Kata Pengantar Seni Budaya Pak Anang 2017-2018-1.docx

  • Uploaded by: Ferdy Pramudia
  • 0
  • 0
  • June 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Kata Pengantar Seni Budaya Pak Anang 2017-2018-1.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 3,706
  • Pages: 10
DARI KISAH BAHAGIA LAHIRLAH SEBUAH KITAB KEBAHAGIAAN YANG BERAGAM KARYA Sebuah Pengantar Oleh : Anang Prasetyo, S.Pd (Guru Seni Budaya SMKN 1 Boyolangu Tulungagung) “Maka dari itu, kebahagiaan di dunia ini bukanlah hanya berkait denagan kehidupan duniawi sahaja, malah ia berkait juga dengan kehidupan abadi kelak berpandukan kenyataan yang dijelaskan oleh agama bersumberkan wahyu” (S.M.N Naquib Al Attas , 2014) Bismillahirrohmaanirrohiim Hamidan lillah wa musholiyan ‘ala Rosulillah Innalloha jamiilun Yuhibbul Jamal Sesungguhnya Alloh itu Maha Indah dan Menyukai Keindahan. Segala puji hanya untuk Alloh SWT yang Maha Indah, dan menyukai keindahan. Sholawat dan salam tercurah untuk manusia sempurna, Insan Kamil dan insan terindah tiada,Rosululloh Nabi Muhammad SAW. Sungguh, bahagia rasanya memberikan kata pengantar terhadap buku karya perdana dari muridmurid SMKN 1 Boyolangu yang saya, alhamdulillah, menjadi pengajarnya. Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan buku perdana yang lahir dari proses berfikir, merasakan dan mempraktekkan keilmuan seni Budaya (khususnya di semester 1 tahun ajaran 2017-2018). Sebelum mengurai panjang kali lebarmengenai karya tulis anak-anak , demi menjaga martabat dan mengingat amanat ilmu serta kewajiban sebagai akademisi , maka perlulah kiranya saya ulas sekilas mengenai epistemologi. Kajian sumber ilmu pengetahuan, diperoleh. Hal ini karena proses pembuatan karya (baik itu gambar dan kisah bahagia, komik Kebahagiaan, antologi puisi bahagia) hingga pembukuan merupakan suatu proses suatu kesatuan. Step by step, bertahap, dan melalui proses pembelajaran yang tidak instan. Masing-masingnya ada nilai cipta rasa dan karsa dari setiap murid. Ditambah, kajian secara akademis yang berbasis tauhidi (mengesa, menyatu jadi satu, integrated), sebagai pijakan langkah penulisan. Yakni prosesi kewahyuan yang berkolaborasi dengan penalaran dan kecerdasan intuitif murid. Jadi, secara ro’yu (nalar empiris, rasional ilmiah) hasil karya murid saya ini telah mengalami prosesi tambahan yang dihasilkan dari intuisinya di Qolbu (berupa kisah bahagia) sebagai ide dasar penciptaan, serta ditambahkan dengan konsep kewahyuan dari Sumber utama ilmu dan pengetahuan, yakni Al Quran dan Al Hadist (Wahyu). walhasil pendokumentasian karya seni rupa menjadi sebuah buku ini, menurut hemat saya, adalah suatu langkah baru dalam pembelajaran dalam pelajaran seni budaya. Sebagaimana kita fahami, Ilmu, dalam filsafat setidaknya mencakup tiga komponen, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dalam wilayah epistemologi, yakni dari mana sebuah ilmu itu diperoleh, maka wilayah inderawi menjadi tolok ukur utama dalam filsafat barat (eropa). Artinya, sesuatu hal

yang ilmiah ‘haruslah’ ditandai oleh inderawi semata. Sementara yang bersifat non inderawi (baca, intuisi, ilham, kasyaf dll) yang merupakan konsep filsafat Islam (timur) tidak termasuk hal yang ilmiah, dalam kerangka filsafat (keilmuan) barat. Maka disinilah perlunya ekspose keilmuan sebagaimana nanti akan saya kemukakan menjadi sesuatu yang sangat mendasar dan penting. Adalah fakta,bahwa ternyata terdapat epistemologi lain yang dikembangkan oleh fisafat timur, Islam khususnya, bahwa epistemologi dalam alam pandang Islam (Islamic Worldview) dikembangkan dengan tiga jalur pemerolehan ilmu. Yang pertama nalar, rasional empirik, inderawi (Ro’yu),yang kedua Intuisi (qolbu) dan yang ketiga adalah Wahyu (Quran dan Hadist). Nah, berbicara mengenai seni Budaya, karena merupakan manivestasi Cipto, Roso dan Karso manusia, menurut Kuntjaraningrat, aspek intuisi/roso ini merupakan substansi dan inti. Pada galibnya, wilayah intuisi (qolbu), dzauq, nilai rasa, estetika dan keindahan menjadi sesuatu yang khas dalam membahas mengenai kesenian. Namun sayangnya, proses epistemologi bersumber qolbu ini kurang mendapatkan porsinya. Tiba-tiba seolah kita dipisahkan antara ro’yu (pemikiran), aqal, hati (qolbu) dan iman. Sehingga dalam prakteknya, seolah ketika kita bicara mengenai suatu pelajaran tertentu, maka rasa dan Tuhan tidak boleh hadir di dalamnya. Padahal, fakta logika secara ontologis mengajarkan dan menunjukkan bahwa ketika kita belajar, yang bekerja bukan semata inderawi / akal semata, namun perasaan, emosi, imajinasi, kreasi dan intuisi ikut terlibat didalamnya. Bahkan di saat kita menggambar suatu jenis hewan kemudian hati kita yang terdalam menggumam “betapa indahnya Tuhan menciptakan hewan ini”, adalah bahasa hati yang berdasar ghorizah tadayyun, naluri manusia untuk menuhankan sesuatu Pencipta, Tuhan Allah yang Maha kuasa. Maka inilah hakekat keimanan. Sehingga yang terjadi merupakan hasil dari pemahaman nalar empirik, akal dan perasaan yang menyatu menghasilkan sebuah ketakjuban penciptaan karya manusia. Maka, dengan melihat proses belajar hingga menjadi sebuah buku seperti ini , yang dilakukan murid-murid SMK ini bagi saya pribadi, merupakan suatu penghargaanagung dan kebahagiaan tersendiri. Karena proses pembelajarannya benar-benar dimulai dari awal, benar-benar dari tiada hingga menjadi ada. Dimulai dari ide di titik nol hingga jadi beragam buah karya. Dimulai dari kisah bahagia hingga menjadi berbagai macam karya. Maka sungguh, hal ini merupakan kebahagiaan tersendiri . Secara ringkas proses belajarnya dimulai dengan : 1. Pembelajaran aktivasi memori bahagia, dengan cara mengondisikan di tahap awal berupa relaksasi dan pengaktifan gelombang otak alfa. 2. Menggambar secara ekspresif obyek gambar yang diperoleh selama aktivasi gelombang otak alfa. Semua murid berada di alam bawah sadar untuk ‘memanggil’ atau mengaktifkan kembali memori di otak, berupa kisah bahagia. Dalam metode saintifik metafisik, ini mengindikasikan sebuah pengamatan menggunakan mata batin. 3. Selanjutnya dalam alam sadar, anak-anak diminta menuangkan hasil ‘tangkapan’ batiniah / gambar metafisik tersebut ke dalam ranah fisik , yaitu berupa gambar, visualisasi empiris. Dengan menggunakan media bolpoint di atas kertas. Dalam hal ini, meminjam istilah kritikus seni rupa Indonesia, S Soedjoyono , gambar atau lukisan merupakan manivestasi

4.

5.

6.

7.

8.

jiwo ketog, jiwa yang nampak, yang kemudian tervisualisasikan dan dinikmati menggunakan indera penglihatan. Secara verbal, tahap berikutnya adalah, murid diminta menuliskan kisah bahagianya kedalam bentuk tulisan. Tuturan kisah bahagia dalam bentuk tulisan, ini adalah bahasa komunikasi si murid untuk menggambarkan secara riil yang dia alami. Hal ini bertujuan untuk untuk menangkap isi dan substansi pengalaman hidup yang pernah dia alami. Dalam beberapa kali pembelajaran yang lain, biasanya seluruh murid juga saya minta berdiri, kemudian menceritakan dengan lisannya kisah bahagianya. Dalam wilayah ini betapa tergambar dengan jelas, wajah dan ekspresi kebahagiaan yang terpancar dari anak-anak. Seringkali saya harus ikut menitikkan air mata, tatkala, anak saat menggambar atau mengisahkan kisah bahagianya, menangis sesenggukan membasahi kertas gambar dan pipinya. Sebuah pembelajaran yang mengharu biru perasaan saya sebagai seorang guru. Karena, meskipun yang digambarkan adalah kisah bahagia, namun kebahagiaan itu telah berakhir saat, misalnya, orang tuanya ternyata hari ini telah berpisah. Sungguh suatu pengalaman pembelajaran yang menyentuh hati.biasanya, akhir sesi verbal ini saya minta murid untuk menuliskan sebuah puisi. Langkah selanjutnya adalah, meminta si murid untuk menciptakan karya visual dalam bahasa lain berupa komik strip. Yaitu sebuah gambar bercerita yang ceritanya berakhir dalam satu halaman. Di tahap ini saya, mengajari beberapa teknis singkat mengenai karakter penokohan, pembagian kolom, cerita, dan cara menghidupkan , ekspresi adegan sebuah gambar. Penciptaan wayang diri dari kisah bahagia merupakan langkah kreatif tingkat selanjutnya yang dikerjakan oleh murid. Harapannya agar anak di saat menceitakan kisah bahagianya bisa menggunakan media bercerita. Tahapan selanjutnya adalah mendokumentasikannya dalam bentuk buku. Inilah wilayah monumental karya yang menyejarah. Tidak lain merupakan implementasi perintah Alloh untuk Iqro (membaca) dan Qolam (menuliskannya). Demikian pula maqolah Sayyidina Ali ,’ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Juga dimaknai sebagai upaya kesejarahan dan dokumentasi proses pembelajaran terhadap hasil karya seni murid melalui penghantar memori bahagianya. Dokumentasi buku ini terdapat 4 buah. Yang pertama buku Komik Kebahagiaan, yaitu kompilasi karya komik anak-anak dalam satu kelas. Kedua adalah Antologi Puisi Bahagia, ketiga adalah kumpulan Kisah dan gambar bahagia seluruh anak dalam satu kelas. Dan yang terakhir serial kitab Kebahagiaan. Buku terakhir ini merupakan karya individu setiap murid, yang merupakan semua karya yang telah dihasilkan murid selama belajar seni budayadi kelas.

Maka dengan mengamati langkah-langkah pembelajaran diatas, setidaknya, upaya yang telah diretas itu telah berjalan diatas suatu koridor metode saintifik plus, sebagaimana yang dikehendaki oleh Kurikulum 2013. Saya tambahi plus karena aspek yang diketengahkan tidak lagi hanya sebatas empirik namun intuitif. Sebagaimana kita ketahui, Saintifik learning, adalah pembelajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah, atau saintifik approach, yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi/menalar dan mengkomunikasikan untuk semua mata pelajaran

(modul pelatihan KPI, 2014). Sementara menurut Puskurbuk Dikbud 2013, Pendekatan Ilmiah dalam pembelajaran mencakup langkah-langkah pembelajaran, observing (mengamati), Questioning (menanya), Experimenting (mencoba), Associating (menalar), Communication (mengkomunikasikan). Semoga, upaya pembukuan karya murid-murid terkasih ini adalah upaya pengkomunikasian yang dimaksud dalam artian lebih luas lagi. Sebagai penutup, sebagai wujud aplikasi pembumian Nilai-nilai Wahyu (Quran Hadist),dalam setiap pelajaran (istilah lainnya adalah Islamisasi Ilmu & Pengetahuan) seni budaya, sebagai sebuah rintisan awal telah dimulai. Sekali lagi, secara epistemologis, upaya integrasi konsep Wahyu menjadi salah satu sumber ilmu dan pengetahuan di pelajaran seni budaya, adalah ikhtiyar yang bersifat rintisan awal. Perlu ikhtiyar-ikhtiyar lain yang perlu diekspose sebagai wujud pertanggung jawaban keterkaitan antara ilmu, iman dan ihsan sebagai sebuah satu kesatuan. Maka, demi melihat nilai spiritual yang telah mewujud dalam bentuk ‘ritual’ teknik berkarya, dalam proses belajar mengajar, rasanya terlalu sayang jika proses pembelajaran tersebut tidak terdokumentasikan dan terbukukan. Sehingga meskipun tidak ada tuntutan di dalam kurikulum nasional untuk mewujudkan menjadi sebuah buku, namun upaya ini lebih ingin saya lihat dalam perspektif pertanggung jawaban etis, akademis. Minimal, setidaknya para murid yang luar biasa unik, hebat ini telah mengaplikasikan firman Allah taala dalam QS al Alaq ayat 1-4 “Iqro’ /bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan kalam…” Pembaca yang budiman, inilah langkah kecil dan upaya sederhana untuk mengkomunikasikan, mengapresiasi dan merayakan kemerdekaan ekspresi cipto,roso, karso muridmurid kami, dengan dimulai dari kisah kisah bahagia, hingga mewujud karya-karya seni (gambar, komik, wayang, lukisan) dan pelaksanaan kegiatan intelektual mereka (hingga terwujud berupa buku ini) . Sekali lagi, upaya kecil ini semoga ini menjadi inspirasi bagi mereka untuk melahirkan kembali tulisan-tulisan ataupun buku selanjutnya. Siapa tahu dari mereka lahir seorang penulis yang bukunya mampu menginpirasi jutaan dan milyaran orang untuk membaca dan menerapkan fikiran, perasaan dan langkah-langkah mereka. Dan hari ini mereka telah memulainya. Mereka telah mengiqroi / membaca dan sekaligus telah menuliskannya / qolam sekaligus !. Kisah bahagia sebagai ide dasar dalam penciptaan karya-karya seni budaya, merupakan langkah awal untuk benar-benar membahagiakan generasi muda, para murid kita yang terbaik itu. Dengan mengulang ulang kebahagiaan, diharapkan anak-anak senantiasa terbahagiakan perasaan dan hati serta jiwanya. Ungkapan Syed Muhammad Naquib Al Attas di awal, memberikan panduan kepada kita, bahwa kebahagiaan idealnya tidak hanya di dunia, namun juga harus terwujud di akhirat. Nah, karyua-karya bahagia anak-anak yang terangkai dalam buku Kitab Kebahagiaan ini, diharapkan menjadi motivasi internal, agar anak-anak menempuh jalan kebahagiaan di muka bumi

ini, sembari berharap dan berdoa agar menjadi pintu kebahagiaan pula di akhirat kelak. Amin yaa robbal alamiin. Alhamdulillah. Saya ucapkan Selamat dan ikut ber bahagia dengan kehadiran buku pertama mereka ini. Pesan saya, tetap rendah hati, jangan pernah berhenti berkarya nan bermanfaat demi orang tua, guru, ummat dan bangsa Indonesia. Semoga ilmu kalian bermanfaat tidak hanya di dunia yang sangat fana ini, namun membawa manfaat pula di kehidupan akhirat akhirat kelak yang abadi. Keep smile, bahagiakan diri selalu, upayakan terus berbahagia dalam kondisi sedih dan merana sekalipun. Jadikan ia sebagai ide dasar untuk penciptaan karya-karya seni budaya yang lebih luas, lebih mendalam dan lebih bermanfaat. Wassalamualaikum wr wb Tulungagung, Sabtu Yauma Asy Syuro 10 Muharom 1439 H 30 September 2017

AKTIVASI MEMORI BAHAGIA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI BUDAYA, BAGAIMANA BISA? Sebuah Pengantar Dokumentasi Proses Belajar Seni Rupa Siswa Oleh : Anang Prasetyo, S.Pd (Guru Seni Budaya SMKN 1 Boyolangu Tulungagung) Hamidan lillah wa musholiyan ‘ala Rosulillah Segala puji hanya untuk Alloh SWT yang Maha Indah, dan menyuka keindahan. Sholawat dan salam tercurah untuk manusia sempurna dan terindah, Nabi Muhammad SAW. Bahagia rasanya memberikan kata pengantar terhadap buku karya perdana dari murid-murid SMKN 1 Boyolangu yang saya, alhamdulillah, menjadi pengajarnya. Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan buku perdana yang lahir dari proses berfikir, merasakan dan mempraktekkan keilmuan pelajaran seni Budaya

Sebagai pembuka,ijinkan saya memaparkan sekilah mengenai proses pembelajaran, yang sejatinya melibatkan neurologi dalam praktikalnya. Oleh karena itu sudah semestinya seorang guru memahami bahwa otak itu sangat berperan penting dalam pembelajaran. Otak bekerja non stop meski manusia tidur. Dengan satu organ ini terdiri dari 1 triliun sel otak. 100 miliar sel otak aktif dan 900 miliar sel otak pendukung. Setiap manusia oleh Tuhan diberi sel otak yang sama. Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan alat EEG (Electro Encephalo Graph), ada 4 jenis gelombang otak yaitu Beta, Alpha, Theta dan Delta. Berikut ini merupakan gelombang otak manusia : 1. Beta 12-25 Hz Kondisi Sadar, Aktif Bergerak, Pikiran bercabang. Melakukan aktivitas yang menuntut konsentrasi tinggi. 2.

Alpha 8 – 12 Hz Keadaan Relaksasi, Tanpa stress.

3.

Teta 4 – 8 Hz

kondisi dalam keadaan sangat rileks, masuk dalam kondisi

meditative, Kondisi Pikiran dan ide-ide Kreatif muncul, Genius, Penyembuhan hebat, Inspiratif. Bila tidak bisa menguasainya seseorang bisa langsung masuk gelombang otak Delta, alias tidur. 4.

Delta 0,5 – 4 Hz. Tidur nyenyak tanpa mimpi, penyembuhan Alamiah, Brain Cleansing, Tumbuh Sel-Sel baru

(Adi W. Gunawan ,2006:63) Berkat jasa ilmuwan Roger Sperry dan kawan-kawan (Erbe Sentanu ,2007: 62), pengetahuan tentang pembagian otak kanan dan otak kiri , semakin mengukuhkan tentang peranan otak dalam bekerja. Upaya yang mereka lakukan sejak tahun 60-an

mendapatkan hadiah Nobel berkat teorinya tentang “Dual Brain”m dan “Hemispheric Specialization”. Fungsi otak kiri bersifat verbal, proses aritmetik, logis analitis, serial, fokus, perbedaan, bergantung waktu, segmental, pikiran konvergen. Sementara otak kanan berfungsi dalam hal berfikir non verbal, imaginatif, susunan spasial, holistik intuitif, paralel, difus, persamaan, persamaan, tidak bergantung waktu, global , fikiran divergen.

Disisi yang lain, persoalan sains mengenai otak manusia yang begitu rumit, ditambah dengan kerumitan di sisi lain, bagaimana sebuah metode saintifik menjadilandasan metodologis dalampembelajaran seni budaya. Sungguh, saat itu, saya berfikir rumit dan tertantang untuk mewujudkannya dalam pembelajaran di kelas. Pada saat PLPG di Malang 2013, saya mendapatkan materi pelatihan yang berkenaan dengan pembelajaran seni rupa dengan metode sains. Terjadi sebuah diskusi yang menarik di dalam kelas, dapatkah pembelajaran seni rupa didekati dengan sebuah metode saintifik. Karena ada paradigma, bahwa seni merupakan sesuatu yang intuitif, imajinatif dan seolah non sains, bersifat otak kanan. Sementara sains (ilmu pengetahuan alam) lebih mengarah kepada otak kiri, ilmiah, empiric dan bersifat eksak, dan pasti. Seni adalah suatu hal yang unpredictable, sementara sains lebih predictable. Sehingga dua kubu ini tentu mustahil untuk dipertemukan. Begitulah sekilas yang saya tangkap saat itu. Padahal, sesungguhnya, substansi yang ingin dicapai dalam pembelajaran seni (rupa, Musik, tari, teater) adalah lebih kepada metode nya, strateginya, dan bukan kepada perbenturan antara materi sains dengan seninya. Walhasil, diskusi di dalam kelas tersebut lebih kepada ‘kekagetan sementara’ terhadap pemberlakuan kurikulum 2013 dengan metode saintifiknya. Sesuatu hal tentu saja dalam batas kewajaran. Saintifik learning, adalah pembelajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah, atau saintifik approach, yang meliputi kegiatan menngamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi/menalar dan mengkomunikasikan untuk semua mata pelajaran (modul pelatihan KPI, 2014). Sementara menurut Puskurbuk Dikbud 2013, Pendekatan Ilmiah dalam pembelajaran mencakup langkahlangkah pembelajaran, observing (mengamati), Questioning (menanya), Experimenting (mencoba), Associating (menalar), Communication (mengkomunikasikan). Maka, menjadi sebuah tantangan tersendiri di lapangan, manakala uji coba sebuah strategi sains secara teoritis dengan aplikasi di pembelajaran sesungguhnya. Saat itu semangat yang ingin saya usung adalah sejauhmana menarik dan asyiknya metode tersebut. Eksperimen pun dimulai. Dalam 2 tahun (2013-2015 hingga saya ulangi tahun ajaran 2017-2018) masa uji coba yang saya terapkan, ada keunikan, keasyikan dan pencerahan yang luar biasa. Pembelajaran seni yang saya lakukan menjadi lebih terstruktur, sistematis dan yang paling utama adalah, diskusi dan perdebatan tentang seni dan sains menjadi kurang relevan. Ternyata seni, dengan scientific approach hasilnya adalah memberdayakan dan mencerdaskan.

Dengan beberapa kelebihan metode saintifik yang saya sampaikan diatas, tidak berarti tanpa celah kekurangan. Kekurangan tersebut bersifat parsial dan bukan metodologis. Yang paling mudah dilihat adalah, dengan jumlah mata pelajaran yang diajarkan, katakanlah 10 pelajaran dalam satu pekan, maka bisa dibayangkan murid merasakan kewalahan dan stressing tingkat tinggi. Meskipun demikian, jawaban dan solusinya adalah adanya pengaturan dan pengelolaan penugasan kepada murid. Jika hal ini dilaksanakan insyaalloh terhindar dalam penumpukan tugas sehingga menjadi beban fisik dan psikologis murid. Demikianlah pernik-pernik pembelajaran seni budaya di lapangan. Terdapat tantangan, keasyikan dan terdapat hikmah serta nilai-nilai yang perlu diungkap ke permukaan. Ini menjadi sesuatu yang sungguh menggairahkan bagi seorang guru. Sebagaimana menggairahkannya sisi kreatifitas dalam upaya pendokumentasian proses belajar yang dialami murid (peserta didik) di dalam buku mereka ini. Ada tegangan intelektual, imajinatif dan fisik mereka dalam mewujudkan buku ini. Faktanya, bagi saya dan mereka para murid saya, pendokumentasian proses belajar dan hasil karya seni rupa menjadi sebuah buku seperti yang tersaji ini adalah sama-sama baru melakukan dan mengalaminya. Walhasil, inilah yang saya maksud ‘tegangan’ tersebut. Maka, dengan melihat proses belajar hingga menjadi sebuah buku seperti ini, lepas dengan kesederhanaan bentuk dan wujudnya, maupun yang kompleks, merupakan sesuatu yang harus diapresiasi. Karena yang dilakukan murid-murid SMK ini bagi saya, merupakan suatu kebahagiaan dan kesyukuran tersendiri. Sehingga hal ini sangat layak untuk dirayakan. Karena proses pembelajarannya benar-benar dimulai dari awal, dari nol ! yakni hanya bermula dari satu Kisah Memori Bahagia. Maka, sekali lagi, sungguh suatu kebahagiaan tersendiri dan saya mensyukurinya. Secara ringkas proses belajar di dalam kelas, dimulai dari tahap awalsampai akhir diantaranya dengan : 1. Pembelajaran mengenai otak manusia yang sungguh dahsya dan mempesona,saya sampaikan di awal. Sehingga anak benar benar tertarik untuk mencoba mengaplikasikannya. Maka setelah masuk gelombang otakalfa, dimulailah aktivasi memori bahagia tersebut. Yaitu dengan cara mengondisikan di tahap awal berupa relaksasi dan pengaktifan gelombang otak alfa. 2. Selanjutnya anak-anak diminta menggambar secara ekspresif obyek gambar yang diperoleh selama aktivasi gelombang otak alfa. Semua murid berada di alam bawah sadar untuk ‘memanggil’ atau mengaktifkan kembali memori di otak, berupa kisah bahagia. Dalam metode saintifik metafisik, ini mengindikasikan sebuah pengamatan menggunakan mata batin. 3. Selanjutnya dalam alam sadar, anak-anak diminta menuangkan hasil ‘tangkapan’ batiniah / gambar metafisik metafisik tersebut ke dalam ranah fisik , yaitu berupa gambar, visualisasi empiris, yaitu dengan menggunakan media bolpoint di atas kertas. Dalam hal ini, meminjam istilah kritikus seni rupa Indonesia, S. Soedjoyono , gambar atau lukisan merupakan manivestasi jiwo ketog, jiwa yang nampak, yang kemudian tervisualisasikan dan dinikmati menggunakan indera penglihatan. Untuk mempertahankan zona alfa tersebut, sengaja anakanak saya minta tidak berbicara dengan teman-temannya, agar dia fokus terhadap apa yg dikerjakannya.

4. Kemudian, secara verbal, tahap berikutnya adalah, murid diminta menuliskan kisah bahagianya kedalam bentuk tulisan. Tuturan kisah bahagia dalam bentuk tulisan, ini adalah bahasa komunikasi si murid untuk menggambarkan secara riil yang dia alami. Hal ini bertujuan untuk untuk menangkap isi dan substansi pengalaman hidup yang pernah dia alami. Dalam beberapa kali pembelajaran yang lain, biasanya seluruh murid juga saya minta berdiri, kemudian menceritakan dengan lisannya kisah bahagianya. Dalam wilayah ini betapa tergambar dengan jelas, wajah dan ekspresi kebahagiaan yang terpancar dari anak-anak. Seringkali saya harus ikut menitikkan air mata, tatkala, anak saat menggambar atau mengisahkan kisah bahagianya, menangis sesenggukan membasahi kertas gambar dan pipinya. Sebuah pembelajaran yang mengharu biru perasaan saya sebagai seorang guru. Karena, meskipun yang digambarkan adalah kisah bahagia, namun kebahagiaan itu telah berakhir saat, misalnya, orang tuanya ternyata hari ini telah berpisah. Sungguh suatu pengalaman pembelajaran yang menyentuh hati.biasanya, akhir sesi verbal ini saya minta murid untuk menuliskan sebuah puisi. 5. Langkah selanjutnya adalah, meminta si murid untuk menciptakan karya visual dalam bahasa lain berupa komik strip. Yaitu sebuah gambar bercerita yang ceritanya berakhir dalam satu halaman. Di tahap ini saya, mengajari beberapa teknis singkat mengenai karakter penokohan, pembagian kolom, cerita, dan cara menghidupkan , ekspresi adegan sebuah gambar. 6. Penciptaan wayang diri dari kisah bahagia merupakan langkah kreatif tingkat selanjutnya yang dikerjakan oleh murid. Harapannya agar anak di saat menceitakan kisah bahagianya bisa menggunakan media bercerita. 7. Tahapan paling akhir adalah mendokumentasikannya dalam bentuk buku. Inilah wilayah monumentalnya sebuah karya yang hemat saya, menyejarah. Pada wilayah ini tidak lain merupakan implementasi perintah Alloh untuk Iqro (membaca) dan Qolam (menuliskannya). Demikian pula sebagaimana maqolah Sayyidina Ali , ’ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Juga dimaknai sebagai upaya kesejarahan dan dokumentasi proses pembelajaran terhadap hasil karya seni murid melalui penghantar memori bahagianya. 8. Dokumentasi buku ini terdapat 4 buah. Yang pertama buku Komik Kebahagiaan, yaitu kompilasi karya komik anak-anak dalam satu kelas. Kedua adalah Antologi Puisi Bahagia, ketiga adalah kumpulan kisah dan gambar bahagia seluruh anak dalam satu kelas. Dan yang terakhir serial kitab Kebahagiaan. Buku terakhir ini merupakan karya individu setiap murid, yang merupakan semua karya yang telah dihasilkan murid selama belajar seni budayadi kelas. Sebagai penutup, inilah metode saintifik (scientific approach) sejauh yang bisa saya terapkan dalam pembelajaran seni budaya. Maka, terjawab sudah pertanyaan saya di judul tulisan di atas, bisakah saintifik learning di dalam proses belajar seni rupa, jawabannya tentu bisa !. dan tentu saja , dalam hal ini akan ada diskusi yang menarik dan mencerdaskan secara intelektual. Kritikan dan saran tentu saja amat sangat saya perlukan untuk perbaikan pembelajaran saya secara pribadi, dan utamanya tentu saja demi kebaikan dan pemberdayaan murid-murid kita. Meskipun tidak ada tuntutan di dalam kurikulum nasional untuk mewujudkan menjadi sebuah buku, namun fikiran dan hati kecil saya mengarah kepada peninggalan jejak langkah yang bisa dikenang dan masih bisa dibaca adalah melalui tulisan (buku/qolam/tulisan). Sekaligus ,dengan

penuh ketundukan fikiran dan hati, ijinkan saya mendeklarasikan dan membenarkan seratus persen firman Allah taala dalam QS al Alaq ayat 1-4 : “Iqro’ /bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan qolam…” Fakta empirisnya, bukankah disaat mereka melihat dengan inderawinya,sebuah makhluq ciptaan Tuhan berupa hewan, saat itulah mereka “membaca/mengiqroi” alam dan ciptaan Alloh ta’ala. Kemudian mereka gambar, mengkreasi, serta mewujudakn dalam bentuk 2 dan 3 dimensi, hingga disaat mereka membukukan menjadi seperti yang Anda baca saat ini, mereka, murid-murid terkasih itu, pewaris masa depan gemilang negeri Indonesia Raya itu, sedang menunjukkan “qolam/tulisan” mereka. Artinya mereka , secara tidak langsung telah melaksanakan tugas dan misi suci Wahyu Tuhan dalam Al Quran , yakni membaca (iqro’) dan menulis (qolam) sekaligus. Paling akhir, dengan adanya Aktivasi memori Bahagia, sebagai ide berkarya seni budaya, yang terbukti mampu dan bisa menghasilkan karya-karya yang luar biasa, , maka proses selanjutnya adalah mewujudkan ide tersebut ke dalam bentuk-bentuk karya seni yang lain. Disitulah letak tantangannya. Namun, jika karya tersebut tidak diikat dengan menuliskannya, betapa rugi dan eman-emannya. Maka dengan berpedoman sebuah hikmah dari Sayyidina Ali yang perlu diaplikasikan adalah “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Maka inilah langkah kecil untuk mengkomunikasikan (sebagaimana tuntutan kurikulum 2013), mengapresiasi dan merayakan kemerdekaan intelektual mereka. Sebuah upaya kecil dalam rangka mendokumentasikan proses fikiran, perasaan dan kreatifitas hasil karya para murid-murid. Semoga ini menjadi inspirasi bagi mereka dan tertantang kembali suatu saat untuk melahirkan kembali tulisan-tulisan selanjutnya. Siapa tahu dari mereka lahir seorang penulis jenius yang mampu menginpirasi jutaan dan milyaran orang untuk membaca dan menerapkan fikiran, perasaan dan langkah-langkah mereka. Dan hari ini mereka telah memulainya. Alhamdulillah. Saya ucapkan Selamat dan bahagia dengan kehadiran buku pertama mereka ini. Pesan saya, tetap rendah hati, jangan pernah berhenti berkarya nan bermanfaat. Semoga ilmu kalian bermanfaat dunia akhirat. Amiin. Tulungagung, Sabtu Yauma Asy Syuro 10 Muharom 1439 H 30 September 2017

Related Documents


More Documents from "Mas Opek"