PAPER SISTEM IMUNITAS DAN HIV/AIDS Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Dewasa I kelas A15.1 Dosen Pembimbing: Ns. Yuni Dwi Hastuti, S.Kep., M.Kep
Disusun oleh Kelompok 8: 1. Noviana Rohmah
(22020115120026)
2. Iffah Nur Amalia
(22020115120022)
3. Juro Haeni
(22020115140098)
4. Anky Triwulan Sari
(22020115120047)
5. Fastika Furi Aprina
(22020115120058)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DEPARTEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2016
0
SISTEM IMUNITAS DAN HIV/AIDS
A. Sistem Imunitas 1. Definisi Sistem Imun Menurut Sloane (2004) sistem imunitas adalah salah satu sistem kompleks yang memberikan respons imun (humoral dan selular) untuk menghadapi agen asing spesifik seperti virus, baktei, toksin atau yang dianggap oleh tubuh sebagai bukan bagian diri.
2. Fungsi Sistem Imunitas (anonimous, 2015) : a. Melindungi tubuh dari bibit penyakit b. Menghancurkan mikroorganisme/ substansi asing dalam tubuh c. Menghilangkan sel mati untuk perbaikan jaringan d. Mengenali dan menghilangkan jaringan abnormal
3. Karakteristik Karakteristik sistem organ menurut Sloane (2004) sebagai berikut: a. Spesifisitas Sistem imun dapat membedakan zat asing yang tidak dikenali oleh tubuh dan responnya jika dibutuhkan. b. Memori dan Amplifikasi Sistem imun dapat mengingat suatu agens tertentu dan akan memberikan reaksi yang lebih cepat dan besar. c. Pengenalan bagian diri dan bukan bagian diri (asing) Sistem imun dapat membedakan agens asing, sel tubuhnya sendiri, dan protein sehingga membentuk kondisi autoimunitas (menyebabkan efek patologis pada tubuh).
4. Jenis Imunitas a. Imunitas aktif Imunitas aktif dapat diperoleh apabila tubuh kontak langsung dengan mikroorganisme atau toksin sehingga dapat membentuk
1
antibodinya sendiri. Menurut Sloane (2004), imunitas aktif dibagi menjadi 2, yaitu: 1) Imunitas aktif alami Tubuh terpapar sebuah penyakit dan sistem imun memproduksi antibodi serta limfosit khusus. Imunitas bisa seumur hidup atau sementara. 2) Imunitas aktif buatan Imunitas aktif buatan merupakan hasil vaksinasi. b. Imunitas pasif Menurut Sloane (2004), imunitas pasif dibagi menjadi 2, yaitu: 1) Imunitas pasif alami Imunitas ini terjadi saat janin mendapatkan antibodi igG dari ibu
yang
masuk
melalui
plasenta.
Antibodi
tersebut
memberikan perlindungan sementara pada sistem yang imatur. 2) Imunitas pasif buatan Antibodi yang diproduksi dari orang atau hewan yang kebal terhadap paparan antigen tertentu. Misal: antibodi dari kerbau yang kebal terhadap racun ular sehingga diinjeksikan pada orang yang sedang terkena gigitan ular. 5. Organ Asal Sistem Imun Organ-organ yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh disebut organ limfoid, organ limfoid dibedakan menjadi 2 ( Dokcil, 2015) yaitu: a. Organ limfoid primer (tempat sel-sel darah putih di produksi)
2
1) Sumsum Tulang
Gambar A.1 sumsum tulang (sumber : www.berpendidikan.com) Sumsum tulang berfungsi membantu produksi sel darah putih (leukosit), sel darah putih berperan dalam melawan infeksi dengan menciptakan berbagai jenis sel seperti: limfosit, antibodi, dan bahan kimia (Sudarrman, 2016). Menurut Isahi, D.S berdasarkan ada tidaknya granula dalam plasma limfosit dibagi menjadi : 1) Leukosit bergranula (granulosit) a) Neutofil berfungsi melawan antigen dengan cara memakannya (fagositosis), memakan jaringan tubuh yang rusak dan mati b) Eosinofil berfungsi sebagai fagosit namun jumlahya akan meningkat saat tubuh terkena infeksi c) Basofil berfungsi sebagai fagosit dan memiiki Antikoagulan (anti penggumpaln darah) berupa Heparin 2) Leukosit tidak bergranula (agranulosit) b)a
Limfosit berperan penting terhadap kekebalan tubuh karena
berfungsi membentuk antibodi, terdiri dari: Limfosit B: penghasil antibodi setelah tumbuh menjadi sel plasma Limfosit T: berfungsi sebagai bagian dari sistem pengawasan kekebalan
3
Sel NK berfungsi membunuh mikroba dan sel kanker tertentu (Dokcil, 2015). b)b
Monosit bersifat fagosit.
Sel fagosit akan menghancurkan antigen dengan menelannya, sel fagosit di bagi dua yaitu neutrofil dan makrofag, sel makrofag mempunyai kemampuan diapedesis yang dpat melacak lokasi dari antigen kemudian memakannya.
Gambar A.2 (Sumber: biologimediacentre.com)
Antibodi :
Gambar A.3 (Sumber: Scrollmed.com)
Gambar A.4 (Sumber : www.estrellamountain.com) 4
2) Kelenjar Timus
Gambar A.5 (Sumber : Tatangsma.com) Kelenjar timus berperan untuk memproses atau mendorong perkembangan limfosit terutama limfosit T dengan memproduksi protein hormon. Terletak di rongga dada bagian atas sebagian meluas ke leher. Timus berada di perikardium jantung, depan aorta, antara paru-paru, di bawah tiroid, dan di belakang tulang dada. Terdiri dari tiga sel yaitu: sel epitel sebagai pembentuk struktur timus, limfosit melindungi dari infeksi dan merangsang respon kekebalan tubuh, sel kulchitsky yaitu sel pelepas hormon. Didalam timus terdapat limfosit T yang di bedakan menjadi tiga kelas: sel T sitotoksik, sel ini akan bereaksi langsung untuk menghentikan antigen, sel T helper mengahasilkan zat-zat untuk pengaktifan sel T lain dan memicu produksi sel-B, sel T regulator sel T berfungsi menekan respon sel B dan sel T lain terhadap antigen (sudarman, 2015). b. Organ Limfoid Sekunder 1) Kelenjar Limfe atau getah bening
Gambar A.6 (Sumber : kelenjargetahbening.com) 5
Dalam setiap tubuh manusia, terkandung sebanyak 600 kelenjar getah bening yang terdapat di bagian tubuh manusia, khususnya bagian submandibular (bagian bawah rahang bawah), bagian ketiak, ataupun lipatan paha. Kelanjar getah bening terbungkus oleh kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel- sel pembentuk sistem imun atau sistem pertahanan tubuh. Kelenjar getah bening bersama dengan pembuluh getah bening, dan organ limfatik lainnya membantu mencegah adanya penumpukan cairan di jaringan, menjaga tubuh dari infeksi, dan juga mempertahankan volume dan juga tekanan darah di dalam tubuh. Kelenjar getah bening limfosit merupakan rumah dari sel- sel sistem kekebalan tubuh yang berasal dari sumsum tulang sel- sel induk (anonimous, 2016). 2) Sistem limfatik Sistem limfatik memiliki beberapa fungsi: transportasi sel darah putih dari dan ke kelenjar getah bening ke dalam tulang, dan transportasi antigen -presenting sel (seperti sel dendritik ) ke kelenjar getah bening di mana respon imun dirangsang. Jaringan limfoid ditemukan di banyak organ, terutama kelenjar getah bening (Mulyadi. Tedi, 2014).
Gambar A.7 (Sumber : mediskus.com) 3) Limpa bertindak sebagai filter darah, menghilangkan antibodi bersama dengan sel darah antibodi dilapisi dengan cara sirkulasi darah dan kelenjar getah bening.
6
Sumber : biologi.budiman.net 4) Amandel palatinedan tonsil nasofaring adalah jaringan limfoepitelial terletak di dekat orofaring dan nasofaring. Merupakan baris pertama sistem kekebalan tubuh dari pertahanan terhadap tertelannya atau terhirupnya patogen asing.
Gambar A.8 (Sumber : www.livescience.com)
6. Lapisan Imunitas Tubuh Menurut anonimous (2015), lapisan imunitas tubuh terdiri dari : a. Lapisan pertama (physical barrier) : kulit, membran mukosa, kelenjar keringat, sebum, kelenjar air mata, silia, asam lambung, kelenjar ludah. b. Lapisan kedua : sel leukosit fagositik, protein antimikroba dan respon inflamasi. c. Lapisan ketiga : sel limfosit dan antibodi.
7
7. Gangguan pada Respon Imun Beberapa gangguan yang dapat merusak respon imun menurut Sloane (2004) sebagai berikut: a. Alergi (hipersensitivitas) Alergi adalah respon yang berlebihan terhadap alergen (benda atau antigen) baik yang membahayakan maupun tidak. Alergi bisa terjadi secara langsung yaitu hanya berselang menit atau jam setelah pajanan ulang terhadap antigen. Ada tiga macam reaksi alergi langsung (Sloane, 2004): 1) Anafilaksis Terjadi beberapa menit setelah pajanan ulang dan merupakan akibat pengikatan igE hospes dengan sel mast dan basofil. 2) Sitotoksis Diperantarai oleh komplemen dan gabungan dari igG atau igM dengan antigen pada sel darah atau jaringan. 3) Kompleks imun Diperantarai
oleh
agregat
antibodi
dan
antigen
yang
mengaktivasi komplemen, trombosit dan sel fagosit pada jaringan yang rusak. b. Penyakit Autoimun Menurut Sloane (2004), penyakit autoimun terjadi karena adanya kegagalan toleransi diri imunologis yang menyebabkan respon sistem imun melawan dirinya sendiri. Contoh penyakit autoimun adalah penyakit addison kelenjar adrenal, artritis rematoid, anemia pernisius, systemic lupus erythematosus, myasthenia gravis, diabetes dependen non-insulin. c. Imunodefisiensi atau defisiensi imun Menurut Kusumo (2012), imunodefisiensi adalah tidak bekerja atau terganggunya salah satu atau seluruh komponen sistem imun. Contoh imunodefisiensi antara lain SCID (Severe Combined Immunodeficiency) adalah kegagalan imunitas humoral dan imunitas diperantarai sel untuk bekerja dan AIDS (Acquired
8
Immunodeficiency Virus) yaitu penyakit yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sel T helper yang menurunkan kekebalan tubuh sehingga rentan terkena penyakit.
B. HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immune Deficiency Syndrome) 1. Pengertian HIV dan AIDS a. HIV HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500 sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol) (KPA, 2007). Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae. Virus ini secara material genetik adalah virus RNA yang tergantung pada enzim reverse transcriptase untuk dapat menginfeksi sel mamalia, termasuk manusia, dan menimbulkan kelainan patologi secara lambat. Virus ini terdiri dari 2 grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing grup mempunyai lagi berbagai subtipe, dan masingmasing subtipe secara evolusi yang cepat mengalami mutasi. Diantara kedua grup tersebut, yang paling banyak menimbulkan kelainan dan lebih ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1 (Zein, 2006).
9
b. AIDS AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006). HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau media hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam kondisi AIDS, apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai dengan adanya berbagai infeksi baik akibat virus, bakteri, parasit maupun jamur. Keadaan infeksi ini yang dikenal dengan infeksi oportunistik (Zein, 2006).
2. Epidemiologi Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan dari Bali pada bulan April tahun 1987. Penderitanya adalah seorang wisatawan Belanda yang meninggal di RSUP Sanglah akibat infeksi sekunder pada paru-parunya. Sampai dengan akhir tahun 1990, peningkatan kasus HIV/AIDS menjadi dua kali lipat (Muninjaya, 1998). Sejak pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan tajam akibat penggunaaan narkotika suntik. Fakta yang mengkhawatirkan adalah pengguna narkotika ini sebagian besar adalah remaja dan dewasa muda yang merupakan kelompok usia produktif. Pada akhir Maret 2005 tercatat 6789 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan (Djauzi dan Djoerban, 2007). Sampai akhir Desember 2008, jumlah kasus sudah mencapai 16.110 kasus AIDS dan 6.554 kasus HIV. Sedangkan jumlah kematian akibat AIDS yang tercatat sudah mencapai 3.362 orang. Dari seluruh penderita AIDS tersebut, 12.061 penderita adalah laki-laki dengan penyebaran tertinggi melalui hubungan seks (Depkes RI, 2008).
10
3. Etiologi dan Patogenesis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dianggap sebagai virus penyebab AIDS. Virus ini termaksuk dalam retrovirus anggota subfamili lentivirinae. Ciri khas morfologi yang unik dari HIV adalah adanya nukleoid yang berbentuk silindris dalam virion matur. Virus ini mengandung 3 gen yang dibutuhkan untuk replikasi retrovirus yaitu gag, pol, env. Terdapat lebih dari 6 gen tambahan pengatur ekspresi virus yang penting dalam patogenesis penyakit. Satu protein replikasi fase awal yaitu protein Tat, berfungsi dalam transaktivasi dimana produk gen virus terlibat dalam aktivasi transkripsional dari gen virus lainnya. Transaktivasi pada HIV sangat efisien untuk menentukan virulensi dari infeksi HIV. Protein Rev dibutuhkan untuk ekspresi protein struktural virus. Rev membantu keluarnya transkrip virus yang terlepas dari nukleus. Protein Nef menginduksi produksi khemokin oleh makrofag, yang dapat menginfeksi sel yang lain (Brooks, 2005).
Gambar B.1. Struktur anatomi HIV (Sumber : TeenAIDS, 2008) Gen HIV-ENV memberikan kode pada sebuah protein 160kilodalton (kD) yang kemudian membelah menjadi bagian 120kD(eksternal) dan 41-kD (transmembranosa). Keduanya merupakan glikosilat, glikoprotein 120 yang berikatan dengan CD4 dan mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu perlekatan virus dangan sel target (Borucki, 1997).
11
Setelah virus masuk dalam tubuh maka target utamanya adalah limfosit CD4 karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Virus ini mempunyai kemampuan untuk mentransfer informasi genetik mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang
disebut
reverse
transcriptase.
Limfosit
CD4
berfungsi
mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif (Borucki, 1997). Setelah infeksi primer, terdapat 4-11 hari masa antara infeksi mukosa dan viremia permulaan yang dapat dideteksi selama 8-12 minggu. Selama masa ini, virus tersebar luas ke seluruh tubuh dan mencapai organ limfoid. Pada tahap ini telah terjadi penurunan jumlah sel-T CD4. Respon imun terhadap HIV terjadi 1 minggu sampai 3 bulan setelah infeksi, viremia plasma menurun, dan level sel CD4 kembali meningkat namun tidak mampu menyingkirkan infeksi secara sempurna. Masa laten klinis ini bisa berlangsung selama 10 tahun. Selama masa ini akan terjadi replikasi virus yang meningkat. Diperkirakan sekitar 10 milyar partikel HIV dihasilkan dan dihancurkan setiap harinya. Waktu paruh virus dalam plasma adalah sekitar 6 jam, dan siklus hidup virus rata-rata 2,6 hari. Limfosit T-CD4 yang terinfeksi memiliki waktu paruh 1,6 hari. Karena cepatnya proliferasi virus ini dan angka kesalahan reverse transcriptase HIV yang berikatan, diperkirakan bahwa setiap nukleotida dari genom HIV mungkin bermutasi dalam basis harian (Brooks, 2005). Pasien akan menderita gejala-gejala konstitusional dan penyakit klinis yang nyata seperti infeksi oportunistik atau neoplasma. Level virus yang lebih tinggi dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut. HIV yang dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut dan lebih virulin daripada yang ditemukan pada awal infeksi (Brooks, 2005). Infeksi oportunistik dapat terjadi karena para pengidap HIV terjadi penurunan daya tahan tubuh sampai pada tingkat yang sangat rendah, sehingga beberapa jenis mikroorganisme dapat menyerang bagian-bagian
12
tubuh tertentu. Bahkan mikroorganisme yang selama ini komensal bisa jadi ganas dan menimbulkan penyakit (Zein, 2006). Adapun pathway patogenesis HIV/AIDS adalah :
Sumber : lpkeperawatan.blogspot.com
4. Cara Penularan HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu (KPA, 2007c). Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual, kontak dengan darah atau sekret yang infeksius, ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu). (Zein, 2006) a. Seksual Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling dominan dari semua cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi selama senggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan
13
laki-laki. Senggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal (anus), oral (mulut) antara dua individu. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. b. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus HIV. c. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau tertusuk ke dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV, seperti jarum tato atau pada pengguna narkotik suntik secara bergantian. Bisa juga terjadi ketika melakukan prosedur tindakan medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja) bagi petugas kesehatan. d. Melalui silet atau pisau, pencukur jenggot secara bergantian hendaknya dihindarkan karena dapat menularkan virus HIV kecuali benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan. e. Melalui transplantasi organ pengidap HIV f. Penularan dari ibu ke anak. g. Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir melalui ASI. h. Penularan HIV melalui pekerjaan: Pekerja kesehatan dan petugas laboratorium. Terdapat resiko penularan melalui pekerjaaan yang kecil namun defenitif, yaitu pekerja kesehatan, petugas laboratorium, dan orang lain yang bekerja dengan spesimen/bahan terinfeksi HIV, terutama bila menggunakan benda tajam (Fauci, 2000). Tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat menularkan infeksi baik melalui ciuman maupun pajanan lain misalnya sewaktu bekerja pada pekerja kesehatan. Selain itu air liur terdapat inhibitor terhadap aktivitas HIV (Fauci,2000). Menurut WHO (1996), terdapat beberapa cara dimana HIV tidak dapat ditularkan antara lain: a. Kontak fisik Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita HIV/AIDS, bernapas dengan udara yang sama, bekerja maupun berada dalam suatu ruangan dengan pasien tidak akan tertular. Bersalaman, berpelukan
14
maupun mencium pipi, tangan dan kening penderita HIV/AIDS tidak akan menyebabkan seseorang tertular. b. Memakai milik penderita Menggunakan tempat duduk toilet, handuk, peralatan makan maupun peralatan kerja penderita HIV/AIDS tidak akan menular. c. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya. d. Mendonorkan darah bagi orang yang sehat tidak dapat tertular HIV.
5. Gejala Klinis Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor (umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi). a. Gejala mayor 1) Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan. 2) Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan. 3) Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan. 4) Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis. 5) Demensia atau HIV ensefalopati. b. Gejala minor 1) Batuk menetap lebih dari 1 bulan. 2) Dermatitis generalisata. 3) Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang. 4) Kandidias orofaringeal 5) Herpes simpleks kronis progresif 6) Limfadenopati generalisata 7) Retinitis virus Sitomegalo.
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER) (2008), gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase. a. Fase awal Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti
demam,
sakit
kepala,
15
sakit
tenggorokan,
ruam
dan
pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada orang lain. b. Fase lanjut Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau lebih. Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun tubuh, penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti pembesaran kelenjar getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare, berat badan menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek. c. Fase akhir Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir pada penyakit yang disebut AIDS.
6. Dampak Penyakit HIV/AIDS a. Dampak Fisik HIV menyebabkan kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh. Selain merugikan sistem kekebalan tubuh, HIV dan AIDS merusak sistem lain dalam tubuh termasuk pernapasan, saraf, pencernaan dan sistem kulit. Sementara ada obat ada untuk HIV atau AIDS, kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini dapat diobati. Berikut adalah ulasan bagaimana HIV/AIDS memengaruhi fisik maupun sistem tubuh: 1) Sistem kekebalan tubuh HIV dapat merusak sel-sel darah putih yang membantu sistem kekebalan
tubuh
melawan
penyakit
(sel
CD4).
Menurut
mayoclinic.com, HIV dapat menjadi AIDS dalam waktu 10 tahun bila dibiarkan tidak diobati. Selama waktu tersebut, HIV merusak sistem kekebalan tubuh ke titik di mana infeksi oportunistik mulai berkembang. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit pada orang 16
dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Gejala umum dari infeksi oportunistik mungkin berkaitan dengan berbagai sistem tubuh, diantaranya keringat malam, demam, menggigil, sesak napas, bintikbintik putih di mulut, kelelahan, ruam kulit dan penurunan berat badan. 2) Sistem pernapasan Seiring dengan perkembangan HIV menjadi AIDS, infeksi seperti pneumonia atau radang paru-paru, TB dan sarkoma Kaposi dapat menyebabkan
kondisi
pernapasan
parah.
Menurut
aids.org,
pneumocystis pneumonia (PCP) adalah infeksi oportunistik yang paling umum pada orang dengan HIV. Tanpa pengobatan, 85 persen dari mereka dengan HIV akan mengembangkan infeksi. Gejala kondisi pernapasan yang seringkali muncul akibat infeksi HIV atau AIDS terkait termasuk kesulitan bernapas, batuk kering dan demam. 3) Sistem saraf Sistem kekebalan tubuh yang lemah memungkinkan bakteri, virus, dan jamur menginfeksi sistem saraf pada pasien dengan HIV dan AIDS. Kondisi terkait AIDS umum yang memengaruhi sistem saraf termasuk demensia AIDS kompleks, limfoma dan toksoplasmosis. Gejala umum dari kondisi ini meliputi sakit kepala, keterlambatan berpikir, memori jangka pendek yang buruk serta perubahan perilaku dan koordinasi. 4) Sistem pencernaan Gangguan pencernaan (gastrointestinal, GI) adalah salah satu kondisi yang paling umum untuk mereka yang didiagnosis dengan HIV atau AIDS. Gejala dari gangguan ini termasuk diare, mual, muntah, penurunan berat badan, sakit perut, perdarahan GI dan tumor GI. Dr Johannes Koch dari University of California, San Francisco, melaporkan bahwa setidaknya 50 persen orang dengan HIV akan menderita ketidaknyamanan GI selama perkembangan penyakitnya. 5) Sistem kulit Banyak kondisi kulit yang dialami orang sehat juga terjadi pada orang dengan HIV atau AIDS. Sistem kekebalan tubuh yang lemah
17
sering membuat kondisi menjadi lebih parah dan lebih sulit diobati. Kondisi kulit umum yang terkait dengan HIV dan AIDS termasuk dermatitis, psoriasis dan gatal-gatal. Sebagian besar dapat diobati dengan obat-obatan. Pasien AIDS juga dapat mengembangkan kanker kulit yang langka yang dikenal sebagai sarkoma Kaposi. Penyakit ini ditandai dengan munculnya lesi merah muda, keunguan atau kecoklatan pada kulit. Lesi dapat dihilangkan dengan pembedahan, tetapi jika kanker menyebar ke kelenjar getah bening atau organ internal, kemoterapi dan radiasi mungkin diperlukan.
b. Dampak Psikologis DS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sindrom dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiecy syndrome) yang akhirnya akan membawa kematian pada akhirnya. Pada umumnya masyarakat tidak mengetahui secara memadai tentang pengertian penyakit HIV/AIDS. Pengetahuan tentang berbagai faktor yang menyebabkan penyakit HIV/AIDS misalnya, masyarakat umumnya juga kurang mengetahui secara rinci. Masyarakat hanya mengetahui penyebab penyakit HIV/AIDS, yang berasal dari perilaku seksual yang menyimpang. Kosa kata atau istilah yang dipakai masyarakat untuk menyebut perilaku seksual yang menyimpang adalah “suka jajan”, “punya simpanan”, dan hubungan sesame jenis. Sementara itu juga ada yang mneyebut berasal dari alat suntik (yang tercemar virus HIV), dan yang lainnya menyebut tertular dari ibu yang sedang mengandung. Secara teoritis masih banyak kelompok yang beresiko terkena penyakit HIV/AIDS seperti orang yang bekerja ditempat-tempat hiburan, hotel, karaoke, orang yang sering bepergian jauh, dan sebagainya termasukorang yang tinggal di lokalisasi.
18
Sekitar 75-90 % pasien AIDS mengalami patologi otak dengan berbagai sindrome neuropsikiatri, pada 10 % pasien dengan infeksi HIV, komplikasi neuropsikiatri merupakan gejala utama. Pada pasien dengan infeksi HIV dan AIDS dapat ditemukan kelainan-kelainan psikiatri klasik seperti depresi, ansietas, psikosis dan lain-lain. Selain itu juga terdapat dampak psikososial yang dapat ditemukan pada pasien HIV/AIDS. Ketika seseorang diberitahukan bahwa hasil tes HIV-nya positif, mereka dikonfrontasikan pada kenyataan bahwa mereka berhadapan dengan suatu keadaan terminal. Kenyataan ini akan memunculkan perasaan shock, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan dan depresi. Selama tahun-tahun awal di mana belum muncul gejala, stres akan berkurang. Tetapi, dengan berjalannya waktu di mana fungsi imun semakin menurun dan mulai ada tanda-tanda berhubungan dengan HIV seperti ruam-ruam kulit, penurunan berat badan, sesak napas, dan sebagainya, kecemasan serta depresi dapat timbul lagi. Mungkin disertai pula gagasan bunuh diri, gangguan tidur, dan sebagainya. Pasien HIV/AIDS memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus yang perlu dipertimbangkan dengan menetapkan tujuan terapi sebagai berikut: 1) Membantu pasien mempertahankan kontrol akan hidupnya dan membantu mereka menemukan mekanisme pertahanan yang sehat, termasuk sikap yang selalu positif dalam menghadapi begitu banyak tantangan dan stres dalam perjalanan penyakitnya. 2) Membantu pasien menghadapi perasaan bersalah, penyangkalan, panik, dan putus asa. 3) Bekerja bersama pasien menciptakan perasaan self-respect (menghormati diri sendiri) dan menyelesaikan konflik mereka jika ada (misalnya homoseksualitas, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya). 4) Membantu mereka berkomunikasi dengan keluarga, pasangan hidup dan teman-teman mengenai penyakit mereka dan rasa takut akan penolakan
19
serta
ditinggalkan.
Juga
membantu
mereka
membina
hubungan
interpersonal yang memuaskan. 5) Membantu mereka membangun strategi untuk berhadapan dengan krisis nyata yang mungkin terjadi, baik dalam kesehatan maupun sosioekonomi, dan hal-hal dalam kehidupan lainnya. c. Dampak Spiritual Di Indonesia pengobatan spiritual biasanya dikaitkan dengan agama. Benson memperkenalkan teknik respon relaksasi yaitu suatu teknik pengobatan untuk menghilangkan nyeri, insomnia, atau kecemasan. Cara pengobatan ini merupakan bagian dari pengobatan spiritual. Langkahlangkah respon relaksasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : (DR. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp Pd, KAI) 1. Pilihlah kalimat spiritual yang akan digunakan. 2. Duduk dengan santai. 3. Tutup mata. 4. Kendurkan otot-otot. 5. Bernafaslah secara alamiah. Mulai mengucapkan kallimat spiritual yang dibaca secara berulang. 6. Bila ada pikiran yang mengganggu, kembalilah fokuskan pikiran. 7. Lakukan 10-20 menit. 8. Jika sudah selesai, jangan langsung berdiri duduklah dahulu kemudin beristirahatlah. Buka pikiran kembali. Baru berdiri dan melakukan kegiatan kembali. Chicoki, (2007) mengatakan agama dan spiritualitas membantu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) meninjau kembali kehidupan mereka, menafsirkan apa yang mereka temukan, dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari untuk kehidupan baru dan membantu seseorang menemukan makna baru hidup setelah didiagnosis HIV. Sesuai dengan hasil penelitian Ironson, stuetzel & Fletcher, (2006) yang mengatakan 45 % partisipannya menunjukkan peningkatan spiritualitas setelah didiagnosa HIV, 42 % tetap sama, dan 13 % menurun.
20
Kemp, (1999) mengatakan bahwa Tuhan adalah Zat yang memiliki kekuatan yang besar dan mengetahui segala sesuatu di alam ini, yang menguasai ketakutan manusia dan mempunyai kemampuan melebihi manusia. Selaras dengan hasil penelitian Cotton, Puchalski & Sherman, (2006) mengatakan agama digunakan sebagai koping positif untuk penyakit HIV/AIDS oleh klien. Choki (2007) mengatakan spiritualitas pada klien HIV/AIDS adalah jalan untuk mengobati masalah emosional melalui agama dan spiritual. Penderita HIV/AIDS menjadi pribadi yang baru baik secara sadar maupun tidak sadar untuk memahami spiritualitas mereka dan diri mereka sendiri. Selain itu merupakan stimulus untuk menggali kembali kehidupan rohani dari kehidupan mereka. Bahkan melepas hal-hal yang tadinya merupakan bagian penting dari kehidupan mereka seperti sebelum didiagnosa HIV/AIDS. Klien HIV membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya untuk menjalani kehidupan sehari-harinya sesuai dengan penelitian Yi, Mrus, Wade. Et al (2004) melakukan penelitian tentang agama, spirituallitas, dan symptom depresi pada klien dengan HIV/AIDS mengatakan 53,6 % responden mengalami depresi yang signifikan. Depresi yang dialami oleh HIV/AIDS salah satu satunya dipengaruhi oleh kurangnya dukungan sosial. Dukungan sosial juga di realisasikan dalam harapan kliendengan HIV/AIDS untuk mempunyai harapan untuk kehidupan yang lebih baik dai hari depan. Harapan tersebut menurut Irsanty Collein, FK UI, 2010 adalah mencari pekerjaan dan memulai hidup yang baru, masih ingin terus berkarya dan memanfaatkan kesempatan yang di berikan Tuhan, memperbaiki diri dalam kegiatan keagamaan dan memulihkan fisik dulu. Wensley, (2008) mengatakan perawat berada pada posisi terbaik untuk memberikan asuhan keperawatan spiritual pada klien hanya dengan menjadi pendengar yang baik, membantu klien mengungkapkan keyakinan
21
mereka dan mendampingi klien selama perjalanan penyakitnya serta menyediakan perawatan rohani untuk klien HIV/AIDS akan tetapi pada kenyataanya perawat kurang mempunyai waktu untuk mendengarkan keluhan partisipan. Padahal peran perawat yang paling penting dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan HIV/AIDS. Pada dasarnya mereka membutuhkan untuk didengarkan. Seperti dalam kebutuhan dasar Maslow dalam piramidanya yang salah satunya adalah kebutuhan untuk didengarkan dan mendengarkan. Henderson mengatakan fungsi khas perawat yaitu melayani individu baik sakit maupun sehat dengan berbagai aktivitas yang memberikan sumbangan terhadap kesehatan dan upaya penyembuhan (maupun upaya mengantar kematian yang tenang) sehingga klien dapat beraktifitas mandiri dengan menggunakan kekuatan, kemauan, dan pengetahuan yang dimilikinya. Jadi, tugas utama perawat yaitu membantu klien menjadi lebih mandiri secepatnya. Henderson memandang manusia secara holistic atau secara keseluruhan, terdiri dari unsur fisik, biologis, sosiologi, dan spiritual. Neuman memandang manusia secara keseluruhan (holistic) yaitu terdiri
dari
faktor
fisiologis,
psikologis,
social-budaya,
faktor
perkembangan dan faktor spiritual yang berhubungan secara dinamis dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
7. Pengobatan dan Perawatan Pasien dengan HIV/AIDS a. Pengobatan dengan ARV Pemberian anti retroviral (ARV) telah menyebabkan kondisi kesehatan para penderita menjadi jauh lebih baik. Infeksi penyakit oportunistik lain yang berat dapat disembuhkan. Penekanan terhadap replikasi virus menyebabkan penurunan produksi sitokin dan protein virus yang dapat menstimulasi pertumbuhan. Obat ARV terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse transkriptase inhibitor, nucleotide reverse transcriptase inhibitor, non nucleotide reverse transcriptase
22
inhibitor dan inhibitor protease. Obat-obat ini hanya berperan dalam menghambat replikasi virus tetapi tidak bisa menghilangkan virus yang telah berkembang (Djauzi dan Djoerban,2006). Vaksin terhadap HIV dapat diberikan pada individu yang tidak terinfeksi
untuk
mencegah
baik
infeksi
maupun
penyakit.
Dipertimbangkan pula kemungkinan pemberian vaksin HIV terapeutik, dimana seseorang yang terinfeksi HIV akan diberi pengobatan untuk mendorong respon imun anti HIV, menurunkan jumlah sel-sel yang terinfeksi virus, atau menunda onset AIDS. Namun perkembangan vaksin sulit karena HIV cepat bermutasi, tidak diekspresi pada semua sel yang terinfeksi dan tidak tersingkirkan secara sempurna oleh respon imun inang setelah infeksi primer (Brooks, 2005).
b. Perawatan Nutrisi pada ODHA Menurut New Mexico AIDS Infonet & Falma Foundation (2004) dalam Nursalam, dkk (2007), pasien dengan HIV/AIDS (ODHA) membutuhkan beberapa unsur vitamin dan mineral dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasanya diperoleh dalam makanan sehari-hari. Hal ini dikarenakan sebagian besar ODHA akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral sehingga memerlukan makanan tambahan. Dalam beberapa kasus, HIV/AIDS akan mengalami perkembangan yang lebih cepat pada orang yang
defisiensi
vitamin
dan
mineral.
Kondisi
tersebut
sangat
membahayakan dan harus dilakukan penanganan. Selain karena sangat dibutuhkan oleh tubuh, vitamin dan mineral juga berperan untuk meningkatkan kemampuan tubuh dalam melawan berkembangnya HIV yang ada dalam tubuh (William, 2004 dalam Nursalam, dkk, 2007). Dampak HIV/AIDS pada kasus pemenuhan nutrisi yaitu hilangnya nafsu makan dan timbulnya gangguan absorpsi (penyerapan) nutrisi yang masuk dalam tubuh sehingga menyebabkan turunnya kadar dan cadangan vitamin dan mineral yang ada dalam tubuh. Menurut Anya (2002) dalam Nursalam, dkk (2007), defisiensi atau kekurangan vitamin dan mineral pada ODHA dimulai sejak masih berada pada stadium awal atau dini. ODHA
23
akan tetap kekurangan vitamin dan mineral meskipun jumlah makanan yang dikonsumsi sudah cukup dan berimbang seperti orang sehat. Berdasarkan beberapa kasus tersebut, selain mengkonsumsi vitamin dan mineral dalam jumlah yang tinggi, ODHA juga harus mengkonsumsi suplemen tambahan atau nutrisi tambahan agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi. Nursalam, dkk (2007) menyatakan bahwa pemberian nutrisi tambahan bertujuan agar beban ODHA tidak bertambah akibat kekurangan vitamin dan mineral. c. Perawatan Aktivitas dan Istirahat pada ODHA 1) Manfaat Olah Raga Terhadap Imunitas Tubuh ODHA perlu untuk berolahraga karena olahraga menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menciptakan tubuh yang sehat. Menurut Ader (1991) dalam Nursalam, dkk (2007), hampir semua organ akan stres dan berefek buruk pada kesehatan apabila olah raga hanya dilakukan pada keadaan tertentu saja. Sebaliknya, apabila olahraga dilakukan secara teratur, maka tubuh akan beradaptasi sehingga tubuh akan sehat. Olahraga yang dilakukan secara teratur dapat menghasilkan perubahan pada jaringan, sel, dan protein pada sistem imun (Ader 1991 dalam Nursalam, dkk, 2007). Melihat manfaat dari olahraga tersebut, maka olahraga amat penting bagi ODHA maupun masyarakat umum. 2) Pengaruh Latihan Fisik Terhadap Tubuh a) Perubahan Sistem Sirkulasi Menurut Ader (1991) dalam Nursalam, dkk (2007), olahraga yang dilakukan oleh orang dewasa dan sehat dapat meningkatkan cardiac output dari 5 liter menjadi 20 liter. Hal ini dipengaruhi adanya peningkatan darah ke otot skelet dan jantung. Manfaat dari latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan adaptasi pada sistem sirkulasi dan meningkatkan volume dan massa ventrikel kiri, sehingga terjadi peningkatan isi sekuncup dan berdampak pada tercapainya kapasitas kerja yang maksimal oleh cardiac output. b) Sistem Pulmoner
24
Menurut Ader (1991) dalam Nursalam, dkk (2007), olahraga dapat meningkatkan frekuensi napas, meningkatkan pertukaran gas, serta pengangkutan oksigen dan penggunaan oksigen oleh otot. 3) Metabolisme Saat berolah raga, otot akan memerlukan energi. Pada olahraga intensitas rendah sampai sedang, terjadi pemecahan trigliserida dan jaringan adiposa menjadi glikogen dan FFA. Pada olahraga intensitas tinggi kebutuhan energi meningkat, otot makin tergantung glikogen sehingga metabolisme berubah dari metabolisme aerob menjadi anaerob (Ader, 1991 dalam Nursalam, 2007). Menurut Ader (1991) dalam Nursalam (2007), metabolisme anaerob menghasilkan 2 ATP dan asam laktat
yang menurunkan kerja otot. Pada saat olahraga tubuh
membutuhkan banyak glukosa darah dan untuk mencegah hipoglikemia, tubuh meningkatkan glikogenolisis dan glukoneogenesis hati untuk mempertahankan gula darah normal. Porsi olahraga yang berlebihan dapat menyebabkan hipernatremia. Hai ini dikarenakan banyaknya cairan isotonis yang keluar bersama keringat serta adanya hiperkalemia karena kalium banyak dilepas dari otot. Selain itu bisa juga terjadi dehidrasi dan hiperosmolaritas.
8. Pencegahan Menurut Muninjaya (1998), tiga cara untuk pencegahan HIV/AIDS adalah Puasa (P) seks (abstinensia), artinya tidak (menunda) melakukan hubungan seks, Setia (S) pada pasangan seks yang sah (be faithful/fidelity), artinya tidak berganti-ganti pasangan seks, dan penggunaan Kondom (K) pada setiap melakukan hubungan seks yang beresiko tertular virus AIDS atau penyakit menular seksual (PMS) lainnya. Ketiga cara tersebut sering disingkat dengan PSK. Bagi mereka yang belum melakukan hubungan seks (remaja) perlu diberikan pendidikan. Selain itu, paket informasi AIDS untuk remaja juga perlu dilengkapi informasi untuk meningkatkan kewaspadaaan remaja
25
akan berbagai bentuk rangsangan dan rayuan yang datang dari lingkungan remaja sendiri (Muninjaya, 1998). Mencegah lebih baik daripada mengobati karena kita tidak dapat melakukan tindakan yang langsung kepada si penderita AIDS karena tidak adanya obat-obatan atau vaksin yang memungkinkan penyembuhan AIDS. Oleh karena itu kita perlu melakukan pencegahan sejak awal sebelum terinfeksi. Informasi yang benar tentang AIDS sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak mendapat berita yang salah agar penderita tidak dibebani dengan perilaku yang tidak masuk akal (Anita, 2000). Peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, masyarakat maupun kelompok sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan. Kemudian perilaku kesehatan akan berpengaruh pada peningkatan indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran (outcome) pendidikan kesehatan. (Notoadmodjo, 2007) Paket komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang masalah AIDS adalah salah satu cara yang perlu terus dikembangkan secara spesifik di Indonesia khususnya kelompok masyarakat ini. Namun dalam pelaksanaannya masih belum konsisten (Muninjaya, 1998). Upaya
penanggulangan
HIV/AIDS
lewat
jalur
pendidikan
mempunyai arti yang sangat strategis karena besarnya populasi remaja di jalur sekolah dan secara politis kelompok ini adalah aset dan penerus bangsa. Salah satu kelompok sasaran remaja yang paling mudah dijangkau adalah remaja di lingkungan sekolah (closed community) (Muninjaya, 1998). Keimanan dan ketaqwaan yang lemah serta tertekannya jiwa menyebabkan remaja berusaha untuk melarikan diri dari kenyataan hidup dan ingin diterima dalam lingkungan atau kelompok tertentu. Oleh karena itu diperlukan peningkatan keimanan dan ketaqwaan melalui ajaran-ajaran agama. (BNN, 2009)
26
Sebagian masyarakat Indonesia menggangap bahwa seks masih merupakan hal yang tabu. Termasuk diantaranya dalam pembicaraan, pemberian informasi dan pendidikan seks. Akibatnya jalur informasi yang benar dan mendidik sulit dikembangkan (Zulaini, 2000). Cara-cara mengurangi resiko penularan AIDS antara lain melalui seks aman yaitu dengan melakukan hubungan seks tanpa melakukan penetrasi penis ke dalam vagina, anus, ataupun mulut. Bila air mani tidak masuk ke dalam tubuh pasangan seksual maka resiko penularan akan berkurang. Apabila ingin melakukan senggama dengan penetrasi maka seks yang aman adalah dengan menggunakan alat pelindung berupa kondom (Yatim, 2006). Hindari berganti-ganti pasangan dimana semakin banyak jumlah kontak seksual seseorang, lebih mungkin terjadinya infeksi. Hindari sexual intercourse dan lakukan outercourse dimana tidak melakukan penetrasi. Jenis-jenis outercourse termaksuk masase, saling rangkul, raba, dan saling bersentuhan tubuh tanpa kontak vaginal, anal, atau oral (Hutapea, 1995). Bagi pengguna obat-obat terlarang dengan memakai suntik, resiko penularan akan meningkat. Oleh karena itu perlu mendapat pengetahuan mengenai beberapa tindakan pencegahan. Pusat rehabilitasi obat dapat dimanfaatkan untuk menghentikan penggunaan obat tersebut. Bagi petugas kesehatan, alat-alat yang dianjurkan untuk digunakan sebagai pencegah antara lain sarung tangan, baju pelindung, jas laboratorium, pelindung muka atau masker, dan pelindung mata. Pilihan alat tersebut sesuai dengan kebutuhan aktivitas pekerjaan yang dilakukan tenaga kesehatan (Lyons, 1997). Bagi seorang ibu yang terinfeksi AIDS bisa menularkan virus tersebut kepada bayinya ketika masih dalam kandungan, melahirkan atau menyusui. ASI juga dapat menularkan HIV, tetapi bila wanita sudah terinfeksi HIV pada saat mengandung maka ada kemungkinan si bayi lahir sudah terinfeksi HIV. Maka dianjurkan agar seorang ibu tetap menyusui anaknya sekalipun HIV +. Bayi yang tidak diberi ASI beresiko lebih besar tertular penyakit lain atau menjadi kurang gizi (Yatim, 2006).
27
Bila ibu yang menderita HIV tersebut mendapat pengobatan selama hamil maka dapat mengurangi penularan kepada bayinya sebesar 2/3 daripada yang tidak mendapat pengobatan (MFMER, 2008).
9. Perawatan Pasien HIV a. Pengkajian 1) Riwayat Penyakit Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes : a) Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T ) Terapiradiasi, defisiensinutrisi, penuaan, aplasiatimik, limpoma, kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital. b) Kerusakan imunitas humoral (Antibodi) Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein – liosing enteropati (peradangan usus) 2) Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif) a) Aktifitas / Istirahat Gejala : Mudah lelah, intoleran activity,progresi malaise, perubahan pola tidur. Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas (Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
28
b) Sirkulasi Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera. Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler. c) Integritas dan Ego Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya. Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah. d) Eliminasi Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi. Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine. e) Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia. Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema f) Hygiene Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS. Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri. g) Neurosensori Gejala
: Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,
kerusakan status indera, kelemahan otot, tremor, perubahan penglihatan. Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang. h) Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala, nyeri dada pleuritis.
29
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentan gerak, pincang. i) Pernafasan Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada. Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum. j) Keamanan Gejala : Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka, transfuse darah, penyakit defisiensi imun, demam berulang, berkeringat malam. Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul,
pelebaran
kelenjar limfe, menurunya
kekuatan umum, tekanan umum. k) Seksualitas Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi, menurunnya libido, penggunaan pil pencegah kehamilan. Tanda : Kehamilan,herpes genetalia l) Interaksi Sosial Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian, adanya trauma AIDS. Tanda : Perubahan interaksi m) Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi, penyalahgunaan obat-obatan IV, merokok, alkoholik.
b. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem imunologis HIV / AIDS adalah: 1) Resiko tinggi terhadap infeksi b/d pertahanan primer tidak efektif. 2) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan yang berlebihan, diare berat.
30
3) Resiko
tinggi
terhadap
tidak
efektifnya
pola
nafas
b/d
ketidakseimbangan muscular. 4) Resiko tinggi terhadap perubahan faktor pembekuan b/d penurunan absorpsi Vitamin K. 5) Perubahan nutrisi kurang dari tubuh b/d perubahan pada kemampuan untuk mencerna b/d penurunan berat badan. 6) Nyeri kronik b/d inflamasi, keluhan nyeri. 7) Kerusakan integritas kulit b/d efisit imunologi, lesi kulit. 8) Perubahan
membran
mukosa
oral
b/d
defisit
imunologi,
candidiasis. 9) Kelelahan b/d perubahan produksi energi metabolisme, kekurangan energi. 10) Perubahan proses pikir b/d hipoksemia, perubahan lapang perhatian. 11) Ansietas b/d ancaman pada konsep pribadi, peningkatan tegangan. 12) Isolasi sosial b/d perubahan status kesehatan, perasaan ditolak. 13) Ketidakberdayaan b/d perubahan pada bentuk tubuh, bergantung pada orang lain untuk perawatan. 14) Kurang pengetahuan mengenai penyakit b/d tidak mengenal sumber informasi, permintaan informasi.
c.
Perencanaan Keperawatan
Dx
Kriteria Hasil
1
Mengidentifikasi atau a) Cuci tangan sebelum dan sesudah seluruh ikut
serta
perilaku
Intervensi
Mengurangi
dalam kontak perawatan dilakukan instruksikan resiko yang pasien atau orang terdekat untuk mencuci terkontaminasi
megurangi
resiko tangan sesuai indikasi
infeksi mencapai masa b) penyembuhan
bebas
silang
Berikan lingkungan yang bersih dan -
Mengurangi
luka berventilasi baik periksa pengunjung atau patogen pada sistem
atau lesi tidak demam staf dan
Rasionalisasi
terhadap
dari mempertahankan
31
tanda
infeksi
kewaspadaan
dan imun sesuai mengurangi
dan
pengeluaran
atau indikasi
kemungkinan pasien
sekresi purulen dan
mengalami
infeksi
tanda-tanda lain dari
nosokomial
kondisi infeksi
-
Meningkatkan
kerja sama dengan c) Diskusikan tingkat dan rasional isolasi pencegahan dan mempertahankan kesehatan
cara
hidup
berusaha mengurangi
pribadi
dan
rasa
terisolasi -
Memberikan
informasi d) Pantau tanda-tanda vital termasuk suhu
dasar
awitan
atau
peningkatan
suhu
secara
berulang-
ulang dari demam yang terjadi untuk menunjukkan bahwa tubuh bereaksi pada proses infeksi yang baru dimana obat tidak
lagi
dapat
secara
efektif
mengontrol
infeksi
yang
tidak
dapat
disembuhkan - Kandidiasis oral, herpes, CMV dan e) Bersihkan kulit atau membran mukosa crytocolus oral terdapat bercak putih atau lesi
penyakit
adalah yang
umum terjadi dan memberikan
efek
pada membran kulit
32
- Identifikasi atau perawatan awal dari f)
Periksa adanya luka atau lokasi alat infeksi
sekunder
infasif,perhatikan tanda-tanda inflamasi atau dapat infeksi lokal
mencegah
terjadinya sepsis - Mengontrol mikro organisme
pada
permukaan keras g) Bersihkan percikan cairan tubuh atau darah dengan larutan pemutih 1 : 10 2
Mempertahankan hidrasi
a) Pantau tanda-tanda vital termasuk CVP, -
Indikator
dibuktikan bila terpasang, catata hipertensi termasuk volume
oleh membran mukosa perubahan postural
dari cairan
sirkulasi
lembab, turgor kulit b) Kaji turgor kulit, membran mukosa dan -
Indikator
tidak
baik, haluaran urine rasa haus
langsung dari status
adekuat secara pribadi
cairan c)
Pantau pemasukan oral dan masukan -
cairan sedikitnya 2500 ml / hari
Mempertahankan
keseimbangan cairan, mengurangi rasa
haus,
dan
melembabakan membran mukosa 3
Mempertahankan pola a) Tinggikan kepala tempat tidur usahakan pernapasan membran
Meningkatkan
efektif pasien untuk berbalik, batuk, menarik nafas fungsi mukosa sesuai kebutuhan
pernafasan
yang optimal dan
tidak mengalami sesak
mengurangi aspirasi
nafas
atau
atau
sianosis
infeksi
yang
dengan bunyi nafas
ditimbulkan karena
dan sinar x bagian
atelektasis
dada yang bersih atau
-
meningkat dan AGD
pleuritis
dalam batas normal b) Selidiki tentang keluhan nyeri dada
menggambarkan
33
Nyeri
dada dapat
pasien
adanya non
pnemonia
spesifik
efusi
atau pleura
berkenaan
dengan
keganasan -
Menurunkan
konsumsi O2
c)
Berikan periode istirahat yang cukup
diantara
waktu
aktivitas
pertahankan
lingkungan yang tenang 4
Menunjukkan homosatis
a) Lakukan pemeriksaan darah pada cairan -
Mempercepat
yang tubuh untuk mengetahui adanya darah pada deteksi
adanya
ditunjukkan
dengan urine, feses dan cairan muntah
perdarahan
tidak
adanya
penentuan awal dari
perdarahan
mukosa
therapi
dan
bebas
dari
dapat
ekimosis
/
mungkin mencegah
perdarahan kritis b) Pantau perubahan tanda-tanda vital dan warna kulit
Timbulnya
perdarahan hemoragi
/ dapat
menunjukkan kegagalan sirkulasi / syok c) Pantau perubahan tingkat kesadaran dan gangguan penglihatan
Perubahan dapat
menunjukkan adanya
perdarahan
otak 5
Mempertahankan BB a)
Kaji kemampuan untuk mengunyah, -
Lesi
atau memperlihatkan merasakan dan menelan
tenggorokan,
peningkatan BB yang
esofagus
34
mulut, dan dapat
mengacu pada tujuan
menyebabkan
yang diinginkan
dispagia, penurunan kemampuan pasien untuk
mengolah
makanan
dan
mengurangi keinginan
untuk
makan b) Timbang BB sesuai kebutuhan, evaluasi -
Indikator
BB dalam hal adanya BB yang tidak sesuai. kebutuhan nutrisi / Gunakan serangkaian pengukuran BB dan pemasukan antropometrik
adekuat
c) Jadwalkan obat-obatan diantara makan dan
batasi
yang
pemasukan
cairan
Lambung yang
dengan penuh
akan
makanan, kecuali jika cairan memiliki nilai mengurangi gizi
nafsu
makan
dan
pemasukan makanan d) Dorong pasien untuk duduk pada waktu makan
Mempermudah
proses menelan dan mengurangi
resiko
aspirasi e) Catat pemasukan kalori
-
Mengidentifikasi
kebutuhan terhadap suplemen
atau
alternatif
metode
pemberian makanan 6
Keluhan hilang atau a) terkontrolnya sakit
Kaji keluhan yeri, perhatikan lokasi, -
Mengindikasikan
rasa intensitas (skala 1 – 10), frekuensi dan waktu kebutuhan menandai gejala non verbal
untuk
intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan
35
/
resolusi komplikasi b) Dorong pengungkapan perasaan
-
Dapat
mengurangi ansietas dan
rasa
takut,
sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit -
Meningkatkan
relaksasi
/
menurunka c)
Lakukan
tindakan
pariatif
mis: tegangan otot
pengubahan posisi, masase, rentang gerak pada sendi yang sakit
Infeksi diketahui
sebagai
penyebab
rasa sakit dan abses d) Berikan kompres hangat / lembab pada steril sisi infeksi pentamidin / IV selama 20 menit setelah pemberian 7
Menunjukkan tingkah a) Kaji kulit setiap hari, catat warna, turgor, -
Menentukan
laku / teknik untuk sirkulasi dan sensasi. Gambarkan lesi dan garis dasar dimana mencegah
kerusakan amati perubahan
perubahan
pada
kulit / meningkatkan
status
dapat
kesembuhan
dibandingkan
dan
melakukan intervensi yang tepat -
Friksi
disebabkan b)
kulit oleh
Pertahankan sprei bersih, kering dan kain yang berkerut
tidak berkerut
dan
basah
yang
menyebabkan iritasi dan
potensial
terhadap infeksi
36
-
Dapat
mengurangi kontaminasi bakteri, meningkatkan c) Tutupi luka tekan yang terbuka dengan pembalut yang steril atau barrier produktif 8
Menunjukkan membran
proses penyembuhan
a) Kaji membran mukosa / catat seluruh lesi -
Edema,
mukosa oral. Perhatikan keluhan nyeri, bengkak, sulit membran
lesi,
mukosa
utuh, berwarna merah mengunyah / menelan
oral dan tenggorok
jambu,
kering
basah
dan
bebas dari inflamasi /
menyebabkan
rasa
ulserasi
sakit
sulit
dan
mengunyah
/
menelan b) Berikan perawatan oral setiap hari dan -
Mengurangi rasa
setelah makan, gunakan sikat gigi halus, tidak
nyaman,
pasta sisi non abrasif, obat pencuci mulut meningkatkan non alkohol dan pelembab bibir
rasa
sehat dan mencegah pembentukan asam yang
dikaitkan
dengan
partikel
makanan
yang
tertinggal -
Mengurangi
penyebaran lesi dan c)
Cuci
lesi
mukosa
oral
dengan
menggunakan hidrogen peroksida / salin atau larutan soda kue
krustasi
dari
kandidiasis
dan
meningkatkan kenyamanan saliva
37
Merangsang untuk
d) Anjurkan permen karet / permen tidak menetralkan mengandung gula
dan
asam
melindungi
membran mukosa -
Rokok
akan
mengeringkan
dan
mengiritasi e) Dorong pasien untuk tidak merokok 9
membran mukosa
Melaporkan
a) Kaji pola tidur dan catat perubahan dalam -
peningkatan energi
proses berpikir / perilaku
Berbagai faktor
dapat meningkatkan kelelahan, termasuk kurang
tidur,
penyakit
ssp,
tekanan emosi dan efek samping obatobatan / kemoterapi -
Periode istirahat
yang sering sangat dibutuhkan b)
Rencanakan
perawatan
dalam
untuk memperbaiki
/
menyediakan fase istirahat. Atur aktivitas menghemat energi. pada waktu pasien sagat berenergi. Ikut Perencanaan
akan
sertakan pasien / orang terdekat pada membuat penyusunan rencana
pasien
menjadi aktif pada waktu
dimana
tingkat energi lebih tinggi,
sehingga
dapat memperbaiki perasaan sehat dan kontrol diri -
Mengusahakan
kontrol
38
diri
dan
perasaan
berhasil,
mencegah timbulnya perasaan
c)
Tetapkan keberhasilan aktivitas yang
Mempertahankan
fungsi
optimal
kelelahan
karena
a) Kaji status mental dan neurologis dengan -
orientasi realita umum menggunakan dan
akibat
aktivitas berlebihan
realitas dengan pasien 10
frustasi
kognitif perubahan rangsang,
alat
yang
sesuai.
orientasi,
respon
kemampuan
untuk
Menetapkan
Catat tingkat
fungsional
terhadap pada
waktu
mencegah penerimaan
dan
masalah, ansietas, perubahan pola tidur, mewaspadakan halusinasi dan ide paranoid
perawat
pada
perubahan
status
yang
dapat
dihubungkan dengan
infeksi
/
kemungkinan penyakit ssp yang makin
buruk,
stressor lingkungan, tekanan
fisiologis,
efek samping terapi obat-obatan -
Gejala
ssp
dihubungkan dengan meningitis / ensefalitis diseminata mungkin b) Pantau adanya tanda-tanda infeksi ssp, mis: sakit kepala, kekakuan nukal, muntah,
memiliki jangkauan dari
perubahan
kepribadian
demam
39
yang
tidak
kelihatan
sampai
kekacauan
mental,
peka
rangsangan, mengantuk, pingsan, kejang
dan
demensia -
Memberikan
waktu
tidur,
emngurangi
gejala
kognitif dan kurang tidur -
Mendapatkan
informasi
bahwa
A2T telah muncul untuk memperbaiki kognisi
dapat
memberikan c) Susun batasan pada perilaku mal adaptif / harapan dan kontrol menyiksa, hindari pilihan pertanyaan terbuka terhadap kehilangan
d) Diskusikan penyebab / harapan di masa depan dan perawatan jika demensia telah terdiagnosa. Gunakan istilah yang kongkret 11
Menyatakan kesadaran perasaan sehat
a) Jamin pasien tentang kerahasiaan dalam tentang batasan situasi tertentu
dan
cara untuk
Memberikan
penentraman
hati
lebih
dan
lanjut
kesempatan pasien
40
bagi untuk
menghadapinya
memecahkan masalah pada situasi yang diantisipasi -
Dapat
mengurangi ansietas dan b) Berikan informasi akurat dan konsiste ketidakmampuan mengenai prognosis, hindari argumentasi pasien
untuk
mengenai persepsi pasien terhadap situasi membuat keputusan tersebut
/
pilihan
berdasarkan realita -
Membantu
pasien untuk merasa diterima
pada
kondisi
sekarang
tanpa
perasaan
c)
Berikan lingkungan terbuka dimana dihakimi pasien akan merasa aman untuk meningkatkan
dan
mendiskusikan perasaan atau menahan diri perasaan harga diri untuk berbicara dan kontrol -
Menciptakan
interaksi
personal
yang lebih baik dan menurunkan ansietas
dan
rasa
takut
d) Berikan informasi yang dapat dipercaya dan konsisten, juga dukungan untuk orang terdekat 12
Menunjukkan
a) Tentukan persepsi pasien tentang situasi
peningkatan perasaan
-
Isolasi sebagian
dapat
41
harga diri
mempengaruhi diri saat
pasien
takut
penolakan / reaksi orang lain -
Mengurangi
perasaan
b) Batasi / hindari penggunaan masker, baju dan sarung tangan jika memungkinkan mis:
pasien
akan
isolasi
dan
menciptakan
hubungan
fisik
sosial
yang positif yang
jika berbicara dengan pasien
dapat meningkatkan rasa percaya diri -
Partisipasi orang
lain
dapat
meningkatkan
rasa
kebersamaan -
Membantu
menetapkan c)
Dorong kunjungan terbuka, hubungan partisipasi telepon dan aktivitas sosial dalam tingkat hubungan yang memungkinkan
dapat
pada sosial
mengurangi
kemungkinan upaya d) Dorong adanya hubungan yang aktif bunuh diri dengan orang terdekat 13
Menyatakan perasaan a) Kaji tingkat perasaan tidak berdaya, mis: dan cara yang sehat ekspresi untuk
yang status
individual
berhubungan mengindikasikan kurang kontrol, efek daftar pasien
dan
dengan mereka
verbal
/
kurangnya komunikasi
non
verbal
Menentukan
mengusahakan intervensi
yang
sesuai pada waktu
42
pasien
imobilisasi
karena
perasaan
depresi b) Dorong peran aktif pada perencanaan -
Memungkinkan
aktivitas, menetapkan keberhasilan harian, peningkatan yang realitas / dapat dicapai dorong kontrol perasaan kontrol dan pasien
dan
tanggung
jawab
sebanyak menghargai
diri
mungkin, identifikasi hal-hal yang dapat dan sendiri tidak dapat dikontrol pasien 14
tanggung jawab
Mengungkapkan
a) Tinjau ulang proses penyakit dan apa -
pemahamannya
yang menjadi harapan di masa depan
tentang
kondisi
dan
/
Memberikan
pengetahuan
dasar
dimana pasien dapat
proses dan perawatan
membuat
pilihan
dari penyakit tertentu
berdasarkan informasi -
Mengoreksi
mitos dan kesalahan b) Tinjau ulang cara penularan penyakit
konsepsi, meningkatkan keamanan
bagi
pasien / orang lain -
Memberikan
pasien
kontrol
mengurangi rasa c)
Berikan
informasi
mengenai
penatalaksanaan gejala yang melengkapi aturan medis, mis: pada diare intermiten, gunakan lomotil sebelum pergi kegitan sosial
malu
kesehatan dan evaluasi
kenyamanan -
Memberi
kesempatan
untuk
mengubah
aturan
memenuhi
kebutuhan perubahan individual
43
dan
meningkatkan
untuk d) Tekankan perlunya melajutkan perawatan
resiko
atau
-
Memudahkan
pemindahan
dari
lingkungan perawatan
akut,
mendukung pemulihan kemandirian e) Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: rumah sakit / pusat perawatan tempat tinggal (bila ada)
44
dengan
DAFTAR PUSTAKA Anonymous. (2015). Dampak HIV dan AIDS pada Sistem Tubuh. Diakses pada 16 September 2016, dari : http://www.sehatfresh.com/dampak-hiv-danaids-pada-sistem-tubuh/ Anonimous. 2016. Fungsi kelenjar getah bening pada tubuh manusia. Diakses pada tanggal 15 september 2016, dari: http://dosenbiologi.com/manusia/fungsi-kelenjar-getah-bening-pada-tubuhmanusia Anonimous. 2015. Sistem imunitas/kekebalan tubuh manusia. Diakses pada tanggal 15 september 2016, dari: www.pintarbiologi.com Collein, Irsyanti. (2010). Makna Spiritualis Pada Pasien HIV/AIDS Dalam Konteks Asuhan Keperawatan di RSUPN dr Cipto Mangun Kusumo Jakarta. FK UI. Djausi, Samsu Rizal. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2000. Dokcil. 2015. Biologi sistem kekebalan tubuh. Diakses pada tanggal 15 September 2016, dari: googleweblight.com. Duarsa, N. Wirya. 2003. Penyakit Menular seksual Edisi kedua. Jakarta : FKUI Isahi, D.S. Sistem kekebalan tubuh. Diakses pada tanggal 15 september 2016, dari: biologimediacentre.com Kemenkes. (2015). Dampak Psikologis Sosial dan Spiritual Orang dengan HIV/AIDS. Diakses pada 16 September 2016, dari : http://onesearch.kink.kemkes.go.id/Record/PoltekkesSbyJK-article27/Description#tabnav Kusumo, Pratiwi D. (2012). Gangguan imunodefisiensi primer (PID). Diakses pada tanggal 16 September 2016, dari: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=250237&val=6691&titl e=GANGGUAN%20IMUNODEFISIENSI%20PRIMER%20(PID) Mulyadi. Tedi. 2014. Fungsi sel dan organ dalam sistem kekebalan tubuh. Diakses pada tanggal 15 september 2016, dari: http://budisma.net/2014/12/fungsisel-dan-organ-dalam-sistem-kekebalan-tubuh.html Nursalam, dkk. (2007). Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV. Jakarta: Salemba Medika Sloane, Ethel. (2004). Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC. Sudarman. 2015. Fungsi kelenjar timus. Diakses pada tanggal 15 September 2016, dari: googleweblight.com Suzanne C Smeltzer, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 2001.
45