Bab 13 Auditing

  • Uploaded by: TricksterAres 8
  • 0
  • 0
  • August 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Bab 13 Auditing as PDF for free.

More details

  • Words: 1,335
  • Pages: 4
BAB 13 “PENYELESAIAN PENGUJIAN DALAM SIKLUS PENJUALAN DAN PENGUMPULAN PIUTANG USAHA”  Metodologi Untuk Perancangan Pengujian Rinci Saldo Identifikasi risiko bisnis klien yang berpengaruh terhadap piutang usaha

Tetapkan kesalahan penyajian bisa ditoleransi dan risiko bawaan untuk piutang usaha

Tahap 1

Tahap 1

Tetapkan risiko pengendalian untuk siklus penjualan dan penerimaan piutang

Tahap 1

Rancang dan lakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi untuk penjualan dan penerimaan piutang

Tahap 2

Rancang dan lakukan prosedur analitis untuk saldo piutang usaha

Tahap 3

Prosedur Audit Rancang pengujian rinci saldo piutang usaha untuk memenuhi tujuan audit saldo

Ukuran Sampel

Tahap 3

Unsur yang dipilih Saat Tujuan umum audit saldo piutang usaha sebagai berikut: 1. Piutang usaha dalam daftar umur piutang cocok dengan jumlah dalam master file yang bersangkutan, dan penjumlahannya sudah benar dan cocok dengan saldo di buku besar (kecocokan saldo). 2. Piutang yang tercantum dalam pembukuan sungguh-sungguh ada (keberadaan). 3. Semua piutang yang ada telah dicatat dalam pembukuan (Kelengkapan). 4. Piutang usaha telah dicatat dengan akurat (Ketelitian). 5. Piutang usaha telah digolongkan dengan benar (Penggolongan). 6. Pisah batas piutang usaha ditetapkan dengan benar (Pisah batas).

7. Piutang usaha dinyatakan sebesar nilai yang bisa direalisasi (Nilai bisa direalisasi). 8. Klien memiliki hak terhadap piutang usaha.  Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien Yang Berhubungan Dengan Piutang Usaha (Tahap 1) Pengujian piutang usaha didasarkan pada prosedur penetapan risiko oleh auditor yang memberi pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien. Auditor mempelajari bidang usaha klien dan lingkungan eksternal dan mengevaluasi tujuan manajemen serta proses bisnis untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang signifikan yang dapat mempengaruhi proses laporan keuangan, termasuk piutang usaha. Manejemen juga melakukan prosedur analitis pendahuluan yang mugkin memberi petunjuk meningkatnya risiko kesalahan penyajian dalam piutang usaha.  Menetapkan Kesalahan Penyajian Bisa Ditoleransi Dan Risiko Bawaan Auditor pertama-tama menetapkan pertimbangan materialitas pendahuluan untuk keseluruhan laporan keuangan, dan kemudian mengalokasikan jumlah pertimbangan pendahuluan tersebut ke setiap akun neraca yang signifikan.pengalokasian ini disebut menetapkan kesalahan penyajian bisa ditoleransi. Auditor umumnya mengidentifikasi suatu risiko kecurangan (fraud risk) tertentu untuk pengakuan pendapatan. Hal ini bisa mempengaruhi penetapan risiko bawaan oleh auditor untuk tujuan-tujuan berikut : keberadaan, pisah batas penjualan, dan pisah batas retur penjualan. Klien sering salah menetapkan pisah batas, baik disebabkan karena kekeliruan atau kecurangan. Demikian pula klien sering salah menetapkan cadangan kerugian piutang (nilai bersih bisa direalisasi), baik secara tidak disengaja maupun karena kecurangan, karena kesulitan membuat pertimbangan dalam menentukan saldo yang benar.  Menetapkan Risiko Pengendalian Untuk Siklus Penjualan Dan Pengumpulan Piutang Auditor biasanya menekankan tiga aspek pengendalian internal, yaitu: 1. Pengendalian untuk mencegah atau mendeteksi kesalahan dan kecurangan 2. Pengendalian terhadap pisah batas 3. Pengendalian yang berkaitan dengan akun cadangan kerugian piutang Ada dua aspek hubungan yang perlu mendapat perhatian khusus: 1. Untuk penjualan, tujuan audit transaksi – keterjadian mempengaruhi tujuan audit saldo – keberadaan. Namun untuk penerimaan kas, tujuan audit transaksi – keterjadian mempengaruhi tujuan audit saldo – kelengkapan. Hubungan serupa terjadi untuk tujuan audit transaksi – kelengkapan. Alasan terjadinya kesimpulan ini karena kenaikan dlam penjualan otomatis akan menyebabkan kenaikan piutang usaha; tetapi kenaikan dalam penerimaan kas akan mengurangi piutang usaha. 2. Tujuan audit saldo – nilai bersih bisa direalisasi dan hak, demikian pula tujuan audit penyajian dan pengungkapan, tidak terpengaruh oleh penetapan risiko pengendalian untuk golongan transaksi.  Merancang Dan Melaksanakan Pengujian Pengendalian Dan Pengujian Substantif Transaksi ( Tahap 2) Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah penetapan risiko pengendalian untuk penjualan dan pengumpulan piutang harus direvisi atau tidak. Auditor menggunakan hasil pengujian substantif transaksi untuk menentukan seberapa besar risiko deteksi untuk memenuhi setiap tujuan audit saldo piutang usaha.  Merancang Dan Melaksanakan Prosedur Analitis (Tahap 3) Kebanyakan prosedur analitis yang dilaksanakan selama tahap pengujian detil dilakukan setelah tanggal neraca tetapi sebelum pengujian detil saldo. Auditor melakukan prosedur analitis untuk keseluruhan siklus penjualan dan pengumpulan piutang, tidak hanya piutang usaha. Auditor juga harus mereview piutang usaha yang bersaldo besar dan jumlahnya tidak biasa, akun piutang yang sudah lama tidak dilunasi, piutang kepada perusahaan afiliasi, piutang kepada direksi dan staf perusahaan, serta piutang bersaldo kredit. Untuk mengidentifikasi jumlah-jumlah tersebut auditor harus mereview daftar umur piutang per tanggal neraca untuk menentukan akun piutang mana yang harus diselidiki lebih lanjut.

 Merancang Dan Melaksanakan Pengujian Detil Saldo Piutang Usaha (Tahap 3) Apabila prosedur analitis dalam siklus penjualan dan pengumpulan piutang mengungkapkan adanya fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus mengajukan pertanyaan tambahan kepada manajemen. Jawaban dari manajemen harus dievaluasi dengan kritis untuk menentukan apakah jawaban tersebut cukup menjelaskan fluktuasi tidak biasa tersebut dan apakah disertai dengan bukti pendukung. Risiko deteksi direncanakan untuk setiap tujuan audit saldo piutang usaha. Ini merupakan keputusan subyektif tentang setiap faktor yang tercantum. 

PERANCANGAN PENGUJIAN RINCI SALDO Konfirmasi piutang usaha adalah pengujian rinci saldo piutang usaha yang paling penting. Dalam pembahsan pengujian rinci saldo atas piutang usaha, akan ada 2 asumsi, yaitu: 1. Auditor telah menyelesaikan kertas kerja perencanaan bukti. 2. Auditor telah menetapkan risiko deteksi direncanakan untuk pengujian rinci untuk setiap tujuan audit.  Kecocokan Saldo Dalam Catatan Sebagian besar pengujian atas akun piutang usaha dan akun cadangan kerugian piutang akan didasarkan pada daftar umur piutang. Daftar umur piutang adalah suatu daftar yang berisi saldo-saldo setiap akun yang terdapat dalam master file piutang usaha per tanggal neraca. Biasanya auditor menguji kecocokan informasi dalam daftar piutang sebelum melakukan pengujian lain untuk memastikan bahwa populasi yang akan diuji cocok dengan buku besar dan master file piutang usaha. Kolom total dan kolom-kolom yang dibagi menurut umur piutang harus diuji kebenaran penjumlaan vertikalnya (footing) dan total pada daftar ini menelusur suatu sampel dari saldo individual ke dokumen pendukung seperti duplikat faktur penjualan untuk memastikan kebenaran nama pembeli, jumlah saldo, dan kebenaran penentuan umurnya. Luas pengujian untuk memeriksa kecocokan ini tergantung pada jumlah akun debitur, seberapa banyak master file, telah diuji dalam rangka pelaksanaan pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi, dan seberapa jauh daftar umur piutang telah diverifikasi oleh auditor internal atau pegawai independen lainnya.  KONFIRMASI PIUTANG USAHA Tujuan utama konfirmasi piutang usaha adalah untuk memenuhi tujuan audit keberadaan, ketelitian, dan pisah batas. Konfirmasi eksternal adalah bukti audit yang diperoleh sebagai suatu respons tertulis langsung kepada auditor dari pihak ketiga, baik dalam bentuk kertas, atau secara elektronik, atau media lainnya. Meskipun jawaban lisan juga merupakan bukti audit, namun tidak bisa disebut sebagai konfirmasi.  Ketentuan Dalam Standar Audit - Bukti audit lebih andal ketika diperoleh dari sumber independen diluar entitas. - Bukti audit yang diperoleh secara langsung oleh auditor lebih andal daripada bukti audit yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui penarikan kesimpulan. - Bukti audit lebih andal dalam bentuk format dokumen, baik dalam bentuk kertas, elektronik, atau media lainnya.  Jenis – Jenis Konfirmasi a. Konfirmasi Positif :suatu permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga untuk merespons secara langsung kepada auditor yang menunjukkan apakah pihak yang dikonfirmasi setuju atau tidak setuju dengan informasi yang terdapat dalam permintaan konfirmasi, atau menyediakan informasi yang diminta. - Konfirmasi bentuk kosong : sejenis konfirmasi positif tetapi konfirmasi ini tidak menyebutkan jumlah rupiah melainkan meminta si penerima untuk menyebutkan jumlah saldo atau menyampaikan informasi lainnya. - Konfirmasi faktur : jenis lain dari konfirmasi positif yang hanya minta konfirmasi atas suatu faktur tertentu, tidak mengenai saldo piutang secara keseluruhan. b. Konfirmasi Negatif :permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga untuk merespons secara langsung kepada auditor hanya jika pihak yang dikonfirmasi tidak setuju dengan

informasi yang terdapat dalam permintaan konfirmasi. Dibandingkan dengan konfirmasi negatif, konfirmasi positif lebih bisa dipercaya karena auditor bisa melakukan prosedur tindak lanjut apabila jawaban dari debitur tidak diterima. Standar auditing menyatakan bahwa konfimasi negatif bisa digunakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang dapat diterima jika: - Gabungan tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian taksiran adalah rendah. - Sebagian besar saldo brsaldo kecil. - Auditor tidak yakin bahwa penerima permintaan konfirmasi akan mempertimbangkan permintaan tersebut. Konfirmasi tidak tepat digunakan dalam keadaan sebagai berikut: 1. Auditor memandang konfirmasi tidak akan menjadi bukti yang efektif karena tingkat jawaban diperkirakan tidak akan cukup atau tidak bisa dipercaya. Pada bidang usaha tertentu, seperti misalnya rumah sakit, tingkat jawaban terhadap konfirmasi sangat rendah. 2. Tingkat risiko bawaan ditambah dengan risiko pengendalian adalah rendah dan bukti substantif lain bisa dikumpulkan untuk memperoleh bukti yang cukup .

Related Documents

Bab 13 Auditing
August 2019 18
Auditing Bab 11.docx
April 2020 14
Auditing
July 2020 32
Auditing
November 2019 42
Auditing
October 2019 36
Bab 13
August 2019 42

More Documents from "Diah Pranaya"

Bab 13 Auditing
August 2019 18
April 2020 4
Bab Iii.docx
June 2020 2
June 2020 1
Contextualizacion
June 2020 5