Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan Indonesia.docx

  • Uploaded by: eni setyarini
  • 0
  • 0
  • June 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan Indonesia.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 3,888
  • Pages: 21
SISTEM INFORMASI KESEHATAN PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN TERUTAMA KEPERAWATAN

Disusun Oleh : Eni Setyarini

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG PRODI PROFESI NERS KEPERAWATAN TANJUNG KARANG 2019

PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN INDONESIA

1. Pengertian Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kinerja sistem kesehatan. Sistem informasi kesehatan adalah integrasi antara perangkat, prosedur dan kebijakan yang digunakan untuk mengelola siklus informasi secara sistematis untuk mendukung pelaksanaan manajemen kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam kerangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dalam literature lain menyebutkan bahwa SIK adalah suatu sistem pengelolaan data dan informasi kesehatan di semua tingkat pemerintahan secara sistematis dan terintegrasi untuk mendukung manajemen kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menurut WHO, Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu dari 6 “building block” atau komponen utama dalam sistem kesehatan di suatu negara. Keenam komponen (building block) sistem kesehatan tersebut adalah: a. Service delivery (pelaksanaan pelayanan kesehatan) b. Medical product, vaccine, and technologies (produk medis, vaksin, dan teknologi kesehatan) c. Health worksforce (tenaga medis) d. Health system financing (sistem pembiayaan kesehatan) e. Health information system (sistem informasi kesehatan) f. Leadership and governance (kepemimpinan dan pemerintah) Sedangkan di dalam tatanan Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari sub sistem ke 6 yaitu pada sub sistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan. Dengan

demikian,

dapat

disimpulkan

bahwa sistem

informasi

kesehatan merupakan sebuah sarana sebagai penunjang pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Sistem informasi kesehatan yang efektif memberikan dukungan informasi bagi proses pengambilan keputusan di semua jenjang, bahkan di Puskesmas atau Rumah Sakit kecil sekalipun. Bukan hanya data, namun juga

informasi yang lengkap, tepat, akurat, dan cepat yang dapat disajikan dengan adanya sistem informasi kesehatan yang tertata dan terlaksana dengan baik.

2. Tujuan Sistem Informasi Kesehatan Tujuan dari dikembangkannya sistem informasi kesehatan adalah: a. Sistem informasi kesehatan (SIK) merupakan subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang berperan dalam memberikan informasi untuk pengambilan keputusan di setiap jenjang adminisratif kesehatan baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota atau bahkan pada tingkat pelaksana teknis seperti Rumah Sakit ataupun Puskesmas b. Dalam bidang kesehatan telah banyak dikembangkan bentuk-bentuk Sistem Informasi Kesehatan (SIK), dengan tujuan dikembangkannya berbagai bentuk SIK tersebut adalah agar dapat mentransformasi data yang tersedia melalui sistem pencatatan rutin maupun non rutin menjadi sebuah informasi.

3. Manfaat Sistem Informasi Kesehatan World Health Organisation (WHO) menilai bahwa investasi sistem informasi kesehatan mempunyai beberapa manfaat antara lain: a. Membantu pengambil keputusan untuk mendeteksi dan mengendalikan masalah kesehatan, memantau perkembangan dan meningkatkannya b. Pemberdayaan individu dan komunitas dengan cepat dan mudah dipahami, serta melakukan berbagai perbaikan kualitas pelayanan kesehatan Adapun manfaat adanya sistim informasi kesehatan dalam suatu fasilitas kesehatan diantaranya: a. Memudahkan setiap pasien untuk melakukan pengobatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan b. Memudahkan fasilitas kesehatan untuk mendaftar setiap pasien yang berobat c. Semua kegiatan di fasilitas kesehatan terkontrol dengan baik (bekerja secara terstruktur).

4. Peranan SIK dalam Sistem Kesehatan Nasional di Indonesia Menurut WHO, Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu dari 6 “building blocks” atau komponen utama dalam Sistem Kesehatan di suatu negara. Keenam komponen (buliding blocks) Sistem Kesehatan tersebut ialah:

a. Servis Delivery (Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan) b. Medical product, vaccines, and technologies (Produk Medis, vaksin, dan Teknologi Kesehatan) c. Health Workforce (Tenaga Medis) d. Health System Financing (Sistem Pembiayaan Kesehatan) e. Health Information System (Sistem Informasi Kesehatan) f.

Leadership and Governance (Kepemimpinan dan Pemerintahan)

Sistem Kesehatan Nasional Indonesia terdiri dari 7 subsistem, yaitu : a. Upaya Kesehatan b. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan c. Pembiayaan Kesehatan d. Sumber Daya Mansuia (SDM) Kesehatan e. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan f. Manajemen, Informasi, dan Regulasi Kesehatan g. Pemberdayaan Masyarakat

5. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional di Indonesia Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia telah dan akan mengalami 3 pembagian masa sebagai berikut : a.

Era Manual (sebelum 2005)

b. Era Transisi (tahun 2005 – 2011) c.

Era Komputerisasi (mulai 2012)

Masing-masing Era Sistem Informasi Kesehatan memiliki karakteristik yang berbeda sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman (kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi - TIK). a. Era Manual 

Aliran data terfragmentasi. Aliran data dari sumber data (fasilitas kesehatan) ke pusat melalui berbagai jalan.



Data dan Informasi dikelola dan disimpan oleh masing-masing Unit di Departemen Kesehatan.



Bentuk data : agregat.



Sering terjadi duplikasi dalam pengumpulan data.



Sangat beragamnya bentuk laporan.



Validitas diragukan.



Data sulit diakses.



Karena banyaknya duplikasi, permasalahan kelengkapan dan validitas, maka data sulit dioah dan dianalisis.



Pengiriman data masih banyak menggunakan kertas sehingga tidak ramah lingkungan.

b. Era Transisi 

Komunikasi data sudah mulai terintegrasi (mulai mengenal prinsip 1 pintu, walau beberapa masih terfragmentasi).



Sebagian besar data agregat dan sebagian kecil data individual.



Sebagian data sudah terkomputerisasi dan sebagian masih manual.



Keamanan dan kerahasiaan data kurang terjamin.

c.

Era Komputerisasi 

Pemanfaatan data menjadi satu pintu (terintegrasi).



Data individual (disagregat).



Data dari Unit Pelayanan Kesehatan langsung diunggah (upload) ke bank data di pusat (e-Health).



Penerapan teknologi m-Health dimana data dapat langsung diunggah ke bank data.



Keamanan dan kerahasiaan data terjamin (memakai secure login).



Lebih cepat, tepat waktu dan efisien.



Lebih ramah lingkungan.

Dalam Peraturan Presiden RI Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional, Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Sistem Kesehatan Nasional, yang selanjutnya disingkat SKN adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan

administrasi

kesehatan,

informasi kesehatan, sumber daya kesehatan, upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pengelolaan kesehatan dilakukan secara berjenjang di pusat dan daerah dengan memperhatikan otonomi daerah dan otonomi fungsional di bidang kesehatan. Komponen pengelolaan kesehatan yang disusun dalam S K N dikelompokkan dalam subsistem: a.

Upaya Kesehatan;

b. Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan; c.

Pembiayaan Kesehatan;

d. Sumber Daya Manusia Kesehatan; e.

Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, Dan Makanan;

f.

Manajemen, Informasi, Dan Regulasi Kesehatan; Dan

g. Pemberdayaan Masyarakat.

6. Sistem Informasi Kesehatan di Masa Depan Dalam upaya mengatasi fragmentasi data, Pemerintah sedang mengembangkan aplikasi yang disebut Sistem Aplikasi Daerah (Sikda) Generik. Sistem Informasi Kesehatan berbasis Generik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. Input pencatatan dan pelaporan berbasis elektronik atau computerized. b. Input data hanya dilakukan di tempat adanya pelayanan kesehatan (fasilitas kesehatan). c. Tidak ada duplikasi (hanya dilakukan 1 kali). d. Akurat, tepat, hemat sember daya (efisien) dan transfaran. Tejadi pengurangan beban kerja sehingga petugas memiliki waktu tambahan untuk melayani pasien atau masyarakat.

e. Data yang dikirim (uploaded) ke pusat merupakan data individu yang digital di kirim ke bank data nasional (data warehouse). f. Laporan diambil dari bank data sehingga tidak membebani petugas kesehatan di Unit pelayanan terdepan. g. Puskesmas dan Dinas Kesehatan akan dilengkapi dengan peralatan berbasis komputer. h. Petugas akan ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan untuk menerapkan Sikda Generik. i. Mudah dilakukan berbagai jenis analisis dan assesment pada data. j. Secara bertahap akan diterapkan 3 aplikasi Sikda Generik yaitu Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Sistem Informasi Dinas Kesehatan dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.

SISTEM INFORMASI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN

Banyak

masyarakat

mengeluh

dengan

pelayanan kesehatan yang diterimanya dari perawat. Untuk itu kinerja perawat perlu ditingkatkan sehingga kualitas pelayanan asuhan keperawatan bisa diberikan dengan baik. Salah satu ukuran berkualitas atau tidaknya suatu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat adalah tingkat kepuasan bagi masyarakat penerima jasa pelayanan itu sendiri (Maria, 2009).

Pelayanan keperawatan di dalam lingkungan rumah sakit merupakan salah satu pelayanan di bidang kesehatan yang mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan yang diberikan di rumah sakit. Dengan jumlah tenaga perawat yang paling besar di lingkungan rumah sakit, keberadaan pelayanan keperawatan harus mampu dimanej dengan baik untuk menghasilkan kualitas mutu pelayanan keperawatan yang diberikan. Peningkatan kualitas sistem informasi keperawatan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Tidak dipungkiri bahwa selama ini perkembangan sistem informasi keperawatan di negeri ini belum berjalan dengan baik.

Penggunaan sistem berbasis paper dibandingkan dengan sistem perekaman berbasis komputer meskipun transisi dari manual ke dokumentasi elektronik telah berlangsung selama 15 tahun terakhir. Hal ini mencerminkan sangat lambat proses adaptasi komputer dalam dokumentasi keperawatan, sehingga perlunya penyegaran dalam penerapan sistem informasi keperawatan untuk kelengkapan dokumentasi keperawatan.

Jasa pelayanan kesehatan sebagai bentuk industri pelayanan kesehatan akan menimbulkan persaingan dalam memberikan jasa pelayanan perawatan di setiap pelayanan kesehatan. Rumah sakitpun sebagai organisasi bergerak dibidang jasa pelayanan kesehatan dituntut

untuk menyiapkan diri menghadapi persaingan dari teknologi yang dimilikinya. Sistem informasi berbasis internet dan teknologi sangat penting bagi keberhasilan bisnis dan organisasi karena dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses bisnis, dan dapat memfasilitasi pengambilan keputusan manajemen, sehingga dapat memperkuat posisi kompetitif dalam pasar yang cepat sekali berubah termasuk pelayanan rumah sakit (O’Brien, 2005).

Kesehatan pada masyarakat tidak terlepas dari peran petugas dalam hal ini tenaga perawat untuk memberikan layanan secara optimal pada rumah sakit atau puskesmas. Menurut UU RI NO 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, mendefinisikan Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakkan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan.

Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakkan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Tugas perawat bukan hanya semata-mata pada proses layanan kepada masyarakat namun juga berkewajiban melakukan proses asuhan keperawatan dengan standar NANDA, bukan hanya pada kegiatan layanan tetapi juga dokumentasi ketika memberikan penanganan pasien di Puskesmas ataupun Rumah Sakit. Tingginya layanan kepada pasien berdampak tidak sepenuhnya dokumentasi dapat dilakukan oleh petugas perawat secara maksimal apalagi dokumentasi/pencatatan tersebut dilakukan secara manual atau tulis tangan. Kurangnya penguasaan standar NANDA oleh petugas perawat juga berdampak pada tidak tepatnya dalam melakukan analisa hasil pengkajian pasien berdampak pada kesalahan dalam melakukan rencana tindakan.

Standar pengetahuan perawat yang harus dimiliki diantaranya ilmu biomedis, farmakologi, hukum, manajemen dan yang lainnya,. Sehingga di lapangan perawat akhirnya harus memiliki kemampuan melakukan analisa kebutuhan pasien dengan analisa keilmuan yang tepat dan benar. Perawat melakukan interaksi di rumah sakit selama 24 jam, sehingga tahu pada setiap perubahan respon pasien. Kebutuhan pengobatan yang dilakukan oleh dokter akan memberikan respon terhadap pasien, sehingga perawat melakukan fungsi advocacy pasien sehubungan dengan pengobatan yang diberikan oleh dokter.

Sistem informasi adalah sistem komputer yang mengumpulkan, menyimpan, memproses, memperoleh kembali, menunjukkan, dan mengkomunikasikan informasi yang dibutuhkan dalam praktik, pendidikan, administrasi dan penelitian (Malliarou et al., 2007 dalam Malliarou & Zega, 2009). Banyak manfaat yang didapatkan dalam penggunaan system informasi. Manfaat tersebut tidak hanya mengurangi kesalahan dan meningkatkan kecepatan serta keakuratan dalam perawatan, tetapi tetapi juga menurunkan biaya kesehatan dengan koordinasi dan peningkatan kualitas pelayanan.

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi, dan sumber daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu yang menyediakan dukungan informasi bagi proses pengambilan keputusan, perencanaan program kesehatan, monitoring pelaksanaan dan evaluasi di setiap jenjang administrasi kesehatan.

SIK bertujuan untuk mengatasi terfragmentasinya data kesehatan, mengurangi redudansi dan inkonsistensi, mempercepat proses pengolahan data, serta memperbaiki mekanisme pelaporan, kelengkapan dan integrasi data pada tingkat administrasi yang lebih tinggi.

Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Callie, 2010).

Sedangkan menurut ANA (Mcline, 2005) dalam Callie (2010) system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan tentang standar dokumentasi, komunikasi, mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.

System informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dalam mencapai standar mutu pelayanan. Indikator klinik mutu pelayanan antara lain: pengukuran angka pasien jatuh,angka decubitus, pneumonia nosokomial, infeksi nosokomial, dan angka kejadian medical error (Lewis, 2003).

System informasi berbasis computer ini akan mengidentifikasi berbagai macam kebutuhan pasien, mulai dari dokumentasi asuhan keperawatan, dokumentasi pengobatan, sampai perhitungan keuangan yang harus dibayar oleh pasien terhadap perawatan yang telah diterima (Callie, 2010).

Di luar negeri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pada rumah sakit yang sudah maju, seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam komputer. Sistem ini sering dikenal dengan Sistem Informasi Manjemen.

Dokumentasi yang cukup banyak mulai dari pencatatan data pasien, asuhan keperawatan, administrasi keuangan, catatan medis, catatan data penunjang akan terasa ringan jika dikomputerisasikan. Model komputerisasi yang digunakan saat ini sudah mulai berkembang dengan kegiatan yang meminimalkan kerja perawat dalam mencatat manual dan memaksimalkan upaya yang dilakukan untuk melakukan pelayanan keperawatan anak dengan memperhatikan prinsip-prinsip perawatan anak. Modal awal untuk memulai kegiatan mungkin cukup besar antara lain dengan persiapan software computer dan program yang dikerjakan bersama teman-teman dari teknologi informatika; pelatihan SDM perawat yang akan melakukan kegiatan, pihak manajerial sebagai pemegang keputusan akan sangat menentukan keberhasilan program. Namun untuk kebutuhan jangka panjang akan sangat murah yaitu dengan kegiatan yang lebih banyak bisa dilakukan untuk pasien, waktu dan tenaga perawat dapat lebih di hemat.

Upaya penerapan model-model pendokumentasian terkomputerisasi tentu saja bisa dilakukan di Indonesia tergantung dari pengetahuan perawat, kemampuan perawat setelah mengetahui, dan kemauan perawat untuk sama-sama bekerja keras mensukseskan program. Perawatperawat anak yang terjerat di dalam rutinitas umumnya sulit untuk diajak berkembang, dan keadaan ini harus diimbangi dengan upaya managerial untuk mensupport terlaksananya program melalui program pelatihan, reward and punishment, keterlibatan aktif manager, dan

program evaluasi periodik. Teknologi sistem informasi keperawatan yang digunakan hendaknya selalu dievaluasi untuk merevisi yang kurang dan mengembangkan yang sudah ada sesuai kebutuhan program dan pengguna (Larry,2003).

Manfaat Sistem Informasi Keperawatan

Manfaat penerapan sistem informasi keperawatan di lingkungan rumah sakit salah satunya adalah membantu perawat dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan. Asuhan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan dasar pasien diberikan oleh perawat diberbagai tatanan pelayanan kesehatan dengan menggunakan proses keperawatan.

Perawat menggunakan sistem informasi keperawatan dengan tujuan untuk mengkaji pasien secara jelas, menyiapkan rencana keperawatan, mendokumentasikan asuhan keperawatan, dan untuk mengontrol kualitas asuhan keperawatan. Perawat dapat memiliki pandangan terhadap data secara terintegrasi (misalnya integrasi antara perawat dan dokter dalam rencana perawatan pasien). Dengan memanfaatkan sistem informasi keperawatan tersebut perawat dapat menghemat waktu untuk melakukan pencatatan dibandingkan bila dilakukan pencatatan secara manual. Di samping itu, data yang tercatat dengan menggunakan sistem informasi keperawatan akan lebih terjamin keberadaannya. Resiko data yang dicatat akan hilang sangat kecil. Berbeda dengan pencatatan yang berdasarkan paper base, dimana kemungkinan untuk hilangnya data sangat mungkin untuk terjadi. Selain itu keberadaan sistem informasi keperawatan juga akan meningkatkan keefektifan dan efisien kerja dari tenaga keperawatan (Cheryl, 2007).

Manfaat yang diperoleh bila rumah sakit menggunakan sistem informasi keperawatan, yaitu: 1) Manajemen lebih efisien, 2) Penggunaan sumber biaya lebih efektif, 3) Meningkatkan program perencanaan, 4) Meningkatkan pendayagunaan perawat (Cornelia, 2007).

Manfaat sistem informasi dalam keperawatan (Malliarou & zyga, 2009): 1) Lebih banyak waktu dengan pasien dan lebih sedikit waktu di nurse station 2) Mengurangi penggunaan kertas 3) Dokumentasi keperawatan secara automatis

4) Standar yang sama dalam perawatan (proses keperawatan) 5) Mengurangi biaya 6) Kualitas pelayanan keperawatan dapat di ukur

Menurut American Association of Nurse Executive (1993) dalam Saba & McCormick (2001) mengemukakan manfaat penting dalam penggunaan informasi teknologi, yaitu: 1) Meningkatkan pemanfaatan sumber daya staf perawat, 2) Meningkatkan pelayanan dalam memonitoring pasien, 3) Meningkatkan dokumentasi, 4) Meningkatkan komunikasi, 5) Meningkatkan perencanaan, 6) Meningkatkan standar praktik keperawatan, 7) Kemampuan menetapkan masalah, 8) Meningkatkan evaluasi keperawatan, dan 9) Mendukung organisasi yang dinamik.

Sebenarnya untuk menerapkan sistem informasi keperawatan di lingkungan rumah sakit tidaklah terlalu sulit untuk diterapkan, tinggal komitmen untuk menerapkannya saja yang diperlukan. Dalam masa serba teknologi seperti saat ini, kiranya hampir semua perawat dapat mengoperasikan komputer sebagai sebuah perangkat dalam penerapan sistem informasi keperawatan. Ini merupakan sebuah modal yang sangat besar yang sangat mendukung penerapan sistem informasi keperawatan. Tinggal masalahnya sekarang adalah bagaimana komitmen kita bersama, mulai dari manajemen level atas sampai dengan manajemen level paling bawah untuk memperjuangkan penerapan sistem informasi keperawatan di setiap unit pelayanan keperawatan. Alasan kurangnya ketersediaan dana untuk mengembangkan sistem informasi keperawatan merupakan sebuah alasan klasik yang tidak boleh ada lagi. Apalagi melihat akan pentingnya sistem informasi keperawatan bagi peningkatan kualitas pelayanan keperawatan khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya (Cornelia, 2007).

Pendapat diatas didukung juga oleh hasil penelitian Laurie (2008) yang mengatakan penerapan sistem informasi manajemen terkomputerisasi atau ORMIS (of an or management information system) memerlukan signifikan komitmen sumber daya manusia. Kemampuan perawat dituntut untuk bisa menggunakan keahliannya secara efektif untuk menggunakan teknologi dimana mengubah bentuk data informasi ke dalam pengetahuan untuk praktek

klinis, riset, dan pendidikan. Keinginan dalam membuat sistem informasi di rumah sakit sangat diharapkan oleh tenaga profesional untuk membantu pemecahan masalah yang ada.

Pelaksanaan sistem informasi keperawatan di rumah sakit, yakni mengkombinasikan ilmu komputer, ilmu informasi, dan ilmu keperawatan yang didesain untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan data, informasi, dan pengetahuan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Davis, 2002). Sistem informasi keperawatan sedang dikembangkan secara terus menerus dimasa depan ilmu keperawatan akan bersandar pada kemampuan sistem informasi untuk memudahkan hasil diagnosa, manajemen, riset, pendidikan, pertukaran informasi, dan kerja sama/kolaborasi.

Saba dan McCormick (2001), mengatakan bahwa integrasi ilmu keperawatan, ilmu komputer dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, memproses, mengatur data dan informasi untuk menyokong praktek keperawatan, administrasi, pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu keperawatan. Kebutuhan akan sistem informasi manajemen mendukung perawat dalam membantu pengambilan keputusan. Kemajuan teknologi di rumah sakit memungkinkan perawat menggunakan sistem informasi manajemen untuk mendukung dalam pemberian asuhan keperawatan, sehingga tercapainya mutu asuhan keperawatan yang lebih baik.

Menurut Anita (2008) yang melakukan penelitian difokuskan pada eksplorasi Computerized Provider Order Entry (CPOE) dan dampaknya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh perawat. Hasilnya CPOE adalah teknologi yang dirancang mengganti paperbased proses order entry, komunikasi, dan koordinasi dengan metode otomatis, salah satunya dalam implementasi kolaborasi untuk pemberian resep obat di perawatan akut. CPOE terbukti dapat meningkatkan efisiensi komunikasi dan mengurangi kesalahan transkripsi obat-obatan serta mengurangi waktu perawatan pada pasien, sehingga angka kesakitan dan kematian pasien menurun.

Menurut Cheryl (2007) penggunaan proses perbaikan yang berkelanjutan untuk memastikan program pendidikan dokumentasi yang akurat untuk pengembangan pengetahuan dan profesional staf keperawatan. Proses empat tahap sebagai berikut: (1) mulai sebuah tim dan identifikasi masalah; (2) menganalisis proses saat ini dan menentukan lingkup dan akar penyebab,

(3) meningkatkan proses, mencari alternatif, merancang dan menerapkan solusi; dan (4) mengukur dampak dan mempertahankan hasilnya.

Sistem Informasi dalam Asuhan Keperawatan

Hasil penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan sistem informasi keperawatan yang efektif dan teknologi tepat guna akan dapat mengurangi kesalahan dalam memberikan perencanaan keperawatan pada pasien. Penggunaan sistem informasi keperawatan juga akan meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan keperawatan.

Pada pengkajian keperawatan, penerapan Standar Nursing Language (SNL) berbasis TI (Teknologi Informasi) yang ada dalam sistem. Pada pengkajian data, perawat tinggal memilih data yang tersedia. Setelah data dipilih secara lengkap, komputer akan secara automatis menganalisa data yang telah dipilih perawat, dan memunculkan masalah sesuai data yang dipilih. Komputer akan membantu melakukan analisis data yang dimasukan oleh perawat saat melakukan pengkajian kepada pasien. Dengan menggunakan sistem “pakar” maka perawat sedikit terkurangi bebannya dalam melakukan analisis data untuk dijadikan diagnosa keperawatan. Masalah yang munculpun menjadi semakin riil dan akurat, karena masalah yang dimunculkan oleh komputer merupakan analisa baku.

Diagnosa Keperawatan dihasilkan dari analisa yang dilakukan oleh komputer, berdasarkan data-data yang dimasukan saat pengkajian perawatan. Komputer akan secara automatis menganalisa data yang ada dan memunculkan masalah keperawatan. Perawat tinggal memilih etiologi yang ada disesuaikan dengan kondisi pasien. Sehingga di sinilah, peran perawat tidak bisa digantikan oleh komputer, karena judgment terakhir tetap di tangan perawat. Apakah masalah yang dimunculkan oleh komputer diterima atau tidak oleh perawat (Maria, 2009).

Tujuan Keperawatan dalam sistem informasi keperawatan menggunakan Nursing Outcome Clasification (NOC). Perawat tinggal memilih Label dari NOC yang telah tersedia pada masing-masing diagnosa keperawatan yang ada, serta menentukan batas waktu (dalam hari) masalah diperkirakan dapat terselesaikan.

Sedangkan intervensi keperawatan dalam sistem informasi keperawatan menggunakan Nursing Intervention Clasification (NIC) dan sama dengan membuat tujuan, perawat tinggal memilih label NIC yang tersedia pada masing-masing diagnosa keperawatan (Maria, 2009).

Implementasi keperawatan dalam sistem informasi keperawatan menggunakan label NIC dan aktifitas dalam NIC. Perawat tinggal mengetikan aktifitas-aktifitas perawatan yang telah dilakukan, menambahkan jam pelaksanaan dan menuliskan pelaksana dari aktifitas tersebut. Yang istimewa dalam sistem ini adalah implementasi yang diinputkan oleh perawat dalam dokumentasi asuhan keperawatan langsung diintegrasikan dengan billing system rumah sakit, sehingga tidak ada double entry dalam keuangan pasien. Masing masing tindakan perawat telah memiliki harga sendiri sendiri yang telah disahkan oleh rumah sakit, dan perawat tinggal mendokumentasikan dalam sistem informasi keperawatan (Laurie, 2008). Sedangkan untuk evaluasi keperawatan menggunakan hasil penilaian subyek, observasi, analisa, dan planning keperawatan.

Contoh Aplikasi Asuhan Keperawatan

Aplikasi merupakan aplikasi berbasis web dan untuk dapat mengakses aplikasi dibutuhkan browser (Mozilla firefox atau Google Chrome). Dalam uji coba aplikasi ini aplikasi pada webserver dengan mengetikkan pada browser : http://localhost/askeppneumonia. Pada halaman browser akan muncul seperti pada gambar

Pengelolaan Basis Pengetahuan Langkah awal dalam pengelolaan data basis pengetahuan (Domain, Class, Tipe Class, Diagnosis, Batasan Karakteristik dan Faktor Berhubungan). Dalam proses pengelolaan data basis pengetahuan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Pengolahan Data Domain, merupakan tahapan pendefenisian Domain yang terdapat pada NANDA.

b. Pengkajian Pasien, merupakan pencatatan batasan karakteristik dari pasien ketika perawat melakukan suatu interview.

c. Menampilkan hasil Diagnosis, merupakan langkah seorang perawat untuk menampilkan hasil diagnosa .

d. Menampilkan Rencana Tindakan, merupakan langkah seorang perawat untuk menampilkan rencana tindakan.

e. Menampilkan Tujuan Tindakan, merupakan langkah seorang perawat untuk menampilkan rencana tindakan.

Penerapan sistem informasi keperawatan terkomputerisasi terkait intervensi yang dilakukan di beberapa RS di Indonesia diharapkan spesifik mulai dari Nursing Out Come (NOC) yang baku klasifikasi dan jelas kriterianya; Nursing Intervention Clasification (NIC) disusun secara baku pada setiap klasifikasinya dan disesuaikan juga dengan klasifikasi tujuan (NOC). Perawat tinggal memilih label NIC yang tersedia pada masing-masing diagnosa keperawatan yang sesuai dengan tujuan penanganan masalah pasien. Implementasi keperawatan dalam sistem informasi keperawatan menggunakan label NIC dan aktifitas dalam NIC. Perawat tinggal mengetikan aktifitas-aktifitas perawatan yang telah dilakukan, menambahkan jam pelaksanaan dan menuliskan pelaksana dari aktifitas tersebut.

Implementasi yang diinputkan oleh perawat dalam dokumen asuhan keperawatan langsung diintegrasikan dengan Billing System Rumah Sakit, sehingga tidak ada double entry dalam keuangan pasien. Masing masing tindakan perawat telah memiliki harga sendiri sendiri yang telah disahkan oleh rumah sakit, dan perawat tinggal mendokumentasikan dalam SI Keperawatan. Artinya penulisan implementasinya juga dibakukan sehingga perawat yang bertugas mengetik sesuai dengan standar yang ditetapkan. Evaluasi kriteria, skala, dan target. Setelah perawat menentukan kriteria, skala dan target pada hari pertama, maka pada hari

berikutnya tinggal memilih skala yang sesuai dengan kondisi pasien, antara 1 – 5, disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pendokumentasian sangat penting untuk dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pasien. Beberapa alternative penyelesaian masalah yang berhubungan dengan dokumentasi yang kurang efektif adalah dengan mengembangkan system informasi dan pendokumentasi secara elektronik, sehingga memudahkan dan informasi terhadap mutlidisiplin terutama dengan melakukan control terhadap pemberian obat terhadap pasien, dimana perawata melakukan fungsi advocacy terhadap resiko medical error dengan menuliskan rekomendasi dalam catatan pasien di computer. Hasil yang diharapkan dengan system informasi dapat meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit, sehingga medical error dapat dihindari.

keperawatan merupakan bagian integral pelayanan kesehatan yang professional. Pelayanan keperawatan berperan penting dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara umum. Sebagai bentuk konsekwensi pelayanan professional, pemberian pelayanan keperawatan yang dilakukan melalui proses asuhan keperawatan harus memiliki akuntabilitas sebagai wujud pertanggungjawaban terhadap profesi.

Related Documents


More Documents from "azlam"