Resume 13 ( Perbedaan Individu Dalam Belajar ).docx

  • Uploaded by: serli ahzari
  • 0
  • 0
  • June 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Resume 13 ( Perbedaan Individu Dalam Belajar ).docx as PDF for free.

More details

  • Words: 2,117
  • Pages: 11
TUGAS RESUME PSIKOLOGI PENDIDIKAN PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR

OLEH :

NAMA NIM PRODI DOSEN

: : : :

SERLI AHZARI 18033041 PENDIDIKAN FISIKA IFDIL, S.hi, S.Pd, M.Pd, Kons MUFADHAL BARSELI, S.Pd, M.Pd, Kons

UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2018

PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR

1. Gaya Belajar a. Pengertian Dikutip dari e-journal.com Deporter dan Hernacki (2011) menjelaskan bahwa gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang meyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Dikutip dari wawasanpendidikan.com Nasution menjelasakan bahwa gaya belajaradalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berfikir dan memecahkan soal. Dikutip dari wawasanpendidikan.com Adi W. Gunawan menjelasakan bahwa gaya belajar adalah cara yang lebih kita sukai dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan mengerti suatu informasi. Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah sebuah cara yang lebih sering kita gunakan (mempermudah) kita dalam menangkap informasi (pengetahuan), mengatur dan mengolah serta memecahkan masalah. Jadi pada dasarnya gaya belajar adalah cara yang khas, dimana gaya belajar satu individu dengan individu lainnya itu berbeda. Hal tersebut penting dipelajari oleh guru dan calon guru. b. Macam - macam Gaya Belajar

1) Visual (belajar dengan cara melihat) Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :          

Bicara agak cepat Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi Tidak mudah terganggu oleh keributan Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar Lebih suka membaca dari pada dibacakan Pembaca cepat dan tekun Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato Lebih suka musik dari pada seni Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual : 1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta. 2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting. 3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi. 4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video). 5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar. 2) Auditori (belajar dengan cara mendengar) Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset. Ciri-ciri gaya belajar auditori :        

Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri Penampilan rapi Mudah terganggu oleh keributan Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat Senang membaca dengan keras dan mendengarkan Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca Biasanya ia pembicara yang fasih Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

   

Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual Berbicara dalam irama yang terpola Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori : 1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga. 2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras. 3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak. 4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal. 5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur. 3) Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh) Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :           

Berbicara perlahan Penampilan rapi Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan Belajar melalui memanipulasi dan praktek Menghafal dengan cara berjalan dan melihat Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca Menyukai permainan yang menyibukkan Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan katakata yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik : 1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam. 2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil menggunakan gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru). 3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar. 4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan. 5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik. 2. Kepribadian dan Temperamen a. Kepribadian Kata kepribadian berasal dari bahasa inggris yaitu personality diambil dari bahasa Yunani yaitu proposan atau persona yang berarti topeng yang biasa dipakai dalam teather. Para pelaku theater bertingkah laku seperti topeng yang dipakainya, seolah topeng itu mewakili cirri kepribadiaannya. Jadi konsep awal pengertian kepribadian adalah tingkah laku yang ditampakkan di lingkungan sosial kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan (Suryabrata, 1998:28). Santrock (2010:158) menyatakan, kepribadian atau personalitas adalah pemikiran, emosi, dan perilaku tertentu yang menjadi cirri dari seseorang dalam menghadapi dunianya. Alfiani (dalam blogspot) mengutip pendapat Atkinson yang menyatakan kepribadian sebagai pola perilaku dan cara berpikir yang khas yang menentukan penyesuaian diri seorang terhadap lingkungan. Kepribadian seseorang dapat kita tinjau melalui dua model yaitu model big five dan model brigg-myers. 1)

Model Big Five Merupakan model yang diajukan oleh Lewis Goldberg. Yang terdiri dari model kepribadian lima dimensi. a) Extrovesion Orang tipe ini menikmati keberadaannya bersama orang lain, penuh energi, serta mengalami emosi positive. b) Agreeableness Merupakan individu yang penuh perhatian, bersahabat, dermawan, suka menolong, dan mau menyesuaikan keinginannya dengan orang lain. c) Conscientiousness Individu ini selalu menghindari kesalahan dan mencapai kesuksesan tingkat tinggi melalui perencanaan yang penuh tujuan dan gigih. d) Neoriticism (stabilitas emosional) Individu yang Neoriticism tinggi memiliki reaksi emosi negatif, sedangkan orang yang Neoriticism rendah cenderung tidak mudah

terganggu, kurang reaktif secara emosi, tenang, serta bebas dari emosi negative yang menetap. e) Openness to ekperience Individu ini cenderung terbuka secara intelektual, selalu ingin tahu, memiliki apresiasi terhadap seni serta sensitive terhadap kecantikan. 2)

Model Brigg-Myers Dikemukakan oleh Isabel Brigg Myers dan Katharine C. model ini meliputi empat dimensi yaitu: a) Extraversion (E) versus Introversion (I) Orang yang introvert menemukan tenaga didalam ide, konsep, dan abstraksi. Mereka selalu ingin memahami dunia dan meupakan pemikir reflektif serta konsentrator. Sementara orang yang extrovert, menemukan energy pada orang dan benda benda. Mereka memilih berinteraksi dengan orang lain dan berorientasi pada tindakan. b) Sensing (S) versus Intution (N) Orang sensing berorientasi pada detail, menginginkan fakta dan mempercayainya. Orang-orang yang intuitif mencari pola dan hbungan diantara fakta-fakta yang diperoleh. c) Thingking (T) vercus Feeling (F) Individu yang thingking menghargai kebebasan, mereka membuat keputusan dengan mempertimbangkan criteria objektif dan logika dari situasi. Individu yang Feeling menghargai harmoni, mereka memusatkan pada nilai-nilaidan kebutuhan-kebtuham kemanusiaan pada saat membuat keputusan atau penilaian. d) Judging (J) dan Perceptive (P) Orang yang judging cenderung tegas, penuh rencana, mengatur diri. Mereka fokus untuk menyelesaikan tugas hanya ingin mengetahui esensi, dan bertindak cepat. Orang-orang perceptive selalu ingin tahu, dapat menyesuaikan diri, dan spontan.

b. Temperamen Temperamen adalah gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan atau respons. Klasifikasi yang paling terkenal adalah klasifikasi oleh Alexander Chess dan Stella Thomas ( Chess & Thomas, 1997; Thomas & Chess, 19991). Mereka percaya bahwa ada tiga tipe atau jenis tempramen:  “Anak mudah” (easy child) biasanya memiliki mood positif, cepat membangun rutinitas, dan mudah beradaptasi dengan pengalaman baru.  “Anak sulit” (difficult child) cenderung bereaksi negatif, cenderung agresif, kurang kontrol diri, dan lamban dalam menerima pengalaman baru.

 “Anak lamban bersikap hangat” (slow-to-warm-up child) biasanya beraktivitas lamban, agak negatif, menunjukan kelambanan dalam beradaptasi, dan intensitas mood yang rendah. Dalam satu studi, remaja bertempramen sulit biasanya mudah tergoda oleh penyalahgunaan narkoba dan mudah stres (Tubman & Windle, 1995). Dalam studi lain, faktor temperamen yang diberi label”diluar kendali”(mudah tersinggung dan terganggu) yang diketahui ada pada usia 3 sampai 5 tahun ternyata ada hubungannya dengan problem perilaku yang muncul pada usia 13 sampai 15 tahun(Caspi, dkk., 1995). Klasifikasi tempramen sekarang ini lebih difokuskan pada; o Sikap dan pendekatan positif o Sikap negatif o Usaha kontrol (pengaturan diri). 3. Sosio - Ekonomi dan Budaya Budaya merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia, atau dapat juga didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya nilai-nilai dalam masyarakat memberitahu pada angotanya tentang apa yang baik dan atau penting dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam suatu norma-norma. Norma masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang muncul dari anggota masing-masing masyarakat berbeda satu dengan yang lainnya.Individu-individu yang status sosial ekonominya rendah, sering kali mempunyai tingkat pendidikan dan kekuatan yang rendah untuk mempengaruhi institusi masyarakat dan sumber ekonomi yang lebih sedikit. a.

Dampak budaya terhadap pembelajaran Setiap siswa berasal dari ruang lingkup budaya yang berbeda, hal ini jelas berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan. Banyak aspek budaya mempunyai andil bagi identitas dan konsep diri pelajaran dan mempengaruhi nilai, sikap dan harapan, hubungan sosial, penggunaan bahasa dan perilaku lain para pelajar. Hal ini mewajibkan lingkungan pendidikan agar mampu merangkum semua siswa dari berbagai budaya dan kebiasaan agar di didik secara efektif dan efisien.

b.

Pengaruh status sosial ekonomi terhadap pencapaian siswa Status sosio-ekonomi yang didasarkan pada penghasilan perkerjaan, pendidikan dan gengsi sosial sangat mempengaruhi sikap pelajar terhadap sekolah, pngetahuan, kesiapan beajar dan pencapaian akademis. Siswa yang berasal dari keluarga yang berpendidikan rendah mengalami tekanan yang mempunyai andil bagi praktik pengasuhan anak, pola komunikasi dan harapan yang rendah yang mungkin akan kurang menguntungkan anak-anak ketika mereka memasuko sekolah.

4. Pendekatan Pembelajaran Sesuai dengan Perbedaan Individu Pendekatan individual adalah suatu pendekatan yang melayani perbedaanperbedaan perorangan siswa sedemikian rupa sehingga dengan penerapan pendekatan individual memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar pemikiran dari pendekatan individual ini adanya perlakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa. Sebagai individu anak mempunyai kebutuhan dasar baik fisik maupun kebutuhan anak untuk diakui sebagai pribadi, kebutuhan untuk dihargai dan menghargai orang lain, kebutuhan rasa aman, dan juga sebagai makhluk sosial anak mempunyai kebutuhan untuk menyesuaikan dengan lingkungan baik dengan temannya ataupun dengan guru dan orang tuanya. Pembelajaran individual merupakan salah satu cara guru untuk membantu siswa belajar. Pendekatan individual akan melibatkan hubungan yang terbuka antar guru dan siswa, yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan bebas dalam belajar sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara guru dengan siswa dalam belajar. Untuk mencapai hal ini Djamarah (2005:165) menjelaskan guru harus melakukan hal berikut ini: 1. Mendengarkan secara empati dan menanggapi secara positif pikiran anak didik dan membuat hubungan saling percaya. 2. Membantu anak didik dengan pendekatan verbal dan nonverbal. 3. Membantu anak didik tampa harus mendominasi/mengambil alih tugas. 4. Menerima perasaan anak didik sebagaimana adanya atau menerima perbedaannya dengan penuh perhatian. 5. Menangani anak didik dengan member rasa aman, penuh pengertian, bantuan dan mungkin member beberapa alternative pemecahan.

Berikut ini beberapa cara pendekatan pembelajaran sesuai dengan gaya belajar individu (Hamalik, 2008:187). a.

Gaya Visual

1) 2) 3) 4) 5)

Gunakan materi visual seperti gambar-gambar, diagram dan peta Gunakan warna untuk memperjelas hal-hal penting Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi Gunakan multimedia Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

b.

Gaya Auditori

1) 2) 3) 4) 5)

Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras. Gunakan musik Diskusikan ide dengan anak secara verbal Biarkan anak merekam materi

c.

Gaya Kinestik

1) 2) 3) 4) 5)

Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya Izinkan anak untuk mengunyah permenkaret pada saat belajar Gunakan warna terang untuk memperjelas hal-hal penting dalam bacaan Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta. Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara. Santrock, John W. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana. Suryabrata, Sumadi. 1998. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. http://www.e-jurnal.com/2013/09/pengertian-gaya-belajar.html diakses pada tanggal 24 November 2018, pukul 20 : 45. http://minartirahayu.blogspot.co.id/2013/03/pengertian-gaya-belajar-berbagai macam.html diakses pada tanggal 24 November 2018, pukul 20 : 50. http://www.wawasanpendidikan.com/2014/09/Pengertian-Gaya-Belajar-Siswa-MenurutAhli.html diakses pada tanggal 24 November 2018, pukul 20 : 57.

PERTANYAAN

1. Apakah seseorang yang belajar sehari sebelum ujian bisa dikatakan cara belajarnya adalah dengan gaya visual ? 2. Apakah semua orang memiliki ke tiga gaya belajar tersebut ? atau hanya salah satunya saja yang dominan ? jelaskan ! 3. Bagaimana seorang pendidik mengatasi sikap temperamen atau emosi yang berlebihan pada peserta didiknya ?

Related Documents


More Documents from ""