Angiostrongyliasis Abdominalis

  • June 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Angiostrongyliasis Abdominalis as PDF for free.

More details

  • Words: 296
  • Pages: 1
ANGIOSTRONGYLIASIS ABDOMINALIS

ICD-9 128.8

ANGIOSTRONGYLIASIS INTESTINALIS ICD-10 B81.3 Pada tahun 1967, sindroma yang mirip dengan penyakit usus buntu ditemukan di Costa Rica, terutama pada anak-anak dibawah usia 13 tahun, dengan rasa sakit dan tegang pada perut dan fosa iliaca kanan dan punggung, demam, tidak nafsu makan, muntah, terasa kaku pada abdomen, teraba massa seperti tumor di bagian kanan bawah dan terasa sakit ketika dilakukan tuse rektal. Lekositosis umumnya berada pada angka 20.000 dan 30.000/cu mm (unit SI: 20 – 30 x 109/L) dengan eosinofil berkisar dari 11 % hingga 61 %. Pada waktu dilakukan operasi, ditemukan jaringan granulasi berwarna kuning pada lapisan subserosa dinding usus. Dan telur serta larva dari Parastrongylus (Angiostrongylus) costaricensis ditemukan di pembuluh limfe, dinding usus dan omentum; cacing dewasa ditemukan di arteri kecil, pada umumnya di daerah ileosekal. Infeksi ditemukan pada penduduk di Amerika Tengah, Amerika Selatan dan di AS. Reservoir parasit ini adalah tikus (tikus kapas, Sigmodon hispidus, cacing ini antara lain ditemukan di daerah selatan AS), siput biasanya selalu merupakan hospes intermediair. Cacing dewasa hidup di arteria mesenterika di daerah sekal, dan telur-telurnya dibawa ke dinding usus halus. Pada masa embrionasi, larva stadium pertama pindah ke lumen usus, dikeluarkan bersama tinja dan di telan oleh siput. Didalam tubuh siput, larva ini berkembang hingga stadium tiga, yang sudah infektif bagi manusia dan tikus. Larva infektif ini ditemukan pada lendir keong yang ditinggalkan di permukaan tanah dan permukaan tempat-tempat lain. Jika lendir atau keong kecil ini ditelan oleh manusia, maka larva infektif ini masuk ke dalam dinding usus, menjadi matang di kelenjar limfe dan pembuluh darah limfa. Cacing dewasa migrasi ke arteriolae mesenterika di daerah ileosekal dimana telur-telur diletakkan. Pada manusia, sebagian besar telur dan larva ini mengalami degenerasi dan menyebabkan reaksi granulomatosa. Tidak ada pengobatan spesifik, tindakan bedah kadang-kadang perlu dilakukan.

Related Documents