Makalah Batubara1.docx

  • Uploaded by: Muhammad Fadilah
  • 0
  • 0
  • December 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Makalah Batubara1.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 11,838
  • Pages: 78
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada proses penambangan dengan metode tambang terbuka banyak faktor yang akan mempengaruhi kegiatan penambangan tersebut, salah satunya adalah alat-alat mekanis yang diperlukan untuk operasional penambangan. Keberadaan alat-alat mekanis tersebut sangat menunjang dalam proses kegiatan

penambangan,

sehingga penggunaannya harus

diperhitungkan

secara tepat agar dapat bekerja secara optimal dengan biaya operasional yang minimum. Sistem penambangan yang diterapkan di PT Cipta Kridatama site Cakra Bumi Pertiwi adalah strip mine dengan metode back filling. metode ini digunakan untuk menghemat disposal area, dimana overburden akan di dumping ke arah penambangan yang telah diambil batubaranya. Dengan adanya kemajuan penambangan pada suatu Pit mengakibatkan jarak angkut untuk pemindahan overburden (tanah penutup) antara front penambangan menuju dumping point (tempat pembuangan) semakin jauh dan akan berpengaruh pada penggunaan biaya di operasional tambang yaitu Fuel. Sehingga penggunaan biaya penambangan yang terbesar adalah biaya operasional (fuel). Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan kajian terhadap strategi pentahapan dumping, yang dilakukan dengan cara

1

2

menghitung

kesesuaian material tanah penutup (Overburden) yang

dipindahkan dari pit ketempat penimbunan (Disposal) dan dapat mengetahui operating cost minimum yang digunakan pada fuel. Sehingga penulis tertarik untuk memberi judul proyek akhir ini yaitu “Strategi Sequence Dumping Overburden yang Dipengaruhi oleh Jarak Angkut untuk Menurunkan Indeks Fuel OHT PT Cipta Kridatama Site Cakra Bumi Pertiwi.” B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang diatas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: 1.

Kurangnya kesesuaian material overburden yang dipindahkan dari lokasi pit ke lokasi dumping.

2.

Penggunaan biaya di operasional tambang yang terbesar adalah penggunaan fuel.

3.

Beberapa lokasi pit dan lokasi disposal yang memiliki jarak angkut yang berbeda.

4.

Keterbatasan area disposal sehingga proses penambangan menjadi terhambat.

5.

Perbedaan arah penambangan dimana arah penambangan berada di utara dan di selatan.

C. Batasan Masalah Adapun batasan masalah yang penulis buat pada proyek akhir ini ialah: 1. Kesesuaian material overburden yang dipindahkan dari lokasi pit ke lokasi dumping. 2. Penggunaan biaya yang terbesar yaitu fuel OHT.

3

3. Pengaruh cycle time dan jarak angkut hanya pada penggunaan fuel OHT.

D. Rumusan Masalah Pada proyek akhir ini rumusan masalahnya sebagai berikut : 1.

Berapa jarak angkut overburden dari lokasi pit ke lokasi dumping?

2.

Bagaimana pengaruh jarak terhadap penggunaan fuel OHT?

3.

Berapa cost fuel minimum yang akan digunakan untuk proses pengangkutan material?

4.

Bagaimana strategi yang baik untuk menghitung pemindahan material overburden dari lokasi pit ke lokasi dumping?

E. Tujuan Proyek akhir ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1.

Untuk menentukan jarak angkut material overburden.

2.

Untuk mengetahui pengaruh jarak terhadap penggunaan fuel OHT.

3.

Untuk menghitung cost fuel minimum yang akan digunakan.

4.

Menemukan strategi yang baik dalam menghitung jumlah overburden yang akan ditempatkan dari lokasi pit ke lokasi dumping.

F. Manfaat Adapun beberapa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari proyek akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Dapat mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari pada saat perkuliahan.

4

2. Sebagai refrensi tambahan baik di perusahaan maupun di Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang.

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Perusahaan 1. Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian proyek akhir ini penulis lakukan di tambang terbuka batubara PT Cipta Kridatama jobsite Cakra Bumi Pertiwi terletak di Desa Tanjung Dalam Kecamatan Ulok Kupai, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Secara geografis terletak antara garis meridian 3°09΄55.80˝ Lintang Selatan sampai 3°12΄40.90˝ Lintang Selatan dan 101°45΄15.30˝ Bujur Timur sampai 101°46΄57.80˝ Bujur Timur, yang meliputi areal seluas 1200 Ha. Berbatasan ke arah Barat dengan Desa Pagar Din ,sebelah Timur dengan Desa Air Lelangi, sebelah Utara dengan Desa Tanjung Dalam, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Fajar Baru dan dapat dilihat pada gambar 10 di bawah ini.

Sumber: google earth Gambar 10 Lokasi kesampaian daerah penelitian

6

2. Kondisi Topografi Secara garis besar keadaan wilayah penambangan PT Cipta Kridatama bergelombang hingga berbukit dengan satuan topografi datar sampai curam. Ketinggian tempat antara 25 meter sampai 118 meter di atas permukaan laut. Tempat yang kelerengan datar sampai landai (0-15%) tidak begitu luas sekitar (13.3-16.1%) dari luas Wilayah Ijin Pertambangan. Tempat-tempat yang landai sampai agak curam (15-25%) mewakili mewakili sebagian besar (49.769.1%) Wilayah Ijin Usaha Pertambangan. Tempat-tempat yang kelerengannya agak curam sampai curam (25-45%) umumnya terletak didkat sungai atau anak sungai yang menyebar di wilayah Ijin Usaha Pertambangan dengan luas 17.6-34.2%. 3. Kondisi Geologi Di dalam “Laporan Eksplorasi Lengkap Penambangan Batubara di Wilayah KP DU 436-437-438 Provinsi Bengkulu” yang dibuat oleh tim eksplorasi PT Firman Ketahun pada tahun 1995, dijelaskan bahwa struktur dan tektonik kawasan Indonesia bagian barat merupakan bagian dari Sunda Land (Lempeng Mikro Sunda) dan termasuk bagian tepi selatan Lempeng Asia. Pola-pola struktur pada kawasan ini dipengaruhi oleh interaksi konvergen antara Lempeng India-Australia dan Lempeng Mikro Sunda. Akibat adanya tumbukan tersebut adalah terbentuknya cekungan-cekungan di Pulau Sumatera sebagai zona penekukan yang masih aktif terletak di lepas pantai bagian barat pulau

7

Sumatera. Cekungan yang terbentuk adalah cekungan Bengkulu dan cekungan Sumatera Selatan. Cekungan Bengkulu merupakan salah satu cekungan tersier di daerah Sumatera yang termasuk dalam Cekungan Busur Muka. Bagian ini merupakan bagian paling barat dari daratan Sumatera. Cekungan Bengkulu terbentuk oleh blok patahan yang terjadi pada periode Cretaceous Akhir atau Tersier Awal yang kemungkinan terjadi lebih dahulu sebagai hasil pembelahan cekungan setempat. Cekungan Bengkulu dibatasi oleh sisi barat Volcannic Arc, yang merupakan bagian dari punggungan sebelah barat dari Pegunungan Bukit Barisan dan dapat dilihat pada gambar 11 dibawah ini.

Sumber : PT SMG Consultant

Gambar 11 Peta Geologi Lokal Area Bengkulu

4. Kondisi Statigrafi Menurut peta geologi regional Lembar Sungai Penuh dan Ketahun, Sumatera, yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi 1993, batuan Tersier tersingkap pada Cekungan Bengkulu, yang didominasi oleh batuan sedimen. Satuan terbawah yang tersingkap adalah Formasi Seblat yang terdiri dari endapan turbidit laut. Satuan ini diendapkan pada tahap trangresi utama di Cekungan Bengkulu yang berlanjut sampai Miosen Tengah. Terdapatnya kompleks tufaan yang banyak di dalam Formasi Seblat menunjukkan adanya kegiatan gunung api serentak di dalam Zona Busur Magmatik Pegunungan Barisan saat itu, yaitu Formasi Hulu simpang. Bagian atas formasi ini dianggap mewakili puncak tahapan transgesi utama di Cekungan Bengkulu dan secara luas dapat dikorelasikan dengan Formasi Gumai di Cekungan Sumatera Selatan. Berdasarkan urutan stratigrafinya, formasi-formasi yang terdapat pada cekungan Bengkulu dari umur tertua sampai umur termuda adalah sebagai berikut : 1)

Formasi Seblat Merupakan satuan batuan tertua yang tersingkap pada cekungan Bengkulu. Formasi ini terdiri dari batu pasir, batu lanau, batu lempung, dan sisipan berupa batu gamping. Fosil-fosil kecil dan besar yang terdapat pada batu pasir, batu lanau dan gambut merupakan umur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah serta diendapkan pada lingkungan laut dangkal dan laut dalam.

25

26

2) Formasi Lemau Formasi Lemau merupakan satuan batuan yang tersusun oleh batu lempung, batu lanau gampingan, batu pasir gampingan atau tufaan, breksi bersisipan batu gamping. Formasi Lemau diendapkan di atas Formasi Seblat dengan tidak selaras dan berdasarkan fosil-fosil yang ada menunjukkan bahwa formasi ini berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir serta diendapkan pada lingkungan laut dangkal. 3) Formasi Simpang Aur Satuan batuan ini disusun oleh batu pasir tufaan, tufa, batu lanau tufaan, dan sisipan lignit. Formasi Simpang Aur diendapkan selaras di atas formasi Lemau. Berdasarkan fosil-fosil yang dijumpai menunjukkan bahwa formasi ini berumur Miosen Akhir sampai Pliosen dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal transisi. 4) Formasi Bintunan Merupakan satuan batuan yang tersusun oleh batu pasir tufaan berbatu apung, tufa pasiran, konglomerat dengan sisipan batubara, dan sisa tumbuhan. Pengendapan formasi ini terhadap formasi

Simpang

(unconformity).

Aur

dibatasi

Berdasarkan

oleh

fosil-fosil

ketidakselarasan yang

dijumpai

menunjukkan bahwa umur formasi Bintunan adalah Pliosen Awal serta diendapkan pada lingkungan darat.

27

5) Formasi Alluvium Satuan batuan ini tersusun oleh material-material batuan sedimen yang berukuran silt, pasir, kerikil, kerakal, dan sebagainya yang tidak kompak, proses ini merupakan hasil akumulasi dari proses erosi yang berlangsung sampai sekarang dan dapat dilihat pada pada gambar 12 dibawah ini.

Sumber : Laporan Eksplorasi PT Firman Ketaun, 1995

Gambar 12 Stratigrafi Regional Cekungan Bengkulu

5. Keadaan Iklim dan Curah Hujan Keadaan iklim di wilayah penambangan CK-CBP Mine Project memiliki dua musim dalam setahun yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga

28

April, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai Oktober. Data curah hujan tahun 2014-2015 pada tambang PT Cipta Kridatama site CBP dapat dilihat pada (Lampiran C). B. Landasan Teori 1. Pengertian Batubara Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif di mana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain. Di Indonesia, endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda

29

(termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi. Batu bara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa di antaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi di mana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan 2. Eksplorasi Batubara Batubara adalah batuan sedimen yang berlapis dan bersifat karbonat dimana terbentuk oleh akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang terawetkan dalam lapisan sedimen pembawanya serta mengalami

30

peningkatan temperatur dan tekanan yang tinggi sehingga kaya akan unsur karbonat. Batubara terbentuk dari adanya endapan organik yang merupakan sisasisa tumbuhan yang terendapkan dilingkungan delta, pantai (rawarawa), ataupun cekungan antar gunung yang berupa danau, dimana lapisan batuan dasarnya merupakan batuan yang kedap air yang memungkinkan tidak terjadinya sirkulasi air yang tinggi. Vegetasi yang terus-menerus tumbuh memungkinkan terjadinya rawa hutan, pohon-pohon yang mati akan terendam dan mengalami pembusukan anaerob. Zat air yang terkandung di dalam tumbuhan akan lepas dan menyebabkan bertambahnya persentasi karbon. Hutan yang terbentuk pada daerah dengan sistem pengairan yang buruk dimana air terus menerus menggenanginya, maka akan berubah menjadi gambut yang merupakan tahap awal proses pembatubaraan, selanjutnya dengan pembebanan lapisan sedimen yang ada di atasnya terpengaruh temperatur yang terjadi secara kontiniu dan berulang dalam jangka waktu jutaan tahun, menyebabkan gambut menjadi batubara dengan kondisi ketebalan yang bervariasi dan berlapis-lapis. 3. Peralatan Tambang Batubara Pada operasi penambangan di PT. Cipta Kridatama digunakan alat-alat berat yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu Alat Tambang Utama (ATU) dan Alat Penunjang Tambang (APT). Kepemilikan alat-

31

alat tersebut ada yang dirental dari perusahaan mitra kerja PT. Cipta Kridatama. a. Alat Tambang Utama (ATU) Alat Tambang Utama (ATU) adalah peralatan yang digunakan untuk operasi produksi yang termasuk ATU adalah: 1) Alat muat Merupakan alat yang berfungsi untuk menggali/memuat, alat ini juga berfungsi untuk pembersihan batubara, penggalian, pembuatan saluran dan pembuatan jenjang. Alat muat yang digunakan di PT. Cipta Kridatama adalah excavator. 2) Alat angkut Merupakan alat yang berfungsi untuk mengangkut/memindahkan material overburden dan batubara keluar dari lokasi tambang. Alat angkut yang digunakan di PT.Cipta Kridatama adalah dumptruck. 3) Alat garu/dorong Merupakan alat yang dapat membantu pekerjaan alat muat, berfungsi juga untuk memberai, mendorong dan meratakan tanah/lumpur batubara yang akan digali. Alat garu/dorong yang digunakan di PT. Cipta Kridatama adalah bulldozer

32

b. Alat Penunjang Tambang (APT) Alat penunjang tambang adalah peralatan yang digunakan sebagai penunjang pekerjaan operasi penambangan. Adapun alat yang termasuk dalam alat penunjang tambang adalah: 1) Alat bor Alat ini digunakan untuk pembuatan lubang ledak sebelum dilakukan blasting pada daerah penambangan. 2) Pompa Adalah peralatan yang digunakan untuk menindahkan zat cair/fluida yang berada dikolam areal penambangan menuju ke kolam pengendap (sump). 3) Motor grader Adalah peralatan yang digunakan untuk pembuatan dan perawatan jalan. 4. Proses Penambangan a. Survey dan Pemetaan Tujuan utama dari kegiatan survey adalah memberikan laporan tentang rencana (guide), kemajuan tambang berupa peta beserta informasinya. b. Pembabatan/Pembersihan Lahan (land clearing) Pembersihan lahan (land clearing) merupakan tahap awal dari kegiatan penambangan,

yaitu dilakukan pembersihan areal

penambangan dari semak-semak, pohon-pohon besar maupun kecil

33

serta membuang bagian tanah atas (top soil) yang bisa menghalangi pekerjaan penambangan selanjutnya. c. Pengupasan Tanah Pucuk (Top soil removal) Pengupasan top soil dilakukan setelah kegiatan pembersihan lahan. Pengupasan dilakukan dengan cara dibuat jenjang (bench). Hal ini dilakukan

untuk

menghindari

terjadinya

longsoran.

Hasil

pengupasan top soil tersebut disimpan dan digunakan lagi pada proses reklamasi nantinya. Untuk sementara waktu lapisan humus tersebut ditimbun di suatu areal yang disebut waste dump atau disposal area. d. Pengupasan Tanah Penutup (Overburden) Pengupasan overburden dilakukan setelah kegiatan pembersihan lahan dan pengupasan tanah bagian atas (humus). Pengupasan dilakukan dengan cara bertahap serta dibuat jenjang (bench), hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya longsoran akibat lereng yang terlalu curam. e. Penggalian dan Pemindahan Overburden Penggalian overburden dilakukan dengan menggunakan 2 buah excavator langsung melakukan penggalian dan pemuatan keatas 6 buah dump truk. Dalam operasi pemindahan overburden akan dipergunakan excavator sebagai alat muat dan dump truk sebagai alat pengangkut.

34

f. Pemboran dan Peledakan Langkah awal dari kegiatan pemboran material dengan peledakan adalah dengan membuat lubang ledak, pengisian handak (bahan ledak) adalah campuran senyawa kimia dapat berupa padat, cair atau pun campuran padat dan cair, serta campuran empat elemen dasar seperti: carbon, hydrogen, nitrogen dan oksigen. Kesemuanya itu dapat dan bereaksi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Gas panas yang dihasilkan akan menyebabkan tekanan yang sangat tinggi. Di PT. Cipta Kridatama peledakan dilakukan oleh kontraktor (pihak ketiga). g. Penggalian Batubara Penggalian batu bara dilokasi penambangan dilakukan dengan menggunakan excavator. h. Pemuatan dan Pengangkutan Batubara Pemuatan (loading)

batubara dilokasi penambangan dilakukan

dengan menggunakan alat gali muat jenis excavator. Excavator ini melakukan pemuatan ke dalam 2 unit dump truck untuk dipindahkan ke stockpile. i. Pembongkaran Batubara Pembongkaran batubara dilokasi penambangan dilakukan oleh dumptruk itu sendiri dan kadang dibantu oleh excavator. j. Penanganan Batubara

35

Penanganan batubara pada PT. Cipta Kridatama sesuai dengan pit. Dan dimasing-masing pit memiliki tempat penumpukan tersendiri sesuai dengan kalori. k. Operasi Penanganan Air Tambang Operasi penanganan air tambang atau penyaliran tambang sangat diperlukan, karena lantai yang berair akan mengganggu kelancaran produksi, juga dapat menimbulkan kecelakaan kerja, karena jalan tambang yang licin akan dapat mengakibatkan tergelincirnya roda ban dump truck. Untuk menangani air tambang yang terdapat pada bukaan tambang maka diperlukan perencanaan penyaliran tambang yang matang dan kapasitas pompa air yang digunakan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. 5. Proses Pengolahan Batubara Kegiatan ini bertujuan untuk memperkecil ukuran batubara sesuai dengan permintaan konsumen. 6. Analisa Sampel Batubara Batubara PT. Inti Bara Perdana mempunyai kalori yang cukup tinggi disebabkan kadar abu dan kadar sulfurnya yang rendah seperti terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2 : Kualitas Batubara PT. Inti Bara Perdana. No. 1. 2.

Parameter Total Moisture (AR) Proximate Analysis (ADB) - Inherent Moisture - Volatile Matter - Ash Content

Satuan %

Angka 18,42

% % %

8,69 8,26 11,76

36

3. 4.

- Fixed Carbon Calorific Value (ADB) Total Sulphur

% Kcal/kg %

41,27 6000 - 7000 0,6

Sumber: PT. Inti Bara Perdana, Maret 2012

Keterangan: - Total Moisture(TM) :yaitu batubara yang masih memiliki kandungan air total. - Inherent moisture (IM)

: yaitu kondisi batubara yang telah dikeringkan

tetapi

masih

memiliki

kandungan air bawaan. - Volatil Matter (VM)

: yaitu bagian organik batubara yang menguap ketika dipanaskan pada suhu tertentu (zat terbang).

- Ash Content (AC)

: yaitu kadar abu pada batubara yang merupakan menentukan

parameter

bersih

penambangan,

untuk karena

merupakan perbandingan antara kadar abu dari data geologi dengan kadar abu dari batubara hasil produksi. - Fixed Carbon (FC)

: yaitu kadar karbon tetap pada batubara setelah volatile matter dipisahkan dari batubara.

- AR (As Receive)

: contoh yang dianalisa sesuai keadaan pada waktu diterima dilaboratorium.

37

- ADB (Air Dried Basis)

: Analisis contoh batubara dalam keadaan kadar kelembaban yang hampir sama dengan kelembaban udara sekitar.

Dengan kadar kalori yang cukup tinggi antara 6000-7000 Kkal/kg, serta kadar abu, yaitu sebesar 8,69 % dan kadar sulfur yang rendah sebesar 0,6%

sangat memungkinkan hasil produksi

batubara PT. Inti Bara

Perdana dapat bersaing dengan hasil produksi batubara perusahaan lain untuk mencari pasar penjualan batubara. 7. Proses Blending Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui besaran quality yang terkandung didalam batubara PT. Cipta Kridatama seperti: a) Total moisture b) Inherent Moisture c) Volatile Matter d) Ash Content e) Fixed Carbon f) Total sulfur Dengan penggunaan alat-alat sebagai berikut: a) Mesin proximate analyzer digunakan untuk perhitungan inherent moisture, ash conent, volatile matter dan fixed carbon. Dengan suhu pembakaran 9000 C.

38

b) Mesin automatic calorimeter digunakan untuk perhitungan kalori yang terkandung dalam batubara dengan proses pembakaran batubara yang dibantu oleh kawat pemicu dan air aquadest. c) Kawat Pemicu digunakan untuk membantu proses dalam mesin automatic calorimeter, kawat pemicu tersebut berdiameter 0,12 mm. d) Air Aquadest digunakan sebagai pembantu dalam proses Mesin automatic calorimeter yang dituangkan dalam tabung selinder dengan takaran 10 ml. e) Tabung slinder digunakan sebagai wadah dalam Mesin automatic calorimeter. f) Alat Ukur digunakan untuk perhitungan batubara yang akan dilihat kalorinya dengan berat 1 gram. 8. Pemasaran Batubara Kegiatan pemasaran merupakan kegiatan penjualan hasil batubara ke konsumen. Saat ini hasil batubara PT. Inti Bara Perdana dipasarkan ke dalam dan luar negeri.

39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Studi kasus yang penulis angkat pada proyek akhir ini ditemukan saat melakukan kegiatan di lapangan. Adapun jadwal kegiatan Pengalaman Lapangan Industri yang penulis lakukan pada tanggal 12 Januari 2015 hingga 12 Maret 2015 di tambang terbuka batubara PT Cipta Kridatama site Cakra Bumi Pertiwi yang dimuat pada tabel berikut ini. Tabel 1 Kegiatan Penulis di Lapangan No 1 2 3 4 5

Kegiatan

1

2

3

Minggu ke4 5

6

7

8

Orientasi dan Pengamatan Lapangan Orientasi dan Mengikuti Kegiatan Survei Orientasi di Kegiatan Operation Pengambilan dan Pengumpulan Data Penyusunan Laporan dan Presentasi

B. Jenis Penelitian Pada proyek akhir ini studi kasus akan dibahas atau dianalisis secara teoritis, setelah dianalisis dilakukan penerapan dilapangan. Maka jenis studi kasus pada proyek akhir ini ialah studi kasus terapan.

40

C. Teknik Pengumpulan Data 1. Data Primer Data primer merupakan data yang penulis dapatkan melalui pengamatan langsung di lapangan. Adapun data primer yang penulis kumpulkan selama kegiatan di lapangan yaitu Cycle time OHT. Data tersebut diambil dengan menggunakan stopwatch dari aktivitas alat galimuat dan alat angkut. 2. Data Sekunder Data sekunder ialah data yang penulis dapatkan sebagai referensi dari perusahaan. Dan data ini sangat menunjang dalam memecahkan masalah pada proyek akhir yang penulis buat ini. Adapun data-dat sekunder yang penulis dapatkan , yakni: a. Data fuel consumption b. Volume pit dan disposal c. Jarak angkut d. Target fuel OHT perusahaan Untuk mengumpulkan data yang akan digunakan, penulis melalui beberapa metode sebagai berikut : 1) Pengamatan di lapangan Yakni penulis mengamati kegiatan di pekerjaan yang menjadi studi kasus pada proyek akhir ini. Yang penulis amati yaitu : input, proses dan output dari kegiatan. Dari pengamatan tersebut didapatkanlah keganjalan yang terjadi.

41

2) Studi literatur Setelah penulis mengamati kegiatan di lapangan dan menemui studi kasus yang akan dibahas pada proyek akhir. Selanjutnya penulis mencari referensi (buku, jurnal & contoh skripsi) mengenai studi kasus tersebut dan mengetahui dasar-dasar teorinya. 3) Pengambilan data Setelah penulis mengetahui dasar-dasar teori dari studi kasus yang akan dibahas, selanjutnya penulis mengambil data-data yang diperlukan mengacu pada dasar-dasar teori studi kasus yang penulis bahas. D. Pengolahan Data Analisis data yaitu kegiatan mengolah data-data yang penulis kumpulkan untuk memberikan solusi dari studi kasus yang penulis temui di lapangan. Untuk itu agar didapatkannya solusi dari studi kasus tersebut, penulis memuat metode analisis data yang penulis lakukan pada diagram alir berikut ini. E. Diagram Alir Penelitian

42

Analisa Strategi Sequence Dumping Overburden yang Dipengaruhi oleh Jarak Angkut Untuk Menurunkan Indeks Fuel OHT di PT Cipta Kridatama Site Cakra Bumi Pertiwi

Identifikasi Masalah Beberapa lokasi pit dan lokasi disposal yang memiliki jarak angkut yang berbeda sehingga berdampak pada penggunaan cost fuel

Pengambilan Data

Data Primer

Data Sekunder

Cycle time OHT

Fuel Consumption, volume pit dan disposal, dan jarak angkut

Metode Transportasi

Pengolahan Data

Metode North West Corner dan Metode Modified Distribution

Penurunan cost fuel dan jarak angkut

Selesai

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengolahan Data 1.

Perencanaan dan aktual Konsumsi Bahan Bakar Pemakaian bahan bakar (fuel) di bulan Februari telah direncanakan pada Tabel 7 dibawah ini dan dapat dilihat dari perencanaannya pemakaian bahan bakar (fuel) pada alat angkut (hauler) lebih banyak dibandingkan dengan alat mekanis yang lainnya. Tabel 7 Perencanaan Konsumsi Bahan Februari 2015 Minggu 1 (liter)

Minggu 2 (liter)

Minggu 3 (liter)

Minggu 4 (liter)

Feb 2015 (liter)

65,450

65,450

65,450

65,450

261,799

Hauler

82,897

82,897

82,897

82,897

331,588

Coal Hauler

24,514

24,514

24,514

24,514

98,056

Bulldozer

21,954

21,954

21,954

21,954

87,815

Grader

3,226

3,226

3,226

3,226

12,902

198,040

198,040

792,160

Fuel Usage Loader (Excavator)

Total 198,040 198,040 Sumber: Dept. PPnC, PT Cipta Kridatama

Berdasarkan tabel 7 diatas terlihat dalam perencanaan konsumsi bahan bakar Hauler lebih tinggi dibandingkan alat mekanis lainnya. Untuk pemakaian pada hauler di bulan februari 2015 penggunaan fuel yang direncanakan yaitu 331,558 liter dengan jumlah hauler sebanyak 22 unit. Pemakaian fuel teraktual di bulan Februari dapat dilihat pada tabel 8 dibawah ini.

69

43

Tabel 8 Konsumsi Bahan Bakar Aktual Februari 2015 Minggu 1 (liter)

Minggu 2 (liter)

Minggu 3 (liter)

Minggu 4 (liter)

Feb 2015 (liter)

36,232

33,409

39,501

42,089

151,322

Hauler

45,236

48,603

53,444

69,392

216,675

Coal Hauler

14,809

15,367

14,760

16,328

61,264

Bulldozer

11,454

11,008

12,755

15,007

50,224

Grader

1,890

1,992

2,053

2,012

7,947

122,513

144,828

487,432

Fuel Usage Loader (Excavator)

Total 109,712 110,379 Sumber: Dept. PPnC, PT Cipta Kridatama

Berdasarkan dari tabel 8 diatas konsumsi aktual bahan bakar dapat dilihat sebanyak 216,675 liter dengan jumlah hauler yaitu 22 unit. Pemakaian fuel hauler masih tetap tinggi dibandingkan dengan alat mekanis lainnya. Dari kedua tabel diatas dapat dilihat perbandingan antara perencanaan dan pemakaian teraktual dilapangan. Secara aktual pemakaian fuel hauler tidak melebihi dari target perencanaan tetapi pemakaian fuel hauler tetap lebih banyak dibandingkan alat mekanis lainnya. Konsumsi Bahan bakar pada hauler di bulan Februari 2015 dapat dilihat pada (lampiran D). Untuk hauler PT Cipta Kridatama menggunakan Off Highway Truck (OHT) dan Artticulated Dump Truck (ADT), OHT merupakan alat mekanis yang paling tinggi pemakaian fuel nya dibandingkan ADT. Pada kedua tabel diatas, berdasarkan perencanaan satu OHT mengkonsumsi fuel sebanyak 518 liter perhari dan secara aktual fuel dikonsumsi sebanyak 295 liter perhari dengan jumlah hauler yang

44

sama yaitu sebanyak 22 unit. Datanya dapat dilihat pada (lampiran E) dan untuk jumlah Hauler yang digunakan dapat dilihat pada (lampiran F). 2.

Volume Pit dan Disposal Volume material tanah penutup ini untuk penambangan di bulan Maret hingga Mei 2015. Dari data volume, dapat dilihat bahwa jumlah volume di pit akan tertampung oleh kapasitas disposal yang tersedia pada tabel 9 dan tabel 10 dibawah ini. Peta lokasi pit dan lokasi disposal dapat dilihat pada (lampiran G).

Tabel 9 Volume OB di Pit Pit

volume (Bcm)

Bbs

2,353,408

Tengah

1,009,235

Selatan

855,207 Total

4,217,850

Tabel 10 Volume disposal Disposal

Volume (Bcm)

IPD Utara IPD Selatan OPD Utara

805,233 1,934,304 712,096

OPD Selatan

1,062,648

Total

4,514,281

Pada pengangkutan overburden yang akan digunakan adalah Off highway truck (OHT) sehingga volumenya dikalikan dengan kapasitas OHT tersebut. Perhitungannya sebagai berikut:

45

Kapasitas satu unit Vessel OHT = 27 bcm. -

Pit BBS

= 2,353,408 bcm / 27 bcm = 87,163 rite

-

Pit Tengah = 1,009,235 bcm / 27 bcm = 37,379 rite

-

Pit Selatan = 855,207 bcm / 27 bcm = 31, 674 rite

-

IPD Utara = 805,223 bcm / 27 bcm = 29,823 rite

-

IPD Selatan = 1,934,304 bcm / 27 bcm = 7,164 rite

-

OPD Utara = 712,096 bcm / 27 bcm = 26,373 rite

-

OPD Selatan= 1,062,648 bcm / 27 bcm = 39,357 rite

Hasil perhitungan digunakan pada matriks transportasi. Hasil disajikan pada tabel 11 dan tabel 12 dibawah ini: Tabel 11 Volume pit dalam satuan rite Pit

Volume (Rite)

Bbs

87,163

Tengah

37,379

Selatan

31,674

Total

156,216

Tabel 12 Volume disposal dalam satuan rite Disposal

Volume (Rite)

IPD Utara

29,823

IPD Selatan

7,164

OPD Utara

26,373

OPD Selatan

39,357

Total

102,717

46

3. Jarak antara Pit ke Disposal Jarak antara Pit ke disposal dapat dilihat pada tabel 13 dibawah ini. Tabel 13 Jarak Pit Ke Disposal.

Dari tabel diatas, jarak terjauh yaitu dari Pit BBS ke disposal OPD Selatan. 4.

Cycle Time OHT Pada studi kasus ini, data cycle time yang digunakan yaitu data cycle time OHT dikarenakan pemakaian fuel nya yang tinggi. Data cycle time diambil untuk mengetahui parameter waktu tempuh dari OHT tersebut. Data cycle time disajikan pada (lampiran H). Dari cycle time tersebut didapatkan waktu tempuhnya yaitu 1,261 dtk/meter. Setelah jarak antara pit menuju disposal diketahui dan cycle time nya, maka dapat dilakukan perhitungan untuk mencari penggunaan fuel OHT percycle dengan cara sebagai berikut: Cycle time (menit) = jarak x 1,261 dtk/meter / 60 detik -

414 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 8.70 menit

-

602 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 12.65 menit

-

823 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 17.30 menit

-

1015 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 21.33 menit

-

611 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 12.84 menit

47

-

587 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 12.34 menit

-

921 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 19.36 menit

-

882 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 18.54 menit

-

712 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 14.96 menit

-

555 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 11.66 menit

-

860 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 18.07 menit

-

729 m x 1,261 dtk/m / 60 detik = 15.32 menit

Hasil perhitungan diatas disajikan pada tabel 14 dibawah ini. Tabel 14 cycle time OHT (menit) Pit

IPD Utara

IPD Selatan

OPD Utara

OPD Selatan

BBS

8.70

12.65

17.30

21.33

Tengah

12.84

12.34

19.36

18.54

Selatan

14.96

11.66

18.07

15.32

5.

Fuel Percycle Untuk

mendapatkan

penggunaan

fuel

percycle

dilakukan

perhitungan dengan memasukkan standar penggunaan fuel OHT berdasarkan target perusahaan. Target penggunaan fuel yaitu 40 liter/jam yang diambil dari range level medium penggunaan fuel OHT. Perhitungan dilakukan sebagai berikut: -

40 liter/jam / (60 menit/ 8.70 menit) = 5.80 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 12.65 menit) = 8.43 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 17.30 menit) = 11.53 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 21.33 menit) = 14.22 liter

48

-

40 liter/jam / (60 menit/ 12.84 menit) = 8.56 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 12.34 menit) = 8.22 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 19.36 menit) = 12.90 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 18.54 menit) = 12.36 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 14.96 menit) = 9.98 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 11.66 menit) = 7.78 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 18.07 menit) = 12.05 liter

-

40 liter/jam / (60 menit/ 15.32 menit) = 10.21 liter Dari hasil perhitungan, penggunaan fuel percycle dapat dilihat pada

tabel 15 dibawah ini. Tabel 15 Fuel percycle (Liter) Pit

IPD Utara

IPD Selatan

OPD Utara

OPD Selatan

BBS

5.80

8.43

11.53

14.22

Tengah

8.56

8.22

12.90

12.36

Selatan

9.98

7.78

12.05

10.21

B. Pembahasan 1.

Simulasi Sequence Dumping Menggunakan Metode Transportasi. Pada pembuatan simulasi dengan Metode Transportasi ini, dapat dilihat

pada ilustrasi berikut : Dari 3 Pit yang terdapat di PT Cipta Kridatama yaitu: -

Pit BBS dengan volume overburden 87,163 rite

-

Pit Tengah dengan volume overburden 37,379 rite

49

-

Pit Selatan dengan volume overburden 31,674 rite

Volume material tersebut akan diangkut menuju 4 Disposal (tempat penimbunan) yaitu: -

IPD Utara dengan kapasitas disposal 29,823 rite

-

IPD Selatan dengan kapasitas disposal 7,164 rite

-

OPD Utara dengan kapasitas disposal 26,373 rite

-

OPD Selatan dengan kapasitas disposal 39,357 rite

Pembuatan simulasi Metode Transportasi digunakan cycle time dari alat angkut. Adapun angka dari cycle time dapat dilihat pada Tabel 16. Sehingga didapatkan waktu tempuh per unit yang terlihat pada Tabel 17. Data cycle time telah dilampirkan pada (lampiran H). Tabel 16 Cycle time (menit) Pit BBS Tengah Selatan

IPD Utara 8.70 12.84 14.96

IPD Selatan 12.65 12.34 11.66

OPD Utara 17.30 19.36 18.07

OPD Selatan 21.33 18.54 15.32

Parameter waktu tempuh per unit 1,261 dtk/meter Tabel 17 Pit BBS Tengah Selatan

IPD Utara 5.80 8.56 9.98

IPD Selatan 8.43 8.22 7.78

OPD Utara 11.53 12.90 12.05

OPD Selatan 14.22 12.36 10.21

50

Dimana perhitungan dari tabel diatas dilampirkan pada pengolahan data di Bab IV. Pembuatan simulasi-simulasi menggunakan Metode Transportasi dimulai dengan pembuatan Tabel Transportasi, yang dapat dilihat pada Tabel 18 Tabel 18 Tabel Transportasi Simulasi Sequence Dump IPD Utara 5.80

IPD Selatan 8.43

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Pit BBS

Kapasitas Pit 87,163

X11

X12 8.56

Pit Tengah

X21

Pit Selatan

X31

X13 8.22

X22 9.98

X14 12.90

X23 7.78

X32

12.36 X24

12.05 X33

10.21 X34

37,379 31,674 156,216

Kapasitas Disposal

29,823

71,640

26,373

39,357

167,193

Dengan melihat tabel diatas, diketahui bahwa jumlah dari kapasitas Pit sebanyak 156,216 rite lebih besar dibandingkan dengan jumlah kapasitas disposal sebanyak 167,193 rite. Maka tabel tersebut dikatakan tidak seimbang. Untuk menjadi seimbang dibutuhkan penambahan kolom dummy sebagai selisih antara jumlah dari kapasitas Pit dan disposal yaitu sebanyak 10,977 rite. Biaya transportasi kolom dummy bernilai nol (0). Dikarenakan jumlah volume yang dialokasikan kedalam kolom tersebut tidak benar-benar terjadi pemindahan tetapi hanya untuk yang tidak terpenuhi. Pembuatan sumber dummy dapat dilihat pada Tabel 19 di bawah ini.

51

Tabel 19 Tabel Transportasi dengan Sumber Semu (Dummy)

Pit BBS Pit Tengah Pit Selatan Dummy

IPD Utara 5.80 X11 8.56 X21 9.98 X31 0 X41

Kapasitas Disposal

29,823

IPD Selatan 8.43 X12 8.22 X22 7.78 X32 0 X42 71,640

OPD Utara 11.53 X13 12.90 X23 12.05 X33 0 X43 26,373

OPD Selatan 14.22 X14 12.36 X24 10.21 X34 0 X44

Kapasitas Pit

39,357

87,163 37,379 31,674 10,977 167,193

Dari Tabel 19 tersebut terlihat bahwa jumlah kapasitas dari pit sama dengan jumlah kapasitas dari disposal yaitu sebesar 167,193 rite. Sehingga tabel sudah dapat dikatakan seimbang. Langkah selanjutnya adalah mengisi tabel tersebut menggunakan Metode Pojok Barat Laut dengan cara seperti berikut: -

Pengisian dimulai dari sel kosong yang terletak pada sudut kiri atas.

-

Volume dari pit dialokasikan kedalam sel dengan maksimum dan disesuaikan dengan kapasitas disposal.

-

Kolom yang telah terpenuhi dapat diberi tanda dan selanjutna diabaikan.

-

Pengisian berikutnya yaitu pada sel yang kosong terdekat dan memperhatikan keseimbangan antara kapasitas pit dan kapasitas disposal.

-

Ulangi langkah tersebut hingga tabel terpenuhi.

52

Perolehan dari pengalokasiaan diatas dapat dilihat pada Tabel 20 di bawah ini. Tabel 20 Tabel Transportasi Simulasi I IPD Utara 5.80

IPD Selatan 8.43

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Pit BBS 29,823 Pit Tengah Pit Selatan

57,340 8.56

X

X

14,300 9.98

x

12.90 23,079

7.78 x

12.36 37,379

x 12.05

3,294

0

87,163

x

8.22

0

10.21

Kapasitas Disposal

x

0

29,823

X 71,640

31,674

28,380 0

Dummy x

Kapasitas Pit

10,977 26,373

39,357

10,977 167,193

Dengan demikian, besar biaya awal pemakaian bahan bakar (fuel) dari solusi awal dengan metode North west corner yaitu: Z = (29,823 x 5.80) + (57,340 x 8.43) + (14,300 x 8.22) + (23,079 x 12.90) + (3,294 x 12.05) +(28,380 x 10.21) + (10,977 x 0) = 1,401,631 Liter Selanjutnya dilakukan pengujian, apakah biaya awal tersebut merupakan biaya minimal atau belum, dengan menggunakan Metode MoDi dengan cara sebagai berikut: -

Langkah pertama yaitu mencari nilai baris dan kolom dengan rumus:

53

B+ K = C Ket: B = Nilai baris (Pit) K = Nilai Kolom (Disposal) C = Biaya (Fuel) -

Langkah kedua adalah pemberian nilai nol (0) untuk Baris 1, Pit BBS = 0, seperti terlihat pada Tabel 21 dibawah ini. Tabel 21 Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) I

IPD Utara 5.80 0

IPD Selatan 8.43

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Pit BBS 29,823 Pit Tengah Pit Selatan Dummy Kapasitas Disposal

57,340

X

8.56 X

14,300

X

7.78 x

29,823

10.21 31,674

28,380 0

X 71,640

37,379

12.05

0 x

12.36 x

3,294

0 X

12.90 23,079

9.98

87,163

x

8.22

0 10,977

26,373

Kapasitas Pit

39,357

10,977 167,193

Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain : - Kolom IPD Utara: Pit BBS + IPD Utara = 5.80 0 + IPD Utara = 5.80 IPD Utara = 5.80 – 0 = 5.80 - Kolom IPD Selatan: Pit BBS + IPD Selatan = 8.43

54

0 + IPD Selatan = 8.43 – 0 = 8.43

- Baris Pit Tengah: Pit T + IPD Selatan = 8.22 Pit T + 8.43 = 8.22 Pit T = 8.22 – 8.43 = -0.21 - Kolom OPD Utara: Pit T + OPD Utara = 12.90 -0.21 + OPD Utara = 12.90 OPD Utara = 12.90- (-0.21) = 13.11 - Baris Pit Selatan: Pit Selatan + OPD Utara = 12.05 Pit Selatan + 13.11 = 12.05 Pit Selatan = 12.05 – 13.11 = -1.06 - Kolom OPD Selatan: Pit Selatan + OPD Selatan = 10.21 -1.06 + OPD Selatan = 10.21 OPD Selatan = 10.21 – (-1.06) = 11.27 - Baris Dummy: Dummy + OPD Selatan = 0 Dummy + 11.27 = 0 Dummy = 0 – 11.27 = - 11.27

Hasil dari nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, seperti yang terlihat pada Tabel 22 di bawah ini.

55

Tabel 22 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Baris dan Kolom I 5.80

8.43

IPD Utara 5.80 0

IPD Selatan 8.43

-1.06 -11.27

11.27

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Kapasitas Pit

Pit BBS 29,823

-0.21

13.11

Pit Tengah Pit Selatan Dummy Kapasitas Disposal

57,340 8.56

X 8.22

X

14,300 9.98

X

7.78

12.05

10.21 31,674

28,380 0

X 71,640

37,379

x

0 X

29,823

12.36

3,294

0 X

12.90 23,079

X

87,163

x

0 10,977

10,977 26,373

39,357

167,193

Selanjutnya melakukan perhitungan angka indeks dengan menggunakan rumus: Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Pencarian angka indeks dilakukan dengan mengevaluasi kotak kosong seperti pada perhitungan dibawah ini: -

Pit BBS – OPD Utara = 11.53 – 0 – 13.11 = -1.58

-

Pit BBS – OPD Selatan = 14.22 – 0 – 11.27 = 2.95

-

Pit Tengah – IPD Utara = 8.56 – (-0.21) – 5.80 = 2.97

-

Pit Tengah – OPD Selatan = 12.36 – (-0.21) – 11.27 = 1.29

-

Pit Selatan – IPD Utara = 9.98 - (-1.06) – 5.80 = 5.24

-

Pit Selatan – IPD Selatan = 7.78 – (-1.06) – 8.43 = 0.41

-

Dummy – IPD Utara = 0 – (-11.27) – 5.80 = 5.47

56

-

Dummy – IPD Selatan = 0 – (-11.27) - 8.43= 2.84

-

Dummy – OPD Utara = 0 – (-11.27) – 13.11 = -1.84

Berdasarkan hasil perhitungan diatas adanya nilai negatif yaitu dummy-OPD Utara, maka solusi belum optimal. Jika dilakukan pemindahan material ke OPD Utara kotak kosong, maka akan menghemat fuel sebanyak 1.84 liter. Perubahan alokasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: -

Buat loop tertutup yang melalui sel Dummy – OPD Utara

-

Berilah tanda positif pada sel tersebut.

-

Pilih satu sel sebaris Dummy dan sel sekolom OPD Utara yang terdekat dan terisi, beri tanda negatif. Pindahkan alokasi dari sel negatif ke sel positif sebanyak isi terkecil dari sel negatif.

Pergerakan perubahan alokasi dapat dilihat pada Tabel 23 di bawah ini. Tabel 23 Perubahan Alokasi Pergerakan Pengiriman I IPD Utara 5.80

IPD Selatan 8.43

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Pit BBS 29,823 Pit Tengah

57,340 8.56

X

14,300

87,163

X

8.22

9.98

Pit Selatan

X 12.90 23,079 7.78

(-)

12.36 37,379

X 12.05

(+)

10.21

0

28,380 (-)

31,674 X

X 0

0

3,294 (+)

Dummy X Kapasitas Disposal

Kapasitas Pit

x 29,823

X 71,640

10,977 26,373

39,357

0 10,977 167,193

57

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, hasil dari perpindahan didapatkan tabel transportasi seperti yang terlihat pada Tabel 24 dibawah ini. Tabel 24 Tabel Perbaikan Alokasi I IPD Utara

IPD Selatan

5.80

Pit BBS

8.43

29,823 Pit Tengah Pit Selatan

8.56 14,300 9.98 X

7.78 x

X 29,823

10.21 31,674

31,674 0

3,294 71,640

37,379

12.05

0 x

12.36 X

X

0

87,163

12.90 23,079

26,373

Kapasitas Pit

14.22 X

8.22

X

OPD Selatan

11.53

57,340

Dummy Kapasitas Disposal

OPD Utara

0 7,683 39,357

10,977 167,193

Selanjutnya dilakukan perhitungan biaya pemakaian fuel nya yaitu: Z = (29,823 x 5.80) + (57,340 x 8.43) + (14,300 x 8.22) + (23,079 x12.90) + (31,674 x 10.21) +(3,294 x 0) + (7,683 x 0) = 1,395,585 Liter. Dari perhitungan diatas terlihat bahwa terjadinya penurunan biaya pemakaian fuel. Selanjutnya dilakukan pengujian kembali, apakah biaya tersebut tersebut merupakan biaya minimal atau belum dengan mencari nilai baris dan kolom seperti perhitungan diatas tadi dan terlihat pada Tabel 25 dibawah ini.

58

Tabel 25 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) II IPD Utara

IPD Selatan 8.43

5.80 0

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Pit BBS 29,823

57,340

X

8.56

Pit Tengah

x

14,300

x

12.90 23,079

9.98

Pit Selatan

7.78 x

12.36 37,379

X 12.05

X

0

87,163

X

8.22

10.21

0

0

Dummy x Kapasitas Disposal

x 29,823

3,294 71,640

31,674

31,674

0

Kapasitas Pit

26,373

7,683 39,357

10,977 167,193

Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain : - Kolom IPD Utara: Pit BBS + IPD Utara = 5.80 0 + IPD Utara = 5.80 IPD Utara = 5.80 – 0 = 5.80 - Kolom IPD Selatan: Pit BBS + IPD Selatan = 8.43 0 + IPD Selatan = 8.43 – 0 = 8.43 - Baris Pit Tengah: Pit T + IPD Selatan = 8.22 Pit T + 8.43 = 8,22 Pit T = 8.22 – 8.43 = -0.21 - Kolom OPD Utara: Pit T + OPD Utara = 12.90 -0.21 + OPD Utara = 12.90 OPD Utara = 12.90- (-0.21) = 13.11

59

- Baris Dummy: Dummy + OPD Utara = 0 Dummy + 13.11 = 0 Dummy = 0 – 13.11 = - 13.11 - Baris Dummy: Dummy + OPD Selatan = 0 -13.11 + OPD Selatan = 0 OPD Selatan = 0 – (-13.11) = 13.11 - Baris Pit Selatan: Pit Selatan + OPD Selatan = 10.21 Pit Selatan + 13.11 = 10.21 Pit Selatan = 10.21 – 13.11 = -2.90

Nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, seperti yang terlihat pada Tabel 26 di bawah ini. Tabel 26 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Baris dan Kolom II 5.80

8.43

IPD Utara 5.80 0

-2.90 13.11

IPD Selatan 8.43

13.11

OPD Utara 11.53

OPD Selatan 14.22

Pit BBS 29,823

-0.21

13.11

Pit Tengah Pit Selatan

57,340 8.56

x

x

14,300 9.98

x

12.90 23,079

7.78 x

12.36 37,379

X 12.05

x

0

87,163

X

8.22

10.21

0

0

Dummy x Kapasitas Disposal

x 29,823

3,294 71,640

31,674

31,674

0

26,373

Kapasitas Pit

7,683 39,357

10,977 167,193

60

Selanjutnya melakukan perhitungan angka indeks dengan menggunakan rumus: Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom Pencarian angka indeks dilakukan dengan mengevaluasi kotak kosong seperti pada perhitungan dibawah ini: -

Pit BBS – OPD Utara = 11.53 – 0 – 13.11 = -1.58

-

Pit BBS – OPD Selatan = 14.22 – 0 – 13.11 = 1.11

-

Pit Tengah – IPD Utara = 8.56 – (-0.21) – 5.80 = 2.97

-

Pit Tengah – OPD Selatan = 12.36 – (-0.21) – 13.11 = -0.55

-

Pit Selatan – IPD Utara = 9.98 - (-2.90) – 5.80 = 7.07

-

Pit Selatan – IPD Selatan = 7.78 – (-2.90) – 8.43 = 2.24

-

Pit Selatan – OPD Utara = 12.05 – (-2.90) – 13.11 = 1.84

-

Dummy – IPD Utara = 0 – (-13.11) – 5.80 = 7.31

-

Dummy – IPD Selatan = 0 – (-13.11) - 8.43= 4.68

Berdasarkan hasil perhitungan diatas adanya nilai negatif yaitu pada Pit BBS-OPD Utara, maka solusi belum optimal. Jika dilakukan pemindahan material ke OPD Utara kotak kosong, maka akan menghemat fuel sebanyak 1.58 liter. Oleh karena itu kembali dilakukannya perbaikan alokasi. Pergerakan perubahan alokasi dapat dilihat pada Tabel 27 di bawah ini.

61

Tabel 27 Pergerakan Perubahan Alokasi Pengiriman II IPD Utara 5.80

Pit BBS

Pit Selatan

OPD Utara

(-)

(+)

8.43

OPD Selatan

11.53

14.22 87,163

29,823 Pit Tengah

IPD Selatan

Kapasitas Pit

8.56 X

57,340 (+)

X 8.22

14,300

12.90

12.36

23,079

9.98 X

x (-)

7.78

12.05

X

10.21

X

0

37,379

X

31,674

31,674

0

0

0

Dummy X Kapasitas Disposal

X 29,823

3,294 71,640

10,977

X 39,357

26,373

167,193

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, didapatkan hasil dengan tabel transportasi seperti yang terlihat pada Tabel 28 dibawah ini. Tabel 28 Tabel Perbaikan Alokasi II IPD Utara

IPD Selatan

5.80

OPD Utara

8.43

OPD Selatan

11.53

14.22

Pit BBS 29,823 Pit Tengah Pit Selatan

34,261 8.56

23,079 8.22

X

37,379 9.98

X

12.90

37,379

12.05 X

0

12.36 X

7.78 X

87,163

x

X

10.21

0

0

Dummy X Kapasitas Disposal

X 29,823

3,294 71,640

31,674

31,674

0

26,373

Kapasitas Pit

7,683 39,357

10,977

167,193

62

Selanjutnya dilakukan perhitungan biaya pemakaian fuel nya yaitu: Z = (29,823 x 5.80) + (34,261 x 8.43) + (23,079 x 11.53) +(37,379 x 8.22) + (31,674 x 10.21) +(3,294 x 0) + (7,683 x 0) = 1,359,045 Liter. Dan dilakukan pengujian kembali, apakah biaya awal tersebut merupakan biaya minimal atau belum, dengan pemberian nilai nol (0) untuk Baris 1, Pit BBS = 0, seperti terlihat pada Tabel 29.

Tabel 29 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) III IPD Utara

IPD Selatan

5.80 0

OPD Utara

8.43

OPD Selatan

11.53

14.22

Pit BBS 29,823

34,261 8.56

Pit Tengah

8.22

X

37,379 9.98

Pit Selatan

23,079

X

12.90

37,379

12.05 x

0

12.36 x

7.78 X

87,163

x

x

10.21 31,674

31,674

0

0

0

Dummy X Kapasitas Disposal

X 29,823

3,294 71,640

26,373

7,683 39,357

Kemudian dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain seperti dibawah ini: - Kolom IPD Utara: Pit BBS + IPD Utara = 5.80

Kapasitas Pit

10,977 167,193

63

0 + IPD Utara = 5.80 IPD Utara = 5.80 – 0 = 5.80 - Kolom IPD Selatan: Pit BBS + IPD Selatan = 8.43 0 + IPD Selatan = 8.43 – 0 = 8.43 - Kolom OPD Utara: Pit BBS + OPD Utara = 11.53 0 + OPD Utara = 11.53 OPD Utara = 11.53 – 0 = 11.53 - Baris Pit Tengah: Pit T + IPD Selatan = 8.22 Pit T + 8.43 = 8.22 Pit T = 8.22 – 8.43 = -0.21 - Baris Dummy: Dummy + OPD Utara = 0 Dummy + 11.53 = 0 Dummy = 0 – 11.53 = - 11.53 - Kolom OPD Selatan: Dummy + OPD Selatan = 0 -11.53 + OPD Selatan = 0 OPD Selatan = 0 – (-11.53) = 11.53 - Baris Pit Selatan: Pit Selatan + OPD Selatan = 10.21 Pit Selatan + 11.53 = 10.21 Pit Selatan = 10.21 – 11.53 = -1.32 Nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, seperti yang terlihat pada Tabel 30 di bawah ini.

64

Tabel 30 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Baris dan Kolom III 5.80

8.43

11.53

11.53

IPD Utara

IPD Selatan

OPD Utara

OPD Selatan

5.80 0

-1.32

34,261

Pit Tengah

8.56

14.22

Pit Selatan

9.98

87,163

23,079 8.22

12.90

12.36 37,379

37,379 7.78

12.05

10.21 31,674

31,674 0

-11.53

11.53

Pit BBS 29,823

-0.21

8.43

0

0

0

Dummy 3,294 Kapasitas Disposal

29,823

71,640

Kapasitas Pit

7,683

26,373

39,357

Selanjutnya melakukan perhitungan angka indeks dengan mengevaluasi kotak kosong seperti pada perhitungan dibawah ini: -

Pit BBS – OPD Selatan = 14.22 – 0 – 11.53 = 2.69

-

Pit Tengah – IPD Utara = 8.56 – (-0.21) – 5.80 = 2.97

-

Pit Tengah – OPD Utara = 12.90 – (-0.21) – 11.53 = 1.58

-

Pit Tengah – OPD Selatan = 12.36 – (-0.21) – 11.53 = 1.03

-

Pit Selatan – IPD Utara = 9.98 - (-1.32) – 5.80 = 5.49

-

Pit Selatan – IPD Selatan = 7.78 – (-1.32) – 8.43 = 0.66

-

Pit Selatan – OPD Utara = 12.05 – (-1.32) – 11.53 = 1.84

-

Dummy – IPD Utara = 0 – (-11.53) – 5.80 = 5.73

-

Dummy – IPD Selatan = 0 – (-11.53) - 8.43= 3.10

10,977 167,193

65

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. Oleh karena itu Tabel 30 di atas telah optimal, dengan total biaya operasi: Z = (29,823 x 5.80) + (34,261 x 8.43) + (23,079 x 11.53) +(37,379 x 8.22) + (31,674 x 10.21) +(3,294 x 0) + (7,683 x 0) = 1,359,045 Liter. 2. Perhitungan Jarak Angkut Berdasarkan hasil dari pengolahan data didapatkan perubahaan jarak angkut antara jarak awal dan jarak akhir. Perubahan dapat dilihat pada perhitungan jarak awal dapat dilihat pada tabel 31 dibawah ini. Tabel 31 Jarak awal No. 1 2 3 4 5 6 Total Distance

Rite 29,823 57,340 14,300 23,079 3,294 28,380 156,216 640.38

Jarak (m) 414 602 587 921 860 729 4,113

Kapasitas 12,346,722 34,518,680 8,394,100 21,255,759 2,832,840 20,689,020 100,037,121

Dari tabel diatas terlihat bahwa rata-rata dari jarak awalnya yaitu 640.38 meter dengan jumlah volume overburden yaitu 156,216 rite. Perhitungan Jarak akhir dapat dilihat pada tabel 32 dibawah ini.

66

Tabel 32 Jarak akhir No.

Rite

Jarak (m)

vol* Jarak

1

29,823

414

12,346,722

2

34,261

602

20,625,122

3

23,079

823

18,994,017

4

37,379

587

21,941,473

5

31,674

729

23,090,346

Total

156,216

3,155

96,997,680

Distance

620.92

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata dari jarak akhir yaitu 620.92 meter dengan jumlah volume overburden yang sama dengan jarak awal diatas yaitu 156,215 rite. Berdasarkan perhitungan diatas, terlihat terjadi penurunan jarak angkut sebanyak 19.46 meter dari lokasi pit ke lokasi dumping dan akan berdampak pada penggunaan cost fuel nya.

67

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan dari perhitungan yang telah dilakukan maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Jarak pit utara ke IPD Utara yaitu 414 m, ke IPD selatan 602 m, ke OPD Utara 823 m, ke OPD Selatan 1015, jarak dari pit tengah ke IPD Utara 611 m, ke IPD selatan 587 m, ke OPD utara 921 m, ke OPD selatan 882 m, dan jarak dari pit selatan ke IPD utara 712 m, ke IPD selatan 555 m, ke OPD utara 860 m, ke OPD selatan 729 m. 2.

Berdasarkan perhitungan jumlah volume overburden di pit utara periode Maret - Mei 2015 adalah sebesar 2,353,046 bcm, dimana berdasarkan analisa akan didistribusikan ke disposal: - IPD Utara sebanyak 805,221 bcm - IPD Selatan sebanyak 925,047 bcm - OPD Utara sebanyak 623,133 bcm

3. Berdasarkan perhitungan jumlah volume overburden di pit tengah periode Maret - Mei 2015 adalah sebesar 1,009,235 bcm, dimana berdasarkan analisa akan didistribusikan ke disposal IPD selatan sebanyak 1,009,235 bcm 4. Berdasarkan perhitungan jumlah volume overburden di pit selatan periode 69 855,207 bcm, dimana berdasarkan Maret - Mei 2015 adalah sebesar

68

analisa akan didistribusikan ke disposal OPD selatan sebanyak 855,198 bcm. 5.

Jarak rata-rata yaitu 620.92 m atau berkurang sebanyak 19.46 m dari jarak sebelumnya (640.38 m ).

6.

Berdasarkan hasil analisa didapat penurunan fuel untuk pemakaian OHT berpotensi menurun sebanyak 42,586 liter.

B. Saran Dari studi kasus yang penulis temui, maka penulis memberikan saran sebagai berikut: 1. Untuk simulasi pembuatan sequence dump, disarankan untuk menggunakan Metode Transportasi, yaitu Metode North West Corner dan Metode Modified Distribution (MoDi). 2. Strategi dumpingan sebaiknya dilakukan perbulan untuk mendapatkan hasil efisiensi fuel yang lebih detail.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, Data-data laporan dan Arsip PT. Cipta Kridatama. Suryadi, Herlina. (2011). “Analisa Strategi Sequence Dumping untuk Mengatasi Keterlambatan Kedatangan Truck.” Skripsi. Universitas Pembangunan Nasional. Kopa, Raimon. (2013). Panduan Kerja Praktek Teknik Pertambangan . Padang: Universitas Negeri Padang. Prodjosumarto, Partanto. (2014). Pemindahan Tanah Mekanis. Jurusan Teknik Pertambangan. Institut Teknologi Bandung. Hariyono, Achmad. (2012). “Analisa Penerapan Model Transportasi Distribusi Dengan Menggunakan NWCM dan SSM Pada Harian Tribun Timur Makassar”. Skripsi. Universitas Hasanudin Makassar. Anif , Victor. 2011. Proyek Akhir. Padang: Universitas Negeri Padang. Anonim, Data-data, Laporan, dan Arsip. PT. Inti Bara Perdana. Kuntoro, Mangkusubroto. 1996. Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum. Jakarta: -

69

72

LAMPIRAN A CONTOH ILUSTRASI NORTH WEST CORNER METHOD Untuk solusi awal dari masalah transportasi, digunakan North West Corner Method (Metode Pojok Barat Laut). Untuk memulai penyelesaian permasalahan transportasi, terlebih dahulu disusun tabel transportasi seperti Tabel A.1. Tabel A.1 Tabel Transportasi untuk Metode Pojok Barat Laut

Dimana : - B1, B2 ... Bm

= sumber material atau tempat penyedia material

- K1, K2, ... Kn

= tujuan material atau tempat untuk penempatan material

- ai (a1, a2 ... am)

= jumlah material yang ditawarkan oleh sumber

- bj (b1, b2 ... bn)

= jumlah material yang diminta oleh tujuan

- Cmn (C1n, Cm2 ...) = ongkos operasi per unit - Xmn (X1n, Xm2 ...) = jumlah material yang dikirim sumber ke tujuan, satuan

Langkah-langkah dalam metode ini adalah sebagai berikut : 1. Dimulai dengan mengisi kotak pojok barat laut. 2. Langkah di atas diulangi sambil melangkah menuju ke arah pojok kanan bawah.

73

Untuk ilustrasi dari Metode Pojok Barat Laut, dapat dilihat pada contoh dibawah ini: Terdapat 3 Pit penambangan yaitu: - Pit A dengan volume 110 BCM - Pit B dengan volume 40 BCM - Pit C dengan volume 50 BCM Overburden tersebut akan diangkut ke 3 Disposal yaitu: - Disposal 1 dengan daya tampung 100 BCM - Disposal 2 dengan daya tampung 50 BCM - Disposal 3 dengan daya tampung 40 BCM Dengan biaya pengiriman yaitu: - Pit A ke Disposal 1, 2, dan 3 masing-masing adalah 15, 4 dan 8. - Pit B ke Disposal 1, 2, dan 3 adalah 15, 20 dan 10. - Pit C ke Disposal 1, 2, dan 3 adalah 25, 10 dan 15.

Untuk Penyelesaiannya adalah sebagai berikut : 1. Pembuatan Tabel Transportasi, data diatas dipindahkan kedalam tabel transortasi seperti pada tabel dibawah ini. Tabel A.2 Tabel Transportasi Awal Contoh Metode Pojok Barat Laut

Pit A Pit B Pit C Kapasitas Disposal

Disposal 1

Disposal 2

Disposal 3

15

4

8

X11

X12

X13

15 X21

20 X22

25 X31

10 X23

10 X32

100

Dimana: X11 = Volume Overburden

15 X33

50

40

Kapasitas Pit 110 40 50 200

74

2. Langkah-langkahnya Metode Pojok Kiri Atas adalah sebagai berikut : -

Dimulai dari sel (1,1) yaitu menentukan nilai dari X11 = {Pita A,Disposal 1} = {110,100}. X11 = 100, volume dari pit diangkut ke disposal 1 sesuai dengan kapasitas maksimum disposal 1. maka K1 terpenuhi, dilanjutkan mendatar yaitu sel (1,2)

-

X12 = (Kapasitas Pit A - X11) = (110 - 100) = 10 , maka dimasukkan ke Disposal 2. Karena Pit A menyediakan volume sebanyak 110, untuk Disposal 3 tidak dapat terpenuhi dan dilanjutkan ke sel X21.

-

X21 tidak adanya pemindahan material dikarenakan Disposal 1 sudah terpenuhi sehingga dilanjutkan ke Disposal 2.

-

Untuk X22, pemindahan material dari pit disesuaikan dengan kapasitas disposal yang telah terisi 10 dari sisa Pit A. Sehingga volume sebanyak 40 dimasukkan ke disposal 2. Jadinya (40 + 10 = 50).

-

X23 tidak ada pemindahan material dikarenakan volume overburden di Pit B sudah mencukupi di Disposal 2.

-

X31 juga tidak ada pemindahan material dikarenakan volume overburden di Disposal 1 sudah terpenuhi oleh Pit A.

-

X32 tidak ada pemindahan karena volume disposal 2 sudah terpenuhi oleh Pit A dan Pit B.

-

Untuk X33, semua volume di Pit C dipindahkan ke Disposal 3 karena sesuai dengan kapasitas dari Disposal 3.

Sehingga tabel transportasinya menjadi : Tabel A.3 Tabel Transportasi Akhir Contoh Metode Pojok Barat Laut

Pit A Pit B Pit C Kapasitas Disposal

Disposal 1

Disposal 2

Disposal 3

15

4

8

100

10

x

15 x

20 40

x

25 x

10 x

100

10 15 50

50

50

Kapasitas Pit 110 40 50 200

75

Dari tabel diatas terlihat kotak yang terisi adalah : XA1, XA2, XB2, dan XC3. Sedangkan kotak yang kosong adalah : XA3, XB1, XB3, X C1, dan XC2. Sehingga untuk biaya awalnya adalah : Z = (100.15 + 10.4 + 40.20 + 50.15) = (1500 + 40 + 800 + 750) = $ 3,090.

76

LAMPIRAN B CONTOH ILUSTRASI METODE MODI Untuk penyelesaian akhir atau mencari jawab optimal dari masalah transportasi, digunakan Modified Distribution Method (Metode MoDi). Ilustrasi dari Metode Pojok Barat Laut sebelumnya adalah sebagai berikut : Dari 3 tempat Loading Point (tempat pemuatan) B1, B2 dan B3 terdapat overburden

sebanyak masing-masing

90 BCM, 60 BCM

dan 50 BCM.

Overburden tersebut akan diangkut ke 3 Dumping Point (tempat penimbunan) K1, K2 dan K3 yang masing-masing mempunyai daya tampung 50 BCM, 110 BCM dan 40 BCM. Biaya pengiriman (dalam $/BCM) dari loading point B1 ke dumping point K1, K2 dan K3 masing-masing adalah 20, 5 dan 8. Biaya pengiriman dari loading point B2 ke dumping point K1, K2 dan K3 adalah 15, 20 dan 10, sedangkan biaya pengiriman dari loading point B3 ke dumping point K1, K2 dan K3 adalah 25, 10 dan 19. Tabel transportasi yang telah dibuat dari Metode Pojok Barat Laut pada Lampiran A, yaitu Tabel B.1 di bawah ini. Tabel B.1 Tabel Transportasi Simulasi I untuk Metode MoDi K1 B1 B2 B3 bj

K2

K3

20 50

5 40

x

15 x

20 60

10 x

25 x

10 10

50

ai 8

19 40

110

40

90 60 50 200

Pada tabel transportasi di atas (Tabel B.1), didapatkan biaya awal : Z = C11 X11 + C12 X12 + C22 X22 + C32 X32 + C33 X33 Z = (20.50 + 5.40 + 20.60 + 10.10 + 19.40) Z = (1000 + 200 + 1200 + 100 + 760) Z = $ 3.260 Dari perolehan biaya awal di atas, kemudian muncul pertanyaan : “Apakah biaya tersebut sudah optimal?”. Untuk mendapatkan biaya yang

77

optimal, dilakukan simulasi menggunakan Metode MoDi. Adapun langkahlangkah dalam pengerjaan metode ini adalah sebagai berikut : a. Isilah Tabel Transportasi dengan menggunakan Solusi Model Transportasi Awal (dalam hal ini menggunakan Metode Pojok Barat Laut (Tabel B.1) b. Menentukan nilai bilangan baris dan kolom. Untuk pemberian nilai pertama, nol (0), penulis menggunakan pendapat pertama : nilai diberikan pada baris yang pertama. Dengan demikian pemberian nilai untuk pertama kali dapat dilihat pada Tabel B.2 di bawah ini, Tabel B.2 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) I K1 0

B1 B2 B3

K2 20

50

40

x

20 60

10

10 10

50

90 60

x

25 x

ai 8

x

15

bj

K3 5

19

50

40 110

40

200

Selanjutnya dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain : - Sel C11

= B1 + K1 → 20

= 0 + K1, nilai K1 = 20

- Sel C12

= B1 + K2 → 5

= 0 + K2, nilai K2 = 5

- Sel C22

= B2 + K2 → 20

= B2 + 5, nilai B2 = 15

- Sel C32

= B3 + K2 → 10

= B3 + 5, nilai B3 = 5

- Sel C33

= B3 + K3 → 19

= 5 + K3, nilai K3 = 14

Nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, dan hasilnya adalah : Tabel B.3 Pemberian Nilai Baris dan Kolom I

0

B1

15

B2

5

B3 bj

20

5

14

K1

K2

K3

20 50

5 40

x

15 x

20 60 10 10

50

10 x

25 x

ai 8

19 40

110

40

90 60 50 200

78

c. Menghitung indeks perbaikan Perhitungan Indeks Perbaikan dengan cara : Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom - Sel C13 = 8 – 0 – 14 = -6

- Sel C23 = 10 – 15 – 14 = -19

- Sel C21 = 15 – 15 – 20 = -20

- Sel C31 = 25 – 5 – 20 = 0

d. Memperbaiki alokasi Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C21 akan memberikan penurunan biaya transportasi paling besar ($ 20/BCM). Oleh karena itu, dilakukan perubahan alokasi pengiriman menuju sel tersebut :  Buat loop tertutup yang melalui sel C21  Berilah tanda positif pada sel tersebut.  Pilih satu sel sebaris (C12) dan sel sekolom (C22) yang terdekat dan terisi, beri tanda negatif.  Pindahkan alokasi dari sel negatif ke sel positif sebanyak isi terkecil dari sel negatif. Pergerakan perubahan alokasi dapat dilihat pada Tabl B.4 di bawah ini. Tabel B.4 Pergerakan Perubahan Alokasi Pengiriman I

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, didapatkan tabel transportasi : Tabel B.5

Pada tabel transportasi di atas (Tabel B.5), didapatkan biaya operasi : Z = C12 X12 + C21 X21 + C22 X22 + C32 X32 + C33 X33 Z = (5.90 + 15.50 + 20.10 + 10.10 + 19.40) Z = (450 + 750 + 200 + 100 + 760)

79

Z = $ 2,260 Untuk mengetahui optimal atau tidaknya perolehan biaya operasi pada pengujian kedua ini, maka dilakukan pengujian berikutnya. Pengujian dilakukan dengan cara mengulang pengujian dari Langkah a, menggunakan Tabel B.5 sebagai tabel transportasi untuk pemberian nilai awal nol (0). Tabel B.6 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) II K1 0

K2 20

B1

x

5 90

50 x

10 x

10 10

50

bj

8

20 10

25

B3

ai

x

15

B2

K3

19 40

110

40

90 60 50 200

Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain : - Sel C12 = B1 + K2 → 5 = 0 + K2, nilai K2 = 5 - Sel C22 = B2 + K2 → 20 = B2 + 5, nilai B2 = 15 - Sel C21 = B2 + K1 → 15 = 15 + K1, nilai K1 = 0 - Sel C32 = B3 + K2 → 10 = B3 + 5, nilai B3 = 5 - Sel C33 = B3 + K3 → 19 = 5 + K3, nilai K3 = 14 Nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, dan hasilnya adalah : Tabel B.7 Pemberian Nilai Baris dan Kolom II

0

B1

15

B2

5

B3

0

5

14

K1

K2

K3

20 x

5 90

x

15 50

20 10

bj

10 10

50

110

Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom = 20 – 0 – 0

= 20

19 40

Perhitungan Indeks Perbaikan dengan cara :

- Sel C11

10 x

25 x

ai 8

40

90 60 50 200

80

- Sel C13

= 8 – 0 – 14

- Sel C23

= 10 – 15 – 14 = -19

- Sel C31

= 25 – 5 – 0

= -6

= 20

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C23 akan memberikan penurunan biaya transportasi paling besar ($ 19/BCM). Oleh karena itu, dilakukan perubahan alokasi pengiriman menuju sel tersebut :  Buat loop tertutup yang melalui sel C23  Berilah tanda positif pada sel tersebut.  Pilih satu sel sebaris (C22) dan sel sekolom (C33) yang terdekat dan terisi, beri tanda negatif.  Pindahkan alokasi dari sel negatif ke sel positif sebanyak isi terkecil dari sel negatif. Pergerakan perubahan alokasi dapat dilihat pada Tabl B.8 di bawah ini. Tabel B.8 Pergerakan Perubahan Alokasi Pengiriman II

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, didapatkan tabel transportasi : Tabel B.9 Tabel Transportasi Simulasi III untuk Metode MoDi

Pada tabel transportasi di atas (Tabel B.9), didapatkan biaya operasi : Z = C12 X12 + C21 X21 + C23 X23 + C32 X32 + C33 X33

81

Z = (5.90 + 15.50 + 10.10 + 10.20 + 19.30) Z = (450 + 750 + 100 + 200 + 570) Z = $ 2,070 Untuk mengetahui optimal atau tidaknya perolehan biaya operasi pada pengujian kedua ini, maka dilakukan pengujian berikutnya. Pengujian dilakukan dengan cara mengulang pengujian dari Langkah a, menggunakan Tabel B.9 sebagai tabel transportasi untuk pemberian nilai awal nol (0). Tabel B.10 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) III K1 0

B1 B2 B3

K2

K3

20

8

90 20 x 10 20 50

bj

10 10

25 x

90

x

15 50

ai

5

19 30

110

40

60 50 200

Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain : - Sel C12 = B1 + K2 → 5

= 0 + K2, nilai K2 = 5

- Sel C32 = B3 + K2 → 10

= B3 + 5, nilai B3 = 5

- Sel C33 = B3 + K3 → 19

= 5 + K3, nilai K3 = 14

- Sel C23 = B2 + K3 → 10

= B2 + 14, nilai B2 = -4

- Sel C21 = B2 + K1 → 15

= -4 + K1, nilai K1 = 19

Nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, dan hasilnya adalah : Tabel B.11 Pemberian Nilai Baris dan Kolom III

0

B1

-4

B2

5

B3

19

5

14

K1

K2

K3

20

5 90

x

15 50

20 x 10 20

Perhitungan Indeks Perbaikan dengan cara : bj

50

10 10

25 x

ai 8

110

19 30 40

Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom

90 60 50 200

82

- Sel C11

= 20 – 0 – 19

=1

- Sel C13

= 8 – 0 – 14

= -6

- Sel C22

= 20 – (-4) – 5 = 19

- Sel C31

= 25 – 5 – 19

=1

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pemindahan alokasi pengiriman ke sel C13 akan memberikan penurunan biaya transportasi paling besar ($ 6/BCM). Oleh karena itu, dilakukan perubahan alokasi pengiriman menuju sel tersebut :  Buat loop tertutup yang melalui sel C13  Berilah tanda positif pada sel tersebut.  Pilih satu sel sebaris (C12) dan sel sekolom (C33) yang terdekat dan terisi, beri tanda negatif.  Pindahkan alokasi dari sel negatif ke sel positif sebanyak isi terkecil dari sel negatif. Pergerakan perubahan alokasi dapat dilihat pada Tabl B.12 di bawah ini. Tabel B.12 Pergerakan Perubahan Alokasi Pengiriman III

Dari pergerakan dan tanda +/- yang ada, didapatkan tabel transportasi : Tabel B.13 Tabel Transportasi Simulasi IV untuk Metode MoDi

Pada tabel transportasi di atas (Tabel B.13), didapatkan biaya operasi :

83

Z = C12 X12 + C13 X13 + C21 X21 + C23 X23 + C32 X32 Z = (5.60 + 8.30 + 15.50 + 10.10 + 10.50) Z = (300 + 240 + 750 + 100 + 500) Z = $ 1,890 Untuk mengetahui optimal atau tidaknya perolehan biaya operasi pada pengujian kedua ini, maka dilakukan pengujian berikutnya. Pengujian dilakukan dengan cara mengulang pengujian dari Langkah a, menggunakan Tabel B.13 sebagai tabel transportasi untuk pemberian nilai awal nol (0). Tabel B.14 Tabel Transportasi untuk Pemberian Nilai Awal Nol (0) IV K1 0

B1 B2 B3

K2 20

K3 5

60

30

15 50

20 x 10 50

50

bj

10 10

25 x

ai 8

19 x

110

40

90 60 50 200

Selanjutnya kembali dilakukan pemberian nilai untuk baris dan kolom yang lain : - Sel C12 = B1 + K2 → 5

= 0 + K2, nilai K2 = 5

- Sel C13 = B1 + K3 → 8

= 0 + K3, nilai K3 = 8

- Sel C23 = B2 + K3 → 10

= B2 + 8, nilai B2 = 2

- Sel C21 = B2 + K1 → 15

= 2 + K1, nilai K1 = 13

- Sel C32 = B3 + K2 → 10

= B3 + 5, nilai B3 = 5

Nilai-nilai untuk setiap baris dan kolom tersebut kemudian dimasukkan ke tabel transportasi yang ada, dan hasilnya adalah : Tabel B.15 Pemberian Nilai Baris dan Kolom IV

0

B1

2

B2

13

5

8

K1

K2

K3

20

5 60 20 x

25

50

10 10

5 B3 Perhitungan Indeks Perbaikan dengan50cara : x bj

8 30

15 50

ai

110

10

19 x 40

90 60 50 200

84

Biaya pada sel kosong – nilai baris – nilai kolom - Sel C11

= 20 – 0 – 13

=7

- Sel C22

= 20 – 2 – 5

= 13

- Sel C31

= 25 – 5 – 13

=7

- Sel C33

= 19 – 5 – 8

=6

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa semua kemungkinan pemindahan alokasi pengiriman sudah positif atau tidak dapat memberikan penurunan biaya lagi. Oleh karena itu Tabel B.15 di atas telah optimal, dengan total biaya operasi : Z = C12 X12 + C13 X13 + C21 X21 + C23 X23 + C32 X32 Z = (5.60 + 8.30 + 15.50 + 10.10 + 10.50) Z = (300 + 240 + 750 + 100 + 500) Z = $ 1,890

85

LAMPIRAN C Data Curah Hujan 2014

Keterangan: HR = Hour (jam)

86

Data Curah Hujan 2015

Keterangan: HR = Hour (jam)

87

LAMPIRAN D

88

89

LAMPIRAN E

90

LAMPIRAN F HAULER DI PT CIPTA KRIDATAMA

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Kode Unit CO221 CO235 CO236 CO237 CO238 CO239 CO240 CO241 CO244 CO258 CO262 CO280 CO282 CO283 CO284 CO285 CO286 CO287 CA045 CA047 CA048 CA067

Type Unit CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 775F CAT 740 CAT 740 CAT 740 CAT 740B

Kapasitas vessel 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 27 m³ 15 m³ 15 m³ 15 m³ 15 m³

Keterangan: - CO = Caterpillar Off Highway Truck (OHT) - CA = Caterpillar Articulated Dump Truck (ADT)

91

LAMPIRAN G LOKASI PIT DAN LOKASI DISPOSAL

Pit BBS

IPD U

OPD U OPD S

IPD S

Pit T

Pit S

Keterangan: -

Skala 1 : 6000 Pit BBS, T, S = Pit IPD U = In Pit Dump Utara (Disposal) IPD S = In Pit Dump Selatan (Disposal) OPD U = Out Pit Dump Utara (Disposal) OPD S = Out Pit Dump Selatan (Disposal)

92

LAMPIRAN H Waktu Edar Unit Off Highway Truck (OHT)(detik)

Perhitungan waktu edar dilakukan untuk mendapatkan waktu tempuh pada Off Highway Truck dari lokasi pit ke lokasi diposal. Pengambilan data dilakukan di tiga lokasi pit yaitu Pit BBS, Pit Tengah, dan Pit Selatan. Data yang penulis dapatkan di Pit BBS dapat dilihat pada tabel H.1 dibawah ini. Tabel H.1 Waktu Edar di Pit BBS No

Waktu Manuver 1

Waktu Isi Muatan

Waktu Angkut Muatan

Waktu Manuver 2

Waktu Dumping

Waktu Muatan Kosong

Waktu Tunggu

Total

1

11

99

30

10

24

36

63

273

2

14

97

28

25

34

26

53

277

3

9

111

20

37

25

22

4

12

107

23

20

32

22

5

11

120

29

19

24

19

6

11

104

25

13

25

30

48

256

7

8

109

29

20

26

56

15

263

8

10

109

36

20

27

58

17

277

9

10

105

30

15

22

24

10

6

96

23

26

31

24

224 45

261 222

206 54

260

Ratarata 251,9

93 Pengambilan data dilakukan dengan jarak dari Pit ke Disposal yaitu 200 m. Dari tabel H.1 diatas dapat dilihat rata-rata dari waktu edar yang didapatkan adalah 251,9 detik. Untuk mendapatkanwaktu tempuh detik per meter nya dilakukan perhitungan yaitu membagi ratarata dari waktu edar dengan jaraknya dari pit ke disposal. Dimana rata-rata waktu edarnya 251,9 detik/ 200 m jarak pit ke disposal = 1,259 detik/meter. Waktu edar pada lokasi Pit Tengah dapat dilihat pada tabel H.2 dibawah ini.

Tabel H.2 Waktu Edar di Pit Tengah Waktu Manuver 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

29 92 26 94 37 29 28 39 26 35

Waktu Isi Muatan

Waktu Angkut Muatan

Waktu Manuver 2

Waktu Dumping

Waktu Muatan Kosong

111 105 60 102 113 118 94 75 117 131

112 94 108 93 104 75 94 99 105 106

18 14 23 20 25 21 26 22 28 24

34 126 45 34 32 33 36 37 30 32

105 73 82 103 95 123 105 115 140 173

Waktu Tunggu 12 5 210 72 135 50 17 35

Total 421 504 349 656 478 534 433 387 463 536

Ratarata 476,1

Dari tabel H.2 diatas dapat dilihat rata-rata waktu edar yang didapatkan yaitu 476,1 detik. Dengan jarak dari Pit ke Disposal adalah 400 m. Untuk mendapatkan waktu tempuh detik per meter nya juga dilakukan perhitungan yaitu membagi rata-rata dari waktu edar dengan

94 jaraknya dari pit ke disposal. Dimana 476,1 detik/ 400 m = 1,190 detik/meter. Untuk waktu edar pada lokasi Pit Selatan dapat dilihat pada tabel H.3 dibawah ini. Tabel H.3 Waktu Edar di Pit Selatan No

Waktu Manuver 1

Waktu Isi Muatan

Waktu Angkut Muatan

Waktu Manuver 2

Waktu Dumping

Waktu Muatan Kosong

Waktu Tunggu

Total

1

40

168

67

18

23

66

33

415

2

26

149

69

23

30

55

54

406

3

23

153

69

50

23

70

4

38

158

68

27

27

62

18

398

5

24

177

67

22

39

62

39

430

6

24

160

59

30

30

113

416

7

28

161

64

51

32

65

401

8

22

126

64

29

37

55

333

9

33

124

71

92

28

67

34

449

10

10

128

66

32

27

78

30

371

Ratarata 400,7

388

Dari tabel H.3 diatas dapat dilihat rata-rata waktu edar yang didapatkan yaitu 400,7 detik. Dengan jarak dari Pit ke Disposal adalah 300 m. Untuk mendapatkan waktu tempuh detik per meter nya dilakukan perhitungan yaitu membagi rata-rata dari waktu edar dengan jaraknya dari pit ke disposal. Dimana 400,7 detik/ 300 m = 1,335 detik/meter.

95 Berdasarkan dari ketiga tabel diatas telah didapatkan waktu tempuh perjaraknya masing-masing. Untuk mendapatkan rata-rata waktu tempuh dari ketiga tabel dilakukan perhitungan sebagai berikut: Waktu tempuh rata-rata = (waktu tempuh tabel H.1 + waktu tempuh tabel H.2 + waktu tempuh tabel H.3)/ 3 = (1,259 dtk/m + 1, 190 dtk/m + 1,335 dtk/m)/3 = 1,261 dtk/m. Sehingga didapatkan rata- rata waktu tempuh dari ketiga cycle time pada OHT yaitu 1,261 detik/m.

Related Documents

Makalah
June 2020 40
Makalah
July 2020 39
Makalah
October 2019 94
Makalah
July 2020 62
Makalah
November 2019 85
Makalah
October 2019 95

More Documents from ""