a morning! Saya tidak hanya belajar di kelas-kelas di TPN tapi juga dari host parents. Thank you keluarga Bu Tari untuk semuanya. Kiranya berkat Tuhan melimpah bagi keluarga Bu Tari. Thank you KGC, thank you panitia TPN 2018. Semoga bisa bertemu lagi di TPN 2019. Rahmiyanti - KGB Pesisir Selatan Tinggal disini bersama keluarga bu Rosmayanti Mutiara Ichsan serasa mendapat kelas bonus #TPN2018 . Banyak pelajaran yang kami dapatkan selain keharmonisan keluarga mereka. saya juga belajar dari bu Yanti bagaimana melibatkan orang tua, disekolah...itu tuh kelas yang sebenarnya aku idam-idamkan sebelum berangkat TPN Yang lebih luar biasa lagi kami banyak belajar dari sibungsu Azra yang jago presentasi, memaparkan seluruh kegiatan yang dilakukannya disekolah, bayangkan dia bisa menyampaikan secara mendetil kegiatan yang sudah dilakukannya pada setiap bidang study, dan Hmmm sepertinya Azra juga jago mengenali dirinya sendiri... Sayangnya kami baru bisa belajar dari mereka berdua, saya yakin kalau lebih lama lagi disini akan mendapat ilmu tentang membangun website dari Pak Ican sebagai kepala keluarga dan dari Dev anak pertama beliau yang komunikatif ramah dan bersahabat... Benar-benar keluarga yang mengedukasi Terima Kasih telah mengizinkan kami tinggal disini Luv You

#PendidikanUntukSemua

57

Merchandise Guru Belajar

Buku

Diferensiasi

Merdeka Belajar

Setiap pembelian dua produk mendapat 1 buah tas boardgames

58

Surat Kabar Guru Belajar 18

Memanusiakan Hubungan

Merchandise Guru Belajar Kaos

Pelajar Sepanjang Hayat

Guru Belajar

Disiplin Positif

Merdeka Belajar

Size

Lebar

XS S M L XL 2XL 3XL

43 CM 46 CM 49 CM 52 CM 55 CM 58 CM 61 CM

Panjang 62 CM 66 CM 70 CM 73 CM 75 CM 77 CM 79 CM

Memahami Murid

DAPATKAN MERCHANDISE GURU BELAJAR ESENSIAL DI GURU PROMOTOR KGB DAERAH ANDA!

#PendidikanUntukSemua

59

Temu Pendidik Mingguan

Moderator : Temu Pendidik Mingguan ke-60 dengan tema “Mengurai Salah Kaprah Sekolah Inklusi ” Apa sebenarnya sekolah inklusi? Apa bedanya dengan sekolah kebanyakan? Apakah sekolah inklusi membutuhkan sarana prasarana khusus? Apakah sekolah inklusi membutuhkan kurikulum khusus? Apakah sekolah inklusi hanya urusan guru khusus? Zie Asma : Label itu masih banyak masyarakat yang blm paham tentang arti yang sesungguhnya. “Semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak” Lalu apa yang akan kita bedakan lagi kata “semua” sudah mewakili arti inklusi. Memang sekolah inklusi menerima berbagai macam kebutuhan siswa dan banyak yang lebih mengenal dengan kata Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dan masyarakat awam pun masih menganggap ABK itu adalah anak-anak yang mempunyai kekurangan. Menakutkan bahkan kadang merepotkan. Sedih rasanya karena banyak yang belum paham mereka. Lalu apakah ada org tua yang menginginkan anaknya jauh berbeda dengan yang lain? Semua anak terlahir berbeda. Itu yang harus kita pahami. Setiap anak mempunyai kebutuhan khusus yang berbeda. Seperti halnya saya yang mempunyai kebutuhan khusus tersendiri. Mengajar di SMP Permata Hati, salah satu SMP Inklusi di Purwokerto bagi kami sangat menyenangkan. Bahagia sekali kami diberikan kesempatan bertemu dengan mereka. Mencoba memahami karakter dari setiap anak tidak hanya ABK anak reguler pun kami coba pahami kebutuhan khususnya. Di sinilah awal kami belajar arti hidup yang sesungguhnya. Karena pada intinya manusia yang bisa memberi manfaat untuk org lain itu lebih baik dan ilmu yang bermanfaat akan membantu kita di akhir hayat kita. Vitriani Sumarlis : 3 Salah Kaprah Sekolah Inklusi. Sekolah Inklusi telah lama terdengar sejak bertahun-tahun yang lalu, namun hingga kini bentuk nyatanya masih susah ditemui di dunia nyata. Kenyataannya, banyak kalangan guru pun belum memahami esensinya sehingga meyakini salah kaprah sekolah inklusi. Bayangkan bila guru masih salah kaprah memahami sekolah inklusi, lalu bagaimana pemahaman masyarakat luas? Setidaknya ada 3 salah kaprah sekolah inklusi 1. Sekolah Inklusi harus menyediakan sarana prasarana khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Sarana prasarana mungkin penting, tapi bukan syarat mutlak bagi sekolah inklusi. Pen60

Surat Kabar Guru Belajar 18

didikan inklusi bisa menggunakan sarana prasarana yang tersedia di sekolah. 2. Sekolah Inklusi harus mempunyai kurikulum khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Salah kaprah ini berawal dari pandangan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus butuh belajar topik berbeda dengan cara dan struktur belajar yang berbeda. Padahal sekolah inklusi justru menggunakan kurikulum yang sama untuk semua anak. Bukan hanya anak berkebutuhan khusus, setiap anak pun pada dasarnya butuh diferensiasi belajar sesuai minat, disposisi belajar dan kebutuhannya. Sekolah inklusi merancang diferensiasi belajar agar mengakomodasi semua anak. 3. Keberhasilan Sekolah Inklusi hanya tergantung pada peran Guru Pendamping Khusus. Banyak pihak yang menekankan pentingnya peran guru pendamping khusus dengan mengabaikan peran setiap pihak yang terlibat. Sekolah inklusi bisa gagal pelaksanaannya bahkan bila guru, orangtua dan murid tidak memahami dan mendukung pelaksanaan sekolah inklusi. Mari kita bongkar salah kaprah tersebut dan membangun pemahaman yang tepat tentang sekolah inklusi. Sekolah inklusi adalah sekolah yang terbuka dan ramah terhadap pembelajaran dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Sekolah inklusi menggunakan pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan yang dapat menghalangi setiap individu peserta didik untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan yang dilengkapi dengan layanan pendukung. Moderator : Yuk, kita lanjutkan ke sesi tanya jawab. Elsa Carolina : Apakah sekolah inklusi hanya untuk anak berkebutuhan khusus Zie Asma : Sekolah inklusi itu sekolah yang memberikan kesempatan untuk anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak reguler lainnya. tidak ada syarat khusus untuk menjadi sekolah inklusi. Yang perlu disiapkan ya kita mau belajar memahami karakter semua anak. Jangan pernah takut dengan label inklusi jangan pernah takut dengan anak berkebutuhan khusus, di daerah saya dicanangkan Banyumas Inklusi. Tapi pada dasarnya semua sekolah itu inklusi. Elsa Carolina : Apakah sekolah inklusi bisa menolak karakter siswa tertentu & hanya untuk anak

berkebutuhan khusus? Zie Asma : Semua anak mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, Lalu tidak seharusnya kita menolak anak berkebutuhan khusus untuk belajar, akan tetapi tidak semata-mata kita langsung menerima anak bekebutuhan khusus. Kita harus bisa identifikasi dengan mencari informasi mengetahui riwayat anak dari org tua dan yang paling penting dari dokter/ psikolog yang nantinya akan diberi rujukan untuk sekolah lanjutan. Apakah bisa masuk sekolah umum atau sekolah khusus ( SLB ). Sekolah inklusi seperti yang dijelaskan di atas bahwa sekolah yang memberi kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak reguler berarti tidak semata-mata hanya menerima anak berkebutuhan khusus. Tetapi sekolah inklusi adalah sekolah umum yang dapat menerima anak berkebutuhan khusus. Jangan dibalik ya. Bukan semata-mata hanya menerima anak berkebutuhan khusus tetapi memberi kesempatan untuk sama-sama belajar dengan anak-anak reguler. Jadi tidak hanya untuk anak berkebutuhan khusus ya teman-teman. Dan perlu diingat bahwa semua anak mempunyai kebutuhan khusus masing-masing. Termasuk saya. Kalo kita identifikasi hal apa yang perlu mendapat perlakuan lebih dari diri sendiri, apa yang menjadi kekurangan dan bahkan kelebihan yang berbeda dengan yang lain itu yang menjadi catatan khusus untuk kita bahwa kita pun punya kebutuhan khusus masing2. Lalu apa kita masih malu dan ragu untuk menamakan diri kita juga berkebutuhan khusus? Seperti contoh saya yang gaptek dan sulit untuk memahami pelajaran matematika khususnya sehingga saya mempunyai kebutuhan untuk kesulitan belajar matematika, saya punya kebutuhan khusus untuk belajar lebih tentang tekhnologi dan lain sebagainya. Imam Setiawan : Bagaimana Kegiatan Belajar Mengajar(Hari tatap muka,Jam Belajar,Kuota di kelas, USBN) di sekolah inklusi? Apakah beda sekolah inklusi dan sekolah luar biasa? Dan apa saja jenjang pendidikan inklusi? Vitriani Sumarlis : Kegiatan belajar di sekolah inklusi sama dengan sekolah umum lainnya. Yang membedakan cara/metode apa yang kita gunakan sesuai kebutuhan siswa masing-masing. Dan

#PendidikanUntukSemua

61

kurikulum kita dimodifikasi sesuai kebutuhan anak. Bukan anak yang mengikuti kebutuhan sekolah kita. Dan tentunya perangkat pembelajarannya dilengkapi dengan IEP atau PPI (Perangkat Pembelajaran Individual ) untuk anak berkebutuhan khusus, sehingga kita tau metode apa yang harus kita pakai dengan kebutuhan khusus anak itu. Banyak kegiatan pembelajaran yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan anak. Dan di sekolah kami setiap pembelajaran ataupun ulangan harian dan jg ujian ada guru pendamping khusus yang bertujuan untuk menyampaikan informasi yang sekiranya mereka hanya mampu mendengar satu lawan satu dan memfokuskan anak untuk dapat memahami informasi yang didapat jikalau anak itu kesulitan untuk memahami informasi secara cepat dan banyak. Wulan : Bagaimana cara mengetahui karakter anak? Zie Asma: Terimakasih Bu Wulan, cara memahami karakter anak yang berbeda sebenarnya setiap hari sudah kita lakukan. Karena pada dasarnya semua anak berbeda dan semua anak istimewa dengan berbagai macam kebutuhan. Untuk memahami karakter anak di sekolah saya biasanya di awal masuk kita identifikasi, baik lewat cerita org tua tentang riwayat anak ataupun hasil tes psikologi anak. Sekolah inklusi adalah sekolah yang ramah anak. Jadi memahami karakter anak bs kita lakukan dengan komunikasi ataupun sosialisasi yang lain. Ida Marlina : Saya guru kelas 1 SD kebetulan ada seorang anak yang ABK alias lambat dan anaknya aktivitas dengan tangan kiri. Zie Asma : Anak mempunyai keistimewaan berbeda-beda, kemampuan dan kebutuhan yang berbeda, anak slow learner atau lambat belajar itu bukan merupakan kendala untuk anak bisa bertahan hidup dan menghentikan impiannya. Dan aktivitas dengan tangan kiri mungkin tangan kanannya kurang maksimal atau memang pembiasaan dari kecil. Itupun bukan penghalang. Inklusi itu ramah anak dan tidak pernah memaksakan kemampuan anak yang terbatas. Kita bisa menggali bakat minat anak untuk kita kembangkan sebagai bekal hidup nantinya. Bu Nurul : Apakah ada kurikulum khusus anak inklusi? 62

Surat Kabar Guru Belajar 18

#PendidikanUntukSemua

63

Vitriani Sumarlis : Kegiatan belajar di sekolah inklusi sama dengan sekolah umum lainnya. Yang membedakan cara/metode apa yang kita gunakan sesuai kebutuhan siswa masing2. Dan kurikulum kita dimodifikasi sesuai kebutuhan anak. Bukan anak yang mengikuti kebutuhan sekolah kita. Dan tentunya perangkat pembelajarannya dilengkapi dengan IEP atau PPI (Perencanaan Pembelajaran Individual ) untuk anak berkebutuhan khusus, sehingga Kita tau metode apa yang harus kita pakai dengan kebutuhan khusus anak itu. Banyak kegiatan pembelajaran yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan anak. Dan di sekolah kami setiap pembelajaran ataupun ulangan harian dan juga ujian ada guru pendamping khusus yang bertujuan untuk menyampaikan informasi yang sekiranya mereka hanya mampu mendengar satu lawan satu dan memfokuskan anak untuk dapat memahami informasi yang didapat jikalau anak itu kesulitan untuk memahami informasi secara cepat dan banyak. Sesan Sesanti: Apakah anak-anak biasa sudah bisa menerima jika ada salah 1 dari kawan mereka ini special?. Zie Asma : Itu pentingnya sekolah inklusi di mana anak berkebutuhan khusus bisa bersosialisasi dengan anak reguler atau sebaliknya. Dan kita berperan penting untuk memahamkan mereka bahwa setiap anak berbeda dan selama saya berkecimpung di sekolah inklusi justru anak-anak reguler belajar memahami anak anak berkebutuhan khusus. Sesan Sesanti : Bagaimana pendidikan karakter anak-anak biasa ini dan juga bagaimana menanamkan pendidikan karakter pada anak-anak special kita, Bu?. Zie Asma : Sekolah inklusi adalah salah satu sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter dan bentuknya berupa mereka bisa memahami karakter yang berbeda, tanpa ada diskriminasi dan perundungan. Dan untuk anak berkebutuhan khusus mereka merasa diakui dan mencoba belajar bersama dengan anak reguler lainnya dengan saling bersosialisasi. Andriani Lestari :Dalam hal materi penyerapan pelajaran, sedikit banyak tentu ada perbedaan antara ABK dengan anak reguler. Bagaimana menyiasati hal tersebut agar tidak berakibat pada melambatnya target pencapaian kurikulum untuk anak reguler? Zie Asma :Kita bisa dibantu oleh guru pembimb64

Surat Kabar Guru Belajar 18

ing khusus untuk mencoba memahamkan informasi yang didapat. Kita coba pahami apakah anak itu mampu didik atau hanya mampu latih Aria A Mangunwibawa: 1. Bagaimana meyakinkan orang tua ketika menerima ABK di sekolah, orang tua suka terganggu dengan kehadiran ABK? 2. Dalam menerima ABK untuk sekolah inklusi lebih awal menyiapkan kapasitas atau terima dulu lalu siapkan kapasitas melayani ABK 3. Apakah guru dipersiapkan untuk memahami ABK? Vitriani Sumarlis : Kita lakukan sosialisasi juga kepada ortu dan kita coba memahamkan arti inklusi sebenarnya. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya jauh berbeda dengan yang lain. Tapi yakin bahwa setiap anak mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Setiap Guru Sekolah Inklusi atau reguler wajib bisa memahami karakter setiap anak didiknya, tidak hanya untuk guru Sekolah Inklusi saja Penerimaan anak-anak sebaya terhadap temanteman ABK membutuhkan proses sosialisasi juga diperlukan terhadap teman-teman sebaya, meskipun tentunya kita harus memperhatikan cara bicara yang bisa dipahami oleh mereka. Yang kami lakukan biasanya mengenalkan mengenai arti keberagaman dulu, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya. Karakteristik teman ABK tadi bisa kita mulai dengan melihat kelebihannya dulu. Mereka akan menjadi lebih terbuka biasanya. Dalam prosesnya tentunya bimbingan dan kebijaksanaan dari orang dewasa, baik guru dan orangtua sangat diperlukan. Intinya tak kenal maka tak sayang. Zie Asma: Ya betul sekali Bu Vitri, saya melengkapi, di sekolah saya untuk anak berkebutuhan Khusus yang mempunyai bakat di atas anak reguler sy jadikan contoh agar anak-anak reguler tidak semata-mata melihat kekurangannya @amiie_arie : Bagaimana menghadapi orang tua dan apa perannya untuk membantu anaknya yang berkebutuhan khusus? Zie Asma : Peran orang tua sangatlah penting. Karna sekolah dan pendidikan pertama itu di dapat dari keluarga khususnya orang tua, sehingga pada hal ini orang tua harus mampu menerima dan menyadari kekurangan pada anaknya. Sehingga untuk kelanjutan penanganan kebutuhan lebih mudah dan jelas tentunya dibantu dari semua pihak, dalam hal ini adalah bapak/ibu guru. Kita harus bisa bekerja sama untuk bisa memahami karakter

anak yang nantinya anak akan mendapatkan pelayanan terbaiknya dan bisa bersama sama mengembangkan bakat minat anak. Karena saya yakin bahwa setiap anak itu istimewa, setiap anak mempunyai kebutuhan khusus yang berbeda dan setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Dewi-KGB Balikpapan : Apa materi/alat pelajaran yang cocok untuk ABK di sekolah inklusi, sehingga membangun lingkungan yang ramah terhadap anak ABK? Zie Asma : Materi/alat yang kita butuhkan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Itu bisa kita lihat dari identifikasi dan hasil tes psikologi anak. Semisal anak dengan hambatan intelektual belum mampu membaca dengan lancar, sehingga yang kita ajarkan ya bagaimana cara untuk melatih membacanya. Bahkan apabila anak itu punya bakat setelah kita identifikasi kita langsung bisa mengembangkan bakat minat nya. Sekolah inklusi adalah sekolah yang ramah anak dan menyenangkan. Terlihat dari awal pembahasan kita semua disesuaikan dengan kebutuhan anak bukan untuk memaksakan kebutuhan sekolah. tidak adanya paksaan dan diskriminasi terhadap anak merupakan identitas sekolah inklusi. Dan semua butuh proses yang tidak sebentar. Vitriani Sumarlis : Bapak dan Ibu, saya coba jawab lagi pertanyaan2 yang masih terlewat ya.. Untuk materi atau alat pelajaran yang cocok untuk ABK di sekolah inklusif tidak ada standar yang baku. Jawabannya adalah materi yang dapat mengakomodir kebutuhan mereka untuk berkembang sesuai dengan profil mereka masing-masing. Betul Bu Asma. Kita bahkan perlu membuat materi yang fungsional, misalnya melatih kemandirian, ketika memang isu kemandirian yang merupakan kebutuhan ABK tersebut. Tentunya teman-teman berpikir, sangat menantang yaa. Sudah pasti menantang, karena pendidikan inklusif memberi ruang bagi guru-guru kreatif untuk melakukan inovasi atau diferensiasi seluas-luasnya Selain itu, perlu diingat juga, dalam pendidikan inklusif karakteristiknya adalah kerjasama. Kita tidak akan pernah bisa menjalankan pendidikan inklusif dengan optimal ketika kita tidak mengedepankan prinsip tersebut Zie Asma: Pokoknya sangat menyenangkan bisa diberikan kesempatan bisa berbagi dan belajar bersama mereka. Pengalaman yang luar biasa. Dewi-KGB Balikpapan : Peran guru dan guru pendamping di sekolah inklusif? keduanya memiliki peranan yang sama. Vitriani Sumarlis: Persyaratan menjadi guru dan guru pembimbing khusus hanya satu, memiliki hati untuk menerima keberagaman anak-anak ini. Pengetahuan dan keterampilan akan meny#PendidikanUntukSemua

65

usul sejalan dengan keinginan untuk berkembang dari keduanya. Zie Asma: Ya pada intinya semua guru semua murid sama Vitriani Sumarlis: Kalau kita berbicara pendidikan inklusif, yang harus kita buka dulu adalah cara pandang kita. Ketika kita masih mengkotak-kotakkan peserta didik, maka tantangan akan semakin besar. Tuti Ardiasyam : Apa peran guru & guru pendamping di Sekolah Inklusi & persyaratannya? Cara mengajar dan mendidik ABK yang bersekolah di sekolah negeri biasa dengan jumlah siswa yang bnyak? Vitriani Sumarlis: Peran guru dan guru pendamping itu pada dasarnya sama yaitu mencoba memahami karakter anak. Tidak hanya untuk anak berkebutuhan khusus tetapi anak reguler pun harus kita pahami kebutuhannya, kekurangan ataupun kelebihan. Untuk satu kelas ada guru mapel/kelas dan guru pendamping khusus. Mereka sama-sama berkolaborasi untuk menyampaikan informasi kepada siswa tentunya dengan cara dan metode yang berbeda. Untuk anak yang reguler biasanya bisa langsung menangkap informasi dengan mudah, akan tetapi ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang sulit untuk menerima informasi dengan mudah sehingga perlu adanya guru pendamping khusus untuk memfokuskan dan memahamkan sebuah informasi kepada anak. Baik materi pelajaran ataupun informasi yang lain. Cara mengajar kita bisa melihat kesulitan apa yang ada di anak berkebutuhan khusus sehingga kita bisa mencari cara/metode yang akan kita terapkan kepadanya. Dan banyaknya siswa jangan jadikan beban justru meraka bisa saling sosialisasi dan memahami satu sama lain. Karena Kita semua tercipta berbeda kita semua mempunyai kebutuhan khusus yang berbeda beda. Dan kita belajar untuk bersyukur dan bersabar untuk menerima apa yang Tuhan ciptakan. Karena ciptaan Tuhan itu yang terindah. Dwiyana Supriyatni: Bagaimana pandangan ibu-ibu narasumber mengenai pull-out system di sekolah inklusi? Jujur, sy punya banyak murid yang kemampuan akademiknya below grade. Saya berusaha mendampingi mereka full di dalam kelas agar mrk tdk merasa dibedakan. Akan 66

Surat Kabar Guru Belajar 18

tetapi saat mendampingi, saya tidak merasakan adanya kesatuan visi misi saat mengajar dengan guru kelas. Apakah ada tips membangun kolaborasi dengan guru kelas sehingga anak-anak yang punya kesulitan ini bisa merasakan hal yang sama, belajar seperti teman-temannya? Vitriani Sumarlis: Saya coba memberikan contoh kurikulum modifikasi ya Bu. Modifikasi ini bisa berlapis ya Bu, sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Misalnya, kita akan mengajarkan tentang jenis-jenis tulang, fungsi dan cara menjaganya. Yang kita bisa modifikasi diantaranya adalah indikatornya, mungkin ABK bisa diminta untuk menyebutkan nama tulang berdasarkan contoh bagian tubuh yang bisa terlihat dan menyebutkan fungsinya, dengan cara memperagakan suatu kegiatan dan kemudian ditanyakan bagian mana yang digunakan. Cara menjaganya olah raga. Zie Asma: Kalo di sekolah saya semua pihak diutamakan bisa memahami semua karakter anak. Tidak hanya guru pendamping, guru kelas/guru mapel bahkan Kepala Sekolah dan stakeholder lainnya bisa memahami tentang inklusi sehingga baik kurikulum dan perangkat pembelajaran bisa saling terkait dan bisa memfasilitasi semua kebutuhan. Salah satunya kalo untuk anak reguler kita biasa buat RPP tetapi untuk anak berkebutuhan khusus itu yang kita namakan PPI karena kebutuhan dan indikator pencapaian yang seharusnya misalnya bisa 3 poin tercapai mungkin anak yang berkebutuhan khusus bisa 3 tetapi dengan materi sederhana atau hanya bisa 1 atau 2 poin saja. Vitriani Sumarlis: Kalau ABKnya masih sulit dengan modifikasi tersebut, mereka tidak perlu menyebutkan nama tulang, namun diminta untuk merasakan dan melakukan kegiatan praktis olahraga yang melatih kekuatan tulang tersebut. Memang tantangan akan lebih besar ketika belum ada kesamaan visi antara guru kelas dan guru pembimbing khusus. Kita coba berpikir positif dulu ya. Mungkin guru kelas belum memahami siswanya sehingga belum bisa mengakomodasi dengan optimal. Prinsipnya sama, kita bantu sosialisasi ke guru kelas. Pull out dimungkinkan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, namun jangan dilupakan, prinsip dasar pendidikan inklusif: 1. kehadiran bersama, 2. adanya partisipasi, dan 3. adanya capaian

Zie Asma: Ya memang untuk memahami setiap karakter orang dan anak-anak istimewa butuh proses. Yang penting kita coba dasari misi untuk belajar dan memahami setiap karakter yang berbeda. Yuk kita niatkan belajar dan mengamalkan ilmu kita agar bisa bermanfaat untuk semua. Meskipun tidak berdampak hari ini paling tidak suatu saat akan berguna untuk org disekitar kita Vitriani Sumarlis: Jadi kalau ABK hadir di kelas bersama temannya tidak cukup menjadikan pendidikan inklusif berjalan. Mereka harus diajak terlibat dalam pembelajaran kelas sesuai dengan kemampuan mereka. Oleh karena itu capaiannya harus dibedakan. Aria A Mangunwibawa: Apakah ada batasan penerimaan ABK ? Misalnya hanya tuna runggu? Atau semua ABK diterima dan pastinya tantangannya sangat luar biasa, bagaimana pendapat para narasumber ? Vitriani Sumarlis: Idealnya semua ABK diterima Pak, namun kita bisa mempertimbangkan kesanggupan secara bertahap. Namun kita perlu bekerja sama, memperbanyak jejaring. Ketika kita masih mengalami kendala, kita boleh bekerja sama dengan SLB terdekat. SLB memiliki sebagai pusat sumber. Satu hal lagi, kita bisa bertahap berkembang Misalnya, di sekolah kita 1 hari, 2 hari di SLB mungkin2 saja loh Atau SLB terlalu jauh, mungkin hanya bisa di sekolah kita, kita identifikasi kekuatan SDM yang bisa membantu. Kalau cuma bisa 1 hari tidak apa-apa. Yang penting ABK ini memiliki kesempatan untuk memperoleh hak pendidikannya. Zie Asma: Untuk jenis ketunaan tertentu yang mempunyai spesifikasi sama itu biasanya ada di SLB ada tingkatan SLB A,B,C dan jika di daerah sudah tersebar sekolah inklusi dan siap untuk melaksanakan pendidikan inklusif itu lebih memudahkan semua sekolah bisa menerima dan bahkan wajib menerima anak berkebutuhan khusus yang ingin bersekolah lho. Di tempat saya tidak ada batasan penerimaan anak berkebutuhan Khusus. Bagus Satria: Dalam pelaksanaan sekolah inklusi, bagaimana pelaksanaan ujian diaplikasikan pada anak ABK ?

Vitriani Sumarlis: Ujian nasional. Sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan ABK tersebut. Tidak semua ABK bisa ikut ujian nasional. Tidak perlu dipaksakan karena memang bukan kebutuhan mereka. Aria A Mangunwibawa: Saya pernah punya pengalaman di Jepang ada semacam mekanisme potensial review/identifikasi awal yang dilakukan oleh lembaga/organisasi; kemudian akan muncul rekomendasi apakah ABK akan di SLB atau disekolah inklusi dan juga dengan model pembelajaran PPI seperti apa yang pas untuk diberikan kepada ABK. Adakah lembaga seperti itu ? Vitriani Sumarlis: Tidak ujian nasional boleh? bolehhh sekali lihat permendikbud 70 tahun 2009 ya. Zie Asma: Betul Bu merdeka belajar kuncinya Dan saya rasa masih banyak sekolah yang belum berani untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Dan kalo kita telaah sebenarnya semua sekolah itu inklusif lho. Pasti ada kn anak yang mempunyai kebutuhan khusus yang beragam. Vitriani Sumarlis: Iya Bu Ida, kalau memang kita baru bisa mengakomodir mereka satu hari di sekolah kita ya tidak apa-apa. Namun kita membantu memberikan home program. Bertahap kehadiran mereka di sekolah kita tambah. Andriani Lestari: Catatan penting saya malam ini (untuk diri sendiri) “bedakan capaian masing-masing peserta didik, bahkan untuk anak yang sama-sama reguler sekalipun, terlebih untuk anak ABK. Yang terkadang msh sulit memiliki kesadaran itu, pengennya semua anak pinter sesuai ekspektasi kita. Vitriani Sumarlis: Pak Aria, lembaga seperti di Jepang memang belum ada di Indonesia. Kita masih melakukan identifikasi secara mandiri setiap sekolah. Zie Asma: Ya betul disini dibantu juga dengan psikolog. Vitriani Sumarlis: Bekerja sama dengan institusi-institusi seperti perguruan tinggi seperti psikologi bisa dilakukan untuk asesmen psikologik. Bekerja sama dengan fakultas keguruan juga bisa untuk membantu menjadi guru tambahan. Mereka yang magang bisa dimanfaatkan.

#PendidikanUntukSemua

67

68

Surat Kabar Guru Belajar 18

B

anyak hambatan yang menghalangi penyandang disabilitas mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan yang setara. Persepsi negatif, diskriminasi dan sarana prasana menjadi penghambat. Seperti data berikut ini : A. Jumlah penyandang disabilitas. Perkiraan jumlah disabilitas di Indonesia adalah 12,5% dari populasi atau hampir 30 juta (FEB UI, 2016) B. Akses pendidikan penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas hanya 54,26%, sementara non disabilitas mencapai 87,31%. Bahkan, 45,74 penyandang disabilitas tidak pernah mengeyam pendidikan SD. (FEB UI, 2016) C. Akses pekerjaan penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2%, sementara non disabilitas mencapai 70,40%. (FEB UI, 2016) D. Hambatan penyandang disabilitas. Faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang, Maka dibutuhkan Program bagi penyandang disabilitas agar mendapat akses yang setara dan dukungan yang memadai untuk mendapatkan akses pendidikan. Intervensi terhadap penyandang disabilitas sekaligus sistem pendukungnya. Oleh karena itu Kampus Guru Cikal dan NusantaRun membuat program kolaborasi Pengembangan Murid Disabilitas. Siapa NusantaRun? NusantaRun adalah yayasan yang memiliki kegiatan penggalangan dana yang “berbeda”, dimana tiga elemen berbeda mendukung satu sama lain agar tujuan dapat tercapai. NusantaRun merupakan perwujudan ketika “rasa cinta berlari” bertemu dengan “rasa cinta kepada negara kita, Indonesia”, untuk

menunjukkan bahwa kita sama-sama peduli pada masa depan satu sama lain. NusantaRun percaya prinsip-prinsip berikut : 1. Berkontribusi kepada mereka yang membutuhkan di Indonesia Kami percaya bahwa banyak tujuan mulia yang pantas didukung oleh kita. Kami pecaya bahwa banyak orang yang ingin membantu orang lain, dengan waktu, uang, kekuatan atau kemampuan lain yang mereka miliki. Namun mereka tidak tahu ke mana dan bagaimana mereka dapat menyumbangkan apa yang mereka miliki 2. Mendatangi landmarks yang ada di Indonesia Kami percaya sangat banyak landmarks yang indah di seluruh Indonesia yang bisa dibuka dan ditunjukkan pada orang-orang Indonesia maupun negara lain. Kami percaya tempat-tempat tersebut bisa kita tunjukkan melalui tujuan kami dengan menjadikan Landmark tersebut sebagai garis awal dan atau garis akhir NusantaRun 3. Mempopulerkan hidup sehat dengan berlari di Indonesia Kami percaya bahwa berlari dapat memberi perubahan besar kepada gaya hidup seseorang, baik dari fisik, pola pikir, sikap hingga hal-hal lain. Kami percaya dengan berlari mengelilingi Nusantara kita akan mempromosikan berlari sebagai kebiasaan baik ke seluruh Indonesia Siapa yang mengikuti NusantaRun? Peserta NusantaRun berusia sekitar 18-60 tahun, terdiri dari mahasiswa, ibu rumah tangga, profesional, pemimpin instansi dari layanan publik atau swasta yang ingin menyumbangkan waktu, uang, tenaga atau kemampuan lain yang mereka miliki, membagikan karunia yang mereka miliki melalui berlari, donasi dan kerelawanan. Seiring pertumbuhan kami, semakin berag#PendidikanUntukSemua

69

am orang berpartisipasi. Tahun sebelumnya, turut berpartisipasi pula orang-orang dari seluruh Indoesia dan bahkan Filipina, Korea, Denmark dan Amerika. Mengapa harus NusantaRun? Kami percaya melalui NusantaRun, kami mempromosikan nilai membantu sesama di seluruh Indonesia #PowerOfContribution Kamu (Sebagai Social Foundation Partner) + Aku (Kelurga angkat Pelari) = Harapan Kami (Menyelesaikan isu sosial di Wonosobo hingga Gunung Kidul. Bagaimana NusantaRun dijalankan? Pelari akan melakukan penggalangan dana bersama keluarga dan teman-teman, lalu menempuh jarak yang dikomitmenkan pada donatur. NusantaRun memastikan bahwa dana yang terkumpul akan digunakan untuk melaksanakan tujuan mulia di Indonesia melalui Foundation yang terpilih. Foundation akan melakukan beragam program demi terwujudnya tujuan. Tujuan adanya kolaborasi antara Kampus Guru Cikal dan NusantaRun ialah : 1. Membantu sekolah menjadi tempat yang memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas 2. Menyiapkan guru pembimbing karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas 3. Mengembangkan komunitas guru belajar pendidikan inklusi sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas 4. Menyediakan program beasiswa pendidikan tinggi bagi anak penyandang disabilitas

70

Surat Kabar Guru Belajar 18

#PendidikanUntukSemua

71

TEMA

LITERASI UNTUK MENGGERAKKAN NEGERI JAKARTA, 25 - 27 Oktober 2019

72

Surat Kabar Guru Belajar 18

More Documents from "Lea"