KEPERAWATAN ONKOLOGY NEUROBLASTOMA Disusun oleh : Agustina Lia Fitriani (131611133103)/a3-2016
Neuroblastoma
DEFINISI NEUROBLASTOMA Neuroblastoma merupakan neoplasma dari sel embrional neural dan merupakan salah satu tumor dengan angka kejadian tersering yang terjadi pada anak. Paling sering neuroblastoma berasal dari kelenjar supra renal, tetapi dapat juga dijumpai di sepanjang jalur syaraf simpatis. Biasanya neuroblastoma banyak terjadi pada anak dengan usia di bawah 10 tahun. Neuroblastoma adalah jenis kanker langka yang berkembang dari neuroblasts atau sel-sel saraf yang belum matang pada anak-anak.
Etiologi • Kebanyakan etiologi dari neuroblastoma adalah tidak diketahui. Ada laporan yang menyebutkan bahwa timbulnya neuroblastoma infantile (pada anak-anak) berkaitan dengan orang tua atau selama hamil terpapar obat-obatan atau zat kimia tertentu seperti hidantoin, etanol, dll. (Willie , 2008). Selain dari kejadian tersebut faktor genetik juga berpengaruh • Kelainan sitogenik yang terjadi pada neuroblastoma kira-kira pada 80% kasus, meliputi penghapusan (delesi) parsial lengan pendek kromosom 1, anomali kromosom 17, dan ampifilatik genomik dari oncogen N-Myc, suatu indikator prognosis buruk (Nelson, 2000). • Faktor resiko : 1. Usia Neuroblastoma adalah tumor yang paling sering ditemukan pada anak usia di bawah10 tahun. 2.
Herediter Anak dengan bentuk familial dari neuroblastoma (kasus dengan kecenderungan menderita kanker yang diwariskan) biasanya memiliki 1 atau lebih anggota keluarga yang menderita neuroblastoma
PATOFISIOLOGI Pada fetus, baik sel saraf, maupun sel medulla dari kelenjar adrenal berkembang dari sel yang sama disebut neuroblast. Neuroblastoma berkembang ketika neuroblast fetal normal gagal untuk matur menjadi sel saraf atau sel medulla adrenal. Malahan, sel tersebut berlanjut untuk tumbuh dan membelah diri. Neuroblast bisa saja tidak sepenuhnya menjadi matur menjelang persalinan. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa ada sekelompok kecil neuroblast yang ditemukan di kelenjar adrenal pada beberapa bayi berumur kurang dari 3 bulan. Sebagian besar dari keadaan ini, neuroblastnya ada yang matur menjadi sel saraf atau mati dan tidak berkembang menjadi neuroblastoma. Kadang-kadang, neuroblast tetap ada pada bayi yang sangat muda dan berlanjut untuk tumbuh dan lalu berkembang menjadi tumor. Sebagian bisa menyebar ke bagian lain tubuh. Tapi, kebanyakan dari tumor ini bisa matur pada akhirnya menjadi jaringan saraf
Con’t Bagaimanapun juga, sejalan dengan bertambahnya usia anak, makin kecil kemungkinan sel ini menjadi matur dan bertambahnya kemungkinan sel ini berlanjut tumbuh menjadi sel kanker. Menjelang neuroblastoma cukup besar untuk menghasilkan gejala, sebagian besar tidak bisa matur dengan sendirinya dan akan tumbuh dan menyebar kecuali jika diterapi. Kegagalan sebagian neuroblast untuk matur dan berhenti tumbuh disebabkan oleh DNA sel yang abnormal. Pada sebagian besar kasus, sel neuroblastoma memiliki beberapa tipe perubahan kromosom yang mempengaruhi gen tertentu
Manifestasi Klinis Menurut Cecily & Linda (2002), gejala dari neuroblastoma yaitu: Gejala yang berhubungan dengan massa retroperitoneal, kelenjar adrenal, paraspinal. 1. Massa abdomen tidak teratur,tidak nyeri tekan, keras, yang melintasi garis tengah. 2. Perubahan fungsi usus dan kandung kemih 3. Kompresi vaskuler karena edema ekstremitas bawah 4. Sakit punggung, kelemahan ekstremitas bawah 5. Defisit sensoris 6. Hilangnya kendali sfingter
Menurut Wilie ( 2008) manifestasi klinis dari neuroblastoma berbeda tergantung dari lokasi metastasenya : Neuroblastoma Retroperitoneal Neuroblastoma Mediastinal Neuroblastoma Leher Neuroblastoma Pelvis Neuroblastoma berbentuk barbel
PROGNOSIS • Penanda prognostik membantu untuk memprediksi kesembuhan pasien di samping dengan menilai stadium kanker 1. Usia Bayi di bawah 12 bulan sampai 18 bulan memiliki kemungkinan sembuh yang lebih tinggi dibanding anak berumur lebih tua. 2. Histologi tumor Tumor yang memiliki lebih banyak sel dan jaringan yang terlihat normal cenderung memiliki prognosis yang lebih baik, disebut dengan histologi yang favorable. Tumor yang sel dan jaringannya terlihat lebih banyak yang abnormal di bawah mikroskop cenderung memiliki prognosis yang lebih buruk, dan disebut histologi yang unfavorable. 3. DNA ploidy Sel neuroblastoma dengan jumlah DNA yang sama dengan sel normal (Index DNA =1) diklasifikasikan sebagi diploid sedangkan sek dengan jumlah DNA yang meningkat dibanding sel normal ( index DNA >1) disebut dengan hiperdiploid
CON’T
4. Amplifikasi gen MYCN MYCN adalah onkogen, sebuah gen yang membantu mengatur pertumbuhan sel. Perubahan onkogen bisa membuat sel tumbuh dan membelah dengan cepat, sebagaimana terdapat pada sel kanker. Neuroblastoma yang memiliki terlalu banyak amplifikasi gen MYCN cenderung untuk tumbuh dengan cepat dan kecil kemungkinan untuk matur. anak dengan neuroblastoma yang seperti ini akan cenderung memiliki prognosis yang lebih buruk. •Children’s
Oncology
Group
menggunakan
faktor
prognostik
mayor,
dikombinasikan dengan stadium INSS dari penyakit untuk mengklasifikasikan penderita menjadi tiga kelompok risiko berbeda : rendah, sedang dan tinggi.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. CT Scan Untuk mengetahui keadaan tulang pada tengkorak , dada, leher, dan abdomen 2. Analisa Urin 3. Analisa kromoson untuk mengetahui kemungkinan adanya gen terkait dengan neuroblastoma 4. Foto abdomen 5. Punksi sum-sum tulang untuk mengetahui sejauh mana metastase tumor 6. Meningkatkan kadar kortekolamin urine
PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan darah dan urin
Neuroblastoma sering dapat ditemukan dengan deteksi katekolamin di dalam darah atau urin. Sel saraf simpatis normalnya melepaskan hormon yang disebut katekolamin seperti epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin, yang masuk ke dalam darah. Tubuh menghancurkan hormon ini menjadi metabolit yang keluar bersama urin. 2. Radiodiagnostik Pemeriksaan pencitraan dengan CT Scan atau MRI dapat digunakan untuk menentukan batas atau perluasan tumor primer dan pembesaran kelenjar getah bening (KGB) yang terkait. 3. MIBG Scanning Meta-iodobenzylguanidine (MIBG) merupaka substansi yang akan masuk ke dalam sel sistem saraf simpatisyang terutamaterlibat dalam sintesi katekolamin. Oleh karena itu, bila substansi tersebut diberi label radioaktif maka dapat menunjukkan lokalisasi neuroblastoma primer dan metastasisnya dengan sensitivitas >90% dan spesifisitas >98%.
CON’T • 4. Pemeriksaan Sumsum Tulang Adanya metastasis ke sumsum tulang merupakan salah satu hal yang paling banyak ditemui pada kasus-kasus neuroblastomadenga prognosis yang buruk. Berdasarkan konsensus internasional (INSS) telah disepakati bahwa semua pasien neuroblastoma harus menjalani pemeriksaan histologi terhadap aspirat sumsum tulang dan trephine yang diambil dari 2 tempat yang berbeda.
PENENTUAN STADIUM Saat ini yang banyak digunakan untuk menentukan stadium neuroblastoma adalah berdasarkan sistem stadium neuroblastoma internasional sebagai berikut. (1) Stadium neuroblastoma internasional menurut INSS : Stadium 1 Tumor terlokalisasi dengan eksisi luas lengkap, dengan/tanpa adanya penyakit residual secara mikroskopik; tidak ada pembesaran KGB ipsilateral da kontralateral terhadap tumor secara mikroskopik (mungkin didapatkan pembesaran KGB yang melekat pada tumor primer dan diambil secara bersamaan)
Stadium 2A Tumor terlokalisasi dengan eksisi luas tidak lengkap, tidak ada pembesaran. KGB yang ipsilateral dan tidak melekat pada tumor secara mikrokopik
Stadium 2B Tumor terlokalisasi dengan eksisi luas lengkap/tidak lengkap; didapatkan pembesaran KGB ipsilateral dan tidak melekat pada tumor, pembesaran KGB kontralateral harus tidak didapatkan secara mikroskopis
Stadium 3
Tumor unilateral yang tidak dapat dioperasi dan terjadi infiltrasi melewati garis tengah, dengan/tanpa adanya pembesaran KGB regional. Stadium 4 Tumor primer dimanapun dengan penyebaran jauh ke KGB, tulang, sumsum tulang, hepar, kulit dan / organ lain (kecuali yang terdapat di stadium 4s) Stadium 4s Tumor primer terlokaliasi (-stadium 1,2a, 2b) dengan penyebaran yang terbatas pada kulit, hepar, dan/ sumsum tulang (khusus untuk bayi
KOMPLIKASI Komplikasi pada neuroblastoma adalah terjadinya metastase ke berbagai jaringan dan sel tubuh melalui kelenjar limfe maupun secara hematogen ke sum-sum tulang , hati, otak , paru, jantung dan bagian tubuh lainnya. Hal tersebut tentunya berdampak dan menimbulkan penyakit bawaan baru seperti nyeri, anemia, artralgia, hemoragi dan trombositopia .
PENATALAKSANAAN
Pendekatan terapi dari neuroblastoma tergantung pada stadium kanker, usia
anak, dan faktor lain (penanda prognostik). Jenis terapi yang bisa dilakukan adalah bedah, kemoterapi, radiasi, retinoid terapi, imunoterapi dan transplantasi stemsel. Pada sebagian besar kasus, dibutuhkan lebih dari satu macam terapi 1. Stadium 1 dan 2 Konsensus yang berlaku menetapkan bahwa tumor stadium 1 dan 2 dapat diobati hanya dengan tindakan operasi tanpa adanya gejala sisa akut maupun janka panjang. Walaupun didapatkan penyakit residual, tidak ada indikasi untuk pemberian
kemoterapi
maupun
radioterapi.
Saat
ini,
kelompok
studi
Neuroblastoma Eropa merekomendasikan terapi untuk tumor terlokalisasi yang rekuren hanya dengan operasi dan regresi spontan masih mungkin didapatkan.
Stadium 3 Saat ini direkomendasikan bahwa diperlukan observasi ketat pascs operasi dengan pengukuran kadar katekolamin dalam urin dan ditunjang dengan pemeriksaan radiologi. Stadium 4 Pendekatan terapi yang secara umum dipakai adalah dengan pemberian kemoterapi awal, diikuti dengan operasi tumor primer dan konsolidasi dengan terapi mieloblatif dan sel stem hemopoeitik Stadium 4S Sebagian besar bayi dengan neuroblastoma stadium 4S tidak membutuhkan terapi karena pada umumnya terjadi regresi spontan. Indikasi terapi hanya apabila didapatkan kegawatan seperti diperlukanya penunjang pernafasan karena pembesaran hepar secara progresif. Beberapa pilihan terapi yang yang dapat digunakan meliputi radioterapi dosis rendah pada hepar dan kemoterapi intensitas rendah
Woc FaktorLingkunga n
Faktor genetik sel Normal
Dapat matur menjadi sel saraf
neuroblast fetal normal gagal matur menjadi sel saraf MK : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Mual, muntah, kehilangan nafsu makan
Membelah diri
Disebabkan oleh DNA Sel yang apnormal
Bertambah besar menyebabkan kerusakan jaringan Menginvasi sel-sel normal Peningkatan laju metabolisme
MK :Ansietas
Perasaan tidakadekuat
Neuroblastoma
MK : Ketidakefektifan termoregulasi
Obat-0batan saat hamil
Zat karsinogen
PENGKAJIAN A. Biodata 1. Identitas Pasien • Nama/Nama panggilan : An B • Tempat tgl lahir/usia • Jenis kelamin
: 05 Januari 2016 (2 Tahun)
: Laki-laki
• Agama : Islam • Pendidikan : • Alamat : Perum Indah permai, Surabaya • Tgl masuk : 19 September 2018 • Tgl pengkajian : 19 Semptember2018 • Nomor rekam medik
: 828xxx
• Diagnosa medik utama : Neuroblastoma • Diagnosa sekunder : Nutritional marasmus • Sumber info
: Ibu
2. Riwayat Kesehatan saat ini a) Alasan masuk RS selama 3 hari. b) Keluhan Utama c)
: Pasien dibawa Ke RS dengan alasan demam
: Demam
Riwayat kesehatan sekarang : Ibu pasien mengatakan anaknya demam, disertai batuk, tidak nafsu makan, dan mual muntah. Ibu pasien juga mengatakan cemas memikirkan kondisi anak B saat ini
3. Riwayat kesehatan lalu • Ibu pasien mengatakan bahwa pasien pernah mengalami penyakit demam dan diare pada bulan September 2018 dan dirawat di RSUD Dr Soetomo selama 1 minggu • Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan dan obat-obatan • Pasien pernah minum obat bebas yaitu obat paracetamol karena pasien mengalami demam tinggi. • Perkembangan pasien sama dengan perkembangan dan pertumbuhan seperti saudaranya yang lain.
4. Pemeriksaan Fisik Hari Kamis, tanggal 20 September 2018 jam 09.00 wib di lakukan pemeriksaan fisik dan di dapatkan data sebagai berikut : a. Keadaan umum • Kesadaran
: Composmentis (E : 4, V : 5, M : 6)
• Kebersihan secara umum
: Pasien nampak kurang rapih
b. Tanda – tanda vital • Tekanan darah • Denyut nadi
: 100/60 mmHg : 98 x / menit
• Suhu
: 37,7oC , badan teraba hangat
• Pernapasan
: 26 x/ menit, teratur
c. Antropometri • Tinggi badan
: 85 cm
• Berat badan
: 14 kg
• Lingkar lengan atas : 11 cm • Lingkar kepala : 47 cm • Lingkar dada
: 53 cm
• Lingkar perut
: 68 cm
d. Kepala Inspeksi • Keadaan rambut & Hygiene kepala : Kepala tampak bersih • Warna rambut : Hitam • Penyebaran: Rambut pasien tipis • Mudah rontok : Tidak mudah rontok • Kebersihan rambut : Rambut pasien tampak kurang rapih
Palpasi • Tidak terdapat benjolan pada kepala • Tidak ada nyeri tekan pada kepala • Tekstur rambut halus • Perkusi : tidak dilakukan • Auskultasi : tidak dilakukan E. Muka Inspeksi • Bentuk wajah • Gerakan abnormal
: Simetris
• Ekspresi wajah
: Datar
: Tidak ada gerakan abnormal
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Perkusi : tidak dilakukan Auskultasi : tidak dilakukan
F. Abdomen
E. Mata Inspeksi • Pelpebra : Tidak ada edema Tidak ada radang • Sclera
: Tidak ikterus
• Conjungtiva
: Anemis
• Pupil : Bulat, Isokor, dan Refleks pupil terhadap cahaya baik
Inspeksi • Membuncit: Abdomen membuncit • Ada luka / tidak: Terdapat verban luka Auskultasi • Peristaltik : 12 x / menit Palpasi • Hepar
: sulit dikaji
• Lien : sulit dikaji • Nyeri tekan : Tidak ada nyeri tekan pada abdomen • Perkusi
: tidak dilakukan
Data lain ibu pasien mengatakan anaknya mual dan muntah
B. KLASIFIKASI DATA Data subyektif • • • • • • • •
Ibu pasien mengatakan anak demam Ibu pasien mengatakan anak batuk Ibu pasien mengatakan anaknya kurang nafsu makan Ibu pasien mengatakan anaknya mual dan muntah Ibu pasien mengatakan hanya menghabiskan ¼ porsi makanannya Ibu pasien mengatakan anaknya tampak pucat Ibu pasien mengatakan cemas dan khawatir memikirkan kondisi anaknya saat ini Ibu pasien mengatakan aktivitas An B dibantu keluarganya
Data objektif An B tampak lemah Tampak anak hanya beraktivitas di tempat tidur • An Btampak kurus • Konjungtiva tampak anemis • Badan anak B teraba hangat • Perut pasien membesar • Bibir tampak pucat dan kering • Hb : 9,7 gr/dl • Keluarga nampak gelisah dan kadangkadang resah TTV : • Tekanan darah : 100/60 mmHg • Denyut nadi : 98 x / menit • Suhu : 37,7oC • Pernapasan : 26 x/ menit • •
C. ANALISA DATA No
Data
Masalah
1.
DS: Ibu pasien mengatakan nafsu makan anak B menurun Ibu pasien mengatakan anaknya hanya menghabiskan ¼ porsi makanannya Ibu pasien mengatakan anaknya mual dan muntah
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
DO: Anak B kurus Bibir tampak pucat dan kering Berat badan anak 14 kg IMT 2.
DS :
Ibu pasien mengatakan anaknya demam
DO : Badan anak B teraba hangat Suhu 37,7oC Bibit tampak pucat dan kering
Ketidakefektifan termoregulasi
3.
DS : Ibu mengatakan anaknya tampak pucat
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
DO : a. Konjungtiva tampak anemis b. Hb 9,7 gr/dl c. Suhu 37,7oC d. Badan teraba hangat
4.
Ds : Ibu pasien mengatakan cemas dan khawatir memikirkan kondisi anaknya saat ini Do : Keluarga nampak gelisah dan kadang-kadang resah
Ansietas keluarga
D.
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurangnya nafsu makan. 2. Ketidakefektifan termoregulasi berhubungann dengan penyakit. 3.Ansietas keluarga berhubungan perubahan status kesehatan anak.
E. Intervensi 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurangnya nafsu makan. Domain 2 : Nutrisi; Kelas 1 : Makan; Kode : 00002
2. Kriteria Hasil: 1. Tujuan & Kriteria Hasil (NOC) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien akan : a. 1. Menunjukkan Status Nutrisi : Asupan Makanan dan Cairan (1008), yang dibuktikan dengan indicator sebagai berikut (4-5: sebagian besar adekuat, sepenuhnya adekuat). b. 2. Menunjukkan Status Nutrisi (1009) halaman 553, yang dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: (4-5 = Sebagian besar adekuat – sepenuhnya adekuat)
a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan b. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi c. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi d. Menunjukkan fungsi-fungsi pengecapan dari menelan e. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
• Con’t 3. Intervensi 1100. Manajemen Nutrisi • Aktivitas Keperawatan: • Monitor ada alergi makanan • Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan intake protein, karbohidrat dan lemak yang berikan. 1160 Monitor Nutrisi • Aktivitas Keperawatan: • Lakukan pengukuran antropometrik pada komposisi tubuh (Indeks massa tubuh) • Monitor adanya mual dan muntah • Monitor warna konjungtiva • Monitor pemeriksaan laboratorium (BUN, Hb, Ht)
2. Ketidakefektifan termoregulasi b/d penyakit. Domain 11: Keamanan/perlindungan Kelas 6:b termogulasi: kode :00002
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, pasien diharapkan : NOC : • Hidrasi • Status imun • Control resiko
Intervensi (NIC) • Oberservasi suhu tubuh pasien • Beri kompres air hangat • Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis • Anjurkan pasien pasien untuk banyak minur air putih • Kolaborasi untuk therapy antipiretik
Kriteria hasil : • Keseimbangan termoregulasi • Suhu tubuh dalam batas normal
3. Ansietas keluarga berhubungan perubahan status kesehatan anak. Domain 9 : Koping/Toleransi stress. Kelas 2 : Respons koping. Kode : 00146
Ansietas keluarga berhubungan perubahan status kesehatan anak • Ditandai dengan : Ds : • Ibu pasien mengatakan cemas dan khawatir memikirkan kondisi anaknya saat ini Do : • Keluarga nampak gelisah dan kadang-kadang resah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien diharapkan : NOC • Menunjukkan Anxiety self-control, yang dibuktikan dengan indicator sebagai berikut (4-5: sedikit terganggu, tidak terganggu). • Menunjukkan Anxiety level, yang dibuktikan dengan indicator sebagai berikut (4-5: sedikit terganggu, tidak terganggu). • Menujukkan Coping, yang dibuktikan dengan indicator sebagai berikut (4-5: sedikit terganggu, tidak terganggu).
2. Kriteria Hasil
3. Intervensi (NIC)
• Pasien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
• Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
• Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas.
• Aktivitas Keperawatan :
• Vital sign dalam batas normal. • Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivfitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
• Gunakan pendekatan yang menenangkan • Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur • Identifikasi tingkat kecemasan • Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan • Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi • Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
F. IMPLEMENTASI Hari/ Tanggal
Dx Jam
Implementasi
Evaluasi
Kamis, 20 September 2018
1
1. Memonitor ada alergi makanan Hasil : Ibu pasien mengatakan anak tidak memiliki alergi terhadap makanan 2. Menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering Hasil : Ibu pasien memberikan makanan sedikit tapi sering 3. Melakukan pengukuran antropometrik pada komposisi tubuh (Indeks massa tubuh) Hasil : Tinggi badan : 85 cm Berat badan : 14 kg Lingkar lengan atas : 11 cm Lingkar kepala : 47 cm Lingkar dada : 53 cm Lingkar perut: 68 cm
Kamis, 12 april 2018 Jam 14.00 S : ibu pasien mengatakan anaknya tidak nafsu makan O : An. B tidak menghabiskan 1 porsi makannya A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi
10.00
10.20
10.30
Kamis, 12 april 2018
2
10.40
4. Memonitor adanya mual dan muntah Hasil : ibu pasien mengatakan anaknya mual tapi tidak muntah.
10.50
5. Memonitor warna konjungtiva Hasil : konjungtiva An B tampak puvat
11.00
6. Memonitor pemeriksaan laboratorium (Hb) Hasil : hb : 9,7 gr/dl
11.05
Mengoberservasi suhu tubuh pasien Hasil : S = 37,5oC dan badan teraba hangat
1. Monitor ada alergi makanan 2. Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering 3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan intake protein, karbohidrat dan lemak yang berikan. 4. Lakukan pengukuran antropometrik pada komposisi tubuh (Indeks massa tubuh 5. Monitor adanya mual dan muntah 6. Monitor warna konjungtiva 7. Monitor pemeriksaan laboratorium (BUN, Hb, Ht) Kamis, 12 april 2018 Jam 14.00 S : ibu pasien mengatkan anaknya demam O : S = 37,5 OC
11.10
2. Memberi kompres air hangat Hasil : anak B dikompresoleh ibunya
11.20
3. Menganjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis Hasil : anak menggunakan pakean tipis
11.40
4. Menganjurkan pasien untuk banyak minur air putih Hasil : pasien seirng minum air putih
12.00
5. Kolaborasi untuk therapy antipiretik Hasil : sanmol 140 mg
A : Masalah belum teratasi P :Lanjutkan itervensi 1.Oberservasi suhu tubuh pasien 2. Beri kompres air hangat 3. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis 4.Anjurkan pasien pasien untuk banyak minur air putih 5.Kolaborasi untuk therapy antipiretik
Kamis 12 april 2018
3
12.40
Menggunakan pendekatan yang menenangkan Hasil : melakukan pendekatan terapeutik
12.50
Menjelaskan tentang proses penyakit, tindakan keperawatan dan kondisi pasien Hasil : orang tua menyimak saat dilakukan penjelasan
13.00
Mengidentifikasi tingkat kecemasan Hasil : ibu pasien tampak cemas
Kamis 12 april 2018 Jam 14.00 S : ibu pasien cemas dengan kondisi anaknya sekarang O : orang tua tampak gelisah A : masalah belum tertasi P : lanjutkan intervensi 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan 2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur 3. Identifikasi tingkat kecemasan
Jumat, 13 April 2018
1
10.00
10.20
10.40
1. Memonitor ada alergi makanan Hasil : Ibu pasien mengatakan anak tidak memiliki alergi terhadap makanan 2. Menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering Hasil : Ibu pasien memberikan makanan sedikit tapi sering
10.50
3. Memonitor adanya mual dan muntah Hasil : ibu pasien mengatakan anaknya mual tapi tidak muntah
11.00
4. Memonitor warna konjungtiva Hasil : konjungtiva An B tampak puvat 5. Memonitor pemeriksaan laboratorium (Hb) Hasil : hb : 9,7 gr/dl
Jumat , 13 april 2018 Jam 14.00 S : ibu pasien mengatakan anaknya tidak nafsu makan O : An. B ttidak menghabiskan 1 porsi makannya A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1. Monitor ada alergi makanan 2. Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering 3. Kolaborasi dengan ahli gizi
DAFTAR PUSTAKA • Permono, Bambang dkk. 2005. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak, Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. • American Cancer Society. 2012. Neuroblaastoma • Batticaca, Fransisca. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika • Armand BE, Garret BM. Abdominal Masses in Children : Neuroblastoma, Wilm’s Tumour and other consideration, Pediatr in Review 1991;12:196–206. • Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika
THANK YOU
• Agustina Lia Fitriani/ A3- 2016