Laptut Psi 1.docx

  • Uploaded by: Hanif Faried
  • 0
  • 0
  • December 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Laptut Psi 1.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 8,179
  • Pages: 33
LAPORAN TUTORIAL BLOK KULIT SKENARIO II MENGAMUK

KELOMPOK A10 HAIKAL FAIQ ALBASITH

G0016099

HANIF OMAR FARIED

G0016101

SAHRUL FAJAR R

G0016193

SANDY AKBAR P P

G0016195

SONYA DELLANIA R

G0016207

STEFANI JUTIEN SARI

G0016209

SYA’IRUL TANDI ALLA

G0016211

TASYA FIRZANNISA M P

G0016213

TIARA MAHZA WARDHANI

G0016215

TINET ENDAH RINANI

G0016217

VINA ALEXANDRA KURNI

G0016221

VITA PERTIWI

G0016223

MARIA MARGARETHA V P

G0016241

TUTOR : Nanang Wiyono, dr., MKes FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA TAHUN 2018

BAB I PENDAHULUAN SKENARIO 1

MENGAMUK Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke IGD RS oleh keluarga dan tetangganya karena mengamuk dan hampir membakar rumahnya sendiri. Menurut keluarganya pasien sering marah-marah dan teriak-teriak tanpa sebab sejak 4 minggu lalu. Pasien juga sering curiga terhadap orang lain, bahkan pasien juga merasa bahwa tetangga dan keluarganya merencanakan niat jahat terhadap dirinya. Menurut keluarga, sepertinya dia mengalami stress berat karena hal tersebut terjadi setelah beberapa kali melamar pekerjaan di beberapa tempat tidak diterima. Sehari-harinya tampak tidak terawat, tidak mau mandi, tampak bingung, pakaian kusut dan kumal. Keluarganya pernah membawanya ke paranormal namun tidak ada perbaikan, kemudian atas saran kepala desa dia dibawa ke rumah sakit jiwa. Dokter jaga di RSJ mengatakan bahwa pasien didapatkan waham, halusinasi, derealisasi yang menyebabkan perilaku aneh. Dokter juga menduga kesehatan mental pasien mengalami gangguan. Dokter jaga mengatakan bahwa pasien harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan kontrol rutin untuk penanganan yang lebih baik.

BAB II DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA A. Langkah I : Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah dalam skenario 1. Waham : satu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru, berdasarkan kesimpulan yang keliru tentang kenyataan eksternal, tidak konsisten dengan intelegensi dan latar belakang budaya pasien, dan tidak bisa diubah lewat penalaran atau dengan jalan penyajian fakta. 2. Halusinasi : persepsi atau tanggapan palsu, tidak berhubungan dengan stimulus eksternal yang nyata; menghayati gejala-gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang nyata. 3. Derealisasi : perasaan subjektif bahwa lingkungan seseorang menjadi asing, tidak nyata. 4. Stress : segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri yang bila tidak diatasi dengan baik, akan mengganggu keseimbangan hidup dari manusia. B. Langkah II : Menentukan/mendefinisikan permasalahan Masalah yang terdapat pada skenario “Mengamuk? ” adalah: 1. Mengapa waham bisa terjadi? 2. Apa saja jenis-jenis waham dan mekanismenya? 3. Apa saja klasifikasi gangguan jiwa dan penyebabnya? 4. Apa saja penyebab dan jenis-jenis halusinasi? 5. Bagaimana orang bisa dikatakan sehat secara mental? 6. Bagaimana stress bisa terjadi? Bagaimana klasifikasi dan tingkatan stress? 7. Apa yang membuat pasien dianjurkan untuk rawat inap? 8. Apa akibat dari stress berat terhadap fungsi otak? 9. Apa saja pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk pasien? 10. Apa hubungan onset dengan keluhan pasien? 11. Apa saja diagnosis banding untuk pasien? C. Langkah III : Menganalisis permasalahan dan membuat pertanyaan sementara mengenai permasalahan (tersebut dalam langkah II) 1. Mengapa waham bisa terjadi? Dalam buku ajar psikiatri Kaplan dan Sadock, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat memiliki waham tertentu. Setidaknya ada 8 situasi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu:

a. Peningkatan harapan, yaitu ketika seseorang memiliki harapan yang terlalu tinggi, namun mengalami hambatan atau kegagalan dalam mewujudkannya. b. Mendapat perlakuan sadistik misalnya kekerasan dalam rumah tangga yang berlangsung lama, atau praktik penyiksaan lainnya. c. Situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan. d. Isolasi sosial misalnya fenomena pasung. e. Situasi yang meningkatkan kecemburuan. f. Situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah). g. Situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain, misalnya merasa kurang cantik, kurang tinggi, kurang kurus. h. Situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu misalnya obsesi pada agama, obsesi pada ritual budaya, dan sebagainya. 2. Apa saja jenis-jenis waham dan mekanismenya? Menurut Maslim (2013), Waham/delusi adalah kepercayaan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang salah tentang kenyataan luar, yang tidak sesuai dengan latar belakang intelegensi dan kebudayaan pasien, serta tidak dapat dikoreksi dengan penalaran. Kriteria waham : Kriteria waham: (1)Pasien percaya 100% bahwa isi pikirnya benar; (2)Bersifat egosentrik; (3)Tidak sesuai dengan rasio logika; (4)Tidak bisa dikoreksi dengan cara apapun, termasuk dengan cara apapun, termasuk dengan cara yang logis dan realistis; (5)Pasien hidup atau berperilaku menurut wahamnya. Jenis-jenis waham menurut konsep dasarnya a. Waham Sistematis : yaitu waham yang tersusun dengan cara tertentu.

Merupakan keyakinan yang palsu yang digabungkan oleh suatu tema atau peristiwa tunggal yang melibatkan suatu situasi yang menurut akal dapat terjadi pada kenyataan. b. Waham Bizzare : merupakan keyakinan palsu yang aneh, mustahil, dan tidak

masuk akal. Tidak berasal dari pengalaman hidup pada umumnya. Biasanya di dapat pada spektrum skizofrenia. Jenis-jenis waham menurut temanya : a. Waham kejar : suatu pikiran bahwa pasien diganggu, diserang, dikejar atau disiksa oleh suatu komplotan.

b. Waham referensi : suatu keyakinan bahwa objek, kejadian, atau seseorang memiliki makna pribadi bagi dirinya. Biasanya dalam suatu yang negatif seperti merasa bahwa orang lain tengah membicarakan kejelekan dirinya. c. Waham kebesaran : menunjukkan kepentingan, kekuatan, pengetahuan, atau identitas yang berlebihan atau berkaitan dengan orang terkenal maupun dewa. d. Waham rasa bersalah atau ketidak berhargaan : bertema khas berupa kesalahan kecil dari hukum pada masa lalu akan ditemukan dan membawa malu pada pasien, atau kesalahannya akan membawa ganti rugi pada keluarganya. e. Waham agama : keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan atau berisi tentang nilai-nilai agama. f. Waham somatik : keyakinan mengenai fungsi tubuh pasien, dimana pasien merasa memiliki cacat fisik atau kondisi medis umum. g. Waham nihilistik : keyakinan seseorang mengenai ketiadaan beberapa orang atau sesuatu termasuk ketiadaan dirinya. h. Waham cemburu : keyakinan palsu yang didapat dari kecemburuan patologis bahwa kekasih pasien tidak jujur. i. Waham cinta : pasien merasa dicintai oleh pria yang biasanya tidak dapat dicapai, dari golongan sosial yang lebih tinggi, dan biasanya belum pernah diajak bicara. j. Waham Pengendalian : kepercayaan bahwa tindakan, perasaan, dan kemauan pasien dikendalikan oleh kekuatan dari luar. (1) Penarikan pikiran, keyakinan bahwa pikirannya telah ditarik keluar. (2) Penanaman pikiran, keyakinan bahwa beberapa pikirannya bukan miliknya dan telah ditanam oleh kekuatan dari luar. (3) Penyiaran pikiran, keyakinan bahwa pikirannya dapat didengar oleh orang lain. (4) Pengendalian pikiran, keyakinan bahwa pikirannya telah dikendalikan oleh orang lain. 3. Apa saja klasifikasi gangguan jiwa dan penyebabnya? Klasifikasi/penggolongan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia sendiri mengacu kepada ICD (International Classification of Disease) dan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder). Penegakkan diagnosis ini menggunakan metode bernama diagnosis multiaksial. ● AKSIS I Gangguan klinis (F0 - F59) : Gangguan mental yang menyebabkan rendahnya fungsi dan tertekannya individu serta kondisi lain yang menjadi fokus perhatian diagnosis

● AKSIS II Gangguan kepribadian (F60 - F90) : Pola perilaku maladaptif yang kaku dan biasanya merusak hubungan antar pribadi dan adaptasi sosial ● AKSIS III Kondisi Medik Umum (BAB I – XXI) : Kondisi klinis yang diduga menjadi penyebab atau bukan penyebab gangguan yang dialami individu. ● AKSIS IV Masalah Psikososial dan Lingkungan Masalah dengan keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses pelayanan kesehatan, hukum, psikososial ● AKSIS V Global Assesment of Functioning /GAF Scale (100-1) :Assessment fungsi secara global mencakup assessment menyeluruh tentang fungsi psikologis sosial dan pekerjaan klien 4. Apa saja penyebab dan jenis-jenis halusinasi? a. Etiologi Menurut Townsend, M.C (1998), halusinasi sering disebabkan karena panik, stress berat yang mengancam ego yang lemah dan isolasi sosial menarik diri. Isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami kebutuhan untuk meningkatkan keterlibatan atau hubungan dengan orang lain akan tetapi tidak mampu untuk melakukan hubungan tersebut. Isolasi sosial menarik diri merupakan usaha untuk menghindari interaksi atau hubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir, berperasaan, dan selalu mengalami kegagalan. b. Faktor predisposisi ● Biologis : Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Contohnya Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. ● Psikologis

keluarga

:

pengasuh

dan

lingkungan

penderita

sangat

mempengaruhi respon dan kondisi psikologis penderita. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup penderita. ● Sosial budaya : kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stres. c. Jenis-jenis halusinasi

● halusinasi hipnagogik: persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika mulai jatuh tertidur, secara umum bukan tergolong fenomena patologis. ● halusinasi hipnapompik: persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika seseorang mulai terbangun, secara umum bukan tergolong fenomena patologis. ● halusinasi auditorik: persepsi suara yang keliru, biasanya berupa suara orang meski dapat saja berupa suara lain seperti musik, merupakan jenis halusinasi yang paling sering ditemukan pada gangguan psikiatri. ● halusinasi visual: persepsi penglihatan keliru yang dapat berupa bentuk jelas (orang) atau pun bentuk tidak jelas (kilatan cahaya), sering kali terjadi pada gangguan medis umum. ● halusinasi penciuman: persepsi penghidu keliru yang seringkali terjadi pada gangguan medis umum. ● halusinasi pengecapan: persepsi pengecapan keliru seperti rasa tidak enak sebagai gejala awal kejang, seringkali terjadi pada gangguan medis umum. ● halusinasi taktil: persepsi perabaan keliru seperti phantom libs (sensasi anggota tubuh teramputasi), atau formikasi (sensasi merayap di bawah kulit). ● halusinasi somatik: sensasi keliru yang terjadi pada atau di dalam tubuhnya, lebih sering menyangkut organ dalam (juga dikenal sebagai cenesthesic hallucination). ● halusinasi liliput: persepsi keliru yang mengakibatkan obyek terlihat lebih kecil (micropsia). ● halusinasi serasi afek: halusinasi atau ilusi yang isinya sesuai dengan afek. Contoh misalnya pasien depresi mendengar suara-suara yang menyatakan bahwa dirinya orang jelek sedangkan pasien mani mendengar suara yang menyatakan bahwa dirinya kuat, sangat berharga, sangat pandai. ● Halusinasi tidak serasi afek : halusinasi dan ilusi yang isinya tidak serasi dengan afek depresi maupun mania; kebalikannya dengan serasi afek 5. Bagaimana orang bisa dikatakan sehat secara mental? WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu

keadaan sempurna

baikjasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Notosoedirjo danLatipun

(2005),

mengatakan

bahwa

terdapat

banyak

cara

dalam

mendefenisikankesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak mengalami gangguanmental, (2) tidak jatuh sakit akibat stessor, (3) sesuai dengan

kapasitasnya

danselaras

dengan

lingkungannya,

dan

(4)

tumbuh

dan

berkembangsecara positif. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan,

bahkan

dirasakan

sebagai

siksaan

sehingga

menyebabkanseseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yangsehat. Konsep gangguan jiwa dari DSM IV adalah sindrom atau pola psikologisatau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikatakanoleh adanya distres atau disabilitas atau disertai peningkatan risiko kematian yangmenyakitkan, nyeri, disabilitas, atau sangat kehilangan kebebasan. Ciri-ciri sehat mental menurut WHO adalah sebagai berikut: a. Mempunyai kemampuan menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan ,meskipun kenyataan itu buruk. b. Mempunyai rasa kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya. c. Mempunyai kesenangan untuk memberi dari pada menerima. d. Merasa bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan. e. Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan. f. Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajarandikemudian hari.. g. Mengarahkan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif. h. Mempunyai daya kasih sayang yang besar serta mampu mendidik. 6. Bagaimana stress bisa terjadi? Bagaimana klasifikasi dan tingkatan stress? Stress terjadi akibat adanya stimulus yang bisa berasal dari eksternal maupun internal yang bersifat membahayakan, tidak terkendali, maupun melebihi kemampuan individu yang kemudian akan memberikan respon fisiologis dan psikologis untuk upaya penyesuaian diri terhadap situasi tersebut. Dalam stress stimulus-stimulus yang berperan disebut stressor. stressor ini kemudian akan membuat tubuh memproduksi hormo-hormon yang berperan dalam stress, yang biasanya bermanifestasi seperti denyut jantung meningkat, berkeringat, cemas, ansietas dll. Jenis-jenis stressor dapat berupa stressor fisik, stressor biologis, stressor kimia, dan stressor psikologis. Stress secara singkat dapat dibagi menjadi 2, yaitu distress (stress yang bersifat negatif) dan eustress (stress yang bersifat positif). Klasifikasi stress dapat dibagi menjadi 6 tahap, yaitu :

a. Tahap I : stress yang muncul menimbulkan efek stress yang positif b. Tahap II : mulai munculnya stress negatif berupa kelelahan, energi menurun dan hilangnya efek stress positif c. Tahap III : stress mulai mempengaruhi fungsi motorik dan terjadi gangguan tidur d. Tahap IV : mulai terganggunya aktifitas sehari-hari akibat stress e. Tahap V : terjadi kelelahan fisik dan mental yang semakin parah f. Tahap VI : munculnya serangan shock dan panik 7. Apa yang membuat pasien dianjurkan untuk rawat inap? Rehabilitasi bisa membantu dan melatih pasien untuk menghadapi dan mengelola kehidupan mereka sehari-hari. Tergantung pada kondisi tiap individu, para ahli medis profesional akan menetapkan program pengobatan yang sesuai bagi diri pasien, misalnya pelatihan perawatan diri (termasuk kebersihan diri, memasak, keselamatan rumah tangga, adaptasi terhadap masyarakat, dan penggunaan uang), pelatihan kemampuan kerja, manajemen stres, dan keterampilan interpersonal dengan anggota keluarga lainnya. Dukungan keluarga juga sangat penting bagi pasien. Jika keluarganya menghadapi pasien skizofrenia dengan cara dan sikap yang benar, mendukung pasien dengan mengikuti program pengobatan dengan benar, dan mengawasi perubahan kondisi dan gejalanya, maka pasien akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Namun, anggota keluarganya juga harus memperhatikan kesehatan fisik dan mental mereka sendiri, belajar bagaimana cara untuk bersantai, dan mencari bantuan jika diperlukan saat merawat pasien. Anggota keluarga harus menahan diri untuk tidak mengungkapkan komentar secara kritis, membuat sikap bermusuhan, dan menumbuhkan perasaan ikut campur secara berlebihan kepada diri pasien. Menurut penelitian yang dilakukan, sikap-sikap yang tidak diinginkan ini (emosi yang dikeluarkan secara negatif) telah terbukti meningkatkan tingkat kekambuhan penyakit skizofrenia. Lingkungan sekitar akan memengaruhi kondisi perawatan diri pasien. Biasanya tempat-tempat yang dirasakan paling nyaman oleh pasien akan dipilih, misalnya perawatan di rumah. Jika ada kebutuhan khusus, pasien mungkin perlu dirawat di rumah sakit. Integrasi pengobatan pasien skizofrenia ini bertujuan agar pengobatan jangka panjang pasien dapat berjalan dengan baik dan sukses. Pengobatan dan perawatan pasien skizofrenia dapat dilakukan di rumah. Akan tetapi, jika gejala skizofrenia yang

muncul tidak terkontrol dengan obat-obatan yang rutin dikonsumsi dan dianggap membahayakan, pasien dapat dirawat di rumah sakit. 8. Apa akibat dari stress berat terhadap fungsi otak?

Stres berat ini bisa memicu keluarnya hormon stress yang meliputi hormon kortisol dan sitokin-sitokin pro inflamasi. Melalui jalur dalam bagan diatas sudah jelas mekanisme yang terjadi jika hormon stres ini berkepanjangan, terutama bisa menyebabkan degenerasi otak yang bermanifestasi klinis demensia. Stress ini juga bisa mengganggu reseptor hormon kortisol yang ada di kelenjar pituitari sehingga peran mekanisme feedback kacau dan kortisol akan diproduksti terus menerus pada kasus depresi. Ini memperparah keadaan fisiologis manusia jika ditambah dengan sitokin-sitokin pro inflamasi yang dikeluarkan oleh mikroglia yang ada di otak sehingga lama-kelamaan akan merusak struktur otak itu sendiri sehingga menjadi degenerasi. 9. Apa saja pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk pasien? a. Pemeriksaan MRI/CT scan, digunakan untuk melihat kelainan neurologis di otak pasien, yang kemungkinan berkaitan dengan skizoafektif. b. Pemeriksaan histologi, pada pasien skizoafektif, bisa tampak berkurangnya substansi gray matter dan bertambahnya ruang yang diisi cairan serebrospinal. c. Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan darah dan skrining ada tidaknya kecanduan obat yang sering memberikan gejala yang sama dengan

schizophrenia. Pemeriksaan CT Scan dan MRI otak dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan di otak. Di samping itu, dilakukan pemeriksaan darah untuk menyingkirkan diagnosis banding lain yang memiliki gejala mirip dengan skizophrenia. d. Pemeriksaan psikologis. Dokter akan menanyakan tentang pikiran, perasaan, ada tidaknya waham (delusion), sikap/ perilaku, keinginan untuk bunuh diri atau melakukan kekerasan. Evaluasi psikologis: melalui percakapan, kuesioner, dll, dokter bisa memahami dan menganalisis gejala-gejala pasien, untuk mendiagnosis apakah pasien menderita skizophrenia atau penyakit mental lainnya. Skizophrenia bisa dibagi lagi menjadi jenis Paranoid, Katatonik, Tidak Terorganisir, dan Residual. Dokter juga akan menanyakan apakah pasien mengonsumsi minuman beralkohol atau narkoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi diri pasien. 10. Apa hubungan onset dengan keluhan pasien? Pada pasien perlu kita gali tentang informasi mengenai onset, di mana pada pasien psikotik onset sangat menentukan diagnosis. Ketika ditemukan gejala psikotik di bawah 4 minggu akan mendukung pada diagnosis gangguan psikotik akut, apabila telah lebih dari 4 minggu dengan memenuhi kriteria diagnosis yang lain dapat ditegakkan sebagai skizophrenia. 11. Apa saja diagnosis banding untuk pasien? a. Skizoprenia : gangguan mental yang ditandai dengan kerusakan mental dan gangguan karakteristik pada berbagai proses psikologis, termasuk delusi, kesulitan berasosiasi, kesulitan berbicara, halusinasi, flat afek, perasaan diri terganggu, dan hilang sentuhan dengan realitas. b. Skizoafektif : gangguan mental yang terdapat gejala seperti skizophrenia dan gejala gangguan mood. c. Bipolar afektif : Gangguan bipolar afektif adalah gangguan mood yang menyebabkan perubahan emosional yang radikal dan perubahan mood, dari mania, gelisah, hingga depresi. Kebanyakan orang bipolar mengalami episode mania dan depresi secara bergantian. d. Delusional : gangguan mental berat yang ditandai dengan adanya delusi tanpa ada gejala psikotik lain. D. Langkah IV : Menginventarisasi permasalahan secara sistematis dan pernyataan sementara mengenai permasalahan pada langkah III

E. Langkah

V

:

Merumuskan

tujuan

pembelajaran

Tujuan pembelajaran (learning objectives) pada skenario ini adalah: 1. Menjelaskan etiologi dan patofisiologi dari diagnosis banding 2. Menjelaskan faktor resiko dari diagnosis banding 3. Menjelaskan gejala dari diagnosis banding 4. Menjelaskan pemeriksaan dari diagnosis banding 5. Menjelaskan tatalaksana diagnosis banding

F. Langkah VI : Mengumpulkan informasi baru G. Langkah VII : Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru yang diperoleh 1. Menjelaskan etiologi dan patofisiologi dari diagnosis banding a. Skizophrenia Menurut patel (2014), patofisiologi skizophrenia sangat berkaitan dengan abnormalitas neurotransmitter. Sebagian besar teori yang ada menyebutkan bahwa kelebihan atau kekurangan neurotransmitter seperti dopamine, serotonine, dan glutamate merupakan etiologi utama skizophrenia. Teori lain mengungkapkan ketidakseimbangan neurotransmitter lain juga berperan, seperti aspartat, glisin, dan GABA.











Abnormalitas reseptor dopamine (D2) disebut-sebut sebagai penyebab banyaknya simptom pada skizophrenia, dalam hal ini terdapat empat jalur dopaminergik. (1) Jalur Nigrostriatal, berasal dari substansia nigra dan berakhir pada nucleus caudatus. Rendahnya kadar dopamine berefek pada sistem ekstrapiramidal, menyebabkan gejala motorik pada pasien. (2) Jalur mesolimbik, berasal dari Ventral Tegmental Area (VTA) ke area limbik. Jalur ini berperan pada gejala positif pasien skizophrenia karena kelebihan dopamine. (3) Jalur mesokortikal yang berasal dari VTA ke korteks. Gejala negatif dan defisiensi kognitif pada pasien skizophrenia disebabkan rendahnya kadar dopamine. (4) Jalur tuberoinfundibular, berasal dari hipotalamus ke kelenjar pituitary. Blockade atau berkurangnya kadar dopamine di area tuberoinfundibular menyebabkan naiknya kadar prolaktin, menyebabkan galactorrhea, amenorrhea, dan kurangnya libido. Hipotesis serotonin yang berkaitan dengan skizophrenia disebut-sebut karena efek lysergic acid diethylamide (LSD) yang meningkatkan kadar serotonin di otak. Beberapa riset terakhir mengembangkan obat yang memblokade reseptor serotonin dan dopamine sehingga terjadi inibisi gejala skizophrenia Glutamat adalah neurotransmitter eksitatori paling umum di otak. Normalnya, glutamate berada dalam kadar tinggi. Karena adanya glutamate antagonist, kadar glutamate menurun sehingga terjadi schizophrenia-like symptom Etiologi dari skizofrenia terdiri dari beragam faktor : Faktor Biologis Komplikasi kelahiran Bayi laki-laki yang memiliki komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia, hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap skizofrenia. Infeksi Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami skizofrenia. Hipotesis dopamine Dopamine merupakan neurotransmitter pertama yang berkontribusi terhadap gejala skizofrenia. Hampir semua obat antipsikotik baik tipikal maupun antipikal menyekat reseptor dopamine D2, dengan terhalangnya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan. Hipotesis serotonin Gaddum, Wooley, dan Show tahun 1954 mengobservasi efek lysergenic acid diethlamide (LSD) yaitu suatu zat yang bersifat campuran antagonis/agonis reseptor 5-HT. Ternyata zat tersebut menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang normal. Struktur otak

Daerah otak yang mendapatkan banyak perhatian adalah sistem limbik dan ganglia basalis. Otak pada penderita skizofrenia terlihat sedikit berbeda dengan orang normal, ventrikel terlihat melebar, penurunan massa abu-abu dan beberapa are terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas metabolik. Pemeriksaan mikroskopis dan jaringan otak ditemukan sedikit perubahan dalam distribusi sel otak yang timbul pada masa prenatal karena tidak ditemukannya sel glia, biasa timbul pada trauma otak setelah lahir. Faktor Genetik Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua, kaka laki-laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat kedua seperti paman, bibi, kakek/nenek, dan sepupu sikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia, sedangkan kembar dizigotik sebanyak 12%. Anak dan kedua orangtua yang skizofrenia berpeluang 40% satu orang tua 12%. b. Skizoafektif Patofisiologi skizoafektif tidak diketahui dengan tepat tetapi mungkin melibatkan

ketidakseimbangan

neurotransmitter

di

otak.

Kelainan

neurotransmitter serotonin, norepinefrin, dan dopamin dapat memainkan peran dalam gangguan ini. Kelainan grey matter dan white matter, terutama pada lobus frontal dan temporal juga pada hippocampus dan girus parahippocampal juga ditemukan pada beberapa penderita gangguan skizoafektif. Meskipun penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui dengan pasti, mungkin mirip dengan skizofrenia. Penanda genetik yang diteorikan berhubungan dengan gangguan skizoafektif meliputi gangguan kromosom 1q42 (dekat lokasi gen DISC1) dan gen BDNF. Paparan in utero terhadap virus, malnutrisi, atau bahkan komplikasi kelahiran juga dianggap dapat memainkan peran. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya menjelaskan penyebab gangguan skizoafektif. c. Bipolar afektif Beberapa faktor berkontribusi terhadap gangguan bipolar afektif pada seseorang, termasuk genetik, lingkungan, biokimia, neuropsikologi..

Gangguan bipolar terutama tipe 1 erat kaitannya dengan komponen genetik gen ANK3,CACNA1C, dan CLOCK. Saudara kandung pasien bipolar memiliki kemungkinan 7x lebih besar untuk terkena bipolar dibanding orang normal. Selain itu anak kandung dari orang penderita bipolar memiliki kemungkinan 50% untuk menderita gangguan psikiatrik. Studi ekspresi gen juga menunjukkan bahwa orang dengan gangguan bipolar, depresi berat, dan skizofrenia berbagi penurunan dalam ekspresi gen terkait oligodendrocytemyelin dan kelainan white matter di berbagai daerah otak. Berbagai jalur biokimia juga berperan dalam gangguan bipolar. Ada hipotesis katekolamin yang menyatakan bahwa peningkatan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan mania dan penurunan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan depresi. Ada kontribusi glutamat ke gangguan bipolar dan depresi berat. Sebuah studi postmortem dari lobus frontal individu dengan gangguan

ini

mengungkapkan

bahwa

kadar

glutamat

meningkat.

Ketidakseimbangan hormon dan gangguan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal yang terlibat dalam homeostasis dan respon stres juga dapat berkontribusi pada gambaran klinis gangguan bipolar. Faktor neuropsikologi juga bisa terlibat dalam gangguan bipolar. Misalnya penurunan aktivasi dan pengecilan grey matter dalam jaringan otak kognitif-kortikal, telah dikaitkan dengan pengaturan emosi pada pasien dengan gangguan bipolar. Peningkatan aktivasi di daerah otak limbik ventral yang memediasi pengalaman emosi dan pembentukan tanggapan emosional juga ditemukan. Ini memberikan bukti untuk perubahan fungsional dan anatomi dalam gangguan bipolar di jaringan otak yang terkait dengan pengalaman dan pengaturan emosi. Dalam beberapa kasus, faktor lingkungan seperti stress eksternal atau tekanan eksternal dapat berfungsi untuk memperburuk beberapa predisposisi genetik atau biokimia yang mendasari gangguan bipolar. Sebagai contoh, kehamilan bisa menyebabkan stres khusus untuk wanita dengan riwayat penyakit manik-depresif dan meningkatkan kemungkinan psikosis postpartum. d. Gangguan delusional Etiologi dari delusional masih kurang jelas, namun ada kaitannya dengan faktor genetik, biologis dan psikologis. Bila keluarga ada riwayat gangguan delusional atau skizophrenia atau sebagainya, seseorang lebih

mudah terkena gangguan delusional. Faktor biologis dapat memainkan beberapa peran dalam perkembangan gangguan delusional, karena delusi berhubungan dengan berbagai kondisi medis non psychiatric. Di antara pasien dengan gangguan neurologis, lesi pada ganglia basalis dan lobus temporal paling sering dikaitkan dengan delusional. Selain itu, beberapa pasien dengan gangguan delusional dilaporkan mengalami peningkatan kadar plasma homovanilic acid (dopamin metabolit) dibandingkan dengan orang normal. 2. Menjelaskan faktor resiko dari diagnosis banding a. Skizophrenia ● Riwayat keluarga dengan skizophrenia ● Peningkatan aktivasi sistem imun, seperti inflamasi atau autoimmune disease ● Usia ayah yang terlalu tua ● Komplikasi kehamilan, seperti malnutrisi atau paparan toksin atau virus yang menghambat perkembangan otak ● Penggunaan obat psikoaktif atau psikotropik selama sepuluh tahun atau selama dewasa-muda b. Skizoafektif ● Riwayat keluarga dengan gangguan skizoafektif. ● Mengalami kejadian yang membuat stress berat ● Adanya komplikasi pada kehamilan atau kelahiran ● Riwayat penggunaan zat psikoaktif seperti LSD c. Bipolar afektif ● Riwayat keluarga dengan gangguan bipolar ● Memiliki pengalaman yang bisa menyebabkan stress berat, seperti trauma kanak-kanak, kehilangan orang yang dicintai, dll. ● Memiliki kelainan struktur otak ● Adanya komplikasi pada kehamilan atau kelahiran d. Gangguan delusional ● Genetik : orang yang keluarganya ada yang menderita delusional atau skizophrenia memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena gangguan delusional. ● Biologis : abnormalitas pada otak ada hubungannya dengan gangguan delusional. Selain itu gangguan pada neurotransmiter ada kaitannya dengan gangguan delusional juga.

● Lingkungan/psikologis : orang yang lingkungannya membuat stress bisa memicu gangguan delusional. Selain itu orang-orang yang diisolasi oleh lingkungannya lebih beresiko terkena gangguan delusional. Contohnya, penggunaan narkotika dan alkohol juga bisa menyebabkan isolasi oleh lingkungan. 3. Menjelaskan gejala dari diagnosis banding a. Skizophrenia Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan daerah rural. Ada beberapa gejala schizophrenia, meliputi : Gejala Positif : perilaku psikotik yang tidak tampak pada orang sehat. Penderita dengan gejala positif bisa hilang sentuhan dengan dunia nyata. ● Halusinasi : contohnya seperti mendengar suara-suara yang seharusnya tidak ada, bisa juga melihat sesuatu yang seharusnya tidak nyata. ● Delusi/waham : penderita skizophrenia bisa memiliki waham yang aneh, misalnya seperti ada orang-orang yang ingin mencelakakan penderita. ● Gangguan berpikir : penderita skizophrenia memiliki cara pikir yang irasonal dan tidak logis. Salah satu bentuk gangguan berpikir adalah pikiran yang tidak terorganisir/berantakan, penderita akan kesulitan mengorganisir pikirannya atau menghubungkannya secara logis, akibatnya penderita mungkin berbicara terpatah-patah dengan katakata yang sulit dipahami. ● Gangguan bergerak : pada skizophrenia penderita akan tampak selalu gelisah, selalu mengulang-ulang gerakan yang sama dan tidak berarti. Saat parah, penderita bisa menjadi katatonik. Gejala Negatif : gangguan terhadap perilaku normal dan emosi penderita. Gejala negatif lebih susah dikenali sebagai gejala skizophrenia karena bisa disalahartikan sebagai gejala depresi atau gangguan lain.

● Flat affect : berkurangnya ekspresi emosi penderita melalui ekspresi wajah atau nada suara penderita. ● Berkurangnya rasa bahagia terhadap kegiatan sehari-hari. ● Kesulitan untuk memulai/melanjutkan suatu aktivitas, sehingga penderita tampak malas dan tidak membersihkan diri sendiri. ● Bicara penderita berkurang Gejala kognitif : gejala kognitif pada skizophrenia biasanya sulit diketahui, namun pada skizophrenia yang sudah parah, gejala ini lebih mudah terlihat. Sama seperti gejala negatif, gejala kognitif mudah disalahartikan sebagai gangguan selain skizophrenia. ● Gangguan untuk fokus atau memperhatikan sesuatu ● Gangguan “fungsi eksekutif” (kemampuan untuk memahami suatu informasi dan menggunakannya untuk memutuskan pilihan) ● Gangguan pada “memori kerja” (Kemampuan menggunakan suatu informasi tidak segera setelah mempelajarinya) Perjalanan Penyakit Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu dan berlanngsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa fase, yaitu : ● Premorbid : merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia dan gejalanya dikenali hanya secara retrospektif yang mengeluhkan gejala somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan masalah pencernaan. ● Prodromal : prodormal terdapat dalam bentuk cemas, gelisah, merasa diteror atau depresi. ● Fase Aktif : fase ini ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis, yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku, penilaian pasien skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri (tilikan) buruk sampai tidak ada. ● Fase Residual : ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala klinis skizofrenia dan hanya satu atau dua yang tersisa dan tidak terlalu nyata secara klinis, yaitu dapat berupa penarikan diri dan perilaku aneh. Ada beberapa tipe skizophrenia, yaitu : ● Tipe Paranoid : ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afektif yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham kecemburuan, keagamaan, atau somalisas) mungkin juga muncul. Ciri-ciri lainnya meliputi ansietas, kemarahan, menjaga jarak dan suka berargumentasi, dan agresif. ● Tipe Disorganized (tidak terorganisasi) : ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate. Pembicaraan yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat kaitannya dengan isi

pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku dapat membawa pada gangguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari. ● Tipe Katatonik : ciri utama skizofrenia tipe ini adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (waxy flexibility). Aktivitas motor yang berlebihan, negativism yang ekstrim, sama sekali tidak mau bicara dan berkomunikasi (mutism), gerakangerakan yang tidak terkendali, mengulang ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku orang lain (echopraxia). ● Tipe Undifferentiated : tipe Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan perubahan pola simptom-simptom yang cepat menyangkut semua indikator skizofrenia. Misalnya, indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion), emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah, adanya delusi, referensi yang berubahubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autisme seperti mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukkan ketakutan. ● Tipe Residual : tipe ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari skizofrenia tetapi masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa, seperti keyakinan-keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide tidak wajar yang tidak sepenuhnya delusional. Gejala-gejala residual itu dapat meliputi menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas, dan afek datar. b. Skizoafektif Gejala gangguan skizoafektif meliputi gejala yang serupa dengan skizophrenia dan gejala gangguan mood (mania dan depresi). Ada 2 tipe gangguan skizoafektif, keduanya memiliki gejala seperti skizophrenia, namun bedanya (1) tipe bipolar, memiliki episode mania dan kadang depresi berat. (2) tipe depresif, hanya ada episode depresi berat tanpa mania. Gejala skizoafektif secara umum dibagi jadi 5 : ● Gejala psikotik (gejala positif) : halusinasi, delusi/waham, perilaku ganjil, berbicara kacau. ● Gejala negatif : apati, hilangnya ketertarikan dan kebahagiaan dengan kegiatan sehari-hari, flat afek. ● Gejala kognitif : gangguan berkonsentrasi, gangguan memori, gangguan dalam berencana dan mengorganisir sesuatu, kecepatan psikomotorik melambat, kecepatan memproses informasi melambat.

● Gejala depresif : merasa tidak ada harapan atau sedih, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, kegelisahan atau kelesuan, merasa tidak berharga atau merasa bersalah, berpikir mengenai mati atau bunuh diri. ● Gejala mania : euforia, mudah tersinggung, bertambah muluk, suka berfoya-foya, berkurangnya keperluan tidur, mudah teralihkan. c. Bipolar

afektif Gangguan bipolar ditandai dengan periode depresif mayor yang dalam,

berkepanjangan, dan mendalam yang bergantian dengan periode suasana hati yang terlalu gembira dan mudah tersinggung yang dikenal sebagai mania. Gejala bipolar bisa mengganggu kegiatan sehari-hari dan menyebabkan psikosis. Episode mania setidaknya berlangsung selama seminggu dengan gangguan mood, seperti gembira, mudah tersinggung, atau mood selalu naik. Untuk dianggap sebagai episode mania, setidaknya 3 gejala dari 7 gejala ini harus ada : (1) grandiose/sifat muluk, (2) berkurangnya keperluan tidur, (3) terlalu banyak bicara/bicara seperti tertekan, (4) flight of idea, (5) mudah teralihkan, (6) Meningkatnya tingkat aktivitas yang berfokus pada tujuan di rumah, di tempat kerja, atau secara seksual, (7) Menjalankan kegiatan yang dianggap menyenangkan secara berlebihan, seringkali kegiatan yang beresiko. Ada juga episode hipomania yang berlangsung setidaknya 4 hari dengan gangguan mood, seperti gembira, mudah tersinggung, atau mood selalu naik namun tidak sebesar episode mania. Kriteria gejalanya juga sama seperti episode mania namun lebih ringan. Episode depresif mayor berlangsung selama setidaknya dua minggu. Selama episode depresif, orang tersebut mengalami 5 atau lebih gejala berikut, dengan setidaknya 1 gejala berupa depresi atau ditandai oleh hilangnya kesenangan atau ketertarikan. Gejala berikut adalah : (1) Mood depresi, (2) Berkurangnya kesenangan dan ketertarikan terhadap segala jenis aktivitas, (3) insomnia atau hipersomnia, (4) agitasi atau retardasi psikomotorik, (5) Merasa tidak berharga atau merasa bersalah, (6) penurunan atau peningkatan nafsu makan, yang membuat berat badan turun/naik secara signifikan, (7) Penurunan kemampuan konsentrasi atau tidak bisa memutuskan sesuatu, (8) Pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri, atau bahkan mencoba bunuh diri. Ada beberapa tipe gangguan bipolar, yaitu :

● Bipolar tipe 1 : penderita setidaknya sudah mengalami satu episode mania (bukan hipomania). Episode mania ini bisa diikuti atau didahului oleh episode hipomania dan depresif mayor. Dalam beberapa kasus, epidose mania bisa menyebabkan psikosis. ● Bipolar tipe 2 : orang yang memiliki setidaknya satu episode depresif dan satu episode hypomania, tetapi belum pernah mengalami episode mania. ● Gangguan siklotimik : Penderita, setidaknya selama dua tahun untuk orang dewasa dan setahun untuk anak-anak, mengalami banyak episode hipomania dan episode depresi yang tidak penuh, namun penderita belum pernah mengalami episode mania dan depresi secara penuh menurut DSM-5. Gangguan siklotimik 15-50% biasanya akan menjadi gangguan bipolar tipe 1 atau tipe 2. ● Gangguan bipolar siklus cepat : Penderita mengalami 4 atau lebih episode mood seperti mania, depresif dan hipomania selama setahun. Tipe ini biasanya terkait dengan penanganan yang tidak berhasil atau salah sehingga hasilnya kurang baik. ● Gangguan bipolar tidak terklasifikasi : Kategori ini untuk gejala bipolar yang tidak jelas masuk ke tipe lain. Tipe ini didiagnosis ketika beberapa gejala bipolar hadir tetapi tidak cukup untuk memenuhi label salah satu tipe lainnya. Kategori ini juga dapat menyertakan perubahan mood cepat yang tidak berlangsung cukup lama untuk menjadi episode mania atau depresi yang sesungguhnya. Tipe ini mencakup beberapa episode hipomania tanpa episode depresi mayor. d. Gangguan delusional Ciri utama dari gangguan ini adalah adanya delusi/waham, keyakinan tak tergoyahkan pada sesuatu yang tidak benar atau tidak berdasarkan kenyataan. Waham terjadi selama minimal sebulan tanpa disertai gangguan psikosis lain. Orang-orang dengan gangguan delusional umumnya mengalami delusi yang tidak aneh, melibatkan situasi yang dapat terjadi dalam kehidupan nyata, seperti diikuti, diracuni, ditipu, atau dicintai dari kejauhan. Delusidelusi ini biasanya melibatkan salah tafsir atas persepsi atau pengalaman penderita. Namun kenyataannya, situasi yang terjadi dalam delusi tidak benarbenar terjadi atau dilebih-lebihkan. Pada gangguan ini penderita tidak

mengalami waham yang aneh-aneh seperti diculik alien, dikejar hantu,dsb. Pasien hanya mengalami waham sistematis, bukan waham bizzare. Orang dengan gangguan delusional sering dapat terus bersosialisasi dan berfungsi normal, terlepas dari subjek khayalan mereka, dan umumnya tidak berperilaku dengan cara yang jelas aneh atau aneh. Berbeda dengan gangguan psikosis lain di mana kehidupan penderita terganggu oleh delusinya. Namun, pada gangguan delusional yang sudah parah, bisa sampai kehidupan sehari-hari penderita terganggu juga. Gangguan delusional dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan tema utama dari delusi/waham yang dialami : ● Erotomania : Penderita percaya bahwa orang lain, biasanya orang terkenal/orang penting/orang status sosial tinggi, jatuh cinta terhadap penderita. Erotomania biasanya intens, tanda-tanda penolakan cinta oleh objek cinta yang diinginkan secara delusional sering ditafsirkan secara salah sebagai penegasan cinta. Penderita bisa mencoba untuk menghubungi objek delusinya, bisa juga mengintainya. Bahkan penderita bisa menyerang objek cintanya saat ingin menghubunginya atau untuk melindungi objek cinta dari bahaya yang dibayangkan penderita. ● Grandiose : Penderita percaya bahwa dirinya memiliki nilai yang sangat tinggi pada bidang bakat, kekuasaan, pengetahuan, atau identitasnya. Penderita bisa berpikir bahwa dirinya memiliki bakat yang luar biasa atau menciptakan penemuan baru. ● Jealous : Penderita percaya bahwa pasangan hidupnya sudah tidak setia lagi terhadap dirinya. Penderita jadi lebih mudah curiga dan marah terhadap pasangannya. ● Persecutory : gangguan delusional yang paling sering terjadi. Penderita percaya bahwa dirinya/orang dekatnya diperlakukan tidak baik, percaya bahwa orang lain memata-matainya dan ingin mencelakakan penderita. Pasien sering mengalami beberapa tekanan emosional seperti lekas marah dan kesal. Dalam situasi ekstrim,penderita mungkin menggunakan kekerasan terhadap orang yang penderita yakini mengancam dan / atau menyakiti penderita. Tidak jarang bagi

orang-orang dengan gangguan delusional semacam ini untuk membuat pengaduan berulang kepada otoritas hukum. ● Somatic : keyakinan inti dari tipe ini adalah delusi tentang sensasi dan fungsi tubuh penderita. Misalnya penderita percaya bahwa dirinya memiliki defek fisik atau gangguan medis. Pengalaman sensorik yang terkait dengan delusi somatik (misalnya, sensasi parasit yang merayap di bawah kulit) dipandang sebagai komponen delusi pada gangguan ini. Ini harus dibedakan dari delusi somatik yang aneh yang kadangkadang terlihat pada skizofrenia (misalnya, khayalan bahwa ada sapi yang hidup di dalam perut pasien). ● Campuran : penderita mengalami dua atau lebih tipe gangguan delusional, walau begitu tidak ada tipe yang lebih dominan dari lainnya. ● Tipe tidak terklasifikasi : gangguan delusi yang tidak termasuk kategori di atas dan tidak bisa ditentukan ke tipe mana dengan tepat. Contohnya sindrom misidentifikasi seperti sindrom capgras (percaya bahwa orang dekat telah digantikan oleh penyamar). Contoh lain adalah sindrom cotard (penderita percaya bahwa mereka telah kehilangan semua harta benda, status, dan kekuasaan serta seluruh tubuh mereka, termasuk organ mereka). 4. Menjelaskan pemeriksaan dari diagnosis banding a. Skizophrenia Bila dokter menduga bahwa seseorang menderita schizophrenia, dia akan menanyakan adanya riwayat penyakit badan dan kejiwaannya, melakukan pemeriksaan fisik, melakukan tes medis dan psikologis. Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan: ● Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan darah dan skrining ada tidaknya kecanduan obat yang sering memberikan gejala yang sama dengan schizophrenia. Pemeriksaan CT Scan dan MRI otak dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan di otak. Di samping itu, dilakukan pemeriksaan darah untuk menyingkirkan diagnosis banding lain yang memiliki gejala mirip dengan skizophrenia. ● Pemeriksaan psikologis. Dokter akan menanyakan tentang pikiran, perasaan, ada tidaknya waham (delusion), sikap/ perilaku, keinginan untuk bunuh diri atau melakukan kekerasan. Evaluasi psikologis: melalui percakapan, kuesioner, dll, dokter bisa memahami dan menganalisis gejala-gejala pasien, untuk mendiagnosis apakah pasien

menderita skizophrenia atau penyakit mental lainnya. Skizophrenia bisa dibagi lagi menjadi jenis Paranoid, Katatonik, Tidak Terorganisir, dan Residual. Dokter juga akan menanyakan apakah pasien mengonsumsi minuman beralkohol atau narkoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi diri pasien. Ada kriteria diagnosa schizophrenia mengikuti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, (DSM-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association. ● Penderita setidaknya mempunyai 2 atau lebih gejala yang sering muncul pada penderita schizophrenia, yaitu: (1) delusi/waham, (2) halusinasi, (3) bicara tidak teratur, (4) perilaku tak terarah atau katatonik, (5) adanya gejala negatif yang cukup menonjol dalam sebulan terakhir. Selain itu setidaknya salah satu gejala yang tampak adalah salah satu dari nomor 1/2/3. ● Mengalami penurunan kemampuan kerja, sekolah, mengerjakan kegiatan sehari-hari atau kemampuan interpersonal. ● Gejalanya menetap selama setidaknya 6 bulan. Periode enam bulan ini harus mencakup setidaknya satu bulan gejala (atau kurang jika diobati) yang memenuhi kriteria di atas (gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala residual. Selama periode tersebut, hanya gejala negatif yang bisa muncul. ● Pencoretan skizoafektif dan gangguan mood dari diagnosis. Tidak ada episode besar depresi/mania yang berlangsung bersamaan dengan gejala fase aktif. Bila episode mood (depresi/mania) muncul pada gejala fase aktif, hal itu hanya ada pada minoritas durasi fase aktif dan fase residual. ● Gangguan tidak disebabkan oleh efek psikologis dari obat-obatan atau kondisi medis lainnya. ● Jika ada riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan lainnya pada masa kanak-kanak, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga hadir setidaknya selama satu bulan (atau kurang jika berhasil diobati). b. Skizoafektif Bila dokter menduga pasien menderita gangguan skizoafektif, maka dia akan menganamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui gejala yang ada, selain itu ada beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, contohnya : ● Pemeriksaan MRI/CT scan, digunakan untuk melihat kelainan neurologis di otak pasien, yang kemungkinan berkaitan dengan skizoafektif.

● Pemeriksaan histologi, pada pasien skizoafektif, bisa tampak berkurangnya substansi gray matter dan bertambahnya ruang yang diisi cairan serebrospinal. Selain itu, ada kriteria diagnosis skizoafektif mengikuti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, (DSM-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, yaitu : ● Penderita setidaknya mempunyai 2 atau lebih gejala yang sering muncul pada penderita skizoafektif, yaitu: (1) delusi/waham, (2) halusinasi, (3) bicara tidak teratur, (4) perilaku tak terarah atau katatonik, (5) adanya gejala negatif. Selain itu setidaknya salah satu gejala yang tampak adalah salah satu dari nomor 1/2/3. ● Ada episode mood mayor (depresi atau mania) yang berlangsung tanpa interupsi dalam periode waktu tertentu. ● Terdapat delusi atau halusinasi selama 2 minggu atau lebih di luar episode mood mayor (depresi atau mania) selama durasi penyakit. ● Gejala gangguan mood terdapat pada sebagian besar pada periode waktu penyakit. ● Gejala tidak disebabkan oleh penggunaan zat atau obat-obatan atau kondisi medis lain. c. Bipolar afektif Jika ada kecurigaan gejala gangguan bipolar, dokter akan melakukan pemeriksaan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Selain itu karena siklus episode moodnya

bisa

berlangsung

berbulan-bulan

bahkan

bertahun-tahun

menyebabkan gangguan bipolar agak sulit diidentifikasi. Pasien dengan gangguan bipolar biasanya memiliki riwayat keluarga penderita bipolar, memperlihatkan perilaku beresiko, memiliki pengalaman yang rumit atau menyakitkan atau traumatis, kadang ada masalah dengan alkohol. Untuk membedakan pasien bipolar dengan depresi mayor, tanyakan apakah penderita mengalami episode mania/hipomania. Selain itu, dibandingkan pasien depresi mayor, pasien bipolar mengalami flight of ideas atau mudah tersinggung bila sedang tidak episode depresif. Ada kriteria diagnosis DSM-5 untuk gangguan bipolar, kriteria itu dibagi untuk episode mania, hipomania dan depresi mayor, kriteria itu adalah : Kriteria episode mania ● Gejala yang tampak secara abnormal berupa peningkatan suasana hati, mudah tersinggung, peningkatan aktivitas tidak normal yang terus

menerus. Periode ini berlangsung minimal 7 hari, selama 7 hari itu episode mania biasa berlangsung sepanjang hari. ● Terjadi gangguan mood dan peningkatan energi dan aktivitas. Tiga (atau lebih) dari gejala berikut (empat jika mood hanya mudah marah) hadir ke tingkat yang signifikan dan mewakili perubahan nyata dari perilaku biasa: (1) grandiose/sifat muluk, (2) berkurangnya keperluan tidur, (3) terlalu banyak bicara/bicara seperti tertekan, (4) flight of idea, (5) mudah teralihkan, (6) Meningkatnya tingkat aktivitas yang berfokus pada tujuan di rumah, di tempat kerja, atau secara seksual, (7) Menjalankan

kegiatan

yang

dianggap

menyenangkan

secara

berlebihan, seringkali kegiatan yang beresiko. ● Gangguan mood cukup parah untuk menyebabkan masalah pada kehidupan sosial dan sehari-hari penderita atau hingga perlu untuk memasukkan penderita ke RSJ supaya tidak melukai diri sendiri/orang lain. Bisa tampak psikosis. ● Episode ini tidak berasal dari efek psikologis zat kimia seperti narkotika dan obat-obatan, serta tidak berasal dari efek gangguan medis lain. ● Catatan: Sebuah episode mania penuh yang muncul selama pengobatan antidepresan (misalnya, obat-obatan, terapi elektrokonvulsif) tetapi tetap pada tingkat sindrom sepenuhnya di luar efek fisiologis pengobatan itu adalah bukti yang cukup untuk episode mania dan, oleh karena itu, diagnosis bipolar tipe 1. Kriteria episode hipomania ● Gejala yang tampak secara abnormal berupa peningkatan suasana hati, mudah tersinggung, peningkatan aktivitas tidak normal yang terus menerus. Periode ini berlangsung minimal 4 hari, selama 4 hari itu episode mania biasa berlangsung sepanjang hari. ● Terjadi gangguan mood dan peningkatan energi dan aktivitas. Tiga (atau lebih) dari gejala berikut (empat jika mood hanya mudah marah) hadir ke tingkat yang cukup terlihat dan mewakili perubahan dari perilaku biasa: (1) grandiose/sifat muluk, (2) berkurangnya keperluan tidur, (3) terlalu banyak bicara/bicara seperti tertekan, (4) flight of idea, (5) mudah teralihkan, (6) Meningkatnya tingkat aktivitas yang berfokus

pada tujuan di rumah, di tempat kerja, atau secara seksual, (7) Menjalankan kegiatan yang dianggap menyenangkan secara berlebihan, seringkali kegiatan yang beresiko. ● Episode ini terkait dengan perubahan mood dan perilaku yang tidak biasa dari individu dan tidak khas ketika tidak bergejala. ● Perubahan mood dan perilaku sehari-hari bisa dilihat oleh orang lain ● Episode ini tidak cukup parah untuk menyebabkan gangguan sosial, pekerjaan dan perlu masuk RSJ. Bila ada psikosis, berarti itu episode mania bukan hipomania. ● Episode ini tidak berasal dari efek psikologis zat kimia seperti narkotika dan obat-obatan, serta tidak berasal dari efek gangguan medis lain. ● Catatan : Sebuah episode hipomania penuh yang muncul selama pengobatan

antidepresan

(misalnya,

obat-obatan,

terapi

elektrokonvulsif) tetapi tetap pada tingkat sindrom sepenuhnya di luar efek fisiologis pengobatan itu adalah bukti yang cukup untuk episode hipomania. Namun, hati-hati mengindikasikan satu atau dua gejala (terutama peningkatan iritabilitas, gelisah, atau agitasi setelah penggunaan antidepresan) tidak diambil sebagai diagnosis yang cukup dari episode hipomania. Kriteria episode depresi mayor ● Episode depresif mayor berlangsung selama setidaknya dua minggu. Selama episode depresif, orang tersebut mengalami 5 atau lebih gejala berikut, dengan setidaknya 1 gejala berupa depresi atau ditandai oleh hilangnya kesenangan atau ketertarikan. Gejala berikut adalah : (1) Mood depresi, (2) Berkurangnya kesenangan dan ketertarikan terhadap segala jenis aktivitas, (3) insomnia atau hipersomnia, (4) agitasi atau retardasi psikomotorik, (5) Merasa tidak berharga atau merasa bersalah, (6) penurunan atau peningkatan nafsu makan, yang membuat berat badan turun/naik secara signifikan, (7) Penurunan kemampuan konsentrasi atau tidak bisa memutuskan sesuatu, (8) Pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri, atau bahkan mencoba bunuh diri. ● Gejala menyebabkan gangguan yang signifikan secara klinis terkait sosial, pekerjaan dan sehari-hari penderita.

● Episode ini tidak berasal dari efek psikologis zat kimia seperti narkotika dan obat-obatan, serta tidak berasal dari efek gangguan medis lain. d. Gangguan delusional Jika ada kecurigaan gejala gangguan delusional, dokter akan melakukan pemeriksaan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Meskipun tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis gangguan delusional secara spesifik, dokter mungkin menggunakan berbagai tes diagnostik, seperti sinar-X atau tes darah, untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejala. Ada kriteria diagnosis gangguan delusional menurut DSM V, yaitu : ● Penderita memiliki satu macam atau lebih gangguan delusi/waham yang berlangsung setidaknya sebulan. ● Kriteria pertama untuk gangguan skizophrenia/skizoafektif tidak terpenuhi. ● Selain efek langsung waham, fungsi tubuh penderita dan perilaku sehari-hari tidak benar-benar terganggu. ● Episode mania dan depresi yang muncul bila ada sangat singkat, jauh lebih sebentar dari periode waham. ● Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek psikologis dari obat-obatan, narkotika dan gangguan medis lain. e. Diagnosis Setelah membandingkan gejala yang tampak pada pasien dengan pemeriksaan serta kriteria diagnosis yang tersedia, disimpulkan bahwa pasien merupakan penderita schizophrenia. 5. Menjelaskan tatalaksana diagnosis Karena diagnosis yang diputuskan adalah schizophrenia, maka tatalaksana dari schizophrenia meliputi : Non Medikamentosa psikoterapi ● Psikoterapi individual : Selama terapi, psikiater dapat mengajari penderita mengenai cara menangani pikiran dan perilakunya. Dia akan belajar lebih banyak tentang penyakitnya dan pengaruhnya pada dirinya, serta bagaimana membedakan antara apa yang nyata dan mana yang tidak. hal ini bisa membantu penderita dalam kehidupan sehari-hari.

● Cognitive behavior therapy (CBT) : Ini dapat membantu penderita mengubah pemikiran dan perilakunya. Psikiater akan mengajarkan cara menangani halusinasi. Dengan CBT penderita bisa lebih tahu hal apa yang memicu delusi atau halusinasinya dan cara menguranginya/ ● Cognitive enhancement therapy (CET) : jenis terapi ini juga disebut remediasi kognitif. Ini mengajarkan penderita bagaimana mengenali tanda-tanda sosial, atau trigger, dan meningkatkan perhatian, memori, dan kemampuan mereka untuk mengatur pikiran mereka. Non Medikamentosa terapi psikososial Bila penderita mengalami peningkatan baik dalam psikoterapi, maka penderita perlu dibantu berintegrasi ke masyarakat, hal ini bisa dengan terapi psikososial : ● Latihan skill sosial : melatih penderita untuk menambah kemampuan interaksi terhadap orang lain. ● Rehabilitasi : schizophrenia biasanya berkembang selama tahun-tahun berkarir, jadi rehabilitasi bisa termasuk konseling pekerjaan, dukungan dalam pemecahan masalah, dan edukasi terkait manajemen uang. ● Edukasi keluarga : keluarga penderita sebaiknya mempelajari mengenai perilaku psikosis dan skizophrenia. Pada keluarga yang lebih tahu dan lebih mendukung penderita, biasanya membuat penderita lebih tertangani dengan baik dan menunjukkan gejala yang lebih ringan dibandingkan penderita yang tidak didukung oleh keluarga. ● Kelompok swadaya : Penderita dan keluarga sebaiknyaberpartisipasi dalam program pengasuhan dan penjangkauan masyarakat untuk terus melatih keterampilan sosial penderita skizophrenia. Medikamentosa Penggunaan obat antipsikosis/antidepresan untuk mengurangi gejala positif dan mencegah relaps. Obat-obatan antipsikosis meliputi : ● Antipsikosis generasi pertama : antipsikotik generasi pertama (konvensional atau khas), adalah antagonis dopamin D2 yang kuat. Namun, setiap obat di kelas ini memiliki berbagai efek pada reseptor lain, seperti serotonin tipe 2 (5-HT2), alfa1, histamin, dan reseptor muskarinik. Antipsikotik generasi pertama memiliki tingkat efek samping ekstrapiramidal yang tinggi, termasuk kekakuan, bradikinesia,

distonia, tremor, dan akatisia. Contoh obatnya adalah chlorpromazine, fluphenazine, haloperidol, perphenazine, dll. ● Antipsikosis generasi kedua : antipsikotik generasi kedua (baru atau atipikal), dengan pengecualian aripiprazole, adalah antagonis Dopamin D2, tetapi efek samping ekstrapiramidal nya lebih rendah daripada antipsikotik generasi pertama. Namun efek samping terhadap metabolisme dan peningkatan berat badan lebih tinggi dari antipsikosis generasi pertama. Contoh obatnya asenapine, clozapine, iloperidone, lurasidone, dll. ● Modulator aktivitas serotonin-dopamin : Modulator aktivitas serotonindopamin bertindak sebagai agonis parsial pada reseptor 5-HT1A dan dopamin D2 pada potensi yang sama, dan sebagai antagonis pada reseptor 5-HT2A dan noradrenalin alpha-1B / 2C. Contoh obatnya adalah brexpiprazole, aripiprazole.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Dari skenario 1 Blok Psikiatri, dapat disimpulkan bahwa gangguan mengamuk yang dialami pasien di skenario merupakan salah satu gangguan psikiatri. Gejala-gejala seperti mengamuk, marah-marah, teriak-teriak, waham dapat merupakan manifestasi dari episode manik yang sering ditemui pada pasien yang menderita skizofrenia. Gejala khas dari skizofrenia sendiri meliputi gejala-gejala psikotik seperti didapatkan waham, halusinasi, derealisasi, dan juga gejala lain seperti gangguan bicara dan gangguan perilaku. Skizofrenia menurut etiologinya dapat disebabkan dari faktor biologis dan faktor genetik. Faktor biologis diantaranya kelainan pada otak maupun neurotransmitter yang berperan dalam pengaturan mood seperti serotonin. Dalam penatalaksanaan skizofrenia dilakukan pemberian obat simptomatis seperti antidepresan, antipsikotik dan juga dilakukan terapi untuk menunjang kehidupan pasien agar lebih optimal.

SARAN Secara umum diskusi tutorial skenario 1 Blok Psikiatri telah berjalan dengan baik dan lancar. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki supaya dalam melakukan diskusi tutorial selanjutnya kami dapat melaksanakan diskusi tutorial yang ideal. Berdasarkan diskusi kelompok kami pada skenario ini, pembahasan yang kami lakukan masih kurang terstruktur dan belum memahami betul masalah yang ada di skenario. Pembahasan masih belum bisa dihubungkan antara satu hal dengan yang lainnya, sehingga masih kurang lancar dalam menyimpulkan apa yang sudah dibahas dengan skenario. Selain itu, masih ada beberapa anggota kelompok kami yang kurang berpartisipasi aktif pada saat diskusi berlangsung. Adanya beberapa anggota yang pasif dalam diskusi ini membuat tujuan pembelajaran tercapai tetapi tidak merata. Oleh karena itu, diharapkan agar masing-masing anggota telah mempersiapkan materi ataupun bahan-bahan yang akan didiskusikan dengan baik. Saran untuk tutorial berikutnya adalah agar kami dapat menggunakan waktu secara efisien supaya waktu yang dialokasikan untuk diskusi dapat dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya. Dianjurkan juga untuk memahami materi diskusi dengan baik, supaya diskusi berjalan lancar dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fifth Edition DSM-5. Washington DC : American Psychiatric Association. Bourgeois,

James

A.

2017.

Delusional

Disorder.

https://emedicine.medscape.com/article/292991 diakses pada 28-11-2018. Benjamin J. Sadock, Virginia A. Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis: Kaplan dan Sadock (Edisi 2). Jakarta : EGC. Brannon,

Guy

E.

2016.

Schizoaffective

Disorder.

https://emedicine.medscape.com/article/294763 diakses pada 28-11-2018. Frankenburg,

Frances

R.

2018.

Schizophrenia.

https://emedicine.medscape.com/article/288259 diakses 28-11-2018. Kiran, Chandra. et Chaudhury, Suprakash. 2009. “Understanding Delusions”, Industrial Psychiatry Journal, vol. 18, p 3-18. Maslim, Rusdi. 2015. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta : FK UNIKA ATMAJAYA. McKean, Andrew., et Romans, Sarah. 2014. Bipolar disorder: Identifying and supporting patients in primary care. We Moordiningsih MSi, D. (2016). Faktor-Faktor Penyebab Skizofrenia (Studi Kasus Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta) Universitas Muhammadiyah Surakarta Publikasi Ilmiah. Retrieved from http://eprints.ums.ac.id/46748/1/NASKAH PUBLIKASI.pdf Soreff, Stephen. 2018. Bipolar Disorder. https://emedicine.medscape.com/article/286342 diakses 28-11-2018. WHO. 2013. Schizophrenia and Public Health. Geneva : Division of Mental Health and Prevention of Substance Abuse WHO.

Related Documents

Laptut Psi 1.docx
December 2019 38
Psi
June 2020 32
Psi
May 2020 28
Psi
June 2020 26
Psi
November 2019 49
Psi
December 2019 42

More Documents from ""

Laptut Psi 1.docx
December 2019 38
Refrat Fisiologi.docx
December 2019 46
1.1.docx
December 2019 28
11.1.docx
December 2019 24
The Hook 1
June 2020 21