1 PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS X-1 SMA N 1 SELAT DALAM PEMBELAJARAN KEANEKARAGAMAN HAYATI MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA POHON DIKOTOMI BERBASIS GROUP INVESTIGATION (GI) (* I Nengah Suartha, S.Pd)
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Metode mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergatung pada cara mengajar gurunya dan fasilitas yang digunakan pada proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu fasilitas yang digunakan pada proses belajar mengajar biologi adalah berupa alat peraga/media yang nantinya dapat membantu siswa dalam memahami apa yang dijelaskan guru secara langsung. Berdasarkan visi dan misi Pendidikan Nasional yang terdapat dalam Undang- undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, visi Pendidikan Nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa. Untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah. Sedangkan Misi Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut. (1) Meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing ditingkat nasional, regional dan internasional, (2) Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan pribadi yang bermoral. Terkait dengan visi dan misi pendidikan nasional tersebut, maka dituntut beberapa informasi di bidang pendidikan nasioanal tersebut diantarnya, (1) penyelenggaraan pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
2 pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, (2) perubahan pandangan tentang peran manusia sebagai sumber daya pembangunan, menjadi paradigma manusia sebagai subyek pembangunan secara utuh, sehingga dalam hal ini dituntut pendidik harus mampu membentuk manusia seutuhnya yang memiliki karakteristik personal yang memahami dinamika psikososial dan lingkungan kulturnya, (3) adanya pandangan terhadap kebenaran peserta didik yang terintegrasi dalam lingkungan sosial kulturnya dan pada gilirannya akan menumbuhkan individu sebagai pribadi dan anggota masyarakat mandiri yang berbudaya, (4) diperlukan suatu acuan dasar oleh setiap penyelenggara dan satuan pendidikan agar tercipta proses pembelajaran yang demokratis dan mendidik. “Motivasi mendorong kreativitas, dialogis, tersedianya sarana dan prasarana belajar yang memungkinkan berkembangnya potensi peserta didik secara optimal.” (Depdiknas, 2005:72- 75). Menurut pendapat para ahli menyatakan bahwa peranan alat peraga dalam pembelajaran biologi adalah untuk meletakkan ide-ide konsep dasar. Dengan bantuan alat peraga yang sesuai, siswa dapat memahami ide-ide konsep dasar yang melandasi sebuah konsep. Disamping itu dapat membangkitkan motivasi, serta ikut terlibat dalam proses belajar secara aktif, sehingga akan tumbuh minat belajar terhadap biologi pada umumnya, juga bermanfaat serta berfungsi secara efektif untuk menarik suatu kesimpulan abstrak dari hal yang konkrit (Suherman, 1993:272). Pengalaman di lapangan yang pernah dialami penulis di SMA N 1 Selat kelas X-1, pada waktu mengikuti pelajaran biologi siswa merasa bahwa pelajaran biologi sangat sulit karena siswa kurang memahami penjelasan guru yang hanya menggunakan kata- kata/ceramah. Jadi penulis disini ingin memberikan suasana baru yang nantinya dapat membantu dalam proses pembelajaran biologi dengan mencoba menggunakan alat peraga sebagai media untuk lebih mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran yang dijelaskan. Didalam penggunaan alat peraga ini siswa akan dituntut aktif didalam berpikir dan memecahkan materi yang dijelaskan dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan. Alat peraga yang digunakan bisa dibuat dengan berbagai bentuk dan warna agar bisa
3 menarik dan menghibur siswa supaya mereka tidak merasa tegang dan menganggap bahwa pelajaran biologi itu sulit dan membosankan, dengan demikian siswa akan lebih mudah memahami secara mendalam tentang materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru dan nantinya bisa mereka terapkan di lapangan atau dikehidupn sehari-hari. Berdasarkan uraian diatas penulis ingin menggunakan alat peraga di dalam penelitian untuk membantu siswa belajar biologi agar dapat meningkatkan keaktivan dan prestasi belajar biologi siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat, maka dilakukan upaya perbaikan melalui tindakan yang terencana dan sistematis yang dikemas dalam penelitian tindakan kelas (PTK).
1.2 Rumusan Masalah Dengan memahami latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Sejauh mana peningkatan aktivitas belajar siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat dalam pembelajaran keanekaragaman hayati melalui bantuan alat peraga pohon dikotomi berbasis Group Investigation (GI)? 2. Seberapa besar peningkatan prestasi belajar siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat dalam pembelajaran keanekaragaman hayati melalui bantuan alat peraga pohon dikotomi berbasis Group Investigation (GI)?
1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui sejauh mana peningkatan aktivitas belajar siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat dalam pembelajaran keanekaragaman hayati dengan bantuan alat peraga pohon dikotomi berbasis Group Investigation (GI). 2. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan prestasi belajar siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat dalam pembelajaran keanekaragaman hayati dengan bantuan alat peraga pohon dikotomi berbasis Group Investigation (GI).
1.4 Manfaat Penelitian
4 Apabila dalam penelitian ini terbukti penggunaan alat peraga dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar biologi siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat tahun pelajaran 2008/2009, maka dapat diambil manfaat praktis sebagai berikut. 1. Bagi Siswa, Dapat meningkatkan prestasi belajar biologi siswa karena keaktivan siswa juga meningkat. 2. Bagi Guru, Dapat memberikan masukan bagi guru tentang alternatif pembelajaran yang lebih baik, sehingga diperoleh suatu keberhasilan proses pembelajaran. Dan dapat dipakai sebagai masukan dalam menentukan kebijakan lebih lanjut yang berhubungan dengan pembelajaran. 3. Bagi Sekolah, Dapat mengangkat nama sekolah, karena prestasi belajar siswa meningkat akibat pengunaan alat peraga.
1.5 Penjelasan Istilah Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran dan beda persepsi terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka peneliti perlu menjelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan Aktivitas Menurut Poerwadarminta (1976:1078) meningkatkan adalah menaikan, mempertinggi dan memperhebat. “Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani.” (Utami Munandar 1985:45). Sementara menurut tim penyusun kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga (2001:23) meningkatkan aktivitas adalah cara meningkatkan keaktivan dari suatu kegiatan yang dilaksanakan. Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan meningkatkan aktivitas dalam penelitian ini adalah segala cara yang digunakan untuk meningkatan keaktifan dari suatu kegiatan baik jasmani maupun rohani.
5 2. Prestasi Belajar “Prestasi adalah hasil yang dicapai.” (Sastrapaja dalam Putra, 2006:3). Sementara menurut Negoro (dalam Putra, 2006:4) menyatakan bahwa Prestasi adalah segala sesuatu yang menunjukkan kecakapan seseorang. Dan menurut pendapat (Nurkancana, 1981:2) menyatakan bahwa Prestasi adalah hasil yang dicapai setelah individu tersebut melakukan suatu kegiatan dan prestasi kecakapan yang nyata. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa prestasi itu memiliki arti yaitu suatu pencapaian hasil yang maksimal dari suatu kegiatan yang dilakukan. Sedangkan “Belajar adalah suatu proses aktif dalam memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru, sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.” (Hudoyo, 1988:107). “Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran yang biasanya ditunjukkan dengan nilai tes atau skor yang diberikan oleh guru.” (Tim Penyusun Kamus Besar Indonesia edisi ketiga, 2000:895). Jadi sesuai dengan uraian diatas, yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam penelitian ini adalah suatu hasil yang dicapai siswa setelah mengalami suatu perubahan dalam penguasaan pengetahuan dan keterampilan karena pengalaman, dimana hasil yang dicapai berupa nilai atau skor yang diperoleh melalui proses belajar mengajar. 3. Alat Peraga Biologi “Alat peraga adalah alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep biologi.” (Ruseffendi dalam Sriarti, 2006:5). Alat peraga dalam penelitian ini adalah alat peraga untuk menjelaskan tentang keanekaragaman hayati. Alat peraga disini bisa berupa benda-benda yang memiliki bentuk dan bisa dibuat dari berbagai bahan seperti: triplek, karton dan kertas. Dalam penelitian ini alat peraga yang digunakan adalah model pohon dikotomi. 4. Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Model pembelajaran group investigation (GI) merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil, siswa bekerja menggunakan inquiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok,
6 serta mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas (Nur & Wikandari, 2000:30)
7 BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Belajar Dalam hal ini banyak ahli yang mengemukakan tentang arti dari belajar. Masing-masing pendapat memiliki ciri khas dan latar belakang tersendiri menurut pandangan maupun teori yang dianut oleh ahli tersebut diantaranya, “belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan.” (Hamalik, 1994:27).Sementara menurut pendapat ahli lain, “Belajar berarti suatu proses perubahan tingkah laku akibat interaksi individu dengan lingkungan.” (Ali, 1992:14). Dari kedua pendapat itu ternyata memiliki kesamaan pandangan yakni sama-sama memasukan bahwa pengertian belajar meliputi tiga unsur pokok yaitu (1) belajar itu merupakan suatu proses, (2) belajar itu ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri si pelajar, (3) belajar akan terjadi bila terjadinya interaksi atau hubungan dengan lingkungan. Selain pendapat di atas masih ada pendapat lain tentang belajar, diantaranya “Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai hasil pengaruh dari lingkungan.” (Robinson, 1998:9). Pendapat ini menekankan pada empat unsur yaitu (1) belajar sebagai suatu proses, (2) adanya perubahan tingkah laku, (3) relatif permanen, dan (4) pengaruh lingkungan.Lain halnya dengan pendapat ini “Belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya intraksi antara individu dan individu dengan lingkunganya.”(Bruton dalam Usman, 1990:2). Pendapat ini menekankan perubahan tingkah laku individu dipengaruhi oleh dua intetaksi yaitu dengan individu dan dengan lingkunganya. Intraksi yang terjadi dapat bersifat tunggal (individu) maupun kolektif, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Dengan mencermati beberapa pendapat tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang relatif permanen akibat interaksi dengan lingkungan. Dengan demikian dalam belajar ditandi dengan perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor,
8 serta segala bentuk perubahan tingkah laku yang diakibatkan oleh perubahan proses kematangan.
2.2 Keaktivan Belajar 1. Pengertian keaktivan belajar Menurut Tim Didaktik metodik Kurikulum IKIP Surabaya (1987:25) “Keaktivan belajar adalah terlibatnya unsur jasmani maupun rohani siswa dalam proses pembelajaran.” Keaktivan jasmani adalah kegiatan jasmani maupun rohani yang nampak bila siswa sibuk bekerja, seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi model, berkebun dan lain-lain. Sedangkan keaktivan rohani adalah kegiatan yang nampak bila siswa mengamati dengan teliti, mengingat, memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan. Pernyatan ini menekankan pada terlibatnya unsur jasmani maupun unsur rohani siswa. “Keaktivan belajar adalah terlibatnya potensi belajar siswa (kognitif, afektif, dan psikomotor) sehingga timbul minat, gairah, dan semangat untuk terlibat dalam proses pembelajaran dan bahkan memiliki rasa keinginan belajar mandiri.”(Budimansyah dan Djahiri, 1996:14-15). “Keaktivan belajar adalah terlibatnya siswa secara aktif unsur fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara domain kognitif, efektif, dan psikomotor.”(Rusyan dan Hamijaya, 1992:7). “Keaktivan belajar menunjukan pada keaktifan mental, meskipun menurutnya dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk keaktivan fisik.” (Joni dalam Rusian, 1992:16). Pendapat ini menekankan pada terlibatnya mental siswa secara optimal. Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan, maka keaktivan belajar adalah terlibatnya secara optimal semua potensi belajar siswa, baik fisik, mental emosional dan intelektualnya, sehingga menimbulkan gairah, minat, dan semangat siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
2. Ciri-ciri keaktivan belajar
9 Terdapat beberapa pendapat tentang ciri-ciri keaktivan belajar. Hal ini disebabkan karena perbedaan sudut pandang mengenai belajar. “Proses belajar yang aktif ditandai dengan berdialognya ketiga potensi dari siswa (kognitif, afektif, dan psikimotor).” (Djahiri dan Budimansyah, 1996:14). Menurutnya, keaktivan secara kognitif ditandai dengan adanya nalar berjalan, keaktivan secara afektif dengan daya cipta dan penghayatan bergerak, serta keaktivan psikomotor ditandai dengan keterampilan teknis bereaksi (walaupun mungkin secara imajinasi). Menurut pendapat ahli lain mengemukakan bahwa ada empat ciri keaktivan belajar yaitu: (1) keinginan dan keberanian dalam menampilkan permasalahan, (2) keinginan, keberanian serta kesempatan untuk berpartisipsi dalam kegiatan, baik pada persiapan, proses, dan kelanjutan belajar, (3) penampilan berbagai usaha dan kreativitas belajar, dalam menjalani dan menyelesaikan belajar sampai mencapai keberhasilan, dan (4) kebebasan dan keleluasaan melakukan hal tersebut di atas, tanpa tekanan guru atau pihak lain.(Joni dalam Rusyan dan Hamijaya, 1992:19) Pernyataan ini menyatakan keaktivan belajar banyak nampak pada proses belajar, yakni pada proses pembelajaran, siswa bukan hanya sebagai obyek, tetapi sebagai subyek belajar seperti halnya adanya prakarsa, kreaktivitas, keberanian dan kebebasan belajar. Menurut ahli lain mengemukkan bahwa ada beberapa indikator yang menunjukkan terdapatnya iklim belajar yang aktif, yakni: (1) adanya prakarsa siswa dalam kegiatan pembelajar, yang ditunjukkan melalui keberanian mengemukakan pendapat,usul dan saran didalam penetapan tujuan dan cara kegiatan belajar yang dilaksanakan serta kesediaan mencari alat atau sumber belajar, (2) adanya keterlibatan mental siswa dalam kegiatan belajar yang tengah berlangsung, yang ditunjukkan dengan pengingatan diri kepada tugas secara intelektual maupuan emosional, komitmen untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan tuntas, terkadang siswa menghasilkan dan berbuat lebih dari pada yang diharapkan, baik secara kuantitas maupun kualitas, (3) adanya variasi bentuk dan alat kegiatan pembelajaran, sebagai upaya mencapai tujuan yang bervariasi, dari tujuan intruksional sampai efek pengiring disamping karena perbedaan individu siswa, dan (4) tingginya kualitas interaksi belajar antar siswa baik secara
10 intelektual maupun emosional, yang berkaitan dengan kemauan dan kemampuan bekerjasama dan dalam memecahkan masalah. Pendapat ini menekankan ciri keaktivan belajar selain ditunjukkan pada proses belajar dan hasil belajar, seperti ketuntasan menyelesaikan tugas dan kemungkinan menghasilkan tugas yang lebih dari yang diharapkan. Serta keaktivan belajar dicirikan dengan digunakannya variasi bentuk dan alat pelajaran untuk mencapai tujuan intruksional maupun tujuan pengiring. Dengan mencermati beberapa pendapat di atas, maka keaktivan belajar siswa dalam proses pembelajaran ditunjukkan dengan terlibatnya semua potensi belajar siswa baik kognitif, afektif, dan psikomotor secara optimal, yang dapat dilihat dari interaksi siswa dalam proses pembelajaran. Keaktivan dalam belajar dicirikan dari tingkah laku yang tampak serta dapat diamati dari gejala-gejala yang ditimbulkannya, serta kecendrungan prilaku yang dapat dikenali dari tingkah lakunya. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan keaktivan belajar adalah ditandai dengan: (1) kemampuan mengemukakan pendapat/menjawab pertanyaan, (2) kemampuan mengajukan pertanyan/permasalahan,
(3) kemauan dan
kemampuan bekerja sama dengan teman, (4) menampakkan perhatian/konsentrasi selama
pembelajaran,
(5)
menampakkan
kesungguhan/keantosiasan
menyelesaikan tugas.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktivan Belajar Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keaktivan belajar siswa. “Proses belajar mengajar akan menarik dan merangsang ingin tahu serta para peserta didik ingin mencoba, jika proses belajar mengajar tersebut dilengkapi dengan alat peraga, sehingga mengaktifkan belajar peserta didik.” (Rusyan, 1993:5). Pendapat ini memandang bahwa faktor penggunaan alat peraga dalam pembelajaran berpengaruh terhadap keaktivan belajar siswa. Artinya penggunaan alat peraga akan menarik minat dan merangsang rasa ingin tahu siswa. Sementara menurut pendapat ahli lain mengatakan bahwa “Sistem pengajaran dua arah atau lebih dan sistem pengajaran multi arah menyebabkan siswa mendapat kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan
11 memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinisiatif semaksimal mungkin.” (Robinson, 1998:23). Pendapat ini menekankan pada pembelajaran yang multi arah atau multi interaksi dan penggunaan alat peraga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keaktivan belajar siswa.” Variasi alat peraga atau media sumber belajar akan menentukan corak dan kadar proses pembelajaran. Terlaksana tidaknya asas siswa belajar aktif juga tergantung pada variasi alat peraga yang digunakan.” (Budimansyah dan Djahiri, 1996:14). Pendapat ini menekankan pada variasi penggunaan alat peraga atau media belajar dapat menentukan corak dan kadar proses pembelajaran. Artinya variasi penggunaan alat peraga atau media belajar merupakan faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Mencermati beberapa pendapat yang telah dikemukakan, maka dapat dikatakan bahwa penggunaan alat peraga yang sesuai dengan materi serta tingkat perkembangan siswa, dapat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Artinya penggunaan alat peraga atau media belajar dapat mengoptimalkan keikutsertaan seluruh minat siswa sehingga dapat meningkat aktivitas belajar. 2.3 Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi belajar Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa “ prestasi adalah suatu kemampuan untuk melakukan sesuatu secara permanen.” (Ali, 1992:14). Pengertian ini menekankan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan yang permanen yang dapat diulang-ulang. “Prestasi belajar adalah merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi tertentu.” (Nawawi, 1981). Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “Prestasi belajar adalah berupa pengetahuan, keterampilan fisik, mental dan sosial, serta sikap dan nilai yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar.” (Depdikbud, 1994:25). Pendapat ini menekankan tiga ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah kemampuan yang berupa kognitif, afektif, dan psikomotor
12 yang dapat dilihat dari penampilan maupun kecendrungan prilaku yang diperoleh setelah melakuakan kegiatan belajar.
2.Ciri-ciri Prestasi belajar Setelah melakukan kegiatan belajar, siswa memperoleh suatu kemampuan. Kemampuan yang diperoleh tersebut dapat diketahui dari ciri-cirinya. Banyak ahli yang mengemukakan pendapat tentang ciri-ciri dari prestasi belajar menurut sudut pandangan dan landasan teori masing- masing seperti pendapat berikut ini, yang mengemukakan bahwa “tingkah laku itu merupakan prestasi belajar, apabila (1) tingkah laku itu sebagai hasil pengaruh dari lingkungan, (2) tingkah laku itu bersifat relatif.” (Robinson, 1998:14). Sedangkan ada pendapat lain mengatakan bahwa ciri suatu tingkah laku adalah sebagai prestasi belajar yaitu (1) relatif permanen, (2) akibat interaksi dengan lingkungan yang dilakukan dengan sengaja, (3) bukan karena proses kematangan, (4) tingkah laku tersebut dapat diulang-ulang dengan hasil yang sama (Ali, 1992:14). Pendapat Robinson mempunyai sedikit perbedaan dengan pendapat Muhamad Ali. Robinson menekankan bahwa prestasi belajar disyaratkan dua ciri. Sedangkan Muhamad Ali menambahkan dengan (1) tingkah laku karena kematangan bukan merupakan hasil belajar, (2) tingkah laku itu dapat disebut hasil belajar apabila diperoleh setelah si pelajar (siswa) melakukan interaksi yang sengaja dengan lingkungan. Menurut pendapat lain mengatakan “ciri-ciri prestasi belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.” (Hamalik, 1994:27-28). Tingkah laku yang dimaksud meliputi segi jasmani (struktural) dan segi rohani (fungsional), yang keduanya saling berinteraksi satu sama lain. Tingkah laku tersebut juga bukan hanya merupakan pengetahuan, tetapi juga sebagai aspek keterampilan, kebiasaan, emosi, budi pekerti, apresiasi, jasmani dan hubungan sosial. Ciri prestasi belajar menurut pendapat ini menekankan perubahan tingkah laku dari segi struktural dan fungsional.
13 Dari beberapa pendapat di atas masih ada pendapat lain yang mengatakan bahwa “ciri proses belajar yang berhasil adalah adanya perubahan prilaku yang menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan serta dalam proses belajar siswa memiliki semangat dan percaya diri.”(Rusyan, 1993:12-13). Pendapat ini selain menekankan pada hasil, juga pada proses belajar. Dengan mencermati beberapa pendapat tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa ciri prestasi belajar adalah adanya tingkah laku yang dapat domain pengetahuan, sikap atau keterampilan yang relatif permanen, dapat diulang-ulang dengan hasil yang relatif sama, hasil interaksi secara sengaja dengan lingkungan dan bukan karena proses kematangan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah (1) kesiapan (Readiness) yaitu kapasiti, baik fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu, (2) motivasi, yaitu dorongan dari dalam diri untuk melakukan sesuatu, dan (3) tujuan yang ingin dicapai (Ali, 1992:15). Sedangkan
pendapat
lain
mengatakan
bahwa
faktor-faktor
yang
mempengaruhi proses dan prestasi belajar antara lain (1) bahan atau hal yang dipelajari, (2) lingkungan, meliputi lingkungan yang ditimbulkan karena adanya interaksi antar manusia, (3) instrumen, perpustakaan dan berbagai perangkat media lainnya. Sedangkan yang berupa perangkat lunak seperti kurikulum, paket belajar, dan modul, (4) kondisi belajar yang meliputi kondisi fisik dan psikologis seperti kecerdasan, perasaan, perhatian, kemauan, bakat, minat dan motivasi (Ibrahim, dkk, 1992:41-43). Pendapat Ibrahim ini menekankan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh instrumen yang meliputi beberapa perangkat media (alat peraga) yang digunakan dalam proses pembelajaran serta pengaruh interaksi antar manusia (siswa) di dalam kelas. Selain pendapat di atas ada pendapat lain yang mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran biologi perlu strategi yang dapat mengaktifkan siswa untuk belajar. Strategi ini bertumpu pada (1) optimalisasi interaksi antara semua elemen pembelajaran (guru, siswa, media/alat peraga), (2) optimalisasi
14 keikutsertaan seluruh siswa (panca indra, nalar, rasa, karsa) (Putra dan Siti M. dalam Sriarti, 2006:11) Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa salah satu yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran.
2.4 Alat Peraga Biologi 1. Pengertian Alat Peraga “Alat peraga adalah alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep biologi.” (Ruseffendi, 1994:144). Terdapat perbedaan antara alat peraga biologi, alat biologi, dan alat pembelajaran biologi. Alat biologi adalah alat yang berfungsi untuk mengamati dan mengukur seperti
mikroskop,
open,
mikrometer
dan
sebagainya.
Sedangkan
alat
pembelajaran biologi berupa kapur tulis, papan tulis, kertas, proyektor, dan komputer. Alat peraga untuk menerangkan konsep biologi itu dapat berupa benda nyata, awetan, gambar atau diagram.
2. Fungsi dan Manfaat Alat peraga Ada beberapa fungsi atau manfaat dari penggunaan alat peraga dalam pelajaran biologi. Fungsi atau manfaat dari alat peraga biologi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) dengan alat peraga, anak-anak akan lebih banyak mengikuti pelajaran biologi dengan gembira, sehingga minatnya semakin besar, anak akan senang, terangsang, tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran biologi, (2) dengan disajikannya konsep abstrak biologi dalam bentuk konkrit, maka siswa pada tingkat-tingkat yang rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti, (3) alat peraga membantu daya titik ruang, sehingga dengan melalui gambar dan benda-benda akan terbantu daya titiknya sehingga lebih berhasil dalam belajar, (4) anak akan menyadari adanya hubungan antara pelajaran dengan benda-benda yang ada disekitarnya dan masyarakat, dan (5) konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk
15 model biologi dapat pula dijadikan obyek penelitian dan dapat pula dijadikan alat untuk penelitian ide-ide dan relasi-relasi baru. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa selain dari fungsi dan manfaat alat peraga dalam pembelajaran biologi dapat pula dikaitkan dan dihubungkan dengan salah satu atau beberapa tujuan berikut. (1) Pembentukan konsep, (2) Pemahaman konsep, (3) Latihan dan penguatan, (4) Melayani perbedaan individu, termasuk anak-anak yang lemah dan yang berbakat, (5) Pengukuran, alat peraga dapat dipakai sebagai alat ukur, (6) Pengamatan dan penemuan sendiri, alat peraga sebagai obyek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti, (7) Pemecahan masalah, (8) Mengundang berpikir, (9) Mengundang untuk berdiskusi, dan (10) Mengundang berpartisipasi aktif (Ruseffendi, 1994:140). Menurut ahli lain mengemukakan bahwa siswa perlu diberikan ragam benda konkrit sebagai model konkrit dari konsep biologi yang sedang dipelajari (Dienes dalam Ruseffendi, 1994:144). Dienes mengemukakan beberapa alasan sehubungan dengan pemakaian alat peraga dalam pembelajaran biologi yang perlu mendapat
perhatian
diantaranya:
(1)
peragaannya
hendaknya
dengan
menggunakan berbagai contoh supaya penghayatan siswa lebih besar Sedangkan ahli lain mengemukakan bahwa belajar aktif, dalam lingkungan yang kaya dan menggunakan benda-benda konkret untuk siswa sangat penting (Brunner dalam Ruseffendi, 1994:144). Dengan mencermati pendapat-pendapat tersebut, maka diketahui bahwa penggunaan alat peraga sangat penting dalam pembelajaran biologi guna meningkatkan aktifitas belajar siswa serta tercapai prestasi belajar yang diharapkan.
3. Pembuatan dan Penggunaan Alat Peraga Biologi Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan alat peraga biologi yang sederhana diantaranya: (1) dibuat dari bahan-bahan yang cukup kuat supaya tahan lama. (2) diusahakan bentuk dan warnanya menarik, (3) dibuat secara sederhana, mudah dikelola dan tidak rumit, (4) ukuran dibuat sedemikian rupa, sehingga seimbang dengan ukuran fisik siswa, (5) dapat menyajikan konsep
16 biologi (bentuk nyata, gambar, diagram), (6) sesuai dengan konsep, (7) peragaan itu sebagai upaya dasar untuk timbulnya konsep abstrak, (8) bila diharapkan siswa belajar aktif (sendiri atau kelompok) alat peraga itu supaya dapat dimanipulasikan, yaitu dikutak-katik seperti diraba, dipegang, dipindah, dipasang dan dibongkar, dan
(9) bila memungkinkan buatlah alat peraga yang berfungsi banyak.
(Ruseffendi, 1994:142). Dengan memperhatikan syarat-syarat pembuatan alat peraga, selanjutnya Ruseffendi mengemukakan penggunaan alat peraga dikatakan gagal apabila: (1) generalisasi konsep abstrak dari pemakaian alat peraga tidak tercapai, (2) jika pemakaian alat peraga itu hanya sekedar sajian belaka tidak memiliki nilai-nilai biologi, (3) penyajian alat peraga itu tidak pada waktunya yang tepat, (4) jika pemakaian alat peraga itu terlalu banyak pemborosan waktu, (5) diberikan kepada siswa yang tidak memerlukan alat peraga, terlalu diada-adakan, dan (6) penyajian alat peraga itu tidak menarik dan rumit. Pendapat ini menuntut kecermatan dan ketelitian membuat, menetapkan dan menggunakan alat peraga biologi dalam pembelajaran biologi. Dalam penelitian ini alat peraga biologi yang digunakan adalah model pohon dikotomi yang bahannya dibuat dari barang bekas. 2.5 Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Model pembelajaran group investigation (GI) merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil, siswa bekerja menggunakan inquiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, serta mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas (Nur & Wikandari, 2000:30) Ide model pembelajaran group investigation (GI) bermula dari persepektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education” (Arends, dalam Santyasa, 2004b: 74-75). Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan
17 (Jacob, et al., dalam Santyasa, 2005:14), adalah: (1) siswa hendaknya aktif, learning by doing; (2) belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik; (3) pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap; (4) kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa; (5) pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting; (6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata. Dewey (dalam Santyasa, 2004b:75) menganjurkan agar dalam lingkungan belajar guru menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokratis dan proses ilmiah. Tanggung jawab utama para guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran. Dalam penerapan group investigation (GI) guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 4 sampai 5 siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Sintak dari model group investigation terdiri dari 6 tahap yaitu; pengelompokkan (grouping), perencanaan (planning),
penyelidikan
(investigating),
pengorganisasian
(organizing),
mempresentasikan (presenting), pengevaluasian (evaluating). Tahapan-tahapan secara detail adalah sebagai berikut (Slavin, 1995:113-114). 1) Pengelompokan
(Grouping),
yaitu tahap
mengidentifikasi topik
dan
mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok investigasi. Kegiatan siswa dan guru pada tahap ini adalah sebagai berikut a) Siswa mengamati sumber, memilih topik, dan memutuskan kategorikategori topik permasalahan. b) Siswa bergabung dalam kelompok untuk mempelajari topik yang mereka pilih. c) Guru membantu dalam mengumpulkan data dan mengatur pembentukan kelompok. 2) Perencanaan (Planning), yaitu tahap pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini, seluruh siswa bersama-sama merencanakan tentang:
18 a) apa yang akan mereka pelajari? b) bagaimana mereka belajar? c) bagaimana pembagian tugas dalam kelompok? d) untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut? 3) Penyelidikan (investigating), yaitu tahap pelaksanaan penyelidikan. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut. a) Siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan terkait dengan permasalahan yang diselidiki. b) Masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok. c) Siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mempersatukan ide dan pendapat. 4) Pengorganisasian (Organizing), yaitu tahap persiapan laporan. Pada tahap ini, kegiatan siswa adalah sebagai berikut. a) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proyeknya masing-masing. b) Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana cara mempresentasikannya. c) Wakil dari masing-masing kelompok membentuk perencanaan panitia diskusi kelas (menentukan siswa yang sebagai pemimpin, moderator, dan notulis) dalam presentasi hasil investigasi. 5) Presentasi (Presenting), yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan belajar di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut. a) Penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian. b) Kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar (audiens). c) Pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi, dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan.
19 6) Evaluasi (Evaluating), yaitu penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru dan siswa dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. a) Siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya. b) Guru dan siswa berkolaborasi mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. c) Penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa. Sistem sosial yang dikembangkan pada pembelajaran group investigation (GI) adalah minimnya arahan guru, demokratis, guru dan siswa memiliki status yang sama yaitu menghadapi masalah, interaksi dilandasi oleh kesepakatan. Peran guru adalah sebagai konselor, konsultan, dan sumber kritik yang konstruktif.
20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, salah satu ciri penelitian kualitatif adalah bahwa penelitian ini mempunyai latar alami (natural setting). Peneliti didalam melakukan penelitian berusaha tetap menjaga konteks dan keutuhan kelas, serta meminimalkan pengaruh terhadap kelas (Bogdan dalam Putra, 2003:49). Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), penelitian dengan tindakan untuk mengadakan perubahan-perubahan sehingga menjadi lebih baik (Dimyanti, 2000:175). Salah satu karakteristik dari penelitian tindakan kelas adalah bersifat self-evaluatif yaitu kegiatan modifikasi praksis yang dilakukan secara terus menerus (Depdikbud. Dirgen Dikdasmen, 1999:8). Peneliti belajar dari pengalaman selama perubahan sehingga diperoleh suatu model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan kondisi kelas yang ada. Jadi secara garis besarnya penelitian ini dilakukan oleh peneliti sendiri dengan dibantu oleh guru serumpun (biologi) melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki kinerja sehingga prestasi belajar siswa bisa lebih meningkat. Dalam penelitian ini guru dianggap paling tepat melakukan penelitian ini karena: (1) guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya, (2) guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya, (3) interaksi guru dengan siswa berlangsung secara unik, dan (4) keterlibatan guru dengan berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru mampu melakukan penelitian di kelasnya. Dalam penelitian ini masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi (kemmis dan Taggart, 1988). Masing-masing tahap dijelaskan sebagai berikut. (1) Rencana: Tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar biologi siswa. (2) Tindakan: Tindakan yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang
21 diinginkan (3) Observasi: Mengamati dan mengevaluasi atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan atau dikenakan terhadap siswa dan (4) Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan, dari berbagai kriteria. Berdasarkan hasil refleksi ini peneliti dapat melakukan revisi atau perbaikan terhadap rencana awal. Adapun pelaksanaan penelitian dalam dua siklus tersebut dapat divisualisasikan dengan gambar berikut. Refleksi Awal Rencana Awal Refleksi
SIKLUS I
Tindakan dan Observasi/Evaluasi Rencana Refleksi
SIKLUS II
Tindakan dan Observasi/Evaluasi Dst… Gambar 3: PTK Model Kemmis & Taggart
3.2 Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 Selat Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.
3.4 Subyek Penelitian Dalam penelitian ini melibatkan siswa kelas X-1 sebagai subyek penelitian yang terdiri dari 40 orang siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2008/2009.
3.5 Metode dan Alat Pengumpul Data
22 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah. 1. Teknik observasi, format observasi berbentuk daftar cek yang memuat 5 indikator
diantaranya:
pendapat/menjawab
(a)
pertanyaan,
kemampuan (b)
mengungkapkan
kemampuan
mengajukan
pertanyaan/permasalahan, (c) kemauan dan kemampuan bekerja sama antar
teman,
pembelajaran,
(d) dan
menampakkan (e)
perhatian/konsentrasi
menampakkan
selama
kesungguhan/keantusiasan
menyelesaikan tugas. Satu deskriptor skor tertingginya adalah (5) jika siswa menampakkan sangat aktif dan diberikan skor terendah (1) jika siswa menampakkan sangat kurang aktif. 2. Metode tes, tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa, bentuk tes yang digunakan adalah tes uraian dan tes tersebut dilaksanakan pada tiap-tiap akhir suatu siklus.
3.6 Pengecakan Keabsahan Data
Untuk mengecek keabsahan data dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi dengan rekan serumpun. “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan pengecekan atau sebagai penbanding terhadap data itu sehingga data yang diperoleh adalah reperentatif.” (Moleong dalam Putra, 2003:55). Teknik
pemeriksaan
sejawat
melalui
diskusi
dilakukan
dengan
cara
mengumpulkan hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan serumpun. Hal ini dilakukan dalam upaya mendapatkan data dengan derajat kepercayaan yang diharapkan.
3.7 Metode Analisis Data Setelah data terkumpul kemudian dilakukan analisis untuk dikaji lebih jauh untuk mengetahui dampak dari tindakan yang telah dilakukan pada masingmasing siklus. Hasil analisis data siklus I dijadikan dasar melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus I. Sedangkan hasil
23 analisis data siklus II dijadikan dasar melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan siklus II. Analisis terakhir dilakukan pada akhir seluruh siklus untuk mengkaji data dalam hubungannya dengan hasil atau kesimpulan dalam penelitian Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif. “Analisis data
statistik deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang
dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus statistik deskriptif seperti distribusi frekuensi, grafik, angka rata-rata, median, modus, dan standar deviasi untuk ini menggambarkan suatu objek/vatriabel tertentu, sehingga diperoleh kesimpulan umum.” (Agung, 1999:76) Analisis ini digunakan mengingat dalam penelitian ini tidak memerlukan generalisasi berdasarkan data sampel. Metode ini digunakan untuk menganalisis data tentang keaktivan belajar dan hasil belajar siswa. Dalam dunia pendidikan khususnya
pada
bidang
ilmu
pengetahuan
dan
keterampilan
tertentu,
dipergunakan pendekatan penilaian acuan patokan (PAP). Demikian pula pada penelitian ini, yakni pada mata pelajaran biologi menggunakan pendekatan penilian acuan patokan sebagai kriteria keberhasilan tindakan yang dilakukan. Analisis data tentang keaktifan belajar siswa didasarkan atas nilai rata- rata aktivitas siswa (M), Mean Ideal (MI) dan Standar Deviasi Ideal (SDI). Skor pengamatan dapat dikategorikan dalam lima kategori yakni kategori sangat aktif, aktif, cukup aktif, kurang aktif, dan sangat kurang aktif. Secara rinci disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 1
Tingkat Aktivitas Belajar Siswa (Diadopsi dari Sunartana 1992:100)
Skor
Predikat
MI + 1,5 SDI ≤ M
Sangat aktif
MI + 0,5 SDI ≤ M < MI + 1,5 SDI
Aktif
MI – 1,5 SDI ≤ M < MI + 0,5 SDI
Cukup aktif
MI – 1,5 SDI ≤ M < MI – 0,5 SDI
Kurang aktif
M< MI – 1,5 SDI Keterangan:
Sangat kurang aktif
24
MI =
1 (Skor tertinggi ideal + skor terendah ideal) 2
SDI =
1 (Skor tertinggi ideal + skor terendah ideal) 6
M = Rata-rata skor aktivitas siswa Karena skor tertinggi ideal pada penelitian ini adalah 25, dan skor terendah ideal adalah 5, maka dapat dihitung MI dan SDI sebagai berikut. MI =
1 ( 25 + 5 ) = 15 2
SDI =
1 ( 25 + 5 ) = 5 6 Dengan demikian tentang skor untuk masing-masing dapat disajikan
seperti tabel berikut.
Tabel 2 Konversi Skor Aktivitas Siswa (Diadopsi dari Sunartana 1992:100) Skor
Predikat 22,5 ≤ M
Sangat aktif
17,5 ≤ M < 22,5
Aktif
12,5 ≤ M < 17,5
Cukup aktif
7,5 ≤ M < 12,5
Kurang aktif
M < 7,5 SDI
Sangat kurang aktif
Untuk mengetahui prestasi belajar siswa,diukur dengan menggunakan tes hasil belajar berbentuk skor mengacu pada kriteria keberhasilan belajar siswa dari Nurkancana dan Sunartana (1992 :173). Skor tersebut dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan rata-rata skor prestasi belajar (M), daya serap (DS), dan ketuntasan belajar (KB). Rumus untuk mencari M, DS, dan KB disajikan berikut ini.
M =
∑X N
25 Keterangan: M = Rata-rata skor prestasi belajar (Mean) X = Skor N = Banyak siswa DS =
M x 100% Skor tertinggi ideal
Keterangan: DS = Daya Serap M = Mean
KB =
Ni × 100% N
Keterangan: KB = Ketuntasan Belajar Ni = Banyaknya siswa yang memperoleh skor ≥ 6,5 N = Banyaknya siswa yang ikut tes. Kriteria penentuan daya serap (DS) dan ketuntasan belajar (KB) menggunakan pedoman kurikulum SMA tahun pelajaran 2008/2009 yang berlaku di sekolah tersebut. Hasil belajar siswa telah optimal apabila rata-rata skor prestasi belajar siswa “65”, ketuntasan belajar “80%”, dan daya serap “65%”. Berdasarkan pendapat tersebut, siswa dikatakan mencapai keberhasilan jika DS ≥ 65% dan KB
≥ 80%. Selanjutnya persentase daya serap yang diperoleh akan dibandingkan dengan pedoman PAP skala lima untuk daya serap yang diadopsi dari PAP skala lima hasil belajar, dengan menyesuaikan pada predikat menjadi sangat tinggi, tinggi, cukup tinggi, rendah, dan sangat rendah seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 3 PAP Skala Untuk Daya Serap Daya Serap
Predikat 90%-100%
Sangat tinggi
80%-89%
Tinggi
26 65%-79%
Cukup tinggi
55%-64%
Rendah
0%-54%
Sangat rendah
3.8 Prosedur Penelitian. 1. Refleksi Awal Rendahnya hasil belajar biologi siswa diduga disebabkan karena rendahnya aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena guru tidak memakai alat peraga dan interaksi pembelejaran masih bersifat monoton dan masih didominasi oleh guru, sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan suasana kelas kurang kondusif. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diupayakan penggunaan alat peraga untuk meningkatkan peran serta siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa secara optimal dalam pembelajaran akan dapat membantu penguasaan konsep-konsep biologi yang dipelajari.
2. Siklus I a. Rencana Perencanaan tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan putaran siklus I adalah tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama untuk pokok bahasan keanekaragaman hayati sub pokok bahasan Keanekaragaman gen, jenis dan ekosistem. Pertemuan kedua sub pokok bahasan Klasifikasi mahluk hidup Sedangkan pertemuan ketiga dilaksanakan tes akhir siklus. Alat yang digunakan dalam penelitian ini (a) rencana pembelajaran (RP), (b) lembar observasi, (c) tes prestasi belajar, dan (d) alat peraga biologi. b. Tindakan dan Observasi/Evaluasi Tindakan
yang
dilaksanakan
adalah
menjelaskan
materi
dengan
menggunakan alat peraga yang meliputi beberapa tahapan yaitu, (1) tahap pendahuluan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap penerapan, dan (4) tahap penutup. Masing-masing tahapan tersebut telah dijabarkan pada Rencana pembelajaran.
27 Observasi yang dimaksud adalah mengamati dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap siswa. Observasi difokuskan pada aktivitas belajar dan dilakukan pada setiap awal pertemuan siklus. Sedangkan prestasi belajar siswa diukur dengan metode tes yang dilakukan pada akhir siklus. c. Refleksi Setelah dilaksanakan obervasi atau evaluasi, maka dilakukan refleksi terhadap kebermaknaan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi adalah cara berpikir dengan proses cepat antara melihat empiris dan membangun konsep abstraksinya. Biasanya sulit dilacak prosesnya karena cepatnya, tetapi mutu hasil berpikir refleksi dapat bermutu tinggi bila orangnya cerdas atau orangnya mempunyai antosiasme tinggi serta memiliki kepedulian pada permasalahannya. Dalam proses berpikir lambat, dalam arti prosesnya runtut bila kita terangkan dari empiri yang cukup banyak dicari umumnya disebut berpikir induktif, berpikir membangun abstraksi sebaiknya bila konsep umum yang abstrak kita mencari jabarannya atau terapan empiri disebut berpikir deduktif, berpikir menjabarkan dalam terapa-terapan khusus. (Muhajir, 1996:26) Pada tahapan ini refleksi diarahkan untuk mengidentifikasi keberhasilan dan ketidakberhasilan dari tindakan. Selanjutnya mencari penjelasan atas keberhasilan atau ketidak berhasilan yang diperoleh, sebagai dampak dari pengunaan alat peraga biologi. Melalui refleksi, peneliti berupaya memperbaiki proses pembelajaran secara berkelanjutan, artinya tidak hanya berhenti pada proses refleksi ini, tetapi hal-hal yang masih merupakan kelemahan ditindak lanjuti dengan membuat perencanaan tindakan untuk dilakukan pada siklus II
3. Siklus II a. Rencana Rencana yang diperlukan untuk menyelesaikan putaran siklus II adalah tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama pokok bahasan Tata nama ilmiah dan pertemuan kedua untuk sub pokok bahasan Penggunaan kunci dikotomi, sedangkan pertemuan ketiga dilaksanakan tes akhir siklus II.
28 Ketentuan pendukung dalam penelitian tindakan kelas ini adalah (a) rencana pembelajaran (RP), (b) lembar observasi, (c) tes prestasi belajar dan (d) alat peraga biologi. b. Tindakan dan Observasi/Evaluasi Dalam perencanaan pada siklus II peneliti menyiapkan hal-hal yang hampir sama dengan siklus I yaitu: membuat RP, membuat lembar observasi, tes prestasi belajar, dan alat peraga. Observasi yang dimaksud adalah mengamati dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap siswa selama proses pembelajaran. Observasi difokuskan pada aktivitas belajar yang dilakukan pada awal pertemuan siklus. Sedangkan prestasi belajar siswa diukur dengan metode tes yang dilakukan pada akhir siklus. c. Refleksi Pada tahap ini mengkaji, merenung dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan pada siklus II. Pada tahap ini diidentifikasi keberhasilan maupun ketidakberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan.
Melalui
refleksi,
diharapkan
dapat
menghasilkan
konsep
pembelajaran yang lebih baik serta berfungsi untuk memecahkan masalah pada siklus II.
3.9 Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yang telah disesuaikan dengan data yang diambil, yaitu tes prestasi belajar untuk masing-masing siklus diukur dengan menggunakan perangkat tes prestasi dan lembar observasi digunakan untuk mengukur data tentang aktivitas belajar siswa.
29 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu dari tanggal 1 April 2007 sampai dengan tanggal 2 Mei 2007. Data yang dikumpulkan adalah data aktivitas belajar siswa dan hasil prestasi belajar siswa. Hasil analisis data dapat dilaporkan sebagai berikut.
1. Hasil Pengolahan Data Aktivitas Belajar Siswa Dari hasil observasi rata-rata skor aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah sebesar “17,80”, dan pada siklus II sebesar “22,43”. Dengan peningkatan rata-rata skor aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar “4,63”. Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, maka dapat dihitung persentase peningkatan dari siklus I ke siklus II sebagai berikut. dari perhitungan di atas diketahui: Rata-rata skor aktivitas siswa pada siklus I ( X I) = 17,80 Rata-rata skor aktivitas siswa pada siklus II ( X II) = 22,43 Sehingga persentase peningkatan rata-rata skor aktivitas siswa (% X ) adalah sebagai berikut.
%X = =
X II − X I XI
× 100%
22,43 − 17,80 × 100% 17,80
% X = 26,01% Jadi persentase peningkatan rata-rata skor aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 26,01%. Berdasarkan kriteria aktivitas belajar siswa yang telah ditetapkan, maka tingkat aktivitas belajar siswa pada siklus I tergolong aktif, dan pada siklus II tergolong sangat aktif. Hasil analisis data aktivitas belajar tersebut dapat disajikan dalam tabel berikut.
30
Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I dan Siklus II Kajian
Siklus I
Siklus II
Persentase Peningkatan Dari Siklus I Ke Siklus II
∑S
712
897
X
17,80
22,43
Kategori
Aktif
Sangat Aktif
26,01%
.
Keterangan: ∑S = Jumlah seluruh Skor Aktivitas belajar siswa X = Rata-rata Skor Aktivitas Belajar Siswa
2. Hasil Pengolahan Data Prestasi Belajar Siswa Berdasarkan pengolahan data prestasi belajar siswa, maka hasil analisis data prestasi belajar siswa dapat diuraikan sebagai berikut. a. Rata-rata skor prestasi belajar pada siklus I dan siklus II berturut-turut sebesar: “5,43”, dan“7,55”. Dengan peningkatan rata-rata skor prestasi belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 39,04%. b. Daya serap dari siklus I dan siklus II berturut-turut sebesar: “54,3%”, dan 75,5%. Dengan persentase peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar “39,04”. c. Ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II berturut-turut sebesar: “32,5%” dan 82,5%. Dengan persentase peningkatan ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II sebesar “153,8%”. Tabel 5 Rekapitulasi Hasil analisis Data Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus I dan Siklus II No
Komponen
Silkus I
Siklus II
Prestasi Belajar
Persentase Peningkatan Dari Siklus I ke Siklus II
1
M
5,43
7,55
39,04%
2
DS
54,3%
75,5%
39,04%
3
KB
32,5%
82,5%
153,8%
31 Keterangan: M = Rata- rata skor prestasi belajar (Mean) DS = Daya Serap siswa KB=Ketuntasan Belajar siswa
4.2 Pembahasan Dari hasil analisis data pada siklus I, cukup berhasil mengajak siswa untuk berperan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata skor aktivitas belajar siswa sebesar “17,80” yang tergolong aktif. Dari hasil analisis data prestasi belajar siswa di ketahui M = “5,43”, DS = “54,3%”, dan KB = “32,5%”. Jika dibandingkan dengan pedoman untuk menafsirkan hasil belajar yang ditetapkan dalam kurikulum 2004 tahun pelajaran 2008/2009. KB siswa belum memenuhi syarat minimal, (KB minimal 80% ). Karena hasil tindakan pada siklus I baru mencapai peringkat aktivitas aktif, maka peneliti bersama guru melakukan refleksi mendiskusikan kendalakendala yang menjadi penyebab kurang berhasilnya pembelajaran yang dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa dan hasil diskusi dapat disimpulkan bahwa kurang berhasilnya pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I adalah disebabkan beberapa hal yaitu: (1) guru kurang dapat mengoptimalkan penggunaan alat peraga, (2) alat peraga yang digunakan belum lengkap, (3) waktu yang diperlukan untuk mendemonstrasikan alat peraga terlalu sedikit, (4) dalam menjawab pertanyaan guru maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas didominasi oleh siswa yang pandai, ini disebabkan banyak siswa yang tidak berani mengungkapkannya, dan (5) beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Dari refleksi terhadap tindakan yang dilakukan pada siklus I, dilaksanakan penyempurnaan tindakan pada siklus II. Dari pelaksanaan siklus II dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut. (1) Siswa mulai terbiasa menyelesaikan tugas-tugas yang tidak disertai contoh penyelesaiannya terlebih dahulu oleh guru dan menyelesaikan soal-soal yang bervariasi, (2) Partisipasi siswa dalam menjawab maupun membahas tugas-tugas tidak lagi didominasi oleh siswa yang pandai, dan (3) Siswa lebih berani
32 mengungkapkan permasalahan atau hal yang kurang dimengerti dalam pembelajaran. Dari perbaikan tindakan tersebut, ternyata menunjukkan peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pada siklus II peringkat aktivitasnya sebesar “22,43” yang tergolong sangat aktif, dan M = “7,53”, DS = “75,5%” dan KB = “82,5%”. Jadi dari pelaksanaan siklus II sudah tercapai ketuntasan belajar yang dipakai sebagai ukuran ketuntasan belajar yaitu kurikulum 2004 tahun pelajaran 2008/2009 (KB minimal 80%). Jadi, sesuai dengan pendapat Rosyan (1993:5) menyatakan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dapat meningkatkan keaktivan belajar siswa. Dan menurut pendapat Ibrahim, dkk. (1992:41-43) menekankan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh instrumen yang meliputi perangkat media (alat peraga). Karena penelitian ini sudah mencapai peningkatan baik aktivitas belajar maupun prestasi belajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka penelitian ini dihentikan hanya sampai siklus II.
33 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Pengunaan Pohon Dikotomi berbasis Group Investigation dalam pembelajaran keanekaragaman hayati dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat Tahun Pelajaran 2008/2009. Peningkatan ini dapat dilihat dari skor rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah “17,80” yang tergolong aktif, dan meningkat pada siklus II sebesar “22,43” yang tergolong sangat aktif. 2. Penggunaan Pohon Dikotomi berbasis Group Investigation dapat meningkatkan prestasi belajar pada pembelajaran keanekaragaman hayati siswa kelas X-1 SMA N 1 Selat tahun pelajaran 2008/2009. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari daya serap sebesar “54,3%” pada siklus I menjadi “75,5%”, pada siklus II dengan peningkatan sebesar “21,22%”, serta ketuntasan belajar (KB) sebesar “32,5%” pada siklus I menjadi “82,5%”, pada siklus II dengan peningkatan sebesar “50%”.
5.2 Saran 1. Kepada guru biologi, dalam melaksanakan pembelajaran biologi hendaknya menggunakan alat peraga, sebab dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi siswa. Serta selalu menanamkan sikap positif terhadap pembelajaran biologi yang dilaksanakan, sehingga siswa lebih berminat untuk belajar. 2. Bagi pembaca ataupun peneliti yang berminat terutama guru dan calon guru, dihimbau untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan melibatkan subyek penelitian yang lebih banyak. Agar diperoleh hasil yang lebih optimal. 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perkembangan dunia pendidikan. Dalam mencari alternatif pelaksanaan proses pembelajaran.
34 DAFTAR PUSTAKA
Ali, H. Muhamad. 1992. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Agung, A.A. Gede. 1998. Pengantar Evaluasi Pembelajaran. Singaraja: STKIP Singaraja. Andrian. 2004. Metode Mengajar Berdasarkan Tripologi Belajar Siswa (online). htt//WWW. Geogle. Com. 12 November 2006. Depdikbud. 1989. Petunjuk Pelaksanaan Pengolahan Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. Jakarta: Depdikbud Depdiknas. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonsia No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pendidikan Pembelajaran Biologi. Jakarta: Depdiknas. Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Cipta Aditya Bhakti. Herman, Hudoyo. 1988. Teori Belajar Untuk Pembelajaran Biologi. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. Suherman, Herman 1993. Strategi Belajar mengajar Biologi. Jakarta: Depdikbud. Sujaya, I M. 2005. Penerapan pendekatan kontekstual dengan setting kooperatif tipe group investigation (GI) sebagai upaya meningkatkan kompetensi dasar dalam pembelajaran energi dan usaha pada siswa kelas IA2 SMP Negeri 1 Singaraja tahun ajaran 2004/2005. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, IKIP Negeri Singaraja. Jahiri, A. Kosasih dan Dasim Budimansyah. 1996. Petunjuk Guru IPS 4 Kelas VI SD. Jakarta: Depdikbud. Kemmis, WC. & Taggart. 1998. The Action Research Planner. Greelong Victoria Geakin University. Muhadjir, Noeng. 1996. Pedoman Pelaksanaan Tindakan Kelas Analisis Refleksi. Yogyakarta: Dikjen Dikti Depdikbud. Munandar, Utami, 1985. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta : Grasindo
35 Nila Putra, I Gusti Ngurah. 2003. Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Biologi Dengan Pendekatan Belajar Kooperatif Pada Siswa Kelas IV SD Tahun Pelajaran 2002/2003. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Nurkancana, Wayan dan Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional. Poerwardaminta, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Robinson, D.N. Adjai. 1998. Azas-Azas Praktik Mengajar Kriteria Baru Dalam Program Pengajaran. Terjemahan George Allen dan Unwin. Principles and Practise of Teaching.1980. Jakarta: Batara Ruseffendi , E. T. 1994. Materi Pokok Pendidikan Biologi 3. Jakarta: Depdikbud. Rusyan, A. Tabrani dan E.S. Hamijaya. 1992. Pedoman Pelaksanaan CBSA dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Ditjen Dikti Dikdasmen. Rusyan, A. Tabrani . 1993 . Pendidikan Masa Kini dan Mendatang. Jakarta : Bima Mulia. Soedarsono. 1996. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Rencana Desain dan Inplementasi. Yogyakarta: Ditjen Dikti Dikdasmen.
36