PROPOSAL BERMAIN TERAPEUTIK UNIVERSITAS/INSTITUSI : KHATOLIK DE LA SALLE MANADO SEMESTER/PROGRAM
: IV / ILMU KEPERAWATAN
MATA KULIAH
: Keperawatan Anak
TOPIK
: BERMAIN Teraputik DI RUMAH SAKIT
SUB TOPIK
: MEWARNAI
SASARAN
: ANAK USIA PRE SEKOLAH
TEMPAT
: IRINA E BLU RSUP Prof. dr. R. D.Kandou Manado
HARI/TANGGAL
:Kamis 3 Mei 2018
WAKTU
: 10.00 WITA-10.30 WITA
A. Latar belakang Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Hospitalisasi adalah suatu kondisi seseorang karena sakit dan masuk rumah sakit atau selama seseorang berada di rumah sakit karena sakit (Dorland, 2000). Hospitalisasi menimbulkan suatu kondisi krisis baik bagi anak maupun keluarganya (Nursalam, Rekawati & Utami, 2005). Dalam hal ini persepsi anak terhadap penyakit berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang ada, dan kemampuan koping anak (Hockenberry, & Wilson, 2009). Oleh karena itu, sebagai perawat perlu memahami stresor dan reaksi anak selama sakit dan dirawat di rumah sakit sesuai tahap perkembangan anak. Stres yang dialami oleh anak dan keluarga akibat hospitalisasi dapat disebabkan oleh perubahan lingkungan yang berbeda dengan lingkungan rumah, kehilangan kendali atas tubuhnya, ancaman dari penyakit serta adanya persepsi yang tidak menyenangkan tentang rumah sakit disebabkan oleh pengalaman dirawat sebelumnya maupun pengalaman orang lain (Hidayat,
2005). Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapat menjadi suatu pengalaman yang dapat menimbulkan trauma baik pada anak maupun orang tua sehingga menimbulkan reaksi tertentu yang sangat berdampak pada kerjasama anak dan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit (Hallstrom and Elander, 1997; Brewis, 1995; Brennan, 1994). Penelitian lain oleh Subardiah (2009) menyatakan pengalaman anak dirawat sebelumnya akan mempengaruhi respon anak terhadap hospitalisasi, hal ini dapat memberi gambaran kepada anak yang akan dialaminya sehingga akan mempengaruhi respon anak seperti tindakan yang menyakitkan dan pengalaman kemampuan mengendalikan kondisi stres tersebut. Menurunkan stress pada anak dan penting unuk kesejahteraan mental dan emosional. Bermain merupakan satu cara yang paling efekif untuk menurunkan stress pada anak dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional(champbell dan glasser 1995). Bermain bukan sekedar mengisi waktu tapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan dan cinta kasih. Dengan bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri minatnya, cara menyelesaikan tugas tugasnya dalam bermain (Soetjiningsing 1995).
B. Tujuan 1. Tujuan umum Merangsang pertumbuhan dan perkembangan sensoris motorik 2. Tujuan Khusus : a.
Merangsang perkembangan intelektual
b.
Merangsang perkembangan sosial
c.
Merangsang perkembangan kreatifitas
d.
Merangsang perkembangan kesadaran diri
e.
Merangsang perkembangan moral dan
f.
Permainan sebagai terapeutik
C. Manfaat 1. Manfaat terapeutik yaitu untuk memfasilitasi proses penyembuhan, dimana dapat menurunkan dampak hospitalisasi dan menurunkan kejenuhan terhadap situasi RS. 2. Sabagai sarana orang tua untuk mengetahui situasi hati anak saat bermain. D.
Struktur : 1. Leader Tugas: a. Membuka acara, memperkenalkan nama-nama terapis a. Menjelaskan tujuan terapi bermain b. Menjelaskan aturan terapi permainan 2. Co-Leader Tugas a. Membantu leader dalam mengorganisir kegiatan b. Menyampaikan jalannya kegiatan c. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader dan sebaliknya 3. Observer Tugas: Mengevaluasi jalannya kegiatan 4. Fasilitator Tugas : a. Memfasilitator kegiatan yang diharapkan b. Memotivasi peserta agar mengikuti kegiatan c. Sebagai Role Model selama kegiatan
E. Kriteria Anggota Kelompok 1. Kelompok bermain anak pra-sekolah 2. Anak yang bermain kooperatif 3. Anak yang bermain dapat dibawa ke ruangan bermain 4. Anak tidak menangis
Alat Bantu
F.
1. Balok warna-warni 2. Buku gambar 3. Pensil warna warni 4. Bola G. Rencana Pelaksanaan : No 1
Komponen Persiapan
Waktu 10 menit
a. Menyiapkan ruangan.
Keterangan Ruangan,alat,anak
dan
keluarga siap
b. Menyiapkan alat-alat. c. Menyiapkan anak dan 2
keluarga Proses : a. Membuka proses terapi
2 menit
bermain dengan
Menjawab salam, Memperkenalkan diri,
mengucapkan salam, memperkenalkan diri.
5 menit
Memperhatikan
10 menit
Bermain
b. Menjelaskan pada anak dan keluarga tentang tujuan dan manfaat bermain, menjelaskan cara permainan. c. Mengajak anak bermain .
3
Menyimpulkan, mengucapkan salam
dengan
antusias 3 menit
d. Mengevaluasi respon anak dan keluarga. Penutup
bersama
dan
mengungkapkan
perasaannya 5 menit
Memperhatikan menjawab salam
dan
H.
Proses Evaluasi a. Evaluasi Struktur b. Evaluasi Proses c. Evaluasi Hasil
Contoh 1. Evaluasi Struktur a. Peralatan bermain seperti boneka, buku gambar dan pensil berwarna sudah tersedia b. Lingkungan yang cukup memadai untuk syarat bermain c. Waktu pelaksanaan terapi bermain dimulai tepat waktu d. Jumlah terapis 10 orang 2. Evaluasi Proses a. Leader dapat memimpin jalannya permainan, dilakukan dengan tertib dan teratur b. Co. Leader dapat membantu tugas Leader dengan baik c. Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainan d. 80 % anak dapat mengikuti permainan secara aktif dari awal sampai akhir 3. Evaluasi Hasil a. 100 % anak terlihat senang b. 75 % mampu mengikuti kegiatan yang dilakukan c. 25 % anak dapat menyatakan perasaan senang I.
Tinjauan Teoritis 1. Definisi Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain , anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dgn
ling, melakukan apa yg dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara .(Wong, 2000). 2. Fungsi Bermain Fungsi bermain adalah merangsang perkembangan sensorikmotorik, perkembangan intelektual, sosial, kreatifitas, kesadaran diri, moral dan bermain sebagai terapeutik a. Perkembangan sensorik-motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan pengobatan. b. Perkembangan intelektual anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada dilingkungan sekitar. c. Perkembangan sosial anak akan memberi dan menerima serta mengembangkan hubungan sesuai dengan belajar memecahkan masalah dan hubungan sulit. d. Perkembangan kreatifitas anak belajar merealisasikan diri. e. Perkembangan
kesadaran
diri,
anak
belajar
mengenal
kemampuan dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain. f. Perkembangan moral, anak akan belajar mengenai nilai dan moral dan etika belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang telah dilakukan. g. Bermain sebagai terapeutik, anak akan mengalihkan rasa sakitnya
pada
permainannya
kesenangannya bermain. 3. Tujuan Bermain
dan
relaksasi
melalui
a. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit, pada saat sakit anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. b. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ideidenya. c. Pengembangan
kreatifitas
dan
kemampuan
memecahkan
masalah. d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan dirawat di rumah sakit. 4. Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Bermain a.
Tahap perkembangan
b.
Jenis kelamin anak
c.
Status kesehatan anak
d.
Lingkungan yang tidak mendukung
e.
Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai dengan anak
5. Klasifikasi Bermain a. Menurut Isi a. Sosial Play b. Sense of pleasure play c. Skill Play d. Dramatik Play b. Menurut Karakteristik Sosial a. Solitary Play b. Pararel play c. Associative Play d. Cooperative play e. Onlooker play
6. Jenis Permainan Yang Cocok Untuk Usia 4 – 6 Tahun a) Dramatic Play Pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang lain
Contoh: Anak memerankan sebagai ayah atau ibu. b) Skill Play Pada permainan ini akan meningkatkan keterampilan anak khususnya motorik kasar dan halus. Contoh : Bermain bongkar pasang. c) Assosiative Play Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan yang lain, tetapi tidak terorganisir. Tidak ada pemimpin yang memimpin permainan dan tujuan yang tidak jelas. Contoh: anak-anak bernyanyi sesuai selera masing-masing. d) Cooperative Play Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas tetapi tujuan dan pimpinan permainan jelas. Contoh : anak-anak bernyanyi bersama-sama dengan satu orang menjadi pemimpin.
J.
KEPUSTAKAAN Hidayat, A.A.A. (2005). Pengantar ilmu keperawatan anak I. Jakarta: Salemba Medika. Hockenberry,M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St. Louis: Elsevier Mosby. Martinah, T. (2008). Prinsip-prinsip atraumatic care. Diakses dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/12088290.pdf. pada 25 Februari 2012. Perry dan Potter, 2006. Fundamental of nursing. Philadelphia: Mosby Inc. Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perlindungan Anak No 23 tahun 2002. Wong, D. L., Hockenberry, M., Eaton, Wilson, D., Winkelstein, M. L., & Schwartz, P. (2009). Buku ajar: Keperawatan pediatrik. Edisi 6. (Alih bahasa: Hartono. A., Kurnianingsih. S., & Setiawan). Jakarta: EGC.