110648_tutorial 1.docx

  • Uploaded by: RickyRicardoSandyPutra
  • 0
  • 0
  • July 2020
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View 110648_tutorial 1.docx as PDF for free.

More details

  • Words: 1,620
  • Pages: 8
Blok 22

Maret 2018

LEARNING OBJECTIVE “MARI TURUN LAPANGAN”

DISUSUN OLEH NAMA STAMBUK KELOMPOK

: NGAKAN WISNU : N 101 14 022 :4

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2017

Learning objective 1.

2.

a.

Efek samping dari obat-obatan gol. Adrenokortikosteroid?

b.

Tujuan penggunanaan obat gol. Adrenokortikosteroid?

a.

Bagaimana siklus menstruasi?

b.

Bagaimana siklus anovulasi?

3.

Epidemiologi kelainan hormonal?

4.

Pemeriksaan lab dan interpretasi klinik?

Jawaban 1.

Efek samping dan tujuan obat-obatan gol. Adrenokortikosteroid a.

b.

Efek samping dari obat-obatan gol. Adrenokortikosteroid Hiperglikemia diketahui sebagai salah satu komplikasi dari pemberian kortikosteroid dan dapat menjadi faktor prognosis negatif pada pasien diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2). Glukokortikoid merangsang glikogenolisis (katalisa glikogen menjadi glukosa) dan glikoneogenolisis (katalisa lemak / protein menjadi glukosa) sehingga kadar gula darah meningkat dan pembentukan glikogen di dalam hati dan jaringan menurun. Kadar kortikosteroid yang meningkat akan menyebabkan gangguan distribusi lemak, sebagian lemak di bagian tubuh berkurang dan sebagian akan menumpuk pada bagian muka (moonface), tengkuk (buffalo hump), perut dan lengan. Penggunaan jangka panjang menyebabkan efek samping cukup berat, seperti hipokalemia, tukak lambung, penekanan pertumbuhan, osteoporosis, muka bulat, penekanan sekresi kortikotropin, atropi kulit, mudah terkena infeksi, glaucoma, hipertensi, gangguan menstruasi, dan perubahan mental dan tingkah laku. Penghentian pengobatan secara tiba-tiba menyebabkan ketidakcukupan adrenal yang akut, dan menimbulkan gejala withdrawal, seperti otot menjadi lemah, nyeri otot, demam, perubahan mental, hipoglikemi, hipotensi, dehidrasi dan bahkan kadang-kadang menyebabkan kematian. Oleh karena itu pada pengobatan jangka panjang dengan glukokortikoid, penghentian obat harus dilakukan dengan mengurangi dosis secara bertahap. Tujuan penggunanaan obat gol. Adrenokortikosteroid

Hormon glukokortikoid efektif untuk pengobatan penyakit schock Addison, sembab otak, hiperkalsemia dan miastenia gravis. Meningkatkan resistensi terhadap stress. Dengan meningkatkan kadar glukosa plasma, glukokortikoid memberikan energi yang diperlukan tubuh untuk melawan stress yang disebabkan misalnya oleh trauma, ketakutan, infeksi, perdarahan atau infeksi yang melemahkan. Glukokortikoid sintetik digunakan pada pengobatan nyeri sendi, arteritis temporal, dermatitis, reaksi alergi, asma, hepatitis, systemic lupus erythematosus, inflammatory bowel disease, serta sarcoidosis. Selain sediaan oral, terdapat pula sediaan dalam bentuk obat luar untuk pengobatan kulit, mata, dan juga inflammatory bowel disease. Kortikosteroid juga digunakan sebagai terapi penunjang untuk mengobati mual, dikombinasikan dengan antagonis 5-HT3 (misalnya ondansetron). Sumber : Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. FK UI : Jakarta. 2.

Siklus menstruasi dan anovulasi a.

Siklus menstruasi Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) disekresi oleh hipotalamus dan berfungsi mengkontrol siklus ovari dan uterus. GnRH menstimulasi pelepasan follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dari pituitari anterior. Pertumbuhan folikel diinisiasi oleh FSH manakala perkembangan lanjut folikel distimulasi oleh LH. Kedua-dua hormone FSH dan LH menstimulasi folikel ovari untuk mensekresi estrogen. Androgen dihasilkan dari sel theca pada folikel yang berkembang, distimulasi oleh LH. Di bawah pengaruh FSH, androgen digunakan oleh sel granulosa pada folikel dan dikonversikan menjadi estrogen. Dipertengahan siklus, terjadi ovulasi yang dipicu oleh LH dan seterusnya menyebabkan adanya pembentukan korpus luteum. LH menstimulasi korpus luteum untuk mensekresi estrogen, progesteron, relaksin dan inhibin. Progesteron disekresi terutama dari sel-sel di korpus luteum. Pada progesteron dan esterogen membantu persediaan dan pertahanan untuk endometrium dalam implantasi ovum yang telah disenyawakan.

b.

Siklus anovulasi Disfungsi hipofise terjadi gangguan pada hipofise anterior gangguan dapat berupa tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormone yang membuat menjadi terganggu. Kelainan kompartemen IV (lingkungan) gangguan pada pasien ini disebabkan oleh gangguan mental yang secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmitter seperti serotonin yang dapat menghambat pelepasan gonadrotropin. Kelainan ovarium dapat menyebabkan amenorrhea primer maupun sekuder. Amenorrhea primer mengalami kelainan perkembangan ovarium ( gonadal disgenesis ). Kegagalan ovarium premature dapat disebabkan kelainan genetic dengan peningkatan kematian folikel, dapat juga merupakan proses autoimun dimana folikel dihancurkan. Melakukan kegiatan yang berlebih dapat menimbulkan amenorrhea dimana dibutuhkan kalori yang banyak sehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk pembentukan hormone steroid seksual ( estrogen dan progesterone ) tidak tercukupi. Pada keadaaan tersebut juga terjadi pemecahan estrogen berlebih untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dan terjadilah defisiensi estrogen dan progesterone yang memicu terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan berlebih banyak dihasilkan endorphin yang merupakan derifat morfin. Endorphin menyebabkan penurunan GnRH sehingga estrogen dan progesterone menurun. Pada keadaan tress berlebih cortikotropin realizinghormone dilepaskan. Pada peningkatan CRH terjadi opoid yang dapat menekan pembentukan GnRH.

Sumber : Ganong, W.F. buku ajar fisiologi kedokteran. 2014. EGC Jakarta 3.

Epidemiologi kelainan hormonal : a.

Cushing syndrome Rentang umur sindrom Cushing pada anak dan remaja 4-20 tahun. Lima puluh pasien diantaranya menderita penyakit Cushing sedangkan 3 pasien menderita sekresi kortikotropin berlebihan. Tanda klinik yang dijumpai yaitu 90% mengalami kelebihan berat badan dan 83% mengalami gangguan pertumbuhan. Insidensi sindrom Cushing endogen sekitar 2 sampai 5 kasus baru per satu juta per tahun dan 10% diantaranya terjadi pada anak. Penyebab paling umum sindrom Cushing tipe endogen adalah adenoma hipofisis

pensekresi ACTH (sekitar 75% dari semua kasus Sindrom Cushing tipe endogen pada anak berumur lebih dari 7 tahun). Penyebab tersering Cushing Sindrom pada bayi dan balita adalah tumor adrenal (adenoma, carsinoma, dan hiperlasia bilateral). Pada sindroma Cushing berupa sindroma ektopik ACTH lebih sering pada laki-laki dengan rasio 3:1, pada insiden hiperplasia hipofisis adrenal adalah lebih besar pada wanita daripada laki-laki, kebanyakan muncul pada usia dekade ketiga atau keempat. b.

Addison disease Penyakit addison jarang dijumpai dan memiliki prevalensi 4 dari 100.000 orang ; 2/3 pasien adalah perempuan.diagnosis ditegakan antara usia 20 dan 50 tahun. Dahulu, tuberkulosis adalah penyebab utama penyakit addison. Saat ini dengan kemoterapi yang lebih baik,hanya sedikit pasien tuberkulosis yang mengalami insufesiensi adrenal. Di Amerika Serikat, penyakit addison terjadi pada 40-60 kasus per satu juta penduduk. Secara global, penyakit addison jarang terjadi. Bahkan hanya negara-negara tertentu yang memiliki data prevalensi dari penyakit ini. Prevalensi di Inggris Raya adalah 39 kasus per satu juta populasi dan di Denmark mencapai 60 kasus per satu juta populasi. Mortalitas/morbiditas terkait dengan penyakit addison biasanya karena kegagalan atau keterlambatan dalam penegakkan diagnosis atau kegagalan untuk melakukan terapi pengganti glukokortikoid dan mineralokortikoid yang adekuat.

c.

Hyperthyroidisme Kelainan ini menyerang wanita empat kali lebih banyak daripada pada pria, terutama wanita muda yang berusia antara 20 dan 40 tahun. Disini dapat dikarenakan karena dari proses menstruasi, kehamilan dan menyusui itu sendiri menyebabkan hipermetabolisme mengakibatkan kerja daripada hormone tiroid meningkat.

d.

Hypothyroidisme

Menurut survey yang dilakukan The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES 1999-2002) dari 4.392 individu populasi AS dilaporkan mengalami hipotiroidisme (tingkat TSH> 4,5 mIU / L) sekitar 3,7% dari populasi. Hypothyroidism adalah lebih umum pada wanita dengan tubuh kecil ukuran saat lahir dan indeks massa tubuh rendah selama masa kanak-kanak . Kekurangan Yodium sebagai penyebab hipotiroidisme lebih umum terjadi di dunia internasional. Prevalensi dilaporkan sebagai 2-5% tergantung pada studi, meningkat menjadi 15% pada usia 75 tahun. Di negara maju, kematian yang disebabkan oleh hipotiroid jarang terjadi. NHANES 1999-2002 melaporkan bahwa prevalensi hipotiroidisme (termasuk subklinis) lebih tinggi dalam putih (5,1%) dan Amerika Meksiko daripada di Afrika Amerika (1,7%). Afrika Amerika cenderung memiliki nilai TSH yang lebih rendah. Studi masyarakat menggunakan kriteria yang sedikit berbeda untuk menentukan hipotiroidisme, karena itu, wanita-pria rasio bervariasi. Umumnya, penyakit tiroid lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria, dengan laporan prevalensi 2-8 kali lebih tinggi pada wanita. Frekuensi hipotiroidisme, gondok, dan nodul tiroid meningkat dengan usia. Hypothyroidism adalah paling umum pada populasi lanjut usia, dengan 2% menjadi sebanyak 20% dari kelompok usia yang lebih tua memiliki beberapa bentuk hipotiroidisme. Studi Framingham ditemukan hipotiroidisme (TSH> 10 mIU / L) di 5,9% wanita dan 2,4% pria lebih tua dari 60 tahun. Pada laporan NHANES 1999-2002, kemungkinan memiliki hipotiroidisme adalah 5 kali lebih besar pada orang yang berusia 80 tahun dan lebih tua dari pada individu berusia 12-49 tahun. Sumber : Setiati, S., dkk. 2014. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 6. Interna publishing. jakarta

4.

Pemeriksaan lab dan interpretasi klinik

a.

Pemeriksaan laboratorium 1) Pemeriksaan darah, didapati adanya limfositofeni, jumlah netrofil antara 10.000 – 25.000 /mm3, eosinopeni sampai 50 /mm3. 2) Pemeriksaan CRU, ACTH, dan berbagai glukokortikoid. 3) Pemeriksaan urine (pagi hari), ditemukan adanya hiperglikemi (diabetes melitus terjadi pada 10 % kasus), hipoglikemia dan adanya hiponatremia.

b.

Interpretasi klinik : 1)

Kortisol Plasma Metode Pengukuran : Metode pengukuran kortisol plasma yang palingsering dipakai adalah radioimmunoassay. Metode ini mengukur kortisol total (baik terikat maupun bebas) dalam plasma. Metode yang mengukur kortisol bebas dalam plasma belum tersedia untuk kegunaan klinis. Interpretasl : Manfaat dari pemeriksaan tunggal kadar kortisol plasma untuk diagnosis terbatas karena adanya sekresi alamiah kortisol yang berlangsung episodik dan terjadinya pengikatan selama adanya stres. Seperti dijelaskan di bawah, informasi yang lebih baik didapat dengan melakukan uji dinamis pada aksis hipotalamus-hipofisisadrenal. Nilai-nilai normal : a. Kadar kortisol plasma normal bervariasi tergantung metode yang digunakan. Dengan radioimmunoassay dan competitive protein-binding assay, kadar pada jam 8 pagi berkisar dari 3 sampai 20 mg/dL (0,08-0,55 mmol/L) dan rata-rata 10-12 mg/dL (0,28-0,33 mmol/L). b. Kadar selama stres-Sekresi kortisol meningkat pada pasienpasien yang mengalami penyakit akut, selama pembedahan, dan setelah trauma. Konsentrasi plasma dapat mencapai 4060 mg/dL (1,1-1,7 mmol/L).

2.

ACTH

Metode Pengukuran : Pengukuran ACTH plasma sangat berguna untuk mendiagnosa adanya disfungsi hipofisis adrenal. Batas normal ACTH plasma, menggunakan immunoradiometric assay sensitif, adalah :10- 50 pg/mL (2,2-11,1 pmol/L). Interpretasi : Kadar ACTH plasma sangat berguna untuk membedakan disfungsi adrenal yang dasebabkan oleh kelainan hipofisis atau adrenal: a. Pada insufisiensi adrenal yang disebabkan oleh penyakit primer di adrenal, kadar ACTH plasma meningkat, biasanya lebih dari 250 pg/mL. Sebaliknya pada defisiensi ACTH hipofisis dan hipoadrenalisme sekunder, kadar ACTH plasma kurang dari 50 pg/mL. b. Pada sindroma Cushing yang disebabkan pleh tumortumor adrenal primer yang mensekresi glukokortikoid, kadar ACTH plasma tersupresi, dan kadar yang kurang dari 1 pg/mL (2,2 pmol/L) adalah diagnostik. Pada pasienpasien penyakit Cushing (hipersekresi ACTH hipofisis), ACTH plasma normal atau meningkat sedang (20-200 pg/mL [4,4-44 pmol/L]). (3) Kadar ACTH juga meningkat nyata pada pasien dengan hiperplasia adrenal kongenital bentuk umum dan berguna dalam diagnosis dan penanganan kelainan-kelainan ini. Sumber : Delp, Mohlan H. 2008. Major Diagnosis Fisik. EGC : Jakarta

Related Documents


More Documents from "Kevin Bran"