Askep Jiwa Napza

  • Uploaded by: Eliza ayunda putri
  • 0
  • 0
  • October 2019
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Askep Jiwa Napza as PDF for free.

More details

  • Words: 4,912
  • Pages: 25
NAPZA Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas case anlayze method

disusun oleh pembanding kelompok 9:

Belinda Rizky Amalia (302017018) Elis Susilawati (302017029)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH BANDUNG 2019

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas “NAPZA”. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan, baik dari segi penyusunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.

Bandung, April 2019

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i DAFTAR ISI................................................................................................................................... ii BAB I TINJAUAN TEORITIS ...................................................................................................... 1 A.Pengertian Napza..................................................................................................................... 1 B.Jenis-jenis Zat .......................................................................................................................... 1 C.Faktor Predisposisi .................................................................................................................. 6 D.Stressor Presipitasi .................................................................................................................. 8 E.Sumber-sumber Koping ........................................................................................................... 9 F.Mekanisme Koping ................................................................................................................ 10 G.Tindakan pencegahan ............................................................................................................ 10 H.Diagnosis Keperawatan ......................................................................................................... 11 I.Perencanaan ............................................................................................................................ 11 J.Implementasi........................................................................................................................... 12 BAB II PEMBAHASAN KASUS ................................................................................................ 14 2.2Analisis data ......................................................................................................................... 18 2.3Diagnosa keperawatan.......................................................................................................... 19 2.4Rencana asuhan keperawatan ............................................................................................... 19 BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 21 A.Kesimpulan............................................................................................................................ 21 B.Saran ...................................................................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I TINJAUAN TEORITIS A. Pengertian Napza NAPZA adalah kepanjangan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang merupakan sekelompok obat yang berpengaruh pada kerja tubuh, terutama otak. Satu sisi narkoba merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, di sisi lain dapat menimbulkan ketergantungan apabila digunakan tanpa pengendalian. (Azmiyati, 2014). NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/sususnan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA adalah pengguanaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi social. (Azmayanti, 2014). B. Jenis-jenis Zat 1. Kokain Kokain dapat dihirup sebagai bubuk, disuntikkan intravena, atau dihisap. Bentuk kokain yang dihisap seperti rokok dihasilkan oleh proses yang disebut frebasing. Bentuk kokain retak dihasilkan oleh pemanasan (“memasak”) kokain kelas-jalanan dalam larutan baking soda. Namanya berasal dari suara retak yang dihasilkan oleh kokain bentuk itu saat dirokok. Euforia yang disebabkan oleh kokain adalah reaksi sesaat, dimulai 10 sampai 20 detik saat awal dan kemudian dikuti 15 sampai 20 menit euphoria yang kurang dalam. Seseorang yang sedang mabuk kokain merasa gembira, energik, percaya diri, dan percaya diri saat bersosialisasi. Secara biokimiawi, kokain menghambat reuptake norepinefrin dan dopamin. Karena lebih banyak neurotransmitter berada di sinaps, reseptor terus menerus diaktifkan. Hal ini diyakini menyebabkan euphoria. Pada saat yang sama, presinaptik memproduksi dopamin dan norepinefin yang habis. Kokain menghasilkan ketergantungan fisik dan gejala putus zat yang sangat mirip dengan yang terjadi pada pengguna amfetamin, dimulai dengan keinginan yang kuat dan perilaku mencari obat. Tingkat kekambuhan bagi para klien yang mencoba untuk menghentikan penggunaan kokain sangat tinggi. 1

2

Penggunaan kokain telah menjadi glamor dengan publikasi penggunaan obat ini oleh bintang-bintang film, tokoh olah raga, dan orang yang terkenal lainnya. Hal ini mengundang para remaja untuk menggunakan kokain karena terpengaruh pada orang yang mereka idolakan tersebut. Dari penggunaan obat-obatan yang biasa, banyak orang terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba tanpa menyadari konsekuensi dari perilaku mereka. 2. Opiat Opiat meliputi opium, heroin, meperidine, morfin, kodein dan metadon. meperidine, morfin, dan kodein umumnya digunakan sebagai analgesic. Metadon digunakan untuk mengobati kecanduan opiate lainnya. Obat ini dapat digunakan untuk membantu gejala putus zat atau untuk memberikan perawatan dengan dosis yang stabil. Hal ini berguna karena tidak mengganggu kemampuan untuk berfungsi secara produktif, seperti yang terjadi pada penggunaan narkotik lain. Meskipun beberapa orang menggunakan opiate selama bertahun-tahun dengan sedikit masalah, orang dengan kecanduan, opiate sering memburuk secara mental dan fisik sampai mereka tidak dapat berfungsi secara produktif. Salah satu ciri kecanduan narkotika adalah terjadinya toleransi obat, yang juga meningkatkan biaya akibat kebiasaan tersebut. Perilaku melanggar hokum, seperti mencuri atau prostitusi untuk mendapatkan uang untuk obat-obatan, mungkin diakibatkan karena kecanduan. Mendapatkan dan menggunakan obat-obatan menjadi gairah hidupnya. Respons psikologis yang paling penting terhadap penggunaan opiate adalah euphoria, atau merasa tinggi. Respon yang kuat dan menyenangkan ini menyebabkan orang untuk menggunakan obat brulang-ulang. Efek psikologis lainnya dari narkotik meliputi apatis, lari dari realitas, dan gangguan penilaian. Opiat alami, bahan alami yang bertindak seperti morfin dalam otak yang dikenal sebagai endorphin dan enkefalin. Neurotransmitter ini berikatan dengan reseptor opiat di otak dan kelenjar pituitary. Pelepasan opiate alami ini menghasilkan perasaan euphoria. 3. Marijuana (Ganja). Marijuana (ganja) adalah salah satu obat-obatan terlarang yang paing umum digunakan. Penggunaan zat ini dapat dianggap sebagai pintu gerbang penggunaan narkoba yang lebih serius. Kadang-kadang di klasifikasikan sebagai obat halusinogen,

3

tetapi jarang menyebabkan halusinasi. Bagaimanapun juga kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan jiwa (Zammit et al, 2011). Hal ini dapat menyebabkan sedasi tetapi bukan depresi SSP. Bahan aktif dalam ganja adalah tetrahydrocannabinol (THC). Ganja rokok dapat digunakan seperti sigaret atau melalui pipa air (bong) untuk mendinginkan uap panas. Marijuana biasanya menghasilkan gangguan keadaran disertai dengan perasaan relaksasi dan euphoria ringan. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan apatis, kemalasan, hilangnya keinginan untuk bekerja atau menjadi produktif, konsentrasi berkurang, kebersihan pribadi yang buruk, dan keasikan terhadap ganja. Kumpulan gejala ini yang dikenal sebagai sindrom amotivasional. Tingkat penggunaan ganja yang lebih tinggi terjadi pada anak-anak muda yang mengalami episode pertama gangguan jiwa, marijuana juga dapat memicu gangguan jiwa bila digunakan oleh klien skizofrenia dimana gejala gangguan jiwa sedang dikontrol obat antipsikotik. Marijuana tidak menyebabkan gangguan jiwa pada orang yang tidak menderita skizofrenia. 4. Halusinogen. Obat-obatan yang membuat pengalaman yang sangat mirip dengan keadaan khas psikotik

telah

dinamai

halusinogen,

meskipun

obat-obatan

tersebut

biasanya

menghasilkan distorsi persepsi, sesungguhnya bukanlah halusinasi. Obat-obatan tersebut juga disebut obat psychedelic atau pengungkap pikiran. Asam Lysergic Diethylamide (LSD), peyote, mescaline, dan psilocybin adalah obat-obatan halusinogen yang umum digunakan. LSD biasanya ditelan, tidak berwarna dan hambar dan sering ditambahkan ke minuman atau makanan, seperti gula batu. Halusinogen tidak tampak menyebabkan ketergantungan fisik, namun toleransi berkembang jika obat tersebut digunakan secara teratur. Halusinogen juga dapat menyebabkan perilaku merusak diri sendiri karena menyebabkan gangguan penilaian. Orang rentan yang menggunakan obat ini mungkin mengalami “bad trip” kadang-kadang menyebabkan episode psikotik. Pengguna dapat mengalami paranoid, waham kebesaran, atau waham somatic, biasanya disertai dengan halusinasi yang hidup. 5. MDMA (Ekstasi).

4

Ekstasi yang digunakan dalam bentuk tablet atau kapsul, dapat menyebabkan euphoria, rasa keintiman dengan orang lain dan kecemasan berkurang. Pengguna biasanya melaporkan merasakan efek dalam waktu 30 sampai 60 menit setelah dikonsumsi, mencapai puncak nya pada sekitar 1 sampai 1,5 jam, dan mencapai kondisi puncak yang berlangsung sekitar 2 sampai 3 jam. Beberapa study telah menemukan bahwa pengguna rekreasi berulang MDMA telah meningkatkan tingkat depresi dan ansietas, bahkan setelah berhenti menggunakan obat. 6. Phencyclidine (PCP). Phenchyclidine digunakan dengan diminum, tetapi sering dirokok dalam campuran dengan zat lain, seperti ganja. Beratnya gejala tergantung dosis yang telah digunakan. Pada dosis rendah (kurang dari 5 mg), pengguna mengalami euphoria, perasaan mengambang, bersama dengan meningginya emosionalitas dan inkoordinasi. PCP merupakan obat bius seningga orang yang intoksikasi PCP merasa sedikit atau tidak ada sama sekali rasa sakit. Pengguna dapat membenturkan kepala mereka ke dinding dengan keras, menyebabkan cedera seriud pada diri sendiri atau orang lain. 7. Inhalansia. Inhalansia paling umum meliputi butane (cairan ringan), gas, penyegar udara, semen karet, cairan koreksi, dan nitrous oksida (whippets). Anak-anak yang menyalahgunakan inhalansia pada awal kehidupan lebih cenderung menggunakan obatobatan terlarang di kemudian hari. Anak-anak dan remaja lebih memilih inhalansia sebagai sarana untuk memperoleh efek euphoria karena cepat memabukkan, awalan efek cepat, murah dan mudah diperoeh. Perawat harus waspada terhadap indicator fisik penyalahgunaan inhalansia ketika menyelesaikan pengkajian. Tanda-tanda termasuk residu dari cat, lem, atau zat yang diamati pada pakaian, tangan atau wajah, terutama disekitar hidung. Anak muda mungkin memiliki geja pilek, seperti hidung berair, jerawat atau luka disekitar mulut. 8. Kafein. Kafein adalah bahan aktif dalam kopi, th, cokelat, dan banyak minuman berkarbonasi. Efek utama dari penggunaan adalah meningkatkan kewaspadaan dan tekanan darah. Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan gelisah. Meskipun kafein meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak adiktif. Penggunaan berat kafein dapat

5

menyebabkan gejala putus zat, tanda-tanda ketergantungan fisik. Gejala-gejala yang muncul

termasuk sakit kepala, lekas marah, mengantuk, keleahan, masalah dalam

perhatian dan konsenterasi, dan penurunan kekuatan. Gejala-gejala ini biasanya bersifat sementara dan ringan, dengan gangguan relative sedikit dalam kehidupan sehari-hari seseorang. Namun adanya gejala putus zat ini mungkin menjadi factor utama untuk terus mengunakan zat. 9. Date Rape Drugs. Date Rape Drugs meliputi flunitrazepam (RRohypnol, “roofies”), asam yhidroksibutirat (GHB), dan ketamine, obat ini sering digunakan pada pelaku pemerkosa terhadap pasangan kencannya. Efek potensial meliputi kelemahan, kebingungan, kehlangan kesadaran, koma dan kematan. Obat-obatan ini sering digunakan untuk melancarkan aksi kekerasan seksual. GHB adalah legal di amerika serikat untuk mengobati masalah narkolepsi. Di indonesi, jenis obat-obatan ini termasuk obat yang terlarag yang diatur dalam Undang-undangObat Psikotropika. 10. Kodependensi. Kodependensi adalah istilah awalnya digunakan pada orang-orang yang memiliki masalah sebagai akibat dari hidup dalam hubungan berkomitmen dengan seseorang dengan alkoholisme. Dikatakan bahwa orang dengan alkoholisme kecanduan botol dan dan kodependen adalah orang yang kecanduan dengan orang yang yang alkoholisme. Al-Anon, adalah kelompok dukungan untuk teman-teman dan keluarga dari orang dengan alkoholisme, diciptakan khusus untuk membantu anggota keluarga mengatasi masalah mereka sendiri akibat hidup dengan seseorang dengan alkoholisme. Adult Children of Alcoholics (ACOA) diyakini memiliki karakteristik tertentu sebagai orang dewasa karena mereka semua berjuang untuk bertahan hidup dalam kekacauan tumbuh dengan orang tua pecand alcohol, meliputi hal-hal berikut ini : 1. Terlibat terlalu dalam dengan orang yang disfungsional 2. Upaya obesif untuk mengontrol perilaku orang yang disfungsional tersebut 3. Keinginan yang kuat untuk mendapat persetujuan dari orang lain 4. Terus menerus membuat pengorbanan pribadi untuk membantu orang yang disfungsional menjadi “sembuh” dari perilaku bermasalah

6

5. Perilaku mengaktifkan, yang secara tidak sengaja memperkuat kebiasaan minum dari pecandu alcohol. Istilah kodependensi telah diperluas mencakup hamper semua orang yang telah berhubungan dengan orang disfungsional saat tumbuh dewasa atau sebagai seorang dewasa. C. Faktor Predisposisi Beberapa model etiologi telah diusulkan untuk penyalahgunaan zat. Kepercayaan pada model tertentu memengaruhi penilaian dan tindakan. Kesadaran akan perbedaan antara model ini membantu perawat memahami mengapa klien dan professional ainnya memegang banyak pandangan yang berbeda tentang tritmen pada penggunaan narkoba. Factor-faktor nya adalah biologis, psikologis atau social budaya. 1. Biologis Factor biologis utama adalah kecenderungan penyalahgunaan zat terjadi dalam keluarga. Banyak penelitian genetic difokuskan pada alkoholisme, tetapi batang tubuh pengetahuan genetika tentang penyalahgunaan obat lain telah berkembang. Banyak bukti dari adopsi, kembar dan studi hewan menunjukan bahwa factor keturunan ditemukan signifikan dalam terjadinya alkoholisme. Penelitian telah mengidentifikasi subtype alkoholisme yang berbeda dalam heritabilitas. Salah satu jenis alkoholisme dikaitkan dengan awitan awal ketidakmampuan untuk berhenti minum, dan kepribadian antisosial. Tipe ini tampaknya terbatas pada laki-laki dan terutama berasal dari sifat genetic. Jenis lain cenderung dikaitkan dengan awitan setelah usia 25 tahun, ketidakmampuan untuk berhenti minum jika telah dimulai, dan kepribadian pasif-dependen. Tipe ini tampaknya lebih dipengaruhi oleh lingkungan. Namun, kontropersi dilapangan telah menyebabkan beberapa orang mempertahankannya apakah subtype ini benar-benar ada. Penemuan bahwa alel Al dari gen reseptor dopamine D2 (DRD2) tampaknya dikaitkan dengan alkoholisme dan gangguan penyalahgunaan zat lainnya memunculkan banyak penelitian genetik. Teori menyatakan bahwa kelainan genetik dapat menghalangi perasaan kesejahteraan. Hal tersebut menyebabkan kecenderungan berkembangnya kecemasan, kemarahan, rendah diri, dan perasaan negative lainnya, serta ketagihan zat

7

yang akan melawan perasaan buruk. Orang dengan gangguan seperti ini perlu alcohol atau obat psiko aktif lain hanya untuk mendapatkan rasa normal. Temun genetic ini masih awal dan hanya salah satu dari banyak factor predisposisi untuk menyalahgunaan zat (nong et al, 2011). Penting untuk memahami bahwa peran yang lebih besar tampaknya dimainkan oleh factor lingkungan dan gen yang masih belum dikenal. Perbedaan biologis dalam penanggulangan konsumsi alkohol juga dapat mempengaruhi kerentanan. Sebagai contoh, beberapa orang asia mengalami respon fisiologis alcohol, termasuk kemerahan pada muka taki kardia, dan perasaan inten ketidaknyamanan. Jal ini tampaknya berhubungan dengan kecenderungan orang asia memiliki bentuk genetik tidak aktif dari enzim dehydrogenase aldehida. Hal ini menyebabkan penumpukan zat beracun asetaldehida, suatu metabolik alcohol, yang menyebabkan munculnya gejala. 2. Psikologis Banyak teori psikologi telah berusaha untuk menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi orang untuk menjadi penyalahguna zat teori perilaku atau teori belajar melihat perilaku adiktif sebgi perilaku yang berlebihan (overlearned), kebiasaan maladaptif yang dapat diperiksa dan di ubah dalam cara yang sama seperti kebiasaan lainnya. Teori kognitif menunjukan bahwa kecanduan didasarkan pada cara menyimpang berfikir tentang penggunaan narkoba. Teori system keluarga menekankan pola hubungan antara anggota keluarga dari generasi ke generasi sebagai penjelasan untuk penyalahgunaan zat. Para klinisi telah mengamati hubungan antara penyalahgunaan zat dan beberapa cara psikologi, seperti depresi, ansietas, kepribadian antisosial, dan kepribadian dependen. Sedikit bukti telah ditemukan untuk menunjukan bahwa masalah psikologis ini ada sebelum atau disebabkan penyalahgunaan zat. Hal ini hanya sebagai kemungkinan bahwa masalah psikologis tersebut akibat dari penggunaan dan ketergantungan narkoba dan alkohol. Penelitian lain telah mencoba tetapi gagal untuk menemukan ciri-ciri kepribadian umum diantara orang kecanduan alkohol atau obat-obatan. Berbagai penelitian menunjukan berbagai variasi tipe kepribadian diantara orang-orang dengan alkoholisme. Teori lain tentang penyalahgunaan zat berfokus pada kecenderungan

8

manusia untuk mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit atau stress. Obat menimbulkan kesenangan dan mengurangi rasa sakit fisik atau psikologis. Karena rasa sakit kembali ada ketika efek obat habis, orang tersebut mengalami ketertarikan yang kuat untuk penggunaan narkoba berulang. Teori ini mengemukakan bahwa beberapa orang lebih sensitive terhadap efek euporia obat dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengulang penggunaannya. Penggunaa narkoba berulang ini menyebabkan lebih banyak masalah dan memulai penurunan spiral penggunaan narkoba (penyalahgunaan yang makin parah). 3. Sosiokultural Beberapa faktor

sosiokultural memengaruhi pilihan seseorang apakah

menggunakan obat-obatan, obat apa yang akan digunakan, dan berapa banyak yang akan digunakan. Sikap, nilai, norma, dan sanksi berbeda-beda menurut kebangsaan, agama, jenis kelamin, latar belakang keluarga dan lingkungan sosial. Kebangsaan dan etnis memengaruhi pola penggunaan alkohol. Beberapa orang percaya bahwa kecanduan akibat dari kelemahan moral atau kurangnya kemauan. Keyakinan agama juga dapat memengaruhi peilaku minum-minuman keras. Anggota aliran agama yang melarang penggunaan alkohol memiliki jumlah pengguna dan pecandu alkohol yang jauh lebih rendah dibandingkan anggota aliran agama yang menerima atau mendorong penggunaan alkohol. Perbedaan gender diamati dalam prevalensi D. Stressor Presipitasi Putus zat obat depresan yang umum. Putus zat dari semua obat depresan (termasuk alkohol) memiliki gejala serupa dan kadang-kadang disebut sebagai sindrom putus zat depresan umum. Perbedaan utama adalah sebagai berikut : 1. Waktu terjadinya gejala tergantung pada waktu paruh obat tertentu. 2. Keparahan gejala tergantung pada dosis obat dan lamanya digunakan. Sebagai contoh, bahan dengan waktu paruh pendek, seperti alkohol dan benzodiazepine short-acting dan barbiturate, menyebabkan awal penampilan gejala putus zat dan sindrom putus zat yang lebih singkat. Obat-obatan efek singkat dianggap lebih adiktif karena efeknya dirasakan lebih cepat. Putus zat obat depresan yang diresep dan obat hipnotik sedative. Penggunaan depresan pada dosis lebih tinggi dari pada dosis terapi selama lebih dari 1 bulan dapat

9

mengakibatkan ketergantungan fisik dan dapat mengakibatkan sindrom putus zat dosis tinggi. Gejala dapat mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam untuk obat short acting namun memakan waktu selama 8 hari untuk yang long acting. Klien yang menggunakan obat secara teratur obat hipnotoik-sedatif dosis terapeutik untuk setidaknya 4 bulan (atau kurang dengan dosis yang lebih tinggi) dapat mengalami sindrom putus zat dosis rendah bila dosis diturunkan atau dihentikan. Putus zat alkohol. Ketika sejumlah besar alkohol tertelan, gejala yang tidak menyenangkan biasanya muncul. Jika penggunaan yang berlebihan dalam jangka pendek, gejala yang muncul disebabkan oleh efek langsung alkohol pada sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan sakit kepala dan perut dan distress usus-mabuk yang khas. Neurobiologi. Kebanyakan obat yang disalahgunakan berinteraksi dengan reseptor sel saraf tertentu, meniru atau menghalangi aksi neurotransmiliter yang biasanya bekerja normal di otak. Heroin dan opiat lainnya, misalnya mengaktifkan reseftor opioid yang biasanya merespons opioid alami seperti neurotransmiliter otak (misalnya endorphin, enkefalin, dinorfin). Alkohol mengaktifkan beberapa reseptor (misalnya neurotransmitter

y-aminobutyric

acid

[GIBA])

dan

blok

lain

(misalnya,

neurotransmiliterglutamat). Penilaian terghadap Stressor. Alasan seseorang memulai penggunaan zat bervariasi. Rasa penasaran, tekanan teman sebaya, dan keinginan untuk dewasa, memberontak terhadap otoritas, meringankan penderitaan hidup, dan merasa baik terhadap semua stress dan mungkin berlaku. Jika penggunaan zat membawa efek yang diinginkan, kemungkinan penggunaan akan berlanjut. Sementara jumlah dan frekuensi penggunaan narkoba meningkat, stress juga dirasakan meningkat, menyebabkan lebih banyak dosis obat yang digunakan. Jika penggunaan narkoba terkait dengan peredaan rasa sakit emosional dan sosial dalam pikiran seseorang, stressor tersebut akan menyebabkan penggunaan zat yang berlebihan. E. Sumber-sumber Koping Penilaian motivasi dan dukungan sosial sangat penting.

10

1. Apa motivasi klien untuk mengubah pola penggunaan narkoba? Klien mungkin sakit dan lelah karena telah menjadi sakit dan lelah atau mungkin telah diperintahkan untuk menyelesaikan program tritmen setelah menerima tilang akibat mengeudi saat mabuk. 2. Apakah dukungan sosial yang dimiliki klien? Keluarga, teman, dan rekan kerja mungkin bersedia memberi dukungan, atau klien mungkin tunawisma dan tidak memiliki kelurga atau teman-teman. 3. Bagaimana status kesehatan klien? Status kesehatan mungkin sempurna atau klien mungkin menderita hepatitis, AIDS, atau komplikasi lain akibat penyalahgunaan obat. 4. Apakah keterampilan sosial yang dimiiki klien? Beberapa klien sangat mahir dalam interaksi sosial, dan adapula yang menarik diri, membisu dan mengisolasi diri. F. Mekanisme Koping Klien menggunakan mekanisme koping yang destruktif seperti ketika mengubah arti dari masalah penyalahgunaan zat sehingga seakan-akan bukan masalah, mengatakan bahwa tidak ada masalah. Klien juga dapat mencoba untuk mengurangi sres emosional dengan beberapa cara tersebut : 1. Minimalisasi beratnya penggunaan 2. Penyangkalan 3. Proyeksi 4. Rasinalisasi Tidak mungkin dalam pengkajian awal untuk memilah fakta dari distorsi yang disebabkan oleh mekanisme koping. Peristiwa ini menjadi salah satu alasan mengapa pengkajian adalah suatu proses yang berkelanjutan dan terus menerus. G. Tindakan pencegahan Pendekatan terbaik untuk pencegahan adalah dengan memulai secara dini mengurangi masalah perilaku dan emosional yang muncul dimasa muda. Masyarakat membutuhkan perawat dan penyedia perawatan kesehatan lainnya yang memiliki pengetahuan tentang pencegahan penyalahgunaan zat dan orang yang dapat mengadvokasi pelaksaanaan program pencegahan yang terbukti efektivitas. 1. Pencegahan Primer Perawat sekolah dapat terlibat dalam upaya pendidikan di sekolah-sekolah. Strategi penguatan keluarga merupakan kunci untuk mencegah masalah, seperti

11

program kompetensi sosial. Jenis tindakan tindakan pencegahan yang telah efektif untuk merokok, alkohol dan masalah penggunaan narkoba : a. Pendidikan dan konseling yang ditargetkan untuk berhenti merokok b. Prndidikan perawatan diri c. Penapisan dan konseling singkat untuk mengurangi penggunaan alkohol 2. Pencegahan Sekunder Upaya pencegahan sekunder ditujukan bagi individu dengan masalah minum ringan sampai sedang. Terapi berkisar dari saran sederhana untuk berhenti minum hingga ke program yang lebih rumit yang melibatkan identifikasi awal. Individu dengan masalah minum ringan sampai sedang semakin sering dirujuk ke program tritmen melalui keputusan pengadilan setelah tuduhan DUI. 3. Pencegahan Tersier Pencegahan tersier dapat mengurangi komplikasi adiksi. Tatanan tritmen medis dan kejiwaan terus menjadi peran utama, pendekatan kebijakan sering melibatkan legislasi untuk mengurangi konsekuensi negative dari penggunaan obat daripada penggunaan obat itu sendiri. Pendekatan ini disebut pengurangan dampak buruk.hal ini termasuk upaya untuk mengurangi efek mabuk, seperti kecelakaan mobil, tenggelam dan perselisihan keluarga pada pengguna dan orang lain. H. Diagnosis Keperawatan Setelah menyelesaikan pengkajian keperawatan, perawat mensintesis data tentang minum minuman keras atau perilaku menggunakan obat klien. Menggunakan model adaptasi stress stuart dan system klasifikasi

NANDA Internasional (NANDA-1),

diagnosis yang tepat diidentifikasi. Masalah kecanduan adalah sangat kompleks karena memengaruhi hamper setiap asek dari fungsi klien. Perawat harus memastikan bahwa diagnosis keperawatan yang dipilih mencerminkan manusia seutuhnya. I. Perencanaan Tujuan jangka panjang dari tritmen klien dengan gangguan penggunaan zat adalah sebagai berikut : 1. Berpantang/abstinen atau mengurangi penggunaan dan efek dari zat 2. Mengurangi frekuensi dan keparahan kambuh

12

3. Peningkatan fungsi psikologis dan sosial Prioritas harus diberikan kepada kebutuhan yang paling mendesak. Rencana harus dibuat melalui bekerja sama dengan klien, anggota keluarga dan teman-teman yang mendukung harus dimasukkan dalam proses perencanaan. Pendekatan ini membantu mereka memahami masalah yang mungkin dirasakan klien selama proses pemulihan terus berlangsung. Perawat harus menyadari bahwa jarang orang yang kecanduan secara tibatiba menghentikan penggunaan zat selamanya. Kebanyakan pecandu mencoba minimal sekali dan biasanya beberapa kali untuk menggunakan zat secara terkontrol. Hal ini penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa mereka harus kembali ke tritmen setelah kambuh. Berikut ini aspek-aspek perawatan yang harus dimasukkan dalam rencana perawatan (Department of Veterans Affairs, 2009) : a. Memotivasi perubahan b. Membangun hubungan terapeutik c. Mengkaji keamanan dan status klinis d. Menatalaksan intoksikasi e. Menatalaksana putus zat f. Mengurangi mordibitas dan gejala sisa gangguan penggunaan zat g. Memfasilitasi kepatuhan terhadap rencana perawatan h. Mempertahankan berpantang dan mencegah kekambuhan i. Memberikan pendidikan tentang gangguan penggunaan zat dan pengobatannya j. Memfasilitasi akses ke layanan sosial, medis, kesehatan jiwa, dan layanan yang dibutuhkan lainnya. J. Implementasi Perawat peduli pada klien dengan masalah penggunaan zat di semua tatanan perawatan kesehatan. Jenis-jenis tindakan yang direkomendasikan sangat tergantung pada tatanan dimana perawat bekerja. Ketika merawat klien dengan program tritmen kecanduan klien diluar fasilitas kesehatan, perawat harus merujuk orang tersebut untuk program tritmen. Penting bagi perawat untuk mengetahui sumber daya local untuk program tritmen. Penyalahguna zat sering datang untuk kontak dengan system perawatan kesehatan karena krisis fisiologis. Kondisi ini dapat berhubungan dengan overdosis, putus zat, alergi

13

atau toksisitas. Perawat dapat mengidentifikasi adanya kelainan fisik yang disebabkan oleh efek obat yang merusak, termasuk kondisi seperti kekurangan gizi , dehidrasi, dan infeksi(misalnya, HIV). Ketika kondisi fisik akut terjadi, dibutuhkan prioritas atas kebutuhan kesehatan lain dari klien. Hal khusus yang sangat penting adalah memperhatikan kondisi bahwa klien telah diidentifikasi sebagai masalah. Perawat kemudian dilihat sebagai orang yang sangat membantu dan akan memiliki kredibilitas lebih ketika aspek-aspek lain dari kecanduan dibahas.

BAB II PEMBAHASAN KASUS A. Kasus Klien berinisial KT, laki-laki 22 tahun, mahasiswa semester 9 yang sedang menyusun skripsi namun tidak kunjung beres. KT adalah anak tunggal yang kini tinggal bersama neneknya, karena ibunya sudah meninggal sejak KT dibangku SMP, sedangkan bapaknya sudah menikah lagi sejak KT masuk kelas 1 SMA dan tinggal bersama keluarga barunya di luar kota. Bapaknya sampai sekarang masih rutin mengirimkan uang bulanan untuk keperluan KT melalui neneknya. Pada dasarnya, KT merupakan orang yang manja, periang, dan mudah bergaul. KT pertama kali mengenal rokok saat dibangku SMP karena diajak oleh teman-teman sekelasnya. Mulai mengenal minuman beralkohol saat dibangku SMA kelas 2. Saat masuk bangku kuliah semester 7 akhir, KT mulai terpengaruh oleh temannya untuk mengonsumsi puthao. Sodara KT dibawa ke RS ke bagian dengan gejala overdosis puthao, sudah 1 minggu dirawat. KT menggunakan puthao sudah satu tahun dengan cara disuntik dan intra vena. Pada awaalnya klien menggunakan puthao dengan alasan supaya diakui oleh gengnya sehingga dia bisa punya teman untuk cerita atau kumpul-kumpul. Karena dirumahnya dia merasa bosan, sendiri dengan neneknya tidak bisa berbagi cerita berbagai permasalahan yang dirakan. Hingga akhirnya KT menjadi ketergantungan, terutama bila KT menghadapi masalah. KT sudah berusaha untuk bisa berhenti tetapi gagal karena tidak dapat mengatasi keinginan menggunakan zat yang begitu kuat, KT sering menyayat pergelangan tangannya untuk bisa menangani sakaunya saat dia tidak memiliki obatnya. KT sering berbohong dan mencuri dirumah neneknya, selain itu juga dia sering tidak pulang berhari-hari dan jauh dari agama. Saat dikaji oleh perawat, KT mengatakan ingin sembuh dan tidak mau lagi berhubungan dengan zat psikoaktif. KT tampak lemas, badan kurus, tampak beberapa bekas luka sayatan yang sudah menghitam di tangannya, tidak bertenaga, tatapan kurang fokus, saat diajak ngobrol kurang berkonsentrasi dan tidak nyambung, respon menjawab pelan, tidak bersemangat. Keluhan yang dirasakan klien sekarang adalah badan terasa merinding, merasa kurang percaya diri, merasa berguna setelah menjadi pemakai obat, malu dengan teman-teman yang bukan pemakai dam merasa tidak dipercaya lagi oleh keluarganya. B. Pengkajian 14

15

IDENTITAS KLIEN Inisial

:

KT

(L)

Tanggal Pengkajian: 11 april 2019 Umur : 22 tahun No. RM : 30334725 Pendidikan terakhir: mahasiswa semerter 9 Agama : Islam Status marital : Mahasiswa IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB (informan) Nama : Ny.R Umur : 60 thn Hubungan dengan klien : nenek I. HARAPAN DAN PERSEPSI KLIEN / KELUARGA 1.1 Alasan masuk ke RS Gejala overdosis puthao 1.2 Persepsi keluarga terhadap masalahnya Keluarganya sudah tidak mempercayai dirinya dan jarang berbicara dengan klien. 1.3 Harapan klien sehubungan dengan masalah Klien mengatakan ingin sembuh dan tidak mau lagi berhubungan dengan zat psikoaktif.

II. PENGKAJIAN SOSIAL 4.1 Pendidikan dan Pekerjaan Jelaskan : Klien adalah mahasiswa semester 9 yang sedang menyusun skripsi. 4.2 Konsep Diri a. Gambaran diri: Klien tampak lemas, badan kurus, tampak beberapa bekas luka sayatan yang sudah menghitam di tangannya, tidak bertenaga, tatapan kurang fokus. b. Identitas: Sdr. KT adalah laki-laki berusia 22 tahun, mahasiswa semester 9. c. Peran: Klien adalah anak tunggal, dan seorang mahasiswa. d. Ideal diri:

16

Klien menagatakan ingin sembuh dan tidak mau lagi berhubungan dengan zat psikoaktif e. Harga diri: Klien merasa malu, tidak berguna, dan merasa tidak dipercayai oleh keluarganya. 4.3 Hubungan sosial a. Orang yang berarti: Orang tua b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat: Klien adalah mahasiswa semester 9, klien juga suka berkumpul dengan teman-temannya. c.

Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: Dia merasa bosan, sendiri karena dengan neneknya tidak bisa berbagi cerita dan permasalahan yang dirasakan.

4.4 Sosial Budaya Klien mulai merokok sejak SMP karena diajak teman kelasnya, klien minum alkohol sejak SMA kelas 2 dan klien mengkonsumsi puthao ingin diakui oleh teman-temannya. 4.5 Gaya hidup Klien tinggal bersama neneknya dan ketergantungan puthao. 4.6 Mekanisme koping Klien merasa kurang percaya diri, tidak berguna setelah menjadi pemakai obat, malu dengan teman-temannya yang bukan pemakai dan merasa tidak dipercayai lagi oleh keluarganya.

III. PENGKAJIAN KELUARGA a. Genogram

Klien tinggal bersama neneknya karena saat klien duduk di bangku SMP ibunya meninggal, dan ayahnya telah menikah lagi dan tinggal diluar kota. b. Pola asuh

17

Semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, klien tinggal bersama neneknya.

IV. PENGKAJIAN FISIK a. Tanda Vital: TD : 120/80 N: 95 S : 37oC R : 20 b. Ukuran

: TB : 170 cm

BB : 65 kg

c. Keluhan utama / penyakit saat ini : Badan terasa merinding d. Kebiasaan-kebiasaan saat ini : 

Klien adalah perokok sejak SMP



Klien ketergantungan puthao



Pola tidur ( jam tidur, kesulitan saat akan tidur / bangun terlalu pagi, apakah merasa segar setelah bangun )

e. Riwayat penyakit dahulu Klien tidak punya riwayat penyakit dahulu

V. PENGKAJIAN SPIRITUAL a. Nilai dan keyakinan Klien jauh dari agama b. Kegiatan ibadah Klien tidak beribadah lagi.

VI. PENGKAJIAN SEKSUAL Klien merasa puas sebagai laki-laki.

VII. PENGETAHUAN 1. Pengetahuan tentang penyakit yang dideritanya :

18

Klien mengetahui bahaya pouthou tapi klien sudah ketergantungan hingga mengalami gejala overdosis puthou. 2. Pengetahuan tentang cara merawat dan mengobati penyakitnya : Klien belum tahu cara merawat dan mengobati penyakitnya. 3. Persepsi klien tentang penyakit yang dideritanya : Klien sudah berusaha untuk bisa berhenti menggunakan zat psikoaktif tetapi gagal, dan klien merasa malu kepada teman-temannya yang bukan pemakai. 2.2 Analisis data Data

Etiologi

DO : Klien tampak beberapa luka sayatan

Disfungsi Proses Keluarga Ibu klien meninggal

yang sudah menghitam ditangannya. Klien tidak

Ayah menikah lagi

bersemangat. DS : klien mengatakan merasa bosan, sendiri

Tinggal bersama nenek

dengan neneknya tidak bias berbagi permasalahan yang dirasakan. Klien merasa tidak

Masalah

Merasa bosan dan tidak bias berbagi cerita dengan neneknya

dipercaya lagi oleh keluarganya. Menggunakan puthou karena ingin diakui gengnya agar punya teman untuk kumpul dan bercerita

19

Disfungsi Proses Keluarga

2.3 Diagnosa keperawatan 1. Disfungsi proses keluarga b.d penyalahgunaan zat.

2.4 Rencana asuhan keperawatan

NO

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Kriteria hasil

Intervensi

Rasional

Disfungsi Proses

Tujuan umum : Setelah

Monitor

Keterlibatan

Keluarga b.d

Pola

keterlibatan

anggota

Penyalahgunaan Zat

keluarga

tindakan

anggota keluarga keluarga

meningkat

keperawatan

dalam perawatan dalam

Tujuan

3x24 jam,

klien

perawatan

Dorong

dapat

koping dilakukan

khusus Hubungan

: masalah disfungsi

perawatan

oleh membantu

klien denngan proses

anggota keluarga klien

keluarga

selama

menjadi dekat

keluarga klien lebih dapat teratasi

dekat

perawatan

lebih dengan

di keluarga.

dengan kriterai

rumah sakit atau Keluarga dapat

hasil :

perawatan

Klien

fasilitas

perawatan

merasakan

perawatan

terhadap

dukungan

jangka panjang

pasien dengan

sosial dari

Berikan

lebih leluasa.

keluarga

informasi

Agar keluarga

Keluarga dapat

penting

memberikan

anggota keluarga keadaan klien

di melakukan

kepada mengetahui

20

perawatan

mengenai pasien saat ini.

terhadap klien

sesuai

Keluarga dapat

keinginan pasien

berpartisipasi

Dorong anggota sangat

dalam

keluarga

perawatan

menjaga

klien

mempertahankan sedang

Klien lebih

hubungan

dekat dengan

keluarga,

keluarga

sesuai.

dengan Dukungan keluarga

untuk dibutuhkan atau oleh klien saat

terpuruk. yang

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Penyalahgunaan zat mengacu pada penggunaan yang terus menerus meskipun mendapat banyak masalah. Ketergantungan zat terkait dengan obat-obatan atau alkohol menunjukan kondisi yang parah. Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada remaja adalah ancaman yang sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya. Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang ditimbulkannya. Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut.Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di sekolah sangatlah besar bagi pencegahan penanggulangan terhadap NAPZA. B. Saran Dengan mengetahui fakta dan fenomena tersebut, diharapkan pencegahan dalam penggunaan obat-obatan tersebut dapat lebih efektif mengingat pengaruh yang sangat negative bagi jiwa dan raga pemakainya. Karena dengan adanya kesadaran dari semua lapisan masyarakat akan bahaya NAPZA bagi kehidupan akan mampu meminimalisir hal-hal negative yang akan terjadi akibat penggunaan obat-obatan tersebut. Maka dari itu penulis menyarankan jangan sekali-kali mencoba apa yang berhubungan dengan NAPZA, karena akan berdampak fatal bagi kehidupan.

21

DAFTAR PUSTAKA Azmiyati, SR, dkk. 2014. Gambaran Penggunaan NAPZA Pada Anak Jalanan Di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS). Stuart, Gail W. 2015. Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart Buku 2. Indonesia: Elsevier. Nanda. 2017. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018-2020 Edisi 11. Jakarta: EGC. Bulechek, Gloria M, dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC). Indonesia: Elisevier. Moorhead, Sue, dkk. 2016. Nursing Outcome Classification (NOC). Indonesia: Elisevier.

Related Documents

Askep Jiwa Napza
October 2019 42
Askep Jiwa
October 2019 52
Napza
May 2020 17
Napza
June 2020 13
Askep Jiwa Eva.docx
October 2019 45
Askep Jiwa Amy.docx
October 2019 37

More Documents from "Amy"