2.1 Dan 2.4 Ekwil Tugas Presentasi.docx

  • Uploaded by: Novita Putri S
  • 0
  • 0
  • May 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View 2.1 Dan 2.4 Ekwil Tugas Presentasi.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 1,810
  • Pages: 8
BAB II PEMBAHASAN 2.1

Teori Keunggulan Komparatif Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori

yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antar negara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah dari pada negara lainnya. Keunggulan komparatif (comparative advantage) adalah prinsip dasar yang menyatakan setiap bangsa memiliki aktivitas produksi yang membutuhkan biaya peluang atau biaya kesempatan (opportunity cost) lebih rendah dibandingkan dengan bangsa lain, hal tersebut berarti bahwa perdagangan antar dua negara dapat menguntungkan keduanya jika masing-masing mengkhususkan diri dalam produksi barang dan jasa dengan biaya peluang yang relatif lebih rendah. Teori Keunggulan Komparatif ini berlandaskan pada asumsi: 1) Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya. 2) Perdagangan internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang. 3) Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal pemasaran 4) Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak berpengaruh. 5) Faktor produksi sama sekali tidak ada antar negara. Oleh karena itu, suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barangbarang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi. 2.1.1 Contoh Teori Keunggulan Komparatif Berikut ini ditampilkan tabel produksi pekerja dalam setahun antar kedua negara yang memproduksi bahan yang sama berupa sandang dan pangan. Tabel 2.X Produksi Pekerja Dalam Setahun Negara

Jenis Produksi Tekstil (meter)

Beras (kg)

Negara

Jenis Produksi Tekstil (meter)

Beras (kg)

Amerika

800

2000

Belanda

600

1000 Sumber : Kabai, 2015

Tabel diatas menunjukkan bahwa Amerika Serikat lebih efisien dari pada Belanda dalam menghasilkan tekstil dan beras bila dibandingkan dengan yang dapat dihasilkan seorang pekerja di Belanda per tahunnya. Namun demikian, kedua Negara tersebut masih dapat melakukan perdagangan yang saling menguntungkan. Keuntungan tersebut timbul sebagai akibat dari perbedaan harga relative dari nilai tekstil dan beras di kedua Negara itu. Di Amerika Serikat, 800 m tekstil sama nilainya dengan 2000 kg beras. Ini berarti diAmerika Serikat harga relative diantara tekstil dengan beras adalah 1: 2.1/2 Artinya untuk memperoleh 1 m tekstil diperlukan 2.5 kg beras. Di Belanda harga relative antara tekstil dengan beras adalah 1: 1.2/3 ini berarti untuk memperoleh 1m tekstil diperlukan 1.2/3kg beras. Dari keadaan ini dapat dikatakan bahwa harga tekstil di Belanda relatif lebih murah bila dibanding di Amerika Serikat (karena beras yang ditukarkan untuk memperoleh satu meter tekstil adalah lebih sedikit). Selain itu, harga beras lebih murah lebih murah diAmerika serikat. Dalam keadaan seperti itu, maka Belanda mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan tekstil, sedangkan Amerika Serikat dikatakan mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan beras. Dengan demikian, keunggulan keunggulan komparatif dapat diartikan sebagai keuntungan yang diperoleh suatu Negara dari melakukan spesialisasi dalam menghasilkan barang-barang yang mempunyai harga-harga relative yang lebih rendah dari pada dineara lain. 2.1.2 Kelebihan dan Kelemahan Teori Keunggulan Komparatif Adapun kelebihan dan kelemahan dari teori keunggulan komparatif adalah sebagai berikut. A. Kelebihan 1) Metode komparatif adalah suatu penelitian yang layak dalam banyak hal bila metode eksperimental tidak memungkinkan untuk dilakukan. 2) Penelitian komparatif akan menghasilkan informasi yang bermanfaat mengenai hakikat fenomena: apa sesuai dengan apa, dibawah kondisi apa, dalam urutan dan pola apa, dan seterusnya.

3) Memperbaiki teknik, metode statistik, dan desain dengan pengontrolan fiturfitur secara parsial.

B. Kelemahan 1) Menurut teori ini perdagangan internasional dapat terjadi karena adanya perbedaan fungsi faktor produksi (tenaga kerja) yang menimbulkan terjadinya perbedaan produktivitas ataupun perbedaan efisiensi. Akibatnya terjadi perbedaan harga barang yang sejenis diantara dua negara. 2) Jika fungsi faktor produksi (tenaga kerja) sama atau produktivitas dan efisiensi di kedua negara sama, maka tentu tidak akan terjadi perdagangan internasional karena harga barang sejenis akan menjadi sama di kedua negara. 3) Pada kenyataannya, walaupun fungsi faktor produksi (produktivitas dan efisiensi) sama diantara dua negara, ternyata harga barang yang sejenis dapat berbeda, sehingga dapat terjadi perdagangan internasional. 2.4

Tipologi Klassen Tipologi

Klassen

merupakan

alat

analisis

yang

dapat

digunakan

untuk

mengidentifikasi sektor, subsektor, usaha, atau komoditi prioritas atau unggulan suatu daerah. Dalam hal ini analisis Tipologi Klassen dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan ekonomi daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang menjadi acuan atau nasional dan membandingkan pangsa sektor, subsektor, usaha, atau komoditi suatu daerah dengan nilai rata-ratanya di tingkat yang lebih tinggi atau secara nasional. Hasil analisis Tipologi Klassen akan menunjukkan posisi pertumbuhan dan pangsa sektor, subsektor, usaha, atau komoditi pembentuk variabel regional suatu daerah. Tipologi Klassen juga merupakan salah satu alat analisis ekonomi regional, yaitu alat analisis yang digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pada pengertian ini, Tipologi Klassen dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan ekonomi daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang menjadi acuan atau nasional dan membandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah dengan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau PDRB per kapita (secara nasional). 2.4.1 Tujuan dan Manfaat Tipologi Klassen Adapun tujuan dari Analisis Tipologi Klassen adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi posisi perekonomian suatu daerah dengan memperhatikan perekonomian daerah yang diacunya.

2) Mengidentifikasi sektor, subsektor, usaha, atau komoditi unggulan suatu daerah. Adapun manfaat yang didapatkan dari analisis Tipologi Klassen adalah sebagai berikut: 1) Dapat membuat prioritas kebijakan daerah berdasarkan keunggulan sektor, subsektor, usaha, atau komoditi daerah yang merupakan hasil analisis tipologi Klassen. 2) Dapat menentukan prioritas kebijakan suatu daerah berdasarkan posisi perekonomian yang dimiliki terhadap perekonomian nasional maupun daerah yang diacunya. 3) Dapat menilai suatu daerah baik dari segi daerah maupun sektoral. Alat analisis Tipologi Klassen merupakan gabungan atau perpaduan antara alat analisis hasil bagi lokasi atau Location Quotient (LQ) dengan Model Rasio Pertumbuhan (MRP). 2.4.2 Klasifikasi Tipologi Klassen Tipologi Klassen dapat digunakan melalui dua pendekatan, yaitu sektoral maupun daerah. Data yang biasa digunakan dalam analisis ini adalah data Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Berikut penjelasannya. 1) Pendekatan Sektoral Tipologi Klassen dengan pendekatan sektoral menghasilkan empat klasifikasi sektor dengan karakteristik yang berbeda sebagai berikut. a. Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran sektor dengan laju pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan memiliki kontribusi terhadap PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi>g dan si>s. Sektor dalam kuadran I dapat pula diartikan sebagai sektor yang potensial karena memiliki kinerja laju pertumbuhan ekonomi dan pangsa yang lebih besar daripada daerah yang menjadi acuan atau secara nasional. b. Sektor maju tapi tertekan (Kuadran II). Sektor yang berada pada kuadran ini memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi memiliki kontribusi terhadap PDRB daerah (si) yang lebih besar

dibandingkan kontribusi nilai sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gis. Sektor dalam kategori ini juga dapat dikatakan sebagai sector yang telah jenuh. c. Sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran untuk sektor yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB (si) lebih kecil dibandingkan nilai kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi>g dan si<s. Sektor dalam Kuadran III dapat diartikan sebagai sektor yang sedang booming. Meskipun pangsa pasar daerahnya relatif lebih kecil dibandingkan rata-rata nasional. d. Sektor relatif tertingggal (Kuadran IV). Kuadran ini ditempati oleh sektor yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan sekaligus memiliki kontribusi tersebut terhadap PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan nilai kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (s). Berikut ini ditampilkan tabel klasifikasi tipologi klassen berdasarkan pendekatan sektoral. Tabel 2.X Klasifikasi Tipologi Klassen Berdasarkan Pendekatan Sektoral Kuadran I

Kuadran II

Sektor Maju dan Tumbuh Pesat

Sektor Maju, namun Tertekan

gi>g, si>s

gis

Kuadran III

Kuadran IV

Sektor Potensial atau Masih Dapat Berkembang

Sektor Relatif Tertinggal

Pesat

gi
gi>g, si<s Keterangan : gi = pertumbuhan sector daerah analisis g = pertumbuhan sector daerah acuan si = kontribusi sector daerah analisis

s = kontribusi sector daerah acuan Sumber : Diver, 2008

2) Pendekatan Daerah Tipologi Klassen dengan pendekatan daerah menghasilkan empat klasifikasi sektor dengan karakteristik yang berbeda sebagai berikut. a. Daerah yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran daerah dengan laju pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan memiliki pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (gk). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi>g dan gki>gk. b. Daerah maju tapi tertekan (Kuadran II). Daerah yang berada pada kuadran ini memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi memiliki pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (gk). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gigk. c. Daerah yang masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran untuk daerah yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi pertumbuhan PDRB per kapita daerah tersebut (gki) lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (gk). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi>g dan gki
Tabel 2.X Klasifikasi Tipologi Klassen Berdasarkan Pendekatan Daerah Kuadran I

Kuadran II

Daerah Maju dan Tumbuh Pesat

Daerah Maju, namun Tertekan

gi>g, gki>gk

gigk

Kuadran III

Kuadran IV

Daerah Potensial atau Masih Dapat Berkembang

Daerah Relatif Tertinggal

Pesat

gi
gi>g, gki
2.4.3 Kelebihan dan Kelemahan Tipologi Klassen Adapun kelebihan dan kelemahan dari tipologi klassen adalah sebagai berikut. A. Kelebihan 1) Dapat mengetahui daerah yang dapat dijadikan sebagai pusat pengembangan. 2) Dapat membedakan daerah-daerah yang maju dan yang tertinggal. B. Kelemahan 1) Hanya memfokuskan wilayah dengan pertumbuhan cepat sebagai pusat pengembangan, sedangkan untuk wilayah tertinggal tidak ada solusinya. 2) Tidak adanya solusi terkait daerah cepat berkembang namun tertekan sebaiknya harus diapakan.

DAFTAR PUSTAKA Lagunsiang

Jhoni.

2016.

Penelitian

http://jhonilagunsiang.blogspot.com/2016/05/penelitian-komparatif.html.

Komparatif. 26

Maret

2019 (21:48) Diver, S. 2008. Modul 4 – Tipologi Klassen. https://www.pdfcoke.com/doc/2908449/Modul-4Tipologi-Klassen. 19 Maret 2019 (11:43) Sugiyarti,

A,

T.

2014.

Teori

Keunggulan

Komparatif.

https://www.pdfcoke.com/doc/208250735/Teori-keunggulan-komparatif. 19 Maret 2019 (11:50)

Related Documents

21-24
May 2020 3
Legislative 24 - 21.docx
November 2019 9
21 - 24 Oktober 2014
April 2020 4
Stp 21-24-smct
November 2019 14

More Documents from "M Ilham Febry"

Presentation1.pptx
June 2020 54
English Unit4(1)-1.docx
November 2019 80
Bioprose1.docx
November 2019 86
Tugas Ela.docx
May 2020 65